A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Faktor Risiko
    1. Etiologi Infeksius
    2. Etiologi Non-Infeksius
    3. Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Manifestasi Klinis
    1. Gejala Umum
    2. Tanda Fisik
    3. Manifestasi Spesifik Berdasarkan Etiologi
  6. Diagnosis
    1. Diagnosis Klinis
    2. Pemeriksaan Laboratorium
    3. Pemeriksaan Penunjang Tambahan
  7. Diagnosis Banding
  8. Penatalaksanaan
    1. Terapi Topikal
    2. Terapi Sistemik
    3. Terapi Bedah
    4. Higienitas dan Edukasi Pasien
  9. Komplikasi
    1. Komplikasi Akut
    2. Komplikasi Kronis
    3. Transformasi Maligna
  10. Prognosis
  11. Pencegahan
    1. Pencegahan Primer
    2. Pencegahan Sekunder
    3. Pencegahan Tersier
  12. Kesimpulan
  13. Referensi

Pendahuluan

Balanitis1 merupakan kondisi inflamasi yang mengenai glans penis2, sementara posthitis3 merujuk pada inflamasi preputium4. Dalam praktik klinis, kedua area ini seringkali terkena secara bersamaan sehingga menggunakan istilah balanoposthitis5. Kondisi ini bukan merupakan entitas penyakit tunggal, melainkan kumpulan kondisi berbeda dengan presentasi klinis serupa namun etiologi yang bervariasi, yang semuanya mempengaruhi lokasi anatomis spesifik ini.

Menurut literatur PubMed, balanitis memengaruhi sekitar 3-11% pria selama rentang hidup mereka dan merupakan masalah umum terutama pada pria yang tidak disirkumsisi akibat higienitas yang lebih buruk, aerasi yang tidak memadai, atau iritasi oleh smegma6. Dalam banyak kasus, disfungsi preputial merupakan faktor penyebab atau kontributor.

Epidemiologi

Berdasarkan studi retrospektif terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Emergency Medicine (2025), dari 463 pasien anak yang didiagnosis dengan balanitis atau balanoposthitis selama periode 8 tahun, sebagian besar adalah anak laki-laki yang tidak disirkumsisi, dengan 27% di antaranya mengalami fimosis7. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, meskipun lebih sering pada anak-anak dan dewasa yang tidak disirkumsisi.

Penelitian yang diterbitkan dalam World Journal of Urology (2025) menunjukkan bahwa balanitis jarang terjadi setelah sirkumsisi. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab fimosis pada masa anak-anak. Faktor predisposisi meliputi obesitas, kelainan anatomi kongenital maupun didapat (seperti hipospadia8), tindik, dan prosedur bedah urologi.

Etiologi dan Faktor Risiko

Menurut Pedoman Eropa 2022 untuk penatalaksanaan balanoposthitis yang dipublikasikan dalam Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, etiologi balanitis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori:

Etiologi Infeksius

Infeksi Jamur

Menurut PubMed, infeksi jamur merupakan penyebab paling umum, dengan Candida albicans sebagai patogen utama. Studi terbaru yang diterbitkan dalam Mycoses (2024) menunjukkan bahwa diabetes melitus meningkatkan kerentanan terhadap kandidiasis kutaneus9, termasuk balanitis kandidal pada pria. Diabetes menciptakan kondisi imunosupresi yang memfasilitasi kolonisasi dan infeksi kulit oleh Candida.

Balanitis kandidal ditandai dengan eritema10, ekskoriasi11, ruam, dan discharge12 putih seperti keju cottage di bawah preputium. Presentasi klinis dapat lebih fulminan pada pasien diabetes dan imunokompromais13.

Infeksi Bakteri

Infeksi bakteri aerob dan anaerob juga dapat menyebabkan balanitis. Streptococcus Grup A dilaporkan sebagai penyebab balanitis dan berpotensi ditransmisikan secara seksual (melalui rute vaginal atau oral). Infeksi anaerob dicurigai pada kasus dengan eritema, edema, dan eksudat atau discharge berbau busuk. Erosi superfisial kadang terlihat, dan limfadenopati14 dapat dijumpai pada kasus berat.

Infeksi Virus

Human papillomavirus (HPV) dapat dikaitkan dengan balanitis patchy atau kronis yang menjadi aceto-white15 setelah aplikasi asam asetat 5%. Herpes simpleks virus (HSV) dapat menyebabkan balanitis vesikular atau ulseratif16.

Etiologi Non-Infeksius

Dermatosis Inflamatori

Menurut tinjauan komprehensif dalam Journal of the American Academy of Dermatology (2024), kondisi dermatologis yang dapat menyebabkan balanitis meliputi:

  1. Lichen sclerosus (balanitis xerotica obliterans): Kondisi inflamasi kronis dengan risiko transformasi maligna17 10-40% pada Erythroplasia of Queyrat. Studi terbaru dalam World Journal of Urology (2025) menunjukkan bahwa lichen sclerosus genital pria dapat menyebabkan perubahan arsitektur yang signifikan.
  2. Psoriasis genital: Dapat menyebabkan plak eritematosa18 dengan skuama19 minimal pada area genital.
  3. Lichen planus: Dermatosis inflamatori yang dapat menyebabkan papul20 violaseus dan erosi pada glans.
  4. Zoon’s balanitis (balanitis circumscripta plasmacellularis): Menurut penelitian terbaru dalam Clinical and Experimental Dermatology (2025), kondisi ini terjadi pada pria tidak disirkumsisi berusia 40 tahun atau lebih, diduga akibat iritasi (sebagian oleh urin) dalam konteks “preputium disfungsional”. Namun, penelitian baru mempertanyakan apakah kondisi ini merupakan entitas klinikopatologis yang berbeda atau manifestasi dari lichen sclerosus genital pria.

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak iritan atau alergi dapat terjadi akibat paparan sabun, detergen, kondom lateks, spermisida, atau produk kebersihan lainnya.

Faktor Risiko

Menurut literatur, faktor risiko balanitis meliputi:

  • Status tidak disirkumsisi (faktor risiko utama)
  • Higienitas genital yang buruk
  • Diabetes melitus
  • Fimosis atau parafimosis21
  • Obesitas
  • Kondisi imunosupresi (HIV/AIDS, terapi imunosupresan, neutropenia22)
  • Aktivitas seksual yang tidak aman
  • Penggunaan kateter urin prolonged
  • Dermatosis preeksisting (psoriasis, eczema)

Patofisiologi

Patofisiologi balanitis bervariasi tergantung etiologi. Pada balanitis infeksius, higienitas yang buruk dan akumulasi smegma menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan mikroorganisme. Preputium yang ketat (fimosis) menghambat pembersihan yang adekuat dan menciptakan lingkungan lembab yang mendukung proliferasi bakteri dan jamur.

Pada pasien diabetes, menurut penelitian dalam Mycoses (2024), peningkatan kadar glukosa dalam urin dan jaringan menciptakan medium kultur yang ideal untuk Candida. Diabetes juga menyebabkan gangguan fungsi neutrofil dan respons imun seluler, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.

Pada dermatosis inflamatori seperti lichen sclerosus, terjadi infiltrasi limfoplasmasitik23 dermis dan dilatasi pembuluh darah yang menyebabkan inflamasi kronis. Proses ini dapat menyebabkan sklerosis24 dan atrofi25 jaringan, dengan risiko stenosis meatal26 dan transformasi maligna.

Manifestasi Klinis

Berdasarkan literatur dari StatPearls dan Pedoman Eropa 2022, gejala dan tanda balanitis bervariasi menurut etiologi:

Gejala Umum

  • Nyeri penis
  • Gatal (pruritus27)
  • Kemerahan (eritema)
  • Kesulitan menarik preputium (retraksi)
  • Disuria28 atau kesulitan berkemih
  • Bau tidak sedap
  • Disfungsi ereksi

Tanda Fisik

Pemeriksaan fisik menunjukkan glans yang mengalami inflamasi dan eritematus. Dapat dijumpai:

  • Papul kecil dengan eritema patchy
  • Kulit glans yang ketat dengan penampilan glazed atau mengkilap
  • Plak putih atau discharge putih seperti keju (pada infeksi kandidal)
  • Ulserasi (pada infeksi HSV atau sifilis)
  • Erosi atau fisura29
  • Edema glans dan preputium
  • Limfadenopati inguinal30
  • Smegma yang terinfeksi

Manifestasi Spesifik Berdasarkan Etiologi

Balanitis Kandidal Eksudat putih seperti curd, discharge, eritema dengan batas tidak tegas, papul satelit31.

Balanitis Bakterial Anaerob Eritema, edema, eksudat berbau busuk, erosi superfisial.

Lichen Sclerosus Plak putih, sklerosis, atrofi, adhesi, efasemen sulkus koronal32 dan frenulum33, konstriksi preputium.

Balanitis Circinate (pada reactive arthritis34) Lesi erosif atau plak serpiginosa35 pada glans, dapat disertai artritis, uretritis36, dan konjungtivitis37.

Diagnosis

Diagnosis Klinis

Menurut Pedoman Eropa 2022 dan StatPearls, balanitis biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan visual karena presentasi klinis dan penampilan lesi sudah cukup. Namun, evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan berdasarkan riwayat dan temuan fisik pasien.

Pemeriksaan Laboratorium

Mikroskopi

  • Preparat KOH (kalium hidroksida) untuk identifikasi budding yeast atau pseudohifa38 pada infeksi kandidal
  • Pewarnaan Gram untuk identifikasi bakteri

Kultur

  • Kultur bakteri dari eksudat purulen39
  • Kultur jamur untuk identifikasi spesies Candida atau jamur lain

Tes Infeksi Menular Seksual (IMS)

  • Tes HSV (jika ada lesi vesikular atau ulseratif)
  • Tes sifilis (VDRL, RPR, TPHA, atau PCR Treponema pallidum)
  • Skrining Chlamydia trachomatis dan Mycoplasma genitalium (jika ada uretritis)

Biopsi Menurut StatPearls, pasien dengan gejala berulang atau refraktori terhadap terapi selama 4 minggu dan mengalami fimosis patologis atau obstruksi urin harus dipertimbangkan untuk biopsi. Sirkumsisi atau wedge biopsy 1 cm dari area yang terkena diperlukan untuk diagnosis patologis dan grading histologis. Kasus refraktori dapat merepresentasikan lesi kanker atau prakanker, termasuk balanitis xerotica obliterans, amebiasis, atau karsinoma sel skuamosa40.

Pemeriksaan Penunjang Tambahan

  • Tes gula darah (untuk skrining diabetes)
  • Tes fungsi imun (pada kasus berulang atau berat)
  • Tes HIV (pada kasus yang mencurigakan atau faktor risiko)

Diagnosis Banding

Diagnosis banding balanitis meliputi:

  1. Psoriasis genital
  2. Lichen planus
  3. Lichen sclerosus
  4. Dermatitis kontak (iritan atau alergi)
  5. Seborrheic dermatitis41
  6. Eritroplasia of Queyrat (karsinoma in situ42)
  7. Penyakit Bowen (karsinoma in situ kulit)
  8. Karsinoma sel skuamosa penis
  9. Infeksi menular seksual (sifilis, herpes genital, chancroid43)
  10. Penyakit Behçet44
  11. Fixed drug eruption45

Penatalaksanaan

Menurut Pedoman Eropa 2022 dan pedoman CDC 2021, penatalaksanaan balanitis bergantung pada etiologi spesifik:

Terapi Topikal

Balanitis Kandidal

  • Clotrimazole cream 1% atau miconazole cream 2%, aplikasi 2 kali sehari sampai gejala membaik
  • Alternatif: nystatin cream, ketoconazole cream 2%

Balanitis Bakterial Anaerob

  • Metronidazole 400-500 mg oral 2 kali sehari selama 1 minggu
  • Atau: metronidazole gel topikal

Balanitis Bakterial Aerob

  • Trimovate cream (kombinasi steroid, antibiotik, antijamur) aplikasi 1 kali sehari
  • Erythromycin 500 mg oral 4 kali sehari selama 1 minggu
  • Co-amoxiclav 375 mg oral 3 kali sehari selama 1 minggu

Lichen Sclerosus

  • Kortikosteroid ultrapoten seperti clobetasol propionate 0.05% aplikasi 1 kali sehari sampai remisi, kemudian diturunkan bertahap
  • Terapi pemeliharaan dengan kortikosteroid potensi sedang

Lichen Planus

  • Kortikosteroid topikal potensi sedang hingga ultrapoten tergantung keparahan

Zoon’s Balanitis

  • Sirkumsisi (terapi definitif)
  • Kortikosteroid topikal dengan atau tanpa antibakterial, aplikasi 1-2 kali seminggu

Psoriasis Genital

  • Kortikosteroid topikal potensi sedang dengan atau tanpa antibiotik dan antijamur

Dermatitis Kontak atau Eczema

  • Hydrocortisone 1% aplikasi 1-2 kali sehari sampai resolusi gejala
  • Identifikasi dan hindari iritan atau alergen

Terapi Sistemik

Balanitis Kandidal Rekuren atau Berat

  • Fluconazole oral 150 mg dosis tunggal
  • Untuk kasus rekuren: fluconazole 100-200 mg seminggu sekali selama 6 bulan

Infeksi Herpes Simpleks

  • Acyclovir 400 mg oral 3 kali sehari selama 7-10 hari
  • Atau valacyclovir 1 gram oral 2 kali sehari selama 7-10 hari

Sifilis

  • Benzathine penicillin G 2.4 juta unit intramuskular dosis tunggal (sifilis primer)
  • Terapi disesuaikan dengan stadium sifilis

Terapi Bedah

Menurut penelitian dalam Journal of Emergency Medicine (2025), meskipun berbagai terapi medis digunakan, tingkat kegagalan terapi sangat rendah (hanya 5 dari 463 kasus memerlukan perubahan terapi). Namun, intervensi bedah mungkin diperlukan pada kondisi tertentu:

Indikasi Sirkumsisi

  • Fimosis patologis
  • Balanitis rekuren meskipun terapi medis optimal
  • Zoon’s balanitis
  • Lichen sclerosus dengan fimosis atau stenosis meatal
  • Parafimosis rekuren

Preputioplasti Dapat dipertimbangkan sebagai alternatif sirkumsisi pada kasus tertentu, terutama pada anak-anak dengan fimosis yang belum mengalami fibrosis berat.

Higienitas dan Edukasi Pasien

Menurut StatPearls, edukasi pasien mengenai higienitas preputial yang tepat dapat bersifat preventif sekaligus terapeutik:

  • Pembersihan area lembut 2-3 kali sehari
  • Retraksi preputium dengan hati-hati saat membersihkan (jika memungkinkan)
  • Gunakan sabun lembut tanpa pewangi
  • Keringkan area dengan baik setelah membersihkan
  • Hindari penggunaan produk iritan (sabun keras, detergen, spermisida)
  • Gunakan kondom untuk pencegahan IMS

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan tepat, balanitis dapat menyebabkan komplikasi:

Komplikasi Akut

  • Parafimosis (kondisi gawat darurat urologi)
  • Selulitis penis46
  • Abses preputial47
  • Limfangitis48 dan limfadenitis49
  • Bakteremia50 (terutama pada pasien neutropenik)
  • Retensi urin akut

Komplikasi Kronis

  • Fimosis sekunder
  • Stenosis meatal
  • Adhesi glans-preputium
  • Sklerosis dan atrofi jaringan
  • Disfungsi seksual dan ereksi
  • Gangguan psikologis (kecemasan, depresi, penurunan kualitas hidup)

Transformasi Maligna

Menurut Pedoman Eropa 2022, lichen sclerosus (balanitis xerotica obliterans) memiliki risiko transformasi menjadi karsinoma sel skuamosa. Risiko ini paling tinggi pada Erythroplasia of Queyrat (10-40%), diikuti Bowen’s disease (~5%), dan paling rendah pada Bowenoid papulosis (~1%).

Prognosis

Prognosis balanitis umumnya baik dengan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat. Penelitian terbaru dalam Journal of Emergency Medicine (2025) menunjukkan tingkat kegagalan terapi yang sangat rendah (hanya sekitar 1% memerlukan perubahan terapi), dengan tidak ada pasien yang memerlukan rawat inap atau antibiotik intravena.

Faktor yang memengaruhi prognosis:

Prognosis Baik

  • Diagnosis dini dan terapi tepat
  • Kepatuhan terhadap terapi
  • Higienitas genital yang baik
  • Status imun yang baik
  • Tidak ada komorbid signifikan

Prognosis Kurang Baik

  • Diabetes tidak terkontrol
  • Kondisi imunosupresi
  • Higienitas buruk persisten
  • Fimosis berat atau parafimosis rekuren
  • Dermatosis kronis (lichen sclerosus)
  • Keterlambatan diagnosis dan terapi

Pencegahan

Strategi pencegahan balanitis meliputi:

Pencegahan Primer

  • Higienitas genital yang baik dan teratur
  • Retraksi dan pembersihan preputium dengan lembut (jika memungkinkan)
  • Gunakan sabun lembut tanpa pewangi
  • Keringkan area genital dengan baik
  • Ganti pakaian dalam yang bersih dan kering setiap hari
  • Hindari pakaian ketat yang menghambat sirkulasi udara
  • Kontrol diabetes dan kondisi medis lain dengan baik
  • Praktik seksual aman (penggunaan kondom)
  • Hindari penggunaan produk iritan pada area genital

Pencegahan Sekunder

  • Deteksi dan terapi dini pada gejala awal
  • Follow-up teratur pada pasien dengan dermatosis kronis
  • Pemeriksaan kesehatan berkala pada pasien berisiko tinggi
  • Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda kekambuhan

Pencegahan Tersier

  • Terapi pemeliharaan pada kasus rekuren
  • Sirkumsisi pada indikasi medis
  • Manajemen komorbid (diabetes, obesitas, imunosupresi)
  • Pemantauan jangka panjang pada lichen sclerosus untuk deteksi dini transformasi maligna

Kesimpulan

Balanitis merupakan kondisi inflamasi genital pria yang umum dengan etiologi beragam, mulai dari infeksi (jamur, bakteri, virus), dermatosis inflamatori (lichen sclerosus, psoriasis, lichen planus), hingga dermatitis kontak. Diagnosis umumnya ditegakkan secara klinis, namun pemeriksaan penunjang diperlukan untuk konfirmasi etiologi dan menyingkirkan kondisi serius seperti prakanker atau kanker.

Penatalaksanaan harus disesuaikan dengan etiologi spesifik, meliputi terapi topikal (antijamur, antibiotik, kortikosteroid), terapi sistemik pada kasus tertentu, dan intervensi bedah (sirkumsisi) pada indikasi tertentu. Edukasi pasien mengenai higienitas genital yang tepat merupakan kunci pencegahan dan terapi.

Prognosis balanitis umumnya baik dengan terapi yang tepat, namun kondisi tertentu seperti lichen sclerosus memerlukan pemantauan jangka panjang mengingat risiko transformasi maligna. Pendekatan holistik yang meliputi penatalaksanaan medis, bedah bila diperlukan, edukasi pasien, dan manajemen komorbid akan memberikan hasil optimal dalam penanganan balanitis.


Referensi

  1. Tu CJ, Torrez S, Chen BG, Brown LA, Randall MM. Balanoposthitis in Children: Does Treatment Matter? J Emerg Med. 2025;79:603-609. DOI
  2. Shanmughan A, Ambooken B, Krishnan J, Binesh VG. Circinate balanitis in HLA B27 spondyloarthrithis: A report of two cases. Int J STD AIDS. 2025;36(11-12):909-911. DOI
  3. Barry R, Kravvas G, Bunker CB, Watchorn RE. Male genital lichen sclerosus misreported as candidal or other infective balanitides: A systematic review of the literature. Int J STD AIDS. 2025. DOI
  4. Alsulaiman OA, Alsaati AA, Alsaif NM, et al. Balanitis Circumscripta Plasmacellularis in a Young Circumcised Male: A Case Report. Int Med Case Rep J. 2025;18:1167-1173. DOI
  5. Martinez MJ, Oh CS, Young T, Meehan S, Hall A, Zampella JG. Cutaneous Diseases of Penoscrotal Skin-Part II: Infectious and Inflammatory Dermatoses. J Am Acad Dermatol. 2024;93(3):603-622. DOI
  6. Shahabudin S, Azmi NS, Lani MN, Mukhtar M, Hossain MS. Candida albicans skin infection in diabetic patients: An updated review of pathogenesis and management. Mycoses. 2024;67(6):e13753. DOI
  7. Rodrigues CH, Silva BP, Silva MLR, et al. Methylene blue@silver nanoprisms conjugates as a strategy against Candida albicans isolated from balanoposthitis using photodynamic inactivation. Photodiagnosis Photodyn Ther. 2024;46:104066. DOI
  8. Sternau M, Czajkowski M, Błaczkowska A, et al. Penile microbiome in histopathologically confirmed lichen sclerosus: a comparative study of urethral and preputial swabs. World J Urol. 2025;43(1):653. DOI
  9. Watchorn RE, Doyle C, Kravvas G, Bunker CB. Zoon balanitis: not a distinct clinicopathological entity? Clin Exp Dermatol. 2025;50(4):731-739. DOI
  10. Edwards SK, Bunker CB, van der Snoek EM, van der Meijden WI. 2022 European guideline for the management of balanoposthitis. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2023;37(6):1104-1117.
  11. Wray AA, Velasquez J, Khetarpal S. Balanitis. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537143/
  12. Centers for Disease Control and Prevention. Vulvovaginal Candidiasis – STI Treatment Guidelines, 2021. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/candidiasis.htm
  13. Pandya I, Shinojia M, Vadukul D, Marfatia YS. Approach to balanitis/balanoposthitis: Current guidelines. Indian J Sex Transm Dis AIDS. 2014;35(2):155-157.
  14. British Columbia Centre for Disease Control. Non-certified Practice Decision Support Tool: Candidal Balanitis. 2023.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini dari PubMed, pedoman klinis internasional (Pedoman Eropa 2022, CDC 2021), dan sumber medis terpercaya lainnya. Informasi yang disajikan ditujukan untuk keperluan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Pasien dengan gejala balanitis sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat.

  1. Balanitis: Radang atau inflamasi pada glans penis (kepala penis) ↩︎
  2. Glans penis: Bagian ujung penis yang berbentuk kerucut, sensitif terhadap sentuhan ↩︎
  3. Posthitis: Radang atau inflamasi pada preputium ↩︎
  4. Preputium: Lipatan kulit yang menutupi glans penis, juga dikenal sebagai kulup atau foreskin ↩︎
  5. Balanoposthitis: Radang yang mengenai glans penis dan preputium secara bersamaan ↩︎
  6. Smegma: Akumulasi sel kulit mati, sekresi kelenjar sebasea, dan kelembaban yang terkumpul di bawah preputium ↩︎
  7. Fimosis: Kondisi di mana preputium terlalu ketat sehingga tidak dapat ditarik ke belakang glans penis ↩︎
  8. Hipospadia: Kelainan kongenital di mana lubang uretra tidak terletak di ujung glans penis ↩︎
  9. Kandidiasis kutaneus: Infeksi jamur Candida pada kulit dan membran mukosa ↩︎
  10. Eritema: Kemerahan pada kulit akibat dilatasi pembuluh darah kapiler ↩︎
  11. Ekskoriasi: Abrasi atau lecet pada permukaan kulit akibat garukan atau trauma ↩︎
  12. Discharge: Cairan atau sekret yang keluar dari jaringan atau organ ↩︎
  13. Imunokompromais: Kondisi sistem kekebalan tubuh yang melemah atau terganggu ↩︎
  14. Limfadenopati: Pembesaran kelenjar getah bening ↩︎
  15. Aceto-white: Perubahan jaringan menjadi putih setelah aplikasi asam asetat, menandakan lesi HPV ↩︎
  16. Ulseratif: Membentuk ulkus atau luka terbuka pada permukaan kulit atau membran mukosa ↩︎
  17. Transformasi maligna: Proses perubahan sel dari kondisi jinak menjadi kanker atau keganasan ↩︎
  18. Plak eritematosa: Area kulit yang meninggi, kemerahan, dan berbatas tegas ↩︎
  19. Skuama: Serpihan kulit mati yang terkelupas dari permukaan kulit ↩︎
  20. Papul: Lesi kulit padat yang meninggi dengan diameter kurang dari 1 cm ↩︎
  21. Parafimosis: Kondisi gawat darurat urologi di mana preputium yang ditarik tidak dapat dikembalikan ke posisi semula ↩︎
  22. Neutropenia: Kondisi jumlah neutrofil (sel darah putih) yang rendah dalam darah ↩︎
  23. Infiltrasi limfoplasmasitik: Penyusupan sel-sel limfosit dan sel plasma ke dalam jaringan sebagai respons imun ↩︎
  24. Sklerosis: Pengerasan atau penebalan jaringan akibat fibrosis atau deposisi kolagen berlebih ↩︎
  25. Atrofi: Pengurangan ukuran atau penipisan jaringan atau organ ↩︎
  26. Stenosis meatal: Penyempitan lubang uretra eksterna pada ujung penis ↩︎
  27. Pruritus: Sensasi gatal pada kulit yang menimbulkan keinginan menggaruk ↩︎
  28. Disuria: Nyeri atau rasa terbakar saat berkemih ↩︎
  29. Fisura: Celah atau robekan linier pada kulit atau membran mukosa ↩︎
  30. Limfadenopati inguinal: Pembesaran kelenjar getah bening di area lipat paha ↩︎
  31. Papul satelit: Lesi kulit kecil yang tersebar di sekitar lesi primer ↩︎
  32. Sulkus koronal: Alur atau lekukan di antara glans dan batang penis ↩︎
  33. Frenulum: Lipatan jaringan ikat di bawah glans yang menghubungkan dengan preputium ↩︎
  34. Reactive arthritis: Artritis yang terjadi sebagai reaksi terhadap infeksi di bagian tubuh lain ↩︎
  35. Serpiginosa: Pola lesi yang berbentuk seperti ular atau melengkung ↩︎
  36. Uretritis: Inflamasi uretra yang biasanya disebabkan infeksi ↩︎
  37. Konjungtivitis: Inflamasi konjungtiva mata yang menyebabkan mata merah ↩︎
  38. Pseudohifa: Struktur seperti hifa yang terbentuk dari sel ragi yang memanjang tanpa terpisah sempurna ↩︎
  39. Purulen: Mengandung nanah, sekret kental yang terdiri dari sel mati, bakteri, dan debris ↩︎
  40. Karsinoma sel skuamosa: Jenis kanker yang berasal dari sel epitel skuamosa ↩︎
  41. Seborrheic dermatitis: Dermatitis kronis yang menyebabkan kulit bersisik dan berminyak, terutama di area dengan kelenjar sebasea banyak ↩︎
  42. Karsinoma in situ: Kanker yang terbatas pada lapisan epitel tanpa invasi ke jaringan di bawahnya ↩︎
  43. Chancroid: Infeksi menular seksual yang disebabkan bakteri Haemophilus ducreyi, ditandai ulkus genital yang nyeri ↩︎
  44. Penyakit Behçet: Penyakit autoimun yang menyebabkan inflamasi pembuluh darah dengan ulkus oral dan genital berulang ↩︎
  45. Fixed drug eruption: Reaksi kulit terhadap obat yang muncul di lokasi yang sama setiap kali terpapar obat tersebut ↩︎
  46. Selulitis penis: Infeksi bakteri pada jaringan lunak penis yang menyebar ke lapisan dalam kulit ↩︎
  47. Abses preputial: Kantung nanah yang terbentuk di preputium akibat infeksi bakteri ↩︎
  48. Limfangitis: Inflamasi pembuluh limfe yang biasanya disebabkan infeksi bakteri ↩︎
  49. Limfadenitis: Inflamasi atau infeksi kelenjar getah bening ↩︎
  50. Bakteremia: Keberadaan bakteri dalam aliran darah ↩︎

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar