A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Anda mungkin mengenal kisah-kisah Tansen, nama lengkapnya adalah Miyan Tansen atau Ramtanu Pandey (1439/1506 – 1586/1589), ia adalah salah satu dari komposer musik terhebat di era musik klasik Hindustan. Ia juga seorang vokalis dengan bakat luar biasa, dan merupakan bagian kebanggaan dari Navaratnas (sembilan mutiara) oleh Kaisar Akbar dari Kekaisaran Mughal.

Sebagai ahli musik istana yang termasyhur, Akbar sangat senang mendengarkan saat-saat Tansen menyanyi. Jika ia menyanyikan raag Meghamala, maka awan-awan akan menebal di langit. Jika ia menyanyikan raag Varuna, maka hujan lebat akan turun. Bila ia menyanyikan Nagasvara, maka ular-ular akan datang dari segenap penjuru dan berkumpul. Tidak salah jika Kaisar Akbar sangat bangga dengan ahli musiknya.

Suatu hari, sang kaisar sedang berdoa, namun di kejauhan didengarnya tembang yang dilantunkan seorang Haridasa – penyanyi pengembara – pengemis yang menyanyi diiringi alat musik berdawai tunggal. Namun entah mengapa, lantunan lagu itu membuat hati sang kaisar tergerak & terharu pun terpesona.

Ia bertanya kepada Tansen, mengapa lagu itu begitu memikat hatinya, melebihi lagu-lagu Tansen yang sering ia bawakan di istina kekaisaran?

Tansen menjawab dengan hormat, “Yang Mulia, saya menyanyi sambil memandang wajah anda untuk melihat tanda-tanda penghargaan dengan harapan Yang Mulia akan menganugerahkan batu permata indah atau beberapa bidang tanah. Namun Haridasa ini menyanyi sambil memandang wajah Tuhan tanpa keserakahan untuk kekayaan material atau ambisi akan barang-barang duniawi. Itulah perbedaannya Yang Mulia.”

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

7 tanggapan

  1. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Inilah hikmah hakiki dari sebuah pelayanan sejati semata-mata hanya untuk Yang Kuasa. Karena kita adalah hamba abadi Dari-NYA.

  2. Avatar Admin
    Admin

    Bahkan seorang Tansen pun hanya sanggup menyentuh dibatas kagum seorang Kaisar tidak menyentuh hatinya seperti yang dilakukan seorang Haridasa

  3. Avatar Hariez
    Hariez

    kangen lama tak kunjung kesini Pak… 😀

    saya rasa apa yang dikatakan Tansen benar, dimana seorang Haridasa hanya berharap Ridho dari Tuhan bukan dari sesamanya. Itu yang saya tangkap dari tulisan Anda Pak

    salam hangat

  4. Avatar budiastawa
    budiastawa

    Melakukan sesuatu yang didasari hati pamrih ataupun ikhlas, akan mendatangkan hasil yang berbeda pula. Tentunya hal yang didasari ikhlas nilainya akan lebih tinggi. Begitulah yang saya tangkap dari cerita di atas.

  5. Avatar Hary4n4
    Hary4n4

    kemurnian memang selalu melahirkan karya indah dan kebahagiaan yg terdalam…

  6. Avatar Mr, Kem
    Mr, Kem

    selalu bersyukur dan nimati segala pemberian NYA..memang jauh lebih indah

  7. Avatar PF
    PF

    Lakukan sebuah tugas/kewajibn dengan iklas. Pamrih yang tiada berujung, membuat kita seperti pengemis 🙁

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca