Terjemahan Dokumen dengan Word 365

Bagaimana menerjemahkan bahasa asing, seperti bahasa Inggris ke bahasa Indonesia secara otomatis? Aplikasi populer seperti Google Translate cukup banyak digunakan. Tapi bagaimana jika sudah dalam bentuk dokumen, misalnya Microsoft Word atau LibreOffice Writer? Dokumen ini juga bisa diterjemahkan secara otomatis.

Pengguna Windows 10 dan pelanggan Microsoft 365 mendapatkan fungsi ini secara otomatis pada Word 365 jika setelan bahasa lokal yang digunakan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh dokumen yang diakses/dibuka.

Pengguna akan mendapatkan penawaran untuk menerjemahkan sebuah dokumen dalam bahasa asing.

Pilihan untuk menerjemahkan dokumen pada Word 365

Bagaimana dengan hasilnya?

Menurut saya, hasil dari sistem penerjemah milik Microsoft 365 cukup baik. Bahkan Bing Translator yang terintegrasi dengan peramban Microsoft Edge juga cukup sering saya manfaatkan.

Tentu saja “campur tangan” pengguna tetap diperlukan, karena hasil terjemahan oleh sistem kecerdasan buatan sering belum dapat dikonsumsi begitu saja. Setidaknya pekerjaan menerjemahkan menjadi lebih mudah.

Hasil terjemahan oleh Word 365

Lalu bagaimana jika dokumen dalam bentuk PDF? Word 365 juga sudah bisa mengakses berkas PDF dan mengonversi menjadi bentuk dokumen yang dapat dibaca/sunting. Pengguna bisa membuka dokumen PDF langsung lewat Word 365, atau memilih mengonversi dengan aplikasi yang sesuai.

Tentu saja apabila ukuran dokumen cukup besar, maka waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Bagaimana, sudah mencoba?

Setahun COVID-19

Ketika COVID-19 pertama kali diidentifikasi pada akhir 2019 di Tiongkok, sangat sedikit yang diketahui tentang penyakit ini, bagaimana mengobatinya atau apa dampaknya. Setahun kemudian, pengetahuan telah berkembang dan beberapa vaksin telah dikembangkan. Jadi apa yang sekarang kita ketahui tentang COVID-19? Dan apa yang mungkin terjadi dengan penyakit di masa depan?

Antara COVID-19 dan Flu

Pada hari-hari awal pandemi beberapa laporan menyatakan COVID-19 serupa dengan flu musiman – namun COVID dan flu adalah virus pernapasan yang dapat menyebabkan apa pun dari penyakit ringan hingga mengancam jiwa, dan kita sekarang tahu bahwa ada beberapa perbedaan penting.

COVID-19 memiliki ‘masa inkubasi’ yang lebih lama daripada flu (sekitar 5-6 hari) yang berarti tidak menyebar secepat flu, namun dengan ‘angka reproduksi’ sedikit lebih tinggi (2,4 s.d. 3,1 dibandingkan dengan 2 pada flu), yang berarti lebih menular.

Pada influenza, anak-anak biasanya menjadi pembawa aktif penyebaran penyakit. Sementara pada COVID-19, anak-anak tampaknya tidak terlalu terpengaruh dibandingkan orang dewasa – dan kemungkinan anak-anak terkena penyakit ini dari orang dewasa dibandingkan sebaliknya.

Photo by Gustavo Fring on Pexels.com

Sayangnya, angka kematian (mortalitas) tampaknya lebih tinggi pada COVID-19. Tentu saja hal ini masih memerlukan lebih banyak data dan perkiraan yang komprehensif. Tapi setidaknya sekitar 0,8% dari keseluruhan kasus terkonfirmasi, dan memuncak pada lansia. Angka kematian pada pasien berjela berat yang perlu rawat inap di rumah sakit sekitar tiga kali lebih tinggi pada kasus COVID-19.

Partikel airborne bisa menularkan

Seperti banyak penyakit akibat virus, COVID-19 ditularkan melalui partikel cair, dilepaskan ke udara atau permukaan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Pada awal pandemi diperkirakan hanya tetesan yang lebih besar – mungkin menempel di permukaan atau dari kontak langsung – dapat menyebabkan infeksi.

Kita sekarang tahu bahwa COVID-19 juga dapat ditularkan melalui partikel aerosol kecil, yang berarti virus dapat melayang di udara cukup lama pada ruangan berventilasi buruk. Virus ini dapat menulari orang lain walau-pun orang tersebut sudah menjaga jarak.

Para ilmuwan juga sekarang tahu bahwa beberapa orang dapat membawa virus tetapi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Diperkirakan bahwa 1 dari 5 orang mungkin tidak menunjukkan gejala tetapi mungkin masih menular, yang berarti dimungkinkan untuk terkena COVID-19 dari seseorang yang tampaknya benar-benar sehat.

Banyak wajah

Awalnya, tidak banyak diketahui mengenai gejala COVID-19. Mulai dari menyerupai influenza hingga pneumonia adalah penggambaran COVID-19 pada awalnya.

Kini kita juga tahu bahwa gejala seperti kehilangan atau penurunan indera penciuman atau perasa juga termasuk gejala COVID-19. Beberapa gejala lain dapat muncul secara terpisah atau bersamaan, seperti: sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan sendiri, diare, mual-muntah, meriang, ruam pada kulit, hidung tersumbat, hingga mata merah (konjungtivitis).

Mereka yang berisiko

Ketika pertama kali muncul, kita tidak mengetahui secara jelas siapa yang paling rentan terhadap penyakit ini. Dokter kemudian secara tepat mengasumsikan bahwa mereka dengan kondisi sakit tertentu lebih berisiko terhadap kondisi penyakit yang lebih berat. Kondisi ini termasuk kanker, diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan usia lanjut.

Pun demikian, kita juga kini tahu bahwa anak-anak memiliki risiko kecil pada infeksi COVID-19 dibandingkan orang dewasa, meski pada kasus yang jarang anak-anak mungkin menderita sindrom peradangan berminggu-minggu pasca pajanan.

Lelah Berkelanjutan

Umumnya, COVID-19 hanya berlangsung dalam hitungan pekan, beberapa minggu paling lama hingga pasien sembuh (pada kasus yang sembuh).

Namun kini sejumlah bukti menunjukkan bahwa seseorang yang sembuh dari COVID-19 dapat menderita apa yang disebut “long COVID” – sebuah kondisi kelelahan berkepanjangan, seperti halnya pada PVF – post viral fatigue.

Gejalanya berupa lemas, lelah, sesak napas, dan sejumlah keluhan lain yang berlangsung terus menerus dalam jangka waktu lama (hingga berbulan-bulan). Kondisi ini masih relatif sesuatu yang belum banyak diketahui dan masih dipelajari. Sehingga belum dapat diketahui pasti, sampai kapan gejala akan menetap.

Evolusi pengobatan

Ketika COVID-19 pertama kali muncul pada awal 2020, tidak ada pengobatan yang ditetapkan untuk penyakit ini selain obat pereda nyeri untuk meredakan gejala, memberikan oksigen kepada mereka yang membutuhkannya, dan perawatan ventilator jika oksigen dengan masker tidak mencukupi.

Tren pengobatan COVID-19 memang belum mendapatkan konsensus, namun obat-obat antiviral mulai banyak mendapatkan perhatian dan tersedia sebagai protokol pengobatan dalam situasi kedaruratan.

Pemahaman bahwa COVID-19 mampu menyebabkan hiperkoagulasi juga mengubah praktik penggunaan obat-obat pengencer darah (antikoagulan) baik dalam upaya preventif maupun kuratif.

Pengelolaan pasien mulai dari posisi berbaring hingga perawatan intensif juga banyak mengalami penyesuaian.

Vaksin dan masa depan

Kita telah melihat vaksin diberikan di mana-mana sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan oleh pengampu kebijakan. Sejumlah vaksin dibuktikan dapat mencegah COVID-19 hingga 97% dengan keamanan yang dikaji secara seksama.

Pun demikian, kita masih belum tahu jumlah vaksinasi yang diperlukan hingga terbentuk kekebalan komunitas (herd immunity) di masyarakat kita, angka yang menunjukkan jumlah populasi yang membawa antibodi cukup banyak untuk mengeleminasi COVID-19.

Perkiraan ini dipersulit juga karena COVID-19 mudah menyebar dan bermutasi. Kita memiliki angka 95% populasi untuk campak dan 80% untuk polio, namun kita belum memiliki angka pasti jumlah populasi dengan kekebalan untuk COVID-19.

Apa yang mungkin terjadi adalah COVID-19 akan menjadi ‘endemik’ – artinya virus itu ada sepanjang waktu pada tingkat yang rendah, dengan jumlah orang yang terinfeksi sedikit dan beberapa meninggal setiap tahun – agak mirip flu sekarang. Saat varian menjadi lebih dipahami, kita mungkin akan memiliki booster (penguat) vaksin COVID-19 tahunan dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan untuk varian flu.

Kemungkinan COVID-19 akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kita untuk beberapa waktu mendatang. Untuk memastikan efek pada kehidupan sehari-hari diminimalkan, penting bahwa orang divaksinasi untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain, dan untuk menurunkan tingkat infeksi secara keseluruhan.

Catatan: diadaptasi dari Patient.info – informasi mengenai COVID-19 pada berupa setiap saat, selalu pastikan informasi berasal dari sumber resmi.

Bertemu di luar ruangan secara aman pada masa pandemi

Pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan kita tidak boleh abai. Mutasi sejumlah varian SARS-CoV-2 sudah mulai mengarah pada immune escape, yang bermakna mereka bisa jadi lolos dari daya tahan yang sudah dimiliki oleh orang yang sudah divaksinasi atau sudah pernah terkena COVID-19.

Pun demikian, kegiatan masyarakat terus berlangsung. Tidak memungkinkan melakukan karantina lagi melihat kondisi sosiokultural bangsa kita. Pertemuan masih berlangsung, hajatan juga tetap jalan, seperti yang tampil cemerlang di media massa beberapa waktu yang lalu.

Jika kita tetap ingin berada dan bertemu sahabat dan sanak keluarga di luar rumah, bagaimana untuk dapat menjaga diri kita tetap aman?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Ikuti Protokol Kesehatan

Aturan dan protokol kesehatan bisa berubah-ubah sesuai kondisi. Anda bisa mendapati bahwa aturan di daerah berubah dari ketat menjadi longgar dan sebaliknya. Penting bagi semua orang untuk taat terhadap aturan yang berlaku di mana dia berada.

Aturan kadang mungkin tidak masuk akal, misalnya melarang kontak fisik antara orang di luar ruangan. Ini bermakna Anda tidak bisa lagi cipika-cipiki bersama orang-orang terdekat, karena dapat meningkatkan risiko transmisi virus.

Jika Anda termasuk orang yang terdeteksi positif COVID-19, reaktif tes cepat (rapid test), hingga kontak erat dengan penderita COVID-19 (walau hasil tes belum keluar atau negatif), maka Anda termasuk kelompok orang yang berpotensi menularkan virus ini ke orang lain. Tergantung kondisi Anda, maka Anda dapat melakukan isolasi mandiri hingga dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga, walau kondisi Anda cukup bagus, Anda benar-benar harus menahan diri untuk bepergian ke luar rumah dan bertemu orang-orang.

Demikian juga, jika Anda merasa terkena COVID-19, jangan bertemu dengan siapa-pun kecuali petugas kesehatan yang ditunjuk oleh lembaga resmi untuk melakukan pelacakan, penemuan kasus, dan pengelolaan pasien COVID-19. Gunakan layanan hotline atau sejenisnya untuk mendapatkan bantuan.

Jaga Jarak

Bertemu sahabat, rekan, dan anggota keluarga pada umumnya tidak dilarang, namun kesadaran untuk jaga jarak sangat penting.

Kita harus ingat bahwa banyak orang belum menerima vaksinasi, sehingga perlawanan kita terhadap pencegahan penyebaran COVID-19 masih jauh dari eliminasinya.

Hal ini bisa dilihat dari fenomena pelonjakan kasus COVID-19 setiap kali kelonggaran pembatasan sosial diberlakukan. Dan ini bisa terjadi di masa saja, misalnya ketika dibukanya gelombang uji coba sekolah tatap muka.

Jaga jarak (social distancing) hal yang sederhana, mudah dilakukan, dan masuk akal. Karena virus ini berpindah dari orang ke orang, maka makin dekat jarak Anda dengan orang lain, maka makin mudah Anda menulari atau tertular COVID-19.

Ingat, dua meter!

Tidak ada jaminan lawan bicara Anda atau Anda sendiri bebas COVID-19.

Masker atau Tanpa Masker

Masker tidak melindungi Anda dari terkena COVID-19, sehingga dalam pedoman perlindungan terhadap COVID-19, kebanyakan masker tidak pernah diangkat. Sehingga bukan sesuatu yang wajib dikenakan.

Tapi jika saya menulis demikian, bisa jadi menjadi sebuah kontroversi.

Ya, masker memang tidak wajib. Syarat dan ketentuan berlaku.

Walau masker tidak melindungi Anda dari COVID-19, tapi masker jika Anda kenakan dapat melindungi orang lain tertular COVID-19 dari Anda.

Mengikuti premis di atas, jika situasi jarak jarak sulit dipertahankan, dan Anda berada di keramaian, maka setiap orang yang menggunakan masker akan melindungi orang-orang di sekitarnya.

Ini merupakan tanggung jawab sosial setiap orang untuk melindungi orang lain dari penyebaran dan infeksi COVID-19.

Sehingga jika Anda berada di keramaian, bertransaksi/belanja tatap muka tapi menolak menggunakan masker, maka Anda sedang membahayakan orang yang Anda ajak bertatap muka. Tidak salah jika orang akan mengingatkan atau bahkan mungkin memarahi Anda di depan umum, karena Anda mengabaikan tanggung jawab sosial Anda.

Tapi jika Anda berswafoto di puncak gunung yang cuma ada Anda sendiri di alam terbuka, maka menggunakan masker adalah pilihan tren mode busana yang mungkin Anda suka, bukan merupakan tanggung jawab sosial, dan Anda tidak perlu menggunakannya.

Masuk Kamar Kecil

Saat pandemi, kamar kecil bisa jadi wahana penyebaran COVID-19 yang sering terlewati. Sangat disarankan untuk menggunakan toilet pribadi, atau di rumah aja. Tapi ketika di luar rumah, maka penggunaan kamar kecil sering tidak terhindarkan.

Berikut adalah beberapa saran dalam menggunakan toilet umum:

  • Tunggu dulu setelah orang lain menggunakan toilet, jangan langsung masuk. Biarkan virus mengendap ke lantai toilet – atau anggap saja demikian. Masuk setidaknya 30 menit setelah pengguna toilet terakhir keluar dari toilet.
  • Selalu bersihkan tangan sebelum dan sesudah masuk/keluar toilet.
  • Jangan mengeluarkan barang pribadi (dompet, ponsel, dan sebagainya) ketika berada di dalam toilet.
  • Hindari menyalakan lampu jika toilet sudah cukup terang. Menyentuh tombol lampu bisa menjadi celah penularan COVID-19. Jika Anda terpaksa menyalakan lampu, selalu bersihkan tangan sebelum dan setelahnya.
  • Perhatikan bahwa dudukan toilet mungkin perlu Anda bersihkan sebelum dan setelah Anda gunakan.

Jika Anda adalah pemilik atau penanggung jawab toilet. Maka Anda selayaknya memastikan bahwa toilet selalu dalam kondisi terang, tersedia cairan cuci tangan dan/atau tisu antiseptik yang mudah dijangkau pengguna. Tentu saja kebersihan umum juga selayaknya terjaga dengan baik. Ventilasi alami atau mekanis dapat menjaga kebersihan kamar kecil.

Berbagi Kudapan

Yeah, ketika Anda bertemu dengan orang-orang di luar ruangan, maka tidak lengkap rasanya tanpa adanya makan dan minum. Kumpul tanpa ngemil bagaikan sayur tanpa garam.

Kumpul dan ngemil mungkin merupakan norma sosial kita yang sulit “dilanggar.” Tapi juga merupakan situasi yang berpotensi menjadi penularan COVID-19.

Lalu dapatkah Anda untuk TIDAK: berbagi makanan/minuman, bertukar alat makan/minum?

Upayakan agar setiap orang membawa makanan dan minuman mereka masing-masing beserta alat makan dan minumnya. Hal ini guna menghindari kontaminasi silang, atau saling menulari satu sama lainnya.

Gelas yang dipegang si A dapat memindahkan virus ketika kemudian dipegang oleh si B. Ini adalah metode penyebaran tipe kontak yang paling umum dari banyak jenis penyakit.

Selalu jaga jarak saat Anda makan bersama di luar ruangan, atau makanlah secara bergiliran.

Ada beberapa menu aman yang dapat dibagi bersama, misalnya ketika Anda piknik memancing bersama-sama, ikan bakar bisa dibagi bersama pasca dimasak di tempat. Hanya saja, alat makannya tetap tidak dipakai bersama, alias bawa sendiri-sendiri.

Ringkasan

Ketika Anda bertemu orang-orang di luar, Anda harus memastikan Anda:

  • Jarak sosial – tinggal setidaknya satu meter terpisah dari orang-orang di luar rumah tangga Anda tetapi meningkat menjadi dua meter atau lebih sedapat mungkin.
  • Secara teratur gunakan hand sanitiser antivirus atau cuci tangan Anda secara menyeluruh dengan sabun, terutama setelah menyentuh permukaan bersama.
  • Kenakan masker ketika berada di ruang tertutup, dan juga ketika berjalan melalui rumah seseorang untuk menggunakan toilet atau ketika berkelompok.
  • Bersihkan permukaan bersama, termasuk konter kamar mandi dan perabotan taman, dengan semprotan antivirus.
  • Jangan berbagi makanan atau peralatan ketika piknik – yang terbaik adalah jika semua orang membawa makanan mereka sendiri dalam wadah mereka sendiri.
  • Tetap berpegang pada aturan – sebesar mungkin dan sama menggodanya dengan bertemu orang-orang di dalam ruangan, semakin banyak orang yang berkumpul semakin tinggi kemungkinan virus tak terkendali lagi.

Diadaptasi dari Patient.info.

Tren Pengobatan COVID-19

Peringatan keras terhadap pengobatan sendiri, panduan baru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan studi yang menjanjikan membantu membuat pengobatan COVID menjadi topik klinis yang paling trending minggu ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memperingatkan konsumen agar tidak menggunakan obat antiparasit ivermectin untuk mengobati atau mencegah COVID-19. Panduan tersebut datang sebagai tanggapan atas berbagai laporan pasien yang dirawat di rumah sakit atau membutuhkan dukungan medis setelah menggunakan ivermectin yang ditujukan untuk kuda dan hewan lainnya. Sebuah studi terhadap 476 pasien yang baru-baru ini diterbitkan di JAMA menemukan bahwa orang dewasa dengan COVID-19 ringan yang menerima ivermectin selama 5 hari tidak memiliki durasi gejala yang lebih pendek dibandingkan dengan plasebo. “Penemuan ini tidak mendukung penggunaan ivermectin untuk pengobatan COVID-19 ringan, meskipun percobaan yang lebih besar mungkin diperlukan,” para penulis menyimpulkan.

Photo by Miguel u00c1. Padriu00f1u00e1n on Pexels.com

WHO telah menerbitkan pedoman hidup tentang obat-obatan untuk mencegah COVID-19. Rekomendasi pertama dokumen tersebut menyatakan bahwa hydroxychloroquine tidak boleh digunakan untuk pencegahan. Sebuah panel menemukan bukti kuat yang menentang penggunaan obat pada pasien tanpa COVID-19, yang menyatakan bahwa “mungkin tidak ada efek positif dan ada risiko efek samping.”

Dalam berita yang lebih menggembirakan, penelitian terbaru dari molnupiravir yang diteliti menemukan bahwa satu pil yang diminum dua kali sehari selama 5 hari menghilangkan SARS-CoV-2 dari nasofaring pada 49 peserta. Carlos del Rio, MD, mengatakan bahwa jika penelitian di masa depan mengkonfirmasi hasil yang serupa, molnupiravir dapat dipakai dalam beberapa hari pertama gejala untuk mencegah penyakit parah, mirip dengan Tamiflu untuk influenza. Namun, del Rio mengatakan terlalu dini untuk menyebut obat itu sebagai terobosan. “Ini memiliki potensi untuk mengubah praktik,” katanya, “Ini bukan perubahan praktik saat ini.” Studi kemanjuran dan keamanan fase 2/3 sekarang sedang dilakukan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dan tidak dirawat di rumah sakit.

Hasil positif juga dilaporkan dari percobaan koktail antibodi monoklonal. Suntikan casirivimab satu kali dengan imdevimab (REGEN-COV), diambil dalam waktu 72 jam setelah anggota rumah tangga didiagnosis dengan infeksi SARS-CoV-2, mencegah 100% penyakit COVID-19, 100% viral load SARS-CoV-2 yang tinggi, dan memangkas durasi infeksi tanpa gejala menjadi 1 minggu. Data tersebut dipresentasikan pada Virtual Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections 2021 Annual Meeting. Karena hasil didasarkan pada studi dengan sedikit infeksi SARS-CoV-2, mereka tidak mencapai nilai signifikansi secara statistik.

Meskipun vaksinasi dan pencegahan telah menjadi berita utama terbaru, minat pada pengobatan untuk COVID-19 tetap tinggi, seperti yang dibuktikan oleh topik klinis yang paling tren minggu ini.

Catatan: disadur dari Medscape, informasi mengenai COVID-19 dapat berubah setiap saat, selalu perbarui informasi dari sumber resmi.

Mengapa masih menggunakan Linux?

Tidak seperti satu atau dua dekade yang lalu, saat ini Windows 10 dan Mac OS Bis Sur yang merupakan seri teranyar sistem operasi keluaran Microsoft dan Apple sudah tersedia secara gratis untuk kebutuhan komputer pribadi dasar, selama Anda membeli perangkat keras yang sesuai, sistem operasi tersebut sudah ada secara gratis termasuk pembaruan berkala yang juga disediakan secara gratis.

Tidak ada lagi alasan membayar lisensi yang mahal untuk sebuah sistem operasi, mengapa lalu masih memilih menggunakan distribusi Linux?

Menjalankan distribusi openSUSE Tumbleweed melalui VMware Workstation

Kebutuhan pemakaian komputer sederhana pada Windows 10, Mac OS Big Sur, dan distribusi linux terkini sudah dapat saling menggantikan. Siapa pun yang diberikan distro Linux, pasti langsung dapat menggunakannya secara lancar tanpa masalah – pilihkan saja salah satu dari dua puluh daftar distribusi Linux paling populer.

Tentu saja ini tidak termasuk pemasangan sistem operasi dan perangkat lunak atau pemeliharaan sistem, karena keahlian ini tidak semua orang mau belajar – baik mereka yang menggunakan Windows, Mac, maupun Linux. Dengan mengesampingkan situasi umum ini, maka tidak ada masalah jika seseorang bermigrasi dari satu sistem operasi ke yang lainnya.

Masalahnya adalah, apakah mereka akan suka atau tidak.

Pengalaman pengguna berbeda-beda. Saat saya menggunakan tablet Windows 8.1, saya merasa itu paling bagus; sayang, pilihannya tidak banyak dan penghentian dukungan dari Microsoft membuatnya mati muda. Tablet Android tidak menyenangkan, sementara iPad menjadi pilihan saya. Tapi perusahaan yang menghasilkan iPad dengan iPad OS-nya juga menghasilkan Mac OS, yang saya tidak suka memakainya.

Pengalaman saya memperlihatkan, saya bisa bekerja dengan Mac OS, tapi saya tidak menyukai sistem operasi ini. Demikian juga dengan distribusi Linux, saya suka sistem operasi jenis ini, walau saya mungkin tidak bisa bekerja optimal – akibat lingkungan kerja yang masih bergantung pada produk proprietary lain.

Saya menulis tulisan ini menggunakan distribusi Linux, saya menelepon dan berkirim pesan menggunakan ponsel Android yang juga menggunakan kernel Linux.

Saya menggunakan Linux karena saya bisa menggunakannya, dan saya menyukainya. Mungkin mesin harian saya adalah Windows 10, tapi Linux tetap suka saya gunakan.

Apakah distribusi Linux lebih unggul dari Windows 10? Tidak ada jawaban yang absolut, semuanya kembali pada pengguna.

Berminat mencoba distribusi Linux? Tinggal unduh dan pasang di komputer/laptop Anda masing-masing. Jika memerlukan USB FlashDisk installer untuk distro Linux, bisa didapatkan di Pendrive-Ku.

Catur dan Kecurangan

Oho, siapa yang menonton streaming terlaris tahun ini di YouTube tadi sore? Pertandingan seorang pecatur daring yang sedang naik daun melawan grandmaster catur wanita.

Yang menarik kemudian, komentar netizen justru masih bergelut di antara kecurangan yang menjadi topik dan penyebab pertandingan itu diadakan. Bahkan hal ini sampai menarik perhatian orang-orang di luar Indonesia.

Cheater atau si curang bukan barang baru dalam sebuah permainan atau kompetisi. Dan dalam permainan komputer, cheat engine atau mesin curang sudah banyak diproduksi, dan memiliki ragam dan komunitas yang beragam.

Photo by Vlada Karpovich on Pexels.com

Anda bisa memenangkan permainan yang sulit di komputer atau internet secara mudah dengan memanfaatkan cheat engine.

Mencurigai penggunaan cheat tidak sulit bagi yang berpengalaman, namun bagi yang awam akan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Isu curang di permainan catur daring kemarin muncul akibat suatu dianggap mustahil bisa dilakukan oleh manusia wajar pun dia terlatih.

Jika ada lomba lari maraton 10K, dan pemenangnya bisa finish dalam 10 menit. Apa Anda percaya bahwa dia memang lari sampai garis finish dengan tidak melihat sendiri proses berlarinya? Anda bisa jadi berteriak, mungkin si pemenang curang dan naik taksi! 😂 – Tapi Anda tidak punya bukti kan, karena Anda tidak melihat sendiri, dan tak ada seorang pun yang menyaksikan, apalagi si pelari bersikukuh bahwa dia tidak naik taksi tapi memang berlari.

Curang tidak bisa dikatakan curang hingga terbukti curang!

Saya pengguna gim yang dipasarkan melalui Steam, dan saya menggunakan WeMod. Bagi yang tahu apa keduanya itu berarti Anda juga paham, atau setidaknya tahu bagaimana cheat engine bekerja membantu gamer dalam bermain.

Netizen yang tidak paham ini (atau mungkin sengaja menyangkal) akan tampak sangat bodoh. Bahkan ketika diajukan argumentasi mengenai statistik pertandingan, mereka lebih percaya pada kebetulan, keajaiban dengan sedikit bumbu jampi-jampi. Saya rasa pelajaran matematika di sekolah dulu menjadi sia-sia bukan ketika netizen gagal menjadi ahli statistik, tapi ketika mereka gagal memahami makna statistik.

Mereka yang paham mungkin hanya terpingkal-pingkal dalam hati dihibur oleh kedunguan masal. “Oh sh*t, look, this one is so ridiculously stupid ! LOL.” – Seperti itu.

Kalau saya tetap setuju untuk satu hal, ini momentum yang baik untuk mempopulerkan catur kembali ke masyarakat kita. Olahraga yang bagus, murah, dan bisa dilakukan di mana saja.

Masalah apakah kecurangan yang diisukan terjadi perlu dibuktikan? Nah, menurut saya tidak penting. Mereka yang punya pemikiran terbuka sudah pasti paham, dan mereka yang masih belum paham mungkin tidak akan mau tahu atau paham. Jadi pembuktian lebih lanjut tidak lagi bermakna.

P.S. yang berminat untuk melihat analisis pertandingan tersebut, bisa mengunjungi tautan: Dewa Kipas VS GM Irene Sukandar (lichess.org).

Zack Snyder’s Justice League – Penasaran yang Terbayarkan

Setahun tanpa bioskop, akhirnya muncul yang ditunggu di pertengahan Maret 2021 ini. Rilis resmi “Zack Snyder’s Justice League” yang ditayangkan di HBO. Ini adalah film yang mungkin ditunggu-tunggu banyak penggemar karya DC, “kegelapan” yang tidak hadir pada 2017 yang lalu akhirnya terbayar juga.

Ketika saya menonton Justice League empat tahun yang lalu, “Oh bagus, tapi apa ini memang DC? Kenapa terkesan seperti Marvel?” Tentu saja belakangan saya baru tahu, bahwa sejumlah “masalah” muncul pada pembuatan, dan kenapa pada akhirnya film tersebut beraroma MCU alih-alih DCEU.

Kritiskus hanya memberikan 74% penilaian puas pada film ini, namun penonton memberikan nilai hingga 96%, yang berarti hampir seluruh penonton memberikan bintang lima pada film berdurasi hampir empat jam ini.

Bagaimana dengan saya? Jika hanya terdapat lima bintang, saya tidak akan memberikan nilai empat bintang atau lebih rendah lagi.

Zack Snyder’s Justice League memberikan kesan lebih humanis, lebih gelap, lebih logis, lebih runtut, lebih padat cerita, lebih mendalam, dan lebih jelas baik dari segi cerita maupun karakter yang dihidupkan dalam film ini. Saya sempat kecewa dengan Wonder Woman 1984 yang tayang akhir tahun lalu, tapi untuk ZSJL, sama sekali tidak mengecewakan.

Saya bahkan tidak keberatan dengan proporsi 4:3 yang dihadirkan alih-alih 16:9 sebagaimana banyak film yang adaptasi ke media streaming untuk televisi dan gawai. Banyak adegan yang berbeda, dan lebih sedikit komedi – walau ada. Film ini juga menjawab banyak pertanyaan yang mengganjal dari film Justice League 2017.

Zack Snyder’s Justice League tidak membuat saya bertanya-tanya siapa saya, siapa kamu, hingga siapa dia? Misalnya saja, kenapa bisa ada perbedaan pendapat mengenai upaya pembangkitan Superman? Mengapa ada yang tinggal di daerah reaktor nuklir yang sudah tidak digunakan lagi?

Setiap karakter juga mendapatkan peran yang tidak mengecewakan terhadap jalan cerita. Tentu saja yang tidak kalah mengagetkan adalah munculnya karakter-karakter baru dari DCEU yang tidak kelihatan batang hidungnya di film sebelumnya.

Film sebelumnya tidak jelek, hanya yang baru lebih berkesan DC dan tersambung dengan film DC lainnya. Saya sudah menonton MCU dan menikmati Avengers dengan puas, tapi saya tidak terlalu menikmati jika Justice League juga seperti Avengers. Film Justice League membuat saya dan banyak orang penasaran, seperti apa film asli yang seharusnya rilis pada tahun 2017 jika tidak terjadi permasalahan produksi? Dan ini terjawab pada Zack Snyder’s Justice League.

Penggemar film dan serial superhero, maka Zack Snyder’s Justice League sangat sayang untuk dilewatkan. Tapi ya, Anda baru hanya bisa menikmatinya secara legal melalui layanan streaming milik HBO, baik HBO Max maupun HBO Go. Dan siapkan diri Anda untuk duduk manis nyaris empat jam.

Tantangan 2021 – Dukungan Teknologi Laptop dalam Layanan Kesehatan Modern

Apa isu utama yang dihadapi hampir semua orang di muka bumi saat ini? Jawabannya tentu saja pandemi COVID-19. Dan bagi saya sebagai tenaga kesehatan, ini merupakan tantangan yang sangat besar, bukan hanya dari sisi keilmuan, namun juga dari pelbagai sisi kemampuan manajemen problem solving terhadap pelbagai krisis baru yang muncul dan dapat muncul ke permukaan.

Tidak pernah dalam dekade terakhir, pemanfaatan teknologi di dunia kesehatan menjadi sebesar dan seluas saat ini dalam menghadapi pandemi. Ketika semua jenis teknologi informasi dituangkan dan dirangkai menjadi pendukung dalam penerapan solusi terhadap isu-isu kesehatan yang terdampak langsung maupun tidak langsung akibat pandemi COVID-19.

Misalnya saja, setahun yang lalu. Isu telemedicine di dalam negeri masih merupakan sesuatu yang jauh dari benak banyak pelaku pelayanan kesehatan, namun saat ini menjadi sesuatu yang semakin digenjot guna memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di era pandemi. Demikian juga halnya dengan teleconference yang dulu mungkin hanya mengakar di kalangan pebisnis dan akademisi, kini menjadi sesuatu yang tak tergantikan dalam kegiatan manajemen dan penguatan sistem kesehatan.

Dunia dan pelaku layanan kesehatan tidak lagi sekadar berbicara masalah kesehatan, pengobatan dan evaluasinya, namun juga berbicara mengenai sistem kesehatan terintegrasi, kerja sama multidimensi dan multidisipliner, hingga berbagi data dan pengalaman penanggulangan masalah-masalah kesehatan.

Ini juga mungkin masa-masa di mana tenaga kesehatan banyak yang lebih menghabiskan waktu bersama komputer dan gawai berserta setumpuk berkas dibandingkan bersama klien atau pasien mereka. Kegiatan rutin seperti pelacakan kasus (case tracing), penemuan kontak erat, hingga yang terkini pelayanan vaksinasi, semua melibatkan keberadaan teknologi modern. Oleh karena itu bekal gawai pendukung menjadi sangat penting.

Saya bisa duduk beberapa jam di hadapan monitor komputer, berhadapan dengan banyak jendela sekaligus. Baik itu jendela aplikasi perpesanan (messaging), laporan (word processor), pendataan (spreadsheet), hingga pertemuan daring (online meeting). Itu baru yang utama, belum lagi tambahan seperti penjadwalan (calendar), dan penugasan (to do list). Tidak heran jika saya bisa membuka hingga belasan aplikasi secara bersamaan.

Komputer atau laptop seperti apa yang bisa mendukung kegiatan saya ini? Pengalaman saya menggunakan komputer selama lebih dari dua windu dengan pelbagai sistem operasi, saya bisa membuat bayangan sebuah notebook yang kira-kira saya sangat perlukan.

Pertama, komputer ini harus mendukung multi-tasking. Membuka banyak jendela sekaligus dan sejumlah aplikasi yang melakukan pemrosesan data secara bergulir membuat tidak semua jenis sistem pemrosesan mampu menangani situasi ini dengan lancar. Jika ini adalah produk baru, maka pilihannya tentu saja yang cukup banyak digunakan di pasaran, yaitu Intel. Komputer berbasis Intel dengan generasi terkini (Gen-11), dan jika ingin yang terbaik, maka pilihannya adalah Intel® Core i7.

Kedua, ketika bisa mengolah data dalam jumlah banyak sekaligus, maka dia tidak boleh macet ketika mengolah lalu lintas data berukuran besar. Jumlah RAM harus mencukupi, dan seperti yang biasanya saya tulis di blog ini. Argumen saya tetap merekomendasikan RAM 16 GB merupakan kebutuhan wajar untuk sebuah komputer yang digunakan dengan nyaman hingga beberapa tahun ke depan. Pilih yang bagus, misalnya dengan kapasitas 16 GB 4266 MHz LPDDR4x. Saya tidak ingin media penyimpanan laptop cepat pensiun akibat penggunaan SWAP berlebihan pada RAM yang tidak mencukupi.

Pastikan terdapat prosesor dan memori yang cukup kuat untuk bekerja multi-tasking dan mengolah data ukuran besar.

Ketiga, penyimpanan. Saya dulu berpikir penyimpanan tidak perlu besar, belum lagi karena tersedia teknologi pencadangan awan. Tapi di era pandemi, tantangan baru menyebabkan perubahan pendapat saya ini. Era pertemuan daring membuat saya perlu menyimpan banyak rekaman digital pertemuan di komputer, dan jumlah ini terus bertambah, belum lagi dengan pelbagai materi presentasi dan pelatihan daring yang saya ikuti. Kebutuhan akan kapasitas penyimpanan bahkan sempat membuat saya melakukan peningkatan kapasitas penyimpanan internal. Tampaknya saat ini, 1 TB merupakan kapasitas aman yang wajar bagi saya, dan tentu saja dengan tipe penyimpanan yang memiliki kemampuan baca tulis yang cepat, yaitu SSD. 1 TB PCIe® NVMe 3.0 x4 M.2 SSD tampaknya merupakan pilihan yang baik. Tentu saja saya berharap bisa mendapatkan kapasitas penyimpanan lebih untuk meletakkan koleksi foto anak kucing favorit kami.

Keempat adalah antarmuka. Pengalaman saya menunjukkan yang paling cepat berubah dalam satu dasawarsa selain ketajaman resolusi monitor sebuah laptop adalah antarmuka, katakan saya dari USB 2.0 menjadi 3.0, lalu 3.1 dan kini 4.0 termasuk thunderbolt. Perubahan kebutuhan sambungan eksternal dari VGA ke HDMI sudah lama juga menjadi keharusan. Memilih laptop dengan antarmuka terkini menjadi jaminan bahwa laptop akan masih bisa mengikuti perkembangan zaman hingga beberapa tahun ke depan.

Antar muka modern menjamin keberlangsungan hubungan laptop dengan pelbagai pendukung selama beberapa tahun ke depan

Kelima, kamera dan suara yang jernih. Seperti memilih gawai lain, laptop akan saya pertimbangkan yang memiliki kamera dan suara yang jernih. Tentu saja ini bukan untuk swafoto, tapi untuk pertemuan daring. Saya tidak ingin mengikuti pertemuan ilmiah kedokteran, tapi tidak bisa mendengar jelas apa yang disampaikan karena suara yang terdengar kurang jelas. Sudah materinya berat, suara tidak jelas, kan bisa celaka tuh. Tentu saja suara kita juga harus ikut jernih, sehingga tambahan mikrofon dengan teknologi noise cancelation akan sangat membantu menghindari lawan bicara kita mengalami “sakit telinga.”

Keenam, tampilan layar yang juga tak kalah jernih. Banyak media sekarang diproduksi dalam kualitas HD hingga UHD/4K. Termasuk media untuk materi-materi edukasi terkait penanggulangan pandemi di dunia kesehatan. Sebagai konsumen materi-materi ini, saya juga memanfaatkan layar 4K, tapi untuk memproduksi media materi kesehatan hingga 4K, saya belum memiliki layar yang mumpuni. Sehingga jika tersedia laptop dengan monitor hingga mencapai 4K, mengapa tidak? Karena dunia teknologi kesehatan kita tidak akan berhenti cukup di HD saja. Suatu saat, saya yakin melalui telemedicine akan terjadi kewajaran bertukar citra kualitas UHD untuk melakukan konseling medis.

Ketujuh, isu konektivitas dan sumber energi. Konektivitas adalah pertimbangan penting di era kedokteran dan kesehatan digital. Misalnya saat melakukan vaksinasi di dalam atau luar gedung, petugas vaksinasi wajib mengakses layanan digital daring. Jika Anda sempat mengintip posting jejaring sosial rekan-rekan tenaga kesehatan yang melaksanakan vaksinasi COVID-19, Anda akan melihat selalu ada laptop di situ. Laptop dengan daya tahan baterai tinggi dengan selalu stabil terhubung ke jaringan nirkabel merupakan keniscayaan untuk menjalankan tugas-tugas seperti dengan lancar. Sangat baik menurut saya memiliki laptop yang memiliki ketahanan baterai di atas sepuluh jam, ini bisa memberikan rasa aman dalam bekerja di lapangan.

Kedelapan, isu keamanan data. Laptop menyimpan banyak data privasi dan rahasia. Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi ya untuk laptop saya. Data ini termasuk data pribadi, data perbankan, data transaksi, hingga data konsultasi medis terkait rahasia jabatan. Data seperti ini yang harus saya jaga dengan baik, bahkan di tahun ini saya berharap tidak mengalami kebocoran data. Saya memiliki metode saya sendiri dalam mengamankan data, seperti pencadangan awan terenkripsi hingga penyimpanan lokal dengan enkripsi SSD. Tapi yang cukup penting bagi saya juga adalah laptop setidaknya “tahan banting”, jangan mudah rusak, sehingga mengurangi frekuensi “singgah” di tempat servis laptop yang juga menjadi potensi area kebocoran data. Enkripsi SSD yang baik dan desain yang kokoh menjadikan keamanan data yakin terjaga dengan lebih baik.

Pastikan laptop yang dipilih juga memiliki ketahanan jangka panjang.

Yup, berbicara tentang SSD, maka bisa dibilang SSD sangat penting, karena tidak hanya sekadar bisa menciutkan ukuran laptop. Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern. Dan tentu saja, SSD membuat komputer melaju dengan lebih kencang. Punya banyak data seperti laporan, tulisan, gambar dan video tersimpan namun perlu ditemukan dan diakses dalam waktu singkat? SSD adalah solusinya.

SSD sudah menjadi standar penyimpanan masa kini.

Kedelapan pertimbangan itu menurut saya penting, tapi tunggu dulu. Tentu saja ada hal lain yang saya inginkan untuk meningkatkan produktivitas. Misalnya kemudahan mobilitas, ukuran wajar dengan berat 1 Kg plus-minus 200 gram adalah standar toleransi yang baik. Tidak eranya lagi menggendong laptop seberat 2 Kg, sekali lagi terima kasih buat SSD. Apa lagi? Mungkin adanya NumPad atau bisa diisi daya ulang menggunakan PowerBank? Oke juga. Tapi yang saya rasa menjadi tren produktivitas adalah stylus aktif.

Stylus aktif sebagai pemacu produktivitas.

PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

Lalu apa kaitannya stylus aktif dengan layanan kesehatan? Oh banyak. Ketika presentasi baik luring maupun daring, tidak ada yang melebihi kombinasi coretan tangan di depan layar dengan gabungan grafik data yang kita sajikan, termasuk melakukan pencatatan cepat dan brain-storming secara digital. Layanan dan industri kesehatan juga melakukan hal ini. Jika Anda memiliki laptop layar sentuh covertible yang bisa dilipat 360° maka pena digital bisa membantu Anda menjelaskan kepada pasien mengenai kondisi penyakit, perjalanan penyakit, rencana terapeutik dan lain sebagainya secara lebih detail dan interaktif. Edukasi kesehatan kepada pasien di Indonesia masih mengalami kendala jika sekadar disampaikan secara lisan, media interaktif bisa menjadi jembatan kreatif dalam mengatasi isu ini.

Layanan kesehatan tidak sekadar pasien datang, diperiksa, diobati dan pulang. Namun banyak proses di balik semua itu. Masalah kesehatan tidak sekadar masalah individu, namun juga bisa menjadi masalah kelompok, bahkan lebih luas, seperti pandemi COVID-19 ini contohnya. Tenaga kesehatan tidak hanya dipacu untuk mengetahui bagaimana menyelesaikan isu kesehatan individu, namun juga ancaman kesehatan yang meluas di masyarakat. Komunikasi antar profesi dan staf layanan kesehatan, penyelesaian masalah bersama, hingga pendidikan berkelanjutan merupakan metode yang tidak bisa dihindari. Dan kegiatan-kegiatan ini memerlukan dukungan teknologi yang mumpuni, sehingga gawai seperti laptop yang tangguh menjadi kebutuhan untuk memenuhi tantangan baik yang ada saat ini maupun di masa mendatang.

Pertimbangan-pertimbangan di atas menjadi ide yang baik bagi saya untuk mencari jenis laptop yang bisa mendukung kegiatan saya, terutama di era pandemi, dan menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Termasuk dalam upaya dimulainya uji coba penerapan telemedicine dan teleconsult di tahun 2021 ini. Saya bisa menelusuri opsi yang ada atau memilih laptop dengan semua penawaran fitur tersebut seperti yang disediakan oleh seri ZenBook Flip S UX371EA dari Asus, sebuah teknologi yang sudah mengantongi Red Dot Award 2020 sebagai pemenang.

Tertarik juga? Coba lihat spesifikasi ZenBook Flip S berikut ini.

Main Spec.ASUS ZenBook Flip S (UX371)
CPUIntel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating SystemWindows 10 Home with Office Home & Student 2019 pre-installed
Memory16GB LPDDR4X
Storage1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
Display13.3″ (16:9) OLED 4K UHD (3840 x 2160), 400 nits, 100% DCI-P3, 133% sRGB, NanoEdge Display, Touchscreen, PANTONE® Validated display, TÜV Rheinland eye-care certified display
GraphicsIntel® Iris® Xᵉ Graphics
Input/Output1x HDMI 1.4, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 USB Type-C supports display and power delivery
CameraHD camera with IR function to support Windows Hello
ConnectivityIntel Wi-Fi 6(Gig+)(802.11ax)+Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioSonicMaster, Smart Amp Technology, Built-in array microphone, harman/kardon certified
Battery67WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
Dimension 30.50 x 21.10 x 1.19 ~ 1.39 cm
Weight1.20 kg
ColorsJade Black
PriceRp24.999.000
Warranty2 tahun garansi global

Bagaimana? Berminat?

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com.

Mengapa Lebih Memilih Windows 10 dibandingkan Mac OS?

Sudah beberapa lama saya ingin menulis ini, tapi belum sempat kesampaian juga. Saya tidak lagi menggunakan Mac OS (memang bukan pengguna juga) dan kembali menggunakan Windows 10 sebagai kendaraan harian (dan openSUSE dalam bentuk virtualisasi).

Saya mencicipi Mac OS dalam bentuk teknologi Apple terbaru. Sebuah sistem operasi yang baik menurut saya, tapi tidak luar biasa. Jika seseorang terbiasa menggunakan distribusi Linux, maka akan melihat Mac OS tanpa keistimewaan sama sekali.

Baik Windows, dalam hal ini adalah Windows 10 maupun Mac OS (Big Sur) sama-sama merupakan sistem operasi gratis. Beli produk komputer Apple, sudah terdapat Mac OS, beli produk komputer konsumen lainnya, sudah jarang tidak terpasang Windows 10. Jadi bisa dibilang, mau investasi yang mana pun tidak ada biaya tambahan.

Tampilan Windows 10 dengan dwilayar.

Ada sejumlah alasan saya meninggalkan Mac OS balik ke Windows 10.

Pertama adalah Windows 10 dapat membuat saya lebih produktif. Mac OS memiliki sebuah antarmuka handalan, yaitu menu global. Sayangnya, pada monitor berukuran besar, dan kinerja berbagi layar yang semakin populer belakangan ini, global menu merupakan penyakit kronis. Memanfaatkan menu global pada Mac OS saat ini sama produktifnya dengan memanfaatkan WordPerferct di tahun ’87. Pengguna yang menguasai jalan pintas akan bisa menjadi lebih produktif, tapi itu saja, solusi yang sama juga tersedia pada Windows 10 – hanya saja tanpa masalah yang sama.

Kedua adalah mitor kelancaran. Banyak yang bilang dan menunjukkan bahwa Mac OS bekerja lebih lancar dibandingkan Windows 10 dengan sumber daya yang lebih hemat. Mungkin itu benar, tapi saya melihat sendiri bahwa laptop Dell saya berusia 4 tahun dengan Intel gen-6 bekerja lebih mulus untuk pekerjaan yang sama dibandingkan produk Apple terbaru dengan prosesor M1 mereka. Saya tidak mengatakan M1 tidak mulus, tapi saya mengalami bahwa M1 tidak lebih baik dari prosesor Intel lawas untuk kegiatan yang saya perlukan.

Berbicara tentang Intel, walau pun saat ini kalah pamor dengan AMD, memang tidak bisa membandingkan arsitektur x86 dengan ARM yang digunakan oleh Apple M1.

Ketiga, Apple membunuh PC lebih cepat dibandingkan produsen lain? Ini hanya asumsi dan kekhawatiran saya. Tapi selama saya menggunakan Mac Mini 8GB, hampir seluruh RAM terpakai. Jika pemakaian terlalu sering, ini akan sering melahap penggunaan SWAP dan pada akhirnya membunuh SSD secara perlahan. Sayangnya, SSD pada produk Apple itu mahal kawan.

Saya masih berani merekomendasikan pengguna Windows 10 menggunakan RAM 8GB dengan catatan penggantian SSD berkala setiap 3-5 tahun untuk menjaga performa komputer dan keamanan data. Saya baru-baru ini juga mengganti SSD di laptop saya. Untuk komputer dengan Windows 10, ini tidak mahal dan bisa dikerjakan mandiri tanpa perlu keterampilan khusus. Tapi beda cerita tentunya dengan produk Apple. Sehingga sebenarnya saya tetap menganjurkan bagi yang ingin investasi komputer baru untuk jangka panjang, saat ini RAM 8GB adalah batas bawah, sementara 16GB tidaklah besar.

Keempat, Windows 10 lebih ramah terhadap perangkat lunak murah. Sejak saya bekerja, saya sudah tidak lagi menggunakan perangkat lunak bajakan (pirated software). Jadi saya tahu bahwa pengeluaran untuk software bisa jadi sama mahal atau lebih mahal dari harga laptop itu sendiri. Jika ingin berhemat, maka Windows 10 memiliki lebih banyak penawaran software dengan harga yang lebih murah dibandingkan software yang sama pada Mac OS. Saya membeli satu atau dua lisensi software murah saat menggunakan Mac OS, dan mereka bekerja sama baiknya dengan di Windows 10. Jadi dengan tidak melihat perbedaan performa dan fungsi, Windows 10 lebih unggul dibidang pembiayaan.

Tentu saja ada banyak cara mendapatkan software dengan harga murah hingga gratis, lain kali saya akan bahas mengenai hal ini (jika tidak lupa).

Kelima, versi Internasional Mac OS tidak ramah untuk pengguna Indonesia. Mac OS tidak memiliki spell checker untuk bahasa Indonesia, bahkan teknologi kecerdasan buatan (AI) Microsoft Editor tidak bisa menyelamatkan isu ini. Ini sangat berbahaya bagi mereka yang menggunakan Word Processor untuk membuat laporan resmi, baik di bidang usaha, hukum, maupun pendidikan.

Hal ini membuat saya kagum pada pejabat atau dosen yang membawa MacBook untuk presentasi, saya berpikir, pasti saat sekolah dulu nilai ujian bahasa Indonesia mereka selalu sempurna, sampai tidak memerlukan bantuan untuk koreksi ejaan dan tulisan.

Saya tidak bisa tentu saja, saya selalu memanfaatkan memanfaatkan alat bantu. Bahkan saat ini mengetik ini pun saya memanfaatkan Editor- sebuah artificial intelligence pengecekan ejaan yang tertanam pada Edge dan Microsoft 365 di Windows 10.

Tapi kan Mac OS punya tampilan yang keren? Eaa, itu mungkin karena belum pernah lihat distribusi Linux kustom yang bisa meracuni masalah ketagihan antarmuka yang keren. Atau coba-lah tengok Elementary OS yang paling sederhana, lebih nyaman digunakan dibandingkan Mac OS bagi saya.

Satu-satu hal yang menarik bagi saya dari produk Mac Mini kemarin adalah harga jual kembalinya nyaris tidak turun. Jadi saya bisa menjual kembali Mac Mini dengan tidak ada kerugian moneter (dengan mempertimbangkan nilai penyusutan?)

Pedoman PPI di FKTP

Setelah agak lama, akhirnya muncul juga pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang berlaku di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Pedoman teknis ini dirilis oleh Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan pada Januari 2021.

Pedoman ini memiliki penjabaran seputar konsep infeksi, pelaksaan kewaspadaa infeksi, bundle HAIs, hingga penerapan di masing-masing unit pelayanan di Puskesmas.

Pedoman ini akan bermanfaat bagi Puskesmas dan Klinik Pratama yang hendak meningkatkan mutu pelayanan kesehatannya, terutama dalam bidang keselamatan pasien.