A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagaimana yang mungkin Anda tahu, blog saya (untuk saat ini) sudah “melanggar” setidaknya dua anjuran keterbacaan (readability) untuk sebuah situs web. Pertama adalah penggunaan teks imbangan  (justified text), yang bisa mengganggu pembaca dengan disabilitas/hendaya kognitif sebagaimana yang ditulis secara singkat di “Konten Web Sebaiknya Tidak Menggunakan Justified Text”. Dan yang kedua adalah penggunaan latar gelap untuk sebuah situs web yang bisa mengganggu, bukan hanya untuk mereka dengan disleksi, namun juga pembaca secara umumnya, merujuk kembali pada tulisan “Web Readability on Dark Background” dan sumber-sumber yang disitasikan.

Saya bukannya tidak menyukai teks imbangan dibandingkan dengan standar teks rata kanan yang banyak digunakan dipelbagai situs formal – bahkan juga digunakan dalam penulisan laporan formal. Yang banyak diteliti, jika saya tidak keliru, adalah penggunaan justified text pada latar terang/cerah, bagaimana dengan justified text pada latar gelap? Apakah efek rivers of white yang ada di latar terang/cerah akan menjadi rivers of black? Ah…, apakah bisa dua sisi negatif ini bertemu dan menjadi sisi yang positif seperti dalam perkalian matematika? Entahlah, namun rasanya saya tidak ingin berkompromi atau pun tidak ingin berasumsi tanpa dasar.

Untuk isu dengan teks imbangan, saya mencoba cara lama yang saya gunakan ketika saya masih bergelut bersama mesin tik (mesin ketik/typewriter) di saat saya masih SMP dan SMA dulu. Efek rivers of white terjadi karena ruang/spasi antar kata melebar sesuka hati pada penggunaan teks imbangan di latar terang. Sedangkan pada teks rata kanan, rata kiri dan tengah tidak memiliki efek ini karena relatif spasi antar kata memiliki jarak monoton.

Juga karena saya belum menemukan cara paling akurat untuk menghadirkan jarak monoton pada spasi antar kata, maka saya memutuskan cara klasik penggunaan tanda sambung “ – “ atau yang disebut hyphenation. Beberapa kata diakhir baris yang terlalu panjang akan dipenggal dengan tanda sembung sesuai dengan suku katanya.

Misalnya kata “sambungan” bisa dipenggal menjadi “sam-bungan” penggelan pertama akan berada di akhir baris di mana kata itu aslinya berada, dan penggalan kedua akan berada di awal baris berikutnya. Cara ini mungkin tidak sempurna, namun setidaknya dapat mengurangi lebar spasi antar kata di barisnya.

Hal ini tidak saya lakukan secara manual, karena akan terjadi banyak pemenggalan yang tidak sesuai jika dibaca dengan peramban atau pun sistem yang berbeda, baik di teks asli, peramban ponsel, atau pun di pemasok RSS. Jadi untuk di blog ini, saya menggunakan bantuan pengaya “Wp-Typography” untuk melakukan hyphenation.

Adapun setelan yang saya gunakan untuk penempatan hyphenation adalah tidak memenggal kata yang kurang dari 5 huruf, sediakan setidaknya 3 huruf di awal penggalan atau setidaknya 2 huruf di akhir penggalan dengan mengacu pada ejaan Bahasa Indonesia. Saya tidak melakukan pemenggalan pada eleman <hx>heading</hx>, tidak juga untuk kata (termasuk singkatan) yang menggunakan huruf kapital seluruhnya, walau saya memberikan pemenggalan kata yang diawali huruf kapital.

Saya tidak menjamin hyphenation menyelesaikan permasalahan dengan teks imbangan, namun ini yang sementara dapat saya kerjakan. Jika Anda memiliki masukkan, silakan disampaikan 🙂 – hyphenation juga bisa digunakan pada teks rata kanan ataupun kiri, namun rasanya kurang cocok untuk teks tengah.

Untuk latar gelap saya belum memiliki solusi yang baik. Well, ini masalah selera bukan? Mungkin pembaca bisa menggunakan Safari Reader atau RSS Reader pun RSS Mail untuk membaca blog ini di latar putih, pengguna peramban Firefox dapat memanfaatkan ekstensi Readability untuk fungsi serupa.

Artikel Baru Terbit

  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

28 tanggapan

  1. Avatar rismaka
    rismaka

    Ah, dan sophie pun bertanya,…

    "Mengapa dibuat sulit?"

  2. Avatar ardianzzzz
    ardianzzzz

    Ah, WP-Typography. Plugin favorit saya untuk wordpress 🙂

    Saya jadi teringat pada javaScript hyphenator. Tetapi sepertinya untuk WP-Typography menggunakan PHP ya, jadi lebih kompatibel pada semua browser.

    Ah ya, tipografi berperan penting pada aksesibilitas, tidak hanya pada keterbacaan tetapi juga desain antarmuka. Kita tidak harus memaksaka menggunakan sans-serif dari font generik untuk menunjang keterbacaan. Penggunaan font serif dan modern juga bisa.

    Biar saya tebak (tanpa mengintip source hehe) saya melihat Constantia disini, Ah font yag sangat bagus, sayang sekali hanya terdapat pada Microsoft Windows keluaran terbaru, entah pada macintosh dan untuk pengguna linux semoga puas dengan DejaVu, Nimbus, atau Georgia :p

  3. Avatar Cahya

    @Bli Dani,
    Itulah yang sebenarnya saya khawatirkan :(.

    @Orangefloat,
    Iya, makanya teknologi pengaya readibility sangat membantu bahkan untuk orang normal sekali-pun untuk menghadapi blog yang pemilikinya keras kepala seperti saya :D.

    @Mas Hanif,
    Terus terang saya juga bukan ahli masalah desain web untuk menilai keterbacaannya.

    @Kikakirana,
    WordPress.com asal tidak diutak-atik terlalu banyak biasanya juga sudah mendukung konsep keterbacaan yang baik 🙂

  4. Avatar kikakirana
    kikakirana

    wah maz cahya ini sampai detail sekali ya…
    belajar banyak dari sini… 😉
    soalnya klo QK sich nggak terlalu tahu aturan” itu,, yg Qk tau waktu ngeblog sebenernya cuman nitip tulisan aja di dunia maya :mrgreen:

    klo soal yang lain”nya biarlah seperti apa adanya :mrgreen:

    HIDUP!!! ^_^

  5. Avatar orange float
    orange float

    selera tiap orang kan beda, blog sendiri kelola sendiri. sebelumnya saya jg pernah nemu blog dgn latar hitam, butuh waktu agak lama saya membaca tulisannya 🙂

  6. Avatar dani

    Cahya,

    logikanya, jika pengguna normal saja merasa kurang nyaman dengan penggalan kata, apalagi penyandang disabilitas.

    Penyandang disabilitas bisa memakai peramban Web 'desktop/mobile' yang sama dengan punya kita. Hanya saja, diintegrasikan dengan 'screen reader', 'voice browser', atau menyetel fitur khusus aksesibilitas di tiap perambannya. Misal, mematikan CSS, memakai 'style sheet' (pilihan warna, huruf, kolom) sendiri. Di Firefox juga ada ekstensi khusus untuk itu, selain pengaya Readability. 🙂

  7. Avatar Cahya

    @Mas Pandu,

    Saya hanya menggunakan yang sudah disediakan oleh para pakar pengembangan web, jadi tidak ada yang baru di blog saya kalau masalah web 🙂

    Ya, tapi kan jangan sampai selera saya mengganggu publik kan Mas Pandu, sama halnya dengan pemilik motor jangan sampai bikin suara motornya super "keren" eh malah mengundang polusi suara 😀

    @Mas Is,

    Saya tidak menyertakan memang pranalanya, karena bisa dengan mudah ditemukan di koleksi pengaya WordPress, kan tinggal panggil via Googling (meminjang kebiasaan Bli Dani), he he…

    Align left memang tidak perlu hyphenation kan Mas Is, tapi bisa diisi, sehingga menyerupai justified text nanti hasilnya.

    Tentang latar pekat saya belum sempat ngecek, Opera Dragonfly-nya agak lemot saat mau dibuka 😆

    @Fiya,

    Terima kasih Fiya, saya hanya memikirkan beberapa aspek "kemanusiaan" yang mungkin sudah saya abaikan 🙂

    @Mas Agung,

    Itu ditampilkan dengan arsitektur Carrington yang otomatis mendeteksi peramban ponsel yang sudah didaftarkan. Memang menggunakan latar cerah, walau tidak putih sepenuhnya. Arsitektur serupa diterapkan pada WordPress.com dan Blogspot untuk diakses via peramban ponsel. Sepertinya memang sudah standarnya demikian.

    Opera Mobile 10 rasanya juga sia-sia ditambahkan, hanya cocok kalau ponsel kita mendukung jaringan WiFi atau punya akses 3G unlimited 🙂 – Jika tidak ya seperti yang Mas Agung bilang, pulsanya bisa terancam 😀

    @Pak Aldy,

    Penggalannya memang otomatis, menyesuaikan dengan pola imbuhan, kata dasar, dan tentu saja suku kata. Tapi mungkin mesinnya belum sempurna, sehingga ada beberapa penggalan yang kurng tepat.

    @Bli Dani,

    Ya, kita kan pengguna normal Bli. Btw, apa tidak ada peramban khusus untuk para penyandang disabilitas sehingga mereka tidak perlu melakukan konversi pada sebuah web page yang tidak asesibel dan usabel bagi mereka secara manual?

    Jadi saat ditampilkan akan langsung tampak seperti yang menggunakan pengaya Readability itu?

    Ah, kecuali daniiswara.com memang tidak bisa dikonversi lagi 😆 – kalau bisa dikonversi ke bentuk yang bisa diakses dan digunakan oleh penyandang disabilitas dengan platform yang ramah bagi mereka, saya rasa itu bisa menjadi titik temu antara dua dunia, dan tidak memaksakan satu ke arah yang lainnya.

    @TuSuda,

    Terima kasih Dok, asal tampil beda tidak berarti menyulitkan orang lain 🙂

    @Ismi,

    Salam kenal Bu 🙂

    @Zee,

    Pada akhirnya justified text akan menuju sisi estetika ya Mbak 🙂

    @Mas Pushandaka,

    Rivers of white bukan keluhan umum pada para pembaca normal Bli Gung, tapi para penyandang disabilitas, biasanya muncul pada situs yang mengusung typography dengan justified text/full text justification dan monospaced fonts.

    Tapi mungkin kalau parah sekali, orang normal pun bisa merasa terganggu (terdistraksi) saat membaca konten.

    @Pak Huang,

    Sudah disunting Pak, terima kasih sudah diingatkan dan dikoreksi 🙂

  8. Avatar Huang
    Huang

    koreksi bli hari : asepsaiba bukan asopsaiba 😛

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca