Hari itu aku berjalan menyusuri sebuah cekungan di mana kesendirian tak hendak menepikan dirinya…, ia menatapku penuh kesuraman seakan keluh kesahnya telah jauh jatuh ke dalam peluk hampa sang waktu…
Engkau telah terbang menggapai awan perak keemasan…, bahkan sebelum senja mengulirkan dirinya keperebahan. Demikianlah ucapnya padaku…
Sahabat…, aku sendiri telah berdiri di ujung tongkat senjaku tanpa pengharapan apapun…, apakah yang tampaknya engkau sesalkan?
Tiada sesal…, seakan taut wajahmu telah pergi meninggalkan kekinian…, yang seluruhnya adalah aku jua…, apakah arti semua ini lalu…. Ia semakin memelas padaku.
Hah…, aku menghela napas panjang…
….
Seandainya aku bisa memaknai, maka apa yang tertinggal di sini adalah sebuah mimpi berbingkai sutra dan bertahta gulita, sedemikian hingga tiada rupa yang hendak tersadar pada yang engkau tangisi Sahabat…, maka tiada makna yang kan kulemparkan ke lapang percakapan kita…
Segenap kata itu bak tamparan yang halus…, aku pun tak akan terbangun olehnya…, apa yang hendak kau sampaikan jika demikian adanya….
Aku tak hendak membangunkan siapa pun…, karena aku sendiri berada dalam alam indah mimpi ini…, yang kau rajut adalah kehampaan…, yang kutampar pun kehampaan…, apa kita sedang berlomba? Riak angan mekar dalam kesunyian, dan menjadi layu secepat angin menyentuh si tanpa rupa.

Tinggalkan Balasan ke Santi Diwyarthi Batalkan balasan