A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jejak langkah ini berbalut dalam waktu, sementara semua saling berkejaran antara tapal batas yang tak kunjung memperlihatkan kepastian. Debu-debu yang ikut serta diterbangkan derap yang tak mengenal lelah, terhuyung mencari sandarannya di bawah biru atap yang terbentang hingga ke batas cakrawala. Aku menoleh pada pelana-pelana yang kosong yang jua mengejar kehampaan, semuanya berputar melingkupi keberadaanku.
Tanah yang kupijak saat ini adalah kegelisahan yang tertahan oleh kekinian, udara napasku adalah ketidakpastian. Aku melihat gerak dari yang gelisah dan tak pasti ini menjadi bagian dari keberadaanku. Aku melihat sebuah ketakutan dari yang tak diketahui. Dan gerak ini hadir secara perlahan dan begitu halus sehingga berusaha meniadakan tanda-tandanya dari pengawasan gerak pikiran yang lainnya.
Ah…, seandainya semua tampak sesederhana ini, mungkin ia akan mudah untuk dipahami dan dijelajahi, namun gerak yang teramat halus ini bentuk yang telah berevolusi selama kehidupan ini berlangsung, ia selalu berubah, ia tak dapat dikejar. Ia ada dan begitu dekat, namun juga tak bisa dijangkau karena begitu jauh. Ia tak jua berbeda dari diriku.

To understand one self, it needs a very massive ammount of energy, it needs life its self, its requires a very meditation.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar