A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Terkadang kepercayaan manusia mencari menipis dan lenyap bersama dengan hadirnya ambisi dalam kehidupannya, sedemikian hingga ambisi itu seakan meluas hingga ke tapal-tapal yang tak memiliki batasan.

Dikisahkan lah seorang kaya raya yang memiliki seorang putri, namun oleh suatu kondisi yang kita sebut keadaan, si anak ini tumbuh dengan memiliki hidung yang pesek. Dan laki-laki biasanya menjauhinya. Si ayah ingin anaknya mendapatkan seorang pasangan hidup, namun tentunya setiap orang yang dikenalkan pada putrinya akan menolak dengan berbagai cara. Saat itu belumlah ada apa yang kita kenal sebagai cosmetic surgery (bedah plastik kecantikan) seperti sekarang.

Namun tampaknya upayanya berhasil juga setelah ia membuat dan menyebarkan pengumuman bahwa orang yang bersedia menikah dengan putrinya akan mendapatkan uang dan harta dalam jumlah yang melimpah. Pernikahan pun diselenggarakan, dan mereka hidup menjadi pasangan yang baik, serta memiliki rasa bakti kepada Tuhan.

Pasangan ini sering kali bepergian untuk berziarah, dan mengunjungi berbagai tempat suci untuk melakukan kebaktian, mandi di berbagai sungai suci. Kepercayaan pada Tuhan semakin tumbuh pada diri mereka seiring dengan berjalannya waktu.

Suatu ketika mereka bertemu dengan orang suci, dari perbincangan orang suci itu mengatakan bahwa hanya Beliau yang menciptakan hidung pesek itu sajalah yang bisa mengubahnya. Hal ini terungkap karena walau pun mereka kaya, namun si wanita tidaklah selalu berbahagia. Wanita ini terbiasa merasa bahwa orang-orang yang memandangnya akan menertawakannya. Ia pun memberi saran pada suaminya sebaiknya mereka pergi ke Himalaya yang sunyi dan tinggal di setidaknya sebulan di sana, tinggal dalam kesunyian.

Suaminya pun setuju, dan mereka berangkat serta tinggal di Himalaya. Wanita tersebut memiliki hasrat yang luar biasa agar hidungnya normal sebagaimana orang-orang kebanyakan, sedemikian hingga ia berdoa dengan bersungguh-sungguh. Oleh karena nasibnya yang mujur, Tuhan menampakkan diri dan bertanya apakah yang diinginkannya. Ia pun meminta dianugerahi hidung yang besar dan bagus. Tuhan bersabda, jadilah demikian, dan menganugerahi hadiahnya.

Segera setelah Tuhan lenyap kembali, si wanita pun melihat wajahnya. Ia melihat hidungnya yang besar dan merasa lebih jelek daripada sebelumnya. Ia berdoa kembali dengan lebih bersungguh-sungguh, maka Tuhan menampakkan diri lagi dan bertanya apakah yang ia kehendaki. Katanya ia tidak menghendaki hidung yang besar tersebut. Tuhan bersabda, terjadilah demikian, dan mengabulkan permintaannya. Tiba-tiba ia sadar hidungnya telah lenyap sama sekali.

Kisah ini seakan mengingatkan kita kembali, bahwa manusia memiliki begitu banyak bentuk keinginan dan ambisi. Namun kebanyakan ambisi itu begitu abstrak, sebagaimana pula pikiran manusia yang tidak pernah tetap dan selalu bergerak. Jika pun Tuhan hadir di hadapanmu, bermain dan berbicara denganmu, namun engkau tak pernah tahu dengan sejatinya apa yang kau minta.

Adaptasi dari Chinna Katha I.7

Artikel Baru Terbit

  • Paliatif Bukan Tanda Menyerah: Kapan Sebaiknya Tenaga Kesehatan Mulai Menawarkannya?
    Perawatan paliatif sering disalahpahami sebagai layanan menjelang ajal. Padahal pedoman ASCO 2024, WHO, dan Kepmenkes 2180/2023 menekankan identifikasi dini sejak diagnosis penyakit serius. Artikel ini membahas kapan paliatif sebaiknya ditawarkan kepada pasien dan keluarga, alat penapisan seperti SPICT dan Pertanyaan Kejutan, serta penerapannya di layanan kesehatan Indonesia.
  • Ketika Wajah Bayi Menyimpan Rahasia di Kromosom 22
    Sindrom DiGeorge (22q11.2 deletion syndrome) adalah kelainan delesi mikro kromosom tersering pada manusia, memengaruhi jantung, imunitas, kalsium darah, dan perkembangan. Diagnosis sering terlambat karena gejala menyerupai kondisi lain. Di Indonesia, skrining jantung bawaan kritis berpotensi menangkap sebagian kasus, namun konfirmasi genetik masih terbatas aksesnya.
  • Flu Burung Tak Lagi Sekadar Urusan Kandang: Membaca Kerangka Global Empat Lembaga Dunia dan Maknanya bagi Indonesia
    FAO, WHO, WOAH, dan CMS meluncurkan kerangka global untuk mempercepat pengendalian flu burung melalui pendekatan One Health. Artikel ini mengulas mengapa H5N1 klad 2.3.4.4b kian mengkhawatirkan, bagaimana pengalaman Indonesia dengan 200 kasus manusia, dan langkah praktis bagi Puskesmas serta masyarakat untuk mencegah limpahan virus dari kandang ke manusia.
  • Pil KB Tanpa Jeda, Implan Lima Tahun, dan Mifepriston: Membaca Pedoman Baru WHO tentang Perluasan Pilihan Kontrasepsi
    WHO merilis pedoman baru tentang perluasan pilihan kontrasepsi. Mifepriston kini direkomendasikan sebagai kontrasepsi darurat, pil KB kombinasi dapat diminum tanpa jeda hingga setahun, dan implan etonogestrel dapat dipakai lima tahun. Sebaliknya, ormeloksifen dan pil kuinestrol belum layak masuk program. Apa artinya bagi layanan KB dan jutaan akseptor di Indonesia kini?
  • Dari “Tahu” ke “Mau”: Kursus Ilmu Perilaku WHO dan Pelajaran bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia
    WHO meluncurkan kursus daring mandiri tentang ilmu perilaku bagi praktisi kesehatan masyarakat. Artikel ini mengulas isi kursus, kerangka DDDIE, data perilaku berisiko dari SKI 2023, contoh kasus antibiotik tanpa resep, serta batas bukti nudge, agar program kesehatan di Indonesia tidak berhenti pada penyuluhan, tetapi mengubah perilaku masyarakat sehari-hari secara nyata.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar Hary4n4
    Hary4n4

    ambisi memang dapat memacu manusia utk meraih yg lebih baik, namun jg bisa membelenggu diri dari apa yg sebenarnya dibutuhkan oleh diri kita…

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca