A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mari kucoba untuk kuhitung-hitung kembali…, Hamm…, nampaknya sudah lebih dari satu tahun aku tidak kembali ke rumah…. Entahlah, pendidikanku sudah lebih dari lima tahun membuatku sangat jarang berada di rumah dan halaman yang menjadi tempatku bermain semenjak kecil. Dan itu waktu yang cukup untuk membuat baik interior maupun eksterior suatu tempat tinggal untuk berubah, sayangnya bukan hal-hal yang besar namun kecil ini yang akan menyentuh dalam setiap jejak kenangan yang membawa sebuah pikiran dan ingatan dengan segala keterbatasannya, untuk dalam sebuah kata yang dibuat oleh segenap kekurangan si manusia, akan apa yang kita sebut “rumah”.

Bentuknya mungkin berubah, perasaan yang menyertainya mungkin juga ikut berubah, namun manusia memiliki sebuah sudut lemah yang teramat kuat, yang dikenal sebagai “ikatan”, bak seuntai benang tipis yang akan bergetar ketika ujungnya tersentuh. Getaran ini mungkin begitu familiar, namun di sisi lain juga begitu asing, ia mungkin bagian dari ingatan yang tak kentara atau ia bukan dari apa yang dapat kita persepsikan. Namun jelas, bagi mereka yang juga pernah mengalaminya sehingga begitu saja menempatkan mereka ke dalam kata sederhana seperti de’javu, hmm…, sayangnya kata-kata apa pun itu, hanya akan menenggelamkan getaran ini.

Bukan rerumputan atau pepohonan yang menghijau, bukan lapukan dari langit-langit atau tembok yang tua, bukan oleh buramnya kaca-kaca jendela yang terhiasi oleh banyak goresan kecil, seperti aku mungkin engkau tak dapat memandang detail ini satu per satu, namun seketika…, ya, seketika, saat itu jua, ketika semua indera bereaksi menangkap getaran kecil ini, seolah sang jiwa sedikit tersentak, dan barulah si perhatian mulai diberikan pada detail-detail …, walau hanya dalam pandangan, sentuhan atau pun pengecapan, pembauan…. dan engkau akan tersenyum…, karena yang manis ini bukan madu kehidupan, yang merdu ini bukan kidung keagungan, yang lembut ini bukan terpaan kemesraan, ia sungguh bukan apa-apa dalam kesederhanaan, namun ialah segalanya.

Dan kini …, aku kembali ke rumahku…, setidaknya itulah dalam kenangku.

Artikel Baru Terbit

  • What the Elder Leaves Unsaid
    What does a wise elder truly leave the young? Not rules, but roots. Drawing from Wulangreh, Kalatidha, Confucius, Laozi, Rumi, the Dhammapada, and Marcus Aurelius, this essay follows a bronze-caster and his apprentice toward one quiet truth: the deepest teaching asks to be forgotten, so the student can call it their own.
  • The Empu’s Three Counsels
    A Javanese keris-smith teaches his apprentice that mind, heart, and instinct are not rivals for a single throne but three voices folded into one blade through practice. Drawing on Stoicism, Sufism, Taoism, the Gita, and Javanese rasa, this essay argues the true answer is formation, not choice — a self patient enough to let all three disagree until they forge something stronger together.
  • SADARI: Periksa Payudara Sendiri, Apa Kata Bukti Ilmiah Terbaru?
    SADARI membantu perempuan mengenali kondisi normal payudaranya sendiri, meski uji klinis besar menunjukkan metode ini tak terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Di Indonesia, dengan akses mamografi yang masih terbatas, SADARI tetap bernilai sebagai langkah kewaspadaan awal—asalkan selalu diikuti pemeriksaan klinis profesional saat ditemukan kelainan, bukan sebagai pengganti skrining medis sesungguhnya.
  • The TAME Trial: Bisakah Obat Diabetes Lawas Memperpanjang Usia Manusia?
    Metformin, obat diabetes murah berusia puluhan tahun, tengah diuji lewat TAME trial untuk mengetahui apakah ia bisa memperlambat penuaan biologis dan menunda penyakit terkait usia. Bukti dari hewan menjanjikan, tetapi bukti manusia masih observasional. Pakar sepakat: terlalu dini merekomendasikan metformin untuk anti-penuaan pada orang sehat; gaya hidup sehat tetap strategi utama.
  • Benarkah Generasi Sebelum Baby Boomer Lebih Sehat dan Aktif di Usia Tua? Membedah Klaim yang Sering Beredar
    Klaim bahwa generasi sebelum baby boomer lebih sehat dan aktif hingga lansia sebagian besar adalah mitos akibat survivorship bias — kita hanya mengenang yang bertahan. Namun, riset gerontologi terbaru dan data SKI 2023 menunjukkan kekhawatiran nyata: usia harapan hidup Indonesia meningkat, tetapi beban penyakit tidak menular turut melebar, sehingga tahun hidup tambahan tidak selalu berarti tahun yang sehat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar amir
    amir

    mana oleh2nya?apa siap di laparotomi?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca