Tulisan tidak harus selalu memiliki sebuah tujuan, karena seni ini adalah sebuah seni yang mengungkapkan, sebagaimana seni musik atau pun seni lukis, terkadang sebuah tujuan akan muncul sepanjang perjalanan tulisan itu sendiri, ketika makna-makna akannya mulai bermunculan. Hakikat keindahan hati dalam mengungkapkan sesuatu tak dapat didiktekan oleh apapun juga, kita boleh saja membaca banyak buku di bidang sastra, Art of Writing hingga Writing for Dummies atau Rules in Writing and Publications (semua ini judul samaran belaka), tetap saja tulisan indah akan berasal dari ungkapan hati yang penuh keindahan. Tentu saja, membaca juga adalah sebuah seni, kita bisa memperoleh banyak hal darinya, dan salah satu yang berharga bagi mereka yang mencintai seni “mengungkapkan” menyebutnya sebagai “inspirasi”.
Bagaimana Anda dapat melentikan jari jemari anda ketika hati ini dipenuhi oleh kabut yang menutupi semua kecerahannya. Anda mungkin dapat menuliskan ribuan kata secara apik, namun saat memandangnya kembali, tiada kehidupan di dalamnya. Jika melihat hal ini, bukan berarti kita tak dapat menulis dalam perasaan yang galau, tulisan dapat menjadi bagian yang menyematkan keindahan dalam gelisahan-gelisahan yang tak kunjung menjadi terang. Dan jika beruntung, Anda mungkin akan menemukan gelisahan anda lenyap bersama goresan yang telah Anda ciptakan, seakan luka itu terpindahkan ke dalam media yang bisu, namun jika Anda menulis untuk menghilangkan kegelisahan Anda, ketika tujuan itu ada, mungkin Anda tak akan seberuntung itu. Biarkanlah mentari dan rembulan menyinari hati dan perasaan Anda, biarkan untaian embun yang dihembuskan angin ke dalam sanubari menyejukkan jiwa kita, biarkan jendela terbuka dan suka cita datang dan pergi, tidak mengejar atau menahan apapun, jika Anda berjodoh…, tulisan itu akan mengalir dengan sendirinya seakan bagian yang alami dari dalam diri ini.
Mengapa kita menulis, adakah sebuah alasan yang tersembunyi. Aku sendiri tak mampu menjawabnya, mengapa aku suka menulis, itu hanyalah sebuah bagian dari yang kusuka (mungkin karena itu banyak sahabat yang mengatakan jika aku lebih tepat di sastra dibandingkan di kedokteran). Seperti sebuah jiwa yang selalu hidup dan mengalir, tulisan akan datang dan pergi di dalam hati, tugas batin kita adalah memutuskan apakah tulisan itu akan tergoreskan pada lembaran-lembaran kehidupan ini, tak bisa kupejamkan mata hati dan membiarkan setiap yang tergores di dalamnya tanpa teramati. Ini seperti seorang yang sedang mencintai, tak ada alasan khusus, somehow one needs no reason to be in love. Jika engkau mencintainya, mungkin tak ada alasan yang cukup kuat untuk mengungkapkan semua itu, karena sepertinya itu telah menjadi sebuah bagian yang menyatu dengan kehidupan-mu, seperti sebuah kode gen yang terangkai dengan menakjubkan.
Apa yang dapat kita lakukan? Menulislah jika kita menyukainya, mengikuti aliran perasaan yang tak akan pernah terduga, kehidupan penuh akan kejutan, oleh karenanya perasaan dan cinta yang hidup pun selalu penuh kejutan, jangan terlalu berusaha memperkirakan kemana goresanmu kan berlari, biarkan ia bekejeran dengan sang waktu, dan engkau akan menemukan ketika waktu terhenti, telah terpercikan keindahan yang menjadi cerminan hatimu. Buanglah ketakutan yang sia-sia, jangan takut tulisanmu tak akan disukai oleh lain, apa yang mereka ketahui tentang dirimu, jika engkau cukup jatuh kuat untuk jatuh cinta dengan segenap hatimu, mengapa mesti ada ketakutan…. bukankah ketakutan akan menimbulkan keraguan, dan keraguan akan mematikan langkah-langkah yang telah menapak dengan anggun dalam lembaran yang selalu baru.
Menulislah dengan hati dan perasaan… karena selama ini kita terlalu sibuk menulis untuk sebuah tujuan tertentu, kini menulislah sebagaimana gerak dalam hatimu, dan biarkan dunia melihat kita adanya melalui rangkaian kata-kata yang berbulir dalam suka cita.
-- Cahya Legawa on Haridiva's Spring Pages of June

Tinggalkan komentar