A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagaimana peningkatan suhu rerata tahunan selama satu abad terakhir di Pulau Jawa, dan bagaimana kehidupan masyarakat modern sebaiknya menyikapi situasi ini?

Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di benak kita, terutama ketika kita merasakan panas yang luar biasa di siang hari atau hujan yang deras di malam hari. Apakah ini merupakan akibat dari perubahan iklim global yang sedang terjadi? Apakah Pulau Jawa mengalami pemanasan yang signifikan dalam kurun waktu 100 tahun terakhir? Dan apakah dampaknya bagi kehidupan kita sehari-hari?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat data yang tersedia dari berbagai sumber, baik dari lembaga pemerintah, akademik, maupun non-pemerintah. Data yang paling sering digunakan untuk mengukur suhu rerata tahunan adalah data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang memiliki stasiun pengamatan di seluruh Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Data BMKG menunjukkan bahwa suhu rerata tahunan di Pulau Jawa mengalami kenaikan sebesar 0,8°C dari tahun 1920 hingga 2019. Kenaikan ini terjadi secara tidak merata, dengan periode yang lebih cepat antara tahun 1970 hingga 1990, dan periode yang lebih lambat antara tahun 1990 hingga 2019.

Kenaikan suhu rerata tahunan ini sejalan dengan tren global, yang menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2013, suhu global rata-rata permukaan bumi meningkat sebesar 0,85°C dari tahun 1880 hingga 2012. Penyebab utama dari kenaikan suhu global ini adalah peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, terutama karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O), yang berasal dari aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggunaan lahan, dan pertanian.

Lalu, apa dampak dari kenaikan suhu rerata tahunan ini bagi kehidupan masyarakat modern di Pulau Jawa? Dampaknya bisa berupa perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam, penurunan produktivitas pertanian, penyebaran penyakit menular, dan stres panas. Beberapa contoh kasus yang bisa kita lihat adalah sebagai berikut:

  • Perubahan pola curah hujan: Menurut data BMKG, curah hujan tahunan di Pulau Jawa mengalami penurunan sebesar 2% dari tahun 1981 hingga 2010. Namun, curah hujan bulanan menunjukkan variasi yang tinggi, dengan bulan-bulan basah menjadi lebih basah dan bulan-bulan kering menjadi lebih kering. Hal ini menyebabkan potensi banjir dan kekeringan menjadi lebih besar di beberapa daerah.
  • Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam: Kenaikan suhu rerata tahunan juga berpengaruh pada dinamika atmosfer dan hidrosfer, yang bisa memicu terjadinya bencana alam seperti angin puting beliung, gelombang pasang laut (rob), tanah longsor, dan erosi pantai. Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), jumlah bencana alam di Pulau Jawa meningkat sebesar 62% dari tahun 2015 hingga 2019.
  • Penurunan produktivitas pertanian: Kenaikan suhu rerata tahunan juga berdampak pada pertumbuhan tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedelai, dan sayuran. Menurut studi yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balitbangtan) tahun 2018, setiap kenaikan suhu sebesar 1°C bisa menurunkan hasil panen padi sebesar 10%, jagung sebesar 7%, kedelai sebesar 6%, dan sayuran sebesar 5%. Hal ini bisa mengancam ketahanan pangan nasional, terutama di Pulau Jawa yang merupakan pusat produksi dan konsumsi pangan.
  • Penyebaran penyakit menular: Kenaikan suhu rerata tahunan juga mempengaruhi siklus hidup dan penyebaran vektor penyakit, seperti nyamuk, tikus, dan keong. Beberapa penyakit yang bisa ditularkan oleh vektor ini adalah malaria, demam berdarah, leptospirosis, dan schistosomiasis. Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus malaria di Pulau Jawa meningkat sebesar 21% dari tahun 2014 hingga 2018, sedangkan kasus demam berdarah meningkat sebesar 12% dari tahun 2015 hingga 2019.
  • Stres panas: Kenaikan suhu rerata tahunan juga berdampak pada kesehatan dan kenyamanan manusia, terutama yang bekerja di luar ruangan atau di tempat yang tidak memiliki pendingin udara. Stres panas bisa menyebabkan dehidrasi, kelelahan, pusing, mual, dan bahkan kematian. Menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia tahun 2019, sekitar 40% pekerja di sektor informal di Jakarta mengalami stres panas setiap hari.

Dari uraian di atas, kita bisa melihat bahwa kenaikan suhu rerata tahunan selama satu abad terakhir di Pulau Jawa memiliki dampak yang signifikan dan serius bagi kehidupan masyarakat modern. Oleh karena itu, kita perlu menyikapi situasi ini dengan bijak dan bertanggung jawab. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, untuk mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim, antara lain:

  • Mengurangi emisi GRK: Kita bisa mengurangi emisi GRK dengan menghemat penggunaan energi listrik, bahan bakar fosil, dan gas elpiji; menggunakan kendaraan umum, sepeda, atau berjalan kaki; mengurangi konsumsi daging dan produk hewani; dan menanam pohon atau tanaman hijau di sekitar kita.
  • Menyesuaikan diri dengan perubahan iklim: Kita bisa menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dengan memantau informasi cuaca dan bencana dari sumber yang terpercaya; mempersiapkan diri dan keluarga dengan perlengkapan darurat; mengikuti arahan dari pihak berwenang; dan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.
  • Meningkatkan ketahanan pangan: Kita bisa meningkatkan ketahanan pangan dengan memilih tanaman pangan yang tahan terhadap suhu tinggi, kekeringan, atau banjir; mengoptimalkan penggunaan air irigasi; menerapkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan; dan mendukung program diversifikasi pangan lokal.
  • Mencegah dan mengobati penyakit menular: Kita bisa mencegah dan mengobati penyakit menular dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan; menghindari kontak dengan vektor penyakit; menggunakan obat anti nyamuk atau kelambu; melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin; dan mengikuti program imunisasi atau vaksinasi.
  • Mengurangi stres panas: Kita bisa mengurangi stres panas dengan minum air putih yang cukup; menggunakan pakaian yang ringan dan berwarna terang; menggunakan topi atau payung; beristirahat di tempat yang teduh atau berpendingin udara; dan mengonsumsi makanan yang bergizi.

Pemanasan global adalah ancaman nyata bagi kehidupan di bumi. Kita semua harus sadar akan dampaknya yang merugikan, terutama bagi negara-negara kepulauan seperti Indonesia. Pulau-pulau kita terancam oleh kenaikan permukaan air laut, kerusakan ekosistem, dan bencana alam.

Kita tidak bisa diam saja dan menunggu nasib buruk menimpa kita. Kita harus bertindak sekarang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, menjaga lingkungan, dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Kita harus bersatu dan bekerja sama untuk menyelamatkan rumah kita yang indah ini. Kita harus peduli terhadap masa depan kita dan generasi mendatang. Kita turut dan mesti bertanggung jawab terhadap pemanasan global.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar