- Apa Sebenarnya Anemia Itu?
- Klasifikasi: Tidak Semua Anemia Sama
- Gejala Klinis: Lebih dari Sekadar 5L
- Mengapa Kita Bisa Terkena Anemia?
- Diagnosis: Langkah Medis yang Tepat
- Tatalaksana dan Pengobatan Terkini
- Pencegahan: Investasi Jangka Panjang
- Kesimpulan
Seringkali kita mendengar keluhan “kurang darah” di masyarakat yang kerap disamakan dengan tekanan darah rendah. Padahal, secara medis, keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda. Anemia, atau yang dikenal awam sebagai kurang darah, adalah kondisi global yang memengaruhi jutaan orang, mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga lansia.
Artikel ini akan mengupas tuntas anemia berdasarkan bukti ilmiah terbaru, melampaui sekadar gejala “lemas” biasa, dan menelusuri dampaknya hingga ke level seluler tubuh kita.
Apa Sebenarnya Anemia Itu?
Secara definisi medis, Anemia adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah (eritrosit) atau konsentrasi hemoglobin (Hb) di dalamnya lebih rendah dari normal.
Hemoglobin adalah protein kaya zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai “kendaraan” untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadar hemoglobin rendah, tubuh mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) di tingkat jaringan. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen tersebut.

Batas Normal Hemoglobin (WHO)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas anemia yang bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan status fisiologis:
| Kelompok | Batas Hemoglobin (Hb) Normal | Anemia Jika Kurang Dari |
| Anak (6-59 bulan) | 11.0 g/dL | 11.0 g/dL |
| Anak (5-11 tahun) | 11.5 g/dL | 11.5 g/dL |
| Remaja (12-15 tahun) | 12.0 g/dL | 12.0 g/dL |
| Wanita Dewasa (Tidak Hamil) | 12.0 g/dL | 12.0 g/dL |
| Ibu Hamil | 11.0 g/dL | 11.0 g/dL |
| Pria Dewasa | 13.0 g/dL | 13.0 g/dL |
Catatan Penting: Angka ini adalah acuan umum. Dokter mungkin mempertimbangkan faktor lain seperti ketinggian tempat tinggal (orang yang tinggal di pegunungan memiliki Hb lebih tinggi) dan kebiasaan merokok.
Klasifikasi: Tidak Semua Anemia Sama
Salah satu pembaruan penting dalam memahami anemia adalah mengetahui bahwa penyebabnya bukan hanya kekurangan zat besi. Dokter biasanya mengklasifikasikan anemia berdasarkan ukuran sel darah merah atau Mean Corpuscular Volume (MCV):
1. Anemia Mikrositik (Sel Kecil)
Sel darah merah berukuran lebih kecil dari normal.
- Penyebab Utama: Anemia Defisiensi Besi (ADB). Ini adalah jenis anemia tersering di Indonesia dan dunia. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak bisa memproduksi hemoglobin secara utuh.
- Penyebab Lain: Thalassemia (kelainan genetik darah yang umum di Asia Tenggara) dan Anemia akibat penyakit kronis.
2. Anemia Normositik (Sel Normal)
Ukuran sel normal, tetapi jumlahnya sedikit.
- Penyebab: Perdarahan akut (kecelakaan, melahirkan), penyakit ginjal kronis (karena ginjal memproduksi hormon eritropoietin yang memicu pembentukan darah), atau kegagalan sumsum tulang.
3. Anemia Makrositik (Sel Besar)
Sel darah merah membesar secara abnormal namun tidak berfungsi efektif.
- Penyebab: Defisiensi Vitamin B12 atau Asam Folat (Folat). Sering terjadi pada vegetarian ketat tanpa suplementasi atau pecandu alkohol.
Gejala Klinis: Lebih dari Sekadar 5L
Masyarakat Indonesia mengenal istilah 5L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai). Namun, literatur medis terkini mencatat spektrum gejala yang lebih luas dan spesifik, terutama jika anemia sudah berlangsung lama (kronis):
- Gejala Umum: Kelelahan ekstrem, pusing, kulit pucat (terlihat jelas di telapak tangan atau kelopak mata bagian dalam/konjungtiva).
- Kardiopulmonal: Jantung berdebar (palpitasi), sesak napas saat aktivitas ringan, hingga nyeri dada.
- Spesifik Defisiensi Besi:
- Koilonychia: Kuku menjadi rapuh dan berbentuk cekung seperti sendok.
- Pica: Keinginan aneh untuk memakan benda yang bukan makanan, seperti es batu, tanah liat, atau beras mentah.
- Restless Leg Syndrome: Sensasi tidak nyaman pada kaki yang memicu dorongan tak tertahankan untuk menggerakkannya, terutama malam hari.
- Glossitis: Lidah menjadi licin, merah, dan nyeri.
Mengapa Kita Bisa Terkena Anemia?
Memahami penyebab adalah kunci pengobatan. Secara garis besar, anemia terjadi karena tiga mekanisme utama:
1. Produksi yang Menurun
Pabrik darah (sumsum tulang) kekurangan bahan baku.
- Kurang Asupan: Diet rendah zat besi (jarang makan daging merah, hati, sayur hijau).
- Malabsorpsi: Tubuh tidak bisa menyerap nutrisi, misalnya pada penderita penyakit Celiac atau pasca operasi lambung.
2. Penghancuran yang Meningkat (Hemolisis)
Sel darah merah pecah sebelum waktunya (umur normal eritrosit adalah 120 hari).
- Terjadi pada Thalassemia, anemia sel sabit, atau reaksi autoimun di mana kekebalan tubuh menyerang sel darah sendiri.
3. Kehilangan Darah (Perdarahan)
- Menstruasi: Wanita dengan darah haid yang banyak (menorrhagia) sangat rentan.
- Perdarahan Samar: Cacingan (infeksi cacing tambang), tukak lambung, wasir, atau kanker usus besar. Ini sering terjadi pada pria dewasa atau lansia yang tiba-tiba anemia tanpa sebab jelas.
Diagnosis: Langkah Medis yang Tepat
Jangan mendiagnosis diri sendiri hanya dengan melihat wajah pucat. Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan:
- Darah Lengkap (Complete Blood Count): Melihat kadar Hb, Hematokrit, dan MCV (ukuran sel).
- Gambaran Darah Tepi: Melihat bentuk sel di bawah mikroskop.
- Profil Besi: Mengukur Serum Iron, TIBC, dan yang paling penting Ferritin.
- Ferritin adalah cadangan zat besi tubuh. Seringkali Hb masih normal, tapi Ferritin sudah turun (fase Iron Depleted). Ini adalah deteksi dini terbaik.
- Elektroforesis Hb: Jika dicurigai ada kelainan genetik seperti Thalassemia.
Tatalaksana dan Pengobatan Terkini
Pengobatan anemia harus berdasarkan penyebabnya. Memberikan zat besi pada penderita Thalassemia justru bisa berbahaya karena dapat menyebabkan penumpukan besi di organ (hemosiderosis).
1. Anemia Defisiensi Besi (ADB)
- Suplementasi Oral: Tablet Tambah Darah (TTD) atau preparat besi (seperti Ferrous Fumarate/Sulfate).
- Tips Penting: Minumlah zat besi bersama sumber Vitamin C (jeruk, jambu biji) untuk meningkatkan penyerapan. Hindari minum bersama teh, kopi, susu, atau obat maag (antasida) karena menghambat penyerapan.
- Terapi Intravena (Infus Besi): Kini semakin populer dan aman untuk kasus anemia berat atau jika pasien tidak tahan efek samping obat minum (mual/konstipasi). Kenaikan Hb lebih cepat terjadi.
2. Diet Tinggi Zat Besi
Mengkonsumsi dua jenis zat besi:
- Heme Iron (Hewani): Paling mudah diserap (Daging merah, hati ayam/sapi, kerang).
- Non-Heme Iron (Nabati): Bayam, brokoli, kacang-kacangan (penyerapannya perlu dibantu Vitamin C).
3. Transfusi Darah
Hanya dilakukan pada kondisi gawat darurat (misalnya Hb < 7 g/dL dengan gejala gangguan jantung) atau perdarahan aktif masif.
Pencegahan: Investasi Jangka Panjang
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan saat ini gencar melakukan pencegahan anemia, terutama karena anemia pada ibu hamil berkorelasi kuat dengan kejadian Stunting pada anak dan perdarahan pasca persalinan.
- Remaja Putri: Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) satu kali seminggu secara rutin.
- Ibu Hamil: Minimal konsumsi 90 tablet zat besi selama masa kehamilan.
- Pemberantasan Cacingan: Minum obat cacing rutin 6 bulan sekali pada daerah endemis.
Kesimpulan
Anemia bukanlah penyakit sepele. Ia adalah manifestasi dari gangguan sistem tubuh yang bisa berdampak pada penurunan kecerdasan anak, produktivitas kerja orang dewasa, hingga risiko kematian pada ibu melahirkan. Penanganan yang tepat dimulai dari diagnosis yang akurat—mengetahui jenis dan penyebab anemianya—bukan sekadar minum obat penambah darah sembarangan.
Kenali gejalanya, perbaiki nutrisinya, dan lakukan pemeriksaan berkala.
Apa yang bisa Anda lakukan sekarang?
Jika Anda sering merasa cepat lelah, rambut rontok, atau sering mengantuk meski cukup tidur, cobalah untuk melakukan pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) di laboratorium terdekat sebagai langkah skrining awal kesehatan Anda.
Referensi:
- World Health Organization (WHO). (2024). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: WHO.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Penanggulangan Anemia Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur.
- Camaschella, C. (2019). Iron-Deficiency Anemia. New England Journal of Medicine.
- Warner, M. J., & Kamran, M. T. (2023). Iron Deficiency Anemia. StatPearls Publishing.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi edukatif dan tidak menggantikan saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu konsultasikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga medis yang berkompeten.

Tinggalkan komentar