Antitrack sebagai alternatif DNT saat Berselancar di Internet

Saat berselancar di Internet, kita menjadi target banyak pihak, terutama yang menginginkan informasi data pribadi kita, termasuk pemilik website yang kita kunjungi. Sebagian besar peramban modern telah memiliki fungsi untuk menyampaikan “do not track” (DNT) pada fitur mereka, tapi seberapa yang bisa dicegah?

Jika Anda tidak terlalu peduli dengan data privasi Anda tersebar di mana-mana, maka fitur antitrack bukan sesuatu yang Anda perlukan. Dan tentu saja Anda juga mungkin tidak akan memerlukan VPN untuk menjaga privasi dan keamanan data Anda.

Antitrack sendiri baru dikembangkan beberapa tahun terakhir untuk melawan pencuri privasi. Dan sejumlah pengembangannya cukup memuaskan. Bahkan isu perang antara Apple dan Facebook belakangan ini juga terkait dengan pilihan “do not track.”

Do Not Track (DNT) is a way to keep users’ online behavior from being followed across the Internet by behavioral advertisers, analytics companies, and social media sites. It combines both technology (a way to let users signal whether they want to be tracked) as well as a policy framework for how companies should respond to that signal.

eff.org

Kita adalah sasaran empuk bagi pengiklan, dengan mengetahui usia, jenis kelamin, situs yang sering kunjungi, teman-teman kita, belanjaan kita, hingga wishlist yang kita simpan, maka pengiklan bisa mengirimi kita berjubel iklan-iklan yang ditargetkan ke kita.

Antitrack melengkapi fungsi incognito dalam banyak peramban, tentu saja sejumlah teknologi incognito juga memiliki fungsi perlindungan privasi dan juga pelacakan sekaligus, misalnya saja incognito oleh CUJO AI.

Saya sendiri memanfaatkan Avast AntiTrack Premium yang disertakan dalam bundel Avast Ultimate yang kami miliki. Layanan pihak ketiga sering kali lebih memudahkan pengguna dalam melakukan penyetelan kebutuhan.

Hanya perlu diingat bahwa AntiTrack tidak menghalangi atau menyekat iklan, tapi lebih spesifik pada menyekat iklan yang ditarget untuk Anda sebagai pengunjung halaman situs web. Jika tidak ingin iklan ditampilkan, penyekat iklan (adblocker) lebih tepat. Namun tetap perlu diingat, bahwa sebagian besar situs yang Anda kunjungi hidupnya berasal dari iklan, jadi selektif memilih situs mana yang menampilkan iklan akan lebih bijak.

Fitur antitrack sebenarnya bermanfaat untuk diterapkan, sayangnya di negeri kita, tidak banyak orang yang peduli pada keselamatan privasi. Kita adalah negeri saling berbagi, mulai dari berbagi komputer, peramban, hingga sandi, yang sering sulit dibagi cuma cuan.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin maju dalam melacak aktivitas internet Anda. Tambahkan perangkat seluler dan hasilnya adalah kurangnya privasi online. Jika Anda tidak nyaman dengan itu, Anda perlu mempelajari cara menyisih dari aplikasi yang melacak Anda.

Sebagian besar layanan populer yang Anda gunakan (seperti platform media sosial dan Google) serta perangkat seluler Anda memberi Anda pengaturan untuk menonaktifkan pelacakan. Masalahnya adalah, Anda harus menggali sedikit untuk menemukannya. Namun, setelah Anda melakukannya, mematikan pengumpulan data cenderung sangat mudah.

John Huges – CodewinWP

Saya masih suka si Pentax Q10

Pada era smartphone, di mana gambar tinggal diambil hanya dengan bidikan di layar ponsel dengan kualitas yang jumawa, maka kamera – terutama kamera saku (pocket camera) sudah mulai ditinggalkan. Kita bisa melihat, hampir tidak ada yang suka membawa kamera saku di sekitar kita saat ini untuk mengambil gambar.

Bahkan saya sendiri lebih sering mengambil gambar dengan ponsel Realme yang saya beli bekas pakai. Mengapa? Karena tujuannya untuk berbagi segera! Entah ke sejawat untuk konsultasi kasus, atau sekadar “pamer” di media sosial.

Tapi jangan salah! Walau smartphone sudah menjadi pengambil gambar utama. Saya masih menggunakan kamera saku. Karena ada beberapa situasi yang tidak bisa dihasilkan oleh kamera ponsel. Saya tidak menggunakan kamera SLR, karena jika saya memerlukan gambar dari kamera SLR – saya lebih memilih memanggil ahli fotografi. Saya bukan ahli, cuma sekadar penghobi, dan fotografi jalanan bisa membantu saya mengurangi kadar stres.

Di rumah kami ada dua kamera saku. Pertama adalah Pentax Q10 yang dirilis tahun 2012 yang kami beli lama sekali, dan Sony RX100 VII yang rilis beberapa tahun yang lalu yang saya dapatkan dari Pak Tony karena beliau tidak lagi menggunakan kamera ini.

Nah, yang sering saya pakai adalah si Pentax Q10 ini – mungkin karena umurnya lebih tua, dan tangan saya lebih terbiasa dengan bodinya.

Jangan bayangkan kamera ini canggih banget. Karena bahkan ponsel pintar murah saat ini bisa jadi punya lebih banyak fitur dibandingkan kamera yang berusia nyaris satu dasawarsa ini. Beda dengan kamera saku yang satunya, tidak akan kalah dengan kamera ponsel pintar mana pun saat ini.

Mengapa saya suka si Pentax Q10?

Bisa dibilang Q10 adalah kamera mirrorless pertama saya. Dan Pentax sejak tahun lalu telah mengumumkan tidak lagi memproduksi kamera mirroless dan akan fokus ke SLR, jadi ini akan menjadi seperti kenangan.

Q10 yang kami miliki hanya memiliki satu tipe lensa , yaitu Q-mount 02 standard zoom, yang dibawa saat membeli kamera ini. Saya tidak memiliki dana tambahan saat itu untuk mendapatkan set lensa lainnya.

Awalnya saya tidak suka kamera ini ketika pertama kali saya pegang. Karena kamera sebelumnya yang saya gunakan adalah Canon Powershot SX30 IS memberikan kesan yang jauh berbeda. Tentu saja kamera digital versus mirroless compact memberikan kesan yang berbeda.

Tapi, Q10 membawa saya ke dalam sebuah dimensi fotografi yang baru, yang lebih spontan dan lebih intuitif. Banyak yang bilang bahwa ini disebut sebagai fotografi jalanan. Dan ini menyenangkan, walau saya tidak pernah tahu apakah foto yang saya hasilkan termasuk baik atau tidak.

A cycle and a old shed

Gambar di atas saya ambil pagi ini, ketika berjalan-jalan untuk menyaksikan matahari terbit.

Pengambilan gambar bersifat spontan. Saya mengambil belasan gambar hitam-putih dengan Q10, sebagian besar berbayang, karena tangan saya sering tidak stabil ketika mengambil gambar spontan. Beberapa saya bisa merasa cukup puas, dan mungkin hanya satu yang menurut saya cukup bagus seperti gambar di atas.

Hal ini tentu saya sadari, karena kelemahan Pentax Q10 adalah selalu memerlukan pencahayaan yang cukup untuk menjaga kontras.

Berjalan beberapa kilometer dengan ribuan langkah, mengambil banyak gambar namun hanya satu yang memuaskan, mengapa tidak? Kamera yang layar LCD-nya sudah dihinggapi beberapa garis dan mengelap di sisi-sisinya masih bisa memberikan sesuatu yang memuaskan bukan?

Seperti berjalan menuju pesta, menemukan banyak lawan jenis yang memikat namun hanya satu yang pas di hati, bukankah kehidupan seperti itu?

Pentax juga cukup keren, walau tidak sekeren Leica, tapi setidaknya saya punya genggaman di luar arus utama seperti Canon, Nikon, Lumix/Panasonic, dan Sony.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Masih ada yang suka mengambil gambar/foto kamera saku?

COVID-19 dan Kehamilan

Ibu hamil, yang baru melahirkan, atau yang sedang menyusui juga dapat terinfeksi SARS-CoV-2 dan menderita COVID-19. Tapi apa saja risikonya?

Secara keseluruhan, risiko COVID-19 pada ibu hamil cukup rendah. Namun perlu menjadi catatan bahwa kehamilan dapat meningkatkan risiko penyakit parah dan kematian pada COVID-19. Ibu hamil dengan COVID-19 tampaknya lebih mudah mengarah pada komplikasi saluran napas dan memerlukan perawatan intensif dibandingkan perempuan yang tidak hamil.

Tentu saja, jika ibu hamil memiliki penyakit penyerta seperti diabetes misalnya, mereka juga lebih berisiko terhadap luaran COVID-19 yang berat.

Photo by Jou00e3o Paulo de Souza Oliveira on Pexels.com

Beberapa penelitian juga menduga bahwa ibu hamil dengan COVID-19 juga kemungkinan memiliki bayi prematur dan persalinan dengan bedah cesarea, dengan bayi mereka yang lebih cenderung perlu dirawat di unit neonatus (misal NICU).

Hubungi Puskesmas terdekat jika Anda merasa memiliki gejala COVID-19, atau terpapar/kontak erat dengan seseorang yang positif COVID-19. Sangat dianjurkan bagi Anda memeriksakan diri untuk deteksi virus penyebab COVID-19, jika pemeriksaan dapat Anda akses atau tersedia di wilayah Anda. Jangan sungkan untuk menghubungi dokter keluarga Anda jika memerlukan bantuan.

Jika Anda sedang hamil dan terjangkit COVID-19, maka terapi utama akan mengarah pada peredaan gejala dan termasuk menjaga rehidrasi dengan banyak cairan dan istirahat, guna mengurangi demam, nyeri dan meredakan batuk. Jika Anda sangat sakit, Anda mungkin perlu rawat inap di rumah sakit.

Sejumlah wilayah di Indonesia tersedia tempat perlindungan (shelter) bagi penderita COVID-19 yang bergejala ringan. Jika Anda hamil dan terjangkit COVID-19, walau pun tanpa gejala, Anda disarankan memanfaatkan fasilitas ini karena Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi perburukkan kondisi, dan memerlukan fasilitas yang baik untuk melakukan persalinan. Jika Anda tidak yakin, hubungi dokter keluarga Anda untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Upaya kesehatan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran COVID-19 mungkin memengaruhi akses Anda terhadap pelayanan antenatal/prenatal. Konsultasikan dengan bidan atau dokter Anda untuk mendapatkan pilihan pelayanan antenatal bagi kehamilan Anda.

Rekomendasi persalinan

Jika masa kehamilan Anda sudah menjelang persalinan, bersiaplah untuk lebih fleksibel terhadap proses-proses yang mungkin terjadi di masa pandemi.

Bagi yang belum pernah dites COVID-19, Anda akan menjalani pemeriksaan sebelum dilayani untuk proses persalinan di fasilitas kesehatan. Perhatikan peraturan rumah sakit atau klinik/puskesmas dalam melayani persalinan, misalnya bahwa mungkin terdapat aturan melarang kunjungan bagi pasien pasca persalinan.

Jika Anda positif COVID-19 atau sedang menunggu hasil pemeriksaan COVID-19 akibat gejala atau riwayat kontak, Anda disarankan menjalani rawat inap saat persalinan dan selalu mengenakan masker dan mencuci tangan saat merawat bayi Anda.

Anda dapat merawat bayi selama berada di rumah sakit, namun tetap jaga jarak dengan bayi selama Anda tidak perlu sekali menyentuhnya (misal, ketika bayi sedang tidur). Ikuti protokol kesehatan yang berlaku untuk meminimalkan bayi Anda tertular COVID-19 dari Anda.

Perlu diingat, jika kondisi COVID-19 berat, maka Anda mungkin akan dipisahkan sementara waktu dengan bayi Anda.

‎Disarankan bahwa perawatan postpartum setelah melahirkan menjadi proses yang sedang tetap berjalan. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang opsi kunjungan virtual untuk check-in setelah persalinan, serta kebutuhan Anda untuk kunjungan ke dokter.‎

‎Selama masa stres ini, Anda mungkin memiliki lebih banyak kecemasan tentang kesehatan Anda dan kesehatan keluarga Anda. Perhatikan kesehatan mental anda. Jangkaulah keluarga dan teman-teman untuk mendapatkan dukungan sambil mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko infeksi virus ‎‎COVID-19.‎

‎Jika Anda mengalami perubahan suasana hati yang parah, kehilangan nafsu makan, kelelahan yang luar biasa dan kurangnya sukacita dalam hidup tak lama setelah melahirkan, Anda mungkin mengalami depresi pascamelahirkan. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda jika Anda berpikir Anda mungkin depresi, terutama jika gejala Anda tidak memudar sendiri, Anda mengalami kesulitan merawat bayi Anda atau menyelesaikan tugas sehari-hari, atau Anda memiliki pikiran untuk membahayakan diri sendiri atau bayi Anda.‎

Rekomendasi menyusui

‎Penelitian menunjukkan bahwa ASI tidak mungkin menyebarkan virus ‎‎COVID-19‎‎ kepada bayi. Kekhawatiran yang lebih besar adalah apakah ibu yang terinfeksi dapat menularkan virus ke bayi melalui tetesan/droplet pernapasan selama menyusui.‎

‎Jika Anda ‎‎memiliki COVID-19‎‎ atau merupakan orang tanpa gejala yang sedang dalam proses pemeriksaan apakah terkena COVID-19, ambil langkah-langkah untuk menghindari penyebaran virus ke bayi Anda. Ini termasuk mencuci tangan sebelum menyentuh bayi Anda dan, jika mungkin, mengenakan masker wajah selama menyusui. Jika Anda memompa ASI, cuci tangan Anda sebelum menyentuh pompa atau bagian botol apa pun dan ikuti rekomendasi untuk pembersihan pompa yang tepat. Jika memungkinkan, minta bantuan seseorang yang sehat untuk memberi bayi ASI yang dikeluarkan/pompa.‎

Saat ini, tidak ada penelitian tentang keamanan vaksin COVID-19 pada wanita hamil atau menyusui. Namun, jika Anda hamil atau menyusui dan bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin COVID-19, Anda dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang risiko dan manfaatnya.

Perlu diingat bahwa vaksin mRNA COVID-19 tidak mengubah DNA Anda atau menyebabkan perubahan genetik.

Untuk mengurangi risiko infeksi, hindari kontak dekat dengan siapa pun yang sakit atau memiliki gejala dan jaga jarak sekitar 2 meter antara diri Anda dan orang lain di luar rumah tangga Anda. Kenakan masker wajah kain di depan umum dan di tempat kerja. Batasi kontak dengan orang lain sebanyak mungkin. Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk berbagi momen dengan teman dan keluarga melalui foto, video, atau konferensi video. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, atau gunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol.

Yang terpenting, fokuslah mengurus diri sendiri dan bayi Anda. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda untuk mendiskusikan masalah apa pun. Jika Anda mengalami masalah dalam mengelola stres atau kecemasan, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda atau konselor kesehatan mental tentang strategi mengatasinya.

Diadaptasi dari Mayo Clinic.

Tips Keselamatan bagi Tenaga Kesehatan Garda Depan menghadapi COVID-19

Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang bekerja bersama-sama dalam menghadapi pandemi COVID-19 di garda depan paling rentang terpapar langsung dengan SARS-CoC-2 – virus penyebab COVID-19. Pelajaran yang dapat kita ambil selama ini adalah COVID-19 sangat menular, oleh karena itu perlindungan keselamatan bagi tenaga kesehatan di garda depan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Setahun ini, perkembangan mengenai bagaimana melindungi tenaga kesehatan dari risiko paparan COVID-19 terus berkembang. Sedemikian hingga, pedoman-pedoman keselamatan dikembangkan untuk masing-masing fasilitas layanan kesehatan dapat diterapkan dengan baik.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dasar dari pengembangan pedoman keselamatan adalah prinsip bahwa penularan COVID-19 berasal dari kontak langsung terhadap droplet atau aerosol dari orang yang sakit, atau bisa juga kontak tak langsung seperti permukaan yang tercemar.

Mari kita lihat satu per satu, apa yang dapat dipertimbangkan sebagai pedoman di tempat kerja masing-masing.

Pakaian Pra-kerja

Semua staf tenaga kesehatan yang berangkat dari rumah ke tempat kerja (rumah sakit, klinik, puskesmas) mengenakan pakaian yang bersih yang tidak diharapkan terpapar faktor infeksi/virus.

Oleh karena itu, idealnya pakaian ini harus baru saja dicuci/binatu menggunakan air panas di semua siklusnya (cuci dan bilas), menggunakan deterjen, pemutih, dan dikeringkan menggunakan pengering elektrik atau gas.

Perlu diperhatikan bahwa pencucian hanya dengan detergen saja tidak efektif untuk sepenuhnya menghilangkan atau menonaktifkan sandang yang tercemar partikel virus pada konsentrasi yang tinggi. Dan virus dapat berpindah dari pakaian yang tercemar ke pakaian yang tidak tercemar. Sedemikian hingga rekomendasi praktik binatu pada masa pandemi adalah menggunakan tambahan pemutih (sodium hipoklorit / hidrogen peroksida) dan penggunaan mesin pengering.

Mesin pengering elektrik atau gas selayaknya dioperasikan dengan setelan panas paling tinggi, mencapai 57°C untuk menonaktifkan SARS-CoV-2 yang biasanya terjadi pada suhu 56°C. Sementara itu penggunaan dry cleaning masih dalam perdebatan.

Hanya saja, di Indonesia kita jarang menemukan proses ini secara otomatis. Pertimbangkan mencuci dengan air panas (disiapkan secara manual), dan dijemur di bawah terik matahari sebagai alternatif.

Kebersihan diri

Kebersihan diri penting dalam mengurangi atau menghilangkan virus. Tenaga kesehatan dianjurkan untuk mandi dengan sabun dan air hangat dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum meninggalkan rumah atau ketika sampai di fasilitas layanan kesehatan (sebelum bertugas).

Jika fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tidak menyediakan fasilitas mandi (shower) bagi tenaga kesehatan, dan memilih mandi di rumah, maka staf harus langsung berangkat dari rumah ke fasilitas layanan kesehatan (tidak pakai singgah).

Kombinasi air dan sabun efektif dalam menonaktifkan virus. Jika tenaga kesehatan memiliki masalah pada rambut, misal tidak dapat diberikan sampo, maka kepala/rambut selalu ditutup dengan penutup kepala (misal nurse cap) yang selalu dibersihkan atau diganti/dibuang jika sekali pakai. Jika memiliki masalah kulit kering, maka sabun dengan pelembab dapat membantu meringankan gejala.

APD dikenakan setelah mandi. APD standar yang ditentukan oleh fasyankes selayaknya disediakan di fasyankes dan dikenakan saat tenaga kesehatan tiba di fasyankes. Jika APD tidak tersedia, pakaian kerja berlengan panjang dan menutup sebagian besar anggota tubuh disarankan disediakan oleh fasyankes.

Aksesoris tak penting

Lepaskan semua perhiasan, arloji/jam tangan, dan semua aksesoris tak penting yang tidak tertutup oleh pakaian. Jam tangan – apa pun jenisnya – tidak dianjurkan. Apalagi saat ini semua fungsi jam tangan telah dapat digantikan oleh telepon pintar (smartphone).

Jika pasokan respirator terbatas atau dipakai ulang, misal penggunaan ulang N95 dilakukan. Maka disarankan nakes tidak menggunakan kosmetik untuk makeup wajah guna menghindari cemaran/noda pada masker. Jika ada masker yang ternoda, maka tidak disarankan untuk digunakan atau didaur ulang.

Identitas

Kartu identitas nakes ditempatkan pada wadah yang mudah dibersihkan, misalnya dilaminating. Pembersihan bisa menggunakan usap disinfeksi atau alkohol.

Gunakan desain identitas yang mudah dibersihkan, dan tempat penampungan identitas juga dibersihkan secara berkala.

Cuci tangan

Setiap nakes mencuci tangan dengan sabun dan air hangat mengalir atau pembersih tangan dengan antiseptik sesuai dengan protokol yang berlaku di fasilitas masing-masing.

Untuk menghindari kerusakan kulit, maka disarankan menggunakan sabun atau cairan antiseptik yang mengandung bahan pelembab. Jika tidak tersedia, maka sediakan dan gunakan pelembab terpisah setelah melakukan cuci tangan.

Telepon seluler

Ponsel (smartphone) selalu tersentuh oleh tangan tenaga kesehatan, oleh karenanya perlu pembersihan. Ponsel dan penutupnya perlu dibersihkan setidaknya sekali sehari, disarankan setelah selesai giliran jaga.

Pabrik ponsel biasanya memiliki panduan pembersihan ponsel produksi mereka masing-masing. Beberapa menyarankan menggunakan lap disinfeksi, sementara yang lain merekomendasikan tidak menggunakan lap disinfeksi. Periksa masing-masing pedoman yang diberikan oleh pabrik ponsel yang digunakan.

Alternatif yang bisa digunakan adalah membersihkan dengan kain serat mikro (microfiber). Kain serat mikro dapat dilembapkan dengan cairan pembersih yang direkomendasikan, dan digunakan untuk membersihkan ponsel. Kain kemudian dapat dipakai ulang setelah dicuci dengan air hangat dan detergen.

Pelindung mata

Pelindung mata seperti antifog goggle atau face shield baik yang didesain bagi mereka yang mengenakan atau tidak mengenakan kacamata disarankan untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

Goggle dan face shield dipelihara agar selalu bersih dengan teknik yang sama seperti yang dilakukan pada ponsel. Perlindungan ini tetap disarankan walau bukti penularan SARS-CoV-2 melalui air mata tidak kuat.

Penggunaan kacamata saja tidak pernah diterima sebagai perlindungan mata jika kewaspadaan isolasi airborne dibutuhkan pada kasus SARS-CoV-2. Hindari menyentuh kacamata dengan sebelum cuci tangan, misalnya ketika hendak membetulkan posisi kacamata.

Walau saat ini tidak ada bukti peningkatan risiko infeksi SARS-CoV-2 melalui lensa kontak, tenaga kesehatan yang mengenakannya tetap disarankan waspada, termasuk proses pembersihan dan disinfeksinya. Lensa kontak harian sekali pakai disarankan. Jika memiliki gejala seperti flu, maka tidak disarankan menggunakan lensa kontak.

Perlindungan hidung dan mulut

Respirator N95 atau masker yang disertifikasi setara (KN95) direkomendasikan dipakai ketika pelayanan pasien positif COVID-19, baik dengan gejala ataupun tidak.

Ketika masker digunakan, maka sebaiknya tidak dilepas atau disentuh sepanjang pemakaian atau sepanjang shift jaga. Jika masker terpaksa dilepas, walau tidak dianjurkan, protokol pelepasan masker harus ditaati.

Pelapasan dan pemasangan kembali masker dilakukan dengan seksama, terutama agar tidak merusak integritas masker dan menghindari (bagian dalam) masker terkontaminasi. Ketika dikenakan kembali perhatikan bahwa tidak ada celah kebocoran antar masker dan permukaan kulit.

Apabila masker terpapar cairan tubuh. atau minyak, maka segera diganti, oleh karena carian dan minyak dapat mengurangi kebergunaan masker.

Jangan lupa, sebelum menggunakan respirator N95, pengguna harus melakukan tes kesesuaian (fit test) untuk menentukan dan menjamin model dan ukuran respirator.

Sebagai catatan, N95 sekali pakai tidak bisa dibersihkan dan didesinfeksi secara efektif. Ikuti pedoman PPI di fasilitas masing-masing jika terdapat kebijakan menggunakan kembali N95 sekali pakai. Dan masker dalam bentuk apa pun sangat tidak dianjurkan untuk dipakai secara berbagi dengan orang lain.

Respirator N95 bisa digunakan dalam kontak dekat dengan beberapa pasien secara bergilir tanpa perlu mengganti pada setiap kali perpindahan ke pasien berikutnya. Penggunaan respirator dapat diperpanjang pada kondisi menghadapi patogen yang sama di bangsal atau ruangan yang sama. Perpanjangan penggunaan ini direkomendasikan sebagai pilihan untuk menghemat respirator pada situasi wabah/pandemi.

Tenaga kesehatan selayaknya mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan dan pelepasan respirator N95, serta bagaimana memeriksa integritas segel antar masker dan permukaan kulit.

N95 yang kedaluwarsa hanya digunakan apabila tidak tersedia yang baru. Tenaga kesehatan selayaknya hanya menggunakan N95 tersertifikasi NIOSH dan diberitahukan apabila mereka sedang menggunakan respirator yang kedaluwarsa.

Penggunaan respirator atau masker berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pada area kulit yang mendapatkan tekanan langsung dari tepi respirator/masker. Area di dalam masker juga bisa tercemar oleh gabungan kelembapan, materi dari luaran nasal dan oral, yang berpotensi menimbulkan ruam, iritasi dan sisik- mengarah pada dermatitis perioral. Pertimbangkan hidrasi kulit yang baik dengan memanfaatkan pelembab.

Menggunakan N95 dalam jangka panjang memiliki efek buruk bagi tenaga kesehatan, termasuk hipoksia dan hiperkapnea hening, yang mungkin menurunkan efisiensi kerja dan kemampuan mengambil keputusan. Gejala tambahan seperti pusing, mengantuk, kulit kemerahan, napas pendek, perubahan kondisi kejiwaan, laju napas menjadi cepat, kedutan otot, hingga kejang. Menghembuskan dan menghirup kembali karbon dioksida secara berulang-ulang yang terperangkap di dalam masker dalam menyebabkan masalah kesehatan, keparahannya bergantung pada kondisi kesehatan penggunanya. Mengemudi sambil menggunakan N95 tidak disarankan oleh karena kondisi di atas bisa mengurangi kemampuan mengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan saat mengemudi.

Rambut wajah

Untuk menjamin respirator terpasang pada kondisi terbaik, memang sebaiknya rambut wajah seperti kumis dan janggut terpotong pendek. Walau pun N95 direkomendasikan untuk mengurangi penyebaran COVID-19, tapi tidak ada anjuran resmi untuk mencukur janggut.

Tidak ada bukti bahwa memelihara janggut meningkatkan penyebaran COVID-19, namun petugas kesehatan garda depan wajib memastikan ketika menggunakan respirator telah terpasang pas pada wajah dan rambut wajah tidak mengurangi atau melonggarkan respirator.

Sebagai alternatif, N95 dapat diganti menggunakan PAPR.

Sementara belum terdapat banyak bukti terkait kaitan rambut wajah dengan penularan COVID-19, tenaga kesehatan yang memelihara rambut wajah disarankan merawat dan membersihkannya dengan baik.

Sarung tangan sekali pakai

Sarung tangan (handscooon) digunakan pada masing-masing pasien saat diperlukan. Sarung tangan periksa non-steril sekali pakai yang biasanya digunakan sehari-hari di layanan kesehatan disarankan digunakan untuk merawat pasien terduga atau terkonfirmasi COVID-19.

Sarung tangan ini biasanya terbuat dari polimer (lateks atau nitrile) yang tahan terhadap virus. Sarung tangan harus digunakan saat kontak dengan darah, feses, dan cairan tubuh lain (saliva, sputum, ingus, air mata, muntahan, urine) pasien.

Gunakan juga sarung tangan saat menangani barang-barang yang tercemar.

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan cuci tangan antiseptik sebelum mengenakan dan setelah melepas sarung tangan.

Ganti sarung tangan segera apabila terjadi kebocoran atau robekan pada sarung tangan. Buang sarung tangan pada tempat sampah infeksius yang telah ditentukan. Tidak direkomendasikan menggunakan sarung tangan ganda ketika merawat pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19. Demikian juga penggunaan sarung tangan yang diperpanjang tidak diperlukan ketika merawat.

Pelindung badan (coverall)

Belum ada penelitian rinci yang membandingkan antara jas, gaun, dan coverall; namun semua dapat digunakan oleh tenaga kesehatan selama perawatan pasien pada umumnya. Dengan adanya temuan hasil positif SARS-CoV-2 secara sporadis pada pergelangan pakaian, maka cukup wajar bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan coverall sebagai alternatif jas putih atau gaun bedah pada perawatan, pengobatan, dan pemindahan pasien COVIOD-19.

Pertimbangkan pemilihan pakaian pelindung di fasyankes yang dapat melindungi dari mikroorganisme dalam darah dan cairan tubuh.

Pelatihan diperlukan oleh staf sehingga dapat tidak hanya mengenakan namun yang terpenting bagaimana melepas coverall sedemikian hingga mencegah swakontaminasi dari serat ke wajah.

Alas kaki

Bawa sepasang sepatu, bot, atau alas kaki layak lainnya untuk digunakan hanya di fasyankes. Setiap kali selesai shift jaga, bersihkan semua permukaan alas kaki (termasuk bagian dalam dan bawah) dengan semprotan disinfektan. Lalu tempatkan pada wadah plastik atau kertas/kardus tertutup dan tinggalkan di fasyankes.

Jika alas kaki bisa dikantongkan dengan baik, maka dapat ditinggalkan di fasyankes maupun dibawa pulang. Tidak rekomendasikan memilih alas kaki yang bertali, misalnya tali sepatu, karena material berpori dapat menyimpan partikel virus.

Sepatu yang dipakai dari rumah menuju fasyankes juga disimpan dalam wadah tertutup saat tiba di fasyankes dan digunakan kembali saat kembali ke rumah atau ke tempat lain.

SARS-CoV-2 juga dapat menempel pada alas sepatu. Oleh karena itu, sepatu yang digunakan saat pulang juga bisa terkontaminasi, dan tidak disarankan untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tinggalkan di tempat lain yang cukup aman (dari jangkauan orang lain, terutama anak-anak), misalnya di garasi atau sediakan tempat sepatu sebelum masuk rumah.

Kebersihan pascajaga

Petugas kesehatan dapat langsung mandi setelah selesai jam tugasnya jika fasilitas menyediakan tempat pemandian (shower). Fasilitas yang menyediakan area mandi dapat mengatur waktu mandi dan selesai shift, sehingga tidak menumpuk.

Apabila tidak tersedia fasilitas mandi, tenaga kesehatan langsung menuju area pelepasan APD. Lepas APD menggunakan protokol yang disepakati (lihat contoh video di atas). Mengikuti prosedur akan menurunkan risiko penyebaran infeksi.

Setelah melepas APD, cuci tangan dan bagian tubuh lain yang terpapar dengan sabun dan air hangat mengalir.

Kenakan pakaian bersih sebelum kembali pulang ke rumah, dan sesampai di rumah disarankan untuk melepas/berganti pakaian di area khusus (tidak di dalam rumah), lalu pakaian tadi langsung dicuci atau jika tidak langsung dicuci disimpan dalam wadah plastik tertutup sampai pencucian nanti. Setelahnya langsung mandi dan keramas dengan sabun dan air mengalir.

Melepas APD

Seluruh APD harus ditempatkan pada wadah yang sesuai sebelum meninggalkan tempat kerja. Fasyankes menyediakan wadah-wadah terpisah ini untuk masing-masing masker, penutup alas kaki, sarung tangan, dan penutup rambut.

Goggle dan pakaian yang dapat digunakan ulang dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya untuk digunakan kembali oleh staf kembali pada hari berikutnya. Apabila penutup rambut akan digunakan ulang, maka selayaknya diberikan label nama nakes dengan spidol hitam permanen.

Selalu cuci tangan setelah melepaskan setiap jenis APD.

Jangan lupa untuk mandi pasca melepaskan APD. Dan jika tidak tersedia fasilitas mandi, nakes dapat langsung pulang dan mandi di rumah.

Pakaian yang digunakan setelah melepas APD adalah pakaian bersih yang dibawa dari rumah, baik yang dikenakan saat datang ke fasyankes atau pakaian terpisah yang disiapkan sebelumnya. Setelah sampai di rumah, disarankan petugas mandi kembali.

Alat transportasi milik pribadi

Bersihkan kendaraan setiap hari. Uji pada jok kendaraan bisa ditemukan partikel COVID-19. Bersihkan terutama pada area permukaan yang sering disentuh, termasuk area pijakan. Media pembersih yang sesuai dan disinfektan disarankan.

Pembersihan ini penting terutama ketika akan mengantar bayi, pasien lansia, daya tahan terganggu, atau mereka dengan kondisi medis yang menyebabkan berisiko lebih tinggi. Hal ini juga menjadi langkah tambahan untuk mencegah SARS-CoV-2 terbatas oleh tenaga kesehatan.

Jika memungkinkan, parkirlah kendaraan di bawah terik matahari saat ditinggal bekerja. Sinar matahari diketahui berperan sebagai disinfektan dan dapat membantu menonaktifkan partikel virus.

Pemeriksaan SARS-C0V-2

Dokter, perawat, tenaga kesehatan dan staf lainnya (misal petugas kebersihan dan perawatan alat) yang bekerja di garda depan selayaknya diuji untuk antigen SARS-CoV-2 sebelum mulai bekerja pada unitnya dan dilanjutkan/diulang setiap 3 hari selama pandemi.

Meski sudah menerapkan kewaspadaan yang baik, tenaga kesehatan dan staf lainnya juga dapat terpapar COVID-19 di fasilitas tempat mereka bekerja, rumah, dan/atau di tempat lainnya di masyarakat (misalnya di pasar ketika berbelanja).

Penutup

Meski sejumlah tips ini tidak semua bisa diaplikasikan, namun menambah beberapa daftar yang bisa dilakukan dapat mengurangi potensi risiko keselamatan akibat paparan COVID-19 bagi tenaga kesehatan dan keluarganya.

Tentu saja selain bekerja, tenaga kesehatan juga bisa terpapar di kegiatan sehari-harinya saat tidak bekerja. Maka ketika tidak bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai anggota masyarakat, tenaga kesehatan selayaknya juga mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Hal yang paling sulit mungkin adalah mengubah kebiasaan, karena tidak semua kebiasaan pencegahan infeksi bisa hadir dengan sendiri secara alami. Membiasakan diri patuh pada protokol adalah hal yang penting, dan menjaga mutu kepatuhan ini juga penting.

Selalu bersama-sama dengan sejawat lainnya untuk meningkatkan mutu keselamatan pelayanan di mana pun Anda bekerja.

Catatan: adaptasi didapatkan dari Sage Journal.

Apakah COVID-19 berasal dari Laboratorium di Wuhan?

Setahun COVID-19 dan pelbagai varian – dan bahkan varian dari varian – bermunculan, namun pertanyaan dari mana virus ini berasal belum terjawab. Bulan-bulan awal kemunculan COVID-19 kita sempat mendengar SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 mungkin saja berasal dari sebuah laboratorium penelitian virus di Wuhan, Tiongkok.

Pernyataan tersebut banyak beredar, dan masuk ke dalam kategori teori konspirasi karena tidak memiliki dasar klaim yang dapat diterima bersama.

Tapi pernyataan ini kembali berulang, mengingat belum banyak yang bisa dihasilkan oleh tim investigasi WHO sampai saat ini, dan sejumlah kritik di layangkan pada organisasi kesehatan dunia ini.

Photo by Edward Jenner on Pexels.com

Pada awal penyelidikan oleh tim investigasi, sempat muncul pernyataan bahwa kemungkinan “kebocoran dari laboratorium” sangat kecil, sehingga tidak dipertimbangkan.

Dalam laporan resmi yang diperbarui per 6 April 2021 ini, ada sejumlah poin yang menjadi kesimpulan:

  1. Menghubungkan antara data genom dan data epidemiologi diperlukan untuk analisis molekuler dalam mendukung penelitian pelacakan asal.
  2. Kontrol mutu sekuensi genom penting untuk menyediakan hasil yang dapat dipercaya.
  3. Virus dari beberapa kasus pasar Huanan identik, menyiratkan dugaan kejadian penyebaran.
  4. Analisa genom kasus-kasus awal juga menunjukkan kebinekaan, menyiratkan dugaan sumber-sumber lain (tambahan) dan peredaran yang tidak dikenal.
  5. Perkiraan dari waktu hingga ke hulu bersama (common ancestor) – baik dari literatur maupun analisa ulang menyiratkan bahwa penularan atau peredaran virus mungkin baru pada akhir 2019.
  6. Hingga saat ini, sekuensi genom yang berhubungan paling dekat telah ditemukan pada kelelawar.
  7. Laporan deteksi SARS-CoV-2 pada sampel kasus dan lingkungan sebelum Januari 2020 di pelbagai tempat di seluruh dunia memerlukan tindak lanjut.

Dalam laporan yang sama juga dikeluarkan sejumlah rekomendasi, yang pada intinya menyuratkan bahwa pelbagai penelitian yang lebih luas dan mendalam diperlukan.

Hanya saja, beberapa minggu sebelumnya, laporan WHO sempat dipertanyakan oleh sejumlah negara mengingat bagaimana laporan itu dibuat.

Perdebatan kemudian masih berlanjut, dan kemungkinan bahwa virus berasal dari laboratorium di Wuhan masih menjadi pertanyaan banyak pihak. Yang dulu menjadi sebuah konspirasi, kini menjadi sebuah teori.

Di manakah asal mula SARS-CoV-2? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Sebuah debat di kanal 60 Minutes Australia cukup bisa menjadi rujukan, bagaimana kulminasi perdebatan terbentuk dan hadir hingga saat ini. Termasuk bagaimana pertanyaan ini menjadi sebuah alat politik di sejumlah negara untuk menggiring opini pendukung politik.

Apa yang menjadi penting adalah bahwa pertanyaan dalam judul tulisan ini masih tetap sebuah pertanyaan, tanpa bukti kuat yang menyatakan “YA” atau sebaliknya.

Bagi saya sendiri, apa yang penting saat ini bukan menjawab pertanyaan tersebut dalam waktu dekat. Namun bagaimana mengendalikan agar pandemi di sekitar kita tidak menjadi tragedi, jangan seperti di Italia, Amerika, atau bahkan yang saat ini sedang berlangsung tsunami COVID-19 di India.

Jika suatu saat ini pertanyaan ini dapat terjawab, belum tentu tidak terdapat konflik dan debat setelahnya. Maka menurut saya, mari kita menyeruput kopi dan tetap berkomitmen pada pelaksanaan protokol kesehatan di era “new normal.”

Memanfaatkan Open Knowledge Maps

Ingin menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, mulai dari esai hingga karya tulis dan penelitian? Kita akan memerlukan banyak membaca terlebih dahulu, meskipun kita tahu mengenai topik yang hendak kita tulis. Apa yang dipilih untuk dibaca? Ini menjadi pertanyaan berikutnya.

Sebagai praktisi kesehatan, sumber referensi saya biasanya berkisar pada situs kesehatan dan jurnal kesehatan. Sebagian besar dapat diakses melalui selingkung di PubMed, dan sebagian lain mungkin ditelusuri dengan memanfaatkan mesin Google Cendikia.

Tentu saja ada “mainan” lain yang bisa digunakan, yaitu Open Knowledge Maps.

Let us change the way we discover research together

Layanan publik ini memberikan kita sebuah cara baru untuk menemukan penelitian (dan tulisan lain) terkait topik yang hendak kita dalami dan/atau teliti.

Pengguna bisa mendapatkan gambaran, konsep terkait, pengelompokan topik, dan penandaan konten yang terbuka bagi publik (open content). Fitur terakhir biasanya sangat diminati oleh kelompok yang memiliki anggaran terbatas untuk mengakses sebuah laporan penelitian – seperti saya.

Penggunaannya juga tidak sulit. Pengguna cukup memasukkan kata kunci topik yang hendak dicari, dan sistem akan mencari 100 dokumen paling terkait dengan kata kunci tersebut. Sistem akan menentukan kemiripan kata kunci dan mengembangkan pemetaan visual bagi pengguna.

Open Knowledge Map akan membantu kita dalam mencari dan mengumpulkan, kira-kira ke arah mana tulisan atau penelitian kita dapat berjalan.

jamovi – aplikasi statistika gratis

Mereka yang mengerjakan penelitian sederhana deskriptif atau analisis varian, akan memerlukan perhitungan statistik yang cermat. Aplikasi statistika biasanya diminati untuk membantu proses ini sehingga dapat berjalan dengan lebih mudah.

Aplikasi yang populer di Indonesia adalah SPSS yang dilisensikan oleh IBM. Tentu saja aplikasi berlisensi ini cukup mahal dan menguras anggaran bagi mereka yang hanya melakukan penelitian kecil dengan dana terbatas. Bahkan alternatif populer lain seperti Minitab juga tidak serta merta terjangkau.

Kabar baiknya, ada alternatif lain yang gratis seperti GNU PSPP – yang sayangnya kurang populer. Alternatif lain yang suka saya gunakan adalah JASP, dengan catatan: filosofi JASP lebih kuat ke arah bentuk Bayesian.

Seperti halnya JASP yang berhasil muncul dengan pengembangan R Language, banyak aplikasi lain yang juga berkembang menjadi aplikasi berfokus pada antarmuka yang ramah pengguna. Salah satunya yang tidak kalah populer dari JASP adalah jamovi.

Proyek jamovi didirikan untuk mengembangkan platform statistik gratis dan terbuka yang intuitif untuk digunakan, dan dapat memberikan perkembangan terbaru dalam metodologi statistik. Inti dari filosofi jamovi, adalah bahwa perangkat lunak ilmiah harus “didorong oleh komunitas”, di mana setiap orang dapat mengembangkan dan menerbitkan analisis, dan membuatnya tersedia untuk khalayak luas.

jamovi bertujuan untuk menjadi platform netral dan tidak mengambil posisi terkait filosofi statistik yang bersaing. Proyek ini tidak didirikan untuk mempromosikan ideologi statistik tertentu, melainkan ingin berfungsi sebagai tempat yang aman di mana pendekatan statistik yang berbeda dapat dipublikasikan secara berdampingan, dan menganggap diri mereka sebagai anggota komunitas jamovi yang terbaik.

Aplikasi jamovi tersedia dalam dua bentuk, yaitu bentuk stabil dan bentuk terbaru. Bentuk stabil biasanya disarankan bagi mereka yang hendak menggunakan jamovi dalam jangka panjang dan menginginkan aplikasi yang bebas bug saat digunakan. Bentuk terkini ditujukan bagi mereka yang ingin memanfaatkan fitur terbaru yang disediakan oleh jamovi dengan kemungkinan sejumlah bug mungkin bisa muncul saat digunakan.

Pengguna bisa mendapatkan jamovi untuk platform Windows, macOS, Linux, dan ChromeOS. Pengguna juga bisa belajar statistik dengan memanfaatkan jamovi melalui kanal YouTube datalabcc. Untuk mengunduh dan memasang jamovi pada komputer masing-masing, silakan merujuk pada manual pengguna.

Radio, Musik, dan Royalti

Belakangan ini mendengarkan kabar mengenai penerapan royalti bagi penggunaan karya musik (lagu) untuk kegiatan penyiaran dan bisnis lainnya cukup banyak diperbincangkan di dunia maya. Terutama kemungkinan akan mematikan sejumlah usaha, salah satunya adalah radio yang pendapatannya makin sedikit dan tidak kuat bayar royalti, bahkan ada kabar tidak sedikit pemilik radio yang hendak menjual usahanya.

Tidakkah ada titik temu dalam permasalahan ini?

Photo by Bo Allen on Pexels.com

Saya memikirkan beberapa kemungkinan jalan keluar, tapi tentu saja ada sesuatu yang lebih besar menghadang.

Pertama, royalti hanya ditujukan bagi penggunaan musik/lagu yang bersifat komersial. Padahal banyak sekali tempat usaha yang memanfaatkan musik atau lagu untuk menambah kenyamanan konsumen mereka. Mulai dari tempat makan/restoran, tempat pijat/spa, sarana transportasi publik, hingga tempat layanan publik seperti di ruang rumah sakit.

Kedua, tidak ada layanan lain yang bisa menyiarkan musik ke masyarakat/publik sebaik media massa elektronik – terutama radio. Kenapa, karena media lain tidak diizinkan untuk penyiaran publik, baik itu mulai dari media digital seperti CD Audi, Kaset, hingga yang berbentuk layanan streaming seperti Spotify, Deezer, YouTube dan sebagainya. Media tersebut hanya diizinkan untuk konsumsi perorangan, bukan untuk disiarkan, jadi Anda tidak boleh memutar Spotify atau YouTube untuk pelanggan rumah makan Anda. Ini berarti Anda juga tidak boleh memutar CD-Audio/MP3 untuk penumpang angkutan Anda, dan lain sebagainya, karena dihalangi oleh izin komersial dari media tersebut.

Ketiga, ini bermakna siaran media massa seperti radio dapat melakukan monopoli penyiaran musik kepada publik. Karena hal yang sama tidak bisa dilakukan oleh media modern lain oleh karena keterbatasan hak siar.

Radio bisa membayar royalti kepada pencipta musik, dan hanya radio yang bisa menyiarkan musik kepada masyarakat baik untuk dikonsumsi secara personal maupun massal. Anda bisa memutar radio di rumah makan atau di dalam bus untuk pelanggan. Hal ini masih masuk akal, kecuali ada aturan lain yang kemudian membatasinya – tapi setahu saya tidak ada. Silakan koreksi jika saya keliru.

Ketika media digital modern merambah ke penyiaran musik bagi pribadi/perorangan, maka radio masih memiliki keunggulan dalam penyiaran publik. Dan ini sebuah pasar yang cukup besar.

Tantangannya adalah bahwa masyarakat Indonesia masih melekat dengan jiwa pembajakan, tidak peduli dengan keringat pencipta karya. Siapa yang akan memastikan bahwa lagu yang diputar di sebuah rumah makan di pinggir jalan atau yang diputar di dalam bus antar kota antar provinsi sudah bayar royalti atau tidak? Razia atau sistem informasi elektronik? Saya ragu itu akan cukup efektif.

Sehingga, saya melihat bahwa radio mungkin tidak akan mati karena royalti, tapi karena masyarakat kita dan pelaku usaha tidak peduli akan royalti itu apa.

Itu cuma musik, kenapa mesti bayar?

Untuk menyelamatkan industri radio, masyarakat sendiri yang pertama-tama harus mengubah pandangan kita terhadap pentingnya karya cipta. Tentu saja radio juga harus berbenah, karena pangsa pasar publik itu tidak seluas pangsa pasar perseorangan.

Ini adalah dekade yang penuh perubahan, jika tidak cepat beradaptasi, kita akan tergerus.

Bagaimana memilih dokter keluarga atau pribadi?

Jika Anda baru saja mendaftar asuransi publik seperti BPJS Kesehatan, atau pengguna BPJS Kesehatan yang berpindah domisili, Anda mungkin akan menggunakan hak Anda untuk memilih siapa yang akan menjadi dokter keluarga/pribadi Anda melalui layanan registrasi atau aplikasi resmi di telepon pintar.

Setiap orang memiliki keperluan dan kriteria tersendiri dalam memilih layanan dokter yang dia butuh. Secara pribadi dan sebagai dokter, saya tidak melihat banyak perbedaan oleh karena dokter di Indonesia telah memiliki standar yang resmi dari konsil kedokteran. Saya sendiri memilih dokter keluarga dengan pertimbangan yang cukup sederhana.

BPJS Kesehatan sendiri mengizinkan pengguna layanan untuk mengubah fasilitas pelayanan kesehatan primer yang dia inginkan. Ini berarti seseorang bisa memilih atau pindah ke pelayanan antara dokter praktik mandiri, klinik pratama, atau puskesmas.

Orang mungkin pindah karena dia pindah domisili, atau ada lokasi layanan kesehatan baru yang beroperasi lebih dekat dari tempat tinggal, kerja atau sekolah salah satu anggota keluarga.

Walau sebenarnya, ketika pindah domisili, seseorang masih bisa tetap ‘bertahan’ dengan dokter lamanya. Beberapa orang tetap nyaman dengan dokter yang telah melayani mereka sejak lama. Apalagi di era berkembangnya telemedicine, pengguna layanan BPJS Kesehatan masih dapat berkomunikasi dengan dokter mereka dari jarak jauh.

Photo by Thirdman on Pexels.com

Mereka yang memiliki kondisi menahun dan harus mendapatkan pemeriksaan berkala sebaiknya memilih dokter keluarga/pribadi yang dapat mudah diakses/dekat. Kondisi-kondisi ini termasuk, namun tidak terbatas pada penyakit jantung/paru menahun seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis, hipertensi, dan kondisi metabolik menahun seperti diabetes.

Lokasi-lokasi fasilitas kesehatan primer terdekat bisa dilihat/ditemukan melalui aplikasi digital, mulai dari Google Maps hingga aplikasi BPJS Kesehatan itu sendiri.

Calon pengguna mungkin perlu mengetahui apakah fasilitas pelayanan di tempat yang mereka pilih mendukung kondisi kesehatan khusus mereka. Misalnya, bagi penderita penyakit jantung menahun – fasilitas yang dituju mungkin memerlukan ketersediaan alat EKG. Bagi yang memiliki kondisi diabetes, selain bisa melakukan pemeriksaan gula darah, alangkah baiknya jika fasilitas menyediakan pelayanan pemeriksaan HbA1c juga.

Sehingga dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi khusus – seperti pada orang sehat pada umumnya, mereka dengan kondisi khusus perlu sejumlah pertimbangan tambahan untuk pilihan tempat praktik dokter keluarga/pribadi yang hendak mereka pilih.

Orang juga bisa beralasan pindah dokter karena merasa (sudah) tidak cocok lagi dengan dokter pribadinya yang lama. Ketidakcocokan ini bisa disebabkan banyak faktor yang satu atau lebihnya mengarah pada pengalaman konsultasi yang buruk atau hilangnya kepercayaan terhadap dokter.

Hal ini tentu sangat disayangkan jika terjadi, walau dalam beberapa situasi tidak bisa dihindari. Idealnya, seseorang memiliki satu dokter yang akan menjadi penasihat kesehatan baginya. Bahkan tidak jarang ada dokter yang merawat pasien sejak dia masih dalam kandungan, ketika dilahirkan, lalu berlanjut ke masa bayi, balita, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Pun demikian, ada juga yang dirawat dari dewasa, hingga memasuki usia senja.

Hubungan yang baik antar pasien dan dokternya memberikan banyak kebaikan. Mulai dari kemampuan pasien menjadi lebih dapat terbuka terhadap masalah kesehatannya, yang mungkin dia tidak bisa sampaikan pada orang lain bahkan anggota keluarga terdekat.

Ketika pasien pindah ke dokter baru, tidak semua pasien dapat terbuka mengenai masalah kesehatannya. Terutama jika masalah kesehatan itu adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, seperti kekerasan, masalah kejiwaan, hingga masalah pribadi seperti disfungsi ereksi.

Orang yang mengalami kesulitan untuk membuka diri dapat mengalami kesulitan dalam pelayanan kesehatan ketika berpindah atau memilih dokter baru. Tapi apabila dia tidak dapat mempercayai dokter yang sebelumnya, maka pilihan untuk mencoba pindah ke dokter yang baru tidak dapat diabaikan.

Ada hal lain yang mungkin membuat seseorang harus memilih dokter baru, walau jarang sekali saya temukan, atau mungkin belum pernah saya temukan. Kondisi ini adalah ketika pasien ditolak untuk dirawat oleh dokter pribadi/keluarganya, sehingga ia dianjurkan untuk dirawat oleh dokter lainnya.

Dokter tentu dapat menolak merawat pasien dalam kondisi yang bukan gawat darurat. Kondisi ini antara lain adalah dokter tidak memiliki kompetensi dalam kasus yang dihadapi oleh pasien, dan ada dokter lain yang lebih berkompetensi; fasilitas praktik dokter sudah tidak memadai lagi. Kondisi khusus lain juga bisa terjadi, walau belum jelas payung hukumnya, misalnya dokter bisa menolak pasien atas dasar kepercayaan dokter atau atas dasar gagalnya perjanjian terapeutik.

Memang tidak seperti di luar negeri, di Indonesia dokter belum bisa mendaftarhitamkan pasien ketika ada kondisi yang menyebabkan hubungan pasien-dokter berada pada kondisi rusak berat tanpa dapat dibenahi, misalnya pada kasus pasien yang melakukan kekerasan pada dokter atau staf fasilitas pelayanan kesehatan.

Sehingga ada sebuah latar belakang di mana seseorang perlu memilih dokter keluarga yang baru, dan alasan itu bukan dari keinginan orang tersebut secara pribadi.

Ketika seseorang perlu dan memutuskan untuk memilih dokter keluarga/pribadi yang baru akibat hal-hal tersebut, selain pertimbangan jarak dan domisili (aksesibilitas), dan keperluan terhadap kondisi khusus orang tersebut, maka ada beberapa hal lain juga yang layak dipertimbangkan.

Aksesibilitas tidak hanya sekadar jarak dan domisili, jika Anda berkebutuhan khusus, maka pelayanan yang ramah untuk mereka yang berkebutuhan khusus juga layak dipertimbangkan.

Lalu apakah seseorang memerlukan layanan pribadi atau tidak. Beberapa tempat tidak menyediakan layanan pribadi, dalam artian dokter yang menerima kunjungan selalu berubah-ubah dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, dan situasi ini cukup umum di Indonesia. Jika seseorang memerlukan layanan yang lebih privat dan relasi pasien-dokter yang lebih baik, mungkin dokter praktik pribadi lebih baik baginya.

Apakah Anda memerlukan waktu yang sesuai? Ada fasilitas layanan kesehatan yang buka pagi hingga siang, ada yang sore hingga malam. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan. Tapi perlu diingat, kecuali untuk layanan kegawatdaruratan, tidak ada fasilitas layanan primer maupun lanjutan yang buka 24 jam untuk pelayanan non-gawat darurat (tentu saja beberapa layanan kesehatan privat membuka layanan seperti ini, tapi bukan sesuatu yang umum).

Apakah gender mempengaruhi pertimbangan? Apakah lebih suka dilayani oleh dokter laki-laki atau perempuan? Jika memiliki kecenderungan ini, maka tidak ada salahnya untuk memilih tempat layanan yang sesuai dengan preferensi ini. Seseorang bisa lebih baik dalam menyampaikan keluhan dan informasi kesehatannya kepada dokter yang ia merasa lebih nyaman untuk diajak berkonsultasi. Pertimbangan ini juga bisa berlaku serupa untuk hal lain, yang walau diungkapkan lebih jauh mungkin bisa mengarah pada SARA.

Perpindahan dokter keluarga pun sekarang tidak sulit dilakukan. Bagi pengguna BPJS Kesehatan bisa memilih melalui aplikasi. Hanya perlu menjadi catatan, permohonan permintaan pemindahan fasilitas pelayanan kesehatan tidak selalu dikabulkan (asese) oleh sistem, hal ini dapat terkait dengan kuotasi yang terbatas pada masing-masing fasilitas. Tentu saja hanya penyedia layanan langsung, yaitu BPJS Kesehatan yang bisa memberikan jawaban pasti.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memilih dokter keluarga/pribadi?

Koding ICD-10 untuk COVID-19

WHO sudah lama (kurang lebih setahun) menerbitkan kode ICD-10 untuk COVID-19. Kode ini mungkin berbeda dengan apa yang diterapkan di banyak tempat, tergantung mekanisme penjaminan terhadap pasien COVID-19.

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Ada kode baru untuk COVID-19, yaitu:

  • U07.1 COVID-19, virus diidentifikasi
    • U07.2 COVID-19, virus tidak diidentifikasi
      • Didiagnosis secara klinis-epidemiologi COVID-19
      • Kemungkinan COVID-19
      • Diduga COVID-19
Tidak ada gejalaDengan gejalaKode ICD-10
Hasil tes positif saja, pasien tidak menunjukkan Gejala U07.1
Hasil tes positifCOVID-19 didokumentasikan sebagai penyebab kematianU07.1*
Hasil tes positifGunakan kode tambahan untuk penyakit pernapasan (misalnya  pneumonia virus J12.8) atau tanda atau gejala penyakit pernapasan (misalnya sesak napas R06.0, batuk R05) seperti yang didokumentasikanU07.1 + kode untuk gejala *
Kasus terkonfirmasi

*Gunakan kode intervensi / prosedur untuk menangkap ventilasi mekanis atau oksigenasi membran ekstracorporeal dan mengidentifikasi setiap penerimaan ke unit perawatan  intensif

*Gunakan kode tambahan untuk isolasi (Z29.0) atau pemeriksaan laboratorium (Z01.7) sebagaimana diperlukan untuk kasus spesifik.

Pasien dengan penyakit pernapasan akutKontak atau dugaan PaparanKode ICD-10
Tidak ada etiologi lain; riwayat perjalananU07.2; Z20.8 + kode untuk gejala*
Kontak dengan kasus yang dikonfirmasi atau mungkinU07.2; Z20.8 + kode untuk gejala*
Tidak ada etiologi lain: rawat inap diperlukan U07.2 + kode untuk gejala*
COVID-19 didokumentasikan tanpa informasi re: pengujian U07.2 + kode untuk gejala apa pun*
Kasus pasien suspek (kecurigaan)

*Gunakan kode intervensi / prosedur untuk menangkap ventilasi mekanis atau oksigenasi membran ekstracorporeal dan mengidentifikasi setiap penerimaan ke unit perawatan  intensif

*Gunakan kode tambahan untuk isolasi (Z29.0) atau pemeriksaan laboratorium (Z01.7) sebagaimana diperlukan untuk kasus  tertentu

skenario klinisKode ICD-10
Pasien dengan penyakit pernapasan akut; pengujian negatif, dan COVID-19 dikesampingkanKode infeksi/ diagnosis yang dinyatakan relevan + Z03.8 Observasi untuk penyakit dan kondisi lain yang dicurigai
Rujukan mandiri (datang sendiri): setelah penilaian tidak  ada alasan untuk penyakit suspect dan penyelidikan lebih lanjut dianggap tidak perluKode Z71.1 Orang dengan keluhan yang ditakuti di mana tidak ada diagnosis yang dibuat
Diagnosis COVID-19 sudah dieleminasi

Berdasarkan penilaian klinis, dokter dapat memesan tes untuk SARS-CoV- 2 virus  pada pasien yang tidak benar-benar memenuhi definisi kasus.Kode Z11.5 Pemeriksaan skrining khusus untuk penyakit virus lainnya
Tes untuk COVID-19

Bagaimana jika ada kematian terkait COVID-19?

Kedua kategori, U07.1 (COVID19, virus diidentifikasi) dan U07.2 (COVID19, virus tidak diidentifikasi) cocok untuk kode penyebab kematian. Demikian pula, kode baru yang dibuat untuk ICD-11.

COVID-19 dilaporkan pada sertifikasi kematian yang memperhatikan penyebab kematian lainnya, dan aturan untuk pemilihan penyebab tunggal yang mendasarinya sama dengan influenza (COVID-19 bukan karena hal lain).

Untuk mencatat keterangan pada sertifikat kematian, petugas tidak memerlukan bimbingan khusus untuk diberikan. Infeksi saluran napas dapat berevolusi menjadi pneumonia yang dapat berevolusi menjadi kegagalan pernapasan dan konsekuensi lainnya. Berpotensi berkontribusi komorbiditas (masalah sistem kekebalan tubuh, penyakit kronis …) dilaporkan di bagian 2, dan aspek lain (perinatal, keibuan …) dalam bingkai B,  sejalan dengan aturan untuk merekam.

Pemeriksaan ulang untuk kemungkinan penyebab kematian lain secara manual disarankan ketika sebuah sertifikat kematian akibat COVID-19 dilaporkan, khususnya untuk  sertifikat tersebut dilaporkan tetapi tidak dipilih sebagai penyebab kematian tunggal yang mendasarinya.

Pedoman surveilans lain untuk mendukung proses koding ini dapat diakses melalui pedoman surveilans COVID-10 oleh WHO. Pembaruan kode ICD-10 dapat diakses di situs aplikasi ICD-10 oleh WHO.