A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ancaman terhadap Klub Detektif

Kertas itu tergeletak di tengah meja klub mereka di sudut perpustakaan yang sepi, dilipat kasar menjadi bentuk pesawat terbang kertas yang menabrak tumpukan buku referensi Zaki. Rafi, dengan ekspresi dramatis layaknya detektif yang baru menemukan surat ancaman dari penjahat kelas kakap, mengambilnya dengan ujung jari, seolah-olah kertas itu dilapisi racun. “Perhatian,” bacanya dengan suara bergetar yang dipaksakan, “Untuk yang menyebut diri ‘Klub Detektif’. Berhentilah menyelidiki hal-hal yang bukan urusanmu. Atau, akan ada konsekuensinya.” Tidak ada tanda tangan, hanya tulisan tangan cetak yang tidak karuan, seolah ditulis dengan tangan kiri atau dalam keadaan terburu-buru.

Diam yang tiba-tiba menyergap ruangan itu lebih menakutkan daripada suara tangisan hantu toilet lantai tiga. Untuk pertama kalinya sejak klub mereka terbentuk, “kasus” datang langsung menghantam rumah mereka sendiri. Ini bukan tentang kue yang hilang atau kucing yang kabur; ini personal, mengancam, dan—menurut interpretasi mereka—sangat nyata.

“Spionase!” seru Rafi, melempar kertas itu ke meja. Matanya menyapu ruangan, menyelidiki setiap sudut dan setiap wajah teman-temannya dengan kecurigaan baru. “Seseorang telah menyusup ke dalam barisan kita. Atau… lebih buruk lagi, pengkhianat telah berjalan di antara kita sejak awal!” Gayanya seperti sedang memerankan adegan klimaks di novel mata-mata, lengkap dengan pandangan mata yang menyipit.

Bima mendengus, mengambil kertas itu dengan sarung tangan lateks biru dari ‘kit investigasi’-nya—yang hari ini berisi lup mainan, penggaris, dan sebungkus keripik kentang yang separuh habis. “Jangan lebay, Raf. Analisis dulu. Kertas HVS biasa, bisa dibeli di mana saja. Tinta pulpen hitam standar. Lipatannya tidak rapi, menunjukkan pelaku mungkin dalam keadaan emosional atau terburu-buru. Tidak ada sidik jari yang jelas selain milik kita—yang sudah mengkontaminasi.” Dia mengangkat bahu. “Bisa jadi sekadar prank dari siswa iseng.”

“Prank?” Zaki menyela, matanya berbinar dengan kegembiraan campur kecemasan. Dia sudah menarik tiga volume manga detektif dari tasnya. “Ini persis seperti awal arc ‘The Traitor Among Us’ diDetective Conan! Ancaman anonim yang menarget organisasi, memecah belah kepercayaan dari dalam! Biasanya pelakunya adalah orang yang paling tidak kita duga—seseorang yang dekat, yang tahu aktivitas kita!” Pandangannya tidak sengaja tertuju ke Dion, yang sedang sibuk memeriksa ponselnya dengan wajah pucat.

Dion menatap mereka, wajahnya biasanya percaya diri kini berkerut kekhawatiran. “Ini… ini mungkin salahku,” gumamnya. “Jaringanku. Aku terlalu banyak bertanya, terlalu banyak menyebar informasi tentang penyelidikan kita ke sana-sini. Mungkin ada yang merasa terganggu, atau… atau aku tidak sengaja memberi tahu orang yang salah.” Sebagai ‘Intel’, reputasinya sebagai pengumpul informasi terancam. Paranoia mulai menggerogotinya; setiap orang yang pernah dia ajak bicara tiba-tiba menjadi tersangka potensial.

Aji menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya yang besar ke rak buku. “Kalian dengar sendiri. Bima bilang mungkin cuma iseng. Tapi kalian malah saling tuduh. Ini yang berbahaya.” Suaranya, suara nalar yang sering diabaikan, kali ini terdengar lebih berat. “Kalau ini memang serius, ya kita laporkan ke guru. Kalau cuma iseng, ya diabaikan. Tapi saling curiga begini? Itu yang bener-bener bakal bubarin klub.”

Tapi kereta paranoia sudah meluncur dari relnya. Rafi, yang merasa kewibawaannya sebagai ‘Detektif Agung’ diuji, memutuskan untuk melakukan ‘penyidikan internal’. “Prosedur standar! Kita harus menginterogasi… eh, mewawancarai satu sama lain! Mengetahui di mana setiap orang berada saat ancaman ini bisa diletakkan! Mencari celah, ketidakkonsistenan!”

Apa yang terjadi selanjutnya adalah kekacauan investigatif tertinggi—atau terendah—yang pernah mereka alami. Rafi mencoba mewawancarai Bima dengan gaya ‘good cop’, yang berakhir dengan Bima menjelaskan teori probabilitas tentang siapa yang paling punya akses ke perpustakaan pada jam kosong, lengkap dengan diagram Venn yang digambarnya di whiteboard kecil. Zaki bersikeras mereka semua membuat ‘alibi tertulis’ seperti di novel, yang isinya justru mengungkapkan hal-hal memalukan seperti Dion yang sebenarnya tidur di kelas matematika saat mengaku ‘mengumpulkan intel’, atau Aji yang sedang asyik menonton pertandingan bola di ponselnya di toilet.

Kecurigaan merayap seperti kabut. Saat Dion menerima pesan teks dan tersenyum kecil, Rafi berbisik ke Zaki, “Lihat! Dia berkomunikasi dengan ‘mereka’!” Padahal Dion hanya mendapat kiriman meme lucu dari sepupunya. Saat Bima pergi ke laboratorium kimia untuk—katanya—’menganalisis komposisi debu di kertas’, Zaki berkomentar, “Atau dia menghancurkan bukti?” Padahal Bima benar-benar hanya penasaran apakah ada serbuk khusus yang menempel.

Suasana klub yang biasanya dipenuhi debat kocak dan semangat kini berubah muram. Tawa menghilang. Setiap bisikan terasa seperti konspirasi. Mereka mulai berjalan berkelompok, saling mengawasi. Rafi bahkan menyuruh Aji untuk ‘mengawasi’ Dion saat istirahat, yang membuat Dion merasa terhina dan Aji hanya menggelengkan kepala lelah.

Puncak absurditas terjadi ketika Zaki, setelah semalaman menganalisis pola ancaman berdasarkan berbagai manga, menyajikan ‘profil psikologis pelaku’. “Berdasarkan teori kejahatan dalamKindaichi Case FilesdanPsycho-Pass, pelaku kita kemungkinan adalah seseorang yang merasa ‘otoritas’-nya terganggu oleh kehadiran kita. Bisa jadi guru yang merasa kita mengintervensi wewenangnya, atau siswa yang merasa kita mengacaukan ‘tatanan sosial’ sekolah. Atau,” dia menatap serius, “ini adalah peringatan dari organisasi bawah tanah yang selama ini beroperasi di sekolah kita, dan kita tanpa sengaja mendekati kebenaran mereka!”

Rafi mengangguk-angguk khidmat, seolah Zaki baru saja mengungkap kebenaran mendalam. Bima memukul dahinya sendiri. “Organisasi bawah tanah? Di sekolah kita? Yang paling bawah tanah di sini cuma saluran air yang kadang mampet di musim hujan!”

Tapi keraguan sudah tertanam. Pertemuan klub berikutnya terasa seperti pertemuan rahasia kelompok pemberontak. Mereka berbicara dengan suara rendah, meski tidak ada orang lain di perpustakaan. Setiap bunyi langkah dari luar membuat mereka melompat. Dion melaporkan bahwa dia ‘menangkap’ seorang siswa kelas 10 yang ‘melihatnya terlalu lama’ di kantin, yang langsung ditetapkan Rafi sebagai ‘Orang Asing Mencurigakan Nomor Satu’. Mereka bahkan mulai membuat kode rahasia sendiri untuk komunikasi—sistem yang begitu rumit sehingga mereka sendiri lupa artinya, menyebabkan salah paham baru ketika Aji mengira permintaan Rafi untuk ‘membawaThe Complete Sherlock Holmes‘ adalah kode untuk ‘membawa senjata’ (yang dijawab Aji dengan membawa tongkat baseball, membuat guru olahraga bertanya-tanya).

Dalam keputusasaan—dan karena tidak ada kasus lain yang bisa mengalihkan perhatian—mereka memutuskan untuk ‘menjebak’ pengirim ancaman. Rencananya: mereka akan berpura-pura menyelidiki ‘kasus besar’ baru (yang mereka ciptakan: hilangnya pena berlogo kepala sekolah) dan melihat siapa yang bereaksi. Mereka sengaja menyebar desas-desus lewat Dion tentang ‘bukti baru yang mengarah pada seseorang yang sangat berpengaruh’.

Yang terjadi bukanlah penjahat yang terjebak, melainkan kekacauan yang lebih besar. Desas-desus itu menyebar liar, berubah menjadi kabar burung tentang ‘skandal guru’ yang tidak pernah ada. Suasana sekolah menjadi tegang tanpa alasan yang jelas. Beberapa guru mulai menanyai Dion tentang sumber informasinya. Klub mereka, alih-alih menemukan musuh, justru menarik perhatian yang tidak mereka inginkan dan menciptakan musuh imajiner di mana-mana.

Ketegangan mencapai titik didih saat, di akhir pekan, sebuah pesan baru muncul di grup chat pribadi mereka—sebuah gambar lokasi kosong di belakang sekolah, dengan tulisan “Besok. Sendirian. Jawaban.” Pesan itu dikirim dari akun anonim.

Rafi bersikeras ini adalah undangan untuk konfrontasi akhir. Zaki gemetar sekaligus bersemangat, yakin ini adalah klimaks ala manga. Bima meragukan keasliannya tapi tidak bisa membantah bahwa ancaman itu kini sangat personal. Dion diam, merasa ini semua adalah kesalahannya. Aji, untuk pertama kalinya, terlihat benar-benar marah. “Cukup!” hardiknya, suaranya menggema di chat grup. “Kalian lihat apa yang kalian lakukan? Kita saling tidak percaya, nyebarin gossip bodoh, bikin suasana sekolah jadi aneh. Dan untuk apa? Untuk catatan ancaman yang mungkin cuma coretan anak iseng? Besok, kita dateng bareng-bareng. Atau lebih baik, kita laporin aja ke Pak Darmo dan selesai.”

Tapi bagi Rafi, Zaki, bahkan Dion, ini sudah bukan lagi tentang ancaman. Ini tentang membuktikan bahwa klub mereka berarti, bahwa mereka bukan sekumpulan anak bermain detektif. Ini tentang menghadapi ‘musuh’ yang telah mengacaukan persahabatan mereka. Mereka sepakat—dengan Aji menghela napas pasrah—untuk menghadapi pertemuan itu bersama-sama. Tapi persatuan itu rapuh, dibangun di atas fondasi kecurigaan dan ketakutan. Setiap dari mereka, dalam hati, masih mempertanyakan:Apakah salah satu dari kita yang ada di sini, adalah pengirimnya?

Paranoia telah berhasil memecah belah mereka, persis seperti yang diinginkan oleh si pengirim ancaman—siapa pun dia. Dan dalam kebisangan malam sebelum pertemuan, masing-masing dari mereka bergulat dengan pertanyaan yang lebih menakutkan daripada hantu mana pun: jika musuh ternyata ada di antara sahabat sendiri, apakah persahabatan dan klub ini bisa bertahan?

Suasana di markas klub—sebuah sudut terpencil perpustakaan yang mereka klaim sebagai “kantor detektif”—tegang bagai kawat baja. Rafi mondar-mandir dengan trench coat-nya yang terlihat semakin tidak pada tempatnya di ruang ber-AC, sementara Bima dengan cermat memeriksa catatan ancaman ketiga di bawah lup mainannya. Dion menggigil, bukan karena dingin, tapi karena merasa jaringan informasinya yang ia bangun dengan susah payah ternyata memiliki kebocoran fatal. Zaki terdiam, matanya kosong menatap rak buku, seolah-olah mencari jawaban di antara jilid-jilid manga detektif. Hanya Aji yang masih mencoba bersikap waras, meski ekspresinya jelas-jelas mengatakan, “Aku sudah bilang dari dini.”

“Ini titik baliknya,” gumam Rafi tiba-tiba, berhenti di depan meja. “Setiap detektif besar dalam sejarah menghadapi ujian seperti ini. Musuh yang bersembunyi di bayang-bayang, mengancam untuk melumpuhkan kita sebelum kita mencapai kebenaran!” Tangannya mengepal dramatis.

Bima menghela napas panjang. “Rafi, ‘musuh’ kita sejauh ini meninggalkan catatan di loker dengan tulisan tangan yang goyah menggunakan spidol whiteboard biasa. Ini bukan Moriarty. Ini lebih mirip… anak kelas tujuh yang iseng.”

“Itu justru tipuannya!” seru Zaki, tiba-tiba hidup kembali. “DiDetective Conan, Black Organization sering menggunakan metode sederhana untuk menyamarkan operasi besar mereka! Aldo… atau siapa pun dia… bisa saja hanya kedok!”

“Aldo lagi, Aldo lagi,” gerutu Aji, menggeleng. “Kita sudah menguntitnya dua hari, Bim. Apa hasilnya? Dia cuma bolak-balik dari kelas, ke kantin, ke lapangan basket, dan pulang. Aktivitas paling mencurigakannya adalah beli dua bungkus cilok, bukan satu.”

Penyelidikan internal mereka selama 48 jam terakhir adalah sebuah kekacauan yang sempurna. Setelah saling mencurigai, mereka akhirnya memusatkan perhatian pada Aldo, siswa yang mereka “interogasi” dalam kasus surat cinta Genta. Logikanya sederhana dan penuh lubang: Aldo punya motif (dia malu), dia ada di sekitar mereka, dan dia terlihat gugup setiap kali klub lewat. Tapi bukti nyata? Nol besar.

“Kita butuh bukti yang tak terbantahkan,” ujar Bima, meletakkan lupnya. “Metode ilmiah. Observasi, hipotesis, eksperimen, kesimpulan. Kita sudah melakukan observasi terhadap Aldo. Sekarang kita butuh eksperimen.”

“Eksperimen apa?” tanya Dion, penasaran.

“Konfrontasi terkontrol,” jawab Bima, matanya berbinar dengan cahaya logika yang berbahaya. “Kita hadapkan dia dengan ‘bukti’ yang kita miliki—yaitu kecurigaan kita—dan amati reaksinya. Jika dia bersalah, dia akan menunjukkan tanda-tanda stres fisiologis: peningkatan detak jantung, keringat dingin, menghindari kontak mata.”

Rafi menyambar ide itu dengan antusiasme yang meluap-luap. “Brilian! Sebuah interogasi ala ruang pengadilan! Kita atur pertemuannya… di tempat yang netral, tapi penuh tekanan psikologis. Perpustakaan… setelah jam pulang sekolah. Suasana sepi akan memperbesar kecemasannya!”

Aji memandang mereka dengan rasa tidak percaya. “Kalian serius? Mau mengeroyok seorang anak kelas sepuluh berdasarkan ‘firasat manga’ dan teori detektif?”

Tapi klub sudah tidak mendengarkan. Rencana itu, seperti biasa, langsung dijalankan dengan semangat tinggi dan persiapan yang minim. Dion bertugas memastikan Aldo “terpancing” untuk datang ke perpustakaan dengan alasan meminjam buku yang tidak pernah ada. Zaki menyiapkan “dokumentasi kasus” berupa catatan-catatan mereka yang penuh coretan tidak jelas. Rafi berlatih pose dan kalimat pembuka yang dramatis di depan cermin kamar kecil. Bima menyiapkan “kit observasi” yang berisi stopwatch, notes, dan… termometer daging yang ia pinjam dari lab IPA tanpa izin.

Sore itu, sinar matahari senja menyusup melalui jendela perpustakaan, menerangi debu-debu yang beterbangan. Aldo berdiri di depan meja mereka, wajahnya bingung dan sedikit waspada. Dion berhasil membujuknya dengan mengatakan ada “klub baca” yang ingin mendiskusikan puisi—kebohongan yang langsung membuat Zaki merintih dalam hati.

“Aldo,” mulai Rafi, berdiri dengan tangan terkait di belakang punggung, menirukan Hercule Poirot. “Kami telah melakukan penyelidikan yang sangat… mendalam. Dan semua jejak, semua petunjuk, meski samar, mengarah padamu.”

Aldo mengerutkan kening. “Aku? Mengarah ke aku untuk apa?”

Bima maju selangkah, memegang notesnya. “Kami menerima serangkaian ancaman anonim. Catatan itu memerintahkan kami berhenti menyelidiki. Waktu kemunculannya bertepatan dengan setelah kami… eh… mewawancaraimu mengenai surat untuk Genta.” Bima berusaha terdengar profesional, tapi suaranya sedikit bergetar.

Wajah Aldo berubah pucat. Ia melirik ke pintu, seolah mencari jalan keluar. “A-Apa? Ancaman? Aku tidak tahu apa-apa soal itu!”

“Denyut nadi meningkat,” bisik Bima ke Rafi, sambil menunjuk ke leher Aldo yang terlihat berdenyut kencang. “Tanda klasik kebohongan.”

“Ini bukan kebohongan, ini panik!” bantah Aji dari belakang, tapi diabaikan.

Zaki mengambil alih, suaranya bergetar karena excitement. “DalamKindaichi, pelaku seringkali adalah orang yang paling tidak disangka, yang merasa terpojok oleh penyelidikan yang terlalu dekat dengan rahasia mereka! Kamu, Aldo, merasa terancam karena kami hampir mengungkap bahwakamulahyang menulis surat puisi ‘cinta’ untuk Genta itu! Surat yang sebenarnya adalah undangan lomba klub puisi yang salah alamat!”

Seketika itu juga, seluruh ketegangan di udara seperti pecah. Aldo tidak lagi terlihat takut. Ekspresinya berubah menjadi campuran rasa malu, lega, dan keheranan yang sangat dalam. “Apa? Tidak! Bukan itu!”

“Jangan menyangkal!” seru Rafi. “Motifnya jelas! Kamu ingin kami berhenti menyelidiki agar aibmu tidak terbongkar!”

Aldo memandang mereka satu per satu, lalu tiba-tiba tertawa—bukan tawa jahat, tapi tawa nervous, canggung, dan penuh keputusasaan. “Aib? Kalian pikirituaibku?” Dia menggeleng-gelengkan kepala, tangan menutupi wajah. “Oh, tidak… ini jauh lebih memalukan.”

Klub saling pandang, kebingungan mulai menggantikan keyakinan mereka.

“Lalu… apa?” tanya Dion, penasaran.

Aldo menarik napas dalam-dalam, seperti mengumpulkan keberanian untuk mengaku sesuatu yang sangat memalukan. “Aku… akubukanyang menulis surat puisi itu.”

“Lalu kenapa kamu panik saat kami tanya?” kejar Bima.

“Karena…,” Aldo menghela napas. “Karena surat puisi yang salah alamat itu…Aku yang seharusnya menerimanya.”

Keheningan.

“Apa?” Rafi memecah kesunyian, suaranya melengking.

“Klub puisi… mereka mengadakan lomba teka-teki internal. Surat dengan petunjuk samar itu adalah undangan untuk anggota tertentu. Tapi mereka salah tulis nama penerima. Seharusnya untukku, Aldo, karena aku anggota baru. Tapi mereka tulis ‘Genta’. Saat kalian mulai menyelidiki dan mewawancarai semua orang, termasuk aku… aku panik. Aku pikir kalian akan menemukan bahwa surat itu sebenarnya untukku, dan… dan semua orang akan tahu aku ikut klub puisi.”

“Kenapa itu memalukan?” tanya Aji, polos.

Aldo memerah sampai ke telinga. “Di antara teman-teman basketku… ikut klub puisi itu…tidak keren. Mereka akan menggodaku tanpa henti. ‘Dia penyair’, ‘si romantis’. Aku takut itu akan merusak… citra.” Dia mengatakannya dengan sangat serius, seperti membongkar konspirasi tingkat negara.

Klub Detektif Buku Terlarang terdiam membeku. Rafi yang tadinya berdiri dengan pose heroik, pelan-pelan merosot di kursi. Bima menatap termometer di tangannya seolah itu artefak dari zaman yang sangat bodoh. Zaki terkekeh pelan, lalu menutupi wajahnya. Dion hanya bisa menggeleng, sementara Aji memandang langit-langit perpustakaan seolah mencari kekuatan dari atas.

“Jadi…,” ucap Rafi perlahan, suaranya tiba-tiba kecil dan datar. “Ancaman-ancaman itu…”

“Ya, itu aku,” akui Aldo, menunduk. “Aku pikir… jika kalian takut dan berhenti menyelidiki kasus-kasus konyol kalian, kalian tidak akan pernah tidak sengaja mengungkap rahasiaku yang… yang sangat tidak penting ini.” Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya—kertas yang sama dengan yang digunakan untuk catatan ancaman. “Aku minta maaf. Itu sangat kekanak-kanakan. Aku cuma panik.”

Tidak ada kata-kata. Paranoia selama berhari-hari, saling curiga, teori konspirasi yang melibatkan organisasi rahasia, semua itu menguap, digantikan oleh kenyataan yang begitu sederhana, begitu remeh, dan begitu sangat, sangat memalukan bagi mereka berlima.

Aji adalah yang pertama memecah kebekuan dengan tertawa terbahak-bahak. Suaranya yang keras menggema di perpustakaan yang sepi. Satu per satu, yang lain mengikuti. Bima tertawa sambil memegangi perutnya, Rafi tertawa dengan nada putus asa, Zaki tertawa sambil mengusap air mata di sudut matanya, dan Dion tertawa karena merasa bodoh.

Aldo awalnya bingung, lalu akhirnya ikut tersenyum malu-malu.

“Jadi,” kata Bima setelah tawa mereka mereda, “‘musuh bebuyutan’ kita… adalah seorang remaja yang takut dikira tidak keren karena ikut klub puisi.”

“Dan kita,” tambah Rafi dengan nada dramatis yang sudah luntur, “hampir saja menghancurkan persahabatan kita karena mencurigai satu sama lain… untuk ini.”

Zaki mengangguk, tersenyum getir. “Di manga manapun, plotnya tidak akan pernah sereceh ini.”

Mereka kemudian berbicara dari hati ke hati dengan Aldo. Klub meminta maaf karena telah membuatnya merasa terpojok dan karena penyelidikan mereka yang ceroboh. Aldo meminta maaf karena ancaman bodohnya. Mereka bahkan berjanji untuk menjaga “rahasia” keanggotaan klub puisinya—sebuah janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh, seolah-olah mereka sedang melindungi identitas rahasia seorang agen.

Saat Aldo pergi, meninggalkan mereka sendirian di perpustakaan yang semakin gelap, sebuah keheningan yang nyaman turun di antara mereka.

“Kalian tahu,” ucap Aji, memecah kesunyian. “Setelah semua ini… setelah kita saling curiga, berantem, dan akhirnya menemukan bahwa musuh kita cuma anak yang malu ikut klub puisi… aku rasa kita jadi lebih kuat.”

“Bagaimana bisa?” tanya Dion.

“Karena kita melihat seberapa konyolnya kita bisa menjadi,” jawab Aji, tersenyum. “Dan kita masih di sini, bersama. Tidak ada yang pergi.”

Rafi mengangguk, untuk pertama kalinya tanpa pretensi. “Mungkin… mungkin menjadi detektif hebat bukan tentang menangkap penjahat tingkat dewa. Mungkin ini tentang… bertahan melewati hal-hal bodoh seperti ini bersama-sama.”

Mereka tidak menyelesaikan misteri besar. Mereka tidak menangkap kriminal berbahaya. Tapi malam itu, saat mereka berjalan keluar dari sekolah, rasa persahabatan di antara mereka terasa lebih nyata dan lebih hangat daripada sebelumnya. Mereka telah menemukan musuh, dan musuh itu adalah ketakutan dan kesalahpahaman mereka sendiri. Dan dalam pertempuran melawan musuh yang canggung itu, mereka, entah bagaimana, menang.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar