Ringkasan: Demam disertai nyeri kepala hebat, nyeri perut yang kian parah, atau pucat dan memar tanpa sebab pada anak tak boleh ditunggu. Artikel ini merangkum tanda bahaya meningitis, apendisitis, dan leukemia berdasarkan pedoman WHO, NICE, dan penelitian klinis terbaru, serta kapan orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Suatu malam di Banjarmasin, seorang ibu menempelkan punggung tangannya ke dahi putranya yang berusia lima tahun. Demamnya sudah memasuki hari kedua, dan anak yang biasanya riang itu kini meringkuk, menolak lampu kamar dinyalakan. Parasetamol sudah diminum. “Mungkin hanya masuk angin,” pikir sang ibu. Namun nalurinya tidak mau diam.

Naluri seperti ini kerap dipuji sebagai alarm terbaik orang tua. Tulisan saya pada Januari 2010, yang terinspirasi blog Ari Brown, MD, di WebMD, menyampaikan pesan menenangkan: orang tua yang mengenal anaknya “tidak akan melewatkan apa pun”. Enam belas tahun kemudian, pesan itu perlu diperbarui. Naluri memang berharga, tetapi bukan jaminan, dan beberapa penyakit berat pada anak memang dirancang oleh alam untuk menyamar sebagai sakit biasa.
Naluri yang berharga, tetapi bukan satu-satunya alat ukur
Orang tua memang pengamat terbaik bagi anaknya. Anak yang mendadak lemas, tak mau minum, atau sulit dibangunkan memberi informasi klinis yang berharga, dan dokter selalu menanyakannya. Masalahnya, penyakit-penyakit berat pada anak sering diawali gejala yang mirip infeksi ringan, sehingga naluri pun bisa tertipu.
Studi di Kilifi, Kenya, terhadap 12.837 anak rawat inap memperlihatkan batasnya. Hanya 98 anak (0,8%) yang menderita meningitis. Sekumpulan tanda klinis yang diuji mampu menjaring 86% penderita, tetapi spesifisitasnya hanya 38%, artinya banyak anak tanpa meningitis memiliki tanda serupa (Obiero dkk., 2021). Konteksnya rumah sakit di Afrika sub-Sahara sehingga angkanya tidak bisa disalin begitu saja ke Indonesia, tetapi pesannya berlaku luas: satu tanda saja tidak cukup untuk memastikan ataupun menyingkirkan penyakit.
Karena itu pedoman klinis menekankan penilaian risiko yang terstruktur. National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris, misalnya, menganjurkan sistem traffic light (hijau, kuning, merah) untuk menilai risiko penyakit serius pada anak di bawah lima tahun yang demam, dan bagian ini dipertahankan setelah tinjauan pada April 2025 (NICE, 2021, 2025). Pesan praktisnya sederhana: bila ada tanda bahaya, jangan menunggu; bila ragu, periksakan.
Meningitis: ketika selaput otak meradang
Meningitis adalah radang selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Bentuk bakterialnya paling berbahaya dan dapat berakibat fatal dalam waktu 24 jam. WHO memperkirakan sekitar 2,5 juta kasus meningitis terjadi di dunia pada 2019, termasuk 1,6 juta kasus bakterial dengan sekitar 240.000 kematian (BioSpectrum, 2025). Pada April 2025, WHO menerbitkan pedoman global pertamanya tentang diagnosis, terapi, dan perawatan meningitis, yang ditujukan bagi tenaga kesehatan di fasilitas tingkat pertama dan kedua, dari puskesmas hingga rumah sakit (WHO, 2025a, 2025b).
Tanda yang perlu dicurigai
- Demam dengan sakit kepala hebat; anak gelisah dan sulit diajak bicara tentang apa yang ia rasakan.
- Silau: mata menyipit atau menutup saat terkena cahaya.
- Kaku kuduk: nyeri atau enggan menengadah ke langit-langit maupun menunduk ke arah jari kaki.
- Kebingungan, sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau kejang.
- Ruam petekiae: bintik merah keunguan yang rata dengan kulit dan tidak memucat saat ditekan. Tekan sebuah gelas bening pada ruam; bila bintik tetap terlihat jelas, segera ke IGD.
- Pada bayi: rewel tidak seperti biasa, minum buruk, dan ubun-ubun menonjol (Obiero dkk., 2021).
Ruam yang tidak memucat termasuk pesan pengaman yang selalu ditekankan NICE (n.d.), tetapi tidak semua penderita memilikinya, terutama pada awal sakit. Jangan menunggu ruam muncul. Waktu sangat menentukan: standar mutu NICE menetapkan antibiotik intravena dalam satu jam sejak pasien dengan dugaan meningitis bakterial tiba di rumah sakit, dan pungsi lumbal adalah satu-satunya pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis secara langsung (NICE, n.d.).
Bagaimana dengan “aturan Dr. B” pada tulisan lama, bahwa anak yang bisa menengadah ke langit-langit, melihat jari kakinya, dan tidak terganggu cahaya kemungkinan besar bukan meningitis? Penelusuran saya untuk artikel ini tidak menemukan studi yang memvalidasi pemeriksaan itu untuk menyingkirkan meningitis. Pemeriksaan sederhana tersebut bisa menjadi petunjuk bagi dokter, tetapi sebaiknya tidak dipakai orang tua sebagai alasan menunda, apalagi pada bayi yang tidak dapat diajak bekerja sama.
Pencegahan terbaik adalah imunisasi. Vaksin Haemophilus influenzae tipe b (Hib) sudah menjadi bagian imunisasi dasar lewat vaksin pentavalen (Kemenkes RI, 2017). Tanyakan kepada bidan atau petugas puskesmas mengenai kelengkapan imunisasi anak Anda, termasuk vaksin PCV. Pembahasan lebih rinci tersedia di tulisan Meningitis: Mengenali Tanda Bahaya, Memahami Pengobatan, dan Cara Mencegahnya serta ulasan panduan global pertama WHO.
Apendisitis: nyeri perut yang berpindah dan kian parah
Apendisitis adalah radang usus buntu (apendiks). Gambaran klasiknya berupa nyeri samar di sekitar pusar yang beberapa jam kemudian berpindah dan menetap di perut kanan bawah, makin berat saat bergerak, batuk, atau melompat, disertai hilang nafsu makan, mual, dan demam. Pada sebagian anak, diare muncul lebih dulu, kemudian disusul muntah dan demam.
Pada anak, terutama yang masih kecil, gambaran ini sering tidak khas dan tumpang tindih dengan penyakit lain (Chun dkk., 2025). Dokter karena itu memadukan riwayat sakit, pemeriksaan fisik, uji laboratorium, dan bila perlu pencitraan, seperti terangkum dalam pedoman World Society of Emergency Surgery (WSES) 2020 yang memuat alur tersendiri untuk pasien di bawah 16 tahun (Di Saverio dkk., 2020).
Bagaimana dengan “aturan melompat”? Studi satu pusat di Korea pada 142 anak dengan dugaan apendisitis menemukan bahwa heel drop test (menghentakkan tumit ke lantai) yang positif lebih sering ditemukan pada anak dengan apendisitis, dengan kinerja setara nyeri saat batuk, perkusi, atau melompat. Skor CHANSE yang memasukkan uji ini mencapai area under the curve (AUC) 0,794, sedikit lebih baik daripada Pediatric Appendicitis Score (0,763) (Chun dkk., 2025). Jadi nyeri saat melompat memang tanda yang bermakna. Namun ia bukan alat penyingkir: anak yang masih sanggup melompat sekali tidak otomatis bebas dari apendisitis, dan temuan ini masih perlu divalidasi di tempat lain.
Periksakan segera bila nyeri makin berat, menetap di kanan bawah, atau disertai muntah dan demam. Pembahasan lengkapnya dapat dibaca di Apendisitis pada Anak dan Mengupas Tuntas Apendisitis.
Leukemia: ketika “pabrik darah” bermasalah
Leukemia adalah kanker paling sering pada anak. Tinjauan sistematis terhadap 33 studi dengan 3.084 anak menemukan lima temuan yang hadir pada lebih dari separuh anak saat didiagnosis: hati teraba membesar (64%), limpa teraba membesar (61%), pucat (54%), demam (53%), dan memar (52%). Temuan lain yang cukup sering mencakup infeksi berulang (49%), kelelahan (46%), nyeri tungkai (43%), pembesaran kelenjar getah bening (41%), dan kecenderungan berdarah (38%). Sekitar 6% anak bahkan tidak bergejala saat didiagnosis (Clarke dkk., 2016). Peneliti menekankan bahwa kombinasi beberapa gejala dan tanda perlu menimbulkan kewaspadaan.
Perlu dicatat, studi-studi dalam tinjauan itu tidak memiliki kelompok pembanding, sehingga angka tersebut tidak menunjukkan seberapa sering gejala yang sama muncul pada anak yang hanya terkena infeksi biasa. Itulah sebabnya kuncinya terletak pada kombinasi dan kelanjutan gejala: pucat yang menetap, demam tanpa sebab jelas, memar atau mimisan yang mudah terjadi, nyeri tulang atau pincang, serta pembesaran kelenjar atau perut yang tidak membaik perlu dievaluasi dengan pemeriksaan darah lengkap.
Di Indonesia, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) leukemia limfoblastik akut (LLA) pada anak ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/986/2025. PNPK itu mencatat insidens LLA sekitar 4,32 per 100.000 anak dan menegaskan bahwa diagnosis ditegakkan bertahap, dimulai dari pemeriksaan darah lengkap, kemudian aspirasi sumsum tulang, dan imunofenotipe (Kemenkes RI, 2025). Ulasannya dapat dibaca di Harapan Baru bagi Pejuang Kecil dan Mengenal Leukemia Limfoblastik Akut.
Ringkasan tanda bahaya dalam satu tabel
| Penyakit | Tanda yang perlu dicurigai | Jangan dijadikan penenang | Langkah |
|---|---|---|---|
| Meningitis | Demam dengan sakit kepala hebat, kaku kuduk, silau, bingung atau sangat mengantuk, kejang, ruam yang tidak memucat; pada bayi: rewel tidak biasa, minum buruk, ubun-ubun menonjol | Belum ada ruam; kaku kuduk tidak selalu ada, terutama pada bayi | Segera ke IGD; jangan menunggu ruam muncul |
| Apendisitis | Nyeri perut makin berat dan menetap di kanan bawah, nyeri saat bergerak, batuk, atau melompat, mual dan muntah, nafsu makan hilang, demam | Diare di awal; anak masih mau bermain atau sanggup melompat sekali | Periksakan segera ke dokter atau IGD bila nyeri memburuk |
| Leukemia | Pucat menetap, lemas, demam tanpa sebab jelas, memar, mimisan atau bintik merah keunguan, nyeri tulang atau pincang, kelenjar atau perut membesar | Tampak seperti infeksi biasa; sekitar 6% anak tanpa gejala saat didiagnosis | Minta pemeriksaan darah lengkap bila gejala menetap; rujuk ke dokter anak bila perlu |
Kapan harus segera ke IGD?
Diagram berikut merangkum alur sederhana saat anak sakit dan Anda merasa ada yang tidak beres. Diagram ini alat bantu awal, bukan pengganti penilaian dokter.
Gambar 1. Alur sederhana saat anak sakit. Disusun penulis berdasarkan prinsip penilaian risiko pada pedoman NICE (2021, 2024); bukan algoritme baku.
Menyampaikan kekhawatiran kepada tenaga kesehatan
Kunjungan ke puskesmas atau klinik akan jauh lebih produktif bila Anda membawa informasi yang rapi: sejak kapan anak sakit dan bagaimana perjalanannya, suhu tertinggi, apa yang masih mau dimakan dan diminum, apakah buang air kecil berkurang, foto ruam bila ada, serta obat yang sudah diberikan. Katakan terus terang bila naluri Anda berkata ada yang tidak beres; itu informasi klinis yang sah. Dalam keadaan gawat darurat, peserta JKN dapat langsung ke IGD fasilitas kesehatan terdekat tanpa menunggu surat rujukan (Perpres 82/2018).
Penutup
Pesan tulisan lama bahwa orang tua “tidak akan melewatkan apa pun” lahir dari niat baik: mengurangi kecemasan. Pesan yang lebih jujur hari ini barangkali berbunyi begini: naluri Anda adalah alarm yang layak didengar, pengetahuan tentang tanda bahaya membuat alarm itu lebih akurat, dan memeriksakan anak yang ternyata hanya sakit ringan bukanlah kesalahan. Ibu di Banjarmasin tadi, misalnya, membawa putranya ke IGD malam itu. Ia boleh pulang dengan kabar lega. Itu tidak mengurangi ketepatan keputusannya.
Catatan Transparansi
- Kisah ibu di Banjarmasin adalah ilustrasi fiktif, bukan kasus nyata. Gambar unggulan dibuat dengan AI.
- Artikel ini memperbarui tulisan tahun 2010 yang bertolak dari blog Ari Brown, MD, di WebMD. Klaim “tidak akan melewatkan apa pun” dan dua “aturan Dr. B” tidak dipertahankan sebagai kaidah karena penelusuran saya tidak menemukan studi validasinya.
- Keterbatasan bukti: studi Kenya dilakukan di rumah sakit Afrika sub-Sahara; tinjauan Clarke dkk. memuat studi tanpa kelompok pembanding; studi heel drop test berasal dari satu pusat di Korea (142 anak); pedoman WSES 2020 awalnya disusun untuk apendisitis secara umum dengan algoritme terpisah untuk usia di bawah 16 tahun.
- Pedoman NICE NG240 dan NG143 ditelaah melalui halaman resmi dan ringkasannya; tabel lengkapnya tidak dibaca langsung. Angka beban global meningitis WHO dikutip dari salinan siaran pers WHO di BioSpectrum dan sebaiknya diverifikasi ke dokumen aslinya. Angka insidens LLA dan nomor Keputusan Menteri Kesehatan dikutip dari ulasan PNPK terdahulu di blog ini; dokumen PNPK asli tidak dibaca ulang untuk artikel ini.
- Data epidemiologi Indonesia untuk meningitis dan apendisitis pada anak tidak ditemukan dalam penelusuran ini. Pedoman NICE berasal dari Inggris dan perlu disesuaikan dengan pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta pedoman nasional setempat.
- Pasal rujukan JKN pada Perpres 82/2018 disebut secara umum; silakan merujuk langsung pada teks peraturannya.
Peringatan Penting
Tulisan ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh dokter. Bila anak Anda menunjukkan tanda bahaya, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Referensi
BioSpectrum. (2025, 14 April). WHO unveils first-ever guidelines on meningitis diagnosis and treatment. https://biospectrumindia.com/news/57/25984/who-unveils-first-ever-guidelines-on-meningitis-diagnosis-and-treatment.html
Chun, M. K., Park, J. S., Kim, D., Han, J., Lee, J.-Y., Lee, J. S., & Choi, S. J. (2025). The CHANSE score: A novel clinical tool incorporating the heel drop test for the diagnosis of pediatric appendicitis. Frontiers in Pediatrics, 13, Article 1724592. https://doi.org/10.3389/fped.2025.1724592
Clarke, R. T., Van den Bruel, A., Bankhead, C., Mitchell, C. D., Phillips, B., & Thompson, M. J. (2016). Clinical presentation of childhood leukaemia: A systematic review and meta-analysis. Archives of Disease in Childhood, 101(10), 894–901. https://doi.org/10.1136/archdischild-2016-311251
Di Saverio, S., Podda, M., De Simone, B., Ceresoli, M., Augustin, G., Gori, A., Boermeester, M., Sartelli, M., Coccolini, F., Tarasconi, A., De’ Angelis, N., Weber, D. G., Tolonen, M., Birindelli, A., Biffl, W., Moore, E. E., Kelly, M., Soreide, K., Kashuk, J., . . . Catena, F. (2020). Diagnosis and treatment of acute appendicitis: 2020 update of the WSES Jerusalem guidelines. World Journal of Emergency Surgery, 15, Article 27. https://doi.org/10.1186/s13017-020-00306-3
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/986/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak.
National Institute for Health and Care Excellence. (n.d.). Meningitis (bacterial) and meningococcal disease (Quality standard QS19). https://www.nice.org.uk/guidance/qs19
National Institute for Health and Care Excellence. (2021). Fever in under 5s: Assessment and initial management (NICE guideline NG143). https://www.nice.org.uk/guidance/ng143
National Institute for Health and Care Excellence. (2024). Meningitis (bacterial) and meningococcal disease: Recognition, diagnosis and management (NICE guideline NG240). https://www.nice.org.uk/guidance/ng240
National Institute for Health and Care Excellence. (2025). April 2025 exceptional surveillance of fever in under 5s: Assessment and initial management (NICE guideline NG143). https://www.nice.org.uk/guidance/ng143
Obiero, C. W., Mturi, N., Mwarumba, S., Ngari, M., Newton, C. R., van Hensbroek, M. B., & Berkley, J. A. (2021). Clinical features of bacterial meningitis among hospitalised children in Kenya. BMC Medicine, 19, Article 122. https://doi.org/10.1186/s12916-021-01998-3
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
World Health Organization. (2025a). WHO guidelines on meningitis diagnosis, treatment and care. WHO. ISBN 978-92-4-010804-2
World Health Organization. (2025b, 10 April). WHO launches first-ever guidelines on meningitis diagnosis, treatment and care. https://www.who.int/news/item/10-04-2025-who-launches-first-ever-guidelines-on-meningitis-diagnosis–treatment-and-care
Baca juga: Menangis Belum Tentu Sakit, Diam Belum Tentu Sehat: Membaca Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir





Tinggalkan Balasan