A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mari kucoba untuk kuhitung-hitung kembali…, Hamm…, nampaknya sudah lebih dari satu tahun aku tidak kembali ke rumah…. Entahlah, pendidikanku sudah lebih dari lima tahun membuatku sangat jarang berada di rumah dan halaman yang menjadi tempatku bermain semenjak kecil. Dan itu waktu yang cukup untuk membuat baik interior maupun eksterior suatu tempat tinggal untuk berubah, sayangnya bukan hal-hal yang besar namun kecil ini yang akan menyentuh dalam setiap jejak kenangan yang membawa sebuah pikiran dan ingatan dengan segala keterbatasannya, untuk dalam sebuah kata yang dibuat oleh segenap kekurangan si manusia, akan apa yang kita sebut “rumah”.

Bentuknya mungkin berubah, perasaan yang menyertainya mungkin juga ikut berubah, namun manusia memiliki sebuah sudut lemah yang teramat kuat, yang dikenal sebagai “ikatan”, bak seuntai benang tipis yang akan bergetar ketika ujungnya tersentuh. Getaran ini mungkin begitu familiar, namun di sisi lain juga begitu asing, ia mungkin bagian dari ingatan yang tak kentara atau ia bukan dari apa yang dapat kita persepsikan. Namun jelas, bagi mereka yang juga pernah mengalaminya sehingga begitu saja menempatkan mereka ke dalam kata sederhana seperti de’javu, hmm…, sayangnya kata-kata apa pun itu, hanya akan menenggelamkan getaran ini.

Bukan rerumputan atau pepohonan yang menghijau, bukan lapukan dari langit-langit atau tembok yang tua, bukan oleh buramnya kaca-kaca jendela yang terhiasi oleh banyak goresan kecil, seperti aku mungkin engkau tak dapat memandang detail ini satu per satu, namun seketika…, ya, seketika, saat itu jua, ketika semua indera bereaksi menangkap getaran kecil ini, seolah sang jiwa sedikit tersentak, dan barulah si perhatian mulai diberikan pada detail-detail …, walau hanya dalam pandangan, sentuhan atau pun pengecapan, pembauan…. dan engkau akan tersenyum…, karena yang manis ini bukan madu kehidupan, yang merdu ini bukan kidung keagungan, yang lembut ini bukan terpaan kemesraan, ia sungguh bukan apa-apa dalam kesederhanaan, namun ialah segalanya.

Dan kini …, aku kembali ke rumahku…, setidaknya itulah dalam kenangku.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar amir
    amir

    mana oleh2nya?apa siap di laparotomi?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca