A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebuah perjalanan menuju kesunyian yang lebih dalam dari doa itu sendiri.


Banyak yang mengira bahwa beragama berarti berjalan menuju langit, mencari sosok Pencipta di balik awan. Namun, di balik riuh rendahnya lonceng pura dan warna-warni sesaji dalam tradisi Hindu, tersimpan sebuah jalan sunyi yang tidak berbicara tentang Dewa-Dewi. Jalan itu bernama Samkhya—dari akar kata Sanskerta yang berarti “menghitung” atau “mengenal dengan sempurna.”

Ini adalah sebuah perjalanan pulang ke dalam diri—sebuah arsitektur jiwa yang agnostik, namun sangat mendalam. Sebuah darshana yang menelanjangi realitas hingga ke tulang-tulangnya yang paling dasar.


1. Tarian Antara Sang Saksi dan Sang Alam

Bayangkan sebuah panggung sandiwara. Di sana ada Prakriti, sang penari yang tak pernah lelah. Ia adalah energi, materi, pikiran, dan tubuh kita. Ia terus bergerak, menciptakan badai emosi dan keindahan duniawi. Prakriti adalah dinamis—ia menjelma menjadi dua puluh tiga tattva atau prinsip realitas: dari buddhi (kesadaran spiritual) hingga lima elemen kasar yang membentuk tubuh kita.

Namun, di sudut panggung yang gelap, duduklah Purusha. Ia adalah “Sang Saksi Abadi”. Ia tidak menari, tidak menciptakan, dan tidak menghakimi. Ia hanya melihat. Purusha adalah kesadaran murni—absolut, independen, bebas, tak dapat dipersepsi, tak dapat diketahui melalui kata-kata, melampaui pengalaman apapun. Purusha adalah Diri Transenden atau Kesadaran Murni yang tetap “non-atributif,” tidak diproduksi dan tidak memproduksi.

Di sinilah letak paradoks yang indah: magnet dan serpihan besi.

Evolusi kosmis dimulai ketika Purusha “menyentuh” Prakriti, bagaikan magnet menarik serpihan besi. Purusha yang sebelumnya adalah kesadaran murni tanpa objek, menjadi terfokus pada Prakriti. Dari pertemuan ini lahirlah buddhi—kesadaran spiritual pertama. Lalu muncul ahamkara, “aku-kesadaran,” yang menipu Purusha hingga salah mengira bahwa ego adalah dasar eksistensinya.

Dalam filsafat Samkhya, penderitaan manusia lahir karena kita lupa bahwa kita adalah Sang Saksi. Kita terjebak dalam tarian, merasa sakit saat sang penari jatuh, dan merasa hancur saat panggung runtuh. Samsara atau keterikatan muncul ketika Purusha tidak memiliki pengetahuan diskriminatif dan keliru mengidentifikasi dirinya dengan tubuh fisik—yang sebenarnya adalah evolusi dari Prakriti.

Samkhya mengajak kita untuk kembali duduk di kursi penonton, menyadari bahwa diri kita yang sejati tidak tersentuh oleh drama dunia. Pembebasan terjadi ketika pengetahuan diskriminatif tentang perbedaan antara Purusha yang sadar dan Prakriti yang tidak sadar direalisasikan sepenuhnya.


2. Dua Puluh Lima Prinsip: Peta Realitas yang Matematis

Samkhya sangat menyukai angka, dan dalam bentuk klasiknya, ia adalah sistem dari 25 realitas (tattva). Inilah ontologi yang presisi—sebuah “penghitungan” realitas yang sistematis:

Purusha berdiri sendiri sebagai kesadaran murni. Lalu Prakriti terbagi menjadi dua bentuk: vyakta (manifest) dan avyakta (tidak termanifestasi). Dari sini lahirlah dua puluh tiga tattva lainnya—seperti tangga yang turun dari langit abstrak menuju dunia material:

Dari buddhi (intelek kosmis) lahir ahamkara (ego). Dari ahamkara, seperti sungai yang bercabang, mengalirlah:

  • Lima elemen kasar (Panca Maha Bhuta): ruang, udara, api, air, tanah
  • Lima elemen halus (Panca Tanmatra): suara, sentuhan, bentuk, rasa, bau
  • Lima organ persepsi (Panca Jnanendriya): telinga, kulit, mata, lidah, hidung
  • Lima organ tindakan (Panca Karmendriya): berbicara, menggenggam, bergerak, berkembang biak, membuang
  • Satu manas (pikiran) sebagai koordinator kesan-kesan inderawi

Seperti yang dinyatakan dalam hierarki Katha Upanishad: “Lebih tinggi dari indra, berdirilah objek-objek indra. Lebih tinggi dari objek indra, berdirilah pikiran. Lebih tinggi dari pikiran, berdirilah intelek. Lebih tinggi dari intelek, berdirilah Diri yang agung. Lebih tinggi dari Diri yang agung, berdirilah Avyaktam (yang tidak termanifestasi). Lebih tinggi dari Avyaktam, berdirilah Purusha. Lebih tinggi dari ini, tidak ada apa-apa. Ia adalah tujuan akhir dan titik tertinggi.”


3. Tiga Warna Jiwa: Simfoni Triguna

Samkhya memandang dunia bukan melalui kacamata “dosa” atau “pahala”, melainkan melalui harmoni warna yang disebut Triguna—tiga kualitas fundamental yang membentuk esensi Prakriti dan seluruh ciptaan:

Sattva adalah cahaya bening. Sattva adalah guna yang esensinya kemurnian, kehalusan, dan subtilitas—komponen yang berkaitan dengan keringanan, kecerahan, dan kesenangan. Saat jiwa terasa tenang, jernih, dan penuh kebijaksanaan, sattva sedang dominan.

Rajas adalah bara api. Rajas berkaitan dengan energi, tindakan, dan keinginan—saat ambisi, amarah, dan gairah membakar diri dalam kegelisahan. Rajas adalah motor penggerak, namun juga sumber keresahan.

Tamas adalah kabut tebal. Tamas adalah kegelapan, kekaburan, ketidaktahuan, dan inersia—saat kemalasan, kebingungan, dan kelembaman menyelimuti kesadaran.

Sebelum evolusi kosmis dimulai, ketiga guna ini berada dalam keseimbangan sempurna di dalam Prakriti. Prakriti tidak pernah statis. Bahkan sebelum evolusi, guna-guna terus berubah dan saling menyeimbangkan. Baru ketika kehadiran Purusha mengganggu ekuilibrium ini, alam semesta yang kita kenal mulai terbentang.

Kita tidak perlu memohon pada langit untuk mengubah nasib. Kita hanya perlu belajar menyeimbangkan benang-benang energi ini dalam laboratorium pikiran kita sendiri. Meningkatkan sattva berarti menjernihkan kesadaran; mengurangi tamas berarti mengusir kabut; menyalurkan rajas berarti mengarahkan energi—bukan memadamkannya.


4. Ketiadaan Tuhan: Bukan Nihilisme, Melainkan Kejujuran Ontologis

Di sinilah Samkhya berdiri tegak dalam keberaniannya.

Samkhya adalah contoh kuat dualisme metafisik India, namun tidak seperti banyak filsafat Barat, ia bersifat ateistik. Para filosof Samkhya berargumen bahwa eksistensi Ishvara (Tuhan pencipta) tidak dapat dibuktikan dan karenanya tidak dapat diterima. Mereka juga berargumen bahwa Ishvara yang tidak berubah sebagai sebab tidak dapat menjadi sumber dunia yang berubah sebagai akibat.

Karena Purusha dan Prakriti sudah cukup untuk menjelaskan alam semesta, eksistensi Tuhan tidak dihipotesiskan. Ini bukan ateisme yang pahit atau memberontak. Ini adalah kejujuran ontologis—sebuah penolakan untuk menambahkan entitas yang tidak diperlukan untuk menjelaskan realitas.

Namun, mari kita pahami dengan jernih: Samkhya mendalilkan eksistensi jumlah tak terbatas Purusha yang serupa namun terpisah, tidak ada yang lebih superior dari yang lain. Setiap kesadaran adalah abadi, setiap diri adalah murni. Dalam arti tertentu, setiap Purusha adalah “ilahi”—meskipun tanpa sifat-sifat teistik yang biasa kita asosiasikan dengan ketuhanan.


5. Tiga Jenis Penderitaan: Diagnosis Universal

Pembukaan teks klasik Samkhya, Samkhya-karika, menyatakan dengan tegas tujuannya: “Sekarang, tujuan tertinggi manusia adalah penghentian mutlak dari tiga jenis penderitaan.”

Ketiga penderitaan ini (trividha-duhkha) adalah:

Adhyatmika (penderitaan internal): yang lahir dari dalam diri sendiri—penyakit fisik dan kegelisahan mental. Ini terbagi lagi menjadi penderitaan jasmani dan penderitaan batin.

Adhibhautika (penderitaan dari makhluk lain): yang datang dari sesama makhluk hidup—hewan, manusia, atau kekuatan alam yang melukai.

Adhidaivika (penderitaan supernatural): yang berasal dari kekuatan di luar kendali manusia—bencana alam, nasib, atau apa yang disebut sebagai “takdir.”

Samkhya memandang ketidaktahuan (Avidya) sebagai akar penyebab penderitaan dan keterikatan (Samsara). Jalan keluar dari penderitaan ini adalah melalui pengetahuan (viveka). Bukan pengetahuan intelektual semata, melainkan viveka-jnana—pengetahuan diskriminatif yang memisahkan Sang Saksi dari tarian yang disaksinya.


6. Gema Sunyi: Dari Zen hingga Jiddu Krishnamurti

Jalan tanpa Tuhan ini ternyata bergetar dalam frekuensi yang sama dengan tradisi-tradisi besar lainnya. Seperti sungai-sungai bawah tanah yang mengalir menuju lautan yang sama.

Zen dan Kekosongan yang Penuh

Kita melihat bayangannya dalam Zen, yang mengajak kita menatap dinding batin hingga konsep “diri” itu luruh.

Dalam Buddhisme Mahayana, sunyata merujuk pada ajaran bahwa “semua hal kosong dari eksistensi dan hakikat intrinsik (svabhava).” Kekosongan di sini bukanlah kekosongan nihilistik—ia adalah ketiadaan esensi yang mandiri, bukan ketiadaan eksistensi itu sendiri.

Dalam semua sistem filosofis Buddha dari Madhyamaka dan seterusnya, kekosongan (sunyata) merujuk pada ketiadaan eksistensi inheren (svabhava) terhadap pikiran maupun fenomena eksternal. Sinonimnya termasuk kebenaran tertinggi (paramarthasatya), realitas aktual (dharmata), dan kedemikianan (tathata).

Seperti yang tertuang dalam Sutra Hati: “Bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk.” Ini berarti bahwa kekosongan bukanlah kehampaan yang terpisah dari realitas; ia adalah hakikat realitas itu sendiri.

Menariknya, meskipun Samkhya dan Buddhisme berangkat dari titik awal yang berbeda—yang satu menegaskan realitas Purusha abadi, yang lain menolak atman—keduanya bertemu pada satu titik: pembebasan melalui pengetahuan langsung, bukan melalui perantara supernatural.

Krishnamurti: Kebenaran Tanpa Jalan

Kita mendengarnya dalam suara Jiddu Krishnamurti, yang dengan berani mengatakan bahwa “Kebenaran adalah tanah tanpa jalan.”

“Saya berpendapat bahwa kebenaran adalah tanah tanpa jalan, dan Anda tidak dapat mendekatinya melalui jalan apapun, melalui agama apapun, melalui sekte apapun.” Pada tahun 1929, di hadapan tiga ribu pengikut, Krishnamurti membubarkan organisasi yang didirikan untuk memujanya.

Krishnamurti menegaskan bahwa “kebenaran adalah tanah tanpa jalan” dan menyarankan untuk tidak mengikuti doktrin, disiplin, guru, atau otoritas apapun, termasuk dirinya sendiri.

Ini berarti bahwa tidak ada ideologi, agama, atau guru yang dapat memimpin Anda menuju kebenaran. Kebenaran bukanlah sesuatu di luar diri Anda—ia tidak dapat dicari, dicapai, atau diajarkan. Hanya dalam persepsi langsung dan segera terhadap realitas, kebenaran menyingkapkan dirinya.

Keduanya—Samkhya dan Krishnamurti—tidak menawarkan tongkat penyangga berupa Dewa. Mereka memaksa kita berdiri di atas kaki kesadaran kita sendiri. Bahwa pembebasan bukanlah hadiah dari luar, melainkan penyingkapan dari dalam.

“Kebenaran selalu hadir, di sini dan sekarang, dan karenanya tidak ada jalan menujunya. Anda tidak perlu mengambil jalan untuk mencapai diri Anda sendiri.”


7. Samkhya dan Yoga: Teori dan Praktik

Samkhya tidak berdiri sendiri. Ia adalah pasangan kembar dengan Yoga—filsafat Patanjali yang mengadopsi seluruh metafisika Samkhya namun menambahkan satu elemen penting: metode.

Samkhya mengajarkan bahwa Purusha tidak pernah terikat, tetapi tampak demikian karena identifikasi dengan evolusi-evolusi Prakriti. Yoga Darshana Patanjali mengadopsi seluruh metafisika Samkhya tetapi memperkenalkan Ishvara (Purusha istimewa) sebagai objek devosi opsional.

Dengan kata lain: Samkhya adalah filosofi, dan Yoga adalah metodologi praktis untuk merealisasikan filosofi tersebut. Samkhya memberi kita mengapa—mengapa kita menderita, mengapa kita bukan tubuh-pikiran, dan mengapa pengetahuan membawa kebebasan. Yoga memberi kita bagaimana—jalan praktis untuk menenangkan pikiran, memurnikan sistem, dan merealisasikan diri sebagai Purusha.


8. Bali: Samkhya yang Bersembunyi dalam Ritual

Mungkin Anda akan bertanya: “Lalu bagaimana dengan Bali yang penuh dengan dewa?”

Di Bali, Samkhya tidak mati; ia hanya mengenakan busana yang indah. Ia bersembunyi di balik teks-teks Lontar Tattwa—naskah-naskah suci yang ditulis pada daun lontar dan menyimpan kebijaksanaan filosofis yang dalam.

Tattwa adalah konsep yang menjadi fondasi bagi sistem keagamaan masyarakat Hindu Indonesia secara umum, dan masyarakat Hindu Bali secara khusus. Konsep tattwa secara spesifik terdapat dalam beberapa jenis teks lontar seperti Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Bhuwana Kosa, hingga Tattwa Jnana.

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa, misalnya, tertulis dialog antara Bhagawan Wrhaspati dengan Bhatara Siwa di puncak Gunung Kailasa. Disebutkan bahwa ada dua asas yang menjadi sumber segala: Cetana (asas kesadaran) dan Acetana (asas ketaksadaran). Pertemuan Cetana dan Acetana melahirkan antara lain Pradhana-tattwa, Triguna-tattwa, Triantah-karana, Panca Budindriya, Panca Karmendriya, Panca Tanmatra, dan Panca Maha Bhuta.

Lihatlah—ini adalah Samkhya yang berpakaian Siwa! Cetana adalah Purusha dalam jubah Bali. Acetana adalah Prakriti yang berganti nama.

Ia hidup dalam konsep Purusa dan Pradhana—pertemuan antara Sang Ruh dan Sang Materi. Meru dengan dua atap melambangkan dua huruf di tengah, yang mewakili Purusa dan Pradhana.

Panca Maha Bhuta: Kelima Elemen dalam Tubuh dan Alam

Dalam Lontar Yama Tattwa, filosofi Ngaben adalah proses untuk mempercepat pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta (Pertiwi: tanah, Apah: air, Teja: api, Bayu: udara, Akasa: eter) ke asal-usulnya.

Baik alam semesta (Panca Maha Bhuta Agung atau makrokosmos) maupun Panca Maha Bhuta Alit (manusia dan makhluk hidup pada umumnya) mempunyai karakter yang sama: zat padat, zat cair, angin, panas, dan unsur yang halus seperti ruang hampa udara.

Masyarakat Bali tidak hanya menyembah sosok—mereka sedang merayakan Keseimbangan. Setiap banten dan ritual adalah simbolisasi dari penyatuan elemen-elemen alam agar kembali pada titik nol, pada keseimbangan Triguna sebelum evolusi kosmis dimulai.

Panca Maha Bhuta mengajarkan kita bahwa kehidupan, kematian, dan pembebasan adalah satu kesatuan yang saling terhubung dalam siklus yang abadi.

Di Bali, Samkhya adalah tulang-belulang tersembunyi yang menyangga tubuh agama yang penuh warna. Di balik tarian Barong dan Rangda, di balik kemenyan dan bunga yang mengepul, tersimpan prinsip-prinsip kuno tentang kesadaran dan materi, tentang Sang Saksi dan sang tarian.


9. Svabhava dan Satkaryavada: Kausalitas yang Berbeda

Samkhya juga membawa teori kausalitas yang unik: Satkaryavada—ajaran bahwa akibat sudah ada di dalam sebab sebelum manifestasinya.

Bayangkan minyak di dalam biji wijen. Sebelum diperas, minyak itu sudah ada—hanya belum termanifestasi. Demikian pula alam semesta sudah “ada” dalam Prakriti sebelum evolusi kosmis. Samkhya berpendapat bahwa semua akibat tersembunyi dalam sebabnya dan termanifestasi ketika diaktifkan.

Ini berbeda dengan teori kausalitas Buddhis (pratityasamutpada) yang menekankan bahwa segala sesuatu muncul karena kondisi-kondisi yang saling bergantung, tanpa esensi yang sudah ada sebelumnya.

Perbedaan ini bukan sekadar debat akademis. Ia mengubah cara kita memandang potensi diri: dalam Samkhya, pembebasan sudah ada di dalam diri kita—ia hanya perlu disingkapkan, bukan diciptakan.


10. Kritik dan Dialog: Samkhya dalam Percakapan Filosofis

Tidak ada filsafat yang sempurna, dan Samkhya pun menghadapi kritik keras—terutama dari tradisi Vedanta.

Filosof Advaita Vedanta, Adi Shankara, menyebut Samkhya sebagai “lawan utama” Vedanta. Ia mengkritik pandangan Samkhya bahwa penyebab alam semesta adalah Prakriti yang tidak cerdas. Menurut Shankara, hanya Brahman yang Cerdas yang dapat menjadi sebab demikian.

Shankara berargumen bahwa dualisme dalam Samkhya-karika tidak konsisten dengan Veda. Bagaimana materi yang tidak sadar (Prakriti) dapat menghasilkan kesadaran dan kecerdasan? Bagaimana evolusi kosmis dapat dimulai tanpa “dorongan” dari kesadaran tertinggi?

Namun, Samkhya memiliki jawaban: Purusha tidak menyebabkan evolusi—ia hanya hadir. Seperti magnet yang tidak bergerak namun menarik serpihan besi, Purusha “mengganggu” keseimbangan Triguna dalam Prakriti tanpa bertindak aktif.

Dialog ini—antara Samkhya, Vedanta, Yoga, dan aliran-aliran lain—membentuk salah satu tradisi intelektual terkaya dalam sejarah pemikiran manusia.


11. Moksha: Pembebasan sebagai Pengembalian, Bukan Pencapaian

Apa yang dituju oleh semua ini?

Moksha (pembebasan), menurut Samkhya, berasal dari mengetahui perbedaan antara Prakriti (vyakta-avyakta) dan Purusha (jña). Lebih spesifik, Purusha yang telah mencapai pembebasan harus dibedakan dari Purusha yang masih terikat—karena Purusha yang telah bebas tidak lagi memiliki tubuh halus (suksma sarira), yang di dalamnya terletak disposisi mental yang mengindividuasikannya dan menyebabkannya mengalami keterikatan.

Pembebasan dalam Samkhya bukanlah perjalanan ke suatu tempat. Ia adalah pengenalan—mengenali bahwa kita tidak pernah terikat sejak awal. Penderitaan adalah ilusi yang lahir dari ketidaktahuan. Ketika pengetahuan diskriminatif muncul, ilusi itu buyar seperti kabut yang bertemu matahari.

Samkhya-karika menyatakan: “Seperti susu yang tidak sadar berfungsi demi nutrisi anak sapi, demikian pula Prakriti berfungsi demi moksha dari roh.” Prakriti sendiri “bekerja” untuk pembebasan Purusha—seperti ibu yang merawat anaknya hingga ia dewasa dan mandiri.


12. Penutup: Menjadi Langit, Bukan Badai

Samkhya mengajarkan kita sebuah ketenangan yang radikal. Bahwa di balik pikiran yang kacau, tubuh yang menua, dan dunia yang bising, ada sebuah bagian dari diri kita yang tetap sunyi, tetap murni, dan tetap abadi.

Kita tidak butuh pencipta untuk menjadi utuh. Kita hanya perlu berhenti menjadi badai, dan mulai menyadari bahwa kita adalah langit yang luas—yang membiarkan badai itu lewat tanpa pernah terluka.

Jika kita sampai pada pengetahuan bahwa diri yang kita pegang adalah kosong, kita mungkin membayangkan ini berarti kita sebagai individu dengan identitas personal tidak ada. Tetapi tentu saja ini bukan kasusnya—pengalaman personal kita sendiri menunjukkan bahwa sebagai subjek dan agen dari kehidupan kita sendiri, kita pasti ada. Hanya diri yang dipegang sebagai benar-benar real yang perlu dinegasi. Diri sebagai fenomena konvensional tidak ditolak.

Demikian pula dengan Samkhya: kita tidak menolak eksistensi. Kita hanya menolak identifikasi yang keliru.

Laman: 1 2

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar