Siapa yang perlu pemeriksaan swab untuk COVID-19?

Penentuan diagnosis COVID-19 saat ini paling banyak menggunakan pemeriksaan antigen dan tes amplifikasi asam nukleat (NAAT), melalui pengambilan sampel di nasofaring dan/atau orofaring melalui usapan (swab). Tapi siapa yang sebenarnya memerlukan pemeriksaan ini?

Pertama-tama perlu diketahui, bahwa pemeriksaan dan penegakan diagnosis selama pandemi sangat penting untuk memetakan perkembangan pandemi. Bagi pemerintah di hulu, ini bermanfaat untuk menentukan arah kebijakan. Bagi tenaga kesehatan di hilir, ini bermanfaat untuk menerapkan rekomendasi pengendalian kasus dan pengobatan yang efektif sedini mungkin.

Lanjutkan membaca “Siapa yang perlu pemeriksaan swab untuk COVID-19?”

Fenice untuk Twitter

Beberapa bulan terakhir, saya mengalami masalah dengan aplikasi resmi Twitter untuk Windows dari Microsoft Store. Saya selalu memerlukan masuk ulang (re-login) jika hendak mengakses Twitter, dan ini agak menjengkelkan – karena harus membuka ponsel dan mencari aplikasi otentikasi yang saya gunakan untuk kunci berlapis perlindungan akun Twitter.

Ada banyak aplikasi dari pengembang lain di Microsoft Store, namun saya pernah mencoba beberapa dan hasilnya agak kurang memuaskan. Tentu saja bisa membuat aplikasi Twitter dengan mudah melalui aplikasi Microsoft Edge, tapi harus rajin buat ulang aplikasi untuk website resmi, atau bisa menggunakan alternatif add-on Better TweetDeck juga sepertinya menarik.

Kemudian saya mencoba Fenice for Twitter, dan tampaknya sangat mudah untuk mengelola sejumlah akun sekaligus.

Lanjutkan membaca “Fenice untuk Twitter”

Aplikasi Google Meet untuk Windows

Google memiliki aplikasi rapat (meeting) yang enak, kini Hangout berubah menjadi Google Meet yang sangat mudah dan nyaman digunakan. Bisa melalui aplikasi Gmail di ponsel maupun dengan peramban di komputer.

Sayangnya, Google Meet tidak memiliki aplikasi asli pada sistem operasi Microsoft Windows (dan mungkin juga pada distribusi Linux). Hal ini karena Google bersikeras bahwa aplikasi melalui peramban sudah cukup membuat semua fitur yang diperlukan pengguna telah dapat diakses dengan optimal.

Lanjutkan membaca “Aplikasi Google Meet untuk Windows”

Panduan Isolasi Mandiri pada Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan buku saku untuk pedoman isolasi mandiri pada anak terkait situasi pandemi COVID-19 yang tengah terjadi saat ini.

Buku ini akan menjawab,

  1. Apa saja syarat isolasi mandiri pada anak?
  2. Apa saja gejala COVID-19 pada anak, dan apa tanda bahaya yang harus diwaspadai?
  3. Bagaimana asuhan bayi yang lahir dari ibu dengan COVID-19?
  4. Apa saja alat bantu yang diperlukan di rumah?
  5. Apa obat yang perlu disiapkan di rumah?
  6. Bagaimana protokol isolasi mandirinya?
Lanjutkan membaca “Panduan Isolasi Mandiri pada Anak”

Pop!_OS

Berbicara tentang sistem operasi distribusi Linux, Pop!_OS bukan pemain baru, namun juga bukan pemain lama. Sebagaimana halnya Zorin, Lite, dan Mint yang terlebih dahulu menghadirkan turunan Ubuntu dengan cita rasa mereka, PoP!_OS belakangan ini naik daun berkat cita rasa yang mereka berikan.

Distribusi Linux bisa dikatakan sistem operasi dengan paling banyak cita rasa dan sajian. Bisa dikatakan jika ini tentang kuliner, maka distribusi Linux adalah pasar malam yang menawarkan mulai dari jajanan dan minuman, hingga menu komplit mengenyangkan perut.

Jadi memilih distribusi yang enak bagi seseorang mungkin bukan hal yang mudah.

Lanjutkan membaca “Pop!_OS”

Mengucapkan Selamat Tinggal pada RumahWeb

Pada 22 Juli 2009, sekitar sebelas tahun sebelas bulan yang lalu, saya membangun sendiri website pertama saya berbekal pengetahuan HTML sederhana yang saya pelajari secara otodidak.

Membangun website ketika itu cukup menyenangkan. Dan sekitar tiga pekan lagi, genap dua belas tahun domain legawa.com berumur. Awalnya domain beli dan kelola melalui layanan RumahWeb, yang ketika itu masih di kantornya yang lama.

Tidak ada kartu kredit ketika itu, saya masih ingat membayar tahunan secara manual ke kantornya berada di sebuah perumahan di Sleman. Pelayanan yang ramah dan cepat membuat saya betah di RumahWeb.

Lanjutkan membaca “Mengucapkan Selamat Tinggal pada RumahWeb”

Windows 11? Atau tetap di Windows 10?

Empat hari yang lalu, Microsoft mengumumkan peluncuran Windows 11 sebagai penerus Windows 10. Banyak ulasan sudah muncul oleh mereka yang mencoba. Sementara saya sendiri berpikir sesuatu yang lain.

Sistem operasi seperti Windows 11 adalah sebuah investasi. Oke bahwa Windows 10 gratis, dan mungkin peningkatan ke Windows 11 yang akan meluncur di akhir tahun ini juga gratis. Tapi Anda tetap harus membiasakan diri dalam ekosistemnya, walau tentu saja ekosistem Windows tampaknya tidak banyak berubah.

Lanjutkan membaca “Windows 11? Atau tetap di Windows 10?”

Efek Samping Vaksin COVID-19 AstraZeneca

Apa efek samping penerimaan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan bagaimana mencegah serta menanganinya? Ini menjadi banyak pertanyaan dan kekhawatiran, baik di kalangan masyarakat umum, bahkan hingga tenaga kesehatan itu sendiri.

Kasus COVID-19 menanjak dengan cepat di pelbagai belahan dunia, terutama dengan munculnya varian baru yang lebih menular. Hal ini membuat program vaksinasi diupayakan berjalan lebih cepat lagi. Mengapa demikian? Karena jika varian baru yang berubah sifat menjadi 50% lebih cepat menular jauh lebih berpotensi menyebabkan banyak kematian dibandingkan dengan jika varian baru berubah sifat menjadi 50% lebih mematikan.

Salah satu vaksin yang digunakan adalah AZD-1222 yang banyak ditulis dalam artikel ilmiah sebagai ChAdOx1 nCoV-19 atau kita kenal sebagai vaksin COVID-19 AstraZeneca; salah satu jenis vaksin yang diproduksi oleh Oxford-AstraZeneca yang bermarkas di Cambrige, Inggris Raya.

AZD-1222 merupakan vaksin berjenis vektor viral yang menggunakan virus lain untuk mendapatkan efek vaksinasi pada penerima. Ini berbeda jenis lainnya, misalnya Sinovac yang menggunakan virus yang tak teraktivitas, atau lebih sering dikatakan virus yang sudah “dimatikan.”

Jenis vaksin COVID-19: Sumber: Aljazeera.

Vaksin AstraZeneca dibuat dengan menanamkan bagian RNA dari SARS-CoV-2 yang berfungsi untuk mentranskripsi protein S (diujung mahkota virus yang menjadi jembatan antara virus dengan sel inang) ke virus lain, umumnya adalah adenovirus yang sudah dihilangkan kemampuannya untuk menyebabkan penyakit dalam tubuh manusia.

Singkat cerita AstraZeneca adalah vaksin yang berisi adenovirus dengan materi genetik SARS-CoV-2 untuk merangsang sistem kekebalan tubuh pada penerima vaksin.

Vaksin AstraZeneca seperti vaksin COVID-19 lainnya, diharapkan dapat mengurangi angka kematian oleh COVID-19. Karena saat ini, satu-satunya metode mengurangi risiko kematian pada kasus COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi juga diharapkan mengurangi jumlah penderita COVID-19 yang harus sampai memerlukan perawatan di rumah sakit, mengurangi risiko infeksi, hingga mencegah penularan COVID-19 di tataran rumah tangga.

Oh ya, AstraZeneca bukanlah satu-satunya yang memproduksi vaksin dengan menggunakan vektor adenovirus, metode ini juga diterapkan pada vaksin buatan Johnson & Johnson.

Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan pembekuan darah hingga kematian, dan menyebabkan penundaaan pemberiannya di beberapa negara termasuk di Indonesia. Penyelidikan setelahnya menyatakan vaksin aman digunakan.

Seperti halnya vaksin lain, ada sejumlah efek samping yang dapat dirasakan oleh penerima vaksin COVID-19.

Efek samping vaksin COVID-19, sumber: https://doi.org/10.3346/jkms.2021.36.e114

Efek samping bisa muncul pada lebih dari separuh penerima vaksin, dan sebagian besar bersifat ringan serta membaik dalam satu atau dua hari ke depan. Efek samping yang dirasakan dapat berupa: pegal, nyeri, kemerahan, gatal, dan bengkak pada area suntikan; lelah, pusing, pegal linu, meriang, demam, mual muntah, hingga diaera.

Keluhan-keluhan tersebut umumnya mereda dengan sendirinya atau dengan bantuan obat-obatan ringan seperti parasetamol dan/atau antihistamin.

Lalu bagaimana yang katanya menyebabkan pembekuan darah hingga kematian?

Kasus ini sangat langka, dan dikenal sebagai kejadian VITT/TTS yang dapat ditelusuri melalui sejumlah penelitian permulaan.

WHO telah membuat pedoman sementara untuk diagnosis dan tatalaksana kasus sindrom trombosis dengan trombositopenia pasca vaksinasi COVID-19 dengan vaksin vektor adenovirus. Hal ini juga selaras dengan rekomendasi PAPDI terhadap penggunaan vaksin AstraZeneca.

Sedemikian hingga untuk menghindari kasus terjadi, calon penerima melalui skrining dengan tambahan detail dibandingkan dengan skrining pada vaksin non-vektor adenovirus. Misalnya untuk menemukan potensi riwayat trombosis pada pasien, seperti DVT (trombosis vena dalam), serta riwayat stroke dan/atau keguguran yang berulang yang mengarah pada kecurigaan adanya sindrom antifosfilipid.

Melalui kontekstualisasi risiko visual yang diterbitkan oleh EMA, kita bisa melihat bahwa vaksin ini efektif mencegah rawat inap pada kasus COVID-19 dengan sejumlah kejadian pembekuan darah lebih banyak pada mereka yang berusia di bawah 70 tahun.

Hal ini dan sejumlah studi pendukung yang mendorong tetap diberikannya vaksin AstraZeneca dengan melihat manfaat yang diberikan, dan diprioritaskan terhadap golongan usia tertentu (lansia) yang memiliki risiko TTS lebih rendah.

Gejala yang dicurigai sebagai TTS biasanya muncul antara hari ke-4 sampai hari ke-20 (dengan puncak pada hari ke-6 sampai ke-14) pascavaksinasi. Gejala tersebut termasuk:

  • Sakit kepala yang terus-menerus, parah dan intens
  • tanda-tanda trombosit rendah seperti petechiae, purpura atau mudah memar atau berdarah
  • gejala neurologis fokal
  • kejang atau penglihatan kabur/ganda (menunjukkan CSVT atau stroke arteri)
  • sesak napas atau nyeri dada (menunjukkan emboli paru atau sindrom koroner akut)
  • nyeri perut (menunjukkan trombosis vena portal)
  • pembengkakan anggota badan, kemerahan, pucat, atau dingin (menunjukkan trombosis vena dalam atau iskemia ekstremitas akut)
  • nyeri punggung

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut pada hari ke-4 hingga ke-20 pascavaksinasi dengan vaksin AstraZeneca, segera kembali memeriksakan diri ke fasilitas yang memberikan vaksin atau ke Puskesmas terdekat. Jangan lupa membawa kembali kartu vaksin Anda, dan dokter mungkin perlu memeriksa sampel darah Anda (hitung darah lengkap, apusan darah tepi, atau hitung angka platelet) untuk menentukan kecurigaan TTS.

Sekali lagi, TTS merupakan kondisi yang sangat langka. Bahkan COVID-19 pun dapat mengakibatkan trombositopenia yang menjadi lampu merah risiko perburukan hingga kematian. Sedemikian hinga, jangan menghindari vaksinasi karena mengkhawatirkan efek samping.

Skype, Teams, dan Zoom Meeting, pilih mana?

Pada era pertemuan digital ini, banyak sekali pilihan layanan pertemuan daring (online meeting) yang tersedia bagi kita. Zoom Meeting merupakan aplikasi yang paling populer, banyak sekali digunakan dalam pertemuan online.

Kali ini, saya hendak memberikan sedikit opini mengenai tiga layanan, yaitu Skype, Teams, dan Zoom Meeting.

Batasan ulasan ini adalah fungsi layanan sebagai media pertemua daring, dan ini tidak termasuk keperluan untuk seminar daring dengan peserta yang bisa membludak banyak. Keperluan pertemuan berarti layanan memiliki kemampuan untuk komunikasi dua arah, kemampuan berbagi layar, dan kemampuan merekam pertemuan. Saya rasa ketiga hal tersebut esensial untuk layanan, sebelum ditambahkan kemampuan multiplatform untuk menjangkau lebih pengguna secara lebih luas.

Skype dan Teams merupakan besutan Microsoft, serupa tapi tak sama. Teams sendiri dikembangkan untuk menggantikan Skype Business. Sementara Zoom merupakan layanan tersendiri oleh Zoom Video Communications. Kedua perusahaan berbasis di Amerika Serikat.

Sebagai catatan, ketiga layanan dari dua perusahaan tersebut memiliki fungsi dasar yang sama, tersedia multiplatform.

Group video chat on laptop

Skype umumnya langsung tersedia pada Windows 10, dan pada edisi terbaru bisa langsung digunakan melalui tombol rapat sekarang (meet now) di pojok kanan bawah layar. Skype gratis (walau terdapat Skype credit bagi yang ingin menggunakannya untuk menelepon ke telepon rumah/kantor/telepon kabel).

Pertemuan gratis dengan Skype ini memiliki penggunaan wajar (FUP), yaitu sampai 99 peserta (ditambah Anda), sampai 100 jam sebulan, dan masing-masing sesi pertemuan sampai 10 jam per hari.

Artinya Skype bisa untuk rapat 10 jam sehari selama 10 hari berturut-turut untuk 100 orang per bulan. Atau 5 jam per hari selama 20 hari berturut-turut.

Percakapan bisa direkam, dan diunduh kemudian melalui aplikasi Skype (seperti mengunduh video di WhatsApp). Berbagi layar dan mengundang orang untuk ikut pertemuan walau orang tersebut tidak memiliki akun Skype atau aplikasi Skype sangat membantu menerobos sawar komunikasi.

Skype tidak memiliki versi berbayar. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan akan ada tagihan.

Sisi buruknya, Skype sedang mengalami penurunan popularitas. Karena fungsi asalnya bukan rapat, tapi percakapan video yang kini sudah sulit mengalahkan aplikasi populer seperti Face Time, WhatsApp, dan lainnya.

Microsoft Teams, salah satu aplikasi yang juga menjadi penyebab bertambah terpuruknya Skype. Microsoft membuat dua aplikasi serupa tapi tak sama.

Pengembangan Skype bisa dibilang sudah memasuki masa matang, sementara pengembangan Teams masih dalam tahapan naik setelah lepas landas. Teams selalu menambahkan fitur baru, dan ini tidak hanya sekadar di bidang perangkat lunak, namun juga perangkat keras untuk mendukung rapat yang berkualitas.

Menurut saya, Microsoft Teams adalah raja tanpa mahkota dalam aplikasi pertemuan daring. Bagaimana pun, Teams tidak bisa mengalahkan popularitas. Saat ini, Zoom memiliki lebih dari 40% penguasaan pasar diikuti oleh GoToWebinar di kisaran 20%, dan Cisco Webex di sekitaran 15%. Sehingga Teams bahkan tidak bisa memasuki popularitas 5 besar.

Mengapa saya memasukan Microsoft Teams, karena mungkin ini adalah layanan yang paling murah. Versi gratis Teams mirip dengan Skype, dapat digunakan rapat untuk 100 orang hingga 1 jam per satu sesi. Hanya saja, versi gratis tidak bisa menyimpan rekaman rapat. Tapi versi gratis dapat digunakan untuk berkolaborasi mengerjakan berkas Word, Excel, dan PowerPoint ketika rapat berlangsung.

Versi berbayar Microsoft Teams tersedia satu paket dengan Microsoft Business Basic, termasuk Word, Excel, PowerPoint, Outlook, Exchange, SharePoint, dan OneDrive secara daring. Biayanya sekitar IDR 39,1K per bulan (di luar pajak). Bisa digunakan untuk 300 perserta rapat dengan durasi rapat 24 jam, dan penyimpanan lampiran sebesar 1TB.

Bagaimana dengan Zoom? Zoom paling populer, paling terkenal, dan paling banyak penggunaannya. Versi gratis bisa untuk 100 peserta rapat, per sesi hingga 40 menit, dan dapat merekam pertemuan.

Zoom Meeting berbayar paling terjangkau senilai IDR 233K per bulan atau IDR 2.333K per tahun (sebelum pajak). Dapat digunakan untuk 100 peserta rapat (dapat ditingkatkan hingga 1.000 peserta dengan tambahan biaya) dengan durasi rapat hingga 30 jam.

Jika tidak memerlukan banyak pertemuan, Zoom dapat “disewa” dari reseller di e-niaga dengan nilai paling murah sekitar IDR 20K per hari untuk pertemuan yang sama.

Tapi Zoom memiliki keunggulan, yaitu pertemuan dapat disiarkan ke jejaring sosial seperti YouTube secara otomatis. Sementara Teams dan Skype tidak memiliki fungsi tersebut, sehingga perlu aplikasi OBS (open build broadcaster) pihak ketiga untuk ini, yang juga berpotensi menurunkan kualitas siaran di jejaring sosial.

Pertanyaannya kemudian, mana yang dipilih?

Saya sendiri memasang ketiganya dalam versi gratis di laptop, bahkan saya memasang aplikasi lain seperti Webex, karena jika saya mengikuti suatu pertemuan, saya tidak akan bisa menebak, aplikasi mana yang akan digunakan.

Jika saya yang akan mengadakan pertemuan, maka pilihannya sederhana, saya akan menggunakan Skype. Alasannya, gratis, bisa untuk banyak peserta, durasi pertemuan masuk akal (600 menit untuk versi gratis, dibandingkan 60 pada Teams, dan 40 menit pada Zoom Meeting). Lagi pula, siapa akan rapat lebih dari 10 jam sehari?

Jika saya memiliki kewajiban setiap hari harus ada pertemuan daring, misalnya besok layanan konsultasi kesehatan online akan dibuka untuk pasien, dan mungkin 100 jam sebulan tidak mencukupi. Maka pilihan saya adalah tetap Skype, karena pertemuan orang per orang tidak dibatasi. Kecuali pertemuan memerlukan 3 atau lebih peserta, maka Teams adalah opsi premium yang murah (IDR 40K dibandingkan IDR 233K pada Zoom Meeting).

Jika pertemuan itu hanya sekali dalam sebulan, peserta di bawah 100 dan perlu dipublikasikan via YouTube secara langsung, maka Zoom Meeting adalah pilihan. Beli eceran di toko daring seharga IDR 20K untuk sehari, sudah cukup hemat.

Bagaimana dengan Anda? Apa pilihan Anda?

ProtonMail dan CTemplar

Apakah kita pernah berpikir bahwa email selaaknya bisa memberikan privasi yang lebih baik? Surat kita tidak dibaca oleh mesin untuk menampilkan iklan yang cocok di halaman-halaman yang kita kunjungi?

Anda sendiri pakai email dari penyedia yang mana? Yahoo, Google, atau Outlook? Setidaknya itu adalah pemain besar yang ada saat ini.

Saya sendiri adalah penggemar Outlook, karena alamat surat elektronik yang saya miliki termasuk yang paling tua dengan domain MSN sejak tahun 2003, hampir dua puluh tahun. Dan Microsoft tampaknya saat ini mengelolanya dengan baik.

Saya memiliki juga akun Google dan Yahoo yang masih aktif dengan usia yang kurang lebih sama. Saya tidak terlalu menggunakan Yahoo lagi sejak layanan itu diambil alih oleh Verizon. Sementara Google hanya untuk konektivitas ke jejaring sosial, yang jelas isinya entah notifikasi, kabar berita, atau iklan.

Lanjutkan membaca “ProtonMail dan CTemplar”