A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Cuaca Yogyakarta sangat panas, saya sering kali susah mendapatkan tidur yang lelap di malam hari, mudah berkeringat di malam hari karena cuaca seperti ini bukanlah hal yang mudah. Kadang saya terbangun lagi setelah tertidur beberapa jam, dan kemudian susah tidur kembali. Tapi kali ini cerita saya bukan masalah susahnya tidur.

Malam beberapa hari yang lalu, saya terbangun dari tidur. Rupanya tetangga saya juga masih asyik menonton pertandingan bola di kamar sebelah. Karena terbangun dengan perut kelaparan dan kehausan, kemudian saya pergi ke burjo tidak jauh dari rumah, kebetulan Arie juga ikut serta setelah tampaknya pertandingan bola masih belum menunjukkan perkembangan yang menarik di lapangan hijau.

Sesampainya di burjo, kami melihat bahwa di sana telah duduk sepasang muda-mudi (they didn’t look like a married couple) yang tampaknya hanya memesan minuman dingin. Seharusnya ini bukanlah pemandangan aneh, namun yang membuat saya tak pernah terbiasa dengan pemandangan ini adalah karena jam di dinding burjo itu menunjukkan waktu pukul satu malam. Yang gadis lumayan cantik (outer beauty obviously), karena duduk tepat di garis pandang saya, sedangkan yang pria tidak begitu tampak jelas (maaf, sudah gelap, tidak bawa kacamata, dan memang sengaja ga tertarik buat memandang, he he).

Beberapa saat kemudian mereka selesai lebih dulu, dan pergi meninggalkan burjo setelah membayar makan dan minumnya. Yang perempuan menyalakan rokok, sembari pasangan itu masuk ke dalam sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari burjo. Meski sering membaca dan mendengar tentang sisi lain wajah malam kehidupan muda-mudi, tapi untuk melihatnya langsung tetap saja tidak akan pernah merasa terbiasa. Walau demikian kami sempat berkelakar tentang kapan kira-kira seremoni penggerebekan digelar oleh warga.

Baiklah saya rasa itu cukup untuk pendahuluan. Sepertinya masa kini sangat jauh berbeda dengan masa lalu. Lalu bagaimana dengan masa lalu? Hmm…, anak-anak tidak banyak memiliki jam malam, pun ada gelapnya malam mungkin telah menelan lebih banyak ingatan daripada yang bisa digali kembali.

Saya tidak sering keluar malam saat kecil. Namun di sana ada saat-saat di mana saya menemukan diri saya di tengah persawahan di malam hari, seperti ketika sedang mencari belut dengan manual berbekal lampu spiritus dan alat-alat manual. Dulu belut sangat banyak di persawahan, mungkin itu adalah masa-masa di mana tanah persawahan belum terlalu tercemar dengan pestisida atau pun bahan kimia lainnya, mendapatkan belut berukuran besar adalah hal yang menyenangkan. Biasanya memilih waktu di musim panas ketika terang bulan atau purnama, sehingga persawahan cukup terang walau pada malam hari. Ya, rembulan adalah penuntun kegiatan manusia di malam hari pada tanah terbuka.

Kadang melihat ke langit dan begitu banyak bintang yang sangat indah, apalagi jika malam tanpa awan. Katanya, pada masa sebelum saya lahir, didongengkan bahwa langit malam jauh tampak lebih indah lagi, karena orang-orang bisa melihat bima sakti dengan sangat jelas, legenda sungai bintang di langit sana hampir dikenal di seluruh penjuru dunia. Namun sungai cahaya malam itu kini telah banyak tercuri oleh cahaya buatan manusia di bumi, mereka mengambil indahnya langit malam dari pandangan kita. Saya dulu sangat tertarik pada mimpi-mimpi menjelajah angkasa yang gelap dan terang sekaligus, saya ingin mendalami ilmu-ilmu seperti astronomi atau-pun astrofisika (walau bukan termasuk astrologi) – sayangnya mimpi yang satu ini tak pernah terwujud karena … yah biasa-lah kalau tidak mendapat dukungan orang tua. Jadi kini saya membenamkan diri dalam cahaya buatan manusia pada malam di sebuah planet bernama bumi.

Tapi tak apa, di bumi pada malam hari juga ada cahaya di bumi yang tidak pernah diciptakan manusia. Dulu bisa ditemukan sangat banyak di persawahan kami, mereka adalah kunang-kunang, kelompok mereka yang bisa mencapai puluhan atau ratusan bertebaran dalam hamparan luas persawahan di kala malam, mereka adalah pemikat hati di malam hari. Anak-anak kecil semasa saya bisa menangkap dengan mudah satu atau dua ekor saat mereka hingga dengan anggun di ujung-ujung rumput ilalang atau daun padi. Dan melihat bagaimana mereka bercahaya dengan indah di telapak tangan. Di mata seorang anak seperti saya, serangga kecil yang bersinar itu adalah sebuah kekaguman tersendiri, cahayanya membuat mata seorang anak bercahaya dan berbinar dengan penuh rasa suka dan kagum. Walau kini kembali, pemandangan itu sangat langka, menemukan seekor-pun di persawahan modern yang telah banyak terkontaminasi adalah sebuah keajaiban. Saya tidak tahu, mungkin kita telah merusak habitat dan ekosistem yang menunjang kehidupan mereka.

Atau kadang sisi lain dari malam adalah sebuah festival. Di Bali, berbagai rangkaian upacara agama dan adat bisa berlangsung berhari-hari, baik siang mau-pun malam, rasanya itu seperti festival saja. Ada kalanya anak-anak tidak bisa ditinggal begitu saja di rumah, sehingga turut serta dalam acara-acara tersebut hingga larut malam.

Namun malam hari tidak selalu meriah, tidak selalu hal-hal yang menyenangkan atau menggembirakan, walau kita cenderung menyimpan ingatan yang menyenangkan dan membuang yang tidak menyenangkan. Ada kekelaman yang lebih pekat daripada malam itu sendiri, hal ini bisa ditemukan dalam berbagai perjalanan, termasuk pada masa kanak-kanak.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

36 tanggapan

  1. Avatar Asop
    Asop

    Jujur aja, saya ga suka keluar malam. 🙁
    Enakan di rumah. Saya anak rumahan. LOL

  2. Avatar kikakirana
    kikakirana

    Cerita yang pertama udah nggak penasaran,,, sudah terlalu banyak yang seperti itu,,, sampai heran sendiri… ada apa dengan dunia ini??? semakin lama kenapa semakin parah saja… upzz salah.. mungkin lebih tepatnya adalah ada apa dengan manusia” ini.. 😀

    selanjutnya tentang bali,,, jadi penasaran… sebenernya giman sich kehidupan di sana itu… :d

    HIDUP!!! ^_^

  3. Avatar Aulia

    hmm, jika membaca baris demi baris akan indahnya malam..
    sungguh dalam sebuah malam belum menjadi malam terbaik bagi kita..
    cuaca sangat mempengaruhi, lelah, tidak nyaman dan sebagainya itulah malam.
    semoga malam2 yang kita lalui menjadi malam yang selalu hadir dalam hidup yang sementara ini..

    salam blogwalking cahya 🙂

  4. Avatar lia sikupu
    lia sikupu

    burjo itu semacam kafe, ya?

    1. Avatar Cahya

      Lia,

      Ha ha…, boleh juga sih dibilang begitu, tapi mungkin lebih mirip warteg daripada kafe. Coba dicari dengan google, pasti lebih banyak keterangan yang lainnya 🙂

    2. Avatar ilham

      orang mana neng?kalo orang jawa harusnya tau.xixixi :p

  5. Avatar Rani
    Rani

    hahahah coba ikutin cewe ma cowonya kekontrakan biar jelas apa yg dilakukan,,biar ga timbul fitnah 😀
    Salam kenal..
    jeruk

    1. Avatar Cahya

      Rani,

      Ha ha…, jangan lupa, pepatah lama bilang, “rasa ingin tahu dapat membunuh seekor kucing“, jangan sampai karena penasaran kita membahayakan posisi aman baik secara normatif maupun secara legal 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca