A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ialah bulir embun yang paling rapuh ketika mentari pagi tak kunjung terbit, terseok di antara pucuk rerumputan, tersibak dalam kuncup-kuncup yang menolak untuk membuka. Ialah tarian alam yang bergerak dengan begitu dalam dan menyayat, ialah suara yang hilang dalam kerimbunan yang tiada. Ialah pembawa pesan dari rasa yang terkurung dalam ketidaktahuan. Ialah sang kesedihan yang datang kembali.

Kesedihan merupakan bagian dari kehidupan manusia, aku melihat ia tak pernah sungguh-sungguh pergi dari diri kita ~ walau mungkin itu karena kitalah yang telah menahannya ~ ia seperti detak yang kembali menjadi denyutan ketika satu atau dua hal yang mencetuskannya telah menghentak ke dalam sanubari ini. Ketika kita sedih, kita dapat mengutarakan seribu satu penyebabnya, namun jauh di dalamnya semuanya menjadi sama, sebuah irama yang mengalir dengan tersendat-sendat, seakan ia tak pernah bisa menyampaikan yang ia inginkan.

Memahami mengapa kita bersedih mungkin adalah sebuah langkah sederhana yang terbaik. Walau demikian, kita terkadang tak ingin memahami mengapa kita bersedih, karena menatap sumber kesedihan itu sendiri mungkin akan membawa lebih banyak rasa derita. Ya, menatap langsung ke dalam sebuah fakta yang menyebabkan semua rasa menjadi tak menentu dalam sebuah dimensi yang kelam ~ adalah hal terakhir yang diharapkan oleh jiwa yang berada dalam derita itu sendiri.

Namun apa gunanya memungut harapan harapan awal yang tak menentu, aku lebih suka mengambil yang terakhir, ambilah kebenaran itu, dan aku ingin melihat dengan sendirinya mengapa aku bersedih, mengapa semua ini terjadi berulang. Karena hanya semua itulah yang dapat memberikanku kesempatan, untuk mengenal sang irama alam yang satu ini, sang keseimbangan yang selalu disisihkan dari kehidupan manusia.

Kekalutan itu akan hadir ketika sebuah jiwa yang berusaha ingin mengaduk danaunya yang perlahan mulai menenang. Ketika ia sendiri lebih memilih kebenaran dalam dirinya daripada tumpukan endapan yang lambat laun mencemari danau itu sendiri walau dalam wajah ketenangannya.

Walau menggoreskan langit dan menguak cakrawala, manusia tak dapat memaksakan matahari untuk selalu berada di atas. Walau menggemakan segenap suara jiwa, malam tak selamanya melantunkan sinar rembulan yang menyejukkan. Walau semua kebenaran dapat ditelusuri, kesedihan dan luka belum tentu akan sirna, memahami kesederhanaan dan keseimbangan ini, dengan sendiri orang menemukan sang kedamaian.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar