A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Rasanya itu kemarin ketika saya menonton secuplik berita di layar kaca, tentang sebuah komunitas masyarakat yang menghalangi kelompok warga lainnya – dengan menghadang jalan – ketika mereka hendak menghantarkan jenazah salah satu anggota warganya ke peristirahatan terakhir.

Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi konflik horizontal seperti ini atau-pun dengan latar belakang yang berbeda selalu bisa kita temukan di tengah-tengah masyarakat. Tapi akar konflik itu selalu ada di masa lalu, selalu ada dalam segumpal kepentingan, kehendak pun emosi yang mengganjal.

Dan masa lalu, selalu menyediakan banyak celah untuk tetap hidupnya konflik-konflik ini di masa kini.

Mengapa kita tidak menuangkan secangkir kedamaian ke dalam hidup kita? Apakah segalanya terlalu sulit untuk dilepaskan.

Kedamaian bukanlah sesuatu yang stagnan, yang bisa didirikan kemudian dipamerkan dan dipuja-puji. Kedamaian datang ketika manusia dapat membiarkan masa lalunya mengalir pergi, menuangkan curahan hatinya secara lembut ke dalam kehidupan, dan membiarkan alam mengalir menemukan bentuk alaminya – dan alam di sini bukanlah sesuatu yang terpisah-pisah, namun termasuk manusia dan segenap perasaan yang ada di dalam batinnya.

Kedamaian tidak akan hadir ketika manusia berusaha memaksakan keinginannya dan masa lalunya untuk hadir dalam sebentuk kidung di kekinian.

Mengapa kita tidak menuangkan secangkir kedamaian? Dan lihatlah betapa kita dapat tersenyum setelahnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. imadewira Avatar

    Sepertinya saya tahu berita yang dimaksud, dan kita seringkali melihat konflik seperti ini terjadi. Saya juga tidak tahu apa akar masalahnya, tapi rasanya hati ini ikut pilu jika membayangkan bagaimana jika saya yang menjadi anggota keluarga dari jenasah tersebut.

    Suka

  2. suzannita Avatar
    suzannita

    secangkir kedamaian, sepertinya itu yang benar-benar saya butuhkan saat ini

    Suka

  3. Nandini Avatar

    ingat lagunya shaggydog – sayidan. ada bait "di sayidan di jalanan.. tuangkan air kedamaian…" 🙂

    Suka

  4. Ladeva Avatar
    Ladeva

    Iya Mbak, aku juga heran dengan orang-orang yang masiiih aja suka cari masalah. Mari hidup dengan damai dari sekarang, dimulai dari kita sendiri 🙂

    Suka

Tinggalkan komentar