A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sudah lebih dari pukul empat pagi, lebih dari satu jam mataku belum bisa terpejam lagi. Nyeri di dadaku sepertinya bertahan lebih lama dari biasanya, sepertinya kali ini benar-benar remuk, walau napasku tak lagi terasa berat seperti saat aku bergulat untuk terjaga dari tidurku tadi. Pikiranku melompat dari skenario satu ke skenario yang lainnya, walau demikian, yang dapat kulakukan hanya mengamatinya.

Aku tahu, sepertinya cepat atau lambat ini akan terjadi, setelah kuputuskan untuk mengambil salah satu skenario terburuk. Setidaknya ini bukanlah acute coronary syndrome, not yet at least. Aku masih bisa menggerakkan seluruh bagian dengan fungsi yang baik, mungkin sementara tak akan ada masalah.

A shinning Kindness, itulah anagram untuk semua situasi yang kuhadapi saat ini. Terlalu baik untuk dipaksakan…, hmmm, sebelum kulanjutkan menulis, khusus untuk bagian yang satu ini, tulisannya memang sengaja kubuat untuk tidak dapat dipahami oleh orang lain, kecuali diriku dan pemilik anagram itu, ini hanya sebagai sebuah catatanku untuk mengingatkan sesuatu tentunya.

When you find someone so precious, you may shall do everything to make one’s happiness … one’s smiles… never covered with tears neither sadness. For that very purpose, an action must takes place and there will be a price of it. Even the consequence shall be last till the single last of your breathe in this life, you will make your own destiny with it.

 

Ah…, walau aku ragu jika semua sudah berakhir sampai di sini, karena rantai kehidupan tak bisa dihentikan begitu saja. Satu getaran akan merambat ke ujung rantai yang lainnya, its still shaking anyway. Badai ini terlalu hebat untuk diredakan dengan ketidakacuhan, karena akar-akarnya telah ditancapkan begitu dalam dan pusarannya telah menari hingga ke atap langit. Dunia yang terhempas oleh badai seperti ini, tak akan pernah menjadi sama lagi. Seperti dua bulan terakhir ini aku terlalu banyak permasalahan yang melelahkan batin. Namun lari bukanlah pilihannya, itu tak akan pernah menyelesaikan masalah, hanya meninggalkannya sejenak dibelakang, sebelum ia menjadi cukup besar untuk menimpa kita kembali.

Namun inilah yang dapat kulakukan, sudah cukup ada air mata, untuknya itu terlalu berharga untuk diteteskan. Jika ia tak cukup kuat untuk menapaki kenyataan, maka akan kukuburkan kebenaran, ah… ngomongnya lebih sederhana dan mudah dari pada kenyataannya. Rasanya jadi perlu menyiapkan regimen tromblotik dan anti-platelet-agregasi, yah… untuk berjaga-jaga.

 

Seandainya waktu pun dapat kubalikan, aku tak akan melakukannya. Kenyataan yang sesungguhnya berada jauh dari jangkauan waktu. Ia adalah bunga abadi yang tak mengenal musim, tak mengenal waktu, ia kan merekah jika waktunya telah tiba, dan keindahan itu akan menghiasi setiap sudut yang menantikan. Hingga saat itu tiba, akan kulanjutkan perjalananku yang terkadang konyol ini, dan melihat kembali ketika badai ini telah mereda, walau itu berarti selamanya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar