A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sejak tadi pagi berita di televisi berturut-turut menayangkan tentang dua ledakan yang terjadi di lingkungan Mega Kuningan – Jakarta Selatan. Pertama kali aku tersentak, tentu saat berita masih memunculkan ledakan yang pertama ~ aku masih menolak kemungkinan bom ~, namun ledakan berikutnya sudah semakin memastikan kemungkinan itu adalah sebuah bom.

bom_jw_marriot

Berita memuat kepanikan yang luar biasa di tempat kejadian. Korban-korban berjatuhan, baik yang luka-luka ringan atau pun meninggal dunia. Peristiwa ini menambah daftar panjang kejahatan teroris di negeri ini.

Presiden telah menyampaikan keprihatinnya, serta ajakan bersama-sama bagi negeri ini untuk tidak tunduk terhadap aksi-aksi macam ini. Sedangkan berbagai opini publik mulai bermunculan, mulai dari pengecaman tindakan seperti ini, duka-cita pada para korban, serta kekhawatiran akan efek jangka pendek maupun jangka panjang, serta praduga-praduga kausatif terjadinya tragedi ini.

Aku termenung sesaat, seakan negeri ini terdiam dalam hiruk-pikuk apa yang sedang terjadi di salah satu sudut geliat kehidupannya yang tersakiti. Untuk sebuah negeri yang teramat kaya akan sumber daya, mungkin kita akan menjadi rebutan akan berbagai kepentingan dari banyak pihak. Mungkin hal-hal serupa akan terjadi kembali ke depannya, setidaknya potensi ini akan selalu ada, karena ternyata di dunia ini ada orang yang bersedia melakukan apa saja, mengorbankan apa saja, dan tidak peduli apa pun untuk merealisasikan ambisinya. Namun menyadari ini bukan berarti bangsa ini harus tunduk dan terpaku. Ini menjadi suatu keprihatinan sebuah bangsa dan selayaknya sebuah bangsa bersuara satu untuk bersama-sama melewati dan memperbaiki kondisi ini. Walau setiap orang dan individu memiliki peran yang berbeda-beda, namun satu suara ini adalah yang bermakna bagi kita semua.

Jangan Menyerah

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar Cahya
    Cahya

    Negara kita sangat besar & juga sangat muda, terkadang pendewasaan datang dengan jalan yang sangat keras.Yang jelas kita semua tidak hendak berhenti di sini, karena generasi selanjutnya layak mendapatkan tanah hidup yang lebih baik dari pendahulunya.Recent blog:=- Bom JW Marriot & Ritz-Carlton, Indonesia Berduka Kembali

  2. Avatar Santidiwyarthi
    Santidiwyarthi

    Hm…Menyedihkan… Selalu ada cobaan baruTrilyunan lagi diperlukan… hanya untuk hal hal yg seharusnya tidak perlu terjadi jika setiap orang mau mengendalikan ego dan mementingkan orang lainnya.

  3. Avatar Guest
    Guest

    Hm…Setelah bangsa ini tertatih coba bangkit dari berbagai macam kasus, coba berbenah diri, berharap masa depan lebih cerah, ternyata… dari kasus penyakit, pimpinan yg gak bisa ngasih contoh baik, konflik merajalela, logika gak jalan, lebih percaya sihir dan putusan prematur, teroris dg suksesnya masuk. Ah.. gimana nasib anak cucuku kelak ya?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca