Efek Samping Vaksin COVID-19 AstraZeneca

Apa efek samping penerimaan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan bagaimana mencegah serta menanganinya? Ini menjadi banyak pertanyaan dan kekhawatiran, baik di kalangan masyarakat umum, bahkan hingga tenaga kesehatan itu sendiri.

Kasus COVID-19 menanjak dengan cepat di pelbagai belahan dunia, terutama dengan munculnya varian baru yang lebih menular. Hal ini membuat program vaksinasi diupayakan berjalan lebih cepat lagi. Mengapa demikian? Karena jika varian baru yang berubah sifat menjadi 50% lebih cepat menular jauh lebih berpotensi menyebabkan banyak kematian dibandingkan dengan jika varian baru berubah sifat menjadi 50% lebih mematikan.

Salah satu vaksin yang digunakan adalah AZD-1222 yang banyak ditulis dalam artikel ilmiah sebagai ChAdOx1 nCoV-19 atau kita kenal sebagai vaksin COVID-19 AstraZeneca; salah satu jenis vaksin yang diproduksi oleh Oxford-AstraZeneca yang bermarkas di Cambrige, Inggris Raya.

AZD-1222 merupakan vaksin berjenis vektor viral yang menggunakan virus lain untuk mendapatkan efek vaksinasi pada penerima. Ini berbeda jenis lainnya, misalnya Sinovac yang menggunakan virus yang tak teraktivitas, atau lebih sering dikatakan virus yang sudah “dimatikan.”

Jenis vaksin COVID-19: Sumber: Aljazeera.

Vaksin AstraZeneca dibuat dengan menanamkan bagian RNA dari SARS-CoV-2 yang berfungsi untuk mentranskripsi protein S (diujung mahkota virus yang menjadi jembatan antara virus dengan sel inang) ke virus lain, umumnya adalah adenovirus yang sudah dihilangkan kemampuannya untuk menyebabkan penyakit dalam tubuh manusia.

Singkat cerita AstraZeneca adalah vaksin yang berisi adenovirus dengan materi genetik SARS-CoV-2 untuk merangsang sistem kekebalan tubuh pada penerima vaksin.

Vaksin AstraZeneca seperti vaksin COVID-19 lainnya, diharapkan dapat mengurangi angka kematian oleh COVID-19. Karena saat ini, satu-satunya metode mengurangi risiko kematian pada kasus COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi juga diharapkan mengurangi jumlah penderita COVID-19 yang harus sampai memerlukan perawatan di rumah sakit, mengurangi risiko infeksi, hingga mencegah penularan COVID-19 di tataran rumah tangga.

Oh ya, AstraZeneca bukanlah satu-satunya yang memproduksi vaksin dengan menggunakan vektor adenovirus, metode ini juga diterapkan pada vaksin buatan Johnson & Johnson.

Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan pembekuan darah hingga kematian, dan menyebabkan penundaaan pemberiannya di beberapa negara termasuk di Indonesia. Penyelidikan setelahnya menyatakan vaksin aman digunakan.

Seperti halnya vaksin lain, ada sejumlah efek samping yang dapat dirasakan oleh penerima vaksin COVID-19.

Efek samping vaksin COVID-19, sumber: https://doi.org/10.3346/jkms.2021.36.e114

Efek samping bisa muncul pada lebih dari separuh penerima vaksin, dan sebagian besar bersifat ringan serta membaik dalam satu atau dua hari ke depan. Efek samping yang dirasakan dapat berupa: pegal, nyeri, kemerahan, gatal, dan bengkak pada area suntikan; lelah, pusing, pegal linu, meriang, demam, mual muntah, hingga diaera.

Keluhan-keluhan tersebut umumnya mereda dengan sendirinya atau dengan bantuan obat-obatan ringan seperti parasetamol dan/atau antihistamin.

Lalu bagaimana yang katanya menyebabkan pembekuan darah hingga kematian?

Kasus ini sangat langka, dan dikenal sebagai kejadian VITT/TTS yang dapat ditelusuri melalui sejumlah penelitian permulaan.

WHO telah membuat pedoman sementara untuk diagnosis dan tatalaksana kasus sindrom trombosis dengan trombositopenia pasca vaksinasi COVID-19 dengan vaksin vektor adenovirus. Hal ini juga selaras dengan rekomendasi PAPDI terhadap penggunaan vaksin AstraZeneca.

Sedemikian hingga untuk menghindari kasus terjadi, calon penerima melalui skrining dengan tambahan detail dibandingkan dengan skrining pada vaksin non-vektor adenovirus. Misalnya untuk menemukan potensi riwayat trombosis pada pasien, seperti DVT (trombosis vena dalam), serta riwayat stroke dan/atau keguguran yang berulang yang mengarah pada kecurigaan adanya sindrom antifosfilipid.

Melalui kontekstualisasi risiko visual yang diterbitkan oleh EMA, kita bisa melihat bahwa vaksin ini efektif mencegah rawat inap pada kasus COVID-19 dengan sejumlah kejadian pembekuan darah lebih banyak pada mereka yang berusia di bawah 70 tahun.

Hal ini dan sejumlah studi pendukung yang mendorong tetap diberikannya vaksin AstraZeneca dengan melihat manfaat yang diberikan, dan diprioritaskan terhadap golongan usia tertentu (lansia) yang memiliki risiko TTS lebih rendah.

Gejala yang dicurigai sebagai TTS biasanya muncul antara hari ke-4 sampai hari ke-20 (dengan puncak pada hari ke-6 sampai ke-14) pascavaksinasi. Gejala tersebut termasuk:

  • Sakit kepala yang terus-menerus, parah dan intens
  • tanda-tanda trombosit rendah seperti petechiae, purpura atau mudah memar atau berdarah
  • gejala neurologis fokal
  • kejang atau penglihatan kabur/ganda (menunjukkan CSVT atau stroke arteri)
  • sesak napas atau nyeri dada (menunjukkan emboli paru atau sindrom koroner akut)
  • nyeri perut (menunjukkan trombosis vena portal)
  • pembengkakan anggota badan, kemerahan, pucat, atau dingin (menunjukkan trombosis vena dalam atau iskemia ekstremitas akut)
  • nyeri punggung

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut pada hari ke-4 hingga ke-20 pascavaksinasi dengan vaksin AstraZeneca, segera kembali memeriksakan diri ke fasilitas yang memberikan vaksin atau ke Puskesmas terdekat. Jangan lupa membawa kembali kartu vaksin Anda, dan dokter mungkin perlu memeriksa sampel darah Anda (hitung darah lengkap, apusan darah tepi, atau hitung angka platelet) untuk menentukan kecurigaan TTS.

Sekali lagi, TTS merupakan kondisi yang sangat langka. Bahkan COVID-19 pun dapat mengakibatkan trombositopenia yang menjadi lampu merah risiko perburukan hingga kematian. Sedemikian hinga, jangan menghindari vaksinasi karena mengkhawatirkan efek samping.

Skype, Teams, dan Zoom Meeting, pilih mana?

Pada era pertemuan digital ini, banyak sekali pilihan layanan pertemuan daring (online meeting) yang tersedia bagi kita. Zoom Meeting merupakan aplikasi yang paling populer, banyak sekali digunakan dalam pertemuan online.

Kali ini, saya hendak memberikan sedikit opini mengenai tiga layanan, yaitu Skype, Teams, dan Zoom Meeting.

Batasan ulasan ini adalah fungsi layanan sebagai media pertemua daring, dan ini tidak termasuk keperluan untuk seminar daring dengan peserta yang bisa membludak banyak. Keperluan pertemuan berarti layanan memiliki kemampuan untuk komunikasi dua arah, kemampuan berbagi layar, dan kemampuan merekam pertemuan. Saya rasa ketiga hal tersebut esensial untuk layanan, sebelum ditambahkan kemampuan multiplatform untuk menjangkau lebih pengguna secara lebih luas.

Skype dan Teams merupakan besutan Microsoft, serupa tapi tak sama. Teams sendiri dikembangkan untuk menggantikan Skype Business. Sementara Zoom merupakan layanan tersendiri oleh Zoom Video Communications. Kedua perusahaan berbasis di Amerika Serikat.

Sebagai catatan, ketiga layanan dari dua perusahaan tersebut memiliki fungsi dasar yang sama, tersedia multiplatform.

Group video chat on laptop

Skype umumnya langsung tersedia pada Windows 10, dan pada edisi terbaru bisa langsung digunakan melalui tombol rapat sekarang (meet now) di pojok kanan bawah layar. Skype gratis (walau terdapat Skype credit bagi yang ingin menggunakannya untuk menelepon ke telepon rumah/kantor/telepon kabel).

Pertemuan gratis dengan Skype ini memiliki penggunaan wajar (FUP), yaitu sampai 99 peserta (ditambah Anda), sampai 100 jam sebulan, dan masing-masing sesi pertemuan sampai 10 jam per hari.

Artinya Skype bisa untuk rapat 10 jam sehari selama 10 hari berturut-turut untuk 100 orang per bulan. Atau 5 jam per hari selama 20 hari berturut-turut.

Percakapan bisa direkam, dan diunduh kemudian melalui aplikasi Skype (seperti mengunduh video di WhatsApp). Berbagi layar dan mengundang orang untuk ikut pertemuan walau orang tersebut tidak memiliki akun Skype atau aplikasi Skype sangat membantu menerobos sawar komunikasi.

Skype tidak memiliki versi berbayar. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan akan ada tagihan.

Sisi buruknya, Skype sedang mengalami penurunan popularitas. Karena fungsi asalnya bukan rapat, tapi percakapan video yang kini sudah sulit mengalahkan aplikasi populer seperti Face Time, WhatsApp, dan lainnya.

Microsoft Teams, salah satu aplikasi yang juga menjadi penyebab bertambah terpuruknya Skype. Microsoft membuat dua aplikasi serupa tapi tak sama.

Pengembangan Skype bisa dibilang sudah memasuki masa matang, sementara pengembangan Teams masih dalam tahapan naik setelah lepas landas. Teams selalu menambahkan fitur baru, dan ini tidak hanya sekadar di bidang perangkat lunak, namun juga perangkat keras untuk mendukung rapat yang berkualitas.

Menurut saya, Microsoft Teams adalah raja tanpa mahkota dalam aplikasi pertemuan daring. Bagaimana pun, Teams tidak bisa mengalahkan popularitas. Saat ini, Zoom memiliki lebih dari 40% penguasaan pasar diikuti oleh GoToWebinar di kisaran 20%, dan Cisco Webex di sekitaran 15%. Sehingga Teams bahkan tidak bisa memasuki popularitas 5 besar.

Mengapa saya memasukan Microsoft Teams, karena mungkin ini adalah layanan yang paling murah. Versi gratis Teams mirip dengan Skype, dapat digunakan rapat untuk 100 orang hingga 1 jam per satu sesi. Hanya saja, versi gratis tidak bisa menyimpan rekaman rapat. Tapi versi gratis dapat digunakan untuk berkolaborasi mengerjakan berkas Word, Excel, dan PowerPoint ketika rapat berlangsung.

Versi berbayar Microsoft Teams tersedia satu paket dengan Microsoft Business Basic, termasuk Word, Excel, PowerPoint, Outlook, Exchange, SharePoint, dan OneDrive secara daring. Biayanya sekitar IDR 39,1K per bulan (di luar pajak). Bisa digunakan untuk 300 perserta rapat dengan durasi rapat 24 jam, dan penyimpanan lampiran sebesar 1TB.

Bagaimana dengan Zoom? Zoom paling populer, paling terkenal, dan paling banyak penggunaannya. Versi gratis bisa untuk 100 peserta rapat, per sesi hingga 40 menit, dan dapat merekam pertemuan.

Zoom Meeting berbayar paling terjangkau senilai IDR 233K per bulan atau IDR 2.333K per tahun (sebelum pajak). Dapat digunakan untuk 100 peserta rapat (dapat ditingkatkan hingga 1.000 peserta dengan tambahan biaya) dengan durasi rapat hingga 30 jam.

Jika tidak memerlukan banyak pertemuan, Zoom dapat “disewa” dari reseller di e-niaga dengan nilai paling murah sekitar IDR 20K per hari untuk pertemuan yang sama.

Tapi Zoom memiliki keunggulan, yaitu pertemuan dapat disiarkan ke jejaring sosial seperti YouTube secara otomatis. Sementara Teams dan Skype tidak memiliki fungsi tersebut, sehingga perlu aplikasi OBS (open build broadcaster) pihak ketiga untuk ini, yang juga berpotensi menurunkan kualitas siaran di jejaring sosial.

Pertanyaannya kemudian, mana yang dipilih?

Saya sendiri memasang ketiganya dalam versi gratis di laptop, bahkan saya memasang aplikasi lain seperti Webex, karena jika saya mengikuti suatu pertemuan, saya tidak akan bisa menebak, aplikasi mana yang akan digunakan.

Jika saya yang akan mengadakan pertemuan, maka pilihannya sederhana, saya akan menggunakan Skype. Alasannya, gratis, bisa untuk banyak peserta, durasi pertemuan masuk akal (600 menit untuk versi gratis, dibandingkan 60 pada Teams, dan 40 menit pada Zoom Meeting). Lagi pula, siapa akan rapat lebih dari 10 jam sehari?

Jika saya memiliki kewajiban setiap hari harus ada pertemuan daring, misalnya besok layanan konsultasi kesehatan online akan dibuka untuk pasien, dan mungkin 100 jam sebulan tidak mencukupi. Maka pilihan saya adalah tetap Skype, karena pertemuan orang per orang tidak dibatasi. Kecuali pertemuan memerlukan 3 atau lebih peserta, maka Teams adalah opsi premium yang murah (IDR 40K dibandingkan IDR 233K pada Zoom Meeting).

Jika pertemuan itu hanya sekali dalam sebulan, peserta di bawah 100 dan perlu dipublikasikan via YouTube secara langsung, maka Zoom Meeting adalah pilihan. Beli eceran di toko daring seharga IDR 20K untuk sehari, sudah cukup hemat.

Bagaimana dengan Anda? Apa pilihan Anda?

ProtonMail dan CTemplar

Apakah kita pernah berpikir bahwa email selaaknya bisa memberikan privasi yang lebih baik? Surat kita tidak dibaca oleh mesin untuk menampilkan iklan yang cocok di halaman-halaman yang kita kunjungi?

Anda sendiri pakai email dari penyedia yang mana? Yahoo, Google, atau Outlook? Setidaknya itu adalah pemain besar yang ada saat ini.

Saya sendiri adalah penggemar Outlook, karena alamat surat elektronik yang saya miliki termasuk yang paling tua dengan domain MSN sejak tahun 2003, hampir dua puluh tahun. Dan Microsoft tampaknya saat ini mengelolanya dengan baik.

Saya memiliki juga akun Google dan Yahoo yang masih aktif dengan usia yang kurang lebih sama. Saya tidak terlalu menggunakan Yahoo lagi sejak layanan itu diambil alih oleh Verizon. Sementara Google hanya untuk konektivitas ke jejaring sosial, yang jelas isinya entah notifikasi, kabar berita, atau iklan.

Lanjutkan membaca “ProtonMail dan CTemplar”

Film Raya and the Last Dragon

Ke mana akhir pekan ini? Tentu saja dengan pembatasan sosial paling enak nonton film saja di rumah. Meski bioskop sudah buka, kami masih lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Terima kasih pada Telkomsel dan Disney telah membawa film animasi terbaru “Raya and the Last Dragon” ke layar kaca 4K melalui layanan streaming Disney+.

Film animasi ini termasuk film keluarga yang sudah ditunggu-tunggu kedatangan pada tahun ini, di tengah situasi pandemi. Sejak saya melewatkan Frozen II, sepertinya tidak ada film Disney jenis ini yang ditunggu. Putri Disney berlatar Asia Tenggara? Mengapa tidak? Tentunya Film Soul tidak termasuk Disney Princess kan?

Lanjutkan membaca “Film Raya and the Last Dragon”

Migrasi Kembali – Arunametta

Kemarin beberapa kali bingung menentukan akan dibawa ke mana Arunametta? Sudah dapat pindah beberapa kali domain baru, tapi kendala selalu ada.

Awalnya saya menempatkan Arunametta pada inang bersama yang dikelola olah RumahWeb, karena biaya terjangkau, menggunakan domain arunametta.asia yang keren. Kendala yang muncul sebagaimana inang bersama, layanan memburuk, kadang tidak bisa posting jika server sedang penuh kerjaan oleh tetangga.

Kemudian, dengan alamat domain yang sama saya pindahkan ke VPN. Hanya saja, lama kelamaan, malas mengurus VPN bulanan. Pindah ke NiagaHoster untuk VPN tiga tahunan agar murah, oh ternyata murahnya cuma tiga tahun pertama dengan domain arunametta.com.

Akhir kata, saya menyerah. Saya mengembalikan ke wp.com saja, kebetulan gratis dan domain arunametta.id pun lahir.

Kelemahan edisi gratis ini adalah tidak memiliki sejumlah kemampuan dan kebebasan mengelola bagaimana mesin sistem kelola konten (CMS) bekerja. Saya tidak bisa melakukan publikasi ke Telegram misalnya, atau membuat navigasi lebih mudah layaknya membaca buku bagi pengunjung.

Tapi itu adalah ‘harga’ yang harus dibayar dari sebuah situs murah/gratis yang malas dikelola oleh pemiliknya.

500px over Flickr

Anda yang suka foto-foto, paling demen mengunggah hasil jepretan di mana? Pastinya di Instagram kan? Tidak mungkin sekarang ada yang bilang di foto album keluarga yang khas pada dua-tiga dasawarsa yang lalu itu kan?

Saat ini jarang melihat generasi milenial dan setelahnya tidak memiliki akun Instagram, yang nyaris sama populer dengan Facebook dan WhatsApp, bahkan para baby-boom juga tidak ketinggalan banyak yang menyatakan eksistensi melalui aplikasi di ponsel cerdas ini.

Tapi cerita berbeda sekitar satu-dua windu yang lalu. Mereka yang menyukai fotografi, terutama digital, menyimpan foto-foto mereka dalam kepingan padat (CD/DVD). Dan sedikit yang memiliki akses untuk menyimpan secara daring pada media populer ketika itu.

Sebut saja Flickr, sebuah tonggak sejarah dalam yang mengubah bagaimana orang berinteraksi dengan karya fotografi, baik secara personal maupun kelompok. Bisa dibilang aplikasi yang sempat dibeli Yahoo! dengan harga tinggi, dan kemudian terhempas sebelum diambil oleh SmugMug ini merupakan pendobrak era ketika itu.

Layanan serupa terus bermunculan, dan sampai kini, walau Flickr masih bertahan dan menurut saya tetap yang paling baik dari segi kualitas aplikasi, namun telah kehilangan pamor.

Setelah cukup lama mempertimbangkan, saya memutuskan untuk hijrah dari Flickr menuju layanan lain, yaitu 500px.

Walau pun layanan Flickr sebenarnya bagi saya lebih baik dibandingkan 500px, ada beberapa alasan mengapa saya lebih memilih 500px.

Apa kelemahan 500px dibandingkan Flickr (apa keunggulan Flickr atas 500px)?

  • Flickr memiliki pilihan jenis lisensi yang lebih lengkap, termasuk Crative Commons dan Public Domains; sementara 500px tidak memiliki kejelasan lisensi foto yang kita unggah ke sana – mungkin jadi milik perusahaan?
  • Pengguna Flikcr bisa mengunduh gambar yang disimpan dengan resolusi yang diingankan, sementara 500px tidak bisa.
  • Aset pada Flickr mudah dilekatkan di banyak situs secara otomatis, termasuk blog WordPress, sementara aset pada 500px memerlukan sistem pelekat manual (dengan kode HTML).
  • Penandaan lokasi pada 500px secara manual tidak bisa serinci Flickr yang langsung menggunakan peta untuk meletakkan lokasi pengambilan gambar.
  • Tampaknya bagi saya, Flickr mempertahankan kualitas foto/gambar lebih baik dibandingkan pada 500px.
  • Dan sekali lagi menurut saya, Flickr memiliki tampilan halaman depan dan navigasi yang lebih menarik, sederhana, dan efisien.
  • Berbagi pada aplikasi di smartphone, aplikasi mobile Flickr memilih lebih banyak pilihan. Misalnya Flickr bisa berbagi ke Instagram dengan mudah, tapi 500px tidak bisa.
  • Flickr mengizinkan unggahan video berdurasi pendek, sementara 500px murni hanya karya fotografi.

Apa kelebihan 500px dibandingkan Flickr?

  • 500px memiliki komunitas yang lebih aktif (walau mungkin tidak lebih seru), sehingga bisa dibilang 500px adalah instragram-nya para fotografer.
  • 500px memiliki metode tagging (penandaan) dengan rekomendasi yang mempermudah pengguna dalam memberi tag pada karyanya, sementara Flickr masih manual.
  • Di 500px, pengguna bisa melisensikan foto-nya, jika lolos, foto bisa “dijual” dengan lisensi. Jika Anda ingin mencari uang dari kemampuan fotografi, ini adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan Flickr. (Tentu saja selain 500px, SmugMug adalah alternatif lain untuk keperluan ini).
  • Versi premium termurah, sekitar IDR 400-500K per tahun dibandingkan Flickr.
  • Tampaknya tidak ada risiko foto terhapus oleh 500px jika sewaktu-waktu berhenti berlangganan premium (koreksi jika saya keliru), sementara pada Flickr terdapat risiko penghapusan foto.

Apa yang sama dari keduanya?

  • Mereka menjadi situs kolase foto-foto Anda dengan baik.
  • Memberikan diskon untuk beberapa layanan (Flikcr dengan Adobe dan SmugMug, sementara 500px dengan Luminar4).
  • Memiliki versi gratis terbatas, Flickr dengan batas unggahan 1.000 foto, sementara 500px dengan 7 foto/minggu.

Bagaimana simpulan akhir saya? Jika menginginkan kualitas maka Flickr adalah pilihan yang lebih baik, tapi dengan harga yang lebih tinggi untuk opsi premium. Jika kantong tidak cukup, dan sekadar ingin kolase, maka 500px adalah pilihan dengan sejumlah keterbatasan – seperti yang saya pilih. Atau, kembali saja yang sederhana, Instragram mungkin menjadi pilihan yang baik buat Anda.

Mengapa pilih Luminar AI?

Sebelumnya saya menyampaikan bahwa favorit penyunting komposisi foto bagi saya sendiri adalah LuminarAI, walau-pun saya memilih Polarr pada akhirnya sebagai aplikasi praktis sehari-hari. Tapi jangan keliru, pada saat “gila,” saya bisa memilih menggunakan LuminarAI .

Dari sejumlah aplikasi yang saya coba, Adobe Lightroom Mobile, RawTherapee, DxO Photolab 4, Polarr, Snapseed, Luminar 4; maka LuminarAI merupakan aplikasi yang paling ramah pengguna bagi saya.

Keuntungan menggunakan LuminarAI adalah teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang tertanam di dalamnya. Sehingga tidak heran jika minimal disarankan komputer yang menggunakan Intel i5 / Ryzen 5 dengan optimal 16GB RAM (minimal 8GB RAM).

Jika hanya menginginkan komposisi saja, maka DxO PhotoLab 4 adalah favorit saya, aplikasi yang juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Tapi LuminarAI lebih terjangkau harganya, dan sama-sama mampu memroses berkas RAW (walau DxO diunggulkan dengan DeepPRIME-nya).

foto jadul sebelum dan sesudah diolah dengan LuminarAI

Mengolah foto seperti di atas tidak memerlukan lebih dari lima menit hingga jadi. Tentu saja hasilnya mungkin tidak begitu baik, karena banyak bagian lain yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh.

Produk Skylum ini menawarkan banyak pilihan cetakan siap pakai. Dan pengguna juga bisa menambahkan lapisan baru secara mandiri. Bisa dikatakan LuminarAI mengerjakan hal-hal yang membosankan secara otomatis, dan pengguna bisa fokus pada kreativitasnya. Jika pengguna terlalu malas untuk kreatif, Skylum juga menyediakan pasar kreativitas untuk dipilih oleh pengguna.

Yang paling saya sukai dari aplikasi ini adalah Composition AI yang dimilikinya. Bisa membantu kita menyesuaikan komposisi gambar dengan mudah dan cepat.

Luminar AI

Luminar hanya tersedia pada Windows 10 dan Mac OS, dan tidak tersedia pada Android serta iOS/iPadOS.

Lisensi Luminar bersifat lifetime, dan tidak ada pembayaran bulanan. Serta bisa dipindahkan dari satu PC ke PC lainnya melalui keanggotaan Skylum. Tapi seperti aplikasi lain, jika ada peningkatan versi, mungkin akan ada diskon untuk upgrade ke versi berikutnya.

Berminat menggunakan Luminar AI? Bisa mengunduhnya dengan gratis di skylum.com/luminar (referral link).

Alternatif Lightroom

Anda ingin agar foto terlihat lebih baik, meskipun hanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel? Tidak puas dengan sekadar filter dari Instagram? Anda mungkin memerlukan perangkat lunak seperti Adobe Lightroom yang bisa diakses dari komputer maupun gawai.

Sayangnya, bagi saya, Adobe Lightroom itu mahal, berlangganan bulanan lumayan menguras kantong. Dan ketika saya mencoba versi uji coba, saya sempat membandingkan dengan sejumlah aplikasi lain yang juga menggiurkan.

DxO PhotoLab 4 bersanding dengan Skylum Luminar AI

Yang paling murah menurut saya adalah RawTherapee, karena perangkat lunak ini gratis (juga opensource) dan bisa dipasang di Windows 10 dengan cepat. Aplikasi ini ringan, intuitif, dan mudah digunakan. Jika Anda punya insting tajam dalam pengolahan foto, maka aplikasi ini sudah sangat layak senjata pamungkas Anda.

Yang paling lengkap menurut saya adalah DxO PhotoLab. Saya suka kemampuan DeepPrime-nya untuk menyunting dan membenahi berkas RAW tanpa merusaknya. Kemampuan yang sama bisa didapatkan dalam aplikasi tersendiri yaitu DxO PureRAW yang sedang naik daun juga. Lisensinya bersifat sekali bayar, tapi juga termasuk agak mahal (bagi saya).

Pilihan lain adalah menggunakan produk Skylum, baik edisi Luminar 4 maupun Luminar AI. Keduanya produk serupa tapi tak sama, memberikan pengalaman pengguna yang benar-benar berbeda. Dari semua alternatif Lightroom, maka favorit saya adalah Luminar AI. Lisensinya juga sekali bayar, dan bisa dikatakan cukup terjangkau.

Saya menyukai Luminar AI karena kemampuan kecerdasan buatan yang mirip dengan DxO PhotoLab, tapi lebih intuitif digunakan oleh orang-orang yang tidak ingin melihat terlalu banyak setelan manual.

Tapi yang menjadi pilihan saya bukan di antara ketiga produk di atas. Saya memilih produk Polarr yang tersedia di pelbagai platform seperti Lightroom, dengan biaya berlangganan yang terjangkau, tentu saja ada masa uji coba 7 hari bagi pengguna awal.

Mengapa memilih Polarr? DxO PhotoLab membuat mesin Intel 7th i5 2,4Ghz dengan RAM 12GB menderu kencang untuk setiap kali ekspor hasil penyuntingan RAW setidaknya selama 2 menit (dan mahal). Luminar AI, jangan bilang, walau mesin tidak menderu kencang, perangkat lunak ini jarang bisa berjalan dengan lancar.

Apa pilihan lainnya? Cukup banyak sebenarnya. Salah satu yang potensial selain Polarr adalah Snapseed yang dikembangkan oleh Google. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia pada gawai iOS dan Android, serta tidak tersedia versi web yang bisa digunakan di komputer. Snapseed yang gratis ini cukup populer, dan berpotensi besar sebagai pesaing produk populer lain karena Google terus menerus mengembangkan AI fotografinya.

Sehingga Polarr menjadi semacam pelarian, karena pilihan yang terbatas pada mesin laptop lawas. Anda mungkin memiliki pilihan alternatif lain?

Sony RX100 VII

Selain Pentax Q10, kadang saya mengambil gambar dengan RX100 VII (Sony DSC-RX100M7) yang merupakan salah satu kamera kompak yang saya pakai saat ini.

Semua Sony RX100 memiliki riwayat mereka masing-masing sejak seri awal, hingga berkembang saat ini sebagai kamera kompak dengan banyak penggemar. Kamera ini bersanding dengan kamera saku dari produsen lain, seperti Ricoh GR III, Lumix LX100 II, Canon G5X II, dan Leica C-Lux.

Dulu, saya sempat mempertimbangkan Leica C-Lux, tapi saya tidak tahu di mana harus memperbaiki kamera saku itu jika terjadi kerusakan. Walau selama ini, nyaris tidak ada kamera yang rusak akibat pemakaian. C-Lux lebih unggul pada Macro sekaligus Zoom, tapi RX100 VII lebih unggul pada kecepatan dan lapang fokus serta pemotretan berkelanjutan.

Saya pada akhirnya berjodoh dengan RX100VII, karena saya tidak mendapatkannya sebagai kamera baru, tapi dari Pak Tony yang sudah tidak menggunakannya lagi.

RX100 VII memberikan zoom yang saya butuhkan yang tidak ada pada Pentax Q10; tentu saja saya bisa mencari lensa SMC Pentax-Q 06 Telephoto Zoom 15-45mm F2.8 untuk Q10, hanya saja lensa ini langka, ringkih, dan mahal, membuat saya ragu untuk membelinya secara daring. Sementara itu, RX100 VII memiliki rentang lensa 24 mm – 200 mm, tidak bisa disebut ultrazoom, namun cukup untuk disebut telephoto.

Saya merasa AF pada kamera ini luar biasa cepat, bahkan continues shot yang dihasilkan tidak mengecewekan, sehingga bisa mendapatkan momen terbaik untuk dipilih dalam rangkaian kejadian yang dipotret.

Mumurosa under the little pine
ƒ/4.0 – 36.0 mm – 1/250 – ISO 640

Gambar di atas saya ambil memnggunakan continues shot, yang jarang bisa didapatkan jika hanya menggunakan jepretan tunggal, yang kemudian diolah memanfaatkan aplikasi Polarr di iPad.

Permasalahan klasik kamera seperti ini adalah, jika tidak memanfaatkan mode manual kita bisa mendapatkan fokus pada area yang tidak diinginkan. Untungnya, kemajuan teknologi sering dapat mengatasinya.

Sayangnya, RX100 VII tidak membawa kemampuan makro yang baik. Tapi tidak buruk juga, hanya beberapa trik diperlukan, atau diperlukan lensa aksesoris tambahan (yang saya pikir tidak terlalu aman pada kamera dengan retractable lens).

Baik untuk foto makro maupun non-makro, komposisi ulang bagi saya sendiri tetap diperlukan. Saya belum bisa melakukan komposisi secara otomatis di lapangan, dan sering kali harus mengambil sejumlah foto untuk diolah kemudian.

Bergantung pada jenis komposisi dan pengolahan pasca pemotretan, saya bisa melakukan dengan sejumlah pilihan bantuan.

Sony memiliki aplikasi Imaging Edge yang membantu mengirim foto dengan cepat dan mudah secara nirkabel dari kamera ke komputer maupun gawai lain.

Untuk melakukan pemrosesan, pada ponsel Android, biasanya saya akan memanfaatkan Google Snapseed atau Adobe Lightroom. Sementara itu pada iPad saya biasanya memanfaatkan Polarr atau Lightroom. Sementara itu pada laptop, yang berarti saya ingin memproses foto lebih jauh lagi, saya umumnya memanfaatkan DxO PureRAW untuk memroses berkas RAW dan kemudian diolah lebih lanjut dengan memanfaatkan Skylum Luminar AI; jika tidak, saya tetap bisa menggunakan Polarr dari peramban laptop, karena akun Polarr bersifat universal.

Jika tidak hanya sekadar akan dipublikasikan ke twitter, maka seringkali saya tidak akan memrosesnya lebih lanjut seperti gambar-gambar di atas. Atau dengan cepat menggunakan Snapseed seperti gambar di bawah ini.

Yang cukup saya suka dari RX100 VII adalah ukurannya yang kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan sejumlah gawai, dan membuatnya mudah dibawa ke mana-mana untuk mengambil gambar berkualitas secara spontan.