Memasuki usia lanjut, perubahan pada kemampuan berpikir, mengingat, dan merencanakan kegiatan sehari-hari merupakan hal yang lazim terjadi. Namun, tidak semua perubahan kognitif adalah bagian dari penuaan normal. Sebagian merupakan tanda awal dari kondisi yang membutuhkan perhatian medis, seperti mild cognitive impairment (MCI) atau demensia. Tantangan terbesarnya adalah membedakan kedua hal ini sedini mungkin, sebelum penurunan fungsi semakin parah.
Di sinilah peran alat skrining kognitif menjadi krusial. Salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dan diakui secara global adalah Montreal Cognitive Assessment atau MoCA. Dikembangkan lebih dari dua dekade lalu, MoCA kini telah menjadi standar rujukan dalam berbagai panduan klinis internasional untuk deteksi dini gangguan kognitif. Artikel ini membahas apa itu MoCA, bagaimana cara kerjanya, seberapa akurat ia mendeteksi masalah kognitif, serta bagaimana relevansinya dalam konteks klinis di Indonesia.
Latar Belakang: Tantangan Deteksi Dini Penurunan Kognitif
Demensia adalah sindrom yang ditandai oleh penurunan progresif pada fungsi kognitif — termasuk memori, bahasa, orientasi, dan kemampuan mengambil keputusan — hingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Kondisi ini merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang paling mendesak. Jutaan orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, dan angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
Sebelum demensia berkembang sepenuhnya, sering kali terdapat fase antara yang disebut mild cognitive impairment atau MCI. Pada fase ini, individu mengalami penurunan kognitif yang dapat diukur, tetapi masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Tingkat konversi dari MCI ke demensia cukup signifikan — penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek (2–3 tahun), sekitar 20–40% pasien MCI berkembang menjadi demensia, dan dalam jangka panjang 5–10 tahun, angkanya bisa mencapai 60–100%.
Deteksi dini pada fase MCI sangat penting karena pada tahap inilah intervensi — baik farmakologis maupun non-farmakologis — paling berpeluang memperlambat progresi penyakit. Untuk melakukan deteksi ini secara efisien dalam praktik klinis yang sibuk, diperlukan alat skrining yang singkat, mudah diadministrasikan, dan memiliki akurasi diagnostik yang baik.
Di Indonesia, tantangan ini semakin relevan. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 dalam PLOS Global Public Health melakukan scoping review terhadap riset demensia di Indonesia dan menemukan bahwa faktor risiko utama meliputi usia tua, pendidikan rendah, jenis kelamin perempuan, merokok, hipertensi, diabetes, dan inaktivitas fisik — kondisi yang amat umum dijumpai di populasi Indonesia. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa validasi alat skrining kognitif, termasuk MoCA versi Indonesia (MoCA-INA), telah dilakukan, meskipun implementasinya di layanan kesehatan primer masih terbatas.
Apa Itu MoCA?
Montreal Cognitive Assessment (MoCA) adalah instrumen skrining kognitif singkat yang dikembangkan oleh Dr. Ziad Nasreddine bersama rekan-rekannya di Montreal, Kanada, dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 2005. Instrumen ini dirancang khusus untuk mendeteksi MCI dan stadium awal demensia, terutama pada individu yang mungkin tampak “normal” pada tes skrining lain yang lebih sederhana.

MoCA dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10–12 menit dan mencakup delapan domain kognitif utama. Alat ini tersedia secara bebas dan telah diterjemahkan serta diadaptasi ke lebih dari 100 bahasa di seluruh dunia, menjadikannya salah satu instrumen skrining kognitif paling banyak digunakan secara global.
Kemunculan MoCA merespons keterbatasan yang ada pada alat skrining sebelumnya, terutama Mini-Mental State Examination (MMSE). MMSE, meskipun populer, terbukti memiliki sensitivitas yang lebih rendah dalam mendeteksi MCI karena kurang menjangkau domain seperti fungsi eksekutif, atensi kompleks, dan kefasihan bahasa. Kajian terbaru dalam Ageing Research Reviews (2024) secara eksplisit menyatakan bahwa MoCA menunjukkan superioritas dibandingkan MMSE dalam deteksi dini MCI.
Struktur dan Domain MoCA
MoCA mengevaluasi delapan domain kognitif dalam satu formulir yang terstandarisasi. Total skor maksimum adalah 30 poin, dengan setiap domain berkontribusi sejumlah poin tertentu.
1. Kemampuan Visuospasial dan Fungsi Eksekutif (5 poin)
Domain ini mencakup tiga bagian: uji Trail Making B (pasien diminta menghubungkan angka dan huruf secara bergantian), menggambar kubus tiga dimensi secara menyalin, dan menggambar jam (clock drawing test) dengan instruksi menunjukkan pukul 11.10. Bagian ini sensitif untuk mendeteksi gangguan pada frontal lobe dan kemampuan perencanaan.
2. Penamaan (Naming) (3 poin)
Pasien diminta menyebutkan nama tiga hewan yang digambarkan dalam sketsa: singa, badak, dan unta. Domain ini menguji kemampuan bahasa dan memori semantik.
3. Memori (Tidak Langsung Dinilai di Sini)
Pada bagian ini, pemeriksa membacakan lima kata kepada pasien sebanyak dua kali, namun skor tidak langsung diberikan. Pasien diminta mengingat kata-kata ini untuk diulangi pada akhir tes (delayed recall).
4. Atensi (6 poin)
Bagian ini terdiri dari tiga komponen: (a) mengulang urutan angka maju dan mundur (digit span); (b) uji vigilance — mengetukkan tangan setiap kali mendengar huruf tertentu dalam rangkaian yang dibacakan; dan (c) pengurangan berurutan tujuh dari angka 100.
5. Bahasa (3 poin)
Pasien diminta mengulang dua kalimat yang kompleks secara tepat, dan menyebutkan sebanyak mungkin kata yang dimulai dengan huruf tertentu (biasanya huruf “F”) dalam satu menit. Penilaian ini menguji kemampuan bahasa reseptif, ekspresif, dan kefasihan fonemik.
6. Abstraksi (2 poin)
Pasien diminta menyebutkan persamaan antara dua pasang benda (misalnya: kereta dan sepeda; jam tangan dan penggaris). Domain ini menguji kemampuan berpikir abstrak dan pembentukan konsep.
7. Delayed Recall / Mengingat Terlambat (5 poin)
Pada bagian akhir, pasien diminta mengingat kembali kelima kata yang dibacakan di awal tes tanpa petunjuk. Jika pasien tidak mampu mengingat tanpa bantuan, diberikan kategori semantik (semantic cue) atau pilihan ganda (multiple choice) sebagai informasi tambahan (namun tidak menambah poin).
8. Orientasi (6 poin)
Pasien ditanya tentang tanggal, bulan, tahun, hari, lokasi, dan nama kota. Domain ini menguji orientasi waktu dan tempat.
Cara Memberikan dan Menginterpretasikan Skor
Administrasi
MoCA diadministrasikan secara tatap muka oleh tenaga kesehatan terlatih — bisa dokter, perawat, atau tenaga kesehatan yang telah menjalani pelatihan singkat. Formulir tersedia dalam format cetak maupun digital. Waktu yang diperlukan rata-rata 10–12 menit.
Koreksi Pendidikan
Satu poin tambahan diberikan kepada pasien yang menempuh pendidikan formal selama 12 tahun atau kurang. Koreksi ini penting untuk mengurangi bias pendidikan — individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah cenderung mendapat skor lebih rendah, bukan karena gangguan kognitif, melainkan karena keterbatasan paparan akademik. Kajian normatif dari Portugal (2023) menegaskan bahwa usia dan tingkat pendidikan merupakan prediktor kuat skor MoCA, dengan pendidikan sebagai variabel yang lebih dominan.
Interpretasi Skor
Skor total MoCA berkisar antara 0 hingga 30. Secara konvensional, berdasarkan studi validasi awal Nasreddine et al. (2005):
- Skor ≥ 26: Fungsi kognitif dalam batas normal
- Skor 18–25: Kemungkinan MCI
- Skor < 18: Kemungkinan demensia
Namun perlu dicatat bahwa cutoff optimal dapat bervariasi tergantung populasi, bahasa, dan konteks klinis yang digunakan.
Akurasi Diagnostik: Seberapa Andal MoCA?
Deteksi MCI
Sebuah systematic review dan meta-analysis yang dipublikasikan dalam Alzheimer’s & Dementia (2023) mengevaluasi akurasi MoCA untuk mendeteksi MCI pada praktik umum dengan menganalisis 13 studi yang melibatkan 2.158 peserta. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa:
- Pada cutoff < 23: sensitivitas 73,5% dan spesifisitas 91,3%
- Pada cutoff < 24: sensitivitas 79,5% dan spesifisitas 83,7%
- Pada cutoff < 25: sensitivitas 83,8% dan spesifisitas 70,8%
Studi tersebut menyimpulkan bahwa rentang cutoff antara 23 hingga 25 memaksimalkan kombinasi sensitivitas dan spesifisitas untuk deteksi MCI, meskipun kualitas metodologi studi yang dianalisis bervariasi.
Untuk populasi Asia Timur, khususnya lansia di Cina, meta-analysis yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Psychiatry (2023) menemukan bahwa cutoff 24/25 dan 25/26 menunjukkan nilai diagnostik tertinggi (AUC = 0,96). Pada cutoff 25/26, sensitivitas lebih tinggi (0,95), sedangkan cutoff 24/25 memberikan spesifisitas lebih baik (0,89).
Deteksi Demensia
Kajian terhadap populasi Cina yang dipublikasikan dalam Age and Ageing (2021) dan melibatkan 167 studi diagnostik menemukan bahwa MoCA memiliki sensitivitas 0,93 (95% CI: 0,88–0,96) dan spesifisitas 0,90 (95% CI: 0,86–0,93) untuk mendeteksi demensia — menempatkannya di antara alat skrining dengan akurasi terbaik bersama Addenbrooke’s Cognitive Examination-Revised (ACE-R).
Penggunaan pada Populasi Bedah
Sebuah systematic review dan meta-analysis terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Anesthesia (2024) mengevaluasi utilitas MoCA pada populasi pasien bedah. Dengan cutoff skor < 26, MoCA menunjukkan sensitivitas 87% dan spesifisitas 72% untuk mengidentifikasi gangguan kognitif preoperatif. Prevalensi gangguan kognitif preoperatif pada populasi bedah mencapai 48% (95% CI: 41–54%), dan pasien dengan hasil skrining positif MoCA menjalani rawat inap rata-rata 3,33 hari lebih lama setelah operasi jantung dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan kognitif.
MoCA vs. MMSE: Perbandingan Dua Instrumen Terpopuler
Mini-Mental State Examination (MMSE) tetap menjadi alat skrining kognitif yang paling sering disebutkan dalam literatur, terutama karena lebih dulu dikenal dan mudah digunakan. Namun, bukti ilmiah kini semakin menunjukkan keunggulan MoCA untuk deteksi dini MCI.
Berikut perbedaan kunci antara keduanya:
| Aspek | MMSE | MoCA |
|---|---|---|
| Tahun dikembangkan | 1975 | 2005 |
| Waktu administrasi | ~10 menit | ~10–12 menit |
| Skor maksimum | 30 | 30 |
| Domain kognitif | 5–6 domain | 8 domain |
| Fungsi eksekutif | Minimal | Komprehensif |
| Atensi kompleks | Terbatas | Lebih rinci |
| Sensitivitas untuk MCI | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Cutoff normal standar | ≥ 24 | ≥ 26 |
Kajian dalam Ageing Research Reviews (2024) secara tegas menyatakan MoCA unggul dibandingkan MMSE dalam mendeteksi MCI dini. Perbedaan utamanya terletak pada cakupan MoCA yang lebih luas terhadap fungsi eksekutif, atensi, dan kefasihan bahasa — domain yang justru paling sering terganggu pada tahap awal MCI — sementara MMSE lebih berfokus pada orientasi, memori, dan bahasa sederhana.
Studi di Indonesia yang membandingkan MMSE dan MoCA-INA pada 83 lansia (Rambe & Fitri, 2017) menemukan korelasi yang baik antara kedua instrumen (Pearson r = 0,71, p < 0,005). Rata-rata skor MMSE adalah 24,96 (±3,38), sedangkan MoCA-INA 21,06 (±4,56) — menunjukkan bahwa MoCA cenderung memberikan skor lebih rendah dengan rentang yang lebih lebar, yang mencerminkan sensitivitasnya yang lebih tinggi terhadap penurunan kognitif.
Penggunaan MoCA dalam Berbagai Kondisi Klinis
Keunggulan MoCA bukan hanya terletak pada sensitivitasnya yang tinggi, tetapi juga pada fleksibilitasnya untuk digunakan lintas berbagai kondisi klinis.
Gangguan Neurodegeneratif
MoCA banyak digunakan pada penilaian pasien dengan penyakit Alzheimer, demensia vascular, dan penyakit Parkinson. Pada penyakit Parkinson, penurunan pada domain visuospasial dan fungsi eksekutif sering terdeteksi lebih awal melalui MoCA.
Long-COVID
Kajian komprehensif yang dipublikasikan dalam Ideggyógyászati Szemle (2024) mengenai gangguan kognitif akibat long-COVID menyebutkan MoCA sebagai instrumen penting dalam asesmen “kabut otak” (brain fog), kesulitan konsentrasi, gangguan memori, dan defisit fungsi eksekutif yang menjadi karakteristik kondisi ini.
Penilaian Pra-operasi
Seperti telah disebutkan, MoCA terbukti bermanfaat dalam skrining preoperatif untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko komplikasi kognitif pasca-operasi, termasuk delirium pasca-operasi. Deteksi dini ini membantu tim anestesiologi dan bedah merancang strategi perioperatif yang lebih aman.
Diabetes Melitus Tipe 2
Di Indonesia, penelitian dari FKUI/RSCM (2019) menggunakan MoCA-INA untuk menilai fungsi kognitif pada pasien diabetes melitus tipe 2 berusia kurang dari 60 tahun dan menemukan prevalensi MCI sebesar 48,5%. Domain delayed recall menjadi yang paling sering terganggu, dialami oleh 94,8% pasien dengan MCI. Temuan ini menegaskan pentingnya skrining kognitif rutin pada populasi dengan faktor risiko metabolik.
Penyakit Kardiovaskular dan Stroke
Gangguan kognitif pasca-stroke merupakan kondisi yang sering diremehkan. MoCA — terutama versi spesifik seperti MoCA-Basic (MoCA-B) yang dapat digunakan bahkan pada individu dengan keterbatasan membaca dan menulis — telah digunakan untuk memantau pemulihan kognitif pasca-stroke dan menilai dampak kognitif pada penyakit pembuluh darah serebral.
Keterbatasan MoCA
Meskipun MoCA merupakan instrumen yang sangat berguna, terdapat sejumlah keterbatasan penting yang perlu dipahami oleh klinisi dan pembaca.
Pengaruh Pendidikan dan Budaya
MoCA sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan latar belakang budaya. Individu dengan pendidikan rendah atau yang berasal dari latar belakang dengan akses terbatas terhadap literasi dan berhitung dapat menghasilkan skor yang lebih rendah, meskipun tidak mengalami gangguan kognitif. Koreksi satu poin untuk pendidikan ≤ 12 tahun hanyalah pendekatan kasar dan mungkin tidak cukup untuk populasi dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah.
Variabilitas Cutoff Antar Populasi
Tidak ada nilai cutoff tunggal yang berlaku universal. Cutoff optimal bervariasi berdasarkan usia, tingkat pendidikan, bahasa, dan konteks klinis. Studi normatif dari Portugal (2023) menemukan bahwa pendidikan adalah prediktor kuat skor MoCA, sehingga data normatif perlu diadaptasi untuk setiap populasi. Hal serupa berlaku untuk Indonesia.
Bukan Alat Diagnostik
MoCA adalah alat skrining, bukan alat diagnosis. Skor rendah pada MoCA tidak secara otomatis berarti seseorang menderita MCI atau demensia; diperlukan pemeriksaan neuropsikologis yang komprehensif untuk menegakkan diagnosis. Sebaliknya, skor normal tidak selalu berarti tidak ada masalah — terutama pada individu dengan tingkat pendidikan atau kecerdasan premorbid yang sangat tinggi.
Efek Pembelajaran (Practice Effect)
Penggunaan MoCA yang berulang pada interval pendek dapat menyebabkan pasien “belajar” menjawab pertanyaan, sehingga skor meningkat bukan karena perbaikan kognitif yang sesungguhnya. Hal ini perlu diperhatikan dalam pemantauan longitudinal.
Keterbatasan Bahasa
Beberapa item MoCA, terutama uji kefasihan fonemik (mengucapkan kata yang dimulai dengan huruf tertentu), sangat bergantung pada struktur linguistik bahasa yang digunakan. Adaptasi yang cermat diperlukan untuk setiap versi bahasa.
MoCA di Indonesia: MoCA-INA
Untuk digunakan di Indonesia, MoCA telah diadaptasi dan divalidasi menjadi MoCA-INA (versi Indonesia). Adaptasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan nuansa linguistik dan budaya Indonesia, termasuk pemilihan hewan untuk uji penamaan dan kata-kata untuk uji kefasihan.
Studi yang dilakukan oleh Rambe dan Fitri (2017) dari Universitas Sumatera Utara memvalidasi MoCA-INA pada populasi lansia Indonesia dan menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki korelasi yang baik dengan MMSE namun memberikan skor yang lebih rendah dengan distribusi yang lebih lebar, mencerminkan sensitivitasnya yang lebih tinggi.
Kajian scoping review terbaru mengenai riset demensia di Indonesia (Tjin et al., 2026) menegaskan bahwa MoCA-INA termasuk dalam alat skrining kognitif yang telah tervalidasi untuk populasi Indonesia. Namun, tantangan implementasinya di layanan kesehatan primer masih signifikan, dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas tenaga kesehatan dan infrastruktur.
Dalam praktik klinis di Indonesia, MoCA-INA kini digunakan di berbagai fasilitas kesehatan sekunder dan tersier untuk skrining demensia, khususnya di departemen neurologi dan geriatri rumah sakit besar. Penggunaannya di layanan kesehatan primer (puskesmas dan klinik pratama) masih perlu diperluas, mengingat besarnya beban penyakit yang belum terdiagnosis.
Versi-Versi Alternatif MoCA
Seiring berkembangnya penelitian, beberapa versi MoCA telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan spesifik:
MoCA-Basic (MoCA-B): Dikembangkan untuk individu dengan pendidikan rendah atau yang mengalami keterbatasan membaca dan menulis. Uji kefasihan fonemik berbasis huruf digantikan dengan tugas yang lebih relevan secara budaya.
MoCA Blind: Versi yang diadaptasi untuk individu dengan gangguan penglihatan, menghilangkan semua item berbasis visual.
MoCA via Telepon: Dikembangkan untuk administrasi jarak jauh, berguna dalam pelayanan telemedicine, menghilangkan item yang memerlukan observasi visual langsung.
MoCA EDGE: Dikembangkan untuk pasien dengan keterbatasan motorik, misalnya pada penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), di mana pasien mungkin tidak mampu menulis atau menggambar.
Implikasi Klinis dan Rekomendasi
Pemahaman yang tepat tentang MoCA memiliki implikasi langsung bagi praktik klinis. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan:
Skrining proaktif pada populasi berisiko tinggi. Lansia berusia ≥ 60 tahun, pasien dengan diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia, riwayat stroke, penyakit jantung, depresi, atau penurunan pendengaran adalah kelompok yang perlu diskrining secara berkala menggunakan MoCA. Penelitian pada pasien diabetes di Indonesia menunjukkan prevalensi MCI yang sangat tinggi (48,5%), namun kondisi ini sering tidak terdeteksi.
Interpretasi skor harus kontekstualisasi. Skor MoCA tidak boleh dibaca secara isolasi. Faktor seperti usia, tingkat pendidikan, bahasa ibu, kondisi emosional saat tes (misalnya kecemasan atau depresi), serta kondisi medis akut dapat memengaruhi hasil. Pasien dengan pendidikan rendah perlu interpretasi yang lebih hati-hati.
Tindak lanjut pada skor abnormal. Skor MoCA yang menunjukkan kemungkinan MCI atau demensia harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan neuropsikologis yang lebih komprehensif, anamnesis kolateral dari keluarga atau pengasuh, evaluasi laboratorium, dan jika diperlukan, neuroimaging.
Pemantauan longitudinal. Pada pasien yang telah teridentifikasi memiliki MCI, MoCA dapat digunakan sebagai salah satu alat pemantauan perubahan kognitif dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan efek pembelajaran.
Pelatihan yang memadai. Meskipun MoCA relatif sederhana, administrasi yang tidak terstandar dapat menghasilkan skor yang tidak valid. Tenaga kesehatan perlu mendapatkan pelatihan yang memadai, termasuk memahami cara memberikan instruksi yang tepat dan cara menafsirkan hasil.
Penutup
Montreal Cognitive Assessment (MoCA) telah membuktikan dirinya sebagai salah satu alat skrining kognitif terbaik yang tersedia saat ini. Dengan waktu administrasi yang singkat, cakupan domain kognitif yang luas, dan bukti akurasi diagnostik yang solid dari berbagai studi global, MoCA menjadi pilihan utama untuk deteksi dini MCI dan demensia di berbagai setting klinis.
Di Indonesia, kehadiran MoCA-INA membuka peluang untuk meningkatkan deteksi dini gangguan kognitif di populasi yang besar dan beragam. Mengingat tingginya prevalensi faktor risiko demensia — dari diabetes, hipertensi, hingga pendidikan rendah — serta masih terbatasnya akses ke layanan spesialis neurologi di berbagai wilayah, MoCA-INA dapat menjadi jembatan penting antara deteksi dini di layanan primer dan tata laksana lanjutan di fasilitas tersier.
Namun, MoCA bukanlah alat yang sempurna dan tidak dapat berdiri sendiri. Ia adalah pintu pertama dalam sebuah proses evaluasi yang lebih panjang dan komprehensif. Memahami kekuatan dan keterbatasannya adalah kunci untuk menggunakannya secara bijaksana demi kepentingan terbaik pasien.
Daftar Referensi
Damanik, J., Mayza, A., Rachman, A., Sauriasari, R., Kristanti, M., Agustina, P. S., Angianto, A. R., Prawiroharjo, P., & Yunir, E. (2019). Association between serum homocysteine level and cognitive function in middle-aged type 2 diabetes mellitus patients. PLoS ONE, 14(11), e0224611. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0224611
Danquah, M. O., Yan, E., Lee, J. W., Philip, K., Saripella, A., Alhamdah, Y., He, D., Englesakis, M., & Chung, F. (2024). The utility of the Montreal cognitive assessment (MoCA) in detecting cognitive impairment in surgical populations — A systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical Anesthesia, 97, 111551. https://doi.org/10.1016/j.jclinane.2024.111551
Gonçalves, J., Gerardo, B., Nogueira, J., Afonso, R. M., & Freitas, S. (2023). Montreal Cognitive Assessment (MoCA): An update normative study for the Portuguese population. Applied Neuropsychology: Adult, 32(4), 1148–1154. https://doi.org/10.1080/23279095.2023.2252949
Huo, Z., Lin, J., Bat, B. K. K., Chan, J. Y. C., Tsoi, K. K. F., & Yip, B. H. K. (2021). Diagnostic accuracy of dementia screening tools in the Chinese population: A systematic review and meta-analysis of 167 diagnostic studies. Age and Ageing, 50(4), 1093–1101. https://doi.org/10.1093/ageing/afab005
Islam, N., Hashem, R., Gad, M., Brown, A., Levis, B., Renoux, C., Thombs, B. D., & McInnes, M. D. F. (2023). Accuracy of the Montreal Cognitive Assessment tool for detecting mild cognitive impairment: A systematic review and meta-analysis. Alzheimer’s & Dementia, 19(7), 3235–3243. https://doi.org/10.1002/alz.13040
Mian, M., Tahiri, J., Eldin, R., Altabaa, M., Sehar, U., & Reddy, P. H. (2024). Overlooked cases of mild cognitive impairment: Implications to early Alzheimer’s disease. Ageing Research Reviews, 98, 102335. https://doi.org/10.1016/j.arr.2024.102335
Nasreddine, Z. S., Phillips, N. A., Bédirian, V., Charbonneau, S., Whitehead, V., Collin, I., Cummings, J. L., & Chertkow, H. (2005). The Montreal Cognitive Assessment, MoCA: A brief screening tool for mild cognitive impairment. Journal of the American Geriatrics Society, 53(4), 695–699. https://doi.org/10.1111/j.1532-5415.2005.53221.x
Rambe, A. S., & Fitri, F. I. (2017). Correlation between the Montreal Cognitive Assessment-Indonesian Version (MoCA-INA) and the Mini-Mental State Examination (MMSE) in elderly. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 5(7), 915–919. https://doi.org/10.3889/oamjms.2017.202
Sun, R., Ge, B., Wu, S., Li, H., & Lin, L. (2023). Optimal cut-off MoCA score for screening for mild cognitive impairment in elderly individuals in China: A systematic review and meta-analysis. Asian Journal of Psychiatry, 87, 103691. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2023.103691
Tjin, A., Fitri, F. I., Maitimoe, M., Syafitri, D., Mawaddah, S., Le, T., Ma’ruf, F. A., Bauermeister, S., Stewart, R., Leroi, I., & Maharani, A. (2026). Mapping dementia research in Indonesia: A scoping review of evidence, gaps, and future directions. PLOS Global Public Health, 6(3), e0005444. https://doi.org/10.1371/journal.pgph.0005444
Tozkir, J., Turkmen, C., & Topcular, B. (2024). Cognitive impairment in long-COVID. Ideggyógyászati Szemle, 77(5–6), 151–159. https://doi.org/10.18071/isz.77.0151
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi. Bagi individu yang mencurigai adanya penurunan kognitif pada diri sendiri atau anggota keluarga, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan profesional untuk evaluasi yang tepat.

Tinggalkan komentar