Jadi amatlah penting untuk menemukan mengapa batin sesungguhnya mengingat, menyimpan. Karena batin secara tidak henti-hentinya mencari guna melimpah ruahkan dirinya, menjadikan dirinya besar, guna menjadi sesuatu. Ketika batin bersedia tidak menjadi apapun, menjadi bukan apa-apa, sepenuhnya bukan apa-apa, lalu dalam keadaan itu ada Kasih. Dalam keadaan itu tiada maaf tiada juga rasa sakit; namun guna memahami itu, orang harus memahami berkembangnya kesadaran “aku”….
Jadi, selama ada pengolahan yang sadar akan berbagai pengaruh tertentu, kebijaksanaan tertentu, di sana tidak dapat hadir cinta, di sana tidak dapat hadir kasih, karena cinta dan kasih bukanlah hasil dari upaya yang sadar.
Buku Kehidupan VII.20

Tinggalkan komentar