A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mengapa kita, orang Indonesia, tidak berbahasa Belanda mengingat sejarah kita pernah menjadi daerah kolonial Kerajaan Belanda? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak sebagian orang, terutama yang tertarik dengan sejarah dan budaya Indonesia. Apakah kita tidak ingin menghormati warisan budaya yang ditinggalkan oleh para penjajah? Apakah kita tidak ingin memperluas wawasan kita dengan belajar bahasa asing yang memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Indonesia? Apakah kita tidak ingin mempererat hubungan kita dengan negara yang pernah menjadi bagian dari sejarah kita?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dulu bagaimana sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, yang merupakan bahasa lingua franca di Nusantara sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Bahasa Melayu juga dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain yang datang bersama dengan pedagang dan penjelajah dari berbagai negara, seperti Arab, Persia, India, Cina, Portugis, Spanyol, Inggris, dan tentu saja Belanda. Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa resmi di Hindia Belanda, yang merupakan nama kolonial Indonesia pada masa penjajahan Belanda.

Namun, bahasa Melayu tidak menjadi bahasa ibu bagi sebagian besar penduduk Hindia Belanda. Mereka tetap menggunakan bahasa-bahasa daerah mereka masing-masing, seperti Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Bali, dan lain-lain. Bahasa Melayu hanya digunakan sebagai bahasa komunikasi antara kelompok-kelompok etnis yang berbeda, atau antara pribumi dan orang-orang asing. Bahasa Belanda sendiri hanya dikuasai oleh sebagian kecil penduduk Hindia Belanda, yaitu mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah Belanda atau bekerja di pemerintahan kolonial. Bahkan banyak orang Belanda sendiri yang tidak bisa berbahasa Melayu atau bahasa-bahasa daerah lainnya.

Lalu bagaimana bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia? Proses ini dimulai pada awal abad ke-20, ketika muncul gerakan nasionalisme di kalangan para pemuda dan cendekiawan pribumi. Mereka menyadari bahwa untuk mempersatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, mereka membutuhkan sebuah bahasa nasional yang bisa diterima oleh semua orang. Bahasa Melayu dipilih sebagai bahasa nasional karena dianggap sebagai bahasa yang paling netral dan mudah dipelajari. Bahasa Melayu kemudian disempurnakan dengan menambahkan kosakata-kosakata baru dari bahasa-bahasa daerah atau asing, serta menyeragamkan tata bahasanya. Bahasa Melayu inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia.

Pada tahun 1928, para pemuda dari seluruh Nusantara berkumpul di Jakarta dan mengikrarkan Sumpah Pemuda. Salah satu isi sumpah tersebut adalah “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu: tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu: bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan: bahasa Indonesia.” Sumpah Pemuda ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam naskah proklamasi tersebut, mereka menulis “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.” Naskah proklamasi ini ditulis dalam bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa resmi negara Republik Indonesia.

Dari uraian di atas, kita bisa melihat bahwa bahasa Indonesia bukanlah sekadar bahasa komunikasi, melainkan juga bahasa identitas dan bahasa perjuangan. Bahasa Indonesia menjadi simbol dari kesatuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga menjadi alat untuk mengekspresikan budaya dan pemikiran bangsa Indonesia, yang kaya dan beragam. Bahasa Indonesia juga menjadi jembatan untuk berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tanpa harus merasa rendah diri atau kehilangan jati diri.

Mengapa kita tidak berbahasa Belanda? Karena kita tidak perlu berbahasa Belanda. Kita sudah memiliki bahasa kita sendiri, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa yang kita cintai, bahasa yang kita banggakan, bahasa yang kita junjung tinggi. Bahasa Indonesia adalah bahasa kita, bahasa bangsa Indonesia.

Catatan: Tulisan ini dirilis dalam rangka bulan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar