A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages


13. Gema Samkhya di Biara-Biara Kristen: Para Ahli Bedah Jiwa dari Barat

Meskipun dalam tradisi Kristen sosok Tuhan tetap ada—Sang Pencipta yang personal, Trinitas yang Mahakudus—ada para tokoh yang berjalan di lorong-lorong batin dengan cara yang mengejutkan akrab dengan Samkhya. Mereka adalah para mistikus yang tidak puas dengan teologi permukaan. Mereka membedah jiwa dengan presisi seorang ahli anatomi, memetakan gerak-gerik pikiran dengan ketelitian seorang kartografer.

Para tokoh ini lebih fokus pada psikologi spiritual dan observasi batin yang sangat teknis, mirip dengan cara Samkhya membedah jiwa menjadi dua puluh lima tattva. Mereka berdiri di perbatasan antara pengalaman dan doktrin, lebih tertarik pada bagaimana kesadaran bekerja daripada apa yang harus dipercayai.

Berikut adalah beberapa tokoh dan aliran dalam Kristen yang memiliki “jiwa” Samkhya:


1. Evagrius Ponticus: Kartografer Pikiran dari Padang Pasir (345–399 M)

Di padang pasir Mesir, jauh dari keramaian kota-kota Mediterania, seorang rahib bernama Evagrius Ponticus duduk dalam selnya, mengamati pikiran-pikiran yang datang dan pergi seperti badai pasir. Ia bukan sekadar pertapa—ia adalah salah satu teolog paling cerdas dalam sejarah Kristen awal.

Evagrius memiliki pendekatan yang sangat “mekanis” terhadap pikiran, mirip dengan teori Guna dalam Samkhya. Evagrius Ponticus mengidentifikasi delapan pikiran generik: kerakusan, nafsu birahi, ketamakan, kesedihan, kemarahan, kemalasan, kesombongan kosong, dan keangkuhan. Ia mengembangkan skema ini sebagai inventaris untuk diagnosis asketis dan praktik spiritual.

Analisis Pikiran: Pemetaan Logismoi

Seperti Samkhya yang menghitung 25 tattva dengan presisi matematis, Evagrius mengidentifikasi delapan logismoi utama—kerakusan, nafsu birahi, ketamakan, kesedihan, amarah, kemalasan, kesombongan kosong, dan keangkuhan—menganalisis dinamika mereka dan strategi untuk melawannya dalam praktik spiritual.

Yang menarik adalah Evagrius tidak melihat pikiran-pikiran ini sebagai “dosa” dalam pengertian moralistik semata. Ketika para Bapa berbicara tentang ‘pikiran’ (logismoi), mereka tidak bermaksud pikiran sederhana, melainkan gambar-gambar dan representasi di balik mana selalu ada pikiran yang sesuai. Logismoi adalah gangguan kesadaran—energi-energi yang mengaburkan penglihatan spiritual, persis seperti Rajas dan Tamas dalam Samkhya yang mengaburkan Sattva.

Lima tahap logismoi dijelaskan dalam ajaran para Bapa Gereja: Serangan—logismoi pertama kali menyerang pikiran seseorang; Interaksi—seseorang membuka dialog dengan logismoi; Persetujuan—seseorang menyetujui apa yang didesak oleh logismoi; Kekalahan—seseorang menjadi sandera logismoi dan merasa lebih sulit untuk menolak; Hasrat atau Obsesi—logismoi menjadi realitas yang mengakar dalam nous seseorang.

Bukankah ini mirip dengan proses ahamkara (ego) dalam Samkhya yang semakin menebal ketika kita terus berinteraksi dengan objek-objek Prakriti?

Apatheia: Kesunyian yang Aktif

Evagrius mendefinisikan hubungan antara apatheia, kasih, dan gnosis demikian: “Apatheia memiliki seorang anak bernama agape yang menjaga pintu menuju pengetahuan mendalam tentang alam semesta yang diciptakan. Apatheia membuat manusia menyerupai malaikat, bukan Tuhan.”

Tujuan spiritual Evagrius adalah mencapai Apatheia—keadaan di mana jiwa tidak lagi terguncang oleh emosi atau imajinasi. Ini sangat mirip dengan konsep Kaivalya dalam Samkhya, di mana Purusha berhenti terpengaruh oleh Prakriti.

Tanda-tanda utama apatheia adalah kebebasan dari diguncang oleh pikiran, kemampuan menggunakan satu pikiran untuk mengusir yang lain, ketenangan selama mimpi, doa tanpa gangguan—ketika jiwa mulai melihat cahayanya sendiri.

Perhatikan paralelnya: dalam Samkhya, pembebasan terjadi ketika Purusha menyadari dirinya sebagai saksi yang terpisah dari tarian Prakriti. Dalam ajaran Evagrius, nous (pikiran murni) harus dibebaskan dari logismoi agar dapat melihat “cahaya safir”—cahaya kesadaran itu sendiri.

Evagrius berbicara tentang “keadaan” (katastasis) pikiran yang “berwarna langit.” Dalam bentuk tertinggi doa, pikiran intuitif, setelah mencapai keadaan sejatinya dan dirampas dari semua gambar serta mencapai ketenangan emosional melalui kelembutan dan pengendalian diri, akan melihat pikiran seperti cahaya yang cemerlang.


2. Meister Eckhart: Sang Pembongkar Sekat antara Jiwa dan Tuhan (1260–1328)

Di abad ke-13, seorang Dominikan bernama Meister Eckhart berkhotbah di kota-kota Rhineland dengan kata-kata yang begitu berani hingga Gereja menyatakannya sesat. Ia sering dianggap sebagai “Hindu-nya Kristen” karena ajarannya yang melampaui konsep Tuhan yang personal.

Sang Pengamat yang Diam: Seelenfünklein

Eckhart sering berbicara tentang apa yang ia sebut Seelenfünklein—”percikan jiwa.” Meister Eckhart mengajarkan bahwa setiap jiwa mengandung “percikan ilahi”—sepotong Tuhan yang tidak diciptakan dan abadi. Ia mengajarkan bahwa di pusat jiwa manusia ada sesuatu yang tidak diciptakan, tidak bergerak, dan hanya menjadi saksi.

“Saya berkata bahwa jika seseorang berpaling dari dirinya sendiri dan dari semua ciptaan, demikian banyaknya Anda akan menjadi satu dan diberkati dalam percikan jiwa, yang tidak pernah menyentuh waktu maupun ruang. Percikan ini menolak semua ciptaan, dan tidak menginginkan apa-apa selain Tuhannya yang telanjang, sebagaimana Ia dalam diri-Nya sendiri.”

Ini adalah definisi yang hampir identik dengan Purusha dalam Samkhya! Purusha tidak diciptakan (anutpanna), tidak berubah (kutastha), dan hanya menyaksikan tanpa bertindak. Eckhart menemukan prinsip yang sama di jantung tradisi Kristen.

Dasar jiwa dan dasar Tuhan dalam kenyataannya adalah satu dasar. Istilah “Dasar” (Ground) bagi Meister Eckhart merujuk pada yang tidak diciptakan dan abadi dalam jiwa, yang juga disebut percikan ilahi. Dalam detachment dan dalam Dasar ini, kelahiran Tuhan terjadi, unio mystica, yang menandakan pengilahian manusia.

Detachment (Gelassenheit): Seni Melepaskan

Dalam risalahnya “On Detachment,” Eckhart bertanya “Apa, kalau begitu, prasyarat esensial untuk kelahiran Kristus dalam jiwaku?” dan langsung menjawab “itu adalah detachment, penyerahan diri” (Gelassenheit, abegescheidenheit).

Ia mengajarkan “pelepasan total” dari segala bentuk, gambar, dan keinginan. Baginya, untuk bertemu yang Ilahi, kita harus memisahkan diri dari segala sesuatu yang bersifat “materi” dan “pikiran”—persis seperti metode pemisahan (viveka) dalam Samkhya.

Untuk Eckhart, pertumbuhan spiritual membutuhkan pelepasan dari keinginan duniawi, materialisme, dan bahkan ego personal. Namun, gagasan Eckhart tentang detachment bukanlah tentang menolak dunia atau menarik diri ke dalam asketisme. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai sikap mental dan spiritual, di mana identitas dan nilai seseorang tidak lagi terikat pada hal-hal yang fana.

“Sekarang kamu harus tahu bahwa detachment sejati tidak lain adalah agar roh berdiri tidak bergerak menghadapi apa pun yang mungkin terjadi padanya—kegembiraan dan kesedihan, kehormatan, rasa malu dan aib—seperti gunung timbal berdiri di hadapan hembusan angin kecil.”

Bukankah ini adalah deskripsi Purusha yang tidak tersentuh oleh gejolak Prakriti?

Breakthrough: Menembus Tuhan untuk Menemukan Ketuhanan

Yang paling radikal dari ajaran Eckhart adalah konsep “breakthrough” (Durchbruch). Akhirnya, jiwa melepaskan bahkan keterikatannya pada gagasan “Tuhan” dan melampaui ke dalam realitas sunyi yang Eckhart sebut Godhead. Godhead adalah Tuhan melampaui semua nama dan bentuk—Dasar ilahi yang tertinggi. Dalam keadaan ini, jiwa “menembus” ke persatuan melampaui perbedaan Pencipta dan ciptaan.

Di sini Eckhart melampaui bahkan teisme konvensional. Ia membedakan antara “Tuhan” (Gott)—sosok yang personal, yang menciptakan dan bertindak—dan “Ketuhanan” (Gottheit)—kesunyian absolut yang melampaui semua atribut. Godhead adalah “padang gurun” di mana tidak ada perbedaan, tidak ada nama, tidak ada konsep.

Dalam bahasa Samkhya, ini seperti membedakan antara Ishvara (Tuhan personal dalam Yoga) dan Purusha murni—kesadaran yang melampaui semua kualifikasi.


3. Rahib Hesychast: Para Penjaga Keheningan dari Gunung Athos

Di lereng-lereng Gunung Athos yang curam, di biara-biara yang menggantung di tebing, para rahib Ortodoks Timur telah mempraktikkan Hesychasm selama berabad-abad. Dari kata Yunani hesychia yang berarti “keheningan,” tradisi ini adalah salah satu praktik kontemplatif paling sistematis dalam Kekristenan.

Nepsis: Seni Berjaga

Theosis dicapai melalui terlibat dalam doa kontemplatif yang berasal dari kultivasi kewaspadaan (Yunani: nepsis). Hesychast harus memberikan perhatian ekstrem pada kesadaran dunia batinnya dan pada kata-kata Doa Yesus, tidak membiarkan pikirannya mengembara sama sekali.

Nepsis (kewaspadaan) adalah inti dari praktik Hesychast. Hesychasm adalah praktik spesifik ‘ketenangan’ (hesychia) dan kewaspadaan (nepsis) atau ‘penjagaan hati’ yang biasanya berpusat pada penggunaan ‘Doa Yesus’.

Para rahib melatih kesadaran penuh terhadap setiap pikiran yang masuk. Mereka tidak menganggap pikiran sebagai “diri mereka”, melainkan sebagai objek eksternal yang harus diamati—persis seperti Samkhya memperlakukan pikiran sebagai bagian dari Prakriti, bukan Purusha.

Santo Yohanes dari Sinai menggambarkan praktik hesychast demikian: “Duduklah di tempat tinggi dan awasilah, jika kamu tahu caranya, dan maka kamu akan melihat dengan cara apa, kapan, dari mana, berapa banyak dan jenis pencuri seperti apa yang datang untuk masuk dan mencuri tandan anggurmu.”

Doa Yesus: Mantra Keheningan

Praktik sentral Hesychasm adalah pengulangan Doa Yesus: “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku yang berdosa.” Seperti japa dalam tradisi Hindu atau dzikir dalam Sufi, pengulangan ini bukan sekadar repetisi verbal—ia adalah sarana untuk menenangkan pikiran dan membuka kesadaran.

Santo Yohanes Climacus, salah satu penulis terbesar tradisi Hesychast, menulis: “Biarlah ingatan akan Yesus hadir bersama setiap napas, dan maka kamu akan mengetahui nilai hēsychia.”

Tujuannya adalah untuk mengkultivasi keadaan nepsis, yang berarti kewaspadaan penuh atas hati dan pikiranmu. Sasarannya adalah kesadaran akan Tuhan yang tanpa gambar dan non-konseptual.

Kemiripan dengan Samkhya

Praktik Hesychast memperlakukan pikiran dan tubuh sebagai bagian dari “alam luar” (mirip Prakriti), sementara inti kesadaran tetap menjadi saksi yang tenang (mirip Purusha).

Pada level paling dalam dan internal, hesychia dapat dipahami sebagai ‘kembali ke dalam diri sendiri’, sebuah ziarah ke dalam menuju kedalaman terbesar dari pribadi manusia.

Sementara ia mempertahankan praktik Doa Yesusnya, yang menjadi otomatis dan berlanjut dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, hesychast mengkultivasi nepsis, perhatian yang waspada, untuk menolak pikiran-pikiran yang menggoda (“para pencuri”) yang datang kepadanya saat ia berjaga dalam perhatian sadar di pertapaannya.

Bukankah ini sangat mirip dengan praktik seorang Yogiswara dalam tradisi Samkhya-Yoga, yang mengamati vritti (gerak pikiran) tanpa terlibat di dalamnya?


4. Thomas Merton & Bede Griffiths: Jembatan Abad ke-20

Di abad ke-20, dua rahib Kristen dengan berani menyeberangi jurang antara Timur dan Barat, menemukan dalam filsafat India cermin yang memantulkan kebijaksanaan tradisi mereka sendiri.

Thomas Merton: Sang Trappist yang Menemukan Zen

Thomas Merton (1915–1968) adalah rahib Trappist Amerika yang menghabiskan dekade terakhir hidupnya dalam dialog intensif dengan tradisi-tradisi Timur.

Merton percaya bahwa sebagian besar Kekristenan telah meninggalkan tradisi mistiknya demi penekanan Cartesian pada “reifikasi konsep, pemujaan kesadaran reflektif, pelarian dari keberadaan ke dalam verbalisme, matematika, dan rasionalisasi.”

Melalui dialognya dengan Zen dan Hindu, Merton sering menulis bahwa “diri” yang kita pamerkan ke dunia (ego) adalah sebuah ilusi yang terbuat dari materi dan ingatan, sementara “diri yang sejati” adalah pengamat yang sunyi di hadapan Tuhan.

Merton menggambarkan tiga tahap perjalanan transformasi spiritual, membangun gerakan dari diri palsu ke diri sejati sebagai jantung dari proses ini. Diri sejati kita adalah apa yang Tuhan ciptakan kita untuk menjadi—seseorang yang hidup dalam kasih, sukacita, dan damai. Menutupi diri sejati kita adalah diri palsu yang superfisial.

“Di pusat keberadaan kita ada titik ketiadaan yang tidak tersentuh oleh dosa dan ilusi, titik kebenaran murni, titik atau percikan yang sepenuhnya milik Tuhan.”

Merton menemukan bahasa untuk pengalaman kontemplatifnya dalam praktik Zen tentang “tanpa pikiran” (mushin). Merton menemukan ekspresi untuk yang tak terungkapkan, di mana kita menjadi diam dan membiarkan Yang Absolut yang berbicara, di mana kita membiarkan pengalaman berbicara untuk dirinya sendiri dan tidak berusaha mengendalikannya, atau membatasinya dengan konsep, bahasa, atau diri palsu kita sendiri.

Merton menemukan titik temu antara Kekristenan dan Buddhisme bukan dalam doktrin dan formula intelektual, tetapi dalam penolakan terhadap diri palsu dan pengalaman langsung melalui kontemplasi di mana Tuhan berada dalam kekosongan dan kasih sayang.

Malam sebelum kematiannya yang tragis di Bangkok, Merton berkata kepada John Moffitt: “Zen dan Kekristenan adalah masa depan.”

Bede Griffiths: Rahib di Ashram

Bede Griffiths (1906–1993) adalah seorang Benediktin Inggris yang mengambil langkah lebih jauh: ia pindah ke India dan tinggal di sebuah ashram, menjalani hidup seperti sannyasi Hindu sambil tetap menjadi imam Katolik.

Griffiths sering menggunakan kerangka Samkhya untuk menjelaskan bagaimana Roh Kudus bekerja melalui materi (Prakriti). Baginya, Trinitas Kristen dapat dipahami melalui lensa India: Bapa sebagai Sat (Keberadaan Murni), Putra sebagai Cit (Kesadaran), dan Roh Kudus sebagai Ananda (Kebahagiaan)—Satchitananda.

Ia percaya bahwa mistisisme Kristen dan Vedanta India berbicara tentang pengalaman yang sama dengan bahasa yang berbeda: penyatuan jiwa dengan Sumber-nya.


Perbandingan Filosofis: Samkhya dan Mistik Kristen

Konsep SamkhyaPadanan dalam Mistik KristenMakna Puitisnya
PurushaSpark of the Soul / Seelenfünklein / Imago DeiCahaya murni yang hanya menatap tanpa menghakimi—titik di mana kita menyentuh yang Tak Terbatas
PrakritiCreatureliness / The Flesh / LogismoiSegala sesuatu yang lahir, berubah, dan akan mati—tarian yang terus berputar
TrigunaDelapan Logismoi / Tiga Gerak JiwaWarna-warna energi yang membentuk pengalaman—dari kegelapan tamas hingga kecerahan sattva
Viveka (Pembedaan)Discernment / DiakrisisPedang kebijaksanaan yang memisahkan “siapa aku” dari “apa yang kupikirkan”
Kaivalya (Isolasi)Apatheia / Gelassenheit / HesychiaKeheningan mutlak di mana jiwa berdiri sendiri di hadapan yang Tak Terhingga
MokshaTheosis / Unio MysticaPengembalian tetesan air ke lautan—bukan kehilangan diri, melainkan penemuan Diri yang sejati
Ahamkara (Ego)False Self / Diri PalsuTopeng yang kita kenakan, pakaian yang kita anggap sebagai tubuh
Buddhi (Intelek Kosmis)Nous / IntellectCermin yang dapat memantulkan cahaya Ilahi ketika bersih dari debu pikiran

Kesimpulan: Ahli Bedah Jiwa dari Dua Tradisi

Jika Samkhya adalah ilmu tentang pembedahan jiwa, maka para rahib mistik ini adalah para ahli bedahnya dalam tradisi Kristen. Mereka mungkin tetap menyebut nama “Tuhan”, namun secara praktik, mereka setuju dengan Samkhya dalam beberapa hal fundamental:

Pertama, bahwa pikiran bukanlah diri kita. Evagrius memetakan logismoi seperti Samkhya memetakan tattva—keduanya melihat aktivitas mental sebagai “bukan-aku” yang harus diamati, bukan diikuti.

Kedua, bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang tidak tersentuh oleh perubahan. Eckhart menyebutnya “percikan,” Hesychast menyebutnya “nous yang murni,” Merton menyebutnya “diri sejati”—semuanya menunjuk pada Purusha.

Ketiga, bahwa pembebasan adalah pemisahan, bukan pencapaian. Gelassenheit Eckhart, apatheia Evagrius, hesychia para rahib Athos—semuanya adalah melepaskan, bukan memperoleh.

Keempat, bahwa jalan ini membutuhkan observasi batin yang teknis dan disiplin. Tidak ada romantisme kabur di sini—ada pemetaan yang presisi, ada metode yang sistematis, ada “laboratorium jiwa” yang ketat.

Perbedaan utama, tentu saja, adalah teologis: Samkhya tidak membutuhkan Tuhan untuk menjelaskan realitas, sementara para mistikus Kristen melihat seluruh proses ini sebagai gerakan menuju dan dari Tuhan. Namun, di level praktik—di level bagaimana kesadaran bekerja dan bagaimana membebaskannya—mereka berbicara bahasa yang sama.

Bahwa kebebasan dimulai saat kita berhenti menjadi badai (pikiran, emosi, identifikasi), dan mulai menyadari bahwa kita adalah langit yang luas (kesadaran murni yang menyaksikan).

Atau dalam kata-kata Eckhart yang menggema melintasi abad dan tradisi:

“Mata yang dengannya aku melihat Tuhan adalah mata yang sama yang dengannya Tuhan melihatku.”

Dalam keheningan itu—di mana semua nama luruh, di mana “Tuhan” dan “aku” melebur dalam cahaya yang melampaui kata—Samkhya dan para mistikus Kristen bertemu di tanah tak bernama yang sama.


Epilog: Undangan untuk Duduk di Kursi Penonton

Pada akhirnya, Samkhya bukanlah sistem kepercayaan yang meminta keimanan buta. Ia adalah undangan—undangan untuk mengamati, untuk membedakan, untuk viveka.

Duduklah sejenak. Perhatikan pikiran yang datang dan pergi. Perhatikan emosi yang muncul dan surut. Perhatikan sensasi tubuh yang berubah-ubah.

Lalu tanyakan: Siapakah yang mengamati semua ini?

Sang pengamat—yang tidak berubah di tengah semua perubahan, yang tidak tersentuh di tengah semua gejolak—itulah yang disebut Samkhya sebagai Purusha. Itulah diri Anda yang sejati.

Tidak ada dewa yang perlu dimohon. Tidak ada langit yang perlu dituju. Hanya kesadaran yang perlu dikenali—kesadaran yang selalu ada, yang telah ada sebelum Anda lahir, dan yang akan ada setelah tubuh ini kembali ke Panca Maha Bhuta.

Seperti yang dikatakan Krishnamurti: kebenaran adalah tanah tanpa jalan. Dan Samkhya adalah peta yang menunjukkan bahwa kita tidak perlu pergi ke mana-mana—karena kita sudah di sini, selalu di sini, sebagai langit yang membentang melampaui semua awan yang lewat.


Om Tat Sat.

Laman: 1 2

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar