Mengapa pilih Luminar AI?

Sebelumnya saya menyampaikan bahwa favorit penyunting komposisi foto bagi saya sendiri adalah LuminarAI, walau-pun saya memilih Polarr pada akhirnya sebagai aplikasi praktis sehari-hari. Tapi jangan keliru, pada saat “gila,” saya bisa memilih menggunakan LuminarAI .

Dari sejumlah aplikasi yang saya coba, Adobe Lightroom Mobile, RawTherapee, DxO Photolab 4, Polarr, Snapseed, Luminar 4; maka LuminarAI merupakan aplikasi yang paling ramah pengguna bagi saya.

Keuntungan menggunakan LuminarAI adalah teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang tertanam di dalamnya. Sehingga tidak heran jika minimal disarankan komputer yang menggunakan Intel i5 / Ryzen 5 dengan optimal 16GB RAM (minimal 8GB RAM).

Jika hanya menginginkan komposisi saja, maka DxO PhotoLab 4 adalah favorit saya, aplikasi yang juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Tapi LuminarAI lebih terjangkau harganya, dan sama-sama mampu memroses berkas RAW (walau DxO diunggulkan dengan DeepPRIME-nya).

foto jadul sebelum dan sesudah diolah dengan LuminarAI

Mengolah foto seperti di atas tidak memerlukan lebih dari lima menit hingga jadi. Tentu saja hasilnya mungkin tidak begitu baik, karena banyak bagian lain yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh.

Produk Skylum ini menawarkan banyak pilihan cetakan siap pakai. Dan pengguna juga bisa menambahkan lapisan baru secara mandiri. Bisa dikatakan LuminarAI mengerjakan hal-hal yang membosankan secara otomatis, dan pengguna bisa fokus pada kreativitasnya. Jika pengguna terlalu malas untuk kreatif, Skylum juga menyediakan pasar kreativitas untuk dipilih oleh pengguna.

Yang paling saya sukai dari aplikasi ini adalah Composition AI yang dimilikinya. Bisa membantu kita menyesuaikan komposisi gambar dengan mudah dan cepat.

Luminar AI

Luminar hanya tersedia pada Windows 10 dan Mac OS, dan tidak tersedia pada Android serta iOS/iPadOS.

Lisensi Luminar bersifat lifetime, dan tidak ada pembayaran bulanan. Serta bisa dipindahkan dari satu PC ke PC lainnya melalui keanggotaan Skylum. Tapi seperti aplikasi lain, jika ada peningkatan versi, mungkin akan ada diskon untuk upgrade ke versi berikutnya.

Berminat menggunakan Luminar AI? Bisa mengunduhnya dengan gratis di skylum.com/luminar (referral link).

Alternatif Lightroom

Anda ingin agar foto terlihat lebih baik, meskipun hanya diambil dengan menggunakan kamera ponsel? Tidak puas dengan sekadar filter dari Instagram? Anda mungkin memerlukan perangkat lunak seperti Adobe Lightroom yang bisa diakses dari komputer maupun gawai.

Sayangnya, bagi saya, Adobe Lightroom itu mahal, berlangganan bulanan lumayan menguras kantong. Dan ketika saya mencoba versi uji coba, saya sempat membandingkan dengan sejumlah aplikasi lain yang juga menggiurkan.

DxO PhotoLab 4 bersanding dengan Skylum Luminar AI

Yang paling murah menurut saya adalah RawTherapee, karena perangkat lunak ini gratis (juga opensource) dan bisa dipasang di Windows 10 dengan cepat. Aplikasi ini ringan, intuitif, dan mudah digunakan. Jika Anda punya insting tajam dalam pengolahan foto, maka aplikasi ini sudah sangat layak senjata pamungkas Anda.

Yang paling lengkap menurut saya adalah DxO PhotoLab. Saya suka kemampuan DeepPrime-nya untuk menyunting dan membenahi berkas RAW tanpa merusaknya. Kemampuan yang sama bisa didapatkan dalam aplikasi tersendiri yaitu DxO PureRAW yang sedang naik daun juga. Lisensinya bersifat sekali bayar, tapi juga termasuk agak mahal (bagi saya).

Pilihan lain adalah menggunakan produk Skylum, baik edisi Luminar 4 maupun Luminar AI. Keduanya produk serupa tapi tak sama, memberikan pengalaman pengguna yang benar-benar berbeda. Dari semua alternatif Lightroom, maka favorit saya adalah Luminar AI. Lisensinya juga sekali bayar, dan bisa dikatakan cukup terjangkau.

Saya menyukai Luminar AI karena kemampuan kecerdasan buatan yang mirip dengan DxO PhotoLab, tapi lebih intuitif digunakan oleh orang-orang yang tidak ingin melihat terlalu banyak setelan manual.

Tapi yang menjadi pilihan saya bukan di antara ketiga produk di atas. Saya memilih produk Polarr yang tersedia di pelbagai platform seperti Lightroom, dengan biaya berlangganan yang terjangkau, tentu saja ada masa uji coba 7 hari bagi pengguna awal.

Mengapa memilih Polarr? DxO PhotoLab membuat mesin Intel 7th i5 2,4Ghz dengan RAM 12GB menderu kencang untuk setiap kali ekspor hasil penyuntingan RAW setidaknya selama 2 menit (dan mahal). Luminar AI, jangan bilang, walau mesin tidak menderu kencang, perangkat lunak ini jarang bisa berjalan dengan lancar.

Apa pilihan lainnya? Cukup banyak sebenarnya. Salah satu yang potensial selain Polarr adalah Snapseed yang dikembangkan oleh Google. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia pada gawai iOS dan Android, serta tidak tersedia versi web yang bisa digunakan di komputer. Snapseed yang gratis ini cukup populer, dan berpotensi besar sebagai pesaing produk populer lain karena Google terus menerus mengembangkan AI fotografinya.

Sehingga Polarr menjadi semacam pelarian, karena pilihan yang terbatas pada mesin laptop lawas. Anda mungkin memiliki pilihan alternatif lain?

Sony RX100 VII

Selain Pentax Q10, kadang saya mengambil gambar dengan RX100 VII (Sony DSC-RX100M7) yang merupakan salah satu kamera kompak yang saya pakai saat ini.

Semua Sony RX100 memiliki riwayat mereka masing-masing sejak seri awal, hingga berkembang saat ini sebagai kamera kompak dengan banyak penggemar. Kamera ini bersanding dengan kamera saku dari produsen lain, seperti Ricoh GR III, Lumix LX100 II, Canon G5X II, dan Leica C-Lux.

Dulu, saya sempat mempertimbangkan Leica C-Lux, tapi saya tidak tahu di mana harus memperbaiki kamera saku itu jika terjadi kerusakan. Walau selama ini, nyaris tidak ada kamera yang rusak akibat pemakaian. C-Lux lebih unggul pada Macro sekaligus Zoom, tapi RX100 VII lebih unggul pada kecepatan dan lapang fokus serta pemotretan berkelanjutan.

Saya pada akhirnya berjodoh dengan RX100VII, karena saya tidak mendapatkannya sebagai kamera baru, tapi dari Pak Tony yang sudah tidak menggunakannya lagi.

RX100 VII memberikan zoom yang saya butuhkan yang tidak ada pada Pentax Q10; tentu saja saya bisa mencari lensa SMC Pentax-Q 06 Telephoto Zoom 15-45mm F2.8 untuk Q10, hanya saja lensa ini langka, ringkih, dan mahal, membuat saya ragu untuk membelinya secara daring. Sementara itu, RX100 VII memiliki rentang lensa 24 mm – 200 mm, tidak bisa disebut ultrazoom, namun cukup untuk disebut telephoto.

Saya merasa AF pada kamera ini luar biasa cepat, bahkan continues shot yang dihasilkan tidak mengecewekan, sehingga bisa mendapatkan momen terbaik untuk dipilih dalam rangkaian kejadian yang dipotret.

Mumurosa under the little pine
ƒ/4.0 – 36.0 mm – 1/250 – ISO 640

Gambar di atas saya ambil memnggunakan continues shot, yang jarang bisa didapatkan jika hanya menggunakan jepretan tunggal, yang kemudian diolah memanfaatkan aplikasi Polarr di iPad.

Permasalahan klasik kamera seperti ini adalah, jika tidak memanfaatkan mode manual kita bisa mendapatkan fokus pada area yang tidak diinginkan. Untungnya, kemajuan teknologi sering dapat mengatasinya.

Sayangnya, RX100 VII tidak membawa kemampuan makro yang baik. Tapi tidak buruk juga, hanya beberapa trik diperlukan, atau diperlukan lensa aksesoris tambahan (yang saya pikir tidak terlalu aman pada kamera dengan retractable lens).

Baik untuk foto makro maupun non-makro, komposisi ulang bagi saya sendiri tetap diperlukan. Saya belum bisa melakukan komposisi secara otomatis di lapangan, dan sering kali harus mengambil sejumlah foto untuk diolah kemudian.

Bergantung pada jenis komposisi dan pengolahan pasca pemotretan, saya bisa melakukan dengan sejumlah pilihan bantuan.

Sony memiliki aplikasi Imaging Edge yang membantu mengirim foto dengan cepat dan mudah secara nirkabel dari kamera ke komputer maupun gawai lain.

Untuk melakukan pemrosesan, pada ponsel Android, biasanya saya akan memanfaatkan Google Snapseed atau Adobe Lightroom. Sementara itu pada iPad saya biasanya memanfaatkan Polarr atau Lightroom. Sementara itu pada laptop, yang berarti saya ingin memproses foto lebih jauh lagi, saya umumnya memanfaatkan DxO PureRAW untuk memroses berkas RAW dan kemudian diolah lebih lanjut dengan memanfaatkan Skylum Luminar AI; jika tidak, saya tetap bisa menggunakan Polarr dari peramban laptop, karena akun Polarr bersifat universal.

Jika tidak hanya sekadar akan dipublikasikan ke twitter, maka seringkali saya tidak akan memrosesnya lebih lanjut seperti gambar-gambar di atas. Atau dengan cepat menggunakan Snapseed seperti gambar di bawah ini.

Yang cukup saya suka dari RX100 VII adalah ukurannya yang kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan sejumlah gawai, dan membuatnya mudah dibawa ke mana-mana untuk mengambil gambar berkualitas secara spontan.

Antitrack sebagai alternatif DNT saat Berselancar di Internet

Saat berselancar di Internet, kita menjadi target banyak pihak, terutama yang menginginkan informasi data pribadi kita, termasuk pemilik website yang kita kunjungi. Sebagian besar peramban modern telah memiliki fungsi untuk menyampaikan “do not track” (DNT) pada fitur mereka, tapi seberapa yang bisa dicegah?

Jika Anda tidak terlalu peduli dengan data privasi Anda tersebar di mana-mana, maka fitur antitrack bukan sesuatu yang Anda perlukan. Dan tentu saja Anda juga mungkin tidak akan memerlukan VPN untuk menjaga privasi dan keamanan data Anda.

Antitrack sendiri baru dikembangkan beberapa tahun terakhir untuk melawan pencuri privasi. Dan sejumlah pengembangannya cukup memuaskan. Bahkan isu perang antara Apple dan Facebook belakangan ini juga terkait dengan pilihan “do not track.”

Do Not Track (DNT) is a way to keep users’ online behavior from being followed across the Internet by behavioral advertisers, analytics companies, and social media sites. It combines both technology (a way to let users signal whether they want to be tracked) as well as a policy framework for how companies should respond to that signal.

eff.org

Kita adalah sasaran empuk bagi pengiklan, dengan mengetahui usia, jenis kelamin, situs yang sering kunjungi, teman-teman kita, belanjaan kita, hingga wishlist yang kita simpan, maka pengiklan bisa mengirimi kita berjubel iklan-iklan yang ditargetkan ke kita.

Antitrack melengkapi fungsi incognito dalam banyak peramban, tentu saja sejumlah teknologi incognito juga memiliki fungsi perlindungan privasi dan juga pelacakan sekaligus, misalnya saja incognito oleh CUJO AI.

Saya sendiri memanfaatkan Avast AntiTrack Premium yang disertakan dalam bundel Avast Ultimate yang kami miliki. Layanan pihak ketiga sering kali lebih memudahkan pengguna dalam melakukan penyetelan kebutuhan.

Hanya perlu diingat bahwa AntiTrack tidak menghalangi atau menyekat iklan, tapi lebih spesifik pada menyekat iklan yang ditarget untuk Anda sebagai pengunjung halaman situs web. Jika tidak ingin iklan ditampilkan, penyekat iklan (adblocker) lebih tepat. Namun tetap perlu diingat, bahwa sebagian besar situs yang Anda kunjungi hidupnya berasal dari iklan, jadi selektif memilih situs mana yang menampilkan iklan akan lebih bijak.

Fitur antitrack sebenarnya bermanfaat untuk diterapkan, sayangnya di negeri kita, tidak banyak orang yang peduli pada keselamatan privasi. Kita adalah negeri saling berbagi, mulai dari berbagi komputer, peramban, hingga sandi, yang sering sulit dibagi cuma cuan.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan semakin maju dalam melacak aktivitas internet Anda. Tambahkan perangkat seluler dan hasilnya adalah kurangnya privasi online. Jika Anda tidak nyaman dengan itu, Anda perlu mempelajari cara menyisih dari aplikasi yang melacak Anda.

Sebagian besar layanan populer yang Anda gunakan (seperti platform media sosial dan Google) serta perangkat seluler Anda memberi Anda pengaturan untuk menonaktifkan pelacakan. Masalahnya adalah, Anda harus menggali sedikit untuk menemukannya. Namun, setelah Anda melakukannya, mematikan pengumpulan data cenderung sangat mudah.

John Huges – CodewinWP

Saya masih suka si Pentax Q10

Pada era smartphone, di mana gambar tinggal diambil hanya dengan bidikan di layar ponsel dengan kualitas yang jumawa, maka kamera – terutama kamera saku (pocket camera) sudah mulai ditinggalkan. Kita bisa melihat, hampir tidak ada yang suka membawa kamera saku di sekitar kita saat ini untuk mengambil gambar.

Bahkan saya sendiri lebih sering mengambil gambar dengan ponsel Realme yang saya beli bekas pakai. Mengapa? Karena tujuannya untuk berbagi segera! Entah ke sejawat untuk konsultasi kasus, atau sekadar “pamer” di media sosial.

Tapi jangan salah! Walau smartphone sudah menjadi pengambil gambar utama. Saya masih menggunakan kamera saku. Karena ada beberapa situasi yang tidak bisa dihasilkan oleh kamera ponsel. Saya tidak menggunakan kamera SLR, karena jika saya memerlukan gambar dari kamera SLR – saya lebih memilih memanggil ahli fotografi. Saya bukan ahli, cuma sekadar penghobi, dan fotografi jalanan bisa membantu saya mengurangi kadar stres.

Di rumah kami ada dua kamera saku. Pertama adalah Pentax Q10 yang dirilis tahun 2012 yang kami beli lama sekali, dan Sony RX100 VII yang rilis beberapa tahun yang lalu yang saya dapatkan dari Pak Tony karena beliau tidak lagi menggunakan kamera ini.

Nah, yang sering saya pakai adalah si Pentax Q10 ini – mungkin karena umurnya lebih tua, dan tangan saya lebih terbiasa dengan bodinya.

Jangan bayangkan kamera ini canggih banget. Karena bahkan ponsel pintar murah saat ini bisa jadi punya lebih banyak fitur dibandingkan kamera yang berusia nyaris satu dasawarsa ini. Beda dengan kamera saku yang satunya, tidak akan kalah dengan kamera ponsel pintar mana pun saat ini.

Mengapa saya suka si Pentax Q10?

Bisa dibilang Q10 adalah kamera mirrorless pertama saya. Dan Pentax sejak tahun lalu telah mengumumkan tidak lagi memproduksi kamera mirroless dan akan fokus ke SLR, jadi ini akan menjadi seperti kenangan.

Q10 yang kami miliki hanya memiliki satu tipe lensa , yaitu Q-mount 02 standard zoom, yang dibawa saat membeli kamera ini. Saya tidak memiliki dana tambahan saat itu untuk mendapatkan set lensa lainnya.

Awalnya saya tidak suka kamera ini ketika pertama kali saya pegang. Karena kamera sebelumnya yang saya gunakan adalah Canon Powershot SX30 IS memberikan kesan yang jauh berbeda. Tentu saja kamera digital versus mirroless compact memberikan kesan yang berbeda.

Tapi, Q10 membawa saya ke dalam sebuah dimensi fotografi yang baru, yang lebih spontan dan lebih intuitif. Banyak yang bilang bahwa ini disebut sebagai fotografi jalanan. Dan ini menyenangkan, walau saya tidak pernah tahu apakah foto yang saya hasilkan termasuk baik atau tidak.

A cycle and a old shed

Gambar di atas saya ambil pagi ini, ketika berjalan-jalan untuk menyaksikan matahari terbit.

Pengambilan gambar bersifat spontan. Saya mengambil belasan gambar hitam-putih dengan Q10, sebagian besar berbayang, karena tangan saya sering tidak stabil ketika mengambil gambar spontan. Beberapa saya bisa merasa cukup puas, dan mungkin hanya satu yang menurut saya cukup bagus seperti gambar di atas.

Hal ini tentu saya sadari, karena kelemahan Pentax Q10 adalah selalu memerlukan pencahayaan yang cukup untuk menjaga kontras.

Berjalan beberapa kilometer dengan ribuan langkah, mengambil banyak gambar namun hanya satu yang memuaskan, mengapa tidak? Kamera yang layar LCD-nya sudah dihinggapi beberapa garis dan mengelap di sisi-sisinya masih bisa memberikan sesuatu yang memuaskan bukan?

Seperti berjalan menuju pesta, menemukan banyak lawan jenis yang memikat namun hanya satu yang pas di hati, bukankah kehidupan seperti itu?

Pentax juga cukup keren, walau tidak sekeren Leica, tapi setidaknya saya punya genggaman di luar arus utama seperti Canon, Nikon, Lumix/Panasonic, dan Sony.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Masih ada yang suka mengambil gambar/foto kamera saku?

COVID-19 dan Kehamilan

Ibu hamil, yang baru melahirkan, atau yang sedang menyusui juga dapat terinfeksi SARS-CoV-2 dan menderita COVID-19. Tapi apa saja risikonya?

Secara keseluruhan, risiko COVID-19 pada ibu hamil cukup rendah. Namun perlu menjadi catatan bahwa kehamilan dapat meningkatkan risiko penyakit parah dan kematian pada COVID-19. Ibu hamil dengan COVID-19 tampaknya lebih mudah mengarah pada komplikasi saluran napas dan memerlukan perawatan intensif dibandingkan perempuan yang tidak hamil.

Tentu saja, jika ibu hamil memiliki penyakit penyerta seperti diabetes misalnya, mereka juga lebih berisiko terhadap luaran COVID-19 yang berat.

Photo by Jou00e3o Paulo de Souza Oliveira on Pexels.com

Beberapa penelitian juga menduga bahwa ibu hamil dengan COVID-19 juga kemungkinan memiliki bayi prematur dan persalinan dengan bedah cesarea, dengan bayi mereka yang lebih cenderung perlu dirawat di unit neonatus (misal NICU).

Hubungi Puskesmas terdekat jika Anda merasa memiliki gejala COVID-19, atau terpapar/kontak erat dengan seseorang yang positif COVID-19. Sangat dianjurkan bagi Anda memeriksakan diri untuk deteksi virus penyebab COVID-19, jika pemeriksaan dapat Anda akses atau tersedia di wilayah Anda. Jangan sungkan untuk menghubungi dokter keluarga Anda jika memerlukan bantuan.

Jika Anda sedang hamil dan terjangkit COVID-19, maka terapi utama akan mengarah pada peredaan gejala dan termasuk menjaga rehidrasi dengan banyak cairan dan istirahat, guna mengurangi demam, nyeri dan meredakan batuk. Jika Anda sangat sakit, Anda mungkin perlu rawat inap di rumah sakit.

Sejumlah wilayah di Indonesia tersedia tempat perlindungan (shelter) bagi penderita COVID-19 yang bergejala ringan. Jika Anda hamil dan terjangkit COVID-19, walau pun tanpa gejala, Anda disarankan memanfaatkan fasilitas ini karena Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi perburukkan kondisi, dan memerlukan fasilitas yang baik untuk melakukan persalinan. Jika Anda tidak yakin, hubungi dokter keluarga Anda untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Upaya kesehatan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran COVID-19 mungkin memengaruhi akses Anda terhadap pelayanan antenatal/prenatal. Konsultasikan dengan bidan atau dokter Anda untuk mendapatkan pilihan pelayanan antenatal bagi kehamilan Anda.

Rekomendasi persalinan

Jika masa kehamilan Anda sudah menjelang persalinan, bersiaplah untuk lebih fleksibel terhadap proses-proses yang mungkin terjadi di masa pandemi.

Bagi yang belum pernah dites COVID-19, Anda akan menjalani pemeriksaan sebelum dilayani untuk proses persalinan di fasilitas kesehatan. Perhatikan peraturan rumah sakit atau klinik/puskesmas dalam melayani persalinan, misalnya bahwa mungkin terdapat aturan melarang kunjungan bagi pasien pasca persalinan.

Jika Anda positif COVID-19 atau sedang menunggu hasil pemeriksaan COVID-19 akibat gejala atau riwayat kontak, Anda disarankan menjalani rawat inap saat persalinan dan selalu mengenakan masker dan mencuci tangan saat merawat bayi Anda.

Anda dapat merawat bayi selama berada di rumah sakit, namun tetap jaga jarak dengan bayi selama Anda tidak perlu sekali menyentuhnya (misal, ketika bayi sedang tidur). Ikuti protokol kesehatan yang berlaku untuk meminimalkan bayi Anda tertular COVID-19 dari Anda.

Perlu diingat, jika kondisi COVID-19 berat, maka Anda mungkin akan dipisahkan sementara waktu dengan bayi Anda.

‎Disarankan bahwa perawatan postpartum setelah melahirkan menjadi proses yang sedang tetap berjalan. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang opsi kunjungan virtual untuk check-in setelah persalinan, serta kebutuhan Anda untuk kunjungan ke dokter.‎

‎Selama masa stres ini, Anda mungkin memiliki lebih banyak kecemasan tentang kesehatan Anda dan kesehatan keluarga Anda. Perhatikan kesehatan mental anda. Jangkaulah keluarga dan teman-teman untuk mendapatkan dukungan sambil mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko infeksi virus ‎‎COVID-19.‎

‎Jika Anda mengalami perubahan suasana hati yang parah, kehilangan nafsu makan, kelelahan yang luar biasa dan kurangnya sukacita dalam hidup tak lama setelah melahirkan, Anda mungkin mengalami depresi pascamelahirkan. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda jika Anda berpikir Anda mungkin depresi, terutama jika gejala Anda tidak memudar sendiri, Anda mengalami kesulitan merawat bayi Anda atau menyelesaikan tugas sehari-hari, atau Anda memiliki pikiran untuk membahayakan diri sendiri atau bayi Anda.‎

Rekomendasi menyusui

‎Penelitian menunjukkan bahwa ASI tidak mungkin menyebarkan virus ‎‎COVID-19‎‎ kepada bayi. Kekhawatiran yang lebih besar adalah apakah ibu yang terinfeksi dapat menularkan virus ke bayi melalui tetesan/droplet pernapasan selama menyusui.‎

‎Jika Anda ‎‎memiliki COVID-19‎‎ atau merupakan orang tanpa gejala yang sedang dalam proses pemeriksaan apakah terkena COVID-19, ambil langkah-langkah untuk menghindari penyebaran virus ke bayi Anda. Ini termasuk mencuci tangan sebelum menyentuh bayi Anda dan, jika mungkin, mengenakan masker wajah selama menyusui. Jika Anda memompa ASI, cuci tangan Anda sebelum menyentuh pompa atau bagian botol apa pun dan ikuti rekomendasi untuk pembersihan pompa yang tepat. Jika memungkinkan, minta bantuan seseorang yang sehat untuk memberi bayi ASI yang dikeluarkan/pompa.‎

Saat ini, tidak ada penelitian tentang keamanan vaksin COVID-19 pada wanita hamil atau menyusui. Namun, jika Anda hamil atau menyusui dan bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin COVID-19, Anda dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang risiko dan manfaatnya.

Perlu diingat bahwa vaksin mRNA COVID-19 tidak mengubah DNA Anda atau menyebabkan perubahan genetik.

Untuk mengurangi risiko infeksi, hindari kontak dekat dengan siapa pun yang sakit atau memiliki gejala dan jaga jarak sekitar 2 meter antara diri Anda dan orang lain di luar rumah tangga Anda. Kenakan masker wajah kain di depan umum dan di tempat kerja. Batasi kontak dengan orang lain sebanyak mungkin. Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk berbagi momen dengan teman dan keluarga melalui foto, video, atau konferensi video. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, atau gunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol.

Yang terpenting, fokuslah mengurus diri sendiri dan bayi Anda. Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda untuk mendiskusikan masalah apa pun. Jika Anda mengalami masalah dalam mengelola stres atau kecemasan, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda atau konselor kesehatan mental tentang strategi mengatasinya.

Diadaptasi dari Mayo Clinic.

Tips Keselamatan bagi Tenaga Kesehatan Garda Depan menghadapi COVID-19

Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang bekerja bersama-sama dalam menghadapi pandemi COVID-19 di garda depan paling rentang terpapar langsung dengan SARS-CoC-2 – virus penyebab COVID-19. Pelajaran yang dapat kita ambil selama ini adalah COVID-19 sangat menular, oleh karena itu perlindungan keselamatan bagi tenaga kesehatan di garda depan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Setahun ini, perkembangan mengenai bagaimana melindungi tenaga kesehatan dari risiko paparan COVID-19 terus berkembang. Sedemikian hingga, pedoman-pedoman keselamatan dikembangkan untuk masing-masing fasilitas layanan kesehatan dapat diterapkan dengan baik.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dasar dari pengembangan pedoman keselamatan adalah prinsip bahwa penularan COVID-19 berasal dari kontak langsung terhadap droplet atau aerosol dari orang yang sakit, atau bisa juga kontak tak langsung seperti permukaan yang tercemar.

Mari kita lihat satu per satu, apa yang dapat dipertimbangkan sebagai pedoman di tempat kerja masing-masing.

Pakaian Pra-kerja

Semua staf tenaga kesehatan yang berangkat dari rumah ke tempat kerja (rumah sakit, klinik, puskesmas) mengenakan pakaian yang bersih yang tidak diharapkan terpapar faktor infeksi/virus.

Oleh karena itu, idealnya pakaian ini harus baru saja dicuci/binatu menggunakan air panas di semua siklusnya (cuci dan bilas), menggunakan deterjen, pemutih, dan dikeringkan menggunakan pengering elektrik atau gas.

Perlu diperhatikan bahwa pencucian hanya dengan detergen saja tidak efektif untuk sepenuhnya menghilangkan atau menonaktifkan sandang yang tercemar partikel virus pada konsentrasi yang tinggi. Dan virus dapat berpindah dari pakaian yang tercemar ke pakaian yang tidak tercemar. Sedemikian hingga rekomendasi praktik binatu pada masa pandemi adalah menggunakan tambahan pemutih (sodium hipoklorit / hidrogen peroksida) dan penggunaan mesin pengering.

Mesin pengering elektrik atau gas selayaknya dioperasikan dengan setelan panas paling tinggi, mencapai 57°C untuk menonaktifkan SARS-CoV-2 yang biasanya terjadi pada suhu 56°C. Sementara itu penggunaan dry cleaning masih dalam perdebatan.

Hanya saja, di Indonesia kita jarang menemukan proses ini secara otomatis. Pertimbangkan mencuci dengan air panas (disiapkan secara manual), dan dijemur di bawah terik matahari sebagai alternatif.

Kebersihan diri

Kebersihan diri penting dalam mengurangi atau menghilangkan virus. Tenaga kesehatan dianjurkan untuk mandi dengan sabun dan air hangat dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum meninggalkan rumah atau ketika sampai di fasilitas layanan kesehatan (sebelum bertugas).

Jika fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tidak menyediakan fasilitas mandi (shower) bagi tenaga kesehatan, dan memilih mandi di rumah, maka staf harus langsung berangkat dari rumah ke fasilitas layanan kesehatan (tidak pakai singgah).

Kombinasi air dan sabun efektif dalam menonaktifkan virus. Jika tenaga kesehatan memiliki masalah pada rambut, misal tidak dapat diberikan sampo, maka kepala/rambut selalu ditutup dengan penutup kepala (misal nurse cap) yang selalu dibersihkan atau diganti/dibuang jika sekali pakai. Jika memiliki masalah kulit kering, maka sabun dengan pelembab dapat membantu meringankan gejala.

APD dikenakan setelah mandi. APD standar yang ditentukan oleh fasyankes selayaknya disediakan di fasyankes dan dikenakan saat tenaga kesehatan tiba di fasyankes. Jika APD tidak tersedia, pakaian kerja berlengan panjang dan menutup sebagian besar anggota tubuh disarankan disediakan oleh fasyankes.

Aksesoris tak penting

Lepaskan semua perhiasan, arloji/jam tangan, dan semua aksesoris tak penting yang tidak tertutup oleh pakaian. Jam tangan – apa pun jenisnya – tidak dianjurkan. Apalagi saat ini semua fungsi jam tangan telah dapat digantikan oleh telepon pintar (smartphone).

Jika pasokan respirator terbatas atau dipakai ulang, misal penggunaan ulang N95 dilakukan. Maka disarankan nakes tidak menggunakan kosmetik untuk makeup wajah guna menghindari cemaran/noda pada masker. Jika ada masker yang ternoda, maka tidak disarankan untuk digunakan atau didaur ulang.

Identitas

Kartu identitas nakes ditempatkan pada wadah yang mudah dibersihkan, misalnya dilaminating. Pembersihan bisa menggunakan usap disinfeksi atau alkohol.

Gunakan desain identitas yang mudah dibersihkan, dan tempat penampungan identitas juga dibersihkan secara berkala.

Cuci tangan

Setiap nakes mencuci tangan dengan sabun dan air hangat mengalir atau pembersih tangan dengan antiseptik sesuai dengan protokol yang berlaku di fasilitas masing-masing.

Untuk menghindari kerusakan kulit, maka disarankan menggunakan sabun atau cairan antiseptik yang mengandung bahan pelembab. Jika tidak tersedia, maka sediakan dan gunakan pelembab terpisah setelah melakukan cuci tangan.

Telepon seluler

Ponsel (smartphone) selalu tersentuh oleh tangan tenaga kesehatan, oleh karenanya perlu pembersihan. Ponsel dan penutupnya perlu dibersihkan setidaknya sekali sehari, disarankan setelah selesai giliran jaga.

Pabrik ponsel biasanya memiliki panduan pembersihan ponsel produksi mereka masing-masing. Beberapa menyarankan menggunakan lap disinfeksi, sementara yang lain merekomendasikan tidak menggunakan lap disinfeksi. Periksa masing-masing pedoman yang diberikan oleh pabrik ponsel yang digunakan.

Alternatif yang bisa digunakan adalah membersihkan dengan kain serat mikro (microfiber). Kain serat mikro dapat dilembapkan dengan cairan pembersih yang direkomendasikan, dan digunakan untuk membersihkan ponsel. Kain kemudian dapat dipakai ulang setelah dicuci dengan air hangat dan detergen.

Pelindung mata

Pelindung mata seperti antifog goggle atau face shield baik yang didesain bagi mereka yang mengenakan atau tidak mengenakan kacamata disarankan untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

Goggle dan face shield dipelihara agar selalu bersih dengan teknik yang sama seperti yang dilakukan pada ponsel. Perlindungan ini tetap disarankan walau bukti penularan SARS-CoV-2 melalui air mata tidak kuat.

Penggunaan kacamata saja tidak pernah diterima sebagai perlindungan mata jika kewaspadaan isolasi airborne dibutuhkan pada kasus SARS-CoV-2. Hindari menyentuh kacamata dengan sebelum cuci tangan, misalnya ketika hendak membetulkan posisi kacamata.

Walau saat ini tidak ada bukti peningkatan risiko infeksi SARS-CoV-2 melalui lensa kontak, tenaga kesehatan yang mengenakannya tetap disarankan waspada, termasuk proses pembersihan dan disinfeksinya. Lensa kontak harian sekali pakai disarankan. Jika memiliki gejala seperti flu, maka tidak disarankan menggunakan lensa kontak.

Perlindungan hidung dan mulut

Respirator N95 atau masker yang disertifikasi setara (KN95) direkomendasikan dipakai ketika pelayanan pasien positif COVID-19, baik dengan gejala ataupun tidak.

Ketika masker digunakan, maka sebaiknya tidak dilepas atau disentuh sepanjang pemakaian atau sepanjang shift jaga. Jika masker terpaksa dilepas, walau tidak dianjurkan, protokol pelepasan masker harus ditaati.

Pelapasan dan pemasangan kembali masker dilakukan dengan seksama, terutama agar tidak merusak integritas masker dan menghindari (bagian dalam) masker terkontaminasi. Ketika dikenakan kembali perhatikan bahwa tidak ada celah kebocoran antar masker dan permukaan kulit.

Apabila masker terpapar cairan tubuh. atau minyak, maka segera diganti, oleh karena carian dan minyak dapat mengurangi kebergunaan masker.

Jangan lupa, sebelum menggunakan respirator N95, pengguna harus melakukan tes kesesuaian (fit test) untuk menentukan dan menjamin model dan ukuran respirator.

Sebagai catatan, N95 sekali pakai tidak bisa dibersihkan dan didesinfeksi secara efektif. Ikuti pedoman PPI di fasilitas masing-masing jika terdapat kebijakan menggunakan kembali N95 sekali pakai. Dan masker dalam bentuk apa pun sangat tidak dianjurkan untuk dipakai secara berbagi dengan orang lain.

Respirator N95 bisa digunakan dalam kontak dekat dengan beberapa pasien secara bergilir tanpa perlu mengganti pada setiap kali perpindahan ke pasien berikutnya. Penggunaan respirator dapat diperpanjang pada kondisi menghadapi patogen yang sama di bangsal atau ruangan yang sama. Perpanjangan penggunaan ini direkomendasikan sebagai pilihan untuk menghemat respirator pada situasi wabah/pandemi.

Tenaga kesehatan selayaknya mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan dan pelepasan respirator N95, serta bagaimana memeriksa integritas segel antar masker dan permukaan kulit.

N95 yang kedaluwarsa hanya digunakan apabila tidak tersedia yang baru. Tenaga kesehatan selayaknya hanya menggunakan N95 tersertifikasi NIOSH dan diberitahukan apabila mereka sedang menggunakan respirator yang kedaluwarsa.

Penggunaan respirator atau masker berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pada area kulit yang mendapatkan tekanan langsung dari tepi respirator/masker. Area di dalam masker juga bisa tercemar oleh gabungan kelembapan, materi dari luaran nasal dan oral, yang berpotensi menimbulkan ruam, iritasi dan sisik- mengarah pada dermatitis perioral. Pertimbangkan hidrasi kulit yang baik dengan memanfaatkan pelembab.

Menggunakan N95 dalam jangka panjang memiliki efek buruk bagi tenaga kesehatan, termasuk hipoksia dan hiperkapnea hening, yang mungkin menurunkan efisiensi kerja dan kemampuan mengambil keputusan. Gejala tambahan seperti pusing, mengantuk, kulit kemerahan, napas pendek, perubahan kondisi kejiwaan, laju napas menjadi cepat, kedutan otot, hingga kejang. Menghembuskan dan menghirup kembali karbon dioksida secara berulang-ulang yang terperangkap di dalam masker dalam menyebabkan masalah kesehatan, keparahannya bergantung pada kondisi kesehatan penggunanya. Mengemudi sambil menggunakan N95 tidak disarankan oleh karena kondisi di atas bisa mengurangi kemampuan mengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan saat mengemudi.

Rambut wajah

Untuk menjamin respirator terpasang pada kondisi terbaik, memang sebaiknya rambut wajah seperti kumis dan janggut terpotong pendek. Walau pun N95 direkomendasikan untuk mengurangi penyebaran COVID-19, tapi tidak ada anjuran resmi untuk mencukur janggut.

Tidak ada bukti bahwa memelihara janggut meningkatkan penyebaran COVID-19, namun petugas kesehatan garda depan wajib memastikan ketika menggunakan respirator telah terpasang pas pada wajah dan rambut wajah tidak mengurangi atau melonggarkan respirator.

Sebagai alternatif, N95 dapat diganti menggunakan PAPR.

Sementara belum terdapat banyak bukti terkait kaitan rambut wajah dengan penularan COVID-19, tenaga kesehatan yang memelihara rambut wajah disarankan merawat dan membersihkannya dengan baik.

Sarung tangan sekali pakai

Sarung tangan (handscooon) digunakan pada masing-masing pasien saat diperlukan. Sarung tangan periksa non-steril sekali pakai yang biasanya digunakan sehari-hari di layanan kesehatan disarankan digunakan untuk merawat pasien terduga atau terkonfirmasi COVID-19.

Sarung tangan ini biasanya terbuat dari polimer (lateks atau nitrile) yang tahan terhadap virus. Sarung tangan harus digunakan saat kontak dengan darah, feses, dan cairan tubuh lain (saliva, sputum, ingus, air mata, muntahan, urine) pasien.

Gunakan juga sarung tangan saat menangani barang-barang yang tercemar.

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan cuci tangan antiseptik sebelum mengenakan dan setelah melepas sarung tangan.

Ganti sarung tangan segera apabila terjadi kebocoran atau robekan pada sarung tangan. Buang sarung tangan pada tempat sampah infeksius yang telah ditentukan. Tidak direkomendasikan menggunakan sarung tangan ganda ketika merawat pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19. Demikian juga penggunaan sarung tangan yang diperpanjang tidak diperlukan ketika merawat.

Pelindung badan (coverall)

Belum ada penelitian rinci yang membandingkan antara jas, gaun, dan coverall; namun semua dapat digunakan oleh tenaga kesehatan selama perawatan pasien pada umumnya. Dengan adanya temuan hasil positif SARS-CoV-2 secara sporadis pada pergelangan pakaian, maka cukup wajar bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan coverall sebagai alternatif jas putih atau gaun bedah pada perawatan, pengobatan, dan pemindahan pasien COVIOD-19.

Pertimbangkan pemilihan pakaian pelindung di fasyankes yang dapat melindungi dari mikroorganisme dalam darah dan cairan tubuh.

Pelatihan diperlukan oleh staf sehingga dapat tidak hanya mengenakan namun yang terpenting bagaimana melepas coverall sedemikian hingga mencegah swakontaminasi dari serat ke wajah.

Alas kaki

Bawa sepasang sepatu, bot, atau alas kaki layak lainnya untuk digunakan hanya di fasyankes. Setiap kali selesai shift jaga, bersihkan semua permukaan alas kaki (termasuk bagian dalam dan bawah) dengan semprotan disinfektan. Lalu tempatkan pada wadah plastik atau kertas/kardus tertutup dan tinggalkan di fasyankes.

Jika alas kaki bisa dikantongkan dengan baik, maka dapat ditinggalkan di fasyankes maupun dibawa pulang. Tidak rekomendasikan memilih alas kaki yang bertali, misalnya tali sepatu, karena material berpori dapat menyimpan partikel virus.

Sepatu yang dipakai dari rumah menuju fasyankes juga disimpan dalam wadah tertutup saat tiba di fasyankes dan digunakan kembali saat kembali ke rumah atau ke tempat lain.

SARS-CoV-2 juga dapat menempel pada alas sepatu. Oleh karena itu, sepatu yang digunakan saat pulang juga bisa terkontaminasi, dan tidak disarankan untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tinggalkan di tempat lain yang cukup aman (dari jangkauan orang lain, terutama anak-anak), misalnya di garasi atau sediakan tempat sepatu sebelum masuk rumah.

Kebersihan pascajaga

Petugas kesehatan dapat langsung mandi setelah selesai jam tugasnya jika fasilitas menyediakan tempat pemandian (shower). Fasilitas yang menyediakan area mandi dapat mengatur waktu mandi dan selesai shift, sehingga tidak menumpuk.

Apabila tidak tersedia fasilitas mandi, tenaga kesehatan langsung menuju area pelepasan APD. Lepas APD menggunakan protokol yang disepakati (lihat contoh video di atas). Mengikuti prosedur akan menurunkan risiko penyebaran infeksi.

Setelah melepas APD, cuci tangan dan bagian tubuh lain yang terpapar dengan sabun dan air hangat mengalir.

Kenakan pakaian bersih sebelum kembali pulang ke rumah, dan sesampai di rumah disarankan untuk melepas/berganti pakaian di area khusus (tidak di dalam rumah), lalu pakaian tadi langsung dicuci atau jika tidak langsung dicuci disimpan dalam wadah plastik tertutup sampai pencucian nanti. Setelahnya langsung mandi dan keramas dengan sabun dan air mengalir.

Melepas APD

Seluruh APD harus ditempatkan pada wadah yang sesuai sebelum meninggalkan tempat kerja. Fasyankes menyediakan wadah-wadah terpisah ini untuk masing-masing masker, penutup alas kaki, sarung tangan, dan penutup rambut.

Goggle dan pakaian yang dapat digunakan ulang dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya untuk digunakan kembali oleh staf kembali pada hari berikutnya. Apabila penutup rambut akan digunakan ulang, maka selayaknya diberikan label nama nakes dengan spidol hitam permanen.

Selalu cuci tangan setelah melepaskan setiap jenis APD.

Jangan lupa untuk mandi pasca melepaskan APD. Dan jika tidak tersedia fasilitas mandi, nakes dapat langsung pulang dan mandi di rumah.

Pakaian yang digunakan setelah melepas APD adalah pakaian bersih yang dibawa dari rumah, baik yang dikenakan saat datang ke fasyankes atau pakaian terpisah yang disiapkan sebelumnya. Setelah sampai di rumah, disarankan petugas mandi kembali.

Alat transportasi milik pribadi

Bersihkan kendaraan setiap hari. Uji pada jok kendaraan bisa ditemukan partikel COVID-19. Bersihkan terutama pada area permukaan yang sering disentuh, termasuk area pijakan. Media pembersih yang sesuai dan disinfektan disarankan.

Pembersihan ini penting terutama ketika akan mengantar bayi, pasien lansia, daya tahan terganggu, atau mereka dengan kondisi medis yang menyebabkan berisiko lebih tinggi. Hal ini juga menjadi langkah tambahan untuk mencegah SARS-CoV-2 terbatas oleh tenaga kesehatan.

Jika memungkinkan, parkirlah kendaraan di bawah terik matahari saat ditinggal bekerja. Sinar matahari diketahui berperan sebagai disinfektan dan dapat membantu menonaktifkan partikel virus.

Pemeriksaan SARS-C0V-2

Dokter, perawat, tenaga kesehatan dan staf lainnya (misal petugas kebersihan dan perawatan alat) yang bekerja di garda depan selayaknya diuji untuk antigen SARS-CoV-2 sebelum mulai bekerja pada unitnya dan dilanjutkan/diulang setiap 3 hari selama pandemi.

Meski sudah menerapkan kewaspadaan yang baik, tenaga kesehatan dan staf lainnya juga dapat terpapar COVID-19 di fasilitas tempat mereka bekerja, rumah, dan/atau di tempat lainnya di masyarakat (misalnya di pasar ketika berbelanja).

Penutup

Meski sejumlah tips ini tidak semua bisa diaplikasikan, namun menambah beberapa daftar yang bisa dilakukan dapat mengurangi potensi risiko keselamatan akibat paparan COVID-19 bagi tenaga kesehatan dan keluarganya.

Tentu saja selain bekerja, tenaga kesehatan juga bisa terpapar di kegiatan sehari-harinya saat tidak bekerja. Maka ketika tidak bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai anggota masyarakat, tenaga kesehatan selayaknya juga mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Hal yang paling sulit mungkin adalah mengubah kebiasaan, karena tidak semua kebiasaan pencegahan infeksi bisa hadir dengan sendiri secara alami. Membiasakan diri patuh pada protokol adalah hal yang penting, dan menjaga mutu kepatuhan ini juga penting.

Selalu bersama-sama dengan sejawat lainnya untuk meningkatkan mutu keselamatan pelayanan di mana pun Anda bekerja.

Catatan: adaptasi didapatkan dari Sage Journal.

Apakah COVID-19 berasal dari Laboratorium di Wuhan?

Setahun COVID-19 dan pelbagai varian – dan bahkan varian dari varian – bermunculan, namun pertanyaan dari mana virus ini berasal belum terjawab. Bulan-bulan awal kemunculan COVID-19 kita sempat mendengar SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 mungkin saja berasal dari sebuah laboratorium penelitian virus di Wuhan, Tiongkok.

Pernyataan tersebut banyak beredar, dan masuk ke dalam kategori teori konspirasi karena tidak memiliki dasar klaim yang dapat diterima bersama.

Tapi pernyataan ini kembali berulang, mengingat belum banyak yang bisa dihasilkan oleh tim investigasi WHO sampai saat ini, dan sejumlah kritik di layangkan pada organisasi kesehatan dunia ini.

Photo by Edward Jenner on Pexels.com

Pada awal penyelidikan oleh tim investigasi, sempat muncul pernyataan bahwa kemungkinan “kebocoran dari laboratorium” sangat kecil, sehingga tidak dipertimbangkan.

Dalam laporan resmi yang diperbarui per 6 April 2021 ini, ada sejumlah poin yang menjadi kesimpulan:

  1. Menghubungkan antara data genom dan data epidemiologi diperlukan untuk analisis molekuler dalam mendukung penelitian pelacakan asal.
  2. Kontrol mutu sekuensi genom penting untuk menyediakan hasil yang dapat dipercaya.
  3. Virus dari beberapa kasus pasar Huanan identik, menyiratkan dugaan kejadian penyebaran.
  4. Analisa genom kasus-kasus awal juga menunjukkan kebinekaan, menyiratkan dugaan sumber-sumber lain (tambahan) dan peredaran yang tidak dikenal.
  5. Perkiraan dari waktu hingga ke hulu bersama (common ancestor) – baik dari literatur maupun analisa ulang menyiratkan bahwa penularan atau peredaran virus mungkin baru pada akhir 2019.
  6. Hingga saat ini, sekuensi genom yang berhubungan paling dekat telah ditemukan pada kelelawar.
  7. Laporan deteksi SARS-CoV-2 pada sampel kasus dan lingkungan sebelum Januari 2020 di pelbagai tempat di seluruh dunia memerlukan tindak lanjut.

Dalam laporan yang sama juga dikeluarkan sejumlah rekomendasi, yang pada intinya menyuratkan bahwa pelbagai penelitian yang lebih luas dan mendalam diperlukan.

Hanya saja, beberapa minggu sebelumnya, laporan WHO sempat dipertanyakan oleh sejumlah negara mengingat bagaimana laporan itu dibuat.

Perdebatan kemudian masih berlanjut, dan kemungkinan bahwa virus berasal dari laboratorium di Wuhan masih menjadi pertanyaan banyak pihak. Yang dulu menjadi sebuah konspirasi, kini menjadi sebuah teori.

Di manakah asal mula SARS-CoV-2? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Sebuah debat di kanal 60 Minutes Australia cukup bisa menjadi rujukan, bagaimana kulminasi perdebatan terbentuk dan hadir hingga saat ini. Termasuk bagaimana pertanyaan ini menjadi sebuah alat politik di sejumlah negara untuk menggiring opini pendukung politik.

Apa yang menjadi penting adalah bahwa pertanyaan dalam judul tulisan ini masih tetap sebuah pertanyaan, tanpa bukti kuat yang menyatakan “YA” atau sebaliknya.

Bagi saya sendiri, apa yang penting saat ini bukan menjawab pertanyaan tersebut dalam waktu dekat. Namun bagaimana mengendalikan agar pandemi di sekitar kita tidak menjadi tragedi, jangan seperti di Italia, Amerika, atau bahkan yang saat ini sedang berlangsung tsunami COVID-19 di India.

Jika suatu saat ini pertanyaan ini dapat terjawab, belum tentu tidak terdapat konflik dan debat setelahnya. Maka menurut saya, mari kita menyeruput kopi dan tetap berkomitmen pada pelaksanaan protokol kesehatan di era “new normal.”

Memanfaatkan Open Knowledge Maps

Ingin menulis sesuatu yang bersifat ilmiah, mulai dari esai hingga karya tulis dan penelitian? Kita akan memerlukan banyak membaca terlebih dahulu, meskipun kita tahu mengenai topik yang hendak kita tulis. Apa yang dipilih untuk dibaca? Ini menjadi pertanyaan berikutnya.

Sebagai praktisi kesehatan, sumber referensi saya biasanya berkisar pada situs kesehatan dan jurnal kesehatan. Sebagian besar dapat diakses melalui selingkung di PubMed, dan sebagian lain mungkin ditelusuri dengan memanfaatkan mesin Google Cendikia.

Tentu saja ada “mainan” lain yang bisa digunakan, yaitu Open Knowledge Maps.

Let us change the way we discover research together

Layanan publik ini memberikan kita sebuah cara baru untuk menemukan penelitian (dan tulisan lain) terkait topik yang hendak kita dalami dan/atau teliti.

Pengguna bisa mendapatkan gambaran, konsep terkait, pengelompokan topik, dan penandaan konten yang terbuka bagi publik (open content). Fitur terakhir biasanya sangat diminati oleh kelompok yang memiliki anggaran terbatas untuk mengakses sebuah laporan penelitian – seperti saya.

Penggunaannya juga tidak sulit. Pengguna cukup memasukkan kata kunci topik yang hendak dicari, dan sistem akan mencari 100 dokumen paling terkait dengan kata kunci tersebut. Sistem akan menentukan kemiripan kata kunci dan mengembangkan pemetaan visual bagi pengguna.

Open Knowledge Map akan membantu kita dalam mencari dan mengumpulkan, kira-kira ke arah mana tulisan atau penelitian kita dapat berjalan.

jamovi – aplikasi statistika gratis

Mereka yang mengerjakan penelitian sederhana deskriptif atau analisis varian, akan memerlukan perhitungan statistik yang cermat. Aplikasi statistika biasanya diminati untuk membantu proses ini sehingga dapat berjalan dengan lebih mudah.

Aplikasi yang populer di Indonesia adalah SPSS yang dilisensikan oleh IBM. Tentu saja aplikasi berlisensi ini cukup mahal dan menguras anggaran bagi mereka yang hanya melakukan penelitian kecil dengan dana terbatas. Bahkan alternatif populer lain seperti Minitab juga tidak serta merta terjangkau.

Kabar baiknya, ada alternatif lain yang gratis seperti GNU PSPP – yang sayangnya kurang populer. Alternatif lain yang suka saya gunakan adalah JASP, dengan catatan: filosofi JASP lebih kuat ke arah bentuk Bayesian.

Seperti halnya JASP yang berhasil muncul dengan pengembangan R Language, banyak aplikasi lain yang juga berkembang menjadi aplikasi berfokus pada antarmuka yang ramah pengguna. Salah satunya yang tidak kalah populer dari JASP adalah jamovi.

Proyek jamovi didirikan untuk mengembangkan platform statistik gratis dan terbuka yang intuitif untuk digunakan, dan dapat memberikan perkembangan terbaru dalam metodologi statistik. Inti dari filosofi jamovi, adalah bahwa perangkat lunak ilmiah harus “didorong oleh komunitas”, di mana setiap orang dapat mengembangkan dan menerbitkan analisis, dan membuatnya tersedia untuk khalayak luas.

jamovi bertujuan untuk menjadi platform netral dan tidak mengambil posisi terkait filosofi statistik yang bersaing. Proyek ini tidak didirikan untuk mempromosikan ideologi statistik tertentu, melainkan ingin berfungsi sebagai tempat yang aman di mana pendekatan statistik yang berbeda dapat dipublikasikan secara berdampingan, dan menganggap diri mereka sebagai anggota komunitas jamovi yang terbaik.

Aplikasi jamovi tersedia dalam dua bentuk, yaitu bentuk stabil dan bentuk terbaru. Bentuk stabil biasanya disarankan bagi mereka yang hendak menggunakan jamovi dalam jangka panjang dan menginginkan aplikasi yang bebas bug saat digunakan. Bentuk terkini ditujukan bagi mereka yang ingin memanfaatkan fitur terbaru yang disediakan oleh jamovi dengan kemungkinan sejumlah bug mungkin bisa muncul saat digunakan.

Pengguna bisa mendapatkan jamovi untuk platform Windows, macOS, Linux, dan ChromeOS. Pengguna juga bisa belajar statistik dengan memanfaatkan jamovi melalui kanal YouTube datalabcc. Untuk mengunduh dan memasang jamovi pada komputer masing-masing, silakan merujuk pada manual pengguna.