Home Sweet Home

Mari kucoba untuk kuhitung-hitung kembali…, Hamm…, nampaknya sudah lebih dari satu tahun aku tidak kembali ke rumah…. Entahlah, pendidikanku sudah lebih dari lima tahun membuatku sangat jarang berada di rumah dan halaman yang menjadi tempatku bermain semenjak kecil. Dan itu waktu yang cukup untuk membuat baik interior maupun eksterior suatu tempat tinggal untuk berubah, sayangnya bukan hal-hal yang besar namun kecil ini yang akan menyentuh dalam setiap jejak kenangan yang membawa sebuah pikiran dan ingatan dengan segala keterbatasannya, untuk dalam sebuah kata yang dibuat oleh segenap kekurangan si manusia, akan apa yang kita sebut “rumah”.

Bentuknya mungkin berubah, perasaan yang menyertainya mungkin juga ikut berubah, namun manusia memiliki sebuah sudut lemah yang teramat kuat, yang dikenal sebagai “ikatan”, bak seuntai benang tipis yang akan bergetar ketika ujungnya tersentuh. Getaran ini mungkin begitu familiar, namun di sisi lain juga begitu asing, ia mungkin bagian dari ingatan yang tak kentara atau ia bukan dari apa yang dapat kita persepsikan. Namun jelas, bagi mereka yang juga pernah mengalaminya sehingga begitu saja menempatkan mereka ke dalam kata sederhana seperti de’javu, hmm…, sayangnya kata-kata apa pun itu, hanya akan menenggelamkan getaran ini.

Bukan rerumputan atau pepohonan yang menghijau, bukan lapukan dari langit-langit atau tembok yang tua, bukan oleh buramnya kaca-kaca jendela yang terhiasi oleh banyak goresan kecil, seperti aku mungkin engkau tak dapat memandang detail ini satu per satu, namun seketika…, ya, seketika, saat itu jua, ketika semua indera bereaksi menangkap getaran kecil ini, seolah sang jiwa sedikit tersentak, dan barulah si perhatian mulai diberikan pada detail-detail …, walau hanya dalam pandangan, sentuhan atau pun pengecapan, pembauan…. dan engkau akan tersenyum…, karena yang manis ini bukan madu kehidupan, yang merdu ini bukan kidung keagungan, yang lembut ini bukan terpaan kemesraan, ia sungguh bukan apa-apa dalam kesederhanaan, namun ialah segalanya.

Dan kini …, aku kembali ke rumahku…, setidaknya itulah dalam kenangku.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

Satu pendapat untuk “Home Sweet Home

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: