A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Apa Itu Struma Multinodusa Non-Toksik?
  2. Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
    1. 1. Defisiensi Iodium (Kekurangan Yodium)
    2. 2. Faktor Genetik dan Mutasi
    3. 3. Faktor Risiko Lainnya
  3. Gejala: Dari Kosmetik hingga Kompresi
  4. Diagnosa Terkini: Presisi dan Akurasi
    1. 1. Pemeriksaan Laboratorium (TSH dan fT4)
    2. 2. Ultrasonografi (USG) Tiroid Resolusi Tinggi
    3. 3. Biopsi Jarum Halus (FNAB)
    4. 4. CT Scan Leher
  5. Penatalaksanaan: Tidak Selalu Harus Operasi
    1. 1. Observasi (Watchful Waiting)
    2. 2. Terapi Supresi Levotiroksin (Mulai Ditinggalkan)
    3. 3. Ablasi Termal (Teknologi Terkini)
    4. 4. Pembedahan (Tiroidektomi)
    5. 5. Yodium Radioaktif (Radioactive Iodine)
  6. Kesimpulan
    1. Langkah Selanjutnya untuk Anda

Kelenjar tiroid adalah organ kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Meskipun ukurannya kecil, organ ini memegang kendali besar atas metabolisme tubuh kita. Salah satu kelainan yang paling sering ditemukan pada organ ini adalah pembesaran kelenjar yang disertai banyak benjolan, namun tanpa mengganggu kadar hormon. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai Struma Multinodusa Non-Toksik (SMNT) atau Non-toxic Multinodular Goiter.


Apa Itu Struma Multinodusa Non-Toksik?

Mari kita bedah istilah medisnya satu per satu agar mudah dipahami:

  • Struma (Goiter): Pembesaran pada kelenjar tiroid.
  • Multinodusa: Terdapat banyak (multi) benjolan atau nodul di dalam kelenjar tersebut, bukan pembesaran yang rata.
  • Non-Toksik: Ini adalah kunci diagnosisnya. Artinya, kelenjar tiroid yang membesar ini berfungsi normal (eutiroid). Ia tidak memproduksi hormon berlebihan yang menyebabkan keracunan tiroid (hipertiroidisme), maupun kekurangan hormon (hipotiroidisme).

Jadi, pasien dengan SMNT memiliki leher yang membesar dan berbenjol-benjol, tetapi secara fungsional tubuhnya tidak merasakan gejala gangguan hormon seperti jantung berdebar atau berat badan turun drastis.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Penyebab SMNT bersifat multifaktorial (banyak faktor), namun ada dua pemain utama dalam skenario ini:

1. Defisiensi Iodium (Kekurangan Yodium)

Meskipun program garam beryodium sudah digalakkan di seluruh dunia termasuk Indonesia, kekurangan yodium masih menjadi penyebab utama gondok di daerah endemik. Kelenjar tiroid membutuhkan yodium untuk memproduksi hormon. Jika bahan baku (yodium) kurang, kelenjar ini akan bekerja lebih keras dan membesar sebagai kompensasi untuk menangkap lebih banyak yodium dari darah.

2. Faktor Genetik dan Mutasi

Pada daerah yang cukup yodium, faktor keturunan memegang peranan penting. Penelitian genetik terkini menunjukkan adanya mutasi pada sel-sel tiroid tertentu yang menyebabkan mereka tumbuh lebih cepat dibandingkan sel di sekitarnya, membentuk klon-klon sel yang akhirnya menjadi nodul.

3. Faktor Risiko Lainnya

  • Usia dan Jenis Kelamin: Wanita lebih sering terkena dibandingkan pria, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Riwayat Merokok: Zat dalam rokok (tiosianat) dapat menghambat penyerapan yodium.
  • Obat-obatan dan Makanan: Konsumsi zat goitrogenik (zat pemicu gondok) dalam jumlah sangat besar, seperti singkong yang tidak diolah dengan benar, walau kasus ini jarang terjadi jika diet seimbang.

Gejala: Dari Kosmetik hingga Kompresi

Karena bersifat “non-toksik”, pasien tidak mengalami gejala hormonal. Sebagian besar pasien datang ke dokter karena alasan:

  1. Masalah Kosmetik: Benjolan terlihat jelas di leher, mengganggu penampilan.
  2. Efek Desak Ruang (Kompresi): Jika ukuran struma sangat besar atau tumbuh ke arah dalam (retrosternal), ia dapat menekan organ sekitarnya:
    • Trakea (Jalan napas): Menyebabkan sesak napas, terutama saat berbaring atau mengangkat tangan.
    • Esofagus (Kerongkongan): Menyebabkan disfagia (sulit menelan).
    • Pita Suara: Menyebabkan suara serak (jarang terjadi pada kasus jinak, lebih waspada jika ini terjadi).

Catatan Penting: Sebagian besar nodul pada SMNT adalah jinak (benign). Risiko keganasan (kanker) pada SMNT relatif rendah (sekitar 5-10%), namun evaluasi medis tetap wajib dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan tersebut.


Diagnosa Terkini: Presisi dan Akurasi

Dokter tidak lagi hanya meraba leher. Pendekatan diagnostik modern meliputi:

1. Pemeriksaan Laboratorium (TSH dan fT4)

Langkah pertama adalah memastikan status “non-toksik”. Dokter akan memeriksa kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH). Pada SMNT, kadar TSH harus berada dalam rentang normal.

2. Ultrasonografi (USG) Tiroid Resolusi Tinggi

Ini adalah standar emas pencitraan. USG dapat memetakan ukuran setiap nodul dan menilai karakteristiknya. Dokter menggunakan sistem skoring modern yang disebut TI-RADS (Thyroid Imaging Reporting and Data System) untuk menentukan seberapa tinggi risiko kanker pada sebuah nodul berdasarkan bentuk, tepi, dan isinya.Gambar thyroid ultrasound procedure

Shutterstock

3. Biopsi Jarum Halus (FNAB)

Jika USG menunjukkan nodul dengan kriteria mencurigakan (berdasarkan skor TI-RADS), dokter akan melakukan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB). Jarum yang sangat kecil digunakan untuk mengambil sampel sel guna dilihat di bawah mikroskop. Ini adalah cara paling akurat untuk membedakan nodul jinak atau ganas tanpa operasi.

4. CT Scan Leher

Dilakukan hanya jika ada kecurigaan gondok tumbuh ke bawah tulang dada (substernal goiter) yang tidak terjangkau oleh USG.


Penatalaksanaan: Tidak Selalu Harus Operasi

Perkembangan teknologi medis telah mengubah paradigma penanganan SMNT secara signifikan dibandingkan satu atau dua dekade lalu.

1. Observasi (Watchful Waiting)

Jika nodul kecil, tidak mengganggu penampilan, tidak ada gejala penekanan, dan terbukti jinak lewat biopsi, tindakan terbaik seringkali adalah tidak melakukan apa-apa. Dokter akan memantau dengan USG berkala (misalnya setahun sekali).

2. Terapi Supresi Levotiroksin (Mulai Ditinggalkan)

Dulu, dokter sering memberikan obat hormon tiroid (levotiroksin) dengan harapan “mengistirahatkan” kelenjar agar mengecil. Namun, pedoman terbaru dari American Thyroid Association (ATA) dan asosiasi tiroid global lainnya tidak lagi merekomendasikan cara ini secara rutin untuk SMNT jangka panjang. Risikonya (gangguan jantung dan keropos tulang) seringkali lebih besar daripada manfaat pengecilan nodul yang minimal.

3. Ablasi Termal (Teknologi Terkini)

Ini adalah terobosan besar untuk nodul jinak yang mengganggu kosmetik atau gejala. Tanpa operasi terbuka, dokter menggunakan gelombang panas untuk menghancurkan nodul:

  • Radiofrequency Ablation (RFA): Menggunakan energi gelombang radio.
  • Laser Ablation: Menggunakan energi laser.Prosedur ini minim bekas luka, pemulihan cepat, dan fungsi tiroid tetap terjaga. Ini menjadi pilihan populer bagi pasien yang takut meja operasi.

4. Pembedahan (Tiroidektomi)

Operasi pengangkatan tiroid tetap menjadi pilihan utama jika:

  • Gondok sangat besar hingga menyebabkan sesak napas atau sulit menelan.
  • Gondok tumbuh ke dalam rongga dada.
  • Ada kecurigaan atau terbukti kanker.
  • Secara kosmetik sangat mengganggu dan tidak bisa di-ablasi.

5. Yodium Radioaktif (Radioactive Iodine)

Metode ini menggunakan yodium radioaktif untuk menyusutkan kelenjar. Biasanya digunakan pada pasien tua dengan risiko operasi tinggi. Namun, penggunaannya pada SMNT seringkali kurang efektif dibandingkan pada kasus hipertiroid (gondok beracun).


Kesimpulan

Struma Multinodusa Non-Toksik adalah kondisi umum yang seringkali tidak berbahaya, namun memerlukan pemantauan yang tepat. Kuncinya adalah memastikan bahwa benjolan tersebut benar-benar “non-toksik” dan “jinak”.

Dengan kemajuan teknologi seperti USG resolusi tinggi dan Ablasi Radiofrekuensi (RFA), pasien kini memiliki opsi pengobatan yang lebih nyaman dan tidak selalu harus berakhir di meja operasi. Pola makan dengan asupan yodium yang cukup (namun tidak berlebihan) tetap menjadi langkah pencegahan dasar yang penting.


Langkah Selanjutnya untuk Anda

Jika Anda atau kerabat memiliki benjolan di leher yang bergerak saat menelan, jangan ragu untuk memeriksakan diri. Minta dokter Anda untuk melakukan pemeriksaan kadar TSH dan USG Tiroid sebagai langkah awal deteksi dini.


Referensi:

  1. Haugen, B. R., et al. (2016). 2015 American Thyroid Association Management Guidelines for Adult Patients with Thyroid Nodules and Differentiated Thyroid Cancer. Thyroid, 26(1).
  2. Paschke, R., et al. (2023 update). European Thyroid Association Guidelines for the Management of Iodine Deficiency Disorders.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kelainan Tiroid.
  4. Gharib, H., et al. (2016). American Association of Clinical Endocrinologists, American College of Endocrinology, and Associazione Medici Endocrinologi Medical Guidelines for Clinical Practice for the Diagnosis and Management of Thyroid Nodules.

Penafian Medis (Medical Disclaimer):

Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi ilmiah populer, bukan sebagai pengganti saran medis profesional, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan ahli untuk masalah kesehatan Anda. Jangan pernah mengabaikan saran medis profesional atau menunda mencarinya karena sesuatu yang Anda baca dalam artikel ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar