A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai dalam kisah lama, diceritakanlah Raja Janaka, raja Kerajaan Videha yang beribukota di Mithila (kini diperkirakan sebagai Jaknapur, Nepal) dan ayah dari Sita – permaisuri Rama dalam kisah Ramayana, dikisahkan pula beliau adalah seorang raja yang bijaksana dalam memerintah negerinya, dan juga raja yang memberikan perhatian pada keilahian.

Suatu ketika di masa pemerintahannya, seorang rsi agung – Rsi Suka berada sedang berada di tengah hutan tidak jauh dari ibukota Mithila (Mithilapura) sedang mengajar beberapa muridnya. Sang raja mendengar kabar ini, dan beliau hendak mengunjungi sang guru untuk menjadi muridnya. Janaka segera pergi ke hutan, setelah menemukan sang guru dan memberi hormat, beliau memohon agar bersedia diterima sebagai salah satu murid sang rsi, dan agar bisa belajar dari sang rsi. Maka sang raja pun kini menjadi murid sang rsi di hutan itu.

Suatu ketika, Janaka sang murid datang terlambat, sang rsi menunggu muridnya tersebut dan tidak memulai pelajaran hingga sang murid tiba, sang rsi pun memberitahukan bahwa pelajaran ditunda karena alasan tersebut. Namun ketika berita ini disampaikan pada murid-muridnya yang telah berada di sana, mereka saling menggerutu. Mungkin mereka telah mengikuti sang guru begitu lama, dan telah percaya bahwa seorang guru agung selayaknya tidak terikat secara khusus pada kekuasaan atau pun orang yang memiliki kekuasaan seperti seorang raja. Kepercayaan mereka pada sang guru menjadi luntur, bersamaan pula rasa iri yang timbul kepada Janaka.

Sang guru mengetahui munculnya rasa-rasa ini di antara para muridnya, beliau-pun hendak memberikan kebijaksanaannya pada murid-muridnya, sedikit pelajaran mungkin. Pada suatu ketika, sang guru membuat para muridnya melihat Mithilapura dalam sebuah kebakaran yang maha hebat. Seketika semua murid memikirkan akibat-akibat buruk dari apa yang mereka saksikan, mereka pun berlarian ke kota untuk menyelamatkan rumah mereka, setidaknya apa pun yang masih dapat diselamatkan.

Namun hanya Janaka yang tetap berada di tempatnya tanpa keraguan. Melihat hal ini Suka berkata pada Janaka bahwa api nampaknya sudah mulai menghampiri istana dan meminta agar Janaka pergi untuk menyelamatkan para penghuni istana. Janaka hanya tersenyum, ia berpikir bahwa kehendak Tuhan harus terjadi dan tak seorang pun dapat mengubahnya.

Murid-murid yang tadi berlarian telah tiba di kota, dan mereka tidak menemukan api kebakaran di sana. Setelahnya mereka menemukan, bahwa hanya Janaka yang tidak terpengaruh akan hal itu dan tetap bersungguh-sungguh di sana.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca