
1. Ringkasan Eksekutif
Laporan ini bertujuan untuk menganalisis posisi indeks pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab rendahnya peringkat tersebut, serta merumuskan rekomendasi arah kebijakan pendidikan yang sebaiknya diambil oleh Indonesia saat ini. Berdasarkan data yang tersedia, Indonesia menunjukkan peringkat yang relatif rendah dalam berbagai indeks pendidikan di tingkat Asia. Beberapa tantangan utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini meliputi hasil belajar siswa yang belum memuaskan, kualitas dan distribusi guru yang tidak merata, keterbatasan infrastruktur dan sumber daya pendidikan, isu-isu kurikulum, serta disparitas sosio-ekonomi antar wilayah. Inisiatif kebijakan pendidikan terkini, “Merdeka Belajar,” memiliki potensi untuk membawa perubahan positif melalui fokusnya pada keterampilan dasar, pemberdayaan guru, dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Negara-negara Asia berkinerja tinggi seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang menawarkan pelajaran berharga melalui kebijakan-kebijakan sukses mereka yang berorientasi pada perencanaan jangka panjang, investasi pada guru, dan penekanan pada kualitas pengajaran. Laporan ini mengidentifikasi berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi sistem pendidikan Indonesia dan menyajikan serangkaian rekomendasi kebijakan strategis yang diharapkan dapat meningkatkan indeks pendidikan Indonesia di masa depan.
2. Analisis Komparatif Indeks Pendidikan Indonesia di Asia
- Peringkat Indeks Pendidikan Indonesia (Tahun-Tahun Terakhir): Data dari World Population Review pada tahun 2022 menunjukkan indeks pendidikan Indonesia sebesar 0.68. Sementara itu, Rankedex mencatat indeks pendidikan Indonesia sebesar 0.622, menempatkannya pada peringkat ke-98 secara global. Perbedaan ini mengindikasikan adanya variasi dalam metodologi perhitungan indeks antar organisasi. Meskipun terdapat perbedaan skor, kedua sumber tersebut sepakat bahwa peringkat Indonesia relatif rendah dalam skala global, menandakan perlunya perbaikan dalam sektor pendidikan. Indeks pendidikan merupakan salah satu komponen penting dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diterbitkan setiap tahun oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). Memahami indeks ini sebagai bagian dari IPM menyoroti perannya dalam mengukur pembangunan manusia secara keseluruhan, yang mencakup kesehatan dan standar hidup selain pendidikan. Data dari Wikipedia menunjukkan peringkat IPM Indonesia di antara negara-negara Asia dan Oseania adalah 113 pada tahun 2022 dan 112 pada tahun 2021. Meskipun IPM tidak hanya berfokus pada pendidikan, namun pendidikan merupakan komponen kunci di dalamnya, sehingga peringkat yang relatif rendah ini mengindikasikan posisi pembangunan manusia Indonesia yang juga belum terlalu tinggi di kawasan regional.Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, tabel berikut merangkum peringkat indeks pendidikan dan/atau IPM Indonesia di Asia dari berbagai sumber dan tahun:
Sumber
Tahun
Indeks Pendidikan
Peringkat di Asia
World Population Review
2022
0.68
(Tidak spesifik)
Rankedex
2022
0.622
(Tidak spesifik)
Wikipedia (HDI)
2022
(Termasuk dalam 0.713)
38
Wikipedia (HDI)
2021
(Termasuk dalam 0.707)
38
3. Penyelidikan Mendalam Penyebab Rendahnya Indeks Pendidikan Indonesia
- Hasil Belajar (PISA dan TIMSS): Kinerja Indonesia dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) secara konsisten menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Laporan dari The Jakarta Post , artikel di TEM Journal , catatan negara OECD , artikel Kompas.id , dan artikel dari RISE Programme menyoroti skor rendah siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains dibandingkan dengan rata-rata negara-negara OECD dan negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia seringkali berada di peringkat sepuluh terbawah, yang mengindikasikan adanya tantangan signifikan dalam kualitas hasil belajar siswa berusia 15 tahun. Meskipun skor dapat berfluktuasi dari tahun ke tahun, tren keseluruhan kinerja Indonesia dalam PISA cenderung stagnan atau bahkan menurun di beberapa area selama dua dekade terakhir. OECD mencatat bahwa meskipun skor Indonesia rendah, hal ini perlu dilihat dalam konteks peningkatan angka partisipasi sekolah. Ini menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan akses ke pendidikan, meskipun positif, mungkin untuk sementara waktu menurunkan skor rata-rata karena masuknya siswa dengan latar belakang akademik yang lebih beragam. Selain PISA, kinerja Indonesia dalam Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) juga menunjukkan tren yang serupa. Artikel di TEM Journal dan berbagai dokumen Bank Dunia memperkuat temuan ini, terutama dalam matematika dan sains di tingkat sekolah dasar. Peringkat rendah dalam TIMSS mengindikasikan adanya kelemahan mendasar dalam penguasaan mata pelajaran inti ini sejak dini, yang dapat berdampak negatif pada kemajuan siswa di tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan pencapaian pendidikan mereka secara keseluruhan.
- Kualitas dan Distribusi Guru: Isu kualitas guru dan distribusinya yang tidak merata merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap rendahnya indeks pendidikan Indonesia. VOA News dan Bank Dunia menyoroti masalah guru yang kurang berkualitas dan seringkali tidak hadir. Hasil tes kompetensi guru juga menunjukkan skor rata-rata yang rendah. Sebagian besar guru dinilai tidak memiliki kualifikasi dan keterampilan pedagogis yang memadai, yang secara langsung mempengaruhi kualitas pengajaran yang diterima siswa. Selain itu, masalah pengangkatan guru yang didasarkan pada kronisme dan gaji yang rendah dapat berdampak negatif pada motivasi dan kompetensi guru. Distribusi guru yang tidak merata, dengan kekurangan guru di daerah pedesaan, juga menjadi tantangan. Ketidakmerataan geografis dalam ketersediaan guru memperburuk ketidaksetaraan pendidikan, di mana siswa di daerah pedesaan dan terpencil seringkali dirugikan. Kebijakan perlu mengatasi tantangan dalam menarik dan mempertahankan guru berkualitas di daerah-daerah yang kurang terlayani untuk memastikan akses yang adil terhadap pendidikan berkualitas.
- Infrastruktur dan Sumber Daya Pendidikan: Penelitian oleh Hutasuhut (2019) yang dikutip dalam menyoroti jumlah signifikan ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium sains yang rusak dan kurang memadai di seluruh Indonesia. Infrastruktur pendidikan yang tidak memadai dan rusak menciptakan lingkungan belajar yang tidak kondusif dan membatasi sumber daya yang tersedia untuk pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Masalah buku teks yang kurang baik dan kesalahan cetak juga dapat menghambat pembelajaran siswa. Kualitas dan keakuratan materi pembelajaran secara langsung mempengaruhi efektivitas pengajaran dan pemahaman siswa. Selain itu, kesenjangan digital dan kurangnya akses internet yang andal, terutama di daerah pedesaan, menjadi tantangan bagi implementasi teknologi pendidikan (EdTech). Meskipun teknologi menawarkan peluang untuk meningkatkan pendidikan, kurangnya akses yang merata terhadap infrastruktur digital menciptakan hambatan, terutama bagi siswa di komunitas yang terpinggirkan.
- Isu Kurikulum: Berbagai iterasi kurikulum (KBK, KTSP, K-13) yang disebutkan dalam TEM Journal menunjukkan adanya kesulitan dalam menyesuaikan kurikulum dengan realitas masa kini. Perubahan kurikulum yang sering terjadi tanpa persiapan dan implementasi yang memadai dapat menciptakan ketidakstabilan dan kebingungan bagi guru dan siswa, sehingga menghambat pembelajaran yang efektif. Kurikulum 2013 juga dikritik karena implementasinya yang tergesa-gesa dan kurang fokus pada literasi dan numerasi. Desain kurikulum perlu memprioritaskan keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi dan memastikan bahwa implementasinya direncanakan dan didukung dengan baik. Keterampilan dasar yang kuat sangat penting untuk keberhasilan akademik siswa di semua mata pelajaran dan untuk pembelajaran mereka di masa depan.
- Faktor Sosio-Ekonomi: Kemiskinan membatasi akses ke pendidikan dan mempengaruhi kualitas pendidikan yang diterima oleh anak-anak dari keluarga miskin. Disparitas sosio-ekonomi secara signifikan mempengaruhi kesempatan dan hasil pendidikan, menciptakan siklus kerugian bagi anak-anak dari latar belakang ekonomi rendah. Mengatasi kemiskinan dan dampaknya terhadap pendidikan memerlukan intervensi dan kebijakan yang ditargetkan yang mempromosikan kesetaraan dan memberikan dukungan kepada siswa yang kurang beruntung. Selain itu, terdapat disparitas regional dalam pencapaian pendidikan antara Indonesia bagian Timur dan Barat , yang seringkali terkait dengan kondisi sosio-ekonomi dan infrastruktur. Ketidaksetaraan regional yang signifikan dalam pembangunan pendidikan menyoroti perlunya kebijakan dan alokasi sumber daya yang ditargetkan secara geografis untuk memastikan kesempatan pendidikan yang adil di seluruh nusantara. Keanekaragaman geografis Indonesia menghadirkan tantangan unik dalam memastikan kualitas pendidikan yang seragam, dan kebijakan harus mempertimbangkan perbedaan regional ini dan memberikan dukungan yang disesuaikan.
4. Lanskap Kebijakan Pendidikan Saat Ini di Indonesia: Inisiatif “Merdeka Belajar”
- Tinjauan “Merdeka Belajar” (Emancipated Learning): Inisiatif “Merdeka Belajar” merupakan agenda reformasi pendidikan komprehensif yang diluncurkan pada tahun 2019. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil belajar, menjadikan sekolah sebagai pengalaman yang lebih menyenangkan, dan memberdayakan siswa serta komunitas sekolah.
- Prinsip Inti dan Fitur Utama:
- Penekanan pada Kompetensi Dasar dan Keterampilan Abad ke-21: Kurikulum ini memprioritaskan pengembangan keterampilan dasar dan kemampuan yang dibutuhkan untuk dunia modern , termasuk pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Pergeseran menuju keterampilan dasar dan kompetensi abad ke-21 ini mengakui perlunya melampaui hafalan dan membekali siswa dengan keterampilan yang relevan untuk dunia kerja di masa depan. Dalam dunia yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat, keterampilan ini sangat penting bagi keberhasilan siswa dalam studi mereka dan karir di masa depan.
- Metode Penilaian Holistik dan Formatif: Inisiatif ini mengadopsi pendekatan penilaian yang komprehensif dan berkelanjutan untuk lebih memahami kemajuan siswa , beralih dari ketergantungan tunggal pada ujian nasional yang berisiko tinggi. Penilaian formatif memungkinkan pemantauan berkelanjutan terhadap pembelajaran siswa dan memberikan kesempatan untuk intervensi dan dukungan tepat waktu, yang mengarah pada peningkatan hasil belajar. Pendekatan ini lebih berpusat pada siswa dan berfokus pada pemahaman kebutuhan belajar individu daripada hanya mengukur pencapaian akhir.
- Konten yang Disederhanakan: Kurikulum ini berfokus pada materi esensial, mengurangi konten yang tidak perlu untuk memungkinkan pembelajaran yang lebih mendalam dan fleksibilitas guru. Pengurangan beban kurikulum dapat mengurangi tekanan pada guru dan siswa, memungkinkan eksplorasi konsep-konsep kunci yang lebih mendalam dan mendorong pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Kurikulum yang tidak terlalu padat memungkinkan guru untuk fokus pada kualitas pengajaran dan mengakomodasi kecepatan belajar yang beragam.
- Peningkatan Fleksibilitas dan Otonomi Guru: Guru diberikan kebebasan yang lebih besar dalam cara mereka mengajar dan mengelola kelas mereka , memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa. Pemberdayaan guru dengan otonomi dapat mendorong inovasi dalam metode pengajaran dan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan efektif bagi siswa. Guru berada pada posisi terbaik untuk memahami kebutuhan spesifik siswa mereka dan harus memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan pengajaran mereka.
- Model Baru Pembelajaran Profesional Guru: Inisiatif ini mencakup pendekatan yang direvisi tentang bagaimana guru melanjutkan pendidikan dan pengembangan mereka , berfokus pada peningkatan berkelanjutan dan keselarasan dengan kurikulum baru. Investasi dalam pengembangan profesional guru yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan sangat penting untuk keberhasilan implementasi reformasi kurikulum dan untuk meningkatkan efektivitas guru. Guru membutuhkan pelatihan dan dukungan yang memadai untuk mengadopsi metode pengajaran dan praktik penilaian baru secara efektif.
- Penggantian Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter: Kebijakan ini mengalihkan fokus dari penguasaan konten ke kompetensi penalaran dan pengembangan karakter. Perubahan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan yang terkait dengan ujian berisiko tinggi dan mempromosikan pandangan yang lebih holistik tentang perkembangan siswa. Berfokus pada kompetensi minimum memastikan bahwa semua siswa mencapai keterampilan dasar, sementara survei karakter mengakui pentingnya pembelajaran sosio-emosional.
- Hasil yang Diharapkan dan Dampak Potensial: “Merdeka Belajar” berpotensi meningkatkan standar pembelajaran dengan fokus pada pembelajaran dasar dan pemberdayaan guru. Inisiatif ini juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan, memberdayakan siswa, dan melibatkan seluruh komunitas sekolah. Kurikulum ini menekankan kesederhanaan, kedalaman, kemandirian, relevansi, dan interaktivitas.
- Tantangan dalam Implementasi: Implementasi “Merdeka Belajar” menghadapi beberapa tantangan, termasuk implementasi yang belum sepenuhnya di berbagai daerah karena kendala kebijakan regional. Selain itu, terdapat tantangan terkait kesiapan guru dan ketersediaan fasilitas yang tidak merata , serta masalah logistik, kesiapan guru, dan disparitas sumber daya digital.
5. Belajar dari Keberhasilan: Kebijakan Pendidikan di Negara-Negara Asia Berkinerja Tinggi
- Singapura: Singapura secara konsisten menunjukkan kinerja tinggi dalam PISA. Kinerja Singapura yang secara konsisten berada di puncak penilaian internasional menunjukkan efektivitas pendekatan jangka panjang dan strategisnya terhadap pendidikan. Menganalisis kebijakan Singapura dapat memberikan wawasan berharga bagi Indonesia. Elemen-elemen kunci keberhasilan Singapura meliputi perencanaan kebijakan jangka panjang, penekanan pada pengembangan sumber daya manusia, hubungan tripartit yang kuat antara Kementerian Pendidikan (MOE), National Institute of Education (NIE), dan sekolah, kontrol kebijakan terpusat dengan implementasi yang terdesentralisasi, serta pergeseran menuju pengembangan siswa yang holistik. Bimbingan pusat yang kuat ditambah dengan otonomi sekolah memungkinkan adanya keselarasan sistemik dan adaptasi lokal, sebuah model yang mungkin dipertimbangkan oleh Indonesia. Keseimbangan ini dapat membantu Indonesia mengatasi standar nasional sambil mengakomodasi keberagaman regional. Inisiatif “Teach Less, Learn More” dan “Learn for Life” yang berfokus pada pemahaman yang lebih mendalam, pembelajaran berbasis masalah, dan fleksibilitas, memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pedagogi dan kualitas pengajaran daripada sekadar cakupan konten. “Merdeka Belajar” Indonesia berbagi beberapa prinsip ini, menunjukkan adanya keselarasan dalam arah reformasi. Investasi Singapura dalam kualitas guru melalui NIE dan pengembangan profesional berkelanjutan merupakan faktor penting dalam keberhasilan pendidikannya, menyoroti pentingnya investasi pada pendidik. Indonesia perlu memperkuat program persiapan guru dan pengembangan profesionalnya. Selain itu, gaji yang tinggi dan penghargaan terhadap guru di Singapura menunjukkan bahwa menghargai profesi guru melalui kompensasi yang memadai dan penghargaan masyarakat dapat menarik dan mempertahankan individu berkualitas tinggi. Ini adalah area di mana Indonesia menghadapi tantangan.
- Korea Selatan: Korea Selatan menunjukkan kinerja akademik yang kuat dan hasil yang merata dalam PISA. Ekspansi pendidikan Korea Selatan yang pesat pasca-Perang Korea menyoroti kekuatan transformatif dari komitmen nasional terhadap pendidikan. Konteks historis ini memberikan contoh yang menarik bagi Indonesia. Penekanan budaya yang kuat pada pendidikan dan penghargaan yang tinggi terhadap guru juga menjadi faktor penting. Nilai-nilai masyarakat memainkan peran signifikan dalam mendorong keberhasilan pendidikan. Indonesia dapat mengeksplorasi cara untuk lebih mengembangkan budaya belajar yang kuat. Investasi pemerintah yang konsisten dalam pendidikan dan gaji guru , serupa dengan Singapura, menggarisbawahi pentingnya pendidikan sebagai prioritas nasional. Indonesia telah mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk pendidikan, tetapi efektivitas pengeluaran ini perlu diteliti. Reformasi terkini yang berfokus pada kreativitas, pembentukan karakter, dan kompetensi kunci menunjukkan upaya berkelanjutan Korea Selatan untuk memperbarui sistemnya yang sudah berhasil agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan, yang sejalan dengan fokus “Merdeka Belajar” pada kompetensi yang lebih luas. Selain itu, rencana reformasi pendidikan berbasis digital di Korea Selatan yang menekankan pembelajaran yang dipersonalisasi melalui kecerdasan buatan, merupakan arah masa depan yang dapat dieksplorasi lebih lanjut oleh Indonesia, yang sejalan dengan kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan digital.
- Jepang: Jepang secara konsisten menunjukkan kinerja yang kuat dalam PISA, terutama dalam matematika, dan hasil yang relatif merata. Komitmen jangka panjang Jepang terhadap egalitarianisme dan akses universal terhadap pendidikan merupakan kekuatan utama. Prinsip ini juga penting bagi Indonesia, mengingat disparitas regionalnya. Kurikulum nasional dengan harapan yang sama untuk semua siswa dan tidak adanya penjurusan selama pendidikan wajib memastikan tingkat dasar pendidikan untuk semua siswa. Indonesia memiliki kurikulum nasional, tetapi implementasi dan efektivitasnya bervariasi. Penghargaan yang tinggi terhadap pendidikan dan guru di Jepang , serupa dengan Singapura dan Korea Selatan, menunjukkan bahwa nilai-nilai masyarakat yang ditempatkan pada pendidikan merupakan faktor kontribusi yang signifikan, yang memperkuat pentingnya mempromosikan budaya belajar. Praktik memindahkan guru dan administrator berkinerja tinggi ke sekolah-sekolah berkinerja rendah dapat membantu mengatasi kekurangan guru dan masalah kualitas di daerah-daerah yang kurang terlayani di Indonesia. Indonesia dapat mengeksplorasi mekanisme serupa untuk penempatan guru. Penekanan pada nilai-nilai moral dan etika dalam kurikulum menunjukkan bahwa pendidikan holistik mencakup pengembangan karakter di samping pembelajaran akademik, yang juga ditekankan dalam “Merdeka Belajar”.
6. Menavigasi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang dalam Sistem Pendidikan Indonesia
- Tantangan:
- Hasil Belajar Rendah yang Persisten: Skor rendah yang terus-menerus dalam penilaian internasional (PISA, TIMSS) meskipun alokasi anggaran yang signifikan menunjukkan inefisiensi dalam sistem yang perlu diidentifikasi dan diatasi. Hal ini memerlukan pemeriksaan lebih dekat tentang bagaimana dana pendidikan dimanfaatkan dan dampaknya terhadap pembelajaran siswa.
- Ketidaksetaraan dalam Akses dan Kualitas: Disparitas antara daerah perkotaan dan pedesaan, keluarga kaya dan miskin, serta Indonesia bagian Barat dan Timur merupakan tantangan besar. Mengatasi ketidaksetaraan pendidikan sangat penting untuk memastikan keadilan sosial dan mewujudkan potensi penuh sumber daya manusia Indonesia. Kebijakan perlu dirancang secara khusus untuk menargetkan dan mendukung komunitas yang terpinggirkan.
- Isu Kualitas dan Distribusi Guru: Tantangan terkait kualifikasi, pelatihan, motivasi, dan distribusi guru yang tidak merata di seluruh negeri perlu ditangani. Peningkatan kualitas dan distribusi guru yang merata merupakan prasyarat mendasar untuk perbaikan pendidikan. Hal ini memerlukan strategi komprehensif untuk rekrutmen, pelatihan, penempatan, dan retensi guru.
- Kekurangan Infrastruktur: Kurangnya fasilitas pendidikan yang memadai dan terpelihara dengan baik, terutama di daerah-daerah yang kurang beruntung , perlu diatasi. Investasi dan peningkatan infrastruktur sekolah sangat penting untuk menyediakan lingkungan belajar yang kondusif, termasuk bangunan fisik dan sumber daya penting seperti perpustakaan dan laboratorium.
- Efektivitas Implementasi Kurikulum: Tantangan dalam mengimplementasikan reformasi kurikulum secara efektif, termasuk “Merdeka Belajar,” karena kesiapan guru, kendala regional, dan perlunya dukungan yang lebih baik perlu diatasi. Reformasi kurikulum yang berhasil memerlukan persiapan, pelatihan, dan dukungan berkelanjutan yang memadai untuk guru, serta fleksibilitas untuk adaptasi lokal. Inisiatif “Merdeka Belajar” menjanjikan tetapi membutuhkan implementasi yang cermat untuk mencapai tujuannya.
- Tata Kelola dan Akuntabilitas: Tantangan terkait desentralisasi, koordinasi antar tingkat pemerintahan yang berbeda, dan memastikan akuntabilitas dalam sistem pendidikan perlu ditangani. Penguatan mekanisme tata kelola dan akuntabilitas sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem pendidikan. Ini mencakup peran dan tanggung jawab yang jelas, proses yang transparan, dan mekanisme untuk pemantauan dan evaluasi.
- Kesenjangan Digital: Akses yang tidak merata terhadap teknologi dan konektivitas internet menghambat penggunaan EdTech yang efektif untuk pembelajaran. Mengatasi kesenjangan digital sangat penting untuk memastikan akses yang adil terhadap sumber daya dan peluang pembelajaran modern. Ini memerlukan investasi dalam infrastruktur dan penyediaan dukungan kepada siswa dari latar belakang yang kurang beruntung.
- Peluang:
- Bonus Demografi: Populasi muda Indonesia yang besar merupakan aset potensial untuk pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di masa depan jika modal manusianya dikembangkan secara efektif. Investasi dalam pendidikan berkualitas untuk generasi muda dapat membuka bonus demografi Indonesia dan berkontribusi pada kemakmuran nasional. Ini menggarisbawahi pentingnya jangka panjang untuk meningkatkan sistem pendidikan.
- Peningkatan Komitmen dan Alokasi Anggaran Pemerintah: Mandat konstitusional untuk membelanjakan 20% anggaran negara untuk pendidikan menunjukkan komitmen finansial yang signifikan. Sumber daya keuangan yang besar yang dialokasikan untuk pendidikan memberikan landasan yang kuat untuk mengimplementasikan reformasi dan mengatasi tantangan, asalkan pengeluarannya efektif. Fokusnya sekarang harus pada peningkatan kualitas pengeluaran.
- Inisiatif “Merdeka Belajar”: Reformasi pendidikan yang sedang berlangsung ini memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif melalui fokusnya pada keterampilan dasar, pemberdayaan guru, dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Inisiatif reformasi ini memberikan peluang signifikan untuk mentransformasi sistem pendidikan Indonesia dan meningkatkan hasil belajar. Keberhasilannya akan bergantung pada implementasi yang efektif dan mengatasi tantangan yang ada.
- Peningkatan Konektivitas Digital: Peningkatan penetrasi internet dan penggunaan teknologi seluler dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses ke sumber daya pembelajaran digital. Peningkatan konektivitas digital menawarkan peluang untuk solusi inovatif dalam mengatasi disparitas geografis dalam pendidikan. Ini memerlukan investasi strategis dalam EdTech dan mengatasi kesenjangan digital.
- Potensi Kemitraan Publik-Swasta: Keterlibatan sekolah swasta dan kemungkinan kolaborasi lebih lanjut dapat meningkatkan penyediaan pendidikan. Melibatkan sektor swasta dapat membawa sumber daya dan keahlian tambahan ke sistem pendidikan. Ini memerlukan regulasi yang cermat dan memastikan bahwa kemitraan selaras dengan tujuan pendidikan nasional.
- Belajar dari Praktik Terbaik Internasional: Ada peluang untuk belajar dari kebijakan dan strategi pendidikan yang berhasil diterapkan oleh negara-negara Asia berkinerja tinggi (seperti dibahas di Bagian 5). Mengadaptasi dan mengimplementasikan strategi yang terbukti dari negara-negara sukses lainnya dapat mempercepat kemajuan Indonesia dalam pendidikan. Ini memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap konteks dan faktor budaya Indonesia.
- Peningkatan Fokus pada Pendidikan Vokasi: Rencana pemerintah untuk meningkatkan sistem pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja memberikan peluang. Penguatan pendidikan vokasi dapat meningkatkan daya saing lulusan dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Ini memerlukan penyelarasan pelatihan vokasi dengan tuntutan industri dan penyediaan pengajaran berkualitas.
7. Rekomendasi Kebijakan Strategis untuk Meningkatkan Indeks Pendidikan Indonesia
- Meningkatkan Kualitas dan Distribusi Guru yang Merata:
- Menerapkan proses rekrutmen guru berbasis merit yang ketat dan transparan, menjauhi praktik kronisme.
- Berinvestasi dalam program pendidikan pra-jabatan guru berkualitas tinggi, mengambil pelajaran dari model NIE Singapura.
- Memperluas dan meningkatkan kesempatan pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru dalam jabatan, dengan fokus pada keterampilan pedagogis, pengetahuan materi pelajaran, dan implementasi kurikulum “Merdeka Belajar”.
- Mengembangkan dan mengimplementasikan strategi efektif untuk menarik dan mempertahankan guru berkualitas di daerah pedesaan dan terpencil, seperti insentif finansial, peningkatan kondisi hidup, dan jaringan dukungan profesional.
- Membangun kerangka jenjang karir yang jelas bagi guru dengan peluang untuk peran kepemimpinan dan pengembangan profesional.
- Meningkatkan Infrastruktur dan Sumber Daya Pendidikan:
- Meningkatkan investasi dalam pembangunan, renovasi, dan pemeliharaan fasilitas sekolah, memprioritaskan daerah-daerah yang kurang terlayani.
- Memastikan akses yang adil terhadap buku teks dan materi pembelajaran berkualitas tinggi yang selaras dengan kurikulum dan praktik pedagogis terbaik.
- Mengembangkan strategi komprehensif untuk menjembatani kesenjangan digital dengan berinvestasi dalam konektivitas internet dan menyediakan akses ke perangkat digital bagi siswa dan guru, terutama di daerah pedesaan.
- Mendorong pengembangan dan penggunaan sumber daya dan platform pembelajaran digital berkualitas tinggi yang selaras dengan kurikulum.
- Memperkuat Implementasi Kurikulum dan Penilaian:
- Memberikan pelatihan komprehensif dan dukungan berkelanjutan kepada guru untuk implementasi kurikulum “Merdeka Belajar” yang efektif, menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan keterampilan abad ke-21.
- Mengembangkan pedoman dan sumber daya yang jelas bagi sekolah untuk mengadaptasi kurikulum dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa, mempromosikan fleksibilitas dan otonomi.
- Memperkuat kapasitas sekolah untuk memanfaatkan metode penilaian formatif untuk memantau kemajuan siswa dan memberikan dukungan yang ditargetkan.
- Mengevaluasi dan menyempurnakan kurikulum nasional secara berkelanjutan berdasarkan data hasil belajar dan umpan balik dari guru dan pemangku kepentingan lainnya.
- Mengatasi Disparitas Sosio-Ekonomi:
- Memperluas dan memperkuat program kesejahteraan sosial yang memberikan bantuan keuangan kepada siswa dari keluarga berpenghasilan rendah untuk menutupi biaya pendidikan.
- Mengimplementasikan intervensi dan program dukungan yang ditargetkan untuk siswa di daerah-daerah yang kurang beruntung dan komunitas yang terpinggirkan untuk mengatasi kebutuhan belajar yang spesifik.
- Mempromosikan program pendidikan anak usia dini untuk memastikan bahwa semua anak, terlepas dari latar belakang sosio-ekonomi mereka, memiliki landasan yang kuat untuk belajar.
- Meningkatkan Tata Kelola dan Akuntabilitas:
- Memperkuat koordinasi dan komunikasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sekolah untuk memastikan implementasi kebijakan dan alokasi sumber daya yang efektif.
- Meningkatkan mekanisme transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dan pembiayaan sistem pendidikan di semua tingkatan.
- Memberdayakan kepala sekolah dan komite sekolah untuk memainkan peran yang lebih besar dalam manajemen dan pengambilan keputusan berbasis sekolah, sambil memastikan akuntabilitas untuk hasil belajar.
- Membangun sistem yang kuat untuk memantau dan mengevaluasi dampak kebijakan dan program pendidikan terhadap hasil belajar siswa dan kesetaraan.
- Mendorong Budaya Belajar dan Inovasi:
- Mempromosikan budaya masyarakat yang menghargai pendidikan dan mengakui pentingnya pembelajaran sepanjang hayat.
- Mendorong inovasi dalam praktik pengajaran dan pembelajaran melalui penelitian, eksperimen, dan berbagi praktik terbaik di antara para pendidik.
- Memperkuat kemitraan antara sekolah, komunitas, dan sektor swasta untuk meningkatkan kesempatan dan relevansi pendidikan.
- Meningkatkan investasi dalam penelitian dan pengembangan di sektor pendidikan untuk menginformasikan pembuatan kebijakan berbasis bukti.
8. Kesimpulan
Laporan ini menggarisbawahi berbagai tantangan yang berkontribusi terhadap rendahnya indeks pendidikan Indonesia di Asia. Meskipun demikian, inisiatif “Merdeka Belajar” menawarkan harapan untuk perbaikan jika diimplementasikan dan didukung secara efektif. Belajar dari kebijakan pendidikan yang berhasil di negara-negara Asia berkinerja tinggi, sambil menyesuaikannya dengan konteks Indonesia, merupakan langkah penting. Rekomendasi kebijakan strategis yang diusulkan menyoroti perlunya upaya komprehensif dan berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan yang ada dan meningkatkan indeks pendidikan Indonesia, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan bangsa secara keseluruhan. Dengan kebijakan dan komitmen yang tepat, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai peningkatan signifikan dalam sistem pendidikannya.
Karya yang dikutip
1. Education Index by Country 2025 – World Population Review, https://worldpopulationreview.com/country-rankings/education-index-by-country 2. Education index by country – Rankedex, https://rankedex.com/society-rankings/education-index 3. Education Index – Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Education_Index 4. List of countries in Asia and Oceania by Human Development Index – Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_in_Asia_and_Oceania_by_Human_Development_Index 5. Not even mediocre? Indonesian students score low in math, reading, science: PISA report, https://www.thejakartapost.com/news/2019/12/04/not-even-mediocre-indonesian-students-score-low-in-math-reading-science-pisa-report.html 6. Harmony in Education: An In-Depth Exploration of Indonesian Academic Landscape, Challenges, and Prospects Towards the Golden Generation 2045 Vision – TEM JOURNAL, https://www.temjournal.com/content/133/TEMJournalAugust2024_2436_2456.pdf 7. PISA 2022 Results (Volume I and II) – Country Notes: Indonesia | OECD, https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html 8. Indonesia’s PISA 2022 Score Drops, Rankings Rise – Kompas.id, https://www.kompas.id/baca/english/2023/12/05/en-skor-pisa-2022-indonesia-turun-peringakt-naik 9. Indonesian students’ scores in the PISA global assessment dropped, teacher quality and quality disparity are the main causes | PROGRAM RISE DI INDONESIA, https://rise.smeru.or.id/en/blog/indonesian-students%E2%80%99-scores-pisa-global-assessment-dropped-teacher-quality-and-quality 10. World Bank and Education in Indonesia, https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/brief/world-bank-and-education-in-indonesia 11. Promise of Education in Indonesia – World Bank Documents and Reports, https://documents1.worldbank.org/curated/en/968281574095251918/pdf/Overview.pdf 12. Indonesia Education Lags Behind Region – VOA, https://www.voanews.com/a/east-asia-pacific_indonesia-education-lags-behind-region/6181132.html 13. Strategies to Improved Education Quality in Indonesia: A Review – ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/353299393_Strategies_to_Improved_Education_Quality_in_Indonesia_A_Review 14. Indonesia – Education and Training – International Trade Administration, https://www.trade.gov/country-commercial-guides/indonesia-education-and-training 15. Educational Landscape in Indonesia in 2023: Challenges and Opportunities, https://www.researchgate.net/publication/391302905_Educational_Landscape_in_Indonesia_in_2023_Challenges_and_Opportunities 16. Transforming Education in Indonesia: Examining the landscape of current reforms, https://gpseducation.oecd.org/Content/ProjectsMaterial/EPP-2023_Indonesia.pdf 17. The Impact of Poverty in Indonesia on Education – Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala, https://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JISIP/article/viewFile/6682/4822 18. (PDF) Socio-Economic Factors on Indonesia Education Disparity – ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/284791268_Socio-Economic_Factors_on_Indonesia_Education_Disparity 19. Socio-Economic Factors on Indonesia Education Disparity | Azzizah, https://ccsenet.org/journal/index.php/ies/article/view/49340 20. EJ1083954 – Socio-Economic Factors on Indonesia Education Disparity, International Education Studies, 2015 – ERIC, https://eric.ed.gov/?id=EJ1083954 21. Transforming education in Indonesia – OECD, https://www.oecd.org/en/publications/transforming-education-in-indonesia_9ff8d407-en.html 22. Improving Teachers and School Leadership in Indonesia : Impact Evaluation of Guru Penggerak Program at the Primary Level (Inglês) – World Bank Documents and Reports, https://documents.worldbank.org/pt/publication/documents-reports/documentdetail/099042224202520319/p17481518584b50aa1b6821291769b3ffb7 23. http://www.ssoar.info Transforming Education in Indonesia: The Impact and Challenges of the Merdeka Belajar Curriculum, https://www.ssoar.info/ssoar/bitstream/handle/document/95381/ssoar-pos-2024-6-hunaepi_et_al-Transforming_Education_in_Indonesia_The.pdf?isAllowed=y&sequence=1 24. Transforming Education in Indonesia: The Impact and Challenges of the Merdeka Belajar Curriculum | Hunaepi | Path of Science, https://pathofscience.org/index.php/ps/article/view/3156 25. 1 MERDEKA CURRICULUM: ADAPTATION OF INDONESIAN EDUCATION POLICY IN THE DIGITAL ERA AND GLOBAL CHALLENGES Septinus Saa1, https://rgsa.openaccesspublications.org/rgsa/article/download/7323/3451 26. Freedom to Learn/Merdeka Belajar (Part 2/5: New Paradigm in Language Teaching and 21st Century – OSF, https://osf.io/jkq7a/download 27. National Consultations on Transforming Education in Indonesia – UNESCO, https://media.unesco.org/sites/default/files/webform/ed3002/Indonesia_NC_final_Report_0.pdf 28. Indonesia’s educational transformation: Investing in quality teachers for tomorrow, https://teachertaskforce.org/blog/indonesias-educational-transformation-investing-quality-teachers-tomorrow 29. Singapore – NCEE, https://ncee.org/country/singapore/ 30. Lessons from Singapore’s Education System for Tennessee, https://www.proedtn.org/news/675378/Lessons-from-Singapores-Education-System-for-Tennessee.htm 31. Education in Singapore – Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Singapore 32. The Education System in Singapore: The Key to its Success, https://www.fedea.net/politicas-educativas/The_Education_System_in_Singapore_The_Keyto_its_Success.pdf 33. Singapore’s educational reforms toward holistic outcomes, https://www.brookings.edu/articles/singapores-educational-reforms-toward-holistic-outcomes/ 34. A New Educational Perspective: The Case of Singapore, https://urbanedjournal.gse.upenn.edu/volume-14-issue-1-fall-2017-15-years-urban-education-special-anniversary-edition-journal/new 35. Korea – NCEE, https://ncee.org/country/korea/ 36. South Korean Education Reforms | Asia Society, https://asiasociety.org/global-cities-education-network/south-korean-education-reforms 37. Education in South Korea – Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_South_Korea 38. Education Reform for the Future: A Case Study of Korea Euiryeong Jeong The World Bank Group – ERIC, https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1275645.pdf 39. Digital-driven Education Reform Plan Announced in South Korea, https://www.aacrao.org/edge/emergent-news/digital-driven-education-reform-plan-announced-in-south-korea 40. Japan • NCEE – National Center on Education and the Economy, https://ncee.org/japan/ 41. The Japanese Education System: Strengths and Weaknesses | Free Essay Example for Students – Aithor, https://aithor.com/essay-examples/the-japanese-education-system-strengths-and-weaknesses 42. Japanese Education | FSI – Stanford Program on International and Cross-Cultural Education, https://spice.fsi.stanford.edu/docs/japanese_education 43. Education Policy in Japan – OECD, https://www.oecd.org/en/publications/education-policy-in-japan_9789264302402-en.html 44. JAPANESE EDUCATIONAL SYSTEM – JAPAN Educational Travel, https://education.jnto.go.jp/en/school-in-japan/japanese-education-system/ 45. The Advantages of Studying Abroad in Japan – The Best Japanese Language School in Japan – JaLS GROUP, https://japanese-languageschool.com/blog/the-advantages-of-studying-abroad-in-japan/ 46. Advantages and disadvantages of the Japanese education system for students – jackwalters33 – people – we.Riseup.net, https://we.riseup.net/jackwalters33/advantages-and-disadvantages-of-the-japanese-educa 47. The Issues of Educational Equality in Indonesia – International Journal of Research and Scientific Innovation (IJRSI), https://rsisinternational.org/journals/ijrsi/articles/the-issues-of-educational-equality-in-indonesia/ 48. Educational Challenges In Indonesia – – Broken Chalk -, https://brokenchalk.org/educational-challenges-in-indonesia/ 49. Improving Teaching and Learning in Indonesia – World Bank, https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/brief/improving-teaching-and-learning-in-indonesia 50. In Indonesia, Tackling Education Inequality Through Better Governance – World Bank Blogs, https://blogs.worldbank.org/en/education/indonesia-tackling-education-inequality-through-better-governance 51. Challenges and Opportunities in Education Equity through the 13-Year Compulsory Education Program in Indonesia | The Eastasouth Journal of Learning and Educations, https://esj.eastasouth-institute.com/index.php/esle/article/view/510 52. OVERVIEW Tackling Indonesia’s teacher quality is a tangible way to lift the country’s learning profile. Policies to improve, https://rise.smeru.or.id/sites/default/files/publication/%28EN%29Policy%20Note%20-%20Strategi%20untuk%20memperbaiki%20perekrutan%20guru%20di%20indonesia.pdf 53. Improving the Quality of Teacher Education Delivery in Indonesia – Program RISE – Smeru, https://rise.smeru.or.id/en/publication/improving-quality-teacher-education-delivery-indonesia 54. (PDF) THE INDONESIAN GOVERNMENT’S POLICY IN IMPROVING THE TEACHERS’ QUALITY OF ELEMENTARY SCHOOL – ResearchGate, https://www.researchgate.net/publication/373000975_THE_INDONESIAN_GOVERNMENT’S_POLICY_IN_IMPROVING_THE_TEACHERS’_QUALITY_OF_ELEMENTARY_SCHOOL 55. Four Decades of Teacher Professional Development in Indonesia: One Step Forward, Two Steps Back | RISE Programme, https://riseprogramme.org/blog/four-decades-teacher-professional-development-indonesia.html 56. International Journal of Instruction April 2021 Vol.14, No.2 – ERIC, https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1291222.pdf 57. Equality And Equity In Indonesian Education: The Consequences Of Decentralization – International Journal Of Community Service, https://ijcsnet.id/index.php/go/article/download/47/43/325 58. Global education monitoring report 2023, Southeast Asia: technology in education: a tool on whose terms? – UNESCO Digital Library, https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000387214 59. Indonesia’s Struggle with Education Inequality: Is Reform the Answer?, https://journal.unnes.ac.id/journals/indi/article/view/23035 60. The Promise of Education in Indonesia – World Bank, https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/the-promise-of-education-in-indonesia 61. Improving Teaching, Learning and Education Management in Indonesia [PDF] – World Bank Documents and Reports, https://documents1.worldbank.org/curated/en/526361568389688448/pdf/Improving-Teaching-Learning-and-Education-Management-in-Indonesia.pdf 62. Publication: The Promise of Education in Indonesia – Open Knowledge Repository – World Bank, https://openknowledge.worldbank.org/entities/publication/e813419b-1a81-5161-aeb9-bbfe47af227e 63. Examining Challenges and Opportunities to Improve the Quality of Education in Indonesia, https://smeru.or.id/en/research/examining-challenges-and-opportunities-improve-quality-education-indonesia 64. Improving Teacher Quality in Vocational Education Schools in South Sulawesi – The Partnership for Australia-Indonesia Research, https://pair.australiaindonesiacentre.org/wp-content/uploads/2024/03/PAIR_Improving-teacher-quality-in-vocational-training.pdf

Tinggalkan komentar