A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Misteri Penghilang Kue Wakil Kepala Sekolah

Suasana Perpustakaan SMA Merdeka pada Jumat siang itu berbeda. Di sudut yang biasanya sepi, terkumpul lima remaja dengan ekspresi serius—atau setidaknya berusaha terlihat serius. Rafi, dengan trench coat cokelatnya yang tiga nomor terlalu besar, berdiri di depan papan tulis kecil, menatap tajam pada satu kata yang ditulisnya:“OPERASI NASTAR.”

“Saudara-saudara sekelab,” ucapnya dengan suara berusaha berat seperti detektif dalam film noir, “kita telah dipercaya—tidak, kita telah mengambil alih—kasus paling membingungkan yang pernah melanda institusi pendidikan ini. Setiap Jumat, tepat setelah jam istirahat pertama, kue nastar kesayangan Bu Wijaya lenyap dari mejanya. Tidak ada jejak, tidak ada saksi. Sebuah kejahatan sempurna.” Matanya berbinar. Bima, yang duduk sambil memeriksa isi ‘kit investigasi’nya—berisi lup mainan, sebungkus kapur tulis, sarung tangan lateks, dan beberapa bungkus keripik—menghela napas. “Atau mungkin cuma Bu Wijaya yang lupa taruh di mana. Atau… dimakan sendiri.”

“Bima!” tegur Rafi. “Itulah yang ingin kita pikirkan! Pencuri sejati selalu menciptakan keraguan. Tugas kita adalah mengungkap kebenaran yang tersembunyi di balik tabir ilusi!” Zaki, yang sejak tadi tenggelam dalam buku Pembunuhan di Orient Express, mendongak. “Pola kejahatan berulang setiap Jumat… ini mengingatkan saya pada kasus ‘Pencuri Marmalade’ di chapter 42 manga Detektif Kindaichi. Pelakunya selalu menggunakan hari yang sama untuk menciptakan pola psikologis ketakutan.”

Dion, yang sedang asyik memantau Instagram setengah sekolah, menyela. “Intel saya mengatakan, Bu Wijaya baru saja membeli nastar dari toko kue ‘Nyonya Rara’ yang terkenal enak. Nilai sentimental tinggi. Motifnya bisa balas dendam, iri hati, atau… sekadar lapar.” Aji, anggota tertua yang lebih ingin latihan bola, menggeleng. “Kalian serius mau repot-repot urusin kue? Gue rasa kita cuma butuh kamera CCTV.”

“CCTV?” Rafi terkesiap, seolah mendengar kata kotor. “Aji, Aji… detektif sejati mengandalkandeduksi logisdanpengamatan lapangan, bukan teknologi yang membosankan! Itu sebabnya, saya telah merancang rencana tiga fase.” Dia menunjuk papan tulis yang penuh coretan acak. “Fase Satu: Intelijen dan Penyamaran.Dion, kau akan menyamar sebagai… tukang kebun baru. Amati pergerakan di sekitar ruang guru.Fase Dua: Analisis TKP.Bima, kau akan memeriksa meja Bu Wijaya setelah kejadian, mencari bukti forensik—serat, sidik jari, DNA mungkin.Fase Tiga: Interogasi dan Jebakan.Kita akan menyebar desas-desus palsu untuk memancing pelaku.”

Keesokan harinya, Jumat, operasi dimulai dengan segera—dan segera pula berantakan. Dion, dengan kumis tempel yang salah satu ujungnya sudah mulai melengkung dan topi caping butut, berdiri canggung di dekat pot bunga. Alih-alih menyamar, penampilannya justru menarik perhatian. “Eh, Dion, lu cosplay jadi apa?” tanya seorang teman sekelas sambil tertawa. Dion hanya tersenyum kaku, berusaha mengingat-ingat dialog penyamaran yang sudah dilatih.

Sementara itu, di dalam ruang guru yang sepi setelah Bu Wijaya pergi rapat, Bima dengan sarung tangan lateksnya beraksi. Dia menyapu permukaan meja dengan kuas kecil, mengumpulkan “serbuk bukti” ke dalam plastik klip. “Lihat!” bisiknya pada Rafi yang berjaga di pintu. “Partikel putih halus… bisa jadi sisa gula halus, atau… tepung! Mungkin pelakunya dari dapur!” Rafi mengangguk-angguk penuh arti, padahal sama sekali tidak paham. Tanpa sepengetahuan Bima, “serbuk bukti” itu sebagian besar adalah remah-remah kue dari sarapan Bu Wijaya sendiri.

Kekacauan mencapai puncak ketika Aji, yang ditugaskan mengawasi lorong, tertangkap basah sedang mengintip ke jendela ruang guru oleh Pak Darmo, guru olahraga. “Aji! Ngapain di sini? Mau nyoncat lagi?” teriak Pak Darmo. Aji, panik, berteriak kode yang disepakati: “Angin timur bertiup kencang!” yang seharusnya berarti “bahaya, mundur!”. Rafi dan Bima di dalam ruangan justru mengartikannya sebagai “pelaku mendekat, bersiap!”. Mereka berdua langsung bersembunyi di bawah meja, bersiap melakukan penyergapan, yang akhirnya hanya membuat mereka ketakutan sendiri saat Pak Darmo masuk untuk mengambil berkas.

Setelah dua jam bersembunyi, kelima detektif amatir itu akhirnya berkumpul kembali di markas mereka, basah kuyup oleh hujan yang turun tiba-tiba dan penuh dengan rasa frustrasi. “Penyamaran gagal total,” keluh Dion sambil mencabut sisa lem kumis dari wajahnya. “Analisis forensik saya… mungkin terkontaminasi,” akui Bima malu-malu, sambil menyadari dia tanpa sengaja telah mencicipi “sampel” tepungnya dan ternyata itu garam. Rafi, trench coat-nya lembap dan lesu, masih berusaha mempertahankan wibawa. “Ini semua bagian dari rencana. Kita telah mempersempit lingkaran. Pelaku pasti seseorang yang memiliki akses rutin ke ruang guru, mengetahui jadwal Bu Wijaya, dan… sangat menyukai nastar.”

Zaki, yang selama ini diam sambil membalik-balik buku catatannya, tiba-tiba berseru. “Tunggu! Kalian lupa satu faktor penting! Dalam 70% kasus pencurian makanan di sekolah dalam serialKochira Katsushika-ku Kameari Kōen-mae Hashutsujo, pelakunya bukan manusia!” Semua mata tertuju padanya. “Apa maksudmu?” tanya Aji, sudah lelah. “Hewan!” jawab Zaki penuh keyakinan. “Tupai, burung, atau…kucing!”

Seketika itu juga, seperti diatur oleh sutradara komedi, seekor kucing oren gemuk dengan belang putih di dahinya—Oyen, kucing kampung yang diadopsi oleh penjaga sekolah—melenggang dengan angkuh melewati jendela perpustakaan yang terbuka. Di mulutnya yang lucu, terselip sisa bungkus kue yang masih bermotif khas toko Nyonya Rara.

“DIA!” teriak Rafi, hampir menjatuhkan lupnya. “Si tersangka akhirnya menunjukkan diri!” Operasi pun berubah dari investigasi kriminal menjadi operasi penangkapan kucing. Aji, dengan refleks atletiknya, berusaha mengejar Oyen yang lincah. Bima mencoba menjebak dengan keripik dari ‘kit investigasi’-nya. Dion berteriak-teriak memberi arahan yang kacau. Akhirnya, Zaki—dengan kesabaran seorang pencinta buku—berhasil memancing Oyen mendekat dengan sepotong nastar pengganti yang mereka beli darurat.

Setelah “tersangka” berhasil diamankan (dan dengan senang hati memakan nastar pengganti), mereka melacak pergerakannya. Ternyata, Oyen memiliki rute tetap: memanjat pohon di dekat jendela ruang guru yang selalu terbuka sedikit untuk sirkulasi, melompat masuk, mencuri kue yang biasanya ditaruh di pinggir meja, lalu kabur lewat jalur yang sama. Sebuah “kejahatan” yang sangat sederhana.

Keesokan harinya, dengan campuran rasa malu dan bangga, mereka menghadap Bu Wijaya. Rafi, sekali lagi dengan trench coat-nya, menyampaikan “laporan investigasi” yang dramatis, lengkap dengan diagram alur Oyen yang dibuat Bima (dengan beberapa rumus fisika tentang lompatan kucing yang tidak perlu). Bu Wijaya awalnya terlihat bingung, lalu tersenyum, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Jadi selama ini Oyen yang jail? Oh, anak-anak… Terima kasih, ya. Tapi lain kali, kalau mau bantu, bilang saja. Tidak usah pakai kumis tempel dan sarung tangan begitu.”

Kasus pertama Klub Detektif Buku Terlarang resmi ditutup. Tidak ada penjahat mastermind, tidak ada motif gelap, hanya seekor kucing yang lapar dan licik. Di markas mereka, sambil berbagi sekotak nastar yang diberikan Bu Wijaya sebagai “imbalan”, mereka merenung. “Jadi… kita menghabiskan tiga hari, penyamaran gagal, hampir dikenai sanksi, cuma buat ngejar kucing?” tanya Aji. Bima mengangguk. “Metode ilmiah saya ternyata tidak aplikatif untuk psikologi felina.” Zaki menambahkan, “Tapi setidaknya kita membuktikan teori saya tentang pelaku non-manusia!” Dion menyeringai. “Intel saya tetap yang paling akurat: Oyen memang sering berkeliaran di sekitar sana.”

Rafi, setelah diam sejenak, berdiri. “Saudara-saudara! Jangan lihat ini sebagai kegagalan! Lihatlah sebagai… latihan! Kita telah mengasah keterampilan observasi, kerja sama tim, dan… kemampuan bertahan dari malu.” Dia mengangkat gelas berisi susu kotak. “Untuk Klub Detektif Buku Terlarang, dan untuk kasus-kasus mustahil berikutnya yang pasti lebih… tidak mustahil dari ini!”

Mereka semua tertawa. Mungkin mereka bukan detektif hebat seperti di buku-buku. Metode mereka berantakan, kesimpulan mereka sering meleset, dan penyamaran mereka selalu jadi bahan tertawaan. Tapi di ruang perpustakaan yang berantakan itu, dengan sisa nastar dan coretan rencana konyol di papan tulis, ada sesuatu yang mulai tumbuh: sebuah persahabatan aneh, petualangan konyol, dan keyakinan bahwa besok akan ada misteri baru—yang pasti akan mereka selesaikan dengan cara mereka sendiri yang kacau-balau namun penuh semangat.

Keputusan untuk menggeledah kantor guru pada Jumat sore itu, dalam retrospeksi, adalah puncak dari serangkaian keputusan buruk. Namun bagi Rafi, yang berdiri di depan pintu dengan trench coat-nya yang terlalu besar dan ekspresi penuh keyakinan, ini adalah momen kebenaran. “Perhatian, semua orang!” serunya, suaranya berusaha terdengar berwibawa seperti detektif idolanya. “Kami telah mengumpulkan bukti-bukti. Saatnya konfrontasi akhir!” Bima menghela napas panjang, sambil memegang ‘kit investigasi’-nya yang berisi lup mainan, beberapa kantong plastik, dan sisa keripik yang dia bungkus ulang sebagai ‘contoh makanan tersangka’. Zaki bersemangat membuka notebook-nya yang penuh coretan teori, sementara Dion melirik ke kanan-kiri, masih memakai topi tukang kebun dan kumis tempel yang sudah setengah lepas. Hanya Aji yang berdiri di belakang, wajahnya memelas. “Aku cuma mau pulang,” gumannya, tapi tak ada yang mendengar.

Rencananya sederhana—menurut standar Rafi. Mereka akan memasang kamera mainan (hadiah dari cereal) sebagai alat pengintai, lalu bersembunyi dan menunggu sang pencuri kue muncul. Dion, dengan ‘keahlian intel’-nya, bertugas memantau dari balik pot tanaman besar. Sayangnya, penyamaran Dion sebagai tukang kebun gagal total ketika Bu Sari, petugas kebersihan sungguhan, lewat dan menawarkannya sapu karena mengira dia pegawai baru yang malas. Kekacauan dimulai ketika Bima, yang bersembunyi di balik lemari arsip, tanpa sengaja menyenggol tumpan dokumen. Suara berdebum membuat mereka semua kaget. Rafi, yang sedang bersiap-siap dengan pose dramatis, nyaris terjatuh. Zaki berteriak, “Itu dia! Sinyal pencurinya!” yang sama sekali tidak masuk akal.

Di tengah kekalutan itu, seekor bayangan kecil dan lincah melesat masuk dari celah jendela yang ternyata tidak terkunci rapat. Oyen, kucing jingga gemuk yang menjadi maskot tidak resmi sekolah, mendarat dengan anggun di atas meja Bu Wijaya. Dengan gerakan yang sudah terlatih, dia mendorong tutup toples kue nastar yang memang sengaja tidak ditutup rapat oleh Bu Wijaya agar ‘tetap renyah’. Lalu, dengan satu gerakan cakar yang ahli, dia mengait satu kue bulat dan melompat turun, menghilang ke balik meja sebelum siapa pun sempat bereaksi. Kelima anggota klub terdiam, mulut terbuka. Selama seminggu mereka membangun teori tentang konspirasi guru, dendam siswa, bahkan kutukan—dan pelakunya ternyata seekor kucing yang lapar.

“Jadi… selama ini…” ucap Rafi, suaranya tiba-tara kecil. Trenc coat-nya terasa sangat konyol.

“Seekor kucing,” sahut Bima datar, melepas sarung tangan lateksnya. “Semua analisis serbuk, pola waktu, dan teori motivasi… untuk seekor kucing.”

Zaki menutup notebook-nya dengan lembut. “DalamThe Adventure of the Blue Carbuncle, Sherlock Holmes justru menyelesaikan kasus yang melibatkan angsa. Mungkin ini versi lokal kita,” katanya, mencoba menghibur diri, tapi nada kecewanya terdengar jelas.

Dion akhirnya melepas topi dan kumis tempelnya. “Aku sudah bilang kita harus cek hewan peliharaan sekolah dulu,” gerutunya, meski sebenarnya tidak ada yang ingat dia pernah bilang begitu.

Aji hanya menggeleng sambil tersenyum kecut. “Bagus. Sekarang kita terlihat seperti idiot di depan kantor guru kosong. Ayo kita pergi sebelum ketahuan.”

Tapi Rafi, meski awalnya terpukul, cepat bangkit. Semangat detektifnya tidak padam begitu saja; itu hanya berubah arah. “Tunggu! Kasus ini belum selesai!” serunya. “Kita harus menangkap pelakunya secarain flagrante delicto! Kita harus membuktikan kepada Bu Wijaya!”

“Rafi, pelakunya kucing,” Bima memotong. “Kita tidak bisa membawanya ke pengadilan.”

“Bukan itu maksudku! Kita harus memberikan solusi. Seperti detektif sejati! Kita akan… kita akan membuat jebakan!”

Dan begitulah, di sore hari yang sama, kelima sekawan itu—dengan dana patungan dari uang jajan mereka—membeli sebungkus nastar baru dari toko kue di pasar. Mereka juga membeli sepotong kecil karpet permadani mainan (ide Zaki, karena di novel karpet sering digunakan untuk menjebak penjahat) dan seutas tali rafia. Rencana mereka sederhana: mereka akan meletakkan kue pengganti di meja, menutupnya dengan toples yang dihubungkan dengan tali, dan ketika Oyen mencoba mengambilnya, toples akan jatuh menutupinya—atau setidaknya membuat suara yang akan membangunkan mereka dari persembunyian.

Praktiknya, seperti biasa, jauh dari rencana. Mereka berebut meletakkan kue. Bima bersikeras kue harus diletakkan di atas kertas lakmus untuk ‘mendeteksi perubahan kimia jika disentuh’. Dion mengusulkan diberi sedikit cat makanan tidak berbahaya sebagai ‘penanda’. Aji hanya ingin cepat-cepat meletakkan kue dan pulang. Saat mereka sedang berdebat, Oyen muncul lagi. Kali ini, dia tidak langsung menuju kue. Dia duduk di sudut ruangan, mengamati mereka dengan mata hijau yang penuh rasa ingin tahu—atau mungkin penghinaan. Rafi, melihat kesempatan, langsung mengambil sikap.

“Dengan ini, saya, Rafi, detektif agung, mewawancarai tersangka utama!” dia mengumumkan, lalu berjongkok menghadap Oyen. “Hai. Kamu tahu kenapa kamu di sini? Kamu punya hak untuk diam. Tapi kami punya bukti. Kue nastar setiap Jumat. Apa motivasimu?”

Oyen menguap lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang kecil, lalu mulai membersihkan kaki depannya, mengabaikan Rafi sepenuhnya.

“Lihat! Dia menghindari pertanyaan! Tanda bersalah yang jelas!” teriak Rafi.

Bima memukul dahalnya. “Dia kucing, Rafi. Dia tidak paham Hukum Acara Pidana.”

“Atau mungkin dia paham, tapi memilih untuk tidak bekerja sama,” sahut Zaki dengan serius. “Seperti Moriarty yang selalu dua langkah di depan.”

Sementara mereka sibuk berdebat tentang tingkat kecerdasan dan niat jahat Oyen, sang kucing dengan tenang berjalan mendekati meja. Dia mengendus-endus kue pengganti yang mereka beli, lalu—dengan sikap acuh tak acuh—malah mendorongnya sedikit dengan hidungnya sebelum berbalik dan pergi keluar melalui jendela yang sama, seolah berkata, ‘Nastar kalian kualitasnya di bawah standar.’

Kegagalan jebakan mereka (Oyen bahkan tidak tertarik) dan interogasi yang sia-sia akhirnya membuat mereka menyerah pada pendekatan spektakuler. Solusi sebenarnya datang dari Aji, yang selama ini diam. “Kalian tahu,” katanya sambil menggaruk kepala, “daripada buat jebakan rumit yang tidak bekerja, kenapa kita tidak kasih saja dia makan di tempat lain? Jadi dia tidak ganggu kue Bu Wijaya.”

Idenya begitu sederhana sehingga terdengar revolusioner bagi mereka yang terbiasa dengan plot-plot rumit. Mereka sepakat. Setiap Jumat, salah satu dari mereka akan menyisihkan sedikit uang jajan untuk membeli sekantong kecil makanan kucing atau sisa ikan goreng dari kantin. Mereka akan menempatkannya di sudut teras belakang, jauh dari kantor guru. Sebagai ‘sistem pengawasan’, mereka membuat jadwal piket sederhana untuk memastikan makanan itu selalu ada.

Minggu depannya, ketika Bu Wijaya dengan cemas memeriksa toples kuenya di penghujung Jumat dan menemukannya masih utuh, wajahnya berseri-seri. “Ajaib! Kutukannya hilang!” serunya. Kelima detektif amatir itu, yang kebetulan lewat dengan alasan ‘inspeksi rutin’, hanya saling pandang dan tersenyum kecil. Mereka tidak menerima pujian atau pengakuan publik. Solusi mereka tidak melibatkan penangkapan dramatis atau monolog pengakuan dosa. Hanya seekor kucing yang kini kenyang di teras belakang, dan seorang wakil kepala sekolah yang bahagia.

Namun, bagi mereka, kemenangan itu terasa manis—bahkan lebih manis dari nastar Bu Wijaya. Saat mereka berkumpul di markas sementara mereka (sebuah bangku di sudut perpustakaan yang jauh), mereka merefleksikan kasus pertama mereka.

“Jadi, pelajaran apa yang kita dapat?” tanya Bima, membuka diskusi.

“Bahwa penyamaran itu lebih sulit dari kelihatannya,” keluh Dion, masih trauma dengan insiden sapu.

“Bahwa teori dari buku tidak selalu cocok dengan realita,” tambah Zaki dengan bijak. “Tapi bukan berarti tidak berguna. Tanpa pengetahuan tentang pola, kita tidak akan mencari pola waktu pencurian.”

“Bahwa kadang-kadang, solusi paling sederhana adalah yang terbaik,” sahut Aji. “Dan bahwa bekerja sama lebih penting daripada sok jadi detektif tunggal.”

Semua mata tertuju pada Rafi, sang pemimpin. Rafi diam sejenak, merenung. Trenc coat-nya sudah dia lepas dan dilipat di pangkuannya. “Pelajaran terpenting,” katanya akhirnya, dengan kesungguhan yang jarang terlihat, “adalah bahwa menjadi detektif… itu menyenangkan. Meski berantakan. Meski pelakunya cuma kucing. Kita melakukannya bersama-sama.”

Senandung persetujuan mengudara. Mereka mungkin bukan Sherlock Holmes atau Conan Edogawa. Metode mereka berantakan, deduksi mereka meleset, dan penyamaran mereka memalukan. Tapi di bangku perpustakaan itu, dengan rasa percaya diri yang baru lahir dari menyelesaikan sebuah masalah—betapapun konyolnya—mereka merasa seperti sebuah tim. Sebuah klub.

Dan ketika Oyen si kucing, dengan santainya, melompat ke jendela perpustakaan dan menatap mereka seolah memberi selamat, mereka semua tertawa. Kasus pertama Klub Detektif Buku Terlarang telah ditutup. Tidak dengan gemuruh, tapi dengan tawa dan pelajaran berharga. Banyak kasus lain menanti di depan, dan mereka—dengan segala kekonyolan dan semangat mereka—siap menghadapinya. Bersama-sama.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar