Film Raya and the Last Dragon

Ke mana akhir pekan ini? Tentu saja dengan pembatasan sosial paling enak nonton film saja di rumah. Meski bioskop sudah buka, kami masih lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Terima kasih pada Telkomsel dan Disney telah membawa film animasi terbaru “Raya and the Last Dragon” ke layar kaca 4K melalui layanan streaming Disney+.

Film animasi ini termasuk film keluarga yang sudah ditunggu-tunggu kedatangan pada tahun ini, di tengah situasi pandemi. Sejak saya melewatkan Frozen II, sepertinya tidak ada film Disney jenis ini yang ditunggu. Putri Disney berlatar Asia Tenggara? Mengapa tidak? Tentunya Film Soul tidak termasuk Disney Princess kan?

Lanjutkan membaca “Film Raya and the Last Dragon”

Migrasi Kembali – Arunametta

Kemarin beberapa kali bingung menentukan akan dibawa ke mana Arunametta? Sudah dapat pindah beberapa kali domain baru, tapi kendala selalu ada.

Awalnya saya menempatkan Arunametta pada inang bersama yang dikelola olah RumahWeb, karena biaya terjangkau, menggunakan domain arunametta.asia yang keren. Kendala yang muncul sebagaimana inang bersama, layanan memburuk, kadang tidak bisa posting jika server sedang penuh kerjaan oleh tetangga.

Kemudian, dengan alamat domain yang sama saya pindahkan ke VPN. Hanya saja, lama kelamaan, malas mengurus VPN bulanan. Pindah ke NiagaHoster untuk VPN tiga tahunan agar murah, oh ternyata murahnya cuma tiga tahun pertama dengan domain arunametta.com.

Akhir kata, saya menyerah. Saya mengembalikan ke wp.com saja, kebetulan gratis dan domain arunametta.id pun lahir.

Kelemahan edisi gratis ini adalah tidak memiliki sejumlah kemampuan dan kebebasan mengelola bagaimana mesin sistem kelola konten (CMS) bekerja. Saya tidak bisa melakukan publikasi ke Telegram misalnya, atau membuat navigasi lebih mudah layaknya membaca buku bagi pengunjung.

Tapi itu adalah ‘harga’ yang harus dibayar dari sebuah situs murah/gratis yang malas dikelola oleh pemiliknya.

500px over Flickr

Anda yang suka foto-foto, paling demen mengunggah hasil jepretan di mana? Pastinya di Instagram kan? Tidak mungkin sekarang ada yang bilang di foto album keluarga yang khas pada dua-tiga dasawarsa yang lalu itu kan?

Saat ini jarang melihat generasi milenial dan setelahnya tidak memiliki akun Instagram, yang nyaris sama populer dengan Facebook dan WhatsApp, bahkan para baby-boom juga tidak ketinggalan banyak yang menyatakan eksistensi melalui aplikasi di ponsel cerdas ini.

Tapi cerita berbeda sekitar satu-dua windu yang lalu. Mereka yang menyukai fotografi, terutama digital, menyimpan foto-foto mereka dalam kepingan padat (CD/DVD). Dan sedikit yang memiliki akses untuk menyimpan secara daring pada media populer ketika itu.

Sebut saja Flickr, sebuah tonggak sejarah dalam yang mengubah bagaimana orang berinteraksi dengan karya fotografi, baik secara personal maupun kelompok. Bisa dibilang aplikasi yang sempat dibeli Yahoo! dengan harga tinggi, dan kemudian terhempas sebelum diambil oleh SmugMug ini merupakan pendobrak era ketika itu.

Layanan serupa terus bermunculan, dan sampai kini, walau Flickr masih bertahan dan menurut saya tetap yang paling baik dari segi kualitas aplikasi, namun telah kehilangan pamor.

Setelah cukup lama mempertimbangkan, saya memutuskan untuk hijrah dari Flickr menuju layanan lain, yaitu 500px.

Walau pun layanan Flickr sebenarnya bagi saya lebih baik dibandingkan 500px, ada beberapa alasan mengapa saya lebih memilih 500px.

Apa kelemahan 500px dibandingkan Flickr (apa keunggulan Flickr atas 500px)?

  • Flickr memiliki pilihan jenis lisensi yang lebih lengkap, termasuk Crative Commons dan Public Domains; sementara 500px tidak memiliki kejelasan lisensi foto yang kita unggah ke sana – mungkin jadi milik perusahaan?
  • Pengguna Flikcr bisa mengunduh gambar yang disimpan dengan resolusi yang diingankan, sementara 500px tidak bisa.
  • Aset pada Flickr mudah dilekatkan di banyak situs secara otomatis, termasuk blog WordPress, sementara aset pada 500px memerlukan sistem pelekat manual (dengan kode HTML).
  • Penandaan lokasi pada 500px secara manual tidak bisa serinci Flickr yang langsung menggunakan peta untuk meletakkan lokasi pengambilan gambar.
  • Tampaknya bagi saya, Flickr mempertahankan kualitas foto/gambar lebih baik dibandingkan pada 500px.
  • Dan sekali lagi menurut saya, Flickr memiliki tampilan halaman depan dan navigasi yang lebih menarik, sederhana, dan efisien.
  • Berbagi pada aplikasi di smartphone, aplikasi mobile Flickr memilih lebih banyak pilihan. Misalnya Flickr bisa berbagi ke Instagram dengan mudah, tapi 500px tidak bisa.
  • Flickr mengizinkan unggahan video berdurasi pendek, sementara 500px murni hanya karya fotografi.

Apa kelebihan 500px dibandingkan Flickr?

  • 500px memiliki komunitas yang lebih aktif (walau mungkin tidak lebih seru), sehingga bisa dibilang 500px adalah instragram-nya para fotografer.
  • 500px memiliki metode tagging (penandaan) dengan rekomendasi yang mempermudah pengguna dalam memberi tag pada karyanya, sementara Flickr masih manual.
  • Di 500px, pengguna bisa melisensikan foto-nya, jika lolos, foto bisa “dijual” dengan lisensi. Jika Anda ingin mencari uang dari kemampuan fotografi, ini adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan Flickr. (Tentu saja selain 500px, SmugMug adalah alternatif lain untuk keperluan ini).
  • Versi premium termurah, sekitar IDR 400-500K per tahun dibandingkan Flickr.
  • Tampaknya tidak ada risiko foto terhapus oleh 500px jika sewaktu-waktu berhenti berlangganan premium (koreksi jika saya keliru), sementara pada Flickr terdapat risiko penghapusan foto.

Apa yang sama dari keduanya?

  • Mereka menjadi situs kolase foto-foto Anda dengan baik.
  • Memberikan diskon untuk beberapa layanan (Flikcr dengan Adobe dan SmugMug, sementara 500px dengan Luminar4).
  • Memiliki versi gratis terbatas, Flickr dengan batas unggahan 1.000 foto, sementara 500px dengan 7 foto/minggu.

Bagaimana simpulan akhir saya? Jika menginginkan kualitas maka Flickr adalah pilihan yang lebih baik, tapi dengan harga yang lebih tinggi untuk opsi premium. Jika kantong tidak cukup, dan sekadar ingin kolase, maka 500px adalah pilihan dengan sejumlah keterbatasan – seperti yang saya pilih. Atau, kembali saja yang sederhana, Instragram mungkin menjadi pilihan yang baik buat Anda.

Mengapa pilih Luminar AI?

Sebelumnya saya menyampaikan bahwa favorit penyunting komposisi foto bagi saya sendiri adalah LuminarAI, walau-pun saya memilih Polarr pada akhirnya sebagai aplikasi praktis sehari-hari. Tapi jangan keliru, pada saat “gila,” saya bisa memilih menggunakan LuminarAI .

Dari sejumlah aplikasi yang saya coba, Adobe Lightroom Mobile, RawTherapee, DxO Photolab 4, Polarr, Snapseed, Luminar 4; maka LuminarAI merupakan aplikasi yang paling ramah pengguna bagi saya.

Keuntungan menggunakan LuminarAI adalah teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang tertanam di dalamnya. Sehingga tidak heran jika minimal disarankan komputer yang menggunakan Intel i5 / Ryzen 5 dengan optimal 16GB RAM (minimal 8GB RAM).

Jika hanya menginginkan komposisi saja, maka DxO PhotoLab 4 adalah favorit saya, aplikasi yang juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Tapi LuminarAI lebih terjangkau harganya, dan sama-sama mampu memroses berkas RAW (walau DxO diunggulkan dengan DeepPRIME-nya).

foto jadul sebelum dan sesudah diolah dengan LuminarAI

Mengolah foto seperti di atas tidak memerlukan lebih dari lima menit hingga jadi. Tentu saja hasilnya mungkin tidak begitu baik, karena banyak bagian lain yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh.

Produk Skylum ini menawarkan banyak pilihan cetakan siap pakai. Dan pengguna juga bisa menambahkan lapisan baru secara mandiri. Bisa dikatakan LuminarAI mengerjakan hal-hal yang membosankan secara otomatis, dan pengguna bisa fokus pada kreativitasnya. Jika pengguna terlalu malas untuk kreatif, Skylum juga menyediakan pasar kreativitas untuk dipilih oleh pengguna.

Yang paling saya sukai dari aplikasi ini adalah Composition AI yang dimilikinya. Bisa membantu kita menyesuaikan komposisi gambar dengan mudah dan cepat.

Luminar AI

Luminar hanya tersedia pada Windows 10 dan Mac OS, dan tidak tersedia pada Android serta iOS/iPadOS.

Lisensi Luminar bersifat lifetime, dan tidak ada pembayaran bulanan. Serta bisa dipindahkan dari satu PC ke PC lainnya melalui keanggotaan Skylum. Tapi seperti aplikasi lain, jika ada peningkatan versi, mungkin akan ada diskon untuk upgrade ke versi berikutnya.

Berminat menggunakan Luminar AI? Bisa mengunduhnya dengan gratis di skylum.com/luminar (referral link).

Alternatif Lightroom

Anda ingin agar foto terlihat lebih baik, meskipun hanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel? Tidak puas dengan sekadar filter dari Instagram? Anda mungkin memerlukan perangkat lunak seperti Adobe Lightroom yang bisa diakses dari komputer maupun gawai.

Sayangnya, bagi saya, Adobe Lightroom itu mahal, berlangganan bulanan lumayan menguras kantong. Dan ketika saya mencoba versi uji coba, saya sempat membandingkan dengan sejumlah aplikasi lain yang juga menggiurkan.

DxO PhotoLab 4 bersanding dengan Skylum Luminar AI

Yang paling murah menurut saya adalah RawTherapee, karena perangkat lunak ini gratis (juga opensource) dan bisa dipasang di Windows 10 dengan cepat. Aplikasi ini ringan, intuitif, dan mudah digunakan. Jika Anda punya insting tajam dalam pengolahan foto, maka aplikasi ini sudah sangat layak senjata pamungkas Anda.

Yang paling lengkap menurut saya adalah DxO PhotoLab. Saya suka kemampuan DeepPrime-nya untuk menyunting dan membenahi berkas RAW tanpa merusaknya. Kemampuan yang sama bisa didapatkan dalam aplikasi tersendiri yaitu DxO PureRAW yang sedang naik daun juga. Lisensinya bersifat sekali bayar, tapi juga termasuk agak mahal (bagi saya).

Pilihan lain adalah menggunakan produk Skylum, baik edisi Luminar 4 maupun Luminar AI. Keduanya produk serupa tapi tak sama, memberikan pengalaman pengguna yang benar-benar berbeda. Dari semua alternatif Lightroom, maka favorit saya adalah Luminar AI. Lisensinya juga sekali bayar, dan bisa dikatakan cukup terjangkau.

Saya menyukai Luminar AI karena kemampuan kecerdasan buatan yang mirip dengan DxO PhotoLab, tapi lebih intuitif digunakan oleh orang-orang yang tidak ingin melihat terlalu banyak setelan manual.

Tapi yang menjadi pilihan saya bukan di antara ketiga produk di atas. Saya memilih produk Polarr yang tersedia di pelbagai platform seperti Lightroom, dengan biaya berlangganan yang terjangkau, tentu saja ada masa uji coba 7 hari bagi pengguna awal.

Mengapa memilih Polarr? DxO PhotoLab membuat mesin Intel 7th i5 2,4Ghz dengan RAM 12GB menderu kencang untuk setiap kali ekspor hasil penyuntingan RAW setidaknya selama 2 menit (dan mahal). Luminar AI, jangan bilang, walau mesin tidak menderu kencang, perangkat lunak ini jarang bisa berjalan dengan lancar.

Apa pilihan lainnya? Cukup banyak sebenarnya. Salah satu yang potensial selain Polarr adalah Snapseed yang dikembangkan oleh Google. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia pada gawai iOS dan Android, serta tidak tersedia versi web yang bisa digunakan di komputer. Snapseed yang gratis ini cukup populer, dan berpotensi besar sebagai pesaing produk populer lain karena Google terus menerus mengembangkan AI fotografinya.

Sehingga Polarr menjadi semacam pelarian, karena pilihan yang terbatas pada mesin laptop lawas. Anda mungkin memiliki pilihan alternatif lain?

Sony RX100 VII

Selain Pentax Q10, kadang saya mengambil gambar dengan RX100 VII (Sony DSC-RX100M7) yang merupakan salah satu kamera kompak yang saya pakai saat ini.

Semua Sony RX100 memiliki riwayat mereka masing-masing sejak seri awal, hingga berkembang saat ini sebagai kamera kompak dengan banyak penggemar. Kamera ini bersanding dengan kamera saku dari produsen lain, seperti Ricoh GR III, Lumix LX100 II, Canon G5X II, dan Leica C-Lux.

Dulu, saya sempat mempertimbangkan Leica C-Lux, tapi saya tidak tahu di mana harus memperbaiki kamera saku itu jika terjadi kerusakan. Walau selama ini, nyaris tidak ada kamera yang rusak akibat pemakaian. C-Lux lebih unggul pada Macro sekaligus Zoom, tapi RX100 VII lebih unggul pada kecepatan dan lapang fokus serta pemotretan berkelanjutan.

Saya pada akhirnya berjodoh dengan RX100VII, karena saya tidak mendapatkannya sebagai kamera baru, tapi dari Pak Tony yang sudah tidak menggunakannya lagi.

RX100 VII memberikan zoom yang saya butuhkan yang tidak ada pada Pentax Q10; tentu saja saya bisa mencari lensa SMC Pentax-Q 06 Telephoto Zoom 15-45mm F2.8 untuk Q10, hanya saja lensa ini langka, ringkih, dan mahal, membuat saya ragu untuk membelinya secara daring. Sementara itu, RX100 VII memiliki rentang lensa 24 mm – 200 mm, tidak bisa disebut ultrazoom, namun cukup untuk disebut telephoto.

Saya merasa AF pada kamera ini luar biasa cepat, bahkan continues shot yang dihasilkan tidak mengecewekan, sehingga bisa mendapatkan momen terbaik untuk dipilih dalam rangkaian kejadian yang dipotret.

Mumurosa under the little pine
ƒ/4.0 – 36.0 mm – 1/250 – ISO 640

Gambar di atas saya ambil memnggunakan continues shot, yang jarang bisa didapatkan jika hanya menggunakan jepretan tunggal, yang kemudian diolah memanfaatkan aplikasi Polarr di iPad.

Permasalahan klasik kamera seperti ini adalah, jika tidak memanfaatkan mode manual kita bisa mendapatkan fokus pada area yang tidak diinginkan. Untungnya, kemajuan teknologi sering dapat mengatasinya.

Sayangnya, RX100 VII tidak membawa kemampuan makro yang baik. Tapi tidak buruk juga, hanya beberapa trik diperlukan, atau diperlukan lensa aksesoris tambahan (yang saya pikir tidak terlalu aman pada kamera dengan retractable lens).

Baik untuk foto makro maupun non-makro, komposisi ulang bagi saya sendiri tetap diperlukan. Saya belum bisa melakukan komposisi secara otomatis di lapangan, dan sering kali harus mengambil sejumlah foto untuk diolah kemudian.

Bergantung pada jenis komposisi dan pengolahan pasca pemotretan, saya bisa melakukan dengan sejumlah pilihan bantuan.

Sony memiliki aplikasi Imaging Edge yang membantu mengirim foto dengan cepat dan mudah secara nirkabel dari kamera ke komputer maupun gawai lain.

Untuk melakukan pemrosesan, pada ponsel Android, biasanya saya akan memanfaatkan Google Snapseed atau Adobe Lightroom. Sementara itu pada iPad saya biasanya memanfaatkan Polarr atau Lightroom. Sementara itu pada laptop, yang berarti saya ingin memproses foto lebih jauh lagi, saya umumnya memanfaatkan DxO PureRAW untuk memroses berkas RAW dan kemudian diolah lebih lanjut dengan memanfaatkan Skylum Luminar AI; jika tidak, saya tetap bisa menggunakan Polarr dari peramban laptop, karena akun Polarr bersifat universal.

Jika tidak hanya sekadar akan dipublikasikan ke twitter, maka seringkali saya tidak akan memrosesnya lebih lanjut seperti gambar-gambar di atas. Atau dengan cepat menggunakan Snapseed seperti gambar di bawah ini.

Yang cukup saya suka dari RX100 VII adalah ukurannya yang kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan sejumlah gawai, dan membuatnya mudah dibawa ke mana-mana untuk mengambil gambar berkualitas secara spontan.

Antitrack sebagai alternatif DNT saat Berselancar di Internet

Saat berselancar di Internet, kita menjadi target banyak pihak, terutama yang menginginkan informasi data pribadi kita, termasuk pemilik website yang kita kunjungi. Sebagian besar peramban modern telah memiliki fungsi untuk menyampaikan “do not track” (DNT) pada fitur mereka, tapi seberapa yang bisa dicegah?

Jika Anda tidak terlalu peduli dengan data privasi Anda tersebar di mana-mana, maka fitur antitrack bukan sesuatu yang Anda perlukan. Dan tentu saja Anda juga mungkin tidak akan memerlukan VPN untuk menjaga privasi dan keamanan data Anda.

Antitrack sendiri baru dikembangkan beberapa tahun terakhir untuk melawan pencuri privasi. Dan sejumlah pengembangannya cukup memuaskan. Bahkan isu perang antara Apple dan Facebook belakangan ini juga terkait dengan pilihan “do not track.”

Do Not Track (DNT) is a way to keep users’ online behavior from being followed across the Internet by behavioral advertisers, analytics companies, and social media sites. It combines both technology (a way to let users signal whether they want to be tracked) as well as a policy framework for how companies should respond to that signal.

eff.org

Kita adalah sasaran empuk bagi pengiklan, dengan mengetahui usia, jenis kelamin, situs yang sering kunjungi, teman-teman kita, belanjaan kita, hingga wishlist yang kita simpan, maka pengiklan bisa mengirimi kita berjubel iklan-iklan yang ditargetkan ke kita.

Antitrack melengkapi fungsi incognito dalam banyak peramban, tentu saja sejumlah teknologi incognito juga memiliki fungsi perlindungan privasi dan juga pelacakan sekaligus, misalnya saja incognito oleh CUJO AI.

Saya sendiri memanfaatkan Avast AntiTrack Premium yang disertakan dalam bundel Avast Ultimate yang kami miliki. Layanan pihak ketiga sering kali lebih memudahkan pengguna dalam melakukan penyetelan kebutuhan.

Hanya perlu diingat bahwa AntiTrack tidak menghalangi atau menyekat iklan, tapi lebih spesifik pada menyekat iklan yang ditarget untuk Anda sebagai pengunjung halaman situs web. Jika tidak ingin iklan ditampilkan, penyekat iklan (adblocker) lebih tepat. Namun tetap perlu diingat, bahwa sebagian besar situs yang Anda kunjungi hidupnya berasal dari iklan, jadi selektif memilih situs mana yang menampilkan iklan akan lebih bijak.

Fitur antitrack sebenarnya bermanfaat untuk diterapkan, sayangnya di negeri kita, tidak banyak orang yang peduli pada keselamatan privasi. Kita adalah negeri saling berbagi, mulai dari berbagi komputer, peramban, hingga sandi, yang sering sulit dibagi cuma cuan.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin maju dalam melacak aktivitas internet Anda. Tambahkan perangkat seluler dan hasilnya adalah kurangnya privasi online. Jika Anda tidak nyaman dengan itu, Anda perlu mempelajari cara menyisih dari aplikasi yang melacak Anda.

Sebagian besar layanan populer yang Anda gunakan (seperti platform media sosial dan Google) serta perangkat seluler Anda memberi Anda pengaturan untuk menonaktifkan pelacakan. Masalahnya adalah, Anda harus menggali sedikit untuk menemukannya. Namun, setelah Anda melakukannya, mematikan pengumpulan data cenderung sangat mudah.

John Huges – CodewinWP

Saya masih suka si Pentax Q10

Pada era smartphone, di mana gambar tinggal diambil hanya dengan bidikan di layar ponsel dengan kualitas yang jumawa, maka kamera – terutama kamera saku (pocket camera) sudah mulai ditinggalkan. Kita bisa melihat, hampir tidak ada yang suka membawa kamera saku di sekitar kita saat ini untuk mengambil gambar.

Bahkan saya sendiri lebih sering mengambil gambar dengan ponsel Realme yang saya beli bekas pakai. Mengapa? Karena tujuannya untuk berbagi segera! Entah ke sejawat untuk konsultasi kasus, atau sekadar “pamer” di media sosial.

Tapi jangan salah! Walau smartphone sudah menjadi pengambil gambar utama. Saya masih menggunakan kamera saku. Karena ada beberapa situasi yang tidak bisa dihasilkan oleh kamera ponsel. Saya tidak menggunakan kamera SLR, karena jika saya memerlukan gambar dari kamera SLR – saya lebih memilih memanggil ahli fotografi. Saya bukan ahli, cuma sekadar penghobi, dan fotografi jalanan bisa membantu saya mengurangi kadar stres.

Di rumah kami ada dua kamera saku. Pertama adalah Pentax Q10 yang dirilis tahun 2012 yang kami beli lama sekali, dan Sony RX100 VII yang rilis beberapa tahun yang lalu yang saya dapatkan dari Pak Tony karena beliau tidak lagi menggunakan kamera ini.

Nah, yang sering saya pakai adalah si Pentax Q10 ini – mungkin karena umurnya lebih tua, dan tangan saya lebih terbiasa dengan bodinya.

Jangan bayangkan kamera ini canggih banget. Karena bahkan ponsel pintar murah saat ini bisa jadi punya lebih banyak fitur dibandingkan kamera yang berusia nyaris satu dasawarsa ini. Beda dengan kamera saku yang satunya, tidak akan kalah dengan kamera ponsel pintar mana pun saat ini.

Mengapa saya suka si Pentax Q10?

Bisa dibilang Q10 adalah kamera mirrorless pertama saya. Dan Pentax sejak tahun lalu telah mengumumkan tidak lagi memproduksi kamera mirroless dan akan fokus ke SLR, jadi ini akan menjadi seperti kenangan.

Q10 yang kami miliki hanya memiliki satu tipe lensa , yaitu Q-mount 02 standard zoom, yang dibawa saat membeli kamera ini. Saya tidak memiliki dana tambahan saat itu untuk mendapatkan set lensa lainnya.

Awalnya saya tidak suka kamera ini ketika pertama kali saya pegang. Karena kamera sebelumnya yang saya gunakan adalah Canon Powershot SX30 IS memberikan kesan yang jauh berbeda. Tentu saja kamera digital versus mirroless compact memberikan kesan yang berbeda.

Tapi, Q10 membawa saya ke dalam sebuah dimensi fotografi yang baru, yang lebih spontan dan lebih intuitif. Banyak yang bilang bahwa ini disebut sebagai fotografi jalanan. Dan ini menyenangkan, walau saya tidak pernah tahu apakah foto yang saya hasilkan termasuk baik atau tidak.

A cycle and a old shed

Gambar di atas saya ambil pagi ini, ketika berjalan-jalan untuk menyaksikan matahari terbit.

Pengambilan gambar bersifat spontan. Saya mengambil belasan gambar hitam-putih dengan Q10, sebagian besar berbayang, karena tangan saya sering tidak stabil ketika mengambil gambar spontan. Beberapa saya bisa merasa cukup puas, dan mungkin hanya satu yang menurut saya cukup bagus seperti gambar di atas.

Hal ini tentu saya sadari, karena kelemahan Pentax Q10 adalah selalu memerlukan pencahayaan yang cukup untuk menjaga kontras.

Berjalan beberapa kilometer dengan ribuan langkah, mengambil banyak gambar namun hanya satu yang memuaskan, mengapa tidak? Kamera yang layar LCD-nya sudah dihinggapi beberapa garis dan mengelap di sisi-sisinya masih bisa memberikan sesuatu yang memuaskan bukan?

Seperti berjalan menuju pesta, menemukan banyak lawan jenis yang memikat namun hanya satu yang pas di hati, bukankah kehidupan seperti itu?

Pentax juga cukup keren, walau tidak sekeren Leica, tapi setidaknya saya punya genggaman di luar arus utama seperti Canon, Nikon, Lumix/Panasonic, dan Sony.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Masih ada yang suka mengambil gambar/foto kamera saku?

COVID-19 dan Kehamilan

Ibu hamil, yang baru melahirkan, atau yang sedang menyusui juga dapat terinfeksi SARS-CoV-2 dan menderita COVID-19. Tapi apa saja risikonya?

Secara keseluruhan, risiko COVID-19 pada ibu hamil cukup rendah. Namun perlu menjadi catatan bahwa kehamilan dapat meningkatkan risiko penyakit parah dan kematian pada COVID-19. Ibu hamil dengan COVID-19 tampaknya lebih mudah mengarah pada komplikasi saluran napas dan memerlukan perawatan intensif dibandingkan perempuan yang tidak hamil.

Tentu saja, jika ibu hamil memiliki penyakit penyerta seperti diabetes misalnya, mereka juga lebih berisiko terhadap luaran COVID-19 yang berat.

Photo by Jou00e3o Paulo de Souza Oliveira on Pexels.com

Beberapa penelitian juga menduga bahwa ibu hamil dengan COVID-19 juga kemungkinan memiliki bayi prematur dan persalinan dengan bedah cesarea, dengan bayi mereka yang lebih cenderung perlu dirawat di unit neonatus (misal NICU).

Hubungi Puskesmas terdekat jika Anda merasa memiliki gejala COVID-19, atau terpapar/kontak erat dengan seseorang yang positif COVID-19. Sangat dianjurkan bagi Anda memeriksakan diri untuk deteksi virus penyebab COVID-19, jika pemeriksaan dapat Anda akses atau tersedia di wilayah Anda. Jangan sungkan untuk menghubungi dokter keluarga Anda jika memerlukan bantuan.

Jika Anda sedang hamil dan terjangkit COVID-19, maka terapi utama akan mengarah pada peredaan gejala dan termasuk menjaga rehidrasi dengan banyak cairan dan istirahat, guna mengurangi demam, nyeri dan meredakan batuk. Jika Anda sangat sakit, Anda mungkin perlu rawat inap di rumah sakit.

Sejumlah wilayah di Indonesia tersedia tempat perlindungan (shelter) bagi penderita COVID-19 yang bergejala ringan. Jika Anda hamil dan terjangkit COVID-19, walau pun tanpa gejala, Anda disarankan memanfaatkan fasilitas ini karena Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi perburukkan kondisi, dan memerlukan fasilitas yang baik untuk melakukan persalinan. Jika Anda tidak yakin, hubungi dokter keluarga Anda untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Upaya kesehatan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran COVID-19 mungkin memengaruhi akses Anda terhadap pelayanan antenatal/prenatal. Konsultasikan dengan bidan atau dokter Anda untuk mendapatkan pilihan pelayanan antenatal bagi kehamilan Anda.

Rekomendasi persalinan

Jika masa kehamilan Anda sudah menjelang persalinan, bersiaplah untuk lebih fleksibel terhadap proses-proses yang mungkin terjadi di masa pandemi.

Bagi yang belum pernah dites COVID-19, Anda akan menjalani pemeriksaan sebelum dilayani untuk proses persalinan di fasilitas kesehatan. Perhatikan peraturan rumah sakit atau klinik/puskesmas dalam melayani persalinan, misalnya bahwa mungkin terdapat aturan melarang kunjungan bagi pasien pasca persalinan.

Jika Anda positif COVID-19 atau sedang menunggu hasil pemeriksaan COVID-19 akibat gejala atau riwayat kontak, Anda disarankan menjalani rawat inap saat persalinan dan selalu mengenakan masker dan mencuci tangan saat merawat bayi Anda.

Anda dapat merawat bayi selama berada di rumah sakit, namun tetap jaga jarak dengan bayi selama Anda tidak perlu sekali menyentuhnya (misal, ketika bayi sedang tidur). Ikuti protokol kesehatan yang berlaku untuk meminimalkan bayi Anda tertular COVID-19 dari Anda.

Perlu diingat, jika kondisi COVID-19 berat, maka Anda mungkin akan dipisahkan sementara waktu dengan bayi Anda.

‎Disarankan bahwa perawatan postpartum setelah melahirkan menjadi proses yang sedang tetap berjalan. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang opsi kunjungan virtual untuk check-in setelah persalinan, serta kebutuhan Anda untuk kunjungan ke dokter.‎

‎Selama masa stres ini, Anda mungkin memiliki lebih banyak kecemasan tentang kesehatan Anda dan kesehatan keluarga Anda. Perhatikan kesehatan mental anda. Jangkaulah keluarga dan teman-teman untuk mendapatkan dukungan sambil mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko infeksi virus ‎‎COVID-19.‎

‎Jika Anda mengalami perubahan suasana hati yang parah, kehilangan nafsu makan, kelelahan yang luar biasa dan kurangnya sukacita dalam hidup tak lama setelah melahirkan, Anda mungkin mengalami depresi pascamelahirkan. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda jika Anda berpikir Anda mungkin depresi, terutama jika gejala Anda tidak memudar sendiri, Anda mengalami kesulitan merawat bayi Anda atau menyelesaikan tugas sehari-hari, atau Anda memiliki pikiran untuk membahayakan diri sendiri atau bayi Anda.‎

Rekomendasi menyusui

‎Penelitian menunjukkan bahwa ASI tidak mungkin menyebarkan virus ‎‎COVID-19‎‎ kepada bayi. Kekhawatiran yang lebih besar adalah apakah ibu yang terinfeksi dapat menularkan virus ke bayi melalui tetesan/droplet pernapasan selama menyusui.‎

‎Jika Anda ‎‎memiliki COVID-19‎‎ atau merupakan orang tanpa gejala yang sedang dalam proses pemeriksaan apakah terkena COVID-19, ambil langkah-langkah untuk menghindari penyebaran virus ke bayi Anda. Ini termasuk mencuci tangan sebelum menyentuh bayi Anda dan, jika mungkin, mengenakan masker wajah selama menyusui. Jika Anda memompa ASI, cuci tangan Anda sebelum menyentuh pompa atau bagian botol apa pun dan ikuti rekomendasi untuk pembersihan pompa yang tepat. Jika memungkinkan, minta bantuan seseorang yang sehat untuk memberi bayi ASI yang dikeluarkan/pompa.‎

Saat ini, tidak ada penelitian tentang keamanan vaksin COVID-19 pada wanita hamil atau menyusui. Namun, jika Anda hamil atau menyusui dan bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin COVID-19, Anda dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang risiko dan manfaatnya.

Perlu diingat bahwa vaksin mRNA COVID-19 tidak mengubah DNA Anda atau menyebabkan perubahan genetik.

Untuk mengurangi risiko infeksi, hindari kontak dekat dengan siapa pun yang sakit atau memiliki gejala dan jaga jarak sekitar 2 meter antara diri Anda dan orang lain di luar rumah tangga Anda. Kenakan masker wajah kain di depan umum dan di tempat kerja. Batasi kontak dengan orang lain sebanyak mungkin. Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk berbagi momen dengan teman dan keluarga melalui foto, video, atau konferensi video. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, atau gunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol.

Yang terpenting, fokuslah mengurus diri sendiri dan bayi Anda. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda untuk mendiskusikan masalah apa pun. Jika Anda mengalami masalah dalam mengelola stres atau kecemasan, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda atau konselor kesehatan mental tentang strategi mengatasinya.

Diadaptasi dari Mayo Clinic.