A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang mengancam jiwa, namun masih sering luput dari perhatian publik meskipun menjadi salah satu penyebab kematian utama di rumah sakit. Kondisi yang dahulu dikenal sebagai “keracunan darah” atau blood poisoning ini sebenarnya adalah respons tubuh yang tidak terkendali terhadap infeksi, yang pada akhirnya merusak organ-organ vital. Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai sepsis, mulai dari definisi, beban global, patofisiologi, hingga strategi penanganan terkini berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Memahami Sepsis: Lebih dari Sekadar Infeksi

Sepsis didefinisikan sebagai disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons tubuh yang tidak teratur terhadap infeksi. Definisi ini mengalami evolusi panjang sejak konsep awal Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) pada tahun 1991. Konsensus internasional ketiga untuk Sepsis dan Syok Septik (Sepsis-3) yang diterbitkan pada tahun 2016 memberikan definisi yang lebih spesifik: sepsis terjadi ketika terdapat disfungsi organ yang ditandai dengan peningkatan skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) sebesar 2 poin atau lebih akibat respons yang tidak teratur terhadap infeksi.

Syok septik merupakan subset dari sepsis di mana abnormalitas sirkulasi, seluler, dan metabolik yang mendasarinya cukup mendalam untuk secara substansial meningkatkan mortalitas. Pasien dengan syok septik dapat diidentifikasi melalui kebutuhan vasopressor untuk mempertahankan tekanan arteri rata-rata (MAP) ≥65 mmHg dan kadar laktat serum >2 mmol/L (>18 mg/dL) meskipun telah mendapat resusitasi cairan yang adekuat. Kondisi ini dikaitkan dengan angka kematian rumah sakit yang melebihi 40%.

Beban Global Sepsis: Krisis Kesehatan yang Terlupakan

Sepsis merupakan penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia, namun sering tidak mendapat perhatian sebagaimana seharusnya. Berdasarkan analisis terbaru yang dipublikasikan dalam The Lancet Global Health tahun 2025, beban global sepsis mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan. Kematian terkait sepsis dari penyebab infeksi menurun dari 11,8 juta kasus pada tahun 1990 menjadi 8,34 juta pada tahun 2019, namun kemudian meningkat drastis sebesar 86,4% menjadi 15,5 juta pada tahun 2021, terutama akibat pandemi COVID-19.

Yang mengejutkan, hampir separuh dari seluruh kematian terkait sepsis merupakan komplikasi dari penyakit tidak menular yang mendasarinya atau cedera. Kematian terkait sepsis akibat penyebab non-infeksi meningkat dari 4,69 juta pada tahun 1990 menjadi 5,81 juta pada tahun 2021. Penyebab non-infeksi utama yang berkomplikasi menjadi sepsis adalah stroke, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan sirosis hati.

Menurut data Global Sepsis Alliance yang diluncurkan dalam Agenda Global 2030 untuk Sepsis, diperkirakan sepsis mempengaruhi 48,9 juta orang dan mengakibatkan 13,7 juta kematian setiap tahunnya, mewakili 1 dari setiap 5 kematian di seluruh dunia. Dampak ekonominya juga sangat signifikan, menyumbang 2,65% dari anggaran kesehatan dengan biaya rumah sakit median sebesar €36.191 per pasien sepsis per negara. Biaya tidak langsung dari kehilangan produktivitas akibat penyakit, disabilitas, dan kematian dini bahkan lebih besar lagi, mencapai 70-80% dari total biaya sosial sepsis.

Disparitas Regional dan Beban di Negara Berpenghasilan Rendah-Menengah

Beban sepsis bervariasi secara substansial antar wilayah, dengan beban tertinggi di Afrika sub-Sahara, Oseania, Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMIC) menanggung beban yang secara tidak proporsional lebih berat dibandingkan negara-negara berpenghasilan tinggi. Prevalensi penyakit infeksi yang lebih tinggi, akses terbatas terhadap layanan kesehatan, sanitasi dan kebersihan yang buruk, serta keterlambatan presentasi ke fasilitas medis merupakan beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan beban ini.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, meskipun sepsis kurang umum, beban totalnya tetap signifikan karena populasi yang menua dan meningkatnya tingkat komorbiditas kronis. Sepsis dalam konteks ini lebih sering dikaitkan dengan prosedur invasif dan penyakit terkait perawatan kesehatan.

Situasi Sepsis di Indonesia dan Asia Tenggara

Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan negara terpadat keempat di dunia dengan 4,2 juta bayi lahir setiap tahun, menghadapi beban sepsis yang substansial. Studi retrospektif observasional yang dilakukan di empat rumah sakit rujukan Indonesia dari tahun 2013-2016 melibatkan 14.076 pasien sepsis, dengan angka kematian mencapai 58,3% dan tingkat kesintasan 41,7%. Biaya rumah sakit rata-rata per pasien sepsis yang bertahan hidup adalah US$1.011, sementara untuk pasien yang meninggal mencapai US$1.406.

Beban nasional sepsis pada 100.000 pasien diperkirakan mencapai US$130 juta. Pasien sepsis dengan infeksi multifocal dan infeksi saluran pernapasan bawah (LRTI) tunggal diperkirakan memiliki beban ekonomi tertinggi, masing-masing US$48 juta dan US$33 juta per 100.000 pasien sepsis.

Studi multinasional multisenter yang dilakukan di Indonesia, Thailand, dan Vietnam antara tahun 2013-2015 melibatkan 1.578 pasien (763 anak-anak dan 815 dewasa) menunjukkan bahwa sepsis berat teridentifikasi pada 28% anak-anak dan 68% dewasa saat pendaftaran. Sepsis berat dikaitkan dengan peningkatan mortalitas yang signifikan (rasio odds yang disesuaikan 5,3; 95% CI 2,7-10,4; p<0,001). Mortalitas 28 hari terjadi pada 2% anak-anak dan 13% dewasa. Patogen yang paling umum diidentifikasi termasuk virus dengue (8%), Leptospira spp (6%), patogen rickettsia (6%), Escherichia coli (5%), dan virus influenza (4%).

Untuk sepsis neonatal, studi multisenter di tiga lokasi di Indonesia menganalisis 5.439 kultur darah dan menemukan bahwa bakteri gram negatif mendominasi sebagai patogen penyebab sepsis neonatal. Klebsiella spp dan Acinetobacter spp paling umum dengan prevalensi masing-masing 35% dan 19%. Yang mengkhawatirkan, terdapat beban tinggi patogen multidrug-resistant yang mendorong penggunaan empiris antibiotik spektrum luas, dengan cakupan yang sangat buruk dari regimen empiris yang saat ini direkomendasikan.

Patofisiologi Sepsis: Respons Imun yang Kompleks

Sepsis melibatkan interaksi kompleks antara patogen penyerang dan sistem imun tubuh. Ketika mikroorganisme menginvasi tubuh, sistem imun bawaan merespons dengan mengenali molekul terkait patogen (pathogen-associated molecular patterns/PAMPs) melalui reseptor pengenal pola (pattern recognition receptors/PRRs). Aktivasi jalur ini memicu kaskade inflamasi yang melibatkan pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), dan interleukin-8 (IL-8).

Dalam kondisi normal, respons inflamasi ini terkontrol dan membantu mengeliminasi patogen. Namun, pada sepsis, respons ini menjadi berlebihan dan tidak teratur, mengakibatkan kerusakan jaringan dan disfungsi organ. Beberapa mekanisme patofisiologis kunci yang terlibat dalam sepsis meliputi:

Disfungsi Endotel dan Gangguan Mikrosirkulasi

Aktivasi endotel vaskular menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, edema jaringan, dan gangguan perfusi mikrovaskular. Endotel yang teraktivasi juga mengekspresikan molekul adhesi yang merekrut leukosit, memperburuk kerusakan jaringan. Gangguan mikrosirkulasi mengakibatkan hipoksia jaringan dan disfungsi organ meskipun parameter hemodinamik makro dapat tampak stabil.

Koagulopati dan Imuno-Trombosis

Sepsis menginduksi keadaan prokoagulan melalui aktivasi jalur koagulasi ekstrinsik dan intrinsik. Formasi neutrophil extracellular traps (NETs) memainkan peran penting dalam imuno-trombosis terkait sepsis. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Scientific Reports tahun 2025 menunjukkan bahwa histon dan myeloperoksidase (MPO) sebagai biomarker NETs memiliki nilai diagnostik dan prognostik yang signifikan. Peningkatan simultan MPO >84,9 ng/ml dan histon >126,4 ng/ml dapat berfungsi sebagai indikator vital yang menunjukkan kebutuhan mendesak untuk inhibitor NETs dalam pengobatan sepsis, yang diperkirakan dapat mengurangi kejadian trombotik dan mortalitas secara signifikan.

Pada kasus yang parah, aktivasi koagulasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan disseminated intravascular coagulation (DIC), yang ditandai dengan konsumsi faktor koagulasi dan trombosit, pembentukan mikrotrombus yang luas, dan perdarahan.

Disfungsi Mitokondria

Mitokondria, sebagai “pembangkit tenaga” sel, mengalami kerusakan signifikan selama sepsis. Disfungsi mitokondria persisten, khususnya dalam bentuk senescence mitokondria, muncul sebagai faktor pemersatu potensial yang mendorong berbagai lintasan sindrom pasca-sepsis (post-sepsis syndrome/PSS). Mitokondria yang rusak tidak hanya kehilangan kapasitas bioenergetiknya tetapi juga secara aktif berkontribusi terhadap sinyal imun dan inflamasi kronis.

Berdasarkan konsep ini, diusulkan strategi intervensi ganda (“mitochondrial flush“) yang melibatkan eliminasi terkoordinasi mitokondria yang mengalami senescence dan stimulasi biogenesis mitokondria. Komponen regeneratif, yang didukung oleh penelitian preklinis yang mapan pada aktivasi Peroxisome Proliferator-Activated Receptor Gamma Coactivator 1-Alpha (PGC-1α), merepresentasikan lengan terapeutik yang sudah berkembang sebagian.

Disfungsi Kardiovaskular Terinduksi Sepsis

Sepsis-induced cardiomyopathy (SICM) adalah disfungsi kardiovaskular heterogen yang terkait dengan sepsis dan syok septik. Meskipun secara tradisional didefinisikan oleh disfungsi sistolik ventrikel kiri (LV) yang reversibel dengan ejeksi fraksi ≤50% dan/atau penurunan absolut ≥10% dari baseline, bukti terbaru mengungkapkan spektrum yang lebih luas, termasuk disfungsi diastolik LV, keadaan sistolik LV hiperdinamik, dan cedera ventrikel kanan (RV), yang terjadi secara independen atau kombinasi.

Patofisiologi SICM melibatkan sitokin inflamasi, disfungsi mitokondria, perubahan mikrosirkulasi koroner, dan perubahan dinamis dalam kondisi beban. Disfungsi sistolik LV onset baru terjadi pada sekitar 5-32% pasien dengan sepsis, sementara disfungsi diastolik LV dan cedera RV dilaporkan pada 20-57% dan 18-79% masing-masing. Semua fenotipe kardiak ini dikaitkan dengan peningkatan mortalitas yang signifikan.

Manifestasi Klinis: Spektrum Luas Presentasi

Manifestasi klinis sepsis sangat bervariasi tergantung pada lokasi infeksi, organisme penyebab, dan karakteristik pejamu. Gejala awal mungkin tidak spesifik, termasuk demam atau hipotermia, takikardia, takipnea, dan perubahan status mental. Namun, sepsis dapat dengan cepat berkembang menjadi syok septik dengan hipotensi refrakter terhadap resusitasi cairan, memerlukan vasopressor untuk mempertahankan tekanan darah.

Kriteria Klinis untuk Deteksi Dini

Untuk deteksi dini sepsis, beberapa kriteria klinis telah dikembangkan. Kriteria quick SOFA (qSOFA) dirancang sebagai alat skrining cepat di luar ICU, menggunakan tiga komponen: frekuensi pernapasan ≥22/menit, perubahan status mental (Glasgow Coma Scale <15), dan tekanan darah sistolik ≤100 mmHg. Skor qSOFA ≥2 menunjukkan risiko tinggi untuk hasil yang buruk.

Untuk penilaian yang lebih komprehensif, skor SOFA menilai enam sistem organ: respirasi (rasio PaO2/FiO2), koagulasi (jumlah trombosit), hati (bilirubin), kardiovaskular (tekanan arteri rata-rata dan kebutuhan vasopressor), sistem saraf pusat (Glasgow Coma Scale), dan ginjal (kreatinin atau output urin). Peningkatan akut dalam skor SOFA total sebesar ≥2 poin mencerminkan disfungsi organ dan risiko mortalitas rumah sakit yang lebih tinggi.

Presentasi Spesifik Berdasarkan Sumber Infeksi

Sumber infeksi yang paling umum menyebabkan sepsis termasuk infeksi saluran pernapasan bawah (pneumonia), infeksi intra-abdomen, infeksi saluran kemih, dan infeksi aliran darah. Di Asia Tenggara, penyebab sepsis juga mencakup penyakit infeksi tropis seperti dengue, leptospirosis, dan rickettsiosis, yang presentasi klinisnya dapat tumpang tindih, menekankan pentingnya kesadaran akan epidemiologi lokal untuk membimbing terapi empiris.

Diagnosis Sepsis: Pendekatan Komprehensif

Diagnosis sepsis memerlukan kombinasi penilaian klinis, tes laboratorium, dan identifikasi mikrobiologis. Namun, tidak ada single test yang dapat secara definitif mendiagnosis sepsis, sehingga pendekatan komprehensif sangat penting.

Biomarker Tradisional dan Emerging

Prokalsitonin (PCT) tetap menjadi biomarker yang paling mapan untuk sepsis, dengan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik dibandingkan penanda inflamasi tradisional seperti C-reactive protein (CRP) dan hitung sel darah putih. Kadar PCT >0,5 ng/mL menunjukkan kemungkinan infeksi bakteri, sementara kadar >2 ng/mL sangat sugestif untuk sepsis.

Namun, biomarker kandidat yang lebih baru menunjukkan potensi diagnostik dan prognostik yang menjanjikan. Presepsin, suatu fragmen CD14 yang larut yang dilepaskan selama fagositosis bakteri, telah menunjukkan nilai prediktif yang superior dibandingkan PCT dalam beberapa studi. CXCL5 (C-X-C motif chemokine ligand 5) dan berbagai circular RNAs (circRNAs) juga sedang diteliti sebagai biomarker potensial.

Studi prospektif terbaru yang dipublikasikan dalam Diagnostic Microbiology and Infectious Disease tahun 2025 mengevaluasi nilai rasio eksosomal circulating miR-21-5p/miR-181b-5p (miR-Ratio) untuk diagnosis dini dan prediksi prognosis 28 hari pada urosepsis. Rasio miR secara signifikan meningkat pada urosepsis dibandingkan dengan kontrol (p<0,001) dan berkorelasi positif dengan skor SOFA, prokalsitonin, CRP, dan mortalitas 28 hari. Analisis ROC menunjukkan area under the curve (AUC) sebesar 0,92 untuk mendiagnosis urosepsis, dengan sensitivitas 94,4% dan spesifisitas 89,5%. Analisis multivariat mengidentifikasi miR-Ratio sebagai prediktor independen mortalitas 28 hari (HR=3,97, p<0,001).

Teknologi Diagnostik Molekuler Cepat

Metode diagnostik tradisional seperti kultur darah tetap penting, tetapi memiliki keterbatasan waktu tunggu yang lama (biasanya 24-72 jam) dan sensitivitas yang berkurang, terutama pada pasien yang telah menerima antibiotik. Teknologi diagnostik molekuler cepat menawarkan hasil dalam hitungan jam, memungkinkan terapi yang lebih dini dan terarah.

Polymerase Chain Reaction (PCR) real-time dapat mendeteksi DNA atau RNA mikroba dalam beberapa jam. Matrix-Assisted Laser Desorption/Ionization Time-of-Flight (MALDI-TOF) mass spectrometry memungkinkan identifikasi mikroorganisme yang cepat dan akurat dari kultur positif. Platform biosensor berbasis point-of-care menyediakan hasil yang lebih cepat lagi, dengan potensi penggunaan di tempat tidur pasien.

Tinjauan sistematis literatur yang dipublikasikan dalam Clinica Chimica Acta tahun 2025 menganalisis tren penelitian dan kemajuan teknologi dalam diagnostik point-of-care untuk deteksi dini sepsis. Dari 365 studi yang dipilih, biosensor menyumbang porsi terbesar (43%), diikuti oleh platform berbasis chip (25%) dan alat diagnostik molekuler (13%). Analisis tren menunjukkan peningkatan tajam selama dekade terakhir, terutama dalam sistem berbasis biosensor.

Pencitraan dan Identifikasi Sumber

Identifikasi sumber infeksi sangat penting untuk kontrol sumber yang efektif. Pencitraan yang tepat dapat membantu mengidentifikasi dan melokalisasi sumber infeksi. Computed tomography (CT) scan sering digunakan untuk mengevaluasi infeksi intra-abdomen atau intratoraks. Ultrasonografi dapat berguna untuk mendeteksi abses, koleksi cairan, atau infeksi terkait kateter. Ekokardiografi diindikasikan jika dicurigai endokarditis.

Manajemen Sepsis: Intervensi Dini dan Komprehensif

Manajemen sepsis yang optimal memerlukan pengenalan cepat, intervensi dini, dan pendekatan multidisiplin. Surviving Sepsis Campaign telah mengembangkan bundle perawatan yang terbukti meningkatkan hasil.

Bundle Jam Pertama (Hour-1 Bundle)

Bundle jam pertama menekankan pentingnya intervensi segera dan mencakup lima elemen kunci:

  1. Pengukuran Laktat: Kadar laktat serum harus diukur segera. Laktat >2 mmol/L menunjukkan hipoperfusi jaringan dan memerlukan resusitasi agresif. Laktat juga berfungsi sebagai penanda prognostik, dengan kadar yang lebih tinggi dikaitkan dengan mortalitas yang meningkat.
  2. Kultur Darah: Kultur darah harus diperoleh sebelum pemberian antibiotik, tetapi tidak boleh menunda terapi antimikroba. Dua set kultur darah dari lokasi yang berbeda meningkatkan yield diagnostik.
  3. Pemberian Antibiotik Spektrum Luas: Terapi antimikroba empiris spektrum luas harus dimulai dalam satu jam setelah pengenalan sepsis atau syok septik. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan sumber infeksi yang paling mungkin, pola resistensi lokal, dan faktor risiko pasien untuk organisme resisten.
  4. Resusitasi Cairan: Setidaknya 30 mL/kg kristaloid intravena harus diberikan dalam 3 jam pertama untuk pasien dengan hipoperfusi. Cairan yang direkomendasikan adalah kristaloid seimbang seperti Ringer laktat atau Plasma-Lyte daripada saline normal untuk mengurangi risiko asidosis hiperkloremik.
  5. Vasopressor jika Diperlukan: Jika hipotensi persisten setelah resusitasi cairan awal, vasopressor harus dimulai untuk mencapai MAP ≥65 mmHg. Norepinefrin adalah vasopressor lini pertama yang direkomendasikan.

Resusitasi Cairan: Keseimbangan yang Kompleks

Meta-analisis terbaru yang dipublikasikan dalam BMC Anesthesiology tahun 2025 mengevaluasi hubungan antara keseimbangan cairan (fluid balance) dan mortalitas pada pasien ICU dewasa dengan sepsis atau syok septik. Melibatkan 26 studi dengan 64.755 pasien, analisis menunjukkan bahwa keseimbangan cairan kumulatif yang lebih tinggi dikaitkan dengan odds mortalitas yang lebih tinggi (OR 2,11; 95% CI 1,65-2,69). Hubungan ini konsisten di berbagai jendela waktu dan definisi keseimbangan cairan. Meta-regresi mendukung hubungan dosis-respons linier.

Temuan ini menekankan pentingnya strategi resusitasi cairan yang seimbang. Meskipun resusitasi cairan awal yang agresif penting untuk memperbaiki perfusi, akumulasi cairan yang berlebihan dapat menyebabkan edema jaringan, gangguan pertukaran gas, dan disfungsi organ. Oleh karena itu, setelah resusitasi awal, strategi de-eskalasi cairan dan manajemen keseimbangan cairan yang ketat harus diterapkan.

Terapi Vasopressor dan Optimalisasi Hemodinamik

Norepinefrin tetap menjadi vasopressor lini pertama untuk syok septik karena efek vasokonstriktor α-adrenergik yang dominan dengan efek inotropik β-adrenergik yang moderat. Target MAP standar adalah ≥65 mmHg, meskipun target yang lebih tinggi (75-85 mmHg) mungkin bermanfaat pada pasien dengan hipertensi kronis yang sudah ada sebelumnya.

Namun, tinjauan komprehensif yang dipublikasikan dalam Critical Care Medicine tahun 2025 menekankan bahwa fokus hanya pada MAP mungkin tidak cukup. Tekanan perfusi jaringan (tissue perfusion pressure/TPP), air terjun vaskular (vascular waterfall), dan efek pengobatan individual harus dipertimbangkan untuk pendekatan yang lebih personal. TPP dapat dihitung sebagai perbedaan antara tekanan pengisian sistemik rata-rata (mean systemic filling pressure/Pmsf) dan tekanan atrium kanan, atau sebagai perbedaan antara MAP dan tekanan penutupan kritis (critical closing pressure/Pcc).

Hipoperfusi persisten meskipun target makrosirkulasi memadai menandai saat penting ketika penilaian mikrosirkulasi menjadi penting untuk memandu terapi dan menghindari eskalasi cairan atau vasopressor yang berpotensi berbahaya. Pengukuran MAP, tekanan arteri diastolik, Pcc, dan Pmsf di tempat tidur menawarkan alat praktis untuk memantau dan menyesuaikan pengobatan.

Terapi Antimikroba: Timing dan Seleksi

Pemberian antibiotik dini sangat krusial. Setiap jam keterlambatan dalam pemberian antibiotik dikaitkan dengan peningkatan mortalitas sekitar 7,6%. Terapi antimikroba empiris awal harus bersifat spektrum luas, mencakup patogen yang paling mungkin berdasarkan sumber infeksi dan faktor risiko pasien.

Di Indonesia dan Asia Tenggara, pemilihan antibiotik empiris harus mempertimbangkan prevalensi tinggi organisme gram-negatif multidrug-resistant, termasuk Klebsiella pneumoniae penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) dan Acinetobacter baumannii resisten karbapenem. Kombinasi ceftazidime plus doksisiklin, atau kombinasi ceftriaxone plus doksisiklin dapat memberikan cakupan yang tepat untuk bakteri gram-negatif dan gram-positif, serta patogen atipikal seperti leptospirosis dan rickettsiosis yang umum di wilayah ini.

Setelah identifikasi mikrobiologis dan sensitivitas tersedia, terapi antimikroba harus di-de-eskalasi menjadi agen spektrum sempit yang paling tepat. Penggunaan prokalsitonin dapat memandu durasi terapi antibiotik, dengan penurunan kadar PCT mendukung penghentian antimikroba pada pasien yang membaik secara klinis.

Kontrol Sumber Infeksi

Kontrol sumber adalah komponen esensial dalam manajemen sepsis. Ini melibatkan identifikasi cepat dan intervensi untuk menghilangkan sumber infeksi. Prosedur kontrol sumber dapat mencakup drainase abses, debridemen jaringan nekrotik, pengangkatan kateter atau perangkat yang terinfeksi, atau prosedur bedah untuk infeksi intra-abdomen.

Waktu kontrol sumber sangat penting. Untuk sebagian besar sumber infeksi, kontrol sumber harus dicapai sesegera mungkin setelah resusitasi awal. Namun, keputusan mengenai waktu dan modalitas kontrol sumber harus mempertimbangkan risiko dan manfaat prosedur dalam konteks status fisiologis pasien.

Terapi Adjuvan: Bukti Terbaru

Beberapa terapi adjuvan telah diteliti untuk sepsis, dengan hasil yang bervariasi. Kortikosteroid dosis rendah (hidrokortison 200 mg/hari) dapat dipertimbangkan pada pasien dengan syok septik yang refrakter terhadap vasopressor. Namun, bukti untuk manfaat mortalitas tidak konsisten, dan keputusan harus individual berdasarkan karakteristik pasien.

Terapi vitamin C dosis tinggi, dalam kombinasi dengan tiamin dan kortikosteroid (protokol Marik), telah menghasilkan hasil yang menjanjikan dalam beberapa studi observasional, tetapi uji klinis acak besar belum menunjukkan manfaat mortalitas yang konsisten. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi peran terapi ini.

Studi pada model hewan yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Medicine tahun 2025 menyelidiki efek cetirizine dan deksametason (sendiri dan dalam kombinasi) pada kadar serum Maresin-1 (MaR-1), TNF-α, IFN-γ, IL-1, IL-2, IL-6, IL-8, dan IL-10 dalam model sepsis tikus. Kadar MaR-1 secara signifikan menurun pada semua kelompok yang diinduksi sepsis dibandingkan dengan kontrol, sementara kadar interleukin secara signifikan meningkat. Suplementasi cetirizine dan deksametason secara signifikan meningkatkan kadar MaR-1 dan menurunkan kadar interleukin (p<0,05), dengan pengobatan kombinasi lebih efektif. Studi ini adalah yang pertama menyoroti potensi MaR-1 sebagai biomarker kritis dalam diagnosis dan pemantauan sepsis.

Komplikasi Sepsis: Dampak Jangka Pendek dan Panjang

Sepsis dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mempengaruhi hampir setiap sistem organ. Dalam fase akut, komplikasi umum termasuk acute respiratory distress syndrome (ARDS), acute kidney injury (AKI), disfungsi hati, dan koagulopati.

Sindrom Pasca-Sepsis

Sindrom pasca-sepsis (post-sepsis syndrome/PSS) mencakup berbagai komplikasi jangka panjang, termasuk disregulasi imun, inflamasi kronis, dan gangguan neuromuskular, yang bertahan melampaui resolusi episode septik akut. Sementara fenotipe klinis ini semakin diakui, mekanisme molekuler yang mendasarinya tetap tidak sepenuhnya didefinisikan.

Disfungsi mitokondria, khususnya dalam bentuk senescence mitokondria yang persisten, muncul sebagai faktor pemersatu potensial yang mendorong berbagai lintasan PSS. Bukti yang terakumulasi menunjukkan bahwa mitokondria yang rusak tidak hanya kehilangan kapasitas bioenergetiknya tetapi juga secara aktif berkontribusi terhadap sinyal imun dan inflamasi kronis.

Penderita sepsis sering mengalami defisit fisik, mental, dan kognitif kronis yang menurunkan kualitas hidup mereka dan meningkatkan kebutuhan mereka untuk perawatan medis. Intervensi untuk meningkatkan hasil jangka panjang setelah sepsis masih menjadi area penelitian yang penting.

Prognosis dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Outcome

Prognosis sepsis sangat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk keparahan penyakit, usia pasien, komorbiditas yang mendasari, sumber infeksi, organisme penyebab, dan ketepatan waktu serta kepatuhan terhadap terapi.

Skor keparahan penyakit seperti SOFA dan Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) dapat membantu memprediksi mortalitas. Disfungsi organ multipel, kebutuhan ventilasi mekanis, dan kebutuhan terapi penggantian ginjal adalah prediktor independen dari hasil yang buruk.

Studi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi mortalitas sepsis pada pasien pediatrik bervariasi antara 22,5-52%. Faktor risiko yang terkait dengan mortalitas termasuk skor PELOD-2 yang tinggi, kadar laktat serum yang tinggi, dan adanya komorbiditas kronis.

Pencegahan Sepsis: Strategi Multifaset

Pencegahan sepsis memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pencegahan infeksi, identifikasi dini, dan manajemen yang tepat waktu. Langkah-langkah kunci termasuk:

  1. Pengendalian dan Pencegahan Infeksi: Praktik kebersihan tangan yang ketat, isolasi pasien yang terinfeksi, sterilisasi peralatan medis, dan penggunaan prosedur aseptik untuk prosedur invasif dapat mengurangi infeksi terkait perawatan kesehatan.
  2. Vaksinasi: Program vaksinasi yang komprehensif terhadap patogen umum seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe B, influenza, dan COVID-19 dapat mengurangi insidensi infeksi yang dapat berkembang menjadi sepsis.
  3. Sanitasi dan Kualitas Air: Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dapat mengurangi beban penyakit infeksi.
  4. Pendidikan dan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat dan profesional kesehatan tentang tanda dan gejala sepsis dapat memfasilitasi pengenalan dan pengobatan dini.
  5. Antimicrobial Stewardship: Program pengelolaan antimikroba yang tepat dapat mengurangi resistensi antimikroba, yang merupakan faktor risiko utama untuk hasil yang buruk pada sepsis.

Perspektif Masa Depan: Menuju Perawatan Presisi

Masa depan manajemen sepsis terletak pada medicine presisi dan teknologi yang muncul. Pembelajaran mesin (machine learning) dan pendekatan multi-omics meningkatkan prediksi risiko, memungkinkan identifikasi subfenotipe sepsis, dan memandu strategi pengobatan individual.

Alat tempat tidur yang menilai fungsi mikrosirkulasi dan assay biomarker cepat dapat lebih meningkatkan prognostikasi dan resusitasi. Implementasi ilmu pengetahuan yang efektif dan validasi ketat alat-alat ini akan menjadi kritis untuk menerjemahkan inovasi ke dalam hasil yang lebih baik.

Terapi yang menargetkan jalur spesifik yang diaktifkan dalam sepsis sedang dikembangkan. Molekul seperti vitamin C, ginsenoside Rc, cystatin Schistosoma japonicum, dan inhibitor gasdermin-D Y2 memberikan aksi anti-inflamasi. Melatonin dan α-ketoglutarat mengatur homeostasis mitokondria. Triiodothyronine menargetkan optimalisasi mikrosirkulasi dan mengatur jalur protektif terhadap kematian sel terkait stres. Exosome yang direkayasa dapat memfasilitasi pengiriman obat yang ditargetkan, modulasi respons inflamasi, dan aktivasi jalur yang terkait dengan kelangsungan hidup sel.

Kesimpulan

Sepsis tetap menjadi tantangan kesehatan global yang signifikan dengan mortalitas tinggi, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia. Meskipun kemajuan dalam pemahaman patofisiologi dan manajemen, beban sepsis terus meningkat, diperburuk oleh pandemi COVID-19 dan meningkatnya resistensi antimikroba.

Pengenalan dini, resusitasi yang tepat waktu dengan cairan dan vasopressor, terapi antimikroba yang cepat dan tepat, serta kontrol sumber yang efektif tetap menjadi pilar manajemen sepsis. Pendekatan multidisiplin yang mencakup pengendalian infeksi, vaksinasi, antimicrobial stewardship, dan peningkatan kesadaran sangat penting untuk pencegahan.

Perkembangan teknologi diagnostik cepat, biomarker baru, dan terapi yang ditargetkan menawarkan harapan untuk meningkatkan hasil. Namun, kesenjangan global dalam akses terhadap diagnosis tepat waktu, pengobatan berbasis bukti, dan perawatan kelangsungan hidup jangka panjang harus diatasi. Diperlukan upaya terkoordinasi dari negara-negara anggota PBB dan berbagai pemangku kepentingan di tingkat nasional, regional, dan global untuk mengurangi beban manusia, sosial, kesehatan, dan ekonomi sepsis yang signifikan.


Daftar Pustaka

Aissaoui, N., Boissier, F., Chew, M., Singer, M., & Vignon, P. (2025). Sepsis-induced cardiomyopathy. European Heart Journal, 46(34), 3339-3353. https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehaf340

Aydin, Y., Borku, M. K., Ugur, K., Eroksuz, Y., Emre, E., Incili, C. A., Sahin, İ., Acarturk, İ. Z., Aydin, S., & Lee, D. Y. (2025). Cetirizine and dexamethasone in sepsis: Insights into maresin-1 signaling and cytokine regulation. Journal of Clinical Medicine, 15(1), 198. https://doi.org/10.3390/jcm15010198

Fonda, F., Orso, D., Comisso, I., De Crignis, E., Meroi, F., Galioto, B., Bove, T., & Della Rocca, G. (2025). Fluid balance and mortality in adult ICU patients with sepsis or septic shock: A systematic review and meta-analysis of observational studies. BMC Anesthesiology, 26(1), 16. https://doi.org/10.1186/s12871-025-03518-9

Global Sepsis Alliance. (2024). 2030 Global Agenda for Sepsis. https://globalsepsisalliance.org/2030-global-agenda-for-sepsis

Gorecki, G. P., Bodor, A., Novac, M. B., Costea, D. G., Costea, D. O., Costea, A. C., Grasa, C. N., & Tomescu, D. R. (2025). Rethinking post-sepsis syndrome: Linking cellular dysfunction to the clinical picture. Critical Care, 29(1), 418. https://doi.org/10.1186/s13054-025-05491-8

Jain, A., Singh, S., & Maiwall, R. (2025). Future management of sepsis in liver cirrhosis. Journal of Clinical and Experimental Hepatology, 16(1), 103194. https://doi.org/10.1016/j.jceh.2025.103194

Kalantar, M., Rezayan, A. H., Hajghassem, H., Farazkish, M., & Moghadam, R. A. (2025). Point-of-care testing for early detection of sepsis: A systematic literature review. Clinica Chimica Acta, 578, 120569. https://doi.org/10.1016/j.cca.2025.120569

La Via, L., Sangiorgio, G., Stefani, S., Marino, A., Nunnari, G., Cocuzza, S., La Mantia, I., Cacopardo, B., Stracquadanio, S., Spampinato, S., Lavalle, S., & Maniaci, A. (2024). The global burden of sepsis and septic shock. Epidemiologia, 5(3), 456-478. https://doi.org/10.3390/epidemiologia5030032

Mirmotahari, S. A., Maghsoudi, A. S., Amini, M., Safari, M., Akrami, M., Mirnezami, S. I., Najafi, A., Kianpour, P., Mojtahedzadeh, M., & Hassani, S. (2025). Sepsis diagnosis and monitoring: Frontiers in innovative technology. Clinica Chimica Acta, 579, 120640. https://doi.org/10.1016/j.cca.2025.120640

Pamporis, K., Karakasis, P., Pantelidaki, A., Goutis, P. A., Grigoriou, K., Theofilis, P., Katsaouni, A., Botis, M., Karanikola, A. E., Milaras, N., Vlachos, K., Tsiachris, D., Pantos, C., & Mourouzis, I. (2025). Sepsis-induced cardiomyopathy and cardiac arrhythmias: Pathophysiology and implications for novel therapeutic approaches. Biomedicines, 13(11), 2643. https://doi.org/10.3390/biomedicines13112643

Plata-Menchaca, E. P., Pérez-Nieto, O. R., Kattan, E., Iba, T., & Ferrer, R. (2025). Septic shock: Past, present, and perspectives. Journal of Critical Care, 91, 155269. https://doi.org/10.1016/j.jcrc.2025.155269

Putri, N. D., Dickson, B., Baker, J., Adrizain, R., Kartina, L., Sukarja, D., Cathleen, F., Husada, D., Utomo, M. T., Yuniati, T., Sungianli, A. K., Karyanti, M. R., Harrison, M., Sharland, M., & Williams, P. C. M. (2025). Epidemiology of sepsis in hospitalised neonates in Indonesia: High burden of multidrug-resistant infections reveals poor coverage provided by recommended antibiotic regimens. Archives of Disease in Childhood, 110, 257-263. https://doi.org/10.1136/archdischild-2024-327347

Rudd, K. E., Kissoon, N., Limmathurotsakul, D., Bory, S., Mutahunga, B., Seymour, C. W., Angus, D. C., & West, T. E. (2017). Causes and outcomes of sepsis in southeast Asia: A multinational multicentre cross-sectional study. The Lancet Global Health, 5(2), e157-e167. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(17)30007-4

Rudd, K. E., Johnson, S. C., Agesa, K. M., Shackelford, K. A., Tsoi, D., Kievlan, D. R., Colombara, D. V., Ikuta, K. S., Kissoon, N., Finfer, S., Fleischmann-Struzek, C., Machado, F. R., Reinhart, K. K., Rowan, K., Seymour, C. W., Watson, R. S., West, T. E., Marinho, F., Hay, S. I., Lozano, R., … Naghavi, M. (2020). Global, regional, and national sepsis incidence and mortality, 1990-2017: Analysis for the Global Burden of Disease Study. The Lancet, 395(10219), 200-211. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)32989-7

Sanchez E, C., Taha, A., Tolba, Y., Hernandez, G., & Pinsky, M. R. (2025). Assessment of tissue perfusion pressure in patients with septic shock: Beyond mean arterial pressure. Critical Care Medicine, 53(11), e2305-e2317. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000006805

Sato, R., Sanfilippo, F., Lanspa, M., Duggal, A., & Dugar, S. (2025). Sepsis-induced cardiomyopathy: Mechanism, prevalence, assessment, prognosis, and management. Chest, 168(6), 1383-1394. https://doi.org/10.1016/j.chest.2025.08.013

The Lancet Global Health. (2025). Global, regional, and national sepsis incidence and mortality, 1990–2021: A systematic analysis. The Lancet Global Health. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(25)00356-0

Tirtayasa, P. M. W., Helmyati, S., Halimatussadiah, E., Saharman, Y. R., & Lestari, E. S. (2020). The burden and costs of sepsis and reimbursement of its treatment in a developing country: An observational study on focal infections in Indonesia. International Journal of Infectious Diseases, 96, 211-219. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2020.04.084

Wang, N., Hu, M., Zhao, W., Zhang, Y., Wu, H., Wang, J., & Yang, C. (2025). The diagnostic and prognostic value of circulating exosomal miR-21-5p/miR-181b-5p ratio in urosepsis: A prospective study. Diagnostic Microbiology and Infectious Disease, 114(2), 117190. https://doi.org/10.1016/j.diagmicrobio.2025.117190

World Health Organization. (2020). Global report on the epidemiology and burden of sepsis. https://www.who.int/publications/i/item/9789240010789

World Health Organization. (2024). Sepsis [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sepsis

Zaiema, S. E. G. E., Shalaby, N. A., Mohamed, T. H., Bayoumy, A. A. M., & Galal, R. E. S. A. M. (2025). Sepsis-induced coagulopathy: Recent insights on the role and clinical application of neutrophil extracellular trap formation. Scientific Reports, 16(1), 624. https://doi.org/10.1038/s41598-025-31771-y


Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terbaru dari PubMed, WHO, dan sumber-sumber terpercaya lainnya, dengan fokus pada konteks Indonesia dan Asia Tenggara. Informasi yang disajikan bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar