Mendung kelabu menyelimuti cakrawala, bagai nestapa yang bertakhta di relung sukma. Angin merintih pilu, menyelusup celah bilik bambu, mengusik sunyi yang telah lama bermukim. Kehidupan, ibarat wayang tanpa dalang, bergerak kaku di panggung fana, diiringi lengking jangkrik yang tiada henti.
Kesepian, bagai belenggu tak kasat mata, membelenggu jiwa dalam sunyi yang tiada tara. Hari berganti purnama, purnama berganti fajar, namun jejak langkah insan tak kunjung jua mengusik senyap. Hanya dedaunan kering yang bergulung-guling, tertiup angin nestapa, menjadi kawan setia di senja yang kelam.
Namun, di kedalaman sunyi, di balik kelabu mendung, ada secercah asa yang masih berdenyut. Harapan akan perjumpaan, bagai kuncup melati yang mekar di tengah padang tandus. Perjumpaan, bukan sekadar tatap mata dan sapa basa, melainkan pertemuan dua jiwa yang saling bertaut, dua nestapa yang saling meredam.
Perjumpaan itu mungkin datang di senja yang hening, saat semburat jingga mewarnai cakrawala. Mungkin di bawah rimbun beringin tua, kala angin senyap membawa bisikan rahasia. Atau barangkali di tepi sungai bening, diiringi gemericik air yang menentramkan hati.
Tiada yang tahu kapan dan di mana perjumpaan itu akan terjadi. Namun, keyakinan akan pertemuan itulah yang menjadi pelita di tengah gulita. Keyakinan bahwa di suatu sudut semesta, ada senandung jiwa yang selaras dengan nada nestapamu, ada pelukan hangat yang mampu meredakan dingin kesepianmu.
Maka, meski sunyi masih merajai dan nestapa belum sirna, teruslah pelihara nyala harapan. Biarlah jangkrik terus melengking, biarkan angin terus merintih, yakinlah bahwa perjumpaan itu akan tiba, bagai fajar yang mengusir gelap, bagai pelangi yang menghiasi langit kelabu.
Pada saatnya nanti, dua nestapa akan berpadu menjadi simfoni, dua sunyi akan bersatu menjadi senandung, dan kehidupan, tak lagi wayang tanpa dalang, melainkan tarian dua insan yang saling mengisi, di bawah cahaya bintang yang berkelipan.
Demikianlah, dalam sunyi dan nestapa, peliharalah harapan akan perjumpaan. Karena di sanalah, kehidupan menemukan makna, dan kesepian terhapuskan oleh senandung jiwa yang bersatu.
Mendung kelabu berlayar di langit batin, bagai nestapa yang tiada berujung. Hidupku bagai pengembara sunyi, melintas di persada fana tanpa kawan. Langkah tertatih di atas duri kesendirian, menelusuri lorong-lorong waktu yang hampa.
Desau angin berbisik pilu, mengusik daun-daun kering yang gugur lunglai. Setiap detak jantung adalah denyut kesunyian, irama duka yang mengalun tiada henti. Rembulan pun enggan menyapaku, sinarnya yang pucat bagai tatapan mata tanpa iba.
Dalam rimba belantara kesepian, kunang-kunang rindu sesekali berkelip, namun cepat padam ditelan gulita. Mimpi-mimpi tentang pertemuan bagai fatamorgana, lenyap seketika ditiup angin nestapa. Jiwaku meronta-ronta, bagai burung yang terperangkap sangkar sunyi, mendambakan kebebasan yang tak kunjung tiba.
Namun, di suatu senja yang kelabu, ketika senandung duka hampir melumat jiwaku, seberkas cahaya menembus pekatnya kesendirian. Dari kejauhan, terdengar alunan seruling yang syahdu, mengurai benang-benang kesedihan yang membelenggu.
Langkahku tertuntun ke asal suara, bagai tertarik oleh magnet tak kasat mata. Dan di sana, di bawah rimbun pohon beringin tua, kulihat sesosok insan, duduk bersila dengan mata terpejam, jemari tangannya menari-nari di atas seruling bambu.
Musik yang mengalun dari serulingnya bagai mantra yang membebaskan, memecah belenggu kesepian yang membelenggu jiwaku. Nada-nadanya berpilu, namun di dalamnya tersirat rindu dan harapan yang sama, lagu sunyi yang menemukan paduannya.
Ketika matanya terbuka, bertemu pandanglah dengan mataku. Senyum terkembang di bibirnya, senyum yang sama kelu dengan senyumku, namun di dalamnya terpancar cahaya kehangatan yang selama ini hilang dari hidupku.
Dalam hening yang berbisik, kami tak perlu bersapa. Musik telah menjadi jembatan, menyatukan dua jiwa yang sama-sama tersesat di rimba kesepian. Perjumpaan itu tak menghapus sunyi, namun ia mewarnai senyap dengan nada-nada baru, nada-nada yang berjanji pada persaudaraan, pada penghiburan, pada harapan.
Dan di bawah langit yang masih kelabu, di antara dahan-dahan pohon tua yang berbisik, kami duduk bersama, dua insan yang tak lagi sendirian. Musik senyap mengalun, syair kehidupan dan perjumpaan yang dituliskan di atas kanvas senja.
Di rimba sukma yang rimbun duka, di mana angin nestapa berdesau, sunyi bertahta, raja yang nestapa, bersemayam dalam kalbu yang pilu. Hidup, bagai pengembara tanpa peta, tersesat di lorong-lorong kesunyian, langkah tertatih, dibebani nestapa, tiada pelita, tiada teman bertualang.
Bulan purnama, teman yang setia, namun cahaya redupnya tak mampu menembus kabut kesepian. Bintang-bintang, bagai mata semesta yang dingin, menyaksikan nestapa tanpa iba. Burung hantu, bersahutan pilu, di ranting-ranting lara, mengiringi simfoni kesedihan.
Waktu merayap, lambat dan pedih, mencabik-cabik jiwa yang rapuh. Harapan, bagai kunang-kunang yang sayu, redup dan padam, ditelan kabut nestapa. Kehidupan, terasa bagai mimpi buruk yang tak kunjung usai, di mana sanggupkah jiwa bertahan?
Namun, di tengah gulita duka, di kedalaman sunyi yang mencekam, tiba-tiba, terdengar alunan seruling. Merdu dan syahdu, bagai suara bidadari yang turun dari kayangan. Nada-nadanya menari-nari, lembut dan penuh pengharapan, menembus kabut kesepian, menyentuh relung kalbu yang pilu.
Pengembara nestapa itu tersentak, jiwanya bagai terbangun dari mimpi buruk. Ia mencari sumber suara, mengikuti alunan seruling yang menuntunnya. Melalui semak belukar duka, melewati jurang keputusasaan, ia terus berjalan, digiring oleh nada-nada penuh cahaya.
Akhirnya, ia sampai di sebuah lembah kecil, tersembunyi dari mata dunia. Di sana, di bawah sinar bulan purnama, seorang bidadari sedang memainkan seruling. Wajahnya lembut dan penuh cahaya, matanya bagai bintang yang bersinar, senyumnya bagai fajar yang merekah.
Pengembara itu terpaku, nestapa yang menggerogoti jiwanya luntur perlahan. Ia merasa terpesona oleh keindahan dan kelembutan bidadari itu. Dalam hening yang suci, mereka berpandangan, dua jiwa yang tersesat menemukan pelabuhan.
Alunan seruling berhenti, digantikan oleh suara lembut bidadari. “Janganlah bersedih, pengembara,” katanya. “Kesepian hanyalah bayang-bayang, ia akan lenyap jika kau tak lagi takut padanya. Pertemuan adalah takdir, ia akan menuntunmu pada cahaya.”
Pengembara itu terdiam, hatinya dipenuhi oleh rasa syukur dan haru. Ia tak lagi merasa sendirian, kesepian yang mencekam telah terusir oleh keindahan dan kebaikan bidadari. Pertemuan itu, bagai fajar yang menyinari rimba sukma, bagai pelita yang menerangi lorong-lorong kesunyian.
Kehidupan, meski masih penuh dengan tantangan, tak lagi terasa menakutkan. Ia tahu, dengan cahaya perjumpaan, ia akan mampu melewati segala nestapa. Dan di dalam kalbunya, ia berjanji, untuk tidak lagi takut pada kesepian, karena ia tahu, bahwa di suatu tempat, di suatu waktu, ia akan selalu menemukan pelabuhan.

Tinggalkan komentar