Tips Keselamatan bagi Tenaga Kesehatan Garda Depan menghadapi COVID-19

Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang bekerja bersama-sama dalam menghadapi pandemi COVID-19 di garda depan paling rentang terpapar langsung dengan SARS-CoC-2 – virus penyebab COVID-19. Pelajaran yang dapat kita ambil selama ini adalah COVID-19 sangat menular, oleh karena itu perlindungan keselamatan bagi tenaga kesehatan di garda depan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Setahun ini, perkembangan mengenai bagaimana melindungi tenaga kesehatan dari risiko paparan COVID-19 terus berkembang. Sedemikian hingga, pedoman-pedoman keselamatan dikembangkan untuk masing-masing fasilitas layanan kesehatan dapat diterapkan dengan baik.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dasar dari pengembangan pedoman keselamatan adalah prinsip bahwa penularan COVID-19 berasal dari kontak langsung terhadap droplet atau aerosol dari orang yang sakit, atau bisa juga kontak tak langsung seperti permukaan yang tercemar.

Mari kita lihat satu per satu, apa yang dapat dipertimbangkan sebagai pedoman di tempat kerja masing-masing.

Pakaian Pra-kerja

Semua staf tenaga kesehatan yang berangkat dari rumah ke tempat kerja (rumah sakit, klinik, puskesmas) mengenakan pakaian yang bersih yang tidak diharapkan terpapar faktor infeksi/virus.

Oleh karena itu, idealnya pakaian ini harus baru saja dicuci/binatu menggunakan air panas di semua siklusnya (cuci dan bilas), menggunakan deterjen, pemutih, dan dikeringkan menggunakan pengering elektrik atau gas.

Perlu diperhatikan bahwa pencucian hanya dengan detergen saja tidak efektif untuk sepenuhnya menghilangkan atau menonaktifkan sandang yang tercemar partikel virus pada konsentrasi yang tinggi. Dan virus dapat berpindah dari pakaian yang tercemar ke pakaian yang tidak tercemar. Sedemikian hingga rekomendasi praktik binatu pada masa pandemi adalah menggunakan tambahan pemutih (sodium hipoklorit / hidrogen peroksida) dan penggunaan mesin pengering.

Mesin pengering elektrik atau gas selayaknya dioperasikan dengan setelan panas paling tinggi, mencapai 57°C untuk menonaktifkan SARS-CoV-2 yang biasanya terjadi pada suhu 56°C. Sementara itu penggunaan dry cleaning masih dalam perdebatan.

Hanya saja, di Indonesia kita jarang menemukan proses ini secara otomatis. Pertimbangkan mencuci dengan air panas (disiapkan secara manual), dan dijemur di bawah terik matahari sebagai alternatif.

Kebersihan diri

Kebersihan diri penting dalam mengurangi atau menghilangkan virus. Tenaga kesehatan dianjurkan untuk mandi dengan sabun dan air hangat dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum meninggalkan rumah atau ketika sampai di fasilitas layanan kesehatan (sebelum bertugas).

Jika fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tidak menyediakan fasilitas mandi (shower) bagi tenaga kesehatan, dan memilih mandi di rumah, maka staf harus langsung berangkat dari rumah ke fasilitas layanan kesehatan (tidak pakai singgah).

Kombinasi air dan sabun efektif dalam menonaktifkan virus. Jika tenaga kesehatan memiliki masalah pada rambut, misal tidak dapat diberikan sampo, maka kepala/rambut selalu ditutup dengan penutup kepala (misal nurse cap) yang selalu dibersihkan atau diganti/dibuang jika sekali pakai. Jika memiliki masalah kulit kering, maka sabun dengan pelembab dapat membantu meringankan gejala.

APD dikenakan setelah mandi. APD standar yang ditentukan oleh fasyankes selayaknya disediakan di fasyankes dan dikenakan saat tenaga kesehatan tiba di fasyankes. Jika APD tidak tersedia, pakaian kerja berlengan panjang dan menutup sebagian besar anggota tubuh disarankan disediakan oleh fasyankes.

Aksesoris tak penting

Lepaskan semua perhiasan, arloji/jam tangan, dan semua aksesoris tak penting yang tidak tertutup oleh pakaian. Jam tangan – apa pun jenisnya – tidak dianjurkan. Apalagi saat ini semua fungsi jam tangan telah dapat digantikan oleh telepon pintar (smartphone).

Jika pasokan respirator terbatas atau dipakai ulang, misal penggunaan ulang N95 dilakukan. Maka disarankan nakes tidak menggunakan kosmetik untuk makeup wajah guna menghindari cemaran/noda pada masker. Jika ada masker yang ternoda, maka tidak disarankan untuk digunakan atau didaur ulang.

Identitas

Kartu identitas nakes ditempatkan pada wadah yang mudah dibersihkan, misalnya dilaminating. Pembersihan bisa menggunakan usap disinfeksi atau alkohol.

Gunakan desain identitas yang mudah dibersihkan, dan tempat penampungan identitas juga dibersihkan secara berkala.

Cuci tangan

Setiap nakes mencuci tangan dengan sabun dan air hangat mengalir atau pembersih tangan dengan antiseptik sesuai dengan protokol yang berlaku di fasilitas masing-masing.

Untuk menghindari kerusakan kulit, maka disarankan menggunakan sabun atau cairan antiseptik yang mengandung bahan pelembab. Jika tidak tersedia, maka sediakan dan gunakan pelembab terpisah setelah melakukan cuci tangan.

Telepon seluler

Ponsel (smartphone) selalu tersentuh oleh tangan tenaga kesehatan, oleh karenanya perlu pembersihan. Ponsel dan penutupnya perlu dibersihkan setidaknya sekali sehari, disarankan setelah selesai giliran jaga.

Pabrik ponsel biasanya memiliki panduan pembersihan ponsel produksi mereka masing-masing. Beberapa menyarankan menggunakan lap disinfeksi, sementara yang lain merekomendasikan tidak menggunakan lap disinfeksi. Periksa masing-masing pedoman yang diberikan oleh pabrik ponsel yang digunakan.

Alternatif yang bisa digunakan adalah membersihkan dengan kain serat mikro (microfiber). Kain serat mikro dapat dilembapkan dengan cairan pembersih yang direkomendasikan, dan digunakan untuk membersihkan ponsel. Kain kemudian dapat dipakai ulang setelah dicuci dengan air hangat dan detergen.

Pelindung mata

Pelindung mata seperti antifog goggle atau face shield baik yang didesain bagi mereka yang mengenakan atau tidak mengenakan kacamata disarankan untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

Goggle dan face shield dipelihara agar selalu bersih dengan teknik yang sama seperti yang dilakukan pada ponsel. Perlindungan ini tetap disarankan walau bukti penularan SARS-CoV-2 melalui air mata tidak kuat.

Penggunaan kacamata saja tidak pernah diterima sebagai perlindungan mata jika kewaspadaan isolasi airborne dibutuhkan pada kasus SARS-CoV-2. Hindari menyentuh kacamata dengan sebelum cuci tangan, misalnya ketika hendak membetulkan posisi kacamata.

Walau saat ini tidak ada bukti peningkatan risiko infeksi SARS-CoV-2 melalui lensa kontak, tenaga kesehatan yang mengenakannya tetap disarankan waspada, termasuk proses pembersihan dan disinfeksinya. Lensa kontak harian sekali pakai disarankan. Jika memiliki gejala seperti flu, maka tidak disarankan menggunakan lensa kontak.

Perlindungan hidung dan mulut

Respirator N95 atau masker yang disertifikasi setara (KN95) direkomendasikan dipakai ketika pelayanan pasien positif COVID-19, baik dengan gejala ataupun tidak.

Ketika masker digunakan, maka sebaiknya tidak dilepas atau disentuh sepanjang pemakaian atau sepanjang shift jaga. Jika masker terpaksa dilepas, walau tidak dianjurkan, protokol pelepasan masker harus ditaati.

Pelapasan dan pemasangan kembali masker dilakukan dengan seksama, terutama agar tidak merusak integritas masker dan menghindari (bagian dalam) masker terkontaminasi. Ketika dikenakan kembali perhatikan bahwa tidak ada celah kebocoran antar masker dan permukaan kulit.

Apabila masker terpapar cairan tubuh. atau minyak, maka segera diganti, oleh karena carian dan minyak dapat mengurangi kebergunaan masker.

Jangan lupa, sebelum menggunakan respirator N95, pengguna harus melakukan tes kesesuaian (fit test) untuk menentukan dan menjamin model dan ukuran respirator.

Sebagai catatan, N95 sekali pakai tidak bisa dibersihkan dan didesinfeksi secara efektif. Ikuti pedoman PPI di fasilitas masing-masing jika terdapat kebijakan menggunakan kembali N95 sekali pakai. Dan masker dalam bentuk apa pun sangat tidak dianjurkan untuk dipakai secara berbagi dengan orang lain.

Respirator N95 bisa digunakan dalam kontak dekat dengan beberapa pasien secara bergilir tanpa perlu mengganti pada setiap kali perpindahan ke pasien berikutnya. Penggunaan respirator dapat diperpanjang pada kondisi menghadapi patogen yang sama di bangsal atau ruangan yang sama. Perpanjangan penggunaan ini direkomendasikan sebagai pilihan untuk menghemat respirator pada situasi wabah/pandemi.

Tenaga kesehatan selayaknya mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan dan pelepasan respirator N95, serta bagaimana memeriksa integritas segel antar masker dan permukaan kulit.

N95 yang kedaluwarsa hanya digunakan apabila tidak tersedia yang baru. Tenaga kesehatan selayaknya hanya menggunakan N95 tersertifikasi NIOSH dan diberitahukan apabila mereka sedang menggunakan respirator yang kedaluwarsa.

Penggunaan respirator atau masker berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pada area kulit yang mendapatkan tekanan langsung dari tepi respirator/masker. Area di dalam masker juga bisa tercemar oleh gabungan kelembapan, materi dari luaran nasal dan oral, yang berpotensi menimbulkan ruam, iritasi dan sisik- mengarah pada dermatitis perioral. Pertimbangkan hidrasi kulit yang baik dengan memanfaatkan pelembab.

Menggunakan N95 dalam jangka panjang memiliki efek buruk bagi tenaga kesehatan, termasuk hipoksia dan hiperkapnea hening, yang mungkin menurunkan efisiensi kerja dan kemampuan mengambil keputusan. Gejala tambahan seperti pusing, mengantuk, kulit kemerahan, napas pendek, perubahan kondisi kejiwaan, laju napas menjadi cepat, kedutan otot, hingga kejang. Menghembuskan dan menghirup kembali karbon dioksida secara berulang-ulang yang terperangkap di dalam masker dalam menyebabkan masalah kesehatan, keparahannya bergantung pada kondisi kesehatan penggunanya. Mengemudi sambil menggunakan N95 tidak disarankan oleh karena kondisi di atas bisa mengurangi kemampuan mengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan saat mengemudi.

Rambut wajah

Untuk menjamin respirator terpasang pada kondisi terbaik, memang sebaiknya rambut wajah seperti kumis dan janggut terpotong pendek. Walau pun N95 direkomendasikan untuk mengurangi penyebaran COVID-19, tapi tidak ada anjuran resmi untuk mencukur janggut.

Tidak ada bukti bahwa memelihara janggut meningkatkan penyebaran COVID-19, namun petugas kesehatan garda depan wajib memastikan ketika menggunakan respirator telah terpasang pas pada wajah dan rambut wajah tidak mengurangi atau melonggarkan respirator.

Sebagai alternatif, N95 dapat diganti menggunakan PAPR.

Sementara belum terdapat banyak bukti terkait kaitan rambut wajah dengan penularan COVID-19, tenaga kesehatan yang memelihara rambut wajah disarankan merawat dan membersihkannya dengan baik.

Sarung tangan sekali pakai

Sarung tangan (handscooon) digunakan pada masing-masing pasien saat diperlukan. Sarung tangan periksa non-steril sekali pakai yang biasanya digunakan sehari-hari di layanan kesehatan disarankan digunakan untuk merawat pasien terduga atau terkonfirmasi COVID-19.

Sarung tangan ini biasanya terbuat dari polimer (lateks atau nitrile) yang tahan terhadap virus. Sarung tangan harus digunakan saat kontak dengan darah, feses, dan cairan tubuh lain (saliva, sputum, ingus, air mata, muntahan, urine) pasien.

Gunakan juga sarung tangan saat menangani barang-barang yang tercemar.

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan cuci tangan antiseptik sebelum mengenakan dan setelah melepas sarung tangan.

Ganti sarung tangan segera apabila terjadi kebocoran atau robekan pada sarung tangan. Buang sarung tangan pada tempat sampah infeksius yang telah ditentukan. Tidak direkomendasikan menggunakan sarung tangan ganda ketika merawat pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19. Demikian juga penggunaan sarung tangan yang diperpanjang tidak diperlukan ketika merawat.

Pelindung badan (coverall)

Belum ada penelitian rinci yang membandingkan antara jas, gaun, dan coverall; namun semua dapat digunakan oleh tenaga kesehatan selama perawatan pasien pada umumnya. Dengan adanya temuan hasil positif SARS-CoV-2 secara sporadis pada pergelangan pakaian, maka cukup wajar bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan coverall sebagai alternatif jas putih atau gaun bedah pada perawatan, pengobatan, dan pemindahan pasien COVIOD-19.

Pertimbangkan pemilihan pakaian pelindung di fasyankes yang dapat melindungi dari mikroorganisme dalam darah dan cairan tubuh.

Pelatihan diperlukan oleh staf sehingga dapat tidak hanya mengenakan namun yang terpenting bagaimana melepas coverall sedemikian hingga mencegah swakontaminasi dari serat ke wajah.

Alas kaki

Bawa sepasang sepatu, bot, atau alas kaki layak lainnya untuk digunakan hanya di fasyankes. Setiap kali selesai shift jaga, bersihkan semua permukaan alas kaki (termasuk bagian dalam dan bawah) dengan semprotan disinfektan. Lalu tempatkan pada wadah plastik atau kertas/kardus tertutup dan tinggalkan di fasyankes.

Jika alas kaki bisa dikantongkan dengan baik, maka dapat ditinggalkan di fasyankes maupun dibawa pulang. Tidak rekomendasikan memilih alas kaki yang bertali, misalnya tali sepatu, karena material berpori dapat menyimpan partikel virus.

Sepatu yang dipakai dari rumah menuju fasyankes juga disimpan dalam wadah tertutup saat tiba di fasyankes dan digunakan kembali saat kembali ke rumah atau ke tempat lain.

SARS-CoV-2 juga dapat menempel pada alas sepatu. Oleh karena itu, sepatu yang digunakan saat pulang juga bisa terkontaminasi, dan tidak disarankan untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tinggalkan di tempat lain yang cukup aman (dari jangkauan orang lain, terutama anak-anak), misalnya di garasi atau sediakan tempat sepatu sebelum masuk rumah.

Kebersihan pascajaga

Petugas kesehatan dapat langsung mandi setelah selesai jam tugasnya jika fasilitas menyediakan tempat pemandian (shower). Fasilitas yang menyediakan area mandi dapat mengatur waktu mandi dan selesai shift, sehingga tidak menumpuk.

Apabila tidak tersedia fasilitas mandi, tenaga kesehatan langsung menuju area pelepasan APD. Lepas APD menggunakan protokol yang disepakati (lihat contoh video di atas). Mengikuti prosedur akan menurunkan risiko penyebaran infeksi.

Setelah melepas APD, cuci tangan dan bagian tubuh lain yang terpapar dengan sabun dan air hangat mengalir.

Kenakan pakaian bersih sebelum kembali pulang ke rumah, dan sesampai di rumah disarankan untuk melepas/berganti pakaian di area khusus (tidak di dalam rumah), lalu pakaian tadi langsung dicuci atau jika tidak langsung dicuci disimpan dalam wadah plastik tertutup sampai pencucian nanti. Setelahnya langsung mandi dan keramas dengan sabun dan air mengalir.

Melepas APD

Seluruh APD harus ditempatkan pada wadah yang sesuai sebelum meninggalkan tempat kerja. Fasyankes menyediakan wadah-wadah terpisah ini untuk masing-masing masker, penutup alas kaki, sarung tangan, dan penutup rambut.

Goggle dan pakaian yang dapat digunakan ulang dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya untuk digunakan kembali oleh staf kembali pada hari berikutnya. Apabila penutup rambut akan digunakan ulang, maka selayaknya diberikan label nama nakes dengan spidol hitam permanen.

Selalu cuci tangan setelah melepaskan setiap jenis APD.

Jangan lupa untuk mandi pasca melepaskan APD. Dan jika tidak tersedia fasilitas mandi, nakes dapat langsung pulang dan mandi di rumah.

Pakaian yang digunakan setelah melepas APD adalah pakaian bersih yang dibawa dari rumah, baik yang dikenakan saat datang ke fasyankes atau pakaian terpisah yang disiapkan sebelumnya. Setelah sampai di rumah, disarankan petugas mandi kembali.

Alat transportasi milik pribadi

Bersihkan kendaraan setiap hari. Uji pada jok kendaraan bisa ditemukan partikel COVID-19. Bersihkan terutama pada area permukaan yang sering disentuh, termasuk area pijakan. Media pembersih yang sesuai dan disinfektan disarankan.

Pembersihan ini penting terutama ketika akan mengantar bayi, pasien lansia, daya tahan terganggu, atau mereka dengan kondisi medis yang menyebabkan berisiko lebih tinggi. Hal ini juga menjadi langkah tambahan untuk mencegah SARS-CoV-2 terbatas oleh tenaga kesehatan.

Jika memungkinkan, parkirlah kendaraan di bawah terik matahari saat ditinggal bekerja. Sinar matahari diketahui berperan sebagai disinfektan dan dapat membantu menonaktifkan partikel virus.

Pemeriksaan SARS-C0V-2

Dokter, perawat, tenaga kesehatan dan staf lainnya (misal petugas kebersihan dan perawatan alat) yang bekerja di garda depan selayaknya diuji untuk antigen SARS-CoV-2 sebelum mulai bekerja pada unitnya dan dilanjutkan/diulang setiap 3 hari selama pandemi.

Meski sudah menerapkan kewaspadaan yang baik, tenaga kesehatan dan staf lainnya juga dapat terpapar COVID-19 di fasilitas tempat mereka bekerja, rumah, dan/atau di tempat lainnya di masyarakat (misalnya di pasar ketika berbelanja).

Penutup

Meski sejumlah tips ini tidak semua bisa diaplikasikan, namun menambah beberapa daftar yang bisa dilakukan dapat mengurangi potensi risiko keselamatan akibat paparan COVID-19 bagi tenaga kesehatan dan keluarganya.

Tentu saja selain bekerja, tenaga kesehatan juga bisa terpapar di kegiatan sehari-harinya saat tidak bekerja. Maka ketika tidak bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai anggota masyarakat, tenaga kesehatan selayaknya juga mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Hal yang paling sulit mungkin adalah mengubah kebiasaan, karena tidak semua kebiasaan pencegahan infeksi bisa hadir dengan sendiri secara alami. Membiasakan diri patuh pada protokol adalah hal yang penting, dan menjaga mutu kepatuhan ini juga penting.

Selalu bersama-sama dengan sejawat lainnya untuk meningkatkan mutu keselamatan pelayanan di mana pun Anda bekerja.

Catatan: adaptasi didapatkan dari Sage Journal.

Apakah COVID-19 berasal dari Laboratorium di Wuhan?

Setahun COVID-19 dan pelbagai varian – dan bahkan varian dari varian – bermunculan, namun pertanyaan dari mana virus ini berasal belum terjawab. Bulan-bulan awal kemunculan COVID-19 kita sempat mendengar SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 mungkin saja berasal dari sebuah laboratorium penelitian virus di Wuhan, Tiongkok.

Pernyataan tersebut banyak beredar, dan masuk ke dalam kategori teori konspirasi karena tidak memiliki dasar klaim yang dapat diterima bersama.

Tapi pernyataan ini kembali berulang, mengingat belum banyak yang bisa dihasilkan oleh tim investigasi WHO sampai saat ini, dan sejumlah kritik di layangkan pada organisasi kesehatan dunia ini.

Photo by Edward Jenner on Pexels.com

Pada awal penyelidikan oleh tim investigasi, sempat muncul pernyataan bahwa kemungkinan “kebocoran dari laboratorium” sangat kecil, sehingga tidak dipertimbangkan.

Dalam laporan resmi yang diperbarui per 6 April 2021 ini, ada sejumlah poin yang menjadi kesimpulan:

  1. Menghubungkan antara data genom dan data epidemiologi diperlukan untuk analisis molekuler dalam mendukung penelitian pelacakan asal.
  2. Kontrol mutu sekuensi genom penting untuk menyediakan hasil yang dapat dipercaya.
  3. Virus dari beberapa kasus pasar Huanan identik, menyiratkan dugaan kejadian penyebaran.
  4. Analisa genom kasus-kasus awal juga menunjukkan kebinekaan, menyiratkan dugaan sumber-sumber lain (tambahan) dan peredaran yang tidak dikenal.
  5. Perkiraan dari waktu hingga ke hulu bersama (common ancestor) – baik dari literatur maupun analisa ulang menyiratkan bahwa penularan atau peredaran virus mungkin baru pada akhir 2019.
  6. Hingga saat ini, sekuensi genom yang berhubungan paling dekat telah ditemukan pada kelelawar.
  7. Laporan deteksi SARS-CoV-2 pada sampel kasus dan lingkungan sebelum Januari 2020 di pelbagai tempat di seluruh dunia memerlukan tindak lanjut.

Dalam laporan yang sama juga dikeluarkan sejumlah rekomendasi, yang pada intinya menyuratkan bahwa pelbagai penelitian yang lebih luas dan mendalam diperlukan.

Hanya saja, beberapa minggu sebelumnya, laporan WHO sempat dipertanyakan oleh sejumlah negara mengingat bagaimana laporan itu dibuat.

Perdebatan kemudian masih berlanjut, dan kemungkinan bahwa virus berasal dari laboratorium di Wuhan masih menjadi pertanyaan banyak pihak. Yang dulu menjadi sebuah konspirasi, kini menjadi sebuah teori.

Di manakah asal mula SARS-CoV-2? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Sebuah debat di kanal 60 Minutes Australia cukup bisa menjadi rujukan, bagaimana kulminasi perdebatan terbentuk dan hadir hingga saat ini. Termasuk bagaimana pertanyaan ini menjadi sebuah alat politik di sejumlah negara untuk menggiring opini pendukung politik.

Apa yang menjadi penting adalah bahwa pertanyaan dalam judul tulisan ini masih tetap sebuah pertanyaan, tanpa bukti kuat yang menyatakan “YA” atau sebaliknya.

Bagi saya sendiri, apa yang penting saat ini bukan menjawab pertanyaan tersebut dalam waktu dekat. Namun bagaimana mengendalikan agar pandemi di sekitar kita tidak menjadi tragedi, jangan seperti di Italia, Amerika, atau bahkan yang saat ini sedang berlangsung tsunami COVID-19 di India.

Jika suatu saat ini pertanyaan ini dapat terjawab, belum tentu tidak terdapat konflik dan debat setelahnya. Maka menurut saya, mari kita menyeruput kopi dan tetap berkomitmen pada pelaksanaan protokol kesehatan di era “new normal.”

Memanfaatkan Open Knowledge Maps

Ingin menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, mulai dari esai hingga karya tulis dan penelitian? Kita akan memerlukan banyak membaca terlebih dahulu, meskipun kita tahu mengenai topik yang hendak kita tulis. Apa yang dipilih untuk dibaca? Ini menjadi pertanyaan berikutnya.

Sebagai praktisi kesehatan, sumber referensi saya biasanya berkisar pada situs kesehatan dan jurnal kesehatan. Sebagian besar dapat diakses melalui selingkung di PubMed, dan sebagian lain mungkin ditelusuri dengan memanfaatkan mesin Google Cendikia.

Tentu saja ada “mainan” lain yang bisa digunakan, yaitu Open Knowledge Maps.

Let us change the way we discover research together

Layanan publik ini memberikan kita sebuah cara baru untuk menemukan penelitian (dan tulisan lain) terkait topik yang hendak kita dalami dan/atau teliti.

Pengguna bisa mendapatkan gambaran, konsep terkait, pengelompokan topik, dan penandaan konten yang terbuka bagi publik (open content). Fitur terakhir biasanya sangat diminati oleh kelompok yang memiliki anggaran terbatas untuk mengakses sebuah laporan penelitian – seperti saya.

Penggunaannya juga tidak sulit. Pengguna cukup memasukkan kata kunci topik yang hendak dicari, dan sistem akan mencari 100 dokumen paling terkait dengan kata kunci tersebut. Sistem akan menentukan kemiripan kata kunci dan mengembangkan pemetaan visual bagi pengguna.

Open Knowledge Map akan membantu kita dalam mencari dan mengumpulkan, kira-kira ke arah mana tulisan atau penelitian kita dapat berjalan.

jamovi – aplikasi statistika gratis

Mereka yang mengerjakan penelitian sederhana deskriptif atau analisis varian, akan memerlukan perhitungan statistik yang cermat. Aplikasi statistika biasanya diminati untuk membantu proses ini sehingga dapat berjalan dengan lebih mudah.

Aplikasi yang populer di Indonesia adalah SPSS yang dilisensikan oleh IBM. Tentu saja aplikasi berlisensi ini cukup mahal dan menguras anggaran bagi mereka yang hanya melakukan penelitian kecil dengan dana terbatas. Bahkan alternatif populer lain seperti Minitab juga tidak serta merta terjangkau.

Kabar baiknya, ada alternatif lain yang gratis seperti GNU PSPP – yang sayangnya kurang populer. Alternatif lain yang suka saya gunakan adalah JASP, dengan catatan: filosofi JASP lebih kuat ke arah bentuk Bayesian.

Seperti halnya JASP yang berhasil muncul dengan pengembangan R Language, banyak aplikasi lain yang juga berkembang menjadi aplikasi berfokus pada antarmuka yang ramah pengguna. Salah satunya yang tidak kalah populer dari JASP adalah jamovi.

Proyek jamovi didirikan untuk mengembangkan platform statistik gratis dan terbuka yang intuitif untuk digunakan, dan dapat memberikan perkembangan terbaru dalam metodologi statistik. Inti dari filosofi jamovi, adalah bahwa perangkat lunak ilmiah harus “didorong oleh komunitas”, di mana setiap orang dapat mengembangkan dan menerbitkan analisis, dan membuatnya tersedia untuk khalayak luas.

jamovi bertujuan untuk menjadi platform netral dan tidak mengambil posisi terkait filosofi statistik yang bersaing. Proyek ini tidak didirikan untuk mempromosikan ideologi statistik tertentu, melainkan ingin berfungsi sebagai tempat yang aman di mana pendekatan statistik yang berbeda dapat dipublikasikan secara berdampingan, dan menganggap diri mereka sebagai anggota komunitas jamovi yang terbaik.

Aplikasi jamovi tersedia dalam dua bentuk, yaitu bentuk stabil dan bentuk terbaru. Bentuk stabil biasanya disarankan bagi mereka yang hendak menggunakan jamovi dalam jangka panjang dan menginginkan aplikasi yang bebas bug saat digunakan. Bentuk terkini ditujukan bagi mereka yang ingin memanfaatkan fitur terbaru yang disediakan oleh jamovi dengan kemungkinan sejumlah bug mungkin bisa muncul saat digunakan.

Pengguna bisa mendapatkan jamovi untuk platform Windows, macOS, Linux, dan ChromeOS. Pengguna juga bisa belajar statistik dengan memanfaatkan jamovi melalui kanal YouTube datalabcc. Untuk mengunduh dan memasang jamovi pada komputer masing-masing, silakan merujuk pada manual pengguna.

Radio, Musik, dan Royalti

Belakangan ini mendengarkan kabar mengenai penerapan royalti bagi penggunaan karya musik (lagu) untuk kegiatan penyiaran dan bisnis lainnya cukup banyak diperbincangkan di dunia maya. Terutama kemungkinan akan mematikan sejumlah usaha, salah satunya adalah radio yang pendapatannya makin sedikit dan tidak kuat bayar royalti, bahkan ada kabar tidak sedikit pemilik radio yang hendak menjual usahanya.

Tidakkah ada titik temu dalam permasalahan ini?

Photo by Bo Allen on Pexels.com

Saya memikirkan beberapa kemungkinan jalan keluar, tapi tentu saja ada sesuatu yang lebih besar menghadang.

Pertama, royalti hanya ditujukan bagi penggunaan musik/lagu yang bersifat komersial. Padahal banyak sekali tempat usaha yang memanfaatkan musik atau lagu untuk menambah kenyamanan konsumen mereka. Mulai dari tempat makan/restoran, tempat pijat/spa, sarana transportasi publik, hingga tempat layanan publik seperti di ruang rumah sakit.

Kedua, tidak ada layanan lain yang bisa menyiarkan musik ke masyarakat/publik sebaik media massa elektronik – terutama radio. Kenapa, karena media lain tidak diizinkan untuk penyiaran publik, baik itu mulai dari media digital seperti CD Audi, Kaset, hingga yang berbentuk layanan streaming seperti Spotify, Deezer, YouTube dan sebagainya. Media tersebut hanya diizinkan untuk konsumsi perorangan, bukan untuk disiarkan, jadi Anda tidak boleh memutar Spotify atau YouTube untuk pelanggan rumah makan Anda. Ini berarti Anda juga tidak boleh memutar CD-Audio/MP3 untuk penumpang angkutan Anda, dan lain sebagainya, karena dihalangi oleh izin komersial dari media tersebut.

Ketiga, ini bermakna siaran media massa seperti radio dapat melakukan monopoli penyiaran musik kepada publik. Karena hal yang sama tidak bisa dilakukan oleh media modern lain oleh karena keterbatasan hak siar.

Radio bisa membayar royalti kepada pencipta musik, dan hanya radio yang bisa menyiarkan musik kepada masyarakat baik untuk dikonsumsi secara personal maupun massal. Anda bisa memutar radio di rumah makan atau di dalam bus untuk pelanggan. Hal ini masih masuk akal, kecuali ada aturan lain yang kemudian membatasinya – tapi setahu saya tidak ada. Silakan koreksi jika saya keliru.

Ketika media digital modern merambah ke penyiaran musik bagi pribadi/perorangan, maka radio masih memiliki keunggulan dalam penyiaran publik. Dan ini sebuah pasar yang cukup besar.

Tantangannya adalah bahwa masyarakat Indonesia masih melekat dengan jiwa pembajakan, tidak peduli dengan keringat pencipta karya. Siapa yang akan memastikan bahwa lagu yang diputar di sebuah rumah makan di pinggir jalan atau yang diputar di dalam bus antar kota antar provinsi sudah bayar royalti atau tidak? Razia atau sistem informasi elektronik? Saya ragu itu akan cukup efektif.

Sehingga, saya melihat bahwa radio mungkin tidak akan mati karena royalti, tapi karena masyarakat kita dan pelaku usaha tidak peduli akan royalti itu apa.

Itu cuma musik, kenapa mesti bayar?

Untuk menyelamatkan industri radio, masyarakat sendiri yang pertama-tama harus mengubah pandangan kita terhadap pentingnya karya cipta. Tentu saja radio juga harus berbenah, karena pangsa pasar publik itu tidak seluas pangsa pasar perseorangan.

Ini adalah dekade yang penuh perubahan, jika tidak cepat beradaptasi, kita akan tergerus.

Bagaimana memilih dokter keluarga atau pribadi?

Jika Anda baru saja mendaftar asuransi publik seperti BPJS Kesehatan, atau pengguna BPJS Kesehatan yang berpindah domisili, Anda mungkin akan menggunakan hak Anda untuk memilih siapa yang akan menjadi dokter keluarga/pribadi Anda melalui layanan registrasi atau aplikasi resmi di telepon pintar.

Setiap orang memiliki keperluan dan kriteria tersendiri dalam memilih layanan dokter yang dia butuh. Secara pribadi dan sebagai dokter, saya tidak melihat banyak perbedaan oleh karena dokter di Indonesia telah memiliki standar yang resmi dari konsil kedokteran. Saya sendiri memilih dokter keluarga dengan pertimbangan yang cukup sederhana.

BPJS Kesehatan sendiri mengizinkan pengguna layanan untuk mengubah fasilitas pelayanan kesehatan primer yang dia inginkan. Ini berarti seseorang bisa memilih atau pindah ke pelayanan antara dokter praktik mandiri, klinik pratama, atau puskesmas.

Orang mungkin pindah karena dia pindah domisili, atau ada lokasi layanan kesehatan baru yang beroperasi lebih dekat dari tempat tinggal, kerja atau sekolah salah satu anggota keluarga.

Walau sebenarnya, ketika pindah domisili, seseorang masih bisa tetap ‘bertahan’ dengan dokter lamanya. Beberapa orang tetap nyaman dengan dokter yang telah melayani mereka sejak lama. Apalagi di era berkembangnya telemedicine, pengguna layanan BPJS Kesehatan masih dapat berkomunikasi dengan dokter mereka dari jarak jauh.

Photo by Thirdman on Pexels.com

Mereka yang memiliki kondisi menahun dan harus mendapatkan pemeriksaan berkala sebaiknya memilih dokter keluarga/pribadi yang dapat mudah diakses/dekat. Kondisi-kondisi ini termasuk, namun tidak terbatas pada penyakit jantung/paru menahun seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis, hipertensi, dan kondisi metabolik menahun seperti diabetes.

Lokasi-lokasi fasilitas kesehatan primer terdekat bisa dilihat/ditemukan melalui aplikasi digital, mulai dari Google Maps hingga aplikasi BPJS Kesehatan itu sendiri.

Calon pengguna mungkin perlu mengetahui apakah fasilitas pelayanan di tempat yang mereka pilih mendukung kondisi kesehatan khusus mereka. Misalnya, bagi penderita penyakit jantung menahun – fasilitas yang dituju mungkin memerlukan ketersediaan alat EKG. Bagi yang memiliki kondisi diabetes, selain bisa melakukan pemeriksaan gula darah, alangkah baiknya jika fasilitas menyediakan pelayanan pemeriksaan HbA1c juga.

Sehingga dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi khusus – seperti pada orang sehat pada umumnya, mereka dengan kondisi khusus perlu sejumlah pertimbangan tambahan untuk pilihan tempat praktik dokter keluarga/pribadi yang hendak mereka pilih.

Orang juga bisa beralasan pindah dokter karena merasa (sudah) tidak cocok lagi dengan dokter pribadinya yang lama. Ketidakcocokan ini bisa disebabkan banyak faktor yang satu atau lebihnya mengarah pada pengalaman konsultasi yang buruk atau hilangnya kepercayaan terhadap dokter.

Hal ini tentu sangat disayangkan jika terjadi, walau dalam beberapa situasi tidak bisa dihindari. Idealnya, seseorang memiliki satu dokter yang akan menjadi penasihat kesehatan baginya. Bahkan tidak jarang ada dokter yang merawat pasien sejak dia masih dalam kandungan, ketika dilahirkan, lalu berlanjut ke masa bayi, balita, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Pun demikian, ada juga yang dirawat dari dewasa, hingga memasuki usia senja.

Hubungan yang baik antar pasien dan dokternya memberikan banyak kebaikan. Mulai dari kemampuan pasien menjadi lebih dapat terbuka terhadap masalah kesehatannya, yang mungkin dia tidak bisa sampaikan pada orang lain bahkan anggota keluarga terdekat.

Ketika pasien pindah ke dokter baru, tidak semua pasien dapat terbuka mengenai masalah kesehatannya. Terutama jika masalah kesehatan itu adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, seperti kekerasan, masalah kejiwaan, hingga masalah pribadi seperti disfungsi ereksi.

Orang yang mengalami kesulitan untuk membuka diri dapat mengalami kesulitan dalam pelayanan kesehatan ketika berpindah atau memilih dokter baru. Tapi apabila dia tidak dapat mempercayai dokter yang sebelumnya, maka pilihan untuk mencoba pindah ke dokter yang baru tidak dapat diabaikan.

Ada hal lain yang mungkin membuat seseorang harus memilih dokter baru, walau jarang sekali saya temukan, atau mungkin belum pernah saya temukan. Kondisi ini adalah ketika pasien ditolak untuk dirawat oleh dokter pribadi/keluarganya, sehingga ia dianjurkan untuk dirawat oleh dokter lainnya.

Dokter tentu dapat menolak merawat pasien dalam kondisi yang bukan gawat darurat. Kondisi ini antara lain adalah dokter tidak memiliki kompetensi dalam kasus yang dihadapi oleh pasien, dan ada dokter lain yang lebih berkompetensi; fasilitas praktik dokter sudah tidak memadai lagi. Kondisi khusus lain juga bisa terjadi, walau belum jelas payung hukumnya, misalnya dokter bisa menolak pasien atas dasar kepercayaan dokter atau atas dasar gagalnya perjanjian terapeutik.

Memang tidak seperti di luar negeri, di Indonesia dokter belum bisa mendaftarhitamkan pasien ketika ada kondisi yang menyebabkan hubungan pasien-dokter berada pada kondisi rusak berat tanpa dapat dibenahi, misalnya pada kasus pasien yang melakukan kekerasan pada dokter atau staf fasilitas pelayanan kesehatan.

Sehingga ada sebuah latar belakang di mana seseorang perlu memilih dokter keluarga yang baru, dan alasan itu bukan dari keinginan orang tersebut secara pribadi.

Ketika seseorang perlu dan memutuskan untuk memilih dokter keluarga/pribadi yang baru akibat hal-hal tersebut, selain pertimbangan jarak dan domisili (aksesibilitas), dan keperluan terhadap kondisi khusus orang tersebut, maka ada beberapa hal lain juga yang layak dipertimbangkan.

Aksesibilitas tidak hanya sekadar jarak dan domisili, jika Anda berkebutuhan khusus, maka pelayanan yang ramah untuk mereka yang berkebutuhan khusus juga layak dipertimbangkan.

Lalu apakah seseorang memerlukan layanan pribadi atau tidak. Beberapa tempat tidak menyediakan layanan pribadi, dalam artian dokter yang menerima kunjungan selalu berubah-ubah dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, dan situasi ini cukup umum di Indonesia. Jika seseorang memerlukan layanan yang lebih privat dan relasi pasien-dokter yang lebih baik, mungkin dokter praktik pribadi lebih baik baginya.

Apakah Anda memerlukan waktu yang sesuai? Ada fasilitas layanan kesehatan yang buka pagi hingga siang, ada yang sore hingga malam. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan. Tapi perlu diingat, kecuali untuk layanan kegawatdaruratan, tidak ada fasilitas layanan primer maupun lanjutan yang buka 24 jam untuk pelayanan non-gawat darurat (tentu saja beberapa layanan kesehatan privat membuka layanan seperti ini, tapi bukan sesuatu yang umum).

Apakah gender mempengaruhi pertimbangan? Apakah lebih suka dilayani oleh dokter laki-laki atau perempuan? Jika memiliki kecenderungan ini, maka tidak ada salahnya untuk memilih tempat layanan yang sesuai dengan preferensi ini. Seseorang bisa lebih baik dalam menyampaikan keluhan dan informasi kesehatannya kepada dokter yang ia merasa lebih nyaman untuk diajak berkonsultasi. Pertimbangan ini juga bisa berlaku serupa untuk hal lain, yang walau diungkapkan lebih jauh mungkin bisa mengarah pada SARA.

Perpindahan dokter keluarga pun sekarang tidak sulit dilakukan. Bagi pengguna BPJS Kesehatan bisa memilih melalui aplikasi. Hanya perlu menjadi catatan, permohonan permintaan pemindahan fasilitas pelayanan kesehatan tidak selalu dikabulkan (asese) oleh sistem, hal ini dapat terkait dengan kuotasi yang terbatas pada masing-masing fasilitas. Tentu saja hanya penyedia layanan langsung, yaitu BPJS Kesehatan yang bisa memberikan jawaban pasti.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memilih dokter keluarga/pribadi?

Koding ICD-10 untuk COVID-19

WHO sudah lama (kurang lebih setahun) menerbitkan kode ICD-10 untuk COVID-19. Kode ini mungkin berbeda dengan apa yang diterapkan di banyak tempat, tergantung mekanisme penjaminan terhadap pasien COVID-19.

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Ada kode baru untuk COVID-19, yaitu:

  • U07.1 COVID-19, virus diidentifikasi
    • U07.2 COVID-19, virus tidak diidentifikasi
      • Didiagnosis secara klinis-epidemiologi COVID-19
      • Kemungkinan COVID-19
      • Diduga COVID-19
Tidak ada gejalaDengan gejalaKode ICD-10
Hasil tes positif saja, pasien tidak menunjukkan Gejala U07.1
Hasil tes positifCOVID-19 didokumentasikan sebagai penyebab kematianU07.1*
Hasil tes positifGunakan kode tambahan untuk penyakit pernapasan (misalnya  pneumonia virus J12.8) atau tanda atau gejala penyakit pernapasan (misalnya sesak napas R06.0, batuk R05) seperti yang didokumentasikanU07.1 + kode untuk gejala *
Kasus terkonfirmasi

*Gunakan kode intervensi / prosedur untuk menangkap ventilasi mekanis atau oksigenasi membran ekstracorporeal dan mengidentifikasi setiap penerimaan ke unit perawatan  intensif

*Gunakan kode tambahan untuk isolasi (Z29.0) atau pemeriksaan laboratorium (Z01.7) sebagaimana diperlukan untuk kasus spesifik.

Pasien dengan penyakit pernapasan akutKontak atau dugaan PaparanKode ICD-10
Tidak ada etiologi lain; riwayat perjalananU07.2; Z20.8 + kode untuk gejala*
Kontak dengan kasus yang dikonfirmasi atau mungkinU07.2; Z20.8 + kode untuk gejala*
Tidak ada etiologi lain: rawat inap diperlukan U07.2 + kode untuk gejala*
COVID-19 didokumentasikan tanpa informasi re: pengujian U07.2 + kode untuk gejala apa pun*
Kasus pasien suspek (kecurigaan)

*Gunakan kode intervensi / prosedur untuk menangkap ventilasi mekanis atau oksigenasi membran ekstracorporeal dan mengidentifikasi setiap penerimaan ke unit perawatan  intensif

*Gunakan kode tambahan untuk isolasi (Z29.0) atau pemeriksaan laboratorium (Z01.7) sebagaimana diperlukan untuk kasus  tertentu

skenario klinisKode ICD-10
Pasien dengan penyakit pernapasan akut; pengujian negatif, dan COVID-19 dikesampingkanKode infeksi/ diagnosis yang dinyatakan relevan + Z03.8 Observasi untuk penyakit dan kondisi lain yang dicurigai
Rujukan mandiri (datang sendiri): setelah penilaian tidak  ada alasan untuk penyakit suspect dan penyelidikan lebih lanjut dianggap tidak perluKode Z71.1 Orang dengan keluhan yang ditakuti di mana tidak ada diagnosis yang dibuat
Diagnosis COVID-19 sudah dieleminasi

Berdasarkan penilaian klinis, dokter dapat memesan tes untuk SARS-CoV- 2 virus  pada pasien yang tidak benar-benar memenuhi definisi kasus.Kode Z11.5 Pemeriksaan skrining khusus untuk penyakit virus lainnya
Tes untuk COVID-19

Bagaimana jika ada kematian terkait COVID-19?

Kedua kategori, U07.1 (COVID19, virus diidentifikasi) dan U07.2 (COVID19, virus tidak diidentifikasi) cocok untuk kode penyebab kematian. Demikian pula, kode baru yang dibuat untuk ICD-11.

COVID-19 dilaporkan pada sertifikasi kematian yang memperhatikan penyebab kematian lainnya, dan aturan untuk pemilihan penyebab tunggal yang mendasarinya sama dengan influenza (COVID-19 bukan karena hal lain).

Untuk mencatat keterangan pada sertifikat kematian, petugas tidak memerlukan bimbingan khusus untuk diberikan. Infeksi saluran napas dapat berevolusi menjadi pneumonia yang dapat berevolusi menjadi kegagalan pernapasan dan konsekuensi lainnya. Berpotensi berkontribusi komorbiditas (masalah sistem kekebalan tubuh, penyakit kronis …) dilaporkan di bagian 2, dan aspek lain (perinatal, keibuan …) dalam bingkai B,  sejalan dengan aturan untuk merekam.

Pemeriksaan ulang untuk kemungkinan penyebab kematian lain secara manual disarankan ketika sebuah sertifikat kematian akibat COVID-19 dilaporkan, khususnya untuk  sertifikat tersebut dilaporkan tetapi tidak dipilih sebagai penyebab kematian tunggal yang mendasarinya.

Pedoman surveilans lain untuk mendukung proses koding ini dapat diakses melalui pedoman surveilans COVID-10 oleh WHO. Pembaruan kode ICD-10 dapat diakses di situs aplikasi ICD-10 oleh WHO.

Terjemahan Dokumen dengan Word 365

Bagaimana menerjemahkan bahasa asing, seperti bahasa Inggris ke bahasa Indonesia secara otomatis? Aplikasi populer seperti Google Translate cukup banyak digunakan. Tapi bagaimana jika sudah dalam bentuk dokumen, misalnya Microsoft Word atau LibreOffice Writer? Dokumen ini juga bisa diterjemahkan secara otomatis.

Pengguna Windows 10 dan pelanggan Microsoft 365 mendapatkan fungsi ini secara otomatis pada Word 365 jika setelan bahasa lokal yang digunakan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh dokumen yang diakses/dibuka.

Pengguna akan mendapatkan penawaran untuk menerjemahkan sebuah dokumen dalam bahasa asing.

Pilihan untuk menerjemahkan dokumen pada Word 365

Bagaimana dengan hasilnya?

Menurut saya, hasil dari sistem penerjemah milik Microsoft 365 cukup baik. Bahkan Bing Translator yang terintegrasi dengan peramban Microsoft Edge juga cukup sering saya manfaatkan.

Tentu saja “campur tangan” pengguna tetap diperlukan, karena hasil terjemahan oleh sistem kecerdasan buatan sering belum dapat dikonsumsi begitu saja. Setidaknya pekerjaan menerjemahkan menjadi lebih mudah.

Hasil terjemahan oleh Word 365

Lalu bagaimana jika dokumen dalam bentuk PDF? Word 365 juga sudah bisa mengakses berkas PDF dan mengonversi menjadi bentuk dokumen yang dapat dibaca/sunting. Pengguna bisa membuka dokumen PDF langsung lewat Word 365, atau memilih mengonversi dengan aplikasi yang sesuai.

Tentu saja apabila ukuran dokumen cukup besar, maka waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Bagaimana, sudah mencoba?

Setahun COVID-19

Ketika COVID-19 pertama kali diidentifikasi pada akhir 2019 di Tiongkok, sangat sedikit yang diketahui tentang penyakit ini, bagaimana mengobatinya atau apa dampaknya. Setahun kemudian, pengetahuan telah berkembang dan beberapa vaksin telah dikembangkan. Jadi apa yang sekarang kita ketahui tentang COVID-19? Dan apa yang mungkin terjadi dengan penyakit di masa depan?

Antara COVID-19 dan Flu

Pada hari-hari awal pandemi beberapa laporan menyatakan COVID-19 serupa dengan flu musiman – namun COVID dan flu adalah virus pernapasan yang dapat menyebabkan apa pun dari penyakit ringan hingga mengancam jiwa, dan kita sekarang tahu bahwa ada beberapa perbedaan penting.

COVID-19 memiliki ‘masa inkubasi’ yang lebih lama daripada flu (sekitar 5-6 hari) yang berarti tidak menyebar secepat flu, namun dengan ‘angka reproduksi’ sedikit lebih tinggi (2,4 s.d. 3,1 dibandingkan dengan 2 pada flu), yang berarti lebih menular.

Pada influenza, anak-anak biasanya menjadi pembawa aktif penyebaran penyakit. Sementara pada COVID-19, anak-anak tampaknya tidak terlalu terpengaruh dibandingkan orang dewasa – dan kemungkinan anak-anak terkena penyakit ini dari orang dewasa dibandingkan sebaliknya.

Photo by Gustavo Fring on Pexels.com

Sayangnya, angka kematian (mortalitas) tampaknya lebih tinggi pada COVID-19. Tentu saja hal ini masih memerlukan lebih banyak data dan perkiraan yang komprehensif. Tapi setidaknya sekitar 0,8% dari keseluruhan kasus terkonfirmasi, dan memuncak pada lansia. Angka kematian pada pasien berjela berat yang perlu rawat inap di rumah sakit sekitar tiga kali lebih tinggi pada kasus COVID-19.

Partikel airborne bisa menularkan

Seperti banyak penyakit akibat virus, COVID-19 ditularkan melalui partikel cair, dilepaskan ke udara atau permukaan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Pada awal pandemi diperkirakan hanya tetesan yang lebih besar – mungkin menempel di permukaan atau dari kontak langsung – dapat menyebabkan infeksi.

Kita sekarang tahu bahwa COVID-19 juga dapat ditularkan melalui partikel aerosol kecil, yang berarti virus dapat melayang di udara cukup lama pada ruangan berventilasi buruk. Virus ini dapat menulari orang lain walau-pun orang tersebut sudah menjaga jarak.

Para ilmuwan juga sekarang tahu bahwa beberapa orang dapat membawa virus tetapi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Diperkirakan bahwa 1 dari 5 orang mungkin tidak menunjukkan gejala tetapi mungkin masih menular, yang berarti dimungkinkan untuk terkena COVID-19 dari seseorang yang tampaknya benar-benar sehat.

Banyak wajah

Awalnya, tidak banyak diketahui mengenai gejala COVID-19. Mulai dari menyerupai influenza hingga pneumonia adalah penggambaran COVID-19 pada awalnya.

Kini kita juga tahu bahwa gejala seperti kehilangan atau penurunan indera penciuman atau perasa juga termasuk gejala COVID-19. Beberapa gejala lain dapat muncul secara terpisah atau bersamaan, seperti: sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan sendiri, diare, mual-muntah, meriang, ruam pada kulit, hidung tersumbat, hingga mata merah (konjungtivitis).

Mereka yang berisiko

Ketika pertama kali muncul, kita tidak mengetahui secara jelas siapa yang paling rentan terhadap penyakit ini. Dokter kemudian secara tepat mengasumsikan bahwa mereka dengan kondisi sakit tertentu lebih berisiko terhadap kondisi penyakit yang lebih berat. Kondisi ini termasuk kanker, diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan usia lanjut.

Pun demikian, kita juga kini tahu bahwa anak-anak memiliki risiko kecil pada infeksi COVID-19 dibandingkan orang dewasa, meski pada kasus yang jarang anak-anak mungkin menderita sindrom peradangan berminggu-minggu pasca pajanan.

Lelah Berkelanjutan

Umumnya, COVID-19 hanya berlangsung dalam hitungan pekan, beberapa minggu paling lama hingga pasien sembuh (pada kasus yang sembuh).

Namun kini sejumlah bukti menunjukkan bahwa seseorang yang sembuh dari COVID-19 dapat menderita apa yang disebut “long COVID” – sebuah kondisi kelelahan berkepanjangan, seperti halnya pada PVF – post viral fatigue.

Gejalanya berupa lemas, lelah, sesak napas, dan sejumlah keluhan lain yang berlangsung terus menerus dalam jangka waktu lama (hingga berbulan-bulan). Kondisi ini masih relatif sesuatu yang belum banyak diketahui dan masih dipelajari. Sehingga belum dapat diketahui pasti, sampai kapan gejala akan menetap.

Evolusi pengobatan

Ketika COVID-19 pertama kali muncul pada awal 2020, tidak ada pengobatan yang ditetapkan untuk penyakit ini selain obat pereda nyeri untuk meredakan gejala, memberikan oksigen kepada mereka yang membutuhkannya, dan perawatan ventilator jika oksigen dengan masker tidak mencukupi.

Tren pengobatan COVID-19 memang belum mendapatkan konsensus, namun obat-obat antiviral mulai banyak mendapatkan perhatian dan tersedia sebagai protokol pengobatan dalam situasi kedaruratan.

Pemahaman bahwa COVID-19 mampu menyebabkan hiperkoagulasi juga mengubah praktik penggunaan obat-obat pengencer darah (antikoagulan) baik dalam upaya preventif maupun kuratif.

Pengelolaan pasien mulai dari posisi berbaring hingga perawatan intensif juga banyak mengalami penyesuaian.

Vaksin dan masa depan

Kita telah melihat vaksin diberikan di mana-mana sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan oleh pengampu kebijakan. Sejumlah vaksin dibuktikan dapat mencegah COVID-19 hingga 97% dengan keamanan yang dikaji secara seksama.

Pun demikian, kita masih belum tahu jumlah vaksinasi yang diperlukan hingga terbentuk kekebalan komunitas (herd immunity) di masyarakat kita, angka yang menunjukkan jumlah populasi yang membawa antibodi cukup banyak untuk mengeleminasi COVID-19.

Perkiraan ini dipersulit juga karena COVID-19 mudah menyebar dan bermutasi. Kita memiliki angka 95% populasi untuk campak dan 80% untuk polio, namun kita belum memiliki angka pasti jumlah populasi dengan kekebalan untuk COVID-19.

Apa yang mungkin terjadi adalah COVID-19 akan menjadi ‘endemik’ – artinya virus itu ada sepanjang waktu pada tingkat yang rendah, dengan jumlah orang yang terinfeksi sedikit dan beberapa meninggal setiap tahun – agak mirip flu sekarang. Saat varian menjadi lebih dipahami, kita mungkin akan memiliki booster (penguat) vaksin COVID-19 tahunan dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan untuk varian flu.

Kemungkinan COVID-19 akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kita untuk beberapa waktu mendatang. Untuk memastikan efek pada kehidupan sehari-hari diminimalkan, penting bahwa orang divaksinasi untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain, dan untuk menurunkan tingkat infeksi secara keseluruhan.

Catatan: diadaptasi dari Patient.info – informasi mengenai COVID-19 pada berupa setiap saat, selalu pastikan informasi berasal dari sumber resmi.

Bertemu di luar ruangan secara aman pada masa pandemi

Pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan kita tidak boleh abai. Mutasi sejumlah varian SARS-CoV-2 sudah mulai mengarah pada immune escape, yang bermakna mereka bisa jadi lolos dari daya tahan yang sudah dimiliki oleh orang yang sudah divaksinasi atau sudah pernah terkena COVID-19.

Pun demikian, kegiatan masyarakat terus berlangsung. Tidak memungkinkan melakukan karantina lagi melihat kondisi sosiokultural bangsa kita. Pertemuan masih berlangsung, hajatan juga tetap jalan, seperti yang tampil cemerlang di media massa beberapa waktu yang lalu.

Jika kita tetap ingin berada dan bertemu sahabat dan sanak keluarga di luar rumah, bagaimana untuk dapat menjaga diri kita tetap aman?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Ikuti Protokol Kesehatan

Aturan dan protokol kesehatan bisa berubah-ubah sesuai kondisi. Anda bisa mendapati bahwa aturan di daerah berubah dari ketat menjadi longgar dan sebaliknya. Penting bagi semua orang untuk taat terhadap aturan yang berlaku di mana dia berada.

Aturan kadang mungkin tidak masuk akal, misalnya melarang kontak fisik antara orang di luar ruangan. Ini bermakna Anda tidak bisa lagi cipika-cipiki bersama orang-orang terdekat, karena dapat meningkatkan risiko transmisi virus.

Jika Anda termasuk orang yang terdeteksi positif COVID-19, reaktif tes cepat (rapid test), hingga kontak erat dengan penderita COVID-19 (walau hasil tes belum keluar atau negatif), maka Anda termasuk kelompok orang yang berpotensi menularkan virus ini ke orang lain. Tergantung kondisi Anda, maka Anda dapat melakukan isolasi mandiri hingga dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga, walau kondisi Anda cukup bagus, Anda benar-benar harus menahan diri untuk bepergian ke luar rumah dan bertemu orang-orang.

Demikian juga, jika Anda merasa terkena COVID-19, jangan bertemu dengan siapa-pun kecuali petugas kesehatan yang ditunjuk oleh lembaga resmi untuk melakukan pelacakan, penemuan kasus, dan pengelolaan pasien COVID-19. Gunakan layanan hotline atau sejenisnya untuk mendapatkan bantuan.

Jaga Jarak

Bertemu sahabat, rekan, dan anggota keluarga pada umumnya tidak dilarang, namun kesadaran untuk jaga jarak sangat penting.

Kita harus ingat bahwa banyak orang belum menerima vaksinasi, sehingga perlawanan kita terhadap pencegahan penyebaran COVID-19 masih jauh dari eliminasinya.

Hal ini bisa dilihat dari fenomena pelonjakan kasus COVID-19 setiap kali kelonggaran pembatasan sosial diberlakukan. Dan ini bisa terjadi di masa saja, misalnya ketika dibukanya gelombang uji coba sekolah tatap muka.

Jaga jarak (social distancing) hal yang sederhana, mudah dilakukan, dan masuk akal. Karena virus ini berpindah dari orang ke orang, maka makin dekat jarak Anda dengan orang lain, maka makin mudah Anda menulari atau tertular COVID-19.

Ingat, dua meter!

Tidak ada jaminan lawan bicara Anda atau Anda sendiri bebas COVID-19.

Masker atau Tanpa Masker

Masker tidak melindungi Anda dari terkena COVID-19, sehingga dalam pedoman perlindungan terhadap COVID-19, kebanyakan masker tidak pernah diangkat. Sehingga bukan sesuatu yang wajib dikenakan.

Tapi jika saya menulis demikian, bisa jadi menjadi sebuah kontroversi.

Ya, masker memang tidak wajib. Syarat dan ketentuan berlaku.

Walau masker tidak melindungi Anda dari COVID-19, tapi masker jika Anda kenakan dapat melindungi orang lain tertular COVID-19 dari Anda.

Mengikuti premis di atas, jika situasi jarak jarak sulit dipertahankan, dan Anda berada di keramaian, maka setiap orang yang menggunakan masker akan melindungi orang-orang di sekitarnya.

Ini merupakan tanggung jawab sosial setiap orang untuk melindungi orang lain dari penyebaran dan infeksi COVID-19.

Sehingga jika Anda berada di keramaian, bertransaksi/belanja tatap muka tapi menolak menggunakan masker, maka Anda sedang membahayakan orang yang Anda ajak bertatap muka. Tidak salah jika orang akan mengingatkan atau bahkan mungkin memarahi Anda di depan umum, karena Anda mengabaikan tanggung jawab sosial Anda.

Tapi jika Anda berswafoto di puncak gunung yang cuma ada Anda sendiri di alam terbuka, maka menggunakan masker adalah pilihan tren mode busana yang mungkin Anda suka, bukan merupakan tanggung jawab sosial, dan Anda tidak perlu menggunakannya.

Masuk Kamar Kecil

Saat pandemi, kamar kecil bisa jadi wahana penyebaran COVID-19 yang sering terlewati. Sangat disarankan untuk menggunakan toilet pribadi, atau di rumah aja. Tapi ketika di luar rumah, maka penggunaan kamar kecil sering tidak terhindarkan.

Berikut adalah beberapa saran dalam menggunakan toilet umum:

  • Tunggu dulu setelah orang lain menggunakan toilet, jangan langsung masuk. Biarkan virus mengendap ke lantai toilet – atau anggap saja demikian. Masuk setidaknya 30 menit setelah pengguna toilet terakhir keluar dari toilet.
  • Selalu bersihkan tangan sebelum dan sesudah masuk/keluar toilet.
  • Jangan mengeluarkan barang pribadi (dompet, ponsel, dan sebagainya) ketika berada di dalam toilet.
  • Hindari menyalakan lampu jika toilet sudah cukup terang. Menyentuh tombol lampu bisa menjadi celah penularan COVID-19. Jika Anda terpaksa menyalakan lampu, selalu bersihkan tangan sebelum dan setelahnya.
  • Perhatikan bahwa dudukan toilet mungkin perlu Anda bersihkan sebelum dan setelah Anda gunakan.

Jika Anda adalah pemilik atau penanggung jawab toilet. Maka Anda selayaknya memastikan bahwa toilet selalu dalam kondisi terang, tersedia cairan cuci tangan dan/atau tisu antiseptik yang mudah dijangkau pengguna. Tentu saja kebersihan umum juga selayaknya terjaga dengan baik. Ventilasi alami atau mekanis dapat menjaga kebersihan kamar kecil.

Berbagi Kudapan

Yeah, ketika Anda bertemu dengan orang-orang di luar ruangan, maka tidak lengkap rasanya tanpa adanya makan dan minum. Kumpul tanpa ngemil bagaikan sayur tanpa garam.

Kumpul dan ngemil mungkin merupakan norma sosial kita yang sulit “dilanggar.” Tapi juga merupakan situasi yang berpotensi menjadi penularan COVID-19.

Lalu dapatkah Anda untuk TIDAK: berbagi makanan/minuman, bertukar alat makan/minum?

Upayakan agar setiap orang membawa makanan dan minuman mereka masing-masing beserta alat makan dan minumnya. Hal ini guna menghindari kontaminasi silang, atau saling menulari satu sama lainnya.

Gelas yang dipegang si A dapat memindahkan virus ketika kemudian dipegang oleh si B. Ini adalah metode penyebaran tipe kontak yang paling umum dari banyak jenis penyakit.

Selalu jaga jarak saat Anda makan bersama di luar ruangan, atau makanlah secara bergiliran.

Ada beberapa menu aman yang dapat dibagi bersama, misalnya ketika Anda piknik memancing bersama-sama, ikan bakar bisa dibagi bersama pasca dimasak di tempat. Hanya saja, alat makannya tetap tidak dipakai bersama, alias bawa sendiri-sendiri.

Ringkasan

Ketika Anda bertemu orang-orang di luar, Anda harus memastikan Anda:

  • Jarak sosial – tinggal setidaknya satu meter terpisah dari orang-orang di luar rumah tangga Anda tetapi meningkat menjadi dua meter atau lebih sedapat mungkin.
  • Secara teratur gunakan hand sanitiser antivirus atau cuci tangan Anda secara menyeluruh dengan sabun, terutama setelah menyentuh permukaan bersama.
  • Kenakan masker ketika berada di ruang tertutup, dan juga ketika berjalan melalui rumah seseorang untuk menggunakan toilet atau ketika berkelompok.
  • Bersihkan permukaan bersama, termasuk konter kamar mandi dan perabotan taman, dengan semprotan antivirus.
  • Jangan berbagi makanan atau peralatan ketika piknik – yang terbaik adalah jika semua orang membawa makanan mereka sendiri dalam wadah mereka sendiri.
  • Tetap berpegang pada aturan – sebesar mungkin dan sama menggodanya dengan bertemu orang-orang di dalam ruangan, semakin banyak orang yang berkumpul semakin tinggi kemungkinan virus tak terkendali lagi.

Diadaptasi dari Patient.info.