A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Perjalanan dari Yogya menuju Bali dengan menggunakan angkutan darat, memerlukan waktu relatif sekitar 16 hingga 18 jam, namun entah mengapa kali ini perlu waktu 20 jam, yah…, begitulah kata teman-temanku tentang Bus “Restu Mulya” yang pertama kali kugunakan ini, tampaknya mereka memiliki jalur yang lebih “unik” dibandingkan perusahaan lain. Tentunya ini memang bukan yang kuharapkan, aku sendiri yang fleksibel tidak akan bermasalah, namun di terminal di sana di kampung halamanku, ada musuh bebuyutanku yang akan kesal menunggu sejak pagi, tentu saja karena ia juga adalah malaikat penjagaku, hi hi, mungkin sesekali membuat Ratna kesal adalah hal yang menarik, dalam perjalanan sudah dapat kubayangkan mimik wajahnya yang jengkel padaku…, ah…, setidaknya memang dari dulu dia suka jengkel padaku.

Rencananya adalah sekaligus mengantar beberapa “dokumen” dari pihak angkatanku di UGM yang akan mengadakan seminar guna penggalian dana, beberapa lembar yang harus diserahkan pada seorang teman di FK UNUD, yang bersedia membantu dengan perluasan informasi seadanya. Namun, betapa malangnya saat kami sadari, bahwa lembar-lembar itu masih tertinggal di seberang lautan sana. Yah…, aku pun diantarkan oleh malaikat-ku yang selalu banyak protes ke rumahku di Gianyar. Aku tahu akan diadakan acara keluarga di Mengwi, sehingga mungkin ada kendaraan di Gianyar yang bisa kubawa pulang ke Mengwi, namun apa daya, sampai di rumah, ternyata tak satu pun kendaraan yang tersisa. Nampaknya aku terpaksa harus meminta jemputan dari keluarga di Mengwi.

Well…, singkat cerita. Aku pun sampai di rumah, tak perlu kuceritakan, karena hampir setiap keluarga memiliki cerita yang sama, dan hampir setiap orang mampu mengimajinasikan apa yang terjadi. Malam itu, memang direncanakan sebuah acara syukuran kecil yang sederhana, sebenarnya sih ulang tahun adik sepupuku…, ah…, namun aku selalu senang nimbrung di dalam acara orang lain, hmm…, dalam hati kecilku tertawa geli…, umur dua puluh empat tahun, sudah tidak seharusnya berulang tahun ria seperti anak kecil…, namun mungkin…, akulah anak kecil itu sendiri.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar