A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pagi ini, sebelum matahari membentangkan sinarnya. Dari sebuah jalan arteri tanpa penerangan aku bergerak menuju ufuk timur yang mulai tersingkap cakrawalanya. Gumpalan “cumulus” yang kelabu pekat bersanding dengan “stratus” yang tampak lebih ramah menghiasi langit di hadapanku. Sementara cuplikan redup kemerahan yang hendak muncul tampak bagaikan ujung rajutan yang terurai lepas dalam kebebasan.
Ujung-ujung pepohonan yang belum jadi hijau berusaha memberikan ukiran di batas yang telah terhiasi berbagai warna. Mereka tak bergerak dalam keheningan yang sejuk ini. Tiada satupun yang bergerak. Dan semua memang seperti itu, sebuah pagi yang baru.

Tentunya jika aku tidak terlalu merisaukan banyak hal, atau apapun yang dapat menggunakan pikiranku untuk terbelit dalam kesibukannya sendiri. Segala yang terlihat tanpa pikiran begitu nyaman, begitu segar, dan selalu baru.

Aku memiliki banyak kata untuk menggambarkannya, namun seberapa banyakpun kata yang dihasilkan oleh pikiran ini. Ketenangan dan keindahan itu tidak terjamah, karena untuk itu aku sendiri yang harus berada di situ, dan merasakan itu (apapun sebutannya). Dan itu bukanlah kata-kata, itu bukanlah pikiran, itu adalah itu dan itu yang bukan itu.

Keindahan yang selalu baru.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar