Menuang Secangkir Kedamaian

Rasanya itu kemarin ketika saya menonton secuplik berita di layar kaca, tentang sebuah komunitas masyarakat yang menghalangi kelompok warga lainnya – dengan menghadang jalan – ketika mereka hendak menghantarkan jenazah salah satu anggota warganya ke peristirahatan terakhir. Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi konflik horizontal seperti ini atau-pun dengan latar belakangLanjutkan membaca “Menuang Secangkir Kedamaian”

Mencintai

Pagi ini kesadaran mulai dipangku dalam rangkaian suara-suara khas antara alam di luar sana yang mulai paduan suara mereka dengan decitan besi-besi tua yang menyangga ranjangku. Dalam naungan lelah yang tak terjelaskan, aku bisa merasakan napasku yang mengalir seolah hendak menggapai tetes tetes energi yang bertebaran di udara.

Bolak Balik Serakah

Kadang otak kita sangat sulit untuk berpikir, untuk menemukan makna-makna dalam kehidupan ini; pada-hal di mana-mana, dalam setiap momen tentu mengandung makna. Dalam setiap masalah sekali-gus terkandung jawabannya, namun otak kita yang malas dan dangkal ini tak dapat menemukan, sehingga kita terjebak, stuck dan mumet. Yang terjadi justru sebaliknya; bukan otak ini mampu mencari solusi,Lanjutkan membaca “Bolak Balik Serakah”

Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan

Kakiku menapak kembali saat malam berhembus hangat Pandangku mengabur tertutup selaksa keraguan Adakah napas juga telah berpaut dengan ketidakberdayaan Sehingga gita malam tak lagi hinggap hingga ke sudut perhatianku Awan tipis tergopoh riang Tak acuh akan akan ego-ego rendah di bawah yang tak mampu menyentuh hatinya Membawa selapis tipis penghilang dahaga Yang dikumpulkan bagi segenapLanjutkan membaca “Buluh Cakrawala di Lengkung Rembulan”

Tak Usah Kebencian Disebar

Mungkin saya tidak terlalu memahami, atau mungkin lebih tepatnya saya terlalu cuek, sering kali tak acuh. Ataukah di sisi lain saya hanya sudah terlalu lelah melihat bagian dari masyarakat yang semakin kusut dan muram. Orang bisa menyumpahi, meneriaki, bahkan bisa lebih semena-mena lagi pada orang lain, entah karena dasar emosi, ataukah karena dasar pemikiran yangLanjutkan membaca “Tak Usah Kebencian Disebar”

Menabur Garam Ke Lautan

Tentunya Anda pasti sudah paham jika saya mengutip salah satu peribahasa ini, menabur uang, eh…, garam ke lautan – bermakna memberikan sesuatu pada yang memiliki lebih banyak daripada kita. Dan percayalah, lautan memang memiliki garam lebih banyak daripada yang ada di dapur kerajaan sekali pun, apalagi dapur kita. Pagi ini saya membaca tulisan “Anggaran Beramal”Lanjutkan membaca “Menabur Garam Ke Lautan”

Apa Itu Pahlawan?

Pagi itu si kecil baru bangun – entah mengapa anak pra sekolah sangat mudah bangun pada pagi hari, mata mungilnya yang cemerlang memerhatikan bahwa dari kejauhan sang kakek tampak berbeda hari ini. Dia mengenakan pakaian yang serba hijau muda, kekuningan atau keabu-abuan, setidaknya ia tidak begitu tahu itu warna apa, tapi ia tidak pernah ingatLanjutkan membaca “Apa Itu Pahlawan?”

Membangun Mimpi

Saya tidak memiliki mimpi tertentu, tapi tentu saja pernah diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan dari sejak kecil mungkin, tapi sebenarnya apa yang menjadi mimpi seseorang itu? Misal saat kecil saya sering ditanya, apa yang menjadi mimpi saya. Ketika masih berlari dengan kaki mungil ini, dengan napas yang memburu & tidak lebih tinggi untuk mampu menghempasLanjutkan membaca “Membangun Mimpi”