Membaca Lantang pada Microsoft Edge

Peramban modern memiliki salah satu fitur aksesibilitas yang penting, yaitu kemampuan untuk membaca dengan lantang (read aloud) pada konten web yang sedang diakses. Selama ini, Google Chrome dibekali dengan suara natural yang paling baik menurut saya dalam fungsi ini. Tapi setelah mencoba setelan suara alami (natural voice) pada Microsoft Edge, saya memiliki pendapat yang berbeda.Lanjutkan membaca “Membaca Lantang pada Microsoft Edge”

Beralih ke Microsoft Edge

Sekitar setahun yang lalu, saya sempat menulis mengenai kemungkinan beralih ke peramban Microsoft Edge. Dan bagaimana setelah satu tahun berlalu? Bisa dibilang Microsoft Edge mengalami evolusi yang cukup baik. Microsoft tampaknya bersungguh-sungguh hendak mengambil pangsa pasar peramban dari Google Chrome. Ada beberapa hal yang Chrome masih lebih unggul dibandingkan Edge, demikian juga sebaliknya.

Microsoft Editor sebagai Alat Bantu Pemeriksa Ejaan

Kita mengetahui banyak alat pemeriksa ejaan saat kita mengetik di peramban, seperti Google Chrome – misalnya. Google Chrome sendiri memiliki fungsi pemeriksa ejaan yang disempurnakan tertanam pada perambannya, namun tidak banyak memiliki fitur seperti layanan pihak ketiga – misalnya Grammarly dan ProWrittingAid. Salah satu layanan yang kini ada untuk sejumlah bahasa di dunia adalah dariLanjutkan membaca “Microsoft Editor sebagai Alat Bantu Pemeriksa Ejaan”

OneNote, Tempat untuk Semua Catatan

Ada banyak metode untuk melakukan pencatatan dengan baik, termasuk dalam buku catatan kita. Baik pelajar maupun pekerja, sering kali akan memerlukan catatan. Catatan manual sering kali penuh, rusak atau hilang, sehingga tidak nyaman untuk digunakan. Sedemikian hingga, pilihan saat ini adalah untuk memindahkan catatan ke bentuk digital, tapi aplikasi mana yang akan digunakan? Ada banyakLanjutkan membaca “OneNote, Tempat untuk Semua Catatan”

Otomatis Pakai Microsoft Office 2019

Beberapa hari ini, saya melihat sesuatu yang baru pada Microsoft Office yang saya gunakan. Terutama dari segi menu dan tampilan, saya hanya mengira sebelumnya bahwa ini adalah pembaruan minor, namun ternyata saya keliru, sistem saya telah otomatis ditingkatkan bukan hanya sekadar diperbarui dari standar Microsoft office 2016 menjadi Microsoft Office 2019. Mungkin ini keuntungan menggunakanLanjutkan membaca “Otomatis Pakai Microsoft Office 2019”

Windows 10 untuk Komputer Lawas

Bisakah Windows 10 dipasang pada komputer/laptop/notebook lawas? Jawabannya ternyata bisa. Karena saya sendiri baru meningkatkan (upgrade) dari Windows 7 ke Windows 8 ke Windows 8.1 dan terakhir ke Windows 10 pada Laptop Acer TravelMate 6293 lawas saya yang dibeli sekitar September 2008 (berusia kira-kira 7 tahun lebih dikit). Seluruh proses memerlukan waktu sekitar 8 jam,Lanjutkan membaca “Windows 10 untuk Komputer Lawas”

Memasang Ms Office 2010 pada Linux

Meskipun LibreOffice memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan Microsoft Office, namun selalu ada yang menghendaki produk yang asalinya berjalan di Microsoft Windows ini juga berjalan pada Linux. Saya mencoba melihat bagaimana Microsoft Office dapat berjalan pada Linux, dan membaginya melalui tulisan ini. Yang saya gunakan kali ini adalah LXLE 14.04 yang berbasis Ubuntu dengan sistem 64-bit,Lanjutkan membaca “Memasang Ms Office 2010 pada Linux”

Continuum ala Windows 10

Setelah sekian lama berkutat dengan Windows 8 dan 8.1, akhirnya Windows 9 dirilis sebagai Windows 10. Entah apa yang ada di dalam pikiran orang-orang Microsoft. Tapi kalau saya bisa lihat, mungkin ini adalah lompatan besar dari Windows 8 (bayangkan, melompat dua seri sekaligus). Salah satu fitur yang cukup menarik minat saya pada Windows edisi teranyarLanjutkan membaca “Continuum ala Windows 10”

Skype 4.3 untuk Linux

Perkembangan Skype untuk Linux memang lambat, tapi bukan berarti tidak ada. Baru saja seri baru dirilis, yaitu Skype 4.3 untuk Linux, dan saya mencobanya pada dekstop openSUSE KDE 64-bit, kelihatannya cukup bagus. Hanya saja, untuk Skype 4.3 memang masih belum saya lihat versi barunya yang mendukung 64-bit, karena saat saya memilih untuk distrubusi openSUSE hanyaLanjutkan membaca “Skype 4.3 untuk Linux”