Happy New Year 2023

As the new year dawns upon us
We reflect on all that’s past
We make resolutions anew
For things that will surely last

We vow to be kinder, to love more
To let go of all our stress
To work towards our goals with passion
And to be our very best

So let’s raise a toast to the new year
And all the joy it will bring
May it be filled with love and laughter
And all our hearts desire, let it be fulfilled in this new year
Happy New Year!

Batuk Pilek

Akhir tahun, musim hujan masih panjang, dan sejumlah masalah kesehatan meningkat bersamaan dengan musim hujan yang panjang. Selain diare, permasalahan kulit, dan penyakit endemis seperti malaria dan demam dengue, maka flu dan penyakit seperti flu, batuk pilek, merupakan keluhan yang umum.

Sebagian besar kondisi flu dan infeksi saluran napas atas lainnya merupakan kondisi-kondisi yang bersifat swasembuh. Anda cukup beristirahat dan makan makanan bergizi untuk dapat pulih dengan baik.

Anda dapat melindungi diri Anda dari ancaman kondisi-kondisi ini. Untuk melindungi diri dari flu atau penyakit saluran napas atas lainnya, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan, di antaranya:

  1. Mencuci tangan dengan benar dan sering, terutama setelah menyentuh benda yang terkontaminasi
  2. Menggunakan masker saat di luar rumah atau di tempat umum yang ramai
  3. Menjaga kebersihan lingkungan, terutama menjaga kebersihan udara dengan menyemprotkan disinfektan di ruangan
  4. Menjaga kekebalan tubuh dengan makan makanan yang sehat dan bergizi, serta berolahraga secara teratur
  5. Menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit atau mengalami gejala flu atau penyakit saluran napas atas lainnya
  6. Menjaga jarak dengan orang lain saat bersin atau batuk, dan menggunakan tisu atau siku untuk menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk
  7. Menghindari merokok atau menghirup asap rokok, karena dapat memperburuk gejala flu atau penyakit saluran napas atas lainnya
  8. Menggunakan obat-obatan flu atau penyakit saluran napas atas lainnya sesuai dengan anjuran dokter
  9. Mempertahankan kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan menggunakan obat kumur yang mengandung antiseptik.

Perlu diingat bahwa langkah-langkah di atas tidak akan sepenuhnya mencegah Anda terkena flu atau penyakit saluran napas atas lainnya, namun dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi dan membantu Anda dalam mengatasi gejala yang muncul.

Apabila Anda terserang gejala flu, untuk mengatasi gejala atau ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh flu atau infeksi saluran napas bagian atas, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan secara mandiri, di antaranya:

  1. Menggunakan obat-obatan over-the-counter (OTC) yang tersedia di apotek, seperti obat batuk, obat flu, dan obat demam yang sesuai dengan anjuran dokter atau apoteker.
  2. Menjaga kelembaban udara di ruangan dengan menggunakan humidifier atau dengan cara menyemprotkan air ke dinding atau langit-langit ruangan (perhatikan kebersihan ruangan secara berkala, untuk menghindari jamur tumbuh berlebihan akibat area yang lembab)
  3. Menjaga asupan cairan yang cukup dengan minum banyak air putih atau minuman lain yang tidak mengandung alkohol atau kafein.
  4. Menghirup uap panas dengan menggunakan air hangat atau minyak esensial yang dapat membantu melegakan hidung tersumbat.
  5. Menghindari merokok dan menghindari kontak dengan asap rokok, karena dapat memperburuk gejala flu atau infeksi saluran napas bagian atas.
  6. Menjaga kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan menggunakan obat kumur yang mengandung antiseptik.
  7. Menjaga pola tidur yang cukup dan memastikan posisi tidur yang nyaman, terutama jika Anda mengalami sesak napas atau batuk yang parah.

Jika gejala flu atau infeksi saluran napas bagian atas yang Anda alami masih berlangsung lama atau semakin parah, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan mengonsumsi obat-obatan OTC tanpa anjuran dokter atau apoteker, karena dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Jangan lupa, jika Anda dapat mengakses vaksin-vaksin yang mencegah penyakit saluran napas. Vaksin yang dapat membantu mencegah infeksi saluran napas termasuk vaksin influenza, vaksin pneumokokus, dan vaksin pertussis (batuk rejan). Vaksin influenza (vaksin flu) dapat membantu mencegah infeksi saluran napas yang disebabkan oleh virus influenza. Vaksin pneumokokus dapat membantu mencegah infeksi saluran napas yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus, termasuk pneumonia dan meningitis. Vaksin pertussis dapat membantu mencegah infeksi saluran napas yang disebabkan oleh bakteri pertussis, yang dapat menyebabkan batuk rejan.

Vaksin yang tersedia di Indonesia tergantung pada program vaksinasi nasional yang berlaku di setiap wilayah. Vaksin influenza, pneumokokus, dan pertussis biasanya tersedia di pusat vaksinasi atau di klinik-klinik kesehatan. Sebagian besar vaksin ini diberikan secara gratis atau dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mengetahui jenis vaksin yang tersedia dan rekomendasi vaksinasi yang sesuai untuk Anda atau anggota keluarga Anda.

Perawat PPI vs Perawat PPI?

Secara umum perawat PPI yang dikenal merupakan IPCN (infection prevention and control nurse), tapi PPI di sini bisa jadi bermakna dua. Pertama adalah perawat pelayanan primer dan intermediat (PICN); satu lagi adalah perawat pencegahan dan pengendalian infeksi (IPCN).

Kedua jenis fungsi dan jabatan ini memiliki tugasnya masing-masing.

Perawat PPI (Perawat Pelayanan Primer dan Intermediater) merupakan perawat yang bertugas menyediakan pelayanan kesehatan pertama bagi pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Perawat PPI bertanggung jawab untuk menyediakan pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif bagi pasien sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Tugas utama perawat PPI/PICN ini di fasilitas pelayanan kesehatan adalah:

  1. Melakukan pencatatan dan pengkajian kesehatan pasien sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan
  2. Menyiapkan rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
  3. Melakukan intervensi keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun
  4. Mengelola dan mengawasi kondisi kesehatan pasien sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan
  5. Menyediakan informasi dan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga pasien
  6. Melakukan koordinasi dengan tim kesehatan lainnya untuk memastikan pelayanan yang terintegrasi dan terpadu bagi pasien
  7. Melakukan dokumentasi pelayanan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan
  8. Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan intervensi keperawatan yang dilakukan.

Selain itu, perawat PPI juga bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pasien selama berada di fasilitas pelayanan kesehatan serta memastikan bahwa pasien mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Sementara itu, perawat PPI/IPCN memiliki tugas yang berbeda.

Perawat pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) merupakan perawat yang bertugas mengelola dan mengendalikan infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan. Perawat PPI bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya infeksi yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien, staf, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Tugas utama perawat PPI di fasilitas pelayanan kesehatan adalah:

  1. Melakukan pengkajian terhadap risiko terjadinya infeksi pada pasien
  2. Menyusun dan mengevaluasi rencana tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi
  3. Melakukan intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya infeksi sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun
  4. Menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan
  5. Menyediakan informasi dan edukasi kepada pasien dan staf tentang cara mencegah terjadinya infeksi
  6. Melakukan dokumentasi terhadap pelayanan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan
  7. Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan intervensi keperawatan yang dilakukan

Selain itu, perawat PPI juga bertanggung jawab untuk mengidentifikasi sumber infeksi dan mengelolanya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Perawat PPI juga bertanggung jawab untuk melakukan koordinasi dengan tim kesehatan lainnya untuk memastikan pelayanan yang terintegrasi dan terpadu bagi pasien serta memastikan bahwa pasien mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Mengapa merokok dilarang di rumah sakit?

Ada beberapa alasan mengapa merokok dilarang di rumah sakit dan bangsal rumah sakit. Salah satu alasan utamanya adalah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pasien, pengunjung, dan staf. Merokok adalah penyebab utama banyak masalah kesehatan yang serius, termasuk kanker paru-paru, penyakit jantung, dan stroke, dan paparan asap rokok juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Di rumah sakit, merokok dapat menimbulkan risiko tertentu bagi pasien yang sudah sakit atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Menghirup asap rokok atau terpapar bahan kimia dalam asap rokok dapat memperburuk gejala kondisi medis tertentu dan mempersulit pasien untuk pulih.

Selain risiko kesehatan, merokok di rumah sakit atau bangsal rumah sakit juga dapat meningkatkan risiko kebakaran. Merokok merupakan penyebab utama kebakaran di rumah sakit, dan kebakaran di rumah sakit bisa sangat berbahaya karena dapat membahayakan pasien dan staf serta mengganggu layanan perawatan kritis.

Karena alasan ini, sebagian besar rumah sakit memiliki kebijakan ketat yang melarang merokok di tempat mereka. Banyak rumah sakit juga menawarkan sumber daya dan dukungan untuk membantu pasien dan staf berhenti merokok.

Hal ini tidak hanya berlaku di rumah sakit, namun juga di tempat pelayanan kesehatan lainnya seperti Puskesmas, Klinik Kesehatan, hingga ke praktik Dokter/Dokter Gigi Mandiri.

Rumah sakit bebas asap rokok juga dituangkan dalam pelbagai peraturan perundangan. Adakah pengecualian untuk hal ini? Kembali ke regulasi lokal rumah sakit itu sendiri. Misalnya, apakah rumah sakit menyediakan area merokok tersendiri yang dapat diakses oleh pasien? Apakah merokok diizinkan bagi pasien kondisi terminal (end-of-life care)?

Pasien yang akan menjalani rawat inap di rumah sakit umumnya akan menyetujui dan mendatangani persetujuan umum (general consent) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, dan salah satu klausul ini termasuk ketaatan pasien terhadap peraturan atau tata tertib yang berlaku di rumah sakit, yang dapat tersurat ataupun tersirat bagi pasien untuk tidak merokok di lingkungan rumah sakit.

Akhir 2022, Masih dengan openSUSE

Komputer merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan saya, bahkan mungkin tidak bisa digantikan dengan ponsel cerdas. Sejumlah pekerjaan hanya bisa dengan nyaman saya kerjakan di komputer.

Salah satu PC saya menggunakan, Beelink U59 dijalankan menggunakan sistem operasi distribusi Linux, openSUSE. Asalinya, miniPC ini hadir dengan Windows 10 yang kemudian dapat ditingkatkan menjadi Windows 11. Saya menghapus seluruh komponen Windows di dalamnya, dan menggantikannya dengan openSUSE seri Tumbleweed.

Mengapa saya memilih Linux? Sebenarnya saya bekerja dengan Windows dan Linux, jadi sebenarnya tidak masalah bagi saya menggunakan yang mana. Karena kegiatan sehari-hari saya kebanyakan hanya berputar pada menulis, membuat grafis sederhana (misalnya diagram alir), atau menyusun presentasi. Kesemuanya bisa berjalan dengan baik di masing-masing sistem operasi.

Hal yang menarik pada Linux, terutama seri rolling-release seperti openSUSE Tumbleweed ini ada banyak. Pertama, tidak ada pembaruan besar berkala, artinya tidak ada peningkatan besar-besaran seperti dari Windows 10 ke Windows 11, membuat pemeliharaan sistem lebih mudah, dan bisa diatur sesuai kebutuhan.

Isu keamanan lebih rendah, sehingga sumber daya tidak terbagi banyak untuk melindungi PC dari ancaman (mis. penggunaan produk antivirus). Ini membuat menjalankan aplikasi di Linux relatif terasa lebih responsif dibandingkan pada Windows.

Punya pasar aplikasi tersendiri yang langsung dibangun di atas flatpak. Aplikasi mudah ditemukan dan dipasang. Saya sendiri lebih memilih memasang aplikasi dari repositori, jika bisa dibangun melalui repo yang disediakan pengembang atau pemilik aplikasi, atau dari berkas RPM yang ada. YaST memudahkan semua ini pada openSUSE.

Dekstop yang saya pilih adalah gnome, karena inilah yang biasa saya gunakan sejak bangku kuliah dulu. Love or hate it, gnome memang memiliki keuntungan bagi saya yang menyukai segala sesuatunya lebih sederhana.

Dan berdampingan dengan aplikasi-aplikasi yang sering saya gunakan, membuat saya betah bekerja dengan desain antarmuka gnome.

Menggunakan Linux tidak serta merta membuat saya sepenuhnya memeluk open source. Saya masih menggunakan produk Microsoft dan lainnya yang bersifat proprietary.

Saya masih menggunakan Microsoft 365 (dulu namanya Office 365) secara daring, dokumen dan berkas penting tetap saya kelola melalui OneDrive – karena merupakan penyimpanan awan yang paling ekonomis yang saya temukan saat ini, dan saya menggunakan insync untuk melalukan sinkronisasi aktif pada Linux.

Dan tidak dipungkiri, karena saya bekerja di industri kesehatan yang masih kental pengelolaan berkasnya dengan Microsoft Office, maka saya menggunakan alternatif Softmaker Office di Linux. Saya sudah mencoba alternatif lain seperti WPS dan OnlyOffice, tapi hanya Softmaker yang memberikan saya apa yang saya perlukan. Tentu saja LibreOffice bagus, tapi terus terang saja, untuk interoperabilitasnya dengan produk Microsoft tidak baik sama sekali. Google Document melakukan fungsi ini dengan lebih baik, hanya saja tidak begitu sesuai dengan kebiasaan kerja saya.

Jika Anda lebih sering mengerjakan ketikan Word Processor secara luring, maka distribusi yang saya sarankan adalah Zorin OS. Bahkan untuk pemula, distribusi Linux ini sangat saya rekomendasikan.

Selain produk perkantoran, produk Wondershare juga saya gunakan untuk melengkapi, seperti EdrawMax dan EdrawMind (di Windows ada juga PDFElement). Harga lisensi mereka memang tidak murah, tapi bagi saya yang juga mengerjakan banyak hal terkait manajemen industri kesehatan, aplikasi seperti ini tidak bisa dihindari. Untungnya aplikasi statistik seperti Jamovi tersedia dalam lisensi sumber terbuka.

Perpesanan seperti Telegram tersedia dari komunitas, dengan juga WhatsApp. Keduanya populer di negara kita, dan keduanya juga berjalan dengan baik di Linux karena berbasis peramban/web.

Sejak pandemi, keperluan pertemuan daring meningkat, dan menjadi populer. Zoom menjadi kata ganti bagi pertemuan daring oleh kebanyakan orang. Dan aplikasi pertemuan daring juga beragam. Saya tetap memasang Zoom, Jitsi, Google Meet, dan Skype. Sayangnya, saya tidak bisa lagi menggunakan aplikasi 8×8 yang murah meriah itu, versi premium Jitsi tersebut menghapus versi Pro-nya pada Februari mendatang. Google Meet memudahkan pertemuan pengguna Android yang tidak terlalu paham cara pakai Zoom, terutama golongan boomers yang you know lah. Skype karena produk Microsoft, banyak yang meremehkan, padahal Skype memberikan keuntungan untuk pertemuan daring gratis lebih baik dari banyak pesaingnya.

Sedemikian hingga, hal-hal yang dikerjakan di sistem operasi Windows sebenarnya bisa dikerjakan di distribusi Linux dengan baik juga. Lalu apa yang menjadi kendala atau hal yang tidak mengenakan dari menggunakan Linux?

Satu kata – INTEL, ya raksasa industri mikroprosesor yang tersohor. Intel tidak mendukung komunitas open source, setidaknya begitu kabar yang beredar. Jika memilih komputer untuk distribusi Linux, sebaiknya memilih AMD saja.

Dan ini tidak keliru, sering kali komputer berbasis Intel tidak selalu tersedia kandar yang sesuai bagi distribusi Linux. Apalagi pada komputer keluaran terbaru. Kadang pengguna bisa menemukan bahwa adapter WiFi mereka tidak terdeteksi, atau Soundcard mereka tidak ditemukan. Hingga kernel atau kandar dari pengembang tersedia, maka seringkali tidak ada pemecahan untuk situasi atau masalah seperti ini.

PC yang saya gunakan misalnya, merupakan PC dengan prosesor Intel generasi ke-11 (saat ini di pasaran terbaru adalah generasi ke-12, dan generasi ke-13 akan segera dipasarkan). Sistem tidak mengenali perangkat keluaran untuk suara, sehingga suara tidak bisa dihasilkan baik melalui perangkat HDMI maupun AUX. Sehingga, jika saya ingin mendengarkan luaran suara, saya harus menggunakan perangkat berbasis USB, misalnya headset berbasis USB, bukan headset dengan konektor AUX.

Tentu saja ada cara mengatasi masalah ini melalui beberapa trik di baris perintah, tapi saya sering kali terlalu malas untuk memperbaikinya, terutama jika masalah tidak terlalu kritikal bagi saya. Hal ini tidak hanya terjadi pada disribusi openSUSE saja, tapi distribusi yang lain juga. Paling nanti saya tambahkan converter dari USB ke AUX untuk mencoba melihat apakah hal ini bisa diakali atau tidak.

Jadi, saya tidak memiliki masalah bermakna selama menggunakan openSUSE. Tapi ya, prosesor Intel Celeron tetap payah, tidak hanya untuk Linux, tapi Windows juga.

Wajib Pasang Latar Belakang Virtual saat Zoom Meeting?

Latar belakang (background) virtual, merupakan salah satu fitur populer pada saat rapat daring, misalnya via Zoom Meeting. Lalu karena saking populer-nya, beberapa pelaksana kegiatan (misalnya karena organisasi tertentu, atau ada penunjang dana tertentu) mewajibkan peserta kegiatan pertemuan/seminar/rapat untuk memasang virtual background ketika daring.

Sebenarnya tidak masalah toh?

Begini, tidak semua komputer mampu menggunakan fitur virtual background secara otomatis. Silakan merujuk pada artikel dukungan zoom, bahwa kriteria “jeroan” tertentu dibutuhkan agar komputer serta merta bisa menggunakan fitur ini.

Artinya bagi mereka yang tidak masuk kriteria, maka mereka akan kesulitan memenuhi kewajiban yang diberikan oleh penyelenggara online meeting. Mereka mungkin perlu beli komputer baru cuma buat ikut nge-zoom.

Dan, belum tentu juga semua komputer baru mendukung fitur ini. Misalnya saja, komputer lama saya mendukung, walau perangkat kerasnya termasuk lawas di atas lima tahun. Tapi komputer baru saya tidak mendukung, walau menggunakan prosesor generasi teranyar dari si biru.

Sehingga, bagi yang menyelenggarakan zoom meeting, setidaknya memikirkan kembali kebijakan wajib pasang virtual background, sehingga lebih inklusif-lah.

Diklat Manajemen Risiko, Keselamatan Pasien, Peningkatan Mutu

Fasilitas layanan kesehatan baik rumah sakit maupun puskesmas semakin dituntut dalam mengembangkan layanan yang bermutu. Untuk mencapai layanan yang bermutu, maka penyedia layanan harus tahu mutu saat ini ada di mana, dan berapa targetnya.

Apakah ada risiko dalam pelayanan yang dapat menganggu pencapaian mutu, maka risiko harus dihilangkan, dikecilkan, atau dimitigasi melalui program manajemen risiko. Termasuk risiko-risiko dalam keselamatan pasien.

Dundee Coronary Risk-Disk, Dundee, Scotland 1993 (diagnosis kit; cardiovascular) by Hugh Tunstall-Pedoe is licensed under CC-BY-NC-SA 4.0

Berikut adalah sejumlah materi diklat terkait manajemen risiko, keselamatan pasien, dan peningkatan mutu di Puskesmas.

  1. Program Manajemen Risiko di Fasilitas Layanan Kesehatan (lihat dan unduh)
  2. Melakukan Analisis Akar Masalah / Root Cause Analysis (lihat dan unduh)
  3. Mengerjakan FMEA (lihat dan unduh)
  4. Metode PDSA/PDCA (lihat dan unduh)
  5. Keselamatan Pasien secara Umum (lihat dan unduh)
  6. SKP – Melakukan Identifikasi Pasien dengan Benar (lihat dan unduh)
  7. SKP – Meningkatkan Komunikasi Efektif (lihat dan unduh)
  8. SKP – Pembedahan yang Mengutamakan Keselamatan Pasien (lihat dan unduh)
  9. SKP – Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Jatuh (lihat dan unduh)
  10. SKP – Meningkatkan Keamanan Obat Kewaspadaan Tinggi (lihat dan unduh)
  11. Pelaporan dan Investigasi Insiden Keselamatan Pasien (lihat dan unduh)

Dan berikut adalah sejumlah materi diklat yang terkait dengan program PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi):

  1. Pengantar PPI (lihat dan unduh)
  2. Kebersihan Tangan (lihat dan unduh)
  3. Kerangka Acuan Kerja PPI (lihat dan unduh)
  4. Kewaspadaan Isolasi (lihat dan unduh)
  5. Resistensi Antibiotik (lihat dan unduh)
  6. Surveilans PPI (lihat dan unduh)

Materi-materi di atas dapat diunduh, disunting, dan digunakan sesuai dengan keperluan pemateri diklat di fasyankes masing-masing (tidak perlu izin pembuat materi).

Catatan: jika tautan tidak dapat diakses, coba gunakan peramban Microsoft Edge baik di ponsel, tablet, maupun PC untuk mengakses.

Berkendara, Pakai Aplikasi Navigasi Apa?

Yang kemarin mudik, baik pakai roda dua maupun empat, kalian pakai aplikasi navigasi apa?

Ho ho…, mungkin kebanyakan akan menjawab Google Maps, karena merupakan aplikasi paling populer yang sering kita dengar dan kita gunakan di ponsel pintar.

Google Maps memang bisa untuk navigasi dengan bantuan peta dan GPS. Tapi saya sendiri kurang suka pakai Google Maps untuk navigasi. Saya memang menggunakan Google Maps untuk mencari informasi di peta, seperti Google untuk mencari informasi di web; tapi tidak untuk navigasi.

Ada yang menyarankan Google Maps Go, tapi saya sendiri tidak melihat banyak bedanya.

Google Maps menurut saya terlalu kompleks untuk melakukan navigasi. Saya hanya perlu dari titik A ke B, oke, selesai.

Aplikasi navigasi favorit saya sampai saat ini masih tetap Waze. Saya menggunakannya sejak era Symbian di ponsel Nokia.

Lanjutkan membaca “Berkendara, Pakai Aplikasi Navigasi Apa?”

Manajemen Keselamatan Pasien di Puskesmas

Sebelum saya menulis lebih jauh, ini bukanlah pedoman bagaimana mengelola keselamatan pasien di Puskesmas. Tapi sedikit, saya akan berbagi mengenai awal mencoba mengelola tim keselamatan pasien di puskesmas. Tulisan ini akan menjadi lebih banyak narasi dibandingkan hal-hal teknis, namun mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang bermanfaat di dalamnya.

Awal tahun ini, kepala puskesmas memanggil saya dan menyampaikan bahwa saya tidak lagi ditugaskan sebagai PJ (penanggung jawab) program PPI (pencegahan dan pengendalian infeksi), namun ditugaskan sebagai PJ Keselamatan Pasien dan memimpin tim keselamatan pasien yang baru dibentuk.

Lanjutkan membaca “Manajemen Keselamatan Pasien di Puskesmas”

Linux Mini PC

Kemarin mini PC merk Beelink seri U59 mogok. Sudah ditingkatkan ke Windows 11, tapi entah kenapa malam sebelumnya bisa digunakan secara lancar, besoknya sudah tidak bisa lagi.

Permasalahan klasik ada di freeze boot, tetap mentok di tampilan logo Beelink. Yang bisa diakses hanya setelan BIOS dan pilihan boot sesaat setelah booting sebelum macet total. Setelah menghubungi produsen dan diberikan citra Windows 11 baru, tetap saja tidak menyelesaikan masalah.

Windows 11 mungkin adalah satu sistem operasi yang penuh masalah, dan membuat saya malas menyelesaikannya. “Akhirnya kejadian juga,” Setidaknya demikian batin saya.

Lanjutkan membaca “Linux Mini PC”