Festival Sekolah dan Hilangnya Tropi Bergilir
Suasana halaman sekolah seperti sebuah pasar raya yang heboh. Stan-stan berwarna-warni berjejer, aroma makanan menggoda dari kantin darurat, dan sorak-sorai siswa memenuhi udara. Festival Sekolah tahun ini bertema “Kreasi Nusantara”, dan semangat kompetisi terasa paling kental di stan lomba mural yang sedang dipersiapkan untuk penilaian esok hari. Namun, di tengah keriuhan itu, kepanikan melanda sekelompok kecil panitia inti. Wajah Ketua Panitia, Rendra, pucat pasi ketika ia mendatangi Rafi dan kawan-kawan yang sedang asyik mengamati stan kerajinan anyaman.
“Tropinya… Tropi Bergilir Lomba Mural… hilang!” desis Rendra, napasnya tersengal. “Itu harus diserahkan besok siang! Kalau tidak ketemu, aku yang jadi tumbal!”
Mata Rafi langsung berbinar. Inilah saatnya! Kasus nyata di tengah keramaian, persis seperti adegan dalamDetective Conansaat terjadi insiden di taman hiburan. Ia mengangkat kerah trench coat-nya yang terasa semakin gerah. “Tenang, Rendra. Klub Detektif Buku Terlarang akan mengambil alih kasus ini. Kami akan bergerak diam-diam, menyusup di antara kerumunan, dan menemukan tropi itu sebelum matahari terbenam!”
Rapat darurat digelar di balik stan minuman dingin. “Kondisi lapangan kacau, visibilitas terbatas, tersangka berpotensi menyamar sebagai panitia atau pengunjung,” analisis Bima, serius memandangi whiteboard kecilnya yang ia bawa. “Kita butuh operasi penyamaran untuk mengumpulkan intel tanpa mencurigakan.”
“Penyamaran massal!” seru Dion, matanya bersinar. “Ini kesempatanku untuk mempraktikkan teorideep coverdari novel mata-mata! Aku sudah siapkan beberapa… aksesori.”
Dua puluh menit kemudian, hasil “persiapan” mereka adalah sebuah pemandangan yang justru sangat mencurigakan.
Rafi berdiri dengan pose sok penting, mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah kamera mainan bekas mainan adiknya yang digantungkan di leher. “Aku adalah fotografer resmi festival dari… majalahSekolah Hebat,” katanya dengan suara dibuat-buat. Masalahnya, “kamera”nya jelas-jelas bertuliskan “ToyCam” dengan warna plastik mencolok.
Bima, yang bersikeras bahwa penyamaran harus logis, memakai rompi tukang listrik butut dan membawa sebuah lampu sorot portabel yang ia pinjam dari klub teater. Ia mondar-mandir di sekitar stan mural, memeriksa kabel-kabel yang tidak ada hubungannya dengan listrik, sambil sesekali berbisik ke walkie-talkie mainan, “Base, ini Eagle, tidak ada aktivitas mencurigakan di sektor Alpha.” Ia lupa bahwa walkie-talkienya tidak memiliki pasangan.
Dion, dengan percaya diri luar biasa, mengenakan rompi panitia berwarna oranye yang ia “pinjam sementara” dari tumpukan di posko. Sayangnya, rompi itu dua nomor terlalu besar dan bertuliskan “DIVISI KEBERSIHAN”, yang sama sekali tidak cocok dengan cara ia berjalan mondar-mandir sambil menatap tajam ke wajah setiap panitia lain.
Zaki, yang terinspirasi oleh detektif-detektif yang menyamar sebagai kritikus seni, membawa sebuah buku sketsa dan pensil. Ia berdiri di depan mural yang setengah jadi dengan ekspresi sangat serius, mengangguk-angguk pelan, lalu mencoret-coret sesuatu di bukunya. Yang ia coret sebenarnya adalah diagram alur teorinya tentang pencurian tropi berdasarkan pola dalam mangaMagic Kaito. Penampilannya terlalu kaku dan tidak natural, seperti patung yang dihadapkan ke dinding.
Aji, yang mengeluh dari tadi, akhirnya disuruh berdiri di dekat pintu masuk area stan dengan kaus oblong hitam dan kacamata hitam biasa. “Kamu jadi satpam dadakan,” perintah Rafi. “Awasi orang yang mencurigakan.” “Apa tandanya orang mencurigakan?” tanya Aji lelah. “Yang… sering menengok ke belakang, atau membawa kardus besar!” jawab Rafi yakin diri. Aji akhirnya hanya berdiri dengan tangan disilang, mengawasi anak-anak kecil yang mengejar balon, sama sekali tidak seperti satpam.
Hasilnya bisa ditebak. Alih-alih menyamar dengan baik, mereka justru menjadi pusat perhatian. Seorang guru pembina melirik Rafi dan kamera mainannya dengan raut bingung. Beberapa panitia memandangi Dion yang mondar-mandir dengan rompi kebersihan namun wajahnya seperti agen rahasia. Bima yang sok sibuk dengan lampu sorotnya hampir tersandung kabel dan menjatuhkan stan kue pancong. Zaki ditegur oleh seniman mural karena dianggap menghalangi pandangan.
“Penyamaran kita… kurang meyakinkan,” bisik Zaki pada Rafi setelah hampir ketahuan.
“Tidak! Ini justru brilian!” bantah Rafi dengan keyakinan membuta. “Kita menarik perhatianterbuka, sehingga tersangka yang asli akan merasa aman dan lengah! Itu namanya reverse psychology!”
Aji dari kejauhan hanya bisa menggeleng, melihat kelima sahabatnya yang semakin terlihat aneh di tengah keramaian festival.
Kekacauan mencapai puncaknya ketika Dion, yang sedang “mengintai” di dekat posko panitia, mendengar percakapan terpotong. “… harus cepat pindahkan ke tempat aman sebelum ketahuan…” kata seorang panitia berkaos oblong kepada temannya, sambil membawa sebuah kardus berukuran sedang yang dibungkus kain hitam.
“Base! Base! Eagle Two di sini! Aku punya eyeball on suspect! Membawa paket mencurigakan, ukuran cocok untuk tropi, sedang menuju zona timur!” bisik Dion histeris ke walkie-talkie yang tidak menyala. Tanpa menunggu respons, ia memberi kode tangan (yang ia tiru dari film) ke arah Rafi.
“Operasi Buru! Semua unit, ikuti target!” seru Rafi, lalu bergegas menyusul, trench coat-nya berkibar-kibar. Bima, Zaki, dan akhirnya Aji yang menghela napas terpaksa ikut berlari kecil di belakangnya.
Ajang festival yang ramai berubah menjadi lapangan “pengejaran” yang kacau balau. Rafi berusaha terlihat seperti fotografer yang sedang mengambil gambar candid, tapi larinya terhuyung-huyung. Bima harus menyeret lampu sorotnya yang berat. Dion, dengan rompi oranye yang berkibar, berusaha mengambil rute memutar seperti agen yang menghindari tail. Zaki kehilangan bukunya di tengah jalan. Hanya Aji yang bisa berlari dengan normal, tapi ia bingung harus mengejar siapa.
“Target masuk ke gedung sekolah! Sektor C!” teriak Dion (terlalu keras).
Mereka memburu “tersangka” itu masuk melalui pintu samping, menyusuri koridor yang sepi karena semua orang ada di festival. Kardus hitam itu terlihat semakin jelas di tangan si panitia.
“Di depan, dia masuk ke ruang… gudang penyimpanan olahraga!” bisik Rafi, matanya berbinar. “Persis! Dia menyembunyikan barang bukti di tempat yang tidak terduga!”
Dengan hati berdebar-debar (dan napas tersengal-sengal), mereka mendekati pintu gudang yang terbuka sedikit. Dari dalam, terdengar suara gemeretak dan gerakan.
“Ini saatnya!” Rafi memberi isyarat. Dengan dorongan dramatis, mereka mendorong pintu dan masuk dengan formasi setengah lingkaran (yang mereka latih berdasarkan film).
“Berhenti di situ! Atas nama… eh… Klub Detektif!” seru Rafi, mencoba meniru suara berwibawa.
Sang “tersangka”, yang ternyata adalah panitia divisi logistik bernama Farhan, terkejut dan hampir menjatuhkan kardus yang ia pegang. Di sekelilingnya, bukan barang bukti pencurian yang mereka harapkan, tetapi tumpukan kain terpal, beberapa kaleng cat, dan peralatan mural.
“Kalian… siapa? Mau apa?” tanya Farhan, bingung melihat sekumpulan anak dengan kostum aneh: fotografer dengan kamera mainan, tukang listrik dengan lampu, petugas kebersihan, seorang dengan ekspresi teori, dan seorang yang seperti mau bertarung.
“Kami tahu kamu menyembunyikan Tropi Bergilir di dalam kardus itu!” tuduh Rafi, menunjuk.
Farhan memandang mereka dengan ekspresi semakin bingung, lalu tertawa lepas. “Tropi? Ini bukan tropi!” Ia membuka bungkusan kain hitam dan mengeluarkan isi kardus. Bukan tropi emas berkilau, melainkan sebuah piala kecil perunggu untuk lomba ranking kelas tahun lalu yang sudah usang. “Ini cuma mau aku pindahkan ke gudang arsip lama, biar nggak ngambil tempat di posko. Bungkusnya pake kain sisa buat ngecat, soalnya kardusnya udah jelek.”
Rafi dan kawan-kawan terdiam, wajah mereka memerah. Tapi Bima, dengan naluri forensiknya, matanya tertuju pada sudut gudang. Di sana, di bawah tumpukan kain terpal besar berwarna biru—kain yang persis digunakan untuk melindungi mural dari debu—terlihat sudut berbentuk lancip yang mengkilat.
“Tunggu… itu apa?” Bima berjalan mendekat dan menarik kain terpal itu.
Dan di sana, tersandar dengan aman di antara kaleng cat dan roller, berdiri Tropi Bergilir Lomba Mural yang megah, lengkap dengan pita emas dan prasastinya. Tidak ada debu, tidak ada kerusakan. Hanya… tersimpan dengan rapi.
Farhan ternganga. “Lho? Kok bisa ada di sini? Ini kan harusnya di megi panitia utama untuk besok?”
Setelah lima menit bertanya-tanya dan memeriksa, kebenaran yang sederhana—dan agak memalukan—terungkap. Dalam kekacauan persiapan pagi tadi, seorang panitia yang terburu-buru membersihkan area setelah kain pelindung mural dicopot, tanpa sengaja membungkus tropi yang diletakkan di lantai dekat dinding bersama dengan kain terpal besar itu, lalu mengangkutnya dan menumpuknya di gudang ini, sama sekali tidak menyadari apa yang ada di dalamnya. Bukan pencurian. Bukan konspirasi. Hanya kecelakaan karena kepanikan dan kesibukan festival.
Rafi mencoba menyelamatkan muka. “Tapi… tapi operasi penyamaran dan pengejaran kitalah yang membawa kita ke gudang ini! Jadi, secara tidak langsung, kamilah yang memecahkan kasusnya!”
Zaki menghela napas, melihat tropi yang tak bersalah itu. “Jadi, ini bukan kasus pencurian ruang terkunci alaThe Locked Room Mystery. Ini kasus… kelalaian ruang terbuka.”
Dion dengan cepat melepas rompi kebersihannya yang kini terasa sangat memalukan. Aji hanya memungut tropi itu dengan mudah. “Yaudah, bawa balik aja. Kasihan Rendra.”
Mereka keluar dari gudang dengan tropi di tangan Aji, meninggalkan Farhan yang masih menggeleng-geleng. Di luar, sorak-sorai festival kembali memenuhi telinga. Kasus “hilangnya” tropi telah selesai, dengan solusi yang jauh lebih sederhana—dan lebih membuat malu—daripada yang dibayangkan oleh teori detektif mana pun. Namun, di tengah rasa malu itu, ada sedikit kepuasan. Mereka berhasil “menemukan” yang hilang, meski caranya berantakan. Dan untuk Klub Detektif Buku Terlarang, saat itu, itu sudah cukup.
Pengejaran dimulai dengan kekacauan yang sempurna. Dion, yang masih mengenakan rompi panitia palsunya yang kebesaran, melesat di antara kerumunan siswa yang sedang menikmati stan-stan festival. “Dia ke arah belakang! Ke gedung olahraga lama!” teriaknya sambil menunjuk ke arah sosok yang membawa bungkusan besar berwarna cokelat. Tanpa pikir panjang, Rafi mengangkat “kamera” mainannya seolah-olah sedang mengambil gambar dokumentasi penting dan berteriak, “Semua, ikuti target! Jangan sampai hilang!” Insting detektifnya berkobar, meski yang dia kejar mungkin hanya seorang panitia yang kebingungan.
Bima, yang masih memegang obor senter besar untuk perannya sebagai “teknisi lampu”, menghela napas berat. “Rafi, kita bahkan tidak yakin apa isi bungkusan itu! Ini bisa jadi hanya kain lap atau tenda cadangan!” protesnya, tetapi kakinya sudah berlari mengikuti kelompoknya. Zaki, dengan buku catatannya yang terbuka, berusaha mengimbangi langkah sambil berteriak teori, “DalamThe Adventures of Sherlock Holmes, pencuri seringkali menggunakan rute yang tidak terduga untuk membuang barang bukti! Gedung olahraga lama adalah lokasi yang ideal—sepi dan banyak tempat persembunyian!” Aji, yang wajahnya sudah memerah karena berlari dengan seragam satpam dadakannya yang ketat, hanya bisa menggerutu, “Aku janji, setelah ini aku minta ganti rugi mental. Atau setidaknya es teh manis.”
Sasaran mereka, seorang panitia muda bernama Rendra, sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang menjadi buruan lima detektif amatir yang paranoid. Dia hanya menjalankan tugas dari koordinator logistik untuk membawa kain pelindung mural yang sudah tidak terpakai ke gudang penyimpanan di belakang gedung olahraga lama. Bungkusan cokelat besar itu memang berat dan menghalangi pandangannya, membuat langkahnya terlihat “mencurigakan” dan “terburu-buru” di mata klub. Pengejaran melewati stan makanan yang ramai, melintasi panggung utama di mana band sekolah sedang tampil, dan akhirnya masuk ke area yang lebih sepi di belakang kampus. Suasana festival yang riuh perlahan memudar, digantikan oleh sunyinya koridor gedung tua yang jarang dikunjungi.
“Di sana! Dia masuk ke gudang!” bisik Rafi dengan dramatis, menempelkan punggungnya ke dinding seolah-olah berada dalam adegan penyergapan. Mereka berhenti di depan pintu gudang kayu yang terkunci longgar. Suara gemerisik terdengar dari dalam. “Kita harus masuk dengan hati-hati,” instruksi Rafi. “Bima, kamu yang pertama. Gunakan keahlian forensikmu untuk memastikan tidak ada jebakan.” Bima mengerutkan kening. “Keahlian forensikku tidak mencakup membuka pintu gudang berdebu, Rafi.” Namun, dengan dorongan dari Aji yang sudah lelah, Bima mendorong pintu itu perlahan. Pintu berderit membuka, mengungkapkan pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga.
Gudang itu penuh dengan barang-barang tua dan tidak terpakai: kursi rusak, papan tulis retak, tumpukan kardus, dan kain-kain besar. Di tengah ruangan, Rendra si panitia sedang berusaha meletakkan bungkusan cokelatnya di atas tumpukan kain lainnya. Dia terkejut ketika melihat lima sosok aneh muncul di pintu. “Eh? Ada yang bisa dibantu?” tanyanya, bingung. Rafi segera mengambil alih, melangkah maju dengan pose percaya diri. “Kami dari… tim dokumentasi festival. Kami mendapat laporan ada aktivitas mencurigakan di sini. Boleh kami tahu apa isi bungkusan itu?” Rendra mengernyit. “Ini kain pelindung mural untuk lomba kemarin. Mau disimpan di sini. Kenapa?”
Jantung Zaki berdebar kencang. Kain pelindung mural! Itu adalah petunjuk! “Tunggu,” katanya, mendekati tumpukan kain. “Jika tropi itu hilang kemarin, dan kain-kain ini baru dibawa ke sini hari ini… ada kemungkinan logis!” Tanpa menunggu izin, dia mulai membongkar tumpukan kain yang dibawa Rendra. Rendra protes, “Hei, jangan diacak-acak!” Tapi Zaki tidak mendengarkan. Tangannya meraba-raba di antara lipatan kain tebal yang berdebu. Dan kemudian, sentuhannya menyentuh sesuatu yang keras, dingin, dan… berbentuk seperti piala.
“Dapat!” teriak Zaki, menarik sebuah objek dari balik tumpukan kain. Semua mata tertuju padanya. Di tangannya, berdiri dengan megah meski sedikit berdebu, adalah Tropi Bergilir Lomba Mural yang hilang. Terbuat dari resin dengan lapisan emas palsu, dengan pita biru dan merah masih melilit batangnya. Suasana di gudang mendadak hening. Rendra melongo. “Loh? Tropinya kok ada di sini?”
Bima segera menganalisis. “Logikanya sederhana,” katanya, mendekati dan memeriksa tropi dan kain. “Kemarin, setelah lomba, panitia terburu-buru membersihkan. Tropi ini mungkin diletakkan di atas atau di sebelah kain pelindung yang digulung. Saat kain digulung dengan cepat dan tanpa pemeriksaan, tropi ikut terbungkus di dalamnya. Lalu kain itu dibawa ke tempat sementara, dan hari ini baru dibawa ke gudang ini.” Dion mengangguk, mencoba menyelamatkan muka. “Jadi… bukan pencurian. Hanya… kesalahan logistik.” Rafi berdiri kaku, ekspresi “detektif agung”-nya perlahan memudar, digantikan oleh rasa malu yang pelan-pelan merambat. “Oh.”
Aji menyandarkan diri ke pintu, melepas topi satpam dadakannya. “Jadi, kita baru saja mengejar-ngejar orang ini,” dia menunjuk Rendra yang masih bingung, “hanya karena dia melakukan job-nya, dan tropi yang kita cari ada di sini sejak kemarin, terbungkus kain?” Kelima anggota klub saling memandang. Kebenarannya begitu sederhana, begitu tidak dramatis, dan begitu jauh dari plot pencurian ruang terkunci atau konspirasi festival yang telah mereka bayangkan. Rendra akhirnya tersenyum kecut. “Jadi… kalian ini siapa sih sebenernya? Tim dokumentasi beneran?”
Setelah penjelasan yang berbelit-belit (dan sedikit dibumbui kebohongan oleh Rafi tentang “latihan tim keamanan festival”), mereka akhirnya berhasil mengembalikan tropi kepada panitia utama. Wajah koordinator lomba mural, Bu Sari, berubah dari cemas menjadi lega, lalu menjadi geli saat mendengar cerita singkat tentang “penyelidikan” mereka. “Jadi kalian mencarinya ke mana-mana, sampai ke gudang tua, dan ternyata ada di dalam kain pelindung?” tanyanya, menahan tawa. Klub hanya bisa mengangguk, malu. “Ya… metode investigasi kami… sedikit tidak konvensional,” kata Bima, berusaha terdengar ilmiah.
Mereka meninggalkan ruang panitia dengan tropi yang sudah aman dan pelajaran baru. Di jalan menuju stan makanan untuk mencari “kompensasi” es teh manis Aji, mereka berjalan dalam keheningan yang canggung. Akhirnya, Zaki yang memecah kesunyian. “Kalian tahu, dalamThe Purloined Letterkarya Edgar Allan Poe, barang yang dicari seringkali ditemukan di tempat yang paling terang dan jelas, justru karena terlalu jelas sampai diabaikan.” Rafi mendengus. “Ini bukan tempat yang jelas, Zaki. Ini tempat yang berdebu dan tersembunyi di balik kain.” “Metafora, Rafi. Metafora,” balas Zaki. Dion menambahkan, “Intel-ku kali ini memang meleset. Tapi, tanpa pengejaran kita, mungkin tropi itu baru ketemu minggu depan, atau malah tidak ketemu.” Aji menghela napas. “Aku tetap minta dua gelas es teh. Satu untuk tenaga, satu untuk pelipur luka hati.”
Meski kasusnya berakhir bukan sebagai kejahatan spektakuler, melainkan sekadar kecelakaan akibat ketergesaan, ada kepuasan kecil yang tersisa. Mereka telah membantu, meski caranya kacau balau. Mereka telah “menyelesaikan” misteri, meski solusinya membuat mereka merasa agak konyol. Dan yang terpenting, mereka melakukannya bersama-sama. Saat mereka duduk di bawah tenda stan makanan, menyeruput minuman dan menertawakan kekonyolan penyamaran mereka sendiri, festival di sekitar mereka terus berlanjut dengan riuh. Sebuah panggung kecil kehidupan yang jauh dari novel-novel detektif mereka, tetapi justru di situlah petualangan mereka yang sesungguhnya—yang tidak terduga, berantakan, dan lucu—benar-benar terjadi.

Tinggalkan komentar