A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mengapa Terapi Ajuvan Menjadi Domain Tersendiri?

Penanganan sepsis bertumpu pada tiga pilar utama: kontrol sumber infeksi, antimikroba yang tepat dan tepat waktu, serta resusitasi hemodinamik. Namun selama beberapa dekade, intensivis dan peneliti terus bereksperimen dengan berbagai intervensi tambahan — adjunctive therapies — yang bertujuan memodulasi respons imun yang disregulasi, memperbaiki fungsi organ yang terganggu, atau mencegah komplikasi sekunder sepsis.

Pedoman SSC 2026 mencakup 8 pernyataan untuk terapi ajuvan sepsis secara spesifik, ditambah 13 pernyataan untuk manajemen suportif tambahan. Bersama-sama, domain ini merupakan arena di mana perubahan terbesar dan paling kontroversial terjadi antara SSC 2021 dan SSC 2026 — dengan sejumlah terapi yang sebelumnya dipandang menjanjikan kini secara tegas tidak direkomendasikan.

Meskipun lebih dari 80% klinisi ICU di Eropa dilaporkan menggunakan setidaknya satu terapi ajuvan untuk syok septik dalam setahun terakhir — dengan kortikosteroid digunakan oleh lebih dari 90% klinisi, diikuti oleh teknik pemurnian darah ekstrakorporeal (75%) dan imunoglobulin IV (sepertiga klinisi) — praktik klinis ini sering kali jauh melampaui apa yang didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

Artikel ini memetakan seluruh lanskap terapi ajuvan dalam SSC 2026, mulai dari yang mendapat dukungan hingga yang secara eksplisit ditolak, beserta dasar ilmiah di balik setiap keputusan tersebut.


1. Kortikosteroid Intravena — Satu-Satunya Ajuvan yang Disarankan

Dari seluruh terapi ajuvan yang dibahas dalam SSC 2026, kortikosteroid intravena adalah satu-satunya yang mendapat rekomendasi positif — dan ini telah konsisten sejak pedoman SSC 2021.

Untuk orang dewasa dengan syok septik, SSC menyarankan penggunaan kortikosteroid IV (rekomendasi kondisional, bukti rendah).

Dosis dan cara pemberian yang digunakan berdasarkan praktik klinis yang telah mapan adalah hidrokortison IV 200 mg/hari, diberikan sebagai 50 mg setiap 6 jam atau infus kontinu, dimulai ketika dosis norepinefrin atau epinefrin ≥0,25 µg/kg/menit selama setidaknya 4 jam.

Dasar fisiologis: Konsep yang mendasarinya bukan imunosupresi dengan dosis tinggi — melainkan penggantian kortisol fisiologis dalam kondisi stres berat (relative adrenal insufficiency). Pada syok septik, respons kortisol terhadap ACTH seringkali tidak memadai, yang berkontribusi pada vasoplegi yang persisten. Hidrokortison dosis rendah bekerja sebagai agen vasopresor tambahan melalui upregulasi reseptor adrenergik, sekaligus memiliki efek antiinflamasi moderat.

Manfaat utama yang konsisten terbukti adalah percepatan resolusi syok (terlepas dari vasopressor lebih cepat) dan peningkatan jumlah hari bebas vasopressor — meskipun manfaat mortalitas tidak konsisten dalam semua studi. Peringatan penting yang harus selalu diingat: penggunaan kortikosteroid dikaitkan dengan peningkatan risiko hiperglikemia, hiponatremia, dan kelemahan neuromuskular ICU (critical illness myopathy), terutama bila dikombinasikan dengan NMBA.

Kapan menghentikan: Kortikosteroid umumnya diturunkan secara bertahap (bukan dihentikan mendadak) setelah vasopressor berhasil dihentikan, untuk menghindari rebound inflamasi.


2. Vitamin C Intravena — Dari “Menjanjikan” Menjadi “Tidak Direkomendasikan”

Perjalanan vitamin C IV dalam pedoman sepsis adalah contoh paling dramatis dari bagaimana harapan klinis yang besar bisa runtuh ketika diuji secara ketat.

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan vitamin C IV (rekomendasi kondisional, bukti rendah).

Rekomendasi ini merupakan perubahan signifikan dari SSC 2021, yang saat itu — berdasarkan bukti yang masih tidak mencukupi — belum dapat mengeluarkan rekomendasi positif maupun negatif.

Latar belakang: Antusiasme terhadap vitamin C IV sepsis berawal dari studi sebelum-sesudah oleh Marik et al. (2017) yang menunjukkan penurunan mortalitas dramatis dengan protokol “HAT” (Hidrokortison + Asam askorbat/vitamin C + Tiamin). Hipotesisnya menarik secara biologis: sepsis menyebabkan deplesi vitamin C plasma, dan vitamin C memiliki sifat antioksidan dan imunomodulasi yang relevan.

Namun uji klinis acak terkontrol (RCT) yang mengikutinya — termasuk VITAMINS, CITRIS-ALI, ORANGES, dan LOVIT — secara konsisten gagal mereproduksi manfaat yang ditunjukkan dalam studi observasional awal. Uji LOVIT bahkan menemukan sinyal yang mengkhawatirkan: vitamin C IV dosis tinggi (66,7 mg/kg tiap 6 jam) dikaitkan dengan peningkatan mortalitas 28 hari (34,7% vs 27,1%) dibandingkan plasebo. Vitamin C kini mendapat perhatian khusus karena studi terkini menunjukkan kemungkinan kaitannya dengan peningkatan mortalitas.

Pelajaran metodologis yang penting: studi sebelum-sesudah yang tidak terkontrol, meski menimbulkan hipotesis yang menarik, tidak dapat menjadi dasar rekomendasi klinis — terutama untuk intervensi yang secara fisiologis kompleks.


3. Imunoglobulin Intravena (IVIG) — Tetap Tidak Direkomendasikan

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan imunoglobulin IV (kondisional, bukti rendah).

Rekomendasi ini konsisten dengan SSC 2021. Alasan teoritis IVIG menarik: sepsis menyebabkan penurunan kadar imunoglobulin serum, dan IVIG mengandung antibodi poliklonal yang dapat menetralisir patogen dan toksin secara langsung. Namun uji klinis — termasuk SBITS, SepsiG-IgM, dan meta-analisis terkini — tidak menunjukkan manfaat mortalitas yang konsisten. Uji SBITS menginvestigasi efikasi pengobatan 2 hari dengan IgG poliklonal pada 647 pasien sepsis dan tidak menemukan perbedaan dalam ketahanan hidup 28 hari dan durasi ventilasi mekanik.

Meskipun demikian, patut dicatat bahwa populasi tertentu mungkin berbeda: pasien dengan defisiensi imunoglobulin primer yang terdokumentasi atau kondisi imunokompromi dengan kadar imunoglobulin rendah yang terukur bisa jadi merupakan kelompok yang berbeda dari sepsis umum. Penelitian yang sedang berjalan sedang menyelidiki apakah pendekatan yang dipandu oleh kadar imunoglobulin serum atau fenotipe imun tertentu dapat mengidentifikasi subkelompok yang benar-benar mendapat manfaat.


4. Pemurnian Darah Ekstrakorporeal — Penegasan Tegas yang Diperluas

Ini adalah perubahan terpenting dalam domain terapi ajuvan SSC 2026 dibandingkan SSC 2021.

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan teknik pemurnian darah, termasuk hemoperfusi, hemofiltrasi dosis tinggi, atau pertukaran plasma (kondisional).

Rekomendasi ini merupakan penurunan (downgraded) dari SSC 2021, yang sebelumnya hanya menyarankan untuk tidak menggunakan hemoperfusi polimiksin B secara spesifik, sementara untuk teknik lain pernyataannya adalah “tidak cukup bukti untuk membuat rekomendasi.”

SSC 2026 kini secara tegas memperluas rekomendasi negatif ini ke seluruh teknik pemurnian darah, termasuk:

Hemoperfusi polimiksin B: Dirancang untuk menyerap endotoksin bakteri Gram-negatif. Studi EUPHRATES menemukan tidak ada manfaat keseluruhan, bahkan terdapat sinyal bahaya pada beberapa subkelompok.

Hemofiltrasi dosis tinggi (high-volume hemofiltration): Bertujuan mengeluarkan sitokin proinflamasi berukuran sedang-besar. Meskipun studi observasional kecil dan laporan kasus telah menunjukkan perbaikan hemodinamik dan klinis anekdotal, uji klinis terkontrol belum mampu menunjukkan manfaat mortalitas yang konsisten.

Hemoadsorpsi sitokin (CytoSorb®, HA-330, dan sejenisnya): Teknologi ini menjadi sangat populer dalam dekade terakhir dengan klaim mampu menyerap sitokin proinflamasi dari sirkulasi. Heterogenitas desain uji klinis, fenotipisasi pasien yang tidak memadai, dan variabilitas dalam protokol perlakuan telah menghasilkan hasil klinis yang tidak meyakinkan atau bertentangan — termasuk beberapa uji yang menunjukkan potensi bahaya.

Pertukaran plasma (plasma exchange): Mengganti plasma pasien (yang kaya mediator inflamasi) dengan plasma donor segar beku. Secara teoritis menarik, namun bukti klinis yang kuat masih sangat terbatas.

Pesan inti: Dasar patofisiologi dan data berbasis bukti berargumen melawan penggunaan rutin hemoadsorpsi dalam sepsis. Pedoman saat ini merekomendasikan untuk tidak menggunakan teknik pemurnian darah manapun di luar konteks eksperimental. Ini bukan berarti penelitian harus berhenti — melainkan bahwa penggunaan klinis rutin sebelum bukti manfaat yang solid adalah tidak tepat, terlebih mengingat biaya yang sangat tinggi dan potensi bahaya yang belum sepenuhnya dipahami.


5. Antipiretik — Tidak Direkomendasikan untuk Perbaikan Luaran Klinis

Ini adalah rekomendasi baru dalam SSC 2026 yang mungkin mengejutkan banyak klinisi:

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan terapi antipiretik — baik farmakologis maupun pendinginan permukaan — dengan tujuan memperbaiki luaran klinis (kondisional, bukti sangat rendah). Rekomendasi ini tidak berlaku untuk penggunaan antipiretik sebagai kontrol nyeri, pengendalian gejala pasien, atau pada pasien dengan indikasi lain untuk kontrol suhu, seperti pasien neurocritical care atau pasca-henti jantung.

Dasar biologisnya adalah pandangan baru bahwa demam dalam sepsis bukan semata-mata “musuh” yang harus ditumpas — melainkan respons adaptif yang mungkin memiliki manfaat. Demam meningkatkan aktivitas fagositik, menghambat replikasi beberapa patogen, dan memperkuat respons imun bawaan. Beberapa studi observasional justru menemukan mortalitas lebih rendah pada pasien sepsis yang mengalami demam dibandingkan yang hipotermi.

Ini tidak berarti demam tidak perlu dimonitor atau tidak perlu ditangani sama sekali — namun pengelolaan demam harus diarahkan pada kenyamanan pasien dan situasi klinis spesifik (seperti peningkatan konsumsi oksigen pada pasien dengan cadangan kardiorespirasi terbatas), bukan sebagai strategi rutin untuk memperbaiki luaran.


6. Vitamin D — Tidak Direkomendasikan untuk Pengobatan Sepsis

Untuk orang dewasa dengan sepsis dan syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan terapi vitamin D untuk pengobatan sepsis (kondisional, bukti sangat rendah). Rekomendasi ini tidak berlaku untuk pasien yang sedang mengonsumsi vitamin D dosis rendah untuk indikasi lain, atau yang menerimanya sebagai bagian dari praktik nutrisi standar.

Defisiensi vitamin D prevalensinya tinggi pada pasien kritis, dan vitamin D memiliki peran yang berdokumentasi dalam modulasi imun dan fungsi endotel. Namun uji klinis terkontrol pada sepsis belum menunjukkan manfaat dari suplementasi vitamin D.


7. XueBiJing Injection — Khusus di Luar Jurisdiksi yang Menyetujuinya

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan injeksi XueBiJing di luar yurisdiksi yang memiliki persetujuan regulasinya (kondisional, bukti sangat rendah).

XueBiJing adalah produk obat tradisional Tiongkok yang mengandung ekstrak dari lima tanaman obat (Carthamus tinctorius, Paeonia lactiflora, Conioselinum anthriscoides, Angelica sinensis, dan Ligusticum chuanxiong), yang telah mendapat persetujuan di Tiongkok untuk pengobatan sepsis. Beberapa uji klinis di Tiongkok menunjukkan hasil menjanjikan, namun metodologinya dinilai tidak memenuhi standar internasional yang ketat, sehingga SSC tidak merekomendasikan penggunaannya di luar konteks regulasi yang telah menyetujuinya.


8. Manajemen Suportif Tambahan — Tindakan yang Tidak Kalah Penting

Di luar terapi ajuvan spesifik, SSC 2026 menetapkan sejumlah rekomendasi untuk tata laksana suportif komprehensif yang menjadi standar perawatan pasien sepsis di ICU.

Kontrol Glikemik

Sepsis sering menyebabkan hiperglikemia stres — kondisi di mana kadar glukosa darah meningkat akibat resistensi insulin yang diinduksi oleh sitokin dan katekolamin. Hiperglikemia berat dikaitkan dengan disfungsi imun, gangguan penyembuhan luka, dan kerusakan endotel tambahan. Namun hipoglikemia iatrogenik akibat pengendalian gula yang terlalu agresif juga berbahaya, bahkan dikaitkan dengan peningkatan mortalitas dalam uji NICE-SUGAR.

SSC 2026 mempertahankan rekomendasi yang telah mapan: mulai terapi insulin ketika glukosa darah ≥180 mg/dL (10 mmol/L) pada dua pengukuran berturutan, dengan target glikemik atas ≤180 mg/dL — bukan target ketat ≤110 mg/dL. Pemantauan glukosa dilakukan setiap 1–2 jam hingga dosis insulin dan nilai glukosa stabil, kemudian setiap 4 jam.

Strategi Transfusi Darah Restriktif

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC merekomendasikan penggunaan strategi transfusi restriktif dibandingkan liberal (rekomendasi kuat, bukti moderat). Strategi transfusi restriktif tipikal mencakup ambang transfusi konsentrasi hemoglobin 70 g/L (7 g/dL), namun transfusi sel darah merah tidak boleh dipandu semata oleh kadar hemoglobin. Penilaian menyeluruh terhadap status klinis pasien dan pertimbangan kondisi khusus seperti iskemia miokardium akut, hipoksemia berat, atau perdarahan akut tetap diperlukan.

Rekomendasi ini bertentangan dengan intuisi lama bahwa pasien sakit kritis membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga kadar hemoglobin harus dipertahankan lebih tinggi. Uji klinis besar (TRICC, TRISS) telah membuktikan bahwa strategi restriktif (transfusi di bawah Hb 7 g/dL) memberikan luaran yang setara atau lebih baik dibandingkan strategi liberal (transfusi di bawah Hb 9–10 g/dL), dengan risiko transfusi lebih rendah.

Profilaksis Tromboemboli Vena (VTE)

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC merekomendasikan penggunaan profilaksis VTE farmakologis kecuali ada kontraindikasi (rekomendasi kuat, bukti moderat). SSC merekomendasikan penggunaan heparin berat molekul rendah (low molecular weight heparin/LMWH) dibandingkan heparin tidak terfraksi untuk profilaksis VTE (rekomendasi kuat, bukti moderat). SSC menyarankan penggunaan profilaksis VTE farmakologis saja dibandingkan profilaksis farmakologis plus mekanis (kondisional, bukti moderat).

Pasien sepsis yang diimobilisasi di ICU berisiko tinggi untuk trombosis vena dalam (deep vein thrombosis) dan emboli paru. LMWH lebih diutamakan karena bioavailabilitasnya lebih dapat diprediksi, tidak memerlukan pemantauan aktif, dan menunjukkan efikasi superior dalam beberapa meta-analisis.

Profilaksis Tukak Stres

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik dan faktor risiko perdarahan GI, SSC menyarankan penggunaan profilaksis tukak stres dengan inhibitor pompa proton (proton pump inhibitor/PPI) dibandingkan tidak menggunakannya (kondisional, bukti moderat).

Faktor risiko perdarahan GI klinis yang relevan meliputi koagulopati, ventilasi mekanik >48 jam, riwayat ulkus peptikum, penggunaan kortikosteroid, dan gangguan ginjal akut. Catatan: PPI dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi Clostridioides difficile dan pneumonia nosokomial pada beberapa studi, sehingga penggunaannya tidak boleh bersifat otomatis pada semua pasien — melainkan dipandu oleh penilaian risiko perdarahan.

Nutrisi Enteral Dini

Pasien sepsis yang diventilasi mekanik harus mendapatkan nutrisi enteral dini (dalam 24–72 jam) bila memungkinkan, daripada nutrisi parenteral. Pemberian nutrisi enteral secara dini mempertahankan integritas mukosa usus, mencegah translokasi bakteri, dan memberikan substrat untuk pemulihan metabolik. SSC 2021 telah merekomendasikan nutrisi enteral dini (dalam 72 jam) pada pasien yang dapat diberi makan secara enteral; rekomendasi ini dipertahankan dalam SSC 2026.

Probiotik — Kini Tidak Direkomendasikan

Untuk orang dewasa dengan sepsis atau syok septik, SSC menyarankan untuk tidak menggunakan probiotik (kondisional, bukti sangat rendah).

Ini adalah rekomendasi baru dalam SSC 2026 — sebelumnya tidak dibahas. Meskipun probiotik menjanjikan dalam menjaga keseimbangan mikrobioma usus yang terganggu oleh antibiotik spektrum luas, meta-analisis terkini pada populasi kritis tidak menunjukkan manfaat mortalitas atau komplikasi yang konsisten, dan ada kekhawatiran tentang risiko translokasi bakteri probiotik pada pasien imunokompromi berat.

Pengeluaran Cairan Aktif Pasca-Resusitasi Akut

Untuk orang dewasa dengan syok septik setelah fase resusitasi akut, SSC menyarankan penggunaan pengeluaran cairan aktif (kondisional, bukti sangat rendah). Pengeluaran cairan aktif merujuk pada diuretik, dan jika diuretik tidak cukup, ultrafiltrasi atau pengeluaran cairan ekstrakorporeal. Faktor yang perlu dipertimbangkan saat memutuskan untuk memulai pengeluaran cairan aktif meliputi fungsi kardiorespirasi, dosis vasopressor, perjalanan klinis, edema perifer, berat badan, dan keseimbangan cairan.

Kelebihan cairan yang terakumulasi selama fase resusitasi agresif berkontribusi pada edema paru, perpanjangan ventilasi mekanik, dan gangguan fungsi organ. Fase de-eskalasi — secara aktif mengeluarkan kelebihan cairan setelah kondisi stabil — kini diakui sebagai bagian penting dari tata laksana sepsis jangka panjang.


Gambaran Keseluruhan: Peta Terapi Ajuvan SSC 2026

Tabel berikut merangkum posisi SSC 2026 terhadap berbagai terapi ajuvan, termasuk perubahan dari SSC 2021:

TerapiSSC 2026Perubahan vs 2021
Kortikosteroid IV (syok septik)Disarankan ✓Konsisten
Vitamin C IVTidak disarankan ✗Diperketat (sebelumnya: bukti tidak cukup)
IVIGTidak disarankan ✗Konsisten
Pemurnian darah (hemoperfusi, hemofiltrasi dosis tinggi, pertukaran plasma)Tidak disarankan ✗Diperluas (sebelumnya: hanya polimiksin B)
Polimiksin B hemoperfusiTidak disarankan ✗Konsisten
Antipiretik untuk perbaikan luaranTidak disarankan ✗Baru
Vitamin D untuk terapi sepsisTidak disarankan ✗Baru
ProbiotikTidak disarankan ✗Baru
XueBiJing (di luar jurisdiksi yang menyetujui)Tidak disarankan ✗Konsisten

Pelajaran Metodologis: Mengapa Begitu Banyak Terapi Ajuvan Gagal?

Heterogenitas desain uji klinis, fenotipisasi pasien yang tidak memadai, dan variabilitas protokol perlakuan telah menghasilkan hasil klinis yang tidak meyakinkan atau bertentangan, termasuk beberapa uji yang menunjukkan potensi bahaya.

Kegagalan beruntun terapi ajuvan sepsis mengajarkan beberapa pelajaran metodologis yang penting:

Sepsis adalah sindrom, bukan penyakit tunggal. Pasien sepsis sangat heterogen dalam hal patogen penyebab, sumber infeksi, status imun, komorbiditas, dan fase respons imun. Terapi yang mungkin bermanfaat untuk pasien dengan hiperinflamasi awal mungkin berbahaya pada pasien dengan imunoparalisis lanjut. Uji klinis tanpa stratifikasi fenotipe yang tepat akan selalu menghasilkan efek yang terdilusi.

Hasil positif pada studi observasional tidak dapat langsung diterjemahkan ke terapi. Studi vitamin C oleh Marik adalah contoh paling jelas. Bias seleksi dan confounding dalam desain sebelum-sesudah tanpa kontrol yang tepat dapat menciptakan efek yang tampak dramatis namun palsu.

“Secara biologis masuk akal” tidak cukup. Hampir semua terapi ajuvan yang gagal dalam RCT memiliki dasar patofisiologis yang meyakinkan. Biologi yang kompleks, dengan redundancy sitokin dan umpan balik kompensatorik, sering kali menggagalkan intervensi tunggal yang ditargetkan pada satu titik dalam kaskade inflamasi.

Penelitian fenotipe dan biomarker diperlukan. Jalur menuju penerapan efektif pemurnian darah — dan mungkin terapi ajuvan lainnya — dalam sepsis terletak pada terapi individual yang dipandu oleh profil imun, stratifikasi yang didorong biomarker, dan evaluasi ketat dalam uji klinis berkualitas tinggi.


Konteks Indonesia: Implikasi Praktis

Kortikosteroid: Hidrokortison tersedia luas dan terjangkau di Indonesia. Rekomendasi SSC 2026 yang mendukung penggunaannya pada syok septik dengan kebutuhan vasopressor persisten sudah dapat diterapkan di semua fasilitas ICU.

Pemurnian darah: CytoSorb dan hemoadsorber serupa telah mulai masuk ke beberapa rumah sakit swasta tersier di Indonesia dengan biaya yang sangat tinggi. Rekomendasi SSC 2026 yang secara tegas tidak menyarankan teknik-teknik ini di luar konteks penelitian memberikan dasar yang kuat untuk keputusan kebijakan dan pengadaan.

Vitamin C IV dosis tinggi: Penggunaan protokol “HAT” (hidrokortison, vitamin C, tiamin) sempat populer pasca-publikasi Marik 2017. Dengan bukti terbaru yang tidak mendukung — bahkan menunjukkan potensi bahaya — SSC 2026 memberikan justifikasi yang jelas untuk menghentikan praktik ini di luar konteks penelitian.

Kontrol glikemik dan profilaksis VTE: Dua area ini merupakan intervensi suportif yang terbukti dan dapat diterapkan di hampir semua fasilitas ICU. Standarisasi protokol kontrol glukosa dan profilaksis LMWH merupakan langkah peningkatan kualitas yang konkret dan berdampak.


Penutup: Kehati-Hatian Ilmiah adalah Standar, Bukan Pesimisme

Isi domain terapi ajuvan SSC 2026 mungkin tampak “negatif” — sebagian besar rekomendasinya adalah “tidak disarankan.” Namun ini bukan cerminan pesimisme ilmiah, melainkan standar kehati-hatian yang seharusnya.

Dalam kedokteran berbasis bukti, tidak adanya manfaat yang terbukti adalah alasan yang cukup untuk tidak mengadopsi terapi baru, apalagi jika ada sinyal bahaya atau biaya yang tinggi. Pasien sepsis — yang seringkali sudah sangat rentan — tidak layak menjadi korban optimisme prematur.

Yang paling penting, rekomendasi negatif ini tidak boleh ditafsirkan sebagai “tidak ada lagi yang bisa dilakukan.” Tata laksana sepsis yang optimal tetap berfokus pada diagnosis dini, antibiotik yang tepat dan tepat waktu, resusitasi hemodinamik yang cermat, dukungan organ yang terstandarisasi, serta perawatan suportif yang komprehensif — semua hal yang sudah terbukti menyelamatkan nyawa.


Daftar Referensi

Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Intensive Care Medicine. https://doi.org/10.1007/s00134-026-08361-1

Prescott, H. C., Antonelli, M., Alhazzani, W., & colleagues. (2026). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2026. Critical Care Medicine, advance online publication. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000007075

Evans, L., Rhodes, A., Alhazzani, W., & colleagues. (2021). Surviving Sepsis Campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2021. Intensive Care Medicine, 47(11), 1181–1247. https://doi.org/10.1007/s00134-021-06506-y

David, S., Leone, M., Girardis, M., & colleagues. (2026). Clinical practice in using corticosteroids and adjunctive sepsis therapies at the bedside among European ICUs: An ESICM-endorsed survey. Intensive Care Medicine Experimental, 14, 33. https://doi.org/10.1186/s40635-026-00877-6

Girardis, M., & colleagues. (2025). Knowledge gaps in extracorporeal blood purification: What would be required for its successful application in septic shock? Intensive Care Medicine Experimental. https://doi.org/10.1186/s40635-025-00819-8

Lamontagne, F., & colleagues. (2022). Intravenous vitamin C in adults with sepsis in the intensive care unit. New England Journal of Medicine, 386(25), 2387–2398. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2200644

Singer, M., Deutschman, C. S., Seymour, C. W., Shankar-Hari, M., Annane, D., Bauer, M., … Angus, D. C. (2016). The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA, 315(8), 801–810. https://doi.org/10.1001/jama.2016.0287

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar