Sejak tadi pagi berita di televisi berturut-turut menayangkan tentang dua ledakan yang terjadi di lingkungan Mega Kuningan – Jakarta Selatan. Pertama kali aku tersentak, tentu saat berita masih memunculkan ledakan yang pertama ~ aku masih menolak kemungkinan bom ~, namun ledakan berikutnya sudah semakin memastikan kemungkinan itu adalah sebuah bom.
Berita memuat kepanikan yang luar biasa di tempat kejadian. Korban-korban berjatuhan, baik yang luka-luka ringan atau pun meninggal dunia. Peristiwa ini menambah daftar panjang kejahatan teroris di negeri ini.
Presiden telah menyampaikan keprihatinnya, serta ajakan bersama-sama bagi negeri ini untuk tidak tunduk terhadap aksi-aksi macam ini. Sedangkan berbagai opini publik mulai bermunculan, mulai dari pengecaman tindakan seperti ini, duka-cita pada para korban, serta kekhawatiran akan efek jangka pendek maupun jangka panjang, serta praduga-praduga kausatif terjadinya tragedi ini.
Aku termenung sesaat, seakan negeri ini terdiam dalam hiruk-pikuk apa yang sedang terjadi di salah satu sudut geliat kehidupannya yang tersakiti. Untuk sebuah negeri yang teramat kaya akan sumber daya, mungkin kita akan menjadi rebutan akan berbagai kepentingan dari banyak pihak. Mungkin hal-hal serupa akan terjadi kembali ke depannya, setidaknya potensi ini akan selalu ada, karena ternyata di dunia ini ada orang yang bersedia melakukan apa saja, mengorbankan apa saja, dan tidak peduli apa pun untuk merealisasikan ambisinya. Namun menyadari ini bukan berarti bangsa ini harus tunduk dan terpaku. Ini menjadi suatu keprihatinan sebuah bangsa dan selayaknya sebuah bangsa bersuara satu untuk bersama-sama melewati dan memperbaiki kondisi ini. Walau setiap orang dan individu memiliki peran yang berbeda-beda, namun satu suara ini adalah yang bermakna bagi kita semua.
Bersin berulang, hidung gatal, dan pilek bening yang kambuh tiap pagi bisa jadi tanda rinitis alergi. Kenali pemicu, cara diagnosis, dan pilihan terapi menurut pedoman terbaru.
Studi GBD 2023 menunjukkan hampir 90% kematian akibat penyakit jantung iskemik di AS disebabkan oleh faktor risiko yang dapat diubah, seperti tekanan darah tinggi, pola makan buruk, dan kolesterol LDL tinggi. Temuan ini sangat relevan untuk Indonesia, di mana penyakit kardiovaskular juga merupakan penyebab kematian utama.
Sebuah soneta pendek dari Nikaragua yang iri pada pohon dan batu karena keduanya tak perlu tahu bahwa mereka hidup. Kritik sastra Sabtu Sepenggal Sastra atas “Lo fatal” karya Rubén Darío (1905), lengkap dengan terjemahan dan petunjuk membacanya utuh.
Seorang polisi bermotor putih menipu empat penjaga uang dengan cerita bom, lalu lenyap. Hanya satu huruf timah yang terkikis tertinggal sebagai jejaknya.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
3 tanggapan
Cahya
Negara kita sangat besar & juga sangat muda, terkadang pendewasaan datang dengan jalan yang sangat keras.Yang jelas kita semua tidak hendak berhenti di sini, karena generasi selanjutnya layak mendapatkan tanah hidup yang lebih baik dari pendahulunya.Recent blog:=- Bom JW Marriot & Ritz-Carlton, Indonesia Berduka Kembali
Hm…Menyedihkan… Selalu ada cobaan baruTrilyunan lagi diperlukan… hanya untuk hal hal yg seharusnya tidak perlu terjadi jika setiap orang mau mengendalikan ego dan mementingkan orang lainnya.
Hm…Setelah bangsa ini tertatih coba bangkit dari berbagai macam kasus, coba berbenah diri, berharap masa depan lebih cerah, ternyata… dari kasus penyakit, pimpinan yg gak bisa ngasih contoh baik, konflik merajalela, logika gak jalan, lebih percaya sihir dan putusan prematur, teroris dg suksesnya masuk. Ah.. gimana nasib anak cucuku kelak ya?
Tinggalkan Balasan