A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Teka-Teki Penulis Graffiti ‘Seniman Misterius’

Pagi itu, suasana di sekolah gempar. Di tembok belakang, dekat lapangan basket yang mulai kusam, kini menghias sebuah karya yang sama sekali tidak kusam: sebuah graffiti bergaya mural yang memukau. Lukisan itu menggambarkan burung phoenix berwarna-warni yang sedang bangkit dari abu, dengan detail sayap yang rumit dan semburat warna jingga, merah, dan emas yang seolah hidup di bawah sinar matahari pagi. Di sudut kanan bawah, terselip inisial sederhana namun penuh teka-teki: “SM”. Kabar tentang “Seniman Misterius” atau “SM” menyebar lebih cepat dari virus flu. Para siswa berkerumun, berfoto, dan berdebat—sebagian mengutuk vandalisme, sebagian besar lain, terutama anak-anak seni, memujinya sebagai karya publik yang membanggakan. Sementara itu, di ruang guru, suara Pak Hadi, guru seni budaya, terdengar meninggi. “Ini jelas pelanggaran! Tembok sekolah bukan kanvas pribadi! Harus dicari dan diberi sanksi!” Seruannya didukung oleh beberapa guru lain yang melihat ini sebagai preseden buruk. Tapi Bu Tari, guru bahasa Indonesia yang lebih muda, bersuara lirih, “Tapi, Pak… karyanya bagus sekali. Mungkin kita bisa berdiskusi dulu?”

Di sudut perpustakaan, markas tidak resmi Klub Detektif Buku Terlarang, pertemuan darurat sedang berlangsung. Lima pasang mata tertancap pada foto graffiti yang diambil diam-diam oleh Dion.

“Kasus yang sempurna!” seru Rafi, berdiri dengan trench coat cokelatnya yang sudah terlalu sesak untuknya. Matanya berbinar seperti detektif di akhir bab penentuan. “Seorang penjahat yang meninggalkan tanda tangan. Sebuah tantangan langsung bagi kita! Motifnya bisa apa? Balas dendam terhadap sekolah? Pesan rahasia untuk organisasi bawah tanah? Atau mungkin,” dia menurunkan suaranya menjadi berbisik dramatis, “ini adalah awal dari rangkaian kejahatan yang lebih besar!”

Bima mendengus sambil mengutak-atik lup mainan dari ‘kit investigasi’-nya. “Jangan berlebihan, Raf. Ini cuma coretan di tembok. Motif paling logis: seseorang ingin pamer atau iseng. Tapi,” dia menambahkan, matanya menyipit melihat foto di ponsel Dion, “tekniknya tidak seperti coretan biasa. Jenis cat semprot yang digunakan, tekanan, dan gradasi warna… ini butuh keterampilan. Dan lihat lokasinya. Tembok itu tinggi. Pelakunya butuh tangga atau setidaknya lompatan yang baik. Ada bukti fisik yang mungkin tertinggal.”

Zaki, yang sejak tadi diam sambil matanya tak lepas dari gambar burung phoenix itu, akhirnya bersuara dengan nada hampir terpesona. “Menurut analisisku berdasarkan referensi 487 manga dan novel grafis, karakter yang meninggalkan karya seni di tempat kejadian perkara biasanya bukan penjahat biasa. Mereka adalahphantom thieves, pahlawan romantis, atau seniman yang terasing. Lihat pola ini! Inisial ‘SM’! Bisa jadi ‘Shadow Master’, ‘Silver Mask’, atau… ‘Sang Maestro’!” Dia mengangkat kepalanya, wajahnya penuh kekaguman. “Apa kita harus menangkapnya? Atau… justru melindungi identitasnya? Ini bisa jadi legenda sekolah!”

“Lega apa ngesot,” potong Aji dengan lesu, bersandar di rak buku. “Yang jelas guru-guru pada ribut. Kalau kita ikut-ikutan nyariin, nanti kita yang dituduh. Atau malah ketangkep basah lagi kayak waktu ngintip ruang guru. Gue sih mending kita urusin aja latihan futsal besok.”

“Tidak bisa, Aji!” bantah Rafi. “Ini adalah panggilan tugas! Sebuah misteri ada di depan mata. Tapi… Zaki ada benarnya juga.” Rafi tampak bingung sendiri, menggaruk-garuk dagunya seperti sedang memerankan Poirot yang sedang dilema etika. “Di satu sisi, aturan adalah aturan. Di sisi lain… seni adalah seni. Sebagai detektif, kita harus objektif. Tapi sebagai… pecinta cerita detektif yang sering melibatkan anti-hero… ini rumit.”

Dion, yang selama ini sibuk memantau grup chat kelas-kelas, menyela. “Intel terbaru. Opini terbelah dua. Kubu ‘Penjahat’ dipimpin sama si Kadek dari OSIS, bilang ini merusak fasilitas dan harus dihukum. Kubu ‘Seniman’ dipimpin sama Maya dari klub seni, bilang ini masterpiece dan ‘SM’ adalah pahlawan. Perang komentar di media sosial sekolah lagi panas. Oh, dan ada gosip, kata anak kelas 10, mereka lihat sosok pakai hoodie gelap lewat dekat lapangan kemarin malam.”

“Kemarin malam!” Rafi menepuk jidatnya. “Tentu saja! Dia pasti bekerja di bawah naungan kegelapan! Kita harus menggelar operasi penyelidikan. Bima, analisis lokasi kejadian perkara. Zaki, susun profil psikologis ‘SM’ berdasarkan pola karya seni vandalisme dalam fiksi. Dion, gal lebih dalam jaringan informanmu—siapa di sekolah ini yang punya bakat melukis, terutama graffiti, atau yang inisialnya ‘SM’. Aji… kamu jaga perimeter. Kalau ada guru mendekat, kasih kode.”

Aji menghela napas panjang. “Perimeter mana perimeter. Ini perpustakaan, bukan markas FBI.”

Namun, roda investigasi—yang selalu sedikit oleng—telah berputar. Perdebatan “Penjahat atau Seniman?” tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga mengoyak kesatuan tim kecil ini. Rafi, meski terlihat ingin menangkap, diam-diam mulai membayangkan dirinya berhadapan dengan seorang seniman jenius yang terpaksa melanggar aturan demi menyampaikan pesan. Zaki sudah jelas memihak seni. Bima berusaha netral secara ilmiah, meski penasarannya pada teknik melukis graffiti mulai mengalahkan keinginannya untuk menyelesaikan kasus. Hanya Aji yang tetap berpikir praktis: ini urusan guru dan OSIS, bukan urusan mereka.

Investigasi dimulai dengan cara mereka yang khas: kacau dan penuh salah langkah. Bima pergi ke TKP dengan sarung tangan lateks dan kantong plastik, bertekad mengumpulkan “sampel bukti”. Yang dia temukan hanyalah sobekan label botol air mineral dan bekas telapak sepatu yang sudah terlalu banyak tumpang-tindih. Upayanya menganalisis “komposisi kimia cat” berakhir dengan dia mengendus-endus tembok dan membuat hidungnya gatal. “Secara forensik,” lapornya nanti dengan serius, “catnya berbau khas. Tapi tidak ada sidik jari yang jelas di permukaan yang kasar ini. Pelaku mungkin memakai sarung tangan.”

Sementara itu, Zaki tenggelam dalam tumpukan buku seni dan komik di perpustakaan, mencoba mencari pola. “Berdasarkan mangaKaito Kid,” gumamnya pada diri sendiri, “seorang pencuri yang juga seniman selalu meninggalkan kartu panggil. ‘SM’ bisa jadi kartu panggilnya! Atau berdasarkan novelThe Goldfinch, trauma masa kecil bisa memicu ledakan kreativitas yang destruktif…” Teorinya semakin tidak terkendali.

Dion, dengan jaringan gossip-nya, mendapatkan daftar beberapa nama yang berpotensi. Ada Santi Maulida (kelas 11 IPA) yang jago melukis, tapi gaya lukisannya lebih ke watercolor. Ada Samuel (kelas 12 IPS) yang dikenal cool dan suka nongkrong, tapi tidak ada bukti bisa menggambar. Dan ada… Satrio Muliawan. “Nah, ini yang menarik,” lapor Dion pada pertemuan berikutnya. “Satrio, kelas 10. Agak pendiam, sering nggambar di buku catatan. Tapi… inisialnya ‘SM’. Dan kata teman sekelasnya, dia kemarin absen sore karena ‘ada urusan keluarga’. Cocok dengan waktu kejadian!”

Rafi langsung menyambar informasi itu. “Tersangka potensial! Kita harus melakukan interogasi taktis!”

“Bukan interogasi,” bantah Zaki dengan cemas. “Wawancara! Dengan penuh penghargaan atas bakatnya!”

Aji menggeleng. “Jangan asal nuduh. Belum tentu dia.”

Tapi kereta api deduksi Rafi sudah meluncur. Dalam pikirannya, Satrio si pendiam adalah kandidat sempurna untuk peran “seniman misterius yang tersembunyi”. Tanpa konsultasi lebih lanjut dengan tim—dan tentu saja, mengabaikan protes Aji—Rafi memutuskan untuk melakukan pendekatan. Keesokan harinya, dia menghampiri Satrio yang sedang sendirian di kantin.

“Satrio,” mulai Rafi dengan nada berat, mencoba meniru gaya interogator film noir. “Kami tahu tentang…bakatmu. Dan tentang apa yang kamu lakukan di tembok belakang.”

Satrio menatapnya dengan bingung campur ketakutan. “Hah? Bakat? Aku… aku cuma bisa nggambar chibi, Raf. Tempat latihan futsal?”

“Jangan bermain-main!” desak Rafi, merasa semakin yakin dengan reaksi nervous Satrio. “Inisial ‘SM’. Itu milikmu, bukan? Mengaku saja. Kami dari Klub Detektif bisa membantumu… bernegosiasi dengan pihak sekolah.” Dalam benak Rafi, dia sudah membayangkan skenario di mana dia menjadi mediator antara seniman pemberontak dan otoritas sekolah.

Wajah Satrio memerah. “Aku… aku nggak ngerti. SM? Aku pikir itu… maksudnya Social Media? Atau… apa?” Dia terlihat sangat tidak nyaman dan bingung.

Kesalahpahaman yang memalukan itu baru terhenti ketika Bima dan Zaki bergegas mendekat, menarik lengan Rafi. “Salah orang, Raf!” bisik Zaki panik. “Gue baru ingat! ‘SM’… Singgih Mulia! Kakak kelas yang lulus tahun lalu! Dia sekarang kuliah di ISI, jurusan seni rupa!”

Rafi membeku. Darahnya serasa dingin. “Oh.”

Ternyata, informasi yang sebenarnya datang dari Bu Tari, guru bahasa Indonesia, yang kebetulan overhear obrolan mereka di perpustakaan. Bu Tari kemudian mendekati klub dengan senyum kecut. “Kalian mencari ‘SM’? Sepertinya kalian hampir menjadikan siswa yang salah sebagai tersangka. Sebaiknya kalian berhenti bermain detektif sebelum menyebabkan masalah yang lebih besar.” Tapi di balik tegurannya, Bu Tari memberikan petunjuk. “Coba kalian cari tahu tentang alumni yang punya bakat di bidang seni. Terkadang, mereka yang pergi justru ingin meninggalkan sesuatu yang berarti.”

Petunjuk itulah yang membawa mereka pada kebenaran. Melalui riset singkat—alias stalker media sosial—mereka menemukan akun Instagram Singgih Mulia. Di sana, penuh dengan karya seni jalanan dan sketsa. Dan dalam sebuah postingan tiga hari yang lalu, ada foto close-up sayap burung yang sangat mirip dengan yang ada di tembok sekolah, dengan caption samar: “Back to where it all began. A gift for my old nest.” #SM #AlmaMater.

Misteri terkuak. Bukan penjahat, bukan pula seniman misterius yang perlu disembunyikan. Hanya seorang alumni yang rindu, ingin menghadiahi sekolah lamanya sebuah karya seni, meski dengan cara yang sedikit melanggar aturan. Perdebatan “penjahat atau seniman” di dalam klub pun menemukan resolusi yang tak terduga: dia adalah seorang seniman, yang tindakannya bisa dikategorikan melanggar, tetapi niatnya tulus. Dan yang terpenting, mereka hampir saja menuduh orang yang salah karena tergesa-gesa dan terlalu berfantasi.

Rafi, dengan wajah masih memerah karena malu, menghela napas. “Ini… ini pelajaran berharga. Seorang detektif yang baik harus memeriksa semua fakta sebelum menarik kesimpulan. Dan… terkadang, seni itu memang abu-abu, bukan hitam putih.”

Zaki tersenyum lega. “Jadi, kita di pihak mana sekarang?”

Bima menyimpulkan dengan logikanya. “Kita di pihak solusi. Sekarang pertanyaannya: bagaimana menyelesaikan masalah ini tanpa menghancurkan karya seninya dan tanpa membiarkan pelanggaran aturan tanpa konsekuensi?”

Mereka memandang satu sama lain. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama berdebat, mereka sepakat pada satu hal: mereka harus menemukan cara agar sang seniman, Singgih Mulia, dan sekolah, bisa bertemu di titik yang sama. Mungkin, bukan sebagai penjahat dan penegak hukum, tetapi sebagai seniman dan pihak yang mengapresiasi seni. Tugas detektif mereka belum selesai; kini berganti menjadi tugas negosiator yang jauh lebih rumit—dan tentu saja, berpotensi kacau seperti biasa.

Keputusan untuk “mengadili” atau “mengampuni” Seniman Misterius menggantung di ruang klub yang pengap. Rafi, dengan wajah serius ala komisaris polisi dalam film noir, menatap tajam ke arah Zaki yang sedang memeluk buku seni street art. “Kita punya kewajiban moral, Zaki! Aturan sekolah dilanggar. Titik. Seorang detektif sejati tidak boleh terpengaruh oleh subjektivitas estetika!” serunya, sambil menepuk-nepuk “dossier” kasus yang isinya hanya beberapa foto buram dari ponsel Dion.

Zaki mendongak, matanya berbinar di balik kacamatanya. “Tapi lihat komposisinya, Raf! Garis fluid ini, penggunaan warna komplementer yang berani… Ini bukan vandalisme sembarangan. Ini pernyataan! Mungkin ini adalah bagian dari gerakan seni bawah tanah yang lebih besar, seperti dalam mangaBlue PeriodatauBeck! Kita harus menemukan sang jenius, bukan menyerahkannya!” Bima menghela napas panjang dari sudut ruangan, di mana dia sedang mengamati sampel cat di bawah lup mainannya. “Secara kimiawi, ini cat aerosol berkualitas lumayan. Tidak murahan. Dan berdasarkan pola semprot dan tetesan, pelakunya kidal, atau setidaknya menggunakan tangan kiri saat menyemprot bagian detail. Tapi itu tidak menjawab apakah kita harus menangkapnya atau memamerkannya di galeri.” Dion, yang baru saja kembali dari “patroli intelijen”, menyela dengan suara berbisik dramatis. “Intel terbaru. Nama ‘SM’ sedang panas di kalangan anak-anak seni. Tapi ada tiga kemungkinan di sekolah kita: Sinta Maheswari dari kelas 12 IPA 2, dia ikut klub lukis. Satrio Maulana dari 11 IPS 1, dia sering gambar di buku catatan. Dan… Singgih? Itu kan nama kakak kelas yang udah lulus?” Rafi langsung menyambar informasi itu. “Sinta Maheswari! Itu pasti! Seorang seniman berbakat yang memberontak terhadap sistem! Ayo kita konfrontasi!” Aji, yang sedang bersandar di pintu sambil memakan roti, menggeleng. “Bro, lo yakin? Nggak sekalian lo tanya dulu? Jangan-jangan cuma iseng coret.”

Tapi naluri “berburu tersangka” Rafi sudah tidak terbendung. Dengan dukungan setengah hati dari Bima (yang penasaran dengan metode forensiknya) dan protes keras Zaki (yang bersikeras itu akan menjadi kesalahan budaya), mereka berangkat mencari Sinta Maheswari. Operasi itu berakhir dengan memalukan. Sinta, seorang siswi pendiam yang ternyata hanya gemar melukis pemandangan air di atas kanvas, nyaris menangis ketika lima remaja aneh mengepungnya di perpustakaan dan Rafi dengan gaya interogator menanyakan “motif di balik karya subversifnya”. Penjelasannya bahwa inisialnya adalah “SM” karena nama lengkapnya, dan bahwa dia tidak tahu menahu soal graffiti, disampaikan dengan suara gemetar. Zaki memukul dahanya sendiri. Bima menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. Dion bersembunyi di balik rak buku. Hanya Aji yang mendekati Sinta sambil berkata, “Maaf ya, mereka… lagi demam detektif.” Rasa bersalah yang membara mulai menggerogoti semangat klub, terutama setelah guru seni, Bu Tari, mendengar kabar itu dan memberi mereka ceramah singkat tentang “tidak asal menuduh”.

Kekecewaan dan kebingungan memuncak ketika, dua hari setelah insiden memalukan itu, seorang pemuda berpenampilan santai dengan tas ransel penuh peralatan lukis mendatangi ruang guru. Rumor menyebar cepat: dialah “SM” yang sebenarnya. Dion, dengan jaringan gossipnya yang selalu aktif, adalah yang pertama mendapat konfirmasi. “Namanya Singgih Mulia! Kakak kelas angkatan tiga tahun lalu! Sekarang kuliah di Institut Seni, jurusan seni rupa!” Klub pun bergegas, kali ini dengan niat yang sudah jauh lebih redup dan penuh kehati-hatian. Mereka menemukan Singgih sedang berbicara dengan Pak Darmo, guru olahraga, di koridor. Alih-alih sosok penjahat misterius, yang mereka temui adalah seorang remaja yang tersenyum malu-malu. “Wah, jadi kalian yang menyelidiki grafiti saya?” tanyanya ramah, membuat Rafi tersedak.

Singgih kemudian bercerita. Dia sering kembali ke sekolah lama, mengenang masa-masa di sana. Tembok belakang yang kosong dan suram itu selalu menarik perhatiannya. “Saya pikir, kenapa tidak saya warnai? Sebagai ucapan terima kasih, sekaligus latihan.” Dia memilih inisial “SM” bukan untuk menyembunyikan identitas, tapi sebagai tanda tangan sederhana. “Saya nggak nyangka bakal bikin heboh. Maaf kalau bikin repot.” Penjelasannya sederhana, tulus, dan sama sekali tidak melibatkan konspirasi, gerakan bawah tanah, atau pemberontakan artistik ala manga seperti yang dibayangkan Zaki. Rafi terdiam, trench coat-nya tiba-tiba terasa berat dan konyol. Zaki, meski sedikit kecewa teorinya meleset, tak bisa menyembunyikan kekaguman. “Karyanya memang bagus, Pak,” bisiknya pada Bima.

Solusinya datang dari Bu Tari, guru seni, yang mendengar penjelasan Singgih. Daripada menghapus graffiti yang sudah disukai banyak siswa, atau memberikan sangsi, Bu Tari mengusulkan kompromi. “Bagaimana kalau kamu membuat mural yang lebih besar dan lebih terencana di tempat itu, Singgih? Dengan izin sekolah, tentunya. Sebagai proyek alumni.” Wajah Singgih bersinar. “Serius? Boleh banget!” Kepala sekolah, setelah berdiskusi, menyetujui. Graffiti “SM” yang misterius itu akan menjadi bagian dari mural besar yang indah, dan Singgih akan melakukannya secara resmi di akhir pekan.

Klub Detektif Buku Terlarang pun berdiri di tepi lapangan, menyaksikan Singgih memulai sketsa muralnya. Tidak ada penangkapan, tidak ada pengakuan paksa, tidak ada drama pengungkapan identitas di depan umum. Hanya ada solusi damai yang membuat semua pihak senang. “Jadi… kita nggak menangkap siapa-siapa,” gumam Rafi, sedikit kecewa. “Tapi masalah selesai,” sahut Aji, menepuk punggungnya. “Dan temboknya jadi lebih bagus,” tambah Zaki dengan senyum. Bima mengangguk, menyimpan lup mainannya. “Kesimpulan forensik: kadang-kadang, seni memang lebih kuat dari pada hukum. Atau setidaknya, mereka bisa berdamai.” Dion sudah sibuk menyebarkan “kabar baik” versinya ke seluruh sekolah. Mereka belajar pelajaran penting hari itu: tidak setiap misteri berakhir dengan tersangka di balik terali besi. Kadang-kadang, yang terbaik adalah menemukan jalan tengah yang membuat senyum mengembang di wajah semua orang, bahkan jika itu berarti “kemenangan” detektif mereka tidak sespektakuler di dalam buku.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar