A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mata rakyat Indonesia terpaku pada layar kaca Rabu malam kemarin. Bukan sinetron drama terbaru, tapi panggung debat panas para calon wakil presiden. Topik? Pentas kali ini khusus membahas denyut nadi bangsa: ekonomi. Dan wah, para jagoan tak segan adu argumen dan visi untuk meyakinkan siapa yang paling layak memegang kendali.

Photo by ahmad syahrir on Pexels.com

Dari kubu Biru, Pak Teguh, sang pebisnis senior, meledakkan panggung dengan gebrakan keberanian. “Kita butuh solusi konkret, bukan janji muluk!” ucapnya, seraya menjabarkan rencana deregulasi dan investasi besar-besaran. Kubu Merah tak mau kalah. Ibu Wulan, sang ekonom muda, tampil penuh data dan grafik, menegaskan pentingnya keadilan ekonomi dan pemberdayaan UMKM. “Tak cukup sekadar angka tinggi, rakyat harus merasakan langsung manfaatnya,” tuturnya, disambut sorak pendukung.

Tak cuma adu program, debat malam itu sarat dengan adu pengalaman. Pak Teguh menitikberatkan keahliannya memajukan perusahaan, menjanjikan hilir mudik investasi asing. Ibu Wulan tak tinggal diam, mengingatkan pentingnya keberpihakan pada wong cilik, dengan skema kredit mikro dan penguatan koperasi. Panas, bukan?

Inflasi yang membara, lapangan kerja yang menipis, UMKM yang terseok-seok, semua jadi bahasan. Para capres calon tak segan mengumbar kritik dan solusi, saling tolak argumen dengan data dan logika. Penonton pun seolah diajak masuk ke ruang rapat kabinet, menyaksikan langsung proses lahirnya kebijakan.

Debat semalam memang tak menghasilkan pemenang instan. Tapi, para rakyat Indonesia, para pemilih yang menentukan, kini punya bekal tambahan. Kita bisa melihat sekilas, siapa yang lebih siap menghadapi badai ekonomi, siapa yang punya solusi jitu untuk kantong yang kempes, siapa yang tak cuma ngomong tapi punya pengalaman mewujudkan janji.

Jadi, setelah menyaksikan duel panas para jagoan ekonomi semalam, mana yang lebih masuk ke hati Anda? Siapa yang suaranya lebih nyaring menyuarakan harapan rakyat? Pilihan ada di tangan kita, para pemilik sah masa depan Indonesia. Jangan biarkan debat ini jadi sekedar tontonan, jadikan ini pertimbangan matang menentukan siapa yang akan memegang kendali ekonomi bangsa. Dan, ingatlah, suara Anda, suara kita, punya kekuatan menentukan arah laju kapal Indonesia di tengah ombak ketidakpastian!

P.S: Oke, ini fiksi semata, tapi setidaknya seperti itu sebenarnya yang saya harapkan dari sebuah debat. 😉

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar