Suatu kali ada seorang sadhaka yang memiliki ambisi untuk mengetahui segala sesuatu yang Ilahi. Ia menghendaki agar mata kebijaksanaannya dibuka. Ia masuk ke dalam gua tempat tinggal seorang Guru. Ketika masuk ke dalam gua, ia melihat cahaya yang berkelap-kelip. Ketika ia maju ke depan, cahaya itu bahkan menjadi padam. Dalam kegelapan, orang tersebut merasa ketakutan, dan dalam ketakutan, manusia mengingat Tuhan dengan bersungguh-sungguh. Oleh karenanya ia mengucapkan keras-keras kata Namasiwaya, dan ketika mendengar seruan ini, orang suci itu bertanya, siapakah itu gerangan? Sadhaka itu menjawab, ia datang mencari restunya. Orang suci yang agung ini, yang dapat bertahan hidup di dalam gua hanya dengan menghirup udara di sekitarnya, memiliki kemampuan mengetahui pikiran pengunjungnya. Sang Suci berkata akan menjawab pertanyaan si pencari nanti, dan sebelum menjawabnya, dimintanya sadhaka ini untuk menyalakan pelita yang baru saja padam.
Pendatang ini mengambil korek api dan berusaha menyalakan lampu tersebut, namun tidak berhasil. Ia memberitahu sang guru bahwa telah dihabiskannya sekotak korek api, tetapi ia belum juga berhasil menyalakan pelitanya. Guru itu kemudian menyuruhnya melihat apakah masih ada minyak di dalam pelita. Setelah diketahuinya lentera itu tidak berminyak, ia pun melapor pada sang guru bahwa di dalamnya ada air. Guru itu kemudian menyuruhnya membuka lentera tersebut, mengeluarkan airnya dan mengisinya dengan minyak dan mencoba menyalakannya lagi. Orang tersebut melakukan apa yang diminta, dan mencoba menyalakan lagi, namun pelitanya tidak juga menyala. Guru itu kemudian berkata bahwa mungkin sumbunya basah oleh karena mengandung air dan memintanya mengeringkan baik-baik di tempat terbuka dan kemudian mencobanya lagi. Dilakukannya semua itu dan kini ia pun berhasil menyalakan pelita itu.
Kemudian orang ini memberanikan diri memberanikan diri menyatakan keperluannya dan mohon jawabnya dari guru ini. Sang guru merasa heran dan mengatakan jawabnya baru saja diberikan. Pendatang itu mohon pada sang guru agar menerangkan dengan cara yang lebih jelas karena ia merasa bodoh dan tidak dapat mengerti makna ajarannya. Guru tersebut berkata, “Di dalam bejana hatimu terdapat sumbu jiwamu. Selama ini sumbu itu terbenam air hawa nafsu, oleh karenanya engkau tak dapat menyalakan pelita kebijaksanaan. Tuangkan semua air hawa nafsu dari bejanamu dan isilah dengan namasmarana Tuhan. Ambilah sumbu jiwamu dan keringkan dalam sinar matahari Vairagya; peras lah semua bentuk air hawa nafsu dan masukkan ke dalam hatimu minyak pengabdian atau namasmarana, maka engkau akan dapat menyalakan pelita kebijaksanaan“.
Adaptasi dari: Chinna Kattha I.3. hal. 2.
Terminologi: * Namasramana: menyelami lautan kasih Ilahi setiap saat, umumnya dilakukan dengan metode mengucapkan atau menembangkan nama Tuhan berulang kali dengan hati yang lepas. * Vairagya: kesadaran akan ketidakterikatan, bahwa kehidupan tidak memiliki keterikatan apapun akan apapun.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan