- Memahami Mekanisme Terjadinya Miopia
- Epidemiologi: Fenomena Global yang Mengkhawatirkan
- Faktor Risiko: Genetik dan Lingkungan
- Klasifikasi Miopia
- Gejala dan Dampak Klinis
- Pemeriksaan dan Diagnosis
- Strategi Pencegahan: Pendekatan Berbasis Bukti
- Manajemen Miopia: Koreksi dan Kontrol
- Pertimbangan Khusus
- Mitos dan Fakta Seputar Miopia
- Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Kesimpulan
Rabun jauh, atau yang dalam bahasa medis disebut miopia (myopia), kini menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling umum di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensinya terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah. Kondisi ini sering disebut sebagai “mata minus” karena koreksinya memerlukan lensa negatif atau minus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai nearsightedness.
Secara medis, miopia adalah kelainan refraksi mata yang menyebabkan bayangan objek jatuh di depan retina ketika mata dalam keadaan tidak berakomodasi. Akibatnya, penderita miopia dapat melihat objek yang dekat dengan jelas, namun mengalami kesulitan melihat objek yang jauh dengan tajam.
Memahami Mekanisme Terjadinya Miopia
Untuk memahami miopia, kita perlu mengenal cara kerja mata normal. Pada mata yang sehat, cahaya yang masuk melalui kornea dan lensa akan difokuskan tepat di retina. Namun pada mata dengan miopia, terjadi ketidaksesuaian antara kekuatan refraksi mata dengan panjang bola mata, sehingga fokus cahaya jatuh di depan retina.

Ada dua mekanisme utama yang menyebabkan terjadinya miopia:
1. Miopia Aksial (Axial Myopia)
Ini merupakan jenis miopia yang paling umum, terjadi ketika bola mata terlalu panjang pada sumbu anteroposteriornya. Setiap pemanjangan 1 mm pada sumbu bola mata akan meningkatkan miopia sekitar 3 dioptri. Miopia aksial sering kali bersifat progresif, terutama selama masa pertumbuhan anak.
2. Miopia Refraktif (Refractive Myopia)
Terjadi ketika kornea atau lensa mata memiliki kelengkungan yang berlebihan, atau ketika indeks refraksi media okular mengalami perubahan. Miopia jenis ini dapat dijumpai pada kondisi seperti keratokonus atau perubahan indeks refraktif lensa akibat diabetes yang tidak terkontrol.
Epidemiologi: Fenomena Global yang Mengkhawatirkan
Data global menunjukkan bahwa prevalensi miopia telah mencapai proporsi epidemik. Penelitian meta-analisis terbaru memperkirakan bahwa pada tahun 2050, hampir 50% populasi dunia atau sekitar 5 miliar orang akan mengalami miopia, dan sekitar 10% di antaranya akan menderita miopia tinggi (high myopia) yang meningkatkan risiko komplikasi serius.
Di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensinya bahkan lebih tinggi. Studi di berbagai kota besar Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa sekolah menengah atas mengalami miopia dalam berbagai derajat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, namun mulai merambah ke daerah pedesaan seiring dengan perubahan gaya hidup.
Faktor Risiko: Genetik dan Lingkungan
Penelitian terkini mengungkap bahwa miopia adalah kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.
Faktor Genetik
Jika kedua orang tua menderita miopia, risiko anak mengalami miopia meningkat hingga 6-8 kali lipat dibandingkan anak dengan orang tua tanpa miopia. Penelitian genom telah mengidentifikasi lebih dari 400 lokus genetik yang terkait dengan miopia, termasuk gen PAX6, RASGRF1, dan GJD2. Namun, faktor genetik saja tidak cukup menjelaskan peningkatan prevalensi yang dramatis dalam beberapa dekade terakhir.
Faktor Lingkungan
Bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa faktor lingkungan memainkan peran yang sangat signifikan:
1. Aktivitas Di Dalam Ruangan (Near Work)
Waktu yang dihabiskan untuk aktivitas jarak dekat seperti membaca, menulis, menggunakan gawai, dan bermain game, berkorelasi positif dengan peningkatan risiko miopia. Mekanismenya diduga terkait dengan akomodasi mata yang berlebihan dan konvergensi yang terus-menerus.
2. Paparan Cahaya Alami
Ini merupakan temuan paling menarik dalam penelitian miopia beberapa tahun terakhir. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan (minimal 2 jam per hari) memiliki risiko lebih rendah mengalami miopia atau mengalami progres miopia yang lebih lambat. Cahaya alami diduga merangsang pelepasan dopamin di retina, yang berperan dalam menghambat pemanjangan bola mata.
3. Tingkat Pendidikan dan Urbanisasi
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kehidupan urban berkorelasi dengan prevalensi miopia yang lebih tinggi, kemungkinan terkait dengan peningkatan aktivitas akademik dan berkurangnya waktu di luar ruangan.
4. Status Sosial Ekonomi
Meskipun tampak paradoks, status sosial ekonomi yang lebih tinggi justru berkorelasi dengan prevalensi miopia yang lebih tinggi, diduga terkait dengan akses pendidikan yang lebih baik dan lebih banyak waktu untuk aktivitas akademik.
Klasifikasi Miopia
Pemahaman tentang klasifikasi miopia penting untuk menentukan pendekatan penanganan yang tepat.
Berdasarkan Derajat
- Miopia Ringan: -0.50 hingga -3.00 dioptri (D)
- Miopia Sedang: -3.25 hingga -6.00 D
- Miopia Tinggi (High Myopia): lebih dari -6.00 D
Berdasarkan Usia Onset
- Miopia Kongenital: Sudah ada sejak lahir, biasanya tinggi dan progresif
- Miopia Onset Anak (Childhood Onset): Muncul antara usia 6-12 tahun
- Miopia Onset Remaja (Teenage Onset): Muncul saat usia 13-18 tahun
- Miopia Onset Dewasa: Muncul setelah usia 20 tahun, relatif jarang
Berdasarkan Progresivitas
- Miopia Stasioner: Tidak mengalami perubahan dalam 1-2 tahun terakhir
- Miopia Progresif: Mengalami peningkatan lebih dari 0.50 D per tahun
- Miopia Degeneratif (Patologis): Miopia tinggi yang disertai perubahan degeneratif pada struktur mata
Gejala dan Dampak Klinis
Gejala Umum
Gejala utama miopia adalah kesulitan melihat objek jauh dengan jelas. Pada anak-anak, gejala ini sering kali tidak disadari atau tidak dikeluhkan secara langsung. Orang tua dan guru perlu waspada terhadap tanda-tanda berikut:
- Sering menyipitkan mata saat melihat jauh
- Duduk terlalu dekat dengan televisi atau layar
- Mengeluh tidak bisa membaca tulisan di papan tulis
- Sering mengeluh sakit kepala, terutama setelah aktivitas yang memerlukan penglihatan jauh
- Sering menggosok-gosok mata
- Berkedip berlebihan
- Prestasi akademik menurun karena kesulitan melihat materi pelajaran
Pada orang dewasa, gejala tambahan bisa berupa:
- Kelelahan mata (asthenopia) saat mengemudi, terutama malam hari
- Kesulitan melihat rambu lalu lintas atau nomor kendaraan dari jarak jauh
- Pandangan kabur saat beralih dari melihat dekat ke jauh
Komplikasi Miopia Tinggi
Miopia tinggi bukan sekadar masalah ketidaknyamanan visual. Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius:
1. Ablasio Retina
Pemanjangan bola mata menyebabkan penipisan dan peregangan retina, meningkatkan risiko robekan dan lepasnya retina. Risiko meningkat 10 kali lipat pada miopia tinggi.
2. Degenerasi Makula Miopia (Myopic Macular Degeneration)
Perubahan degeneratif pada makula akibat peregangan jaringan, dapat menyebabkan kehilangan penglihatan sentral permanen.
3. Glaukoma
Risiko glaukoma sudut terbuka meningkat 2-3 kali lipat pada penderita miopia tinggi.
4. Katarak
Katarak, terutama jenis nuclear dan posterior subcapsular, cenderung muncul lebih dini pada penderita miopia tinggi.
5. Neovaskularisasi Koroid
Pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina yang dapat menyebabkan perdarahan dan jaringan parut.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Deteksi dini miopia sangat penting, terutama pada anak-anak. Skrining rutin direkomendasikan dimulai sejak usia 3-4 tahun, dan dilanjutkan setiap tahun selama masa sekolah.
Pemeriksaan Standar
1. Pemeriksaan Visus
- Kartu Snellen untuk jarak jauh (biasanya 6 meter)
- Kartu Jaeger atau Near Vision Chart untuk jarak dekat
2. Pemeriksaan Refraksi
- Retinoskopi: Metode objektif menggunakan retinoskop
- Autorefraktometer: Pemeriksaan otomatis mengukur refraksi mata
- Subjektif Refraksi: Pemeriksaan dengan trial lens untuk mendapatkan koreksi terbaik
- Cycloplegic Refraction: Pemeriksaan refraksi dengan pupil yang didilatasi, penting pada anak untuk mendeteksi miopia sebenarnya
3. Pemeriksaan Panjang Aksial Bola Mata
Menggunakan ultrasound biometri atau optical biometry (IOL Master), penting untuk monitoring progresivitas miopia.
4. Pemeriksaan Segmen Anterior dan Posterior
Untuk mendeteksi perubahan struktural dan komplikasi.
Kapan Harus Memeriksakan Mata?
- Skrining rutin setiap 1-2 tahun untuk anak usia sekolah
- Segera jika anak mengeluh kesulitan melihat papan tulis
- Jika ada riwayat keluarga dengan miopia tinggi
- Pada penderita miopia, kontrol rutin setiap 6-12 bulan untuk monitoring progresivitas
- Segera jika muncul gejala seperti kilatan cahaya, floaters mendadak, atau penurunan penglihatan tiba-tiba (tanda ablasio retina)
Strategi Pencegahan: Pendekatan Berbasis Bukti
Meskipun tidak ada metode yang 100% efektif mencegah miopia, terutama pada individu dengan predisposisi genetik kuat, bukti ilmiah menunjukkan beberapa strategi dapat mengurangi risiko atau memperlambat progresivitas:
1. Waktu di Luar Ruangan
Ini adalah strategi pencegahan paling efektif yang didukung bukti ilmiah kuat. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu minimal 2 jam per hari di luar ruangan memiliki risiko 30-50% lebih rendah mengalami miopia.
Rekomendasi praktis:
- Minimal 10-14 jam per minggu aktivitas luar ruangan
- Tidak harus aktivitas olahraga, cukup berada di luar ruangan dengan cahaya alami
- Istirahat di luar ruangan selama jam sekolah
- Aktivitas rekreasi keluarga di alam terbuka pada akhir pekan
2. Mengatur Aktivitas Jarak Dekat
Prinsip 20-20-20:
Setiap 20 menit aktivitas jarak dekat, istirahatkan mata dengan melihat objek yang berjarak minimal 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.
Panduan penggunaan gawai untuk anak:
- Usia 0-2 tahun: Hindari paparan layar (screen time)
- Usia 2-5 tahun: Maksimal 1 jam per hari dengan pengawasan
- Usia 6-18 tahun: Maksimal 2 jam per hari untuk rekreasi
- Jarak minimal 30-40 cm dari layar
- Pencahayaan ruangan yang memadai
3. Ergonomi Membaca
- Jarak baca ideal 30-40 cm
- Postur duduk yang baik dengan punggung tegak
- Pencahayaan yang cukup (minimal 300 lux untuk membaca)
- Hindari membaca sambil tiduran atau dalam kendaraan bergerak
4. Nutrisi untuk Kesehatan Mata
Meskipun tidak secara langsung mencegah miopia, nutrisi yang baik mendukung kesehatan mata:
- Vitamin A (wortel, ubi jalar, sayuran hijau)
- Omega-3 (ikan laut, kacang-kacangan)
- Lutein dan zeaxanthin (sayuran hijau gelap, telur)
- Vitamin C dan E (buah-buahan sitrus, kacang-kacangan)
Manajemen Miopia: Koreksi dan Kontrol
A. Koreksi Miopia
1. Kacamata
Kacamata tetap menjadi pilihan pertama yang aman dan efektif untuk koreksi miopia di semua usia.
Keuntungan:
- Aman dan non-invasif
- Mudah digunakan dan dirawat
- Dapat melindungi mata dari trauma
- Tersedia dalam berbagai desain dan fungsi (anti UV, anti blue light, photochromic)
- Cost-effective untuk jangka panjang
Pertimbangan:
- Gangguan lapang pandang perifer
- Dapat mengganggu aktivitas olahraga tertentu
- Memerlukan adaptasi pada penggunaan pertama kali
- Memerlukan penyesuaian berkala sesuai perubahan refraksi
Tips pemilihan kacamata:
- Pilih lensa berkualitas dengan lapisan anti-scratch dan anti-reflective
- Frame yang nyaman dan sesuai ukuran wajah
- Untuk anak, pilih frame yang ringan dan tahan banting
- Pertimbangkan lensa high-index untuk miopia tinggi agar lebih tipis dan ringan
2. Lensa Kontak
Alternatif bagi mereka yang menginginkan kebebasan dari kacamata dan lapang pandang yang lebih luas.
Jenis lensa kontak:
- Soft contact lens: Nyaman, mudah adaptasi, tersedia untuk koreksi miopia hingga tinggi
- Rigid gas-permeable (RGP): Memberikan penglihatan lebih tajam, lebih tahan lama, cocok untuk astigmatisme tinggi
- Extended wear: Dapat digunakan hingga 30 hari terus-menerus (tidak direkomendasikan karena risiko infeksi)
- Daily disposable: Sekali pakai, paling higienis, ideal untuk penggunaan occasional
Perawatan dan keamanan:
- Cuci tangan sebelum memakai atau melepas lensa
- Jangan tidur dengan lensa kontak (kecuali jenis khusus yang disetujui)
- Ganti larutan setiap kali penyimpanan
- Ganti wadah lensa setiap 3 bulan
- Jangan gunakan air keran untuk membersihkan lensa
- Hindari berenang atau mandi dengan lensa kontak
- Segera lepas jika mata merah atau terasa tidak nyaman
Risiko dan komplikasi:
- Infeksi kornea (keratitis)
- Mata kering
- Reaksi alergi atau giant papillary conjunctivitis
- Neovaskularisasi kornea pada penggunaan jangka panjang
3. Prosedur Refraktif dengan Laser
a. LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis)
Prosedur paling populer untuk koreksi miopia permanen.
Mekanisme:
Membuat flap pada lapisan kornea superfisial, menggunakan laser excimer untuk membentuk ulang stroma kornea, kemudian flap dikembalikan ke posisi semula.
Indikasi:
- Usia minimal 21 tahun dengan refraksi stabil minimal 1 tahun
- Miopia hingga -10.00 D (idealnya hingga -8.00 D)
- Ketebalan kornea mencukupi (minimal 480-500 mikron)
- Tidak ada penyakit mata aktif
- Tidak sedang hamil atau menyusui
Keuntungan:
- Pemulihan cepat (1-2 hari)
- Nyeri minimal pasca operasi
- Hasil yang dapat diprediksi
- Dapat mengkoreksi miopia, hiperopia, dan astigmatisme sekaligus
Risiko dan komplikasi:
- Mata kering (sementara atau permanen)
- Glare atau halo di malam hari
- Undercorrection atau overcorrection
- Ectasia kornea (sangat jarang)
- Komplikasi flap (sangat jarang)
b. PRK (Photorefractive Keratectomy)
Mekanisme:
Mengangkat epitel kornea, kemudian laser excimer membentuk ulang permukaan kornea.
Indikasi:
- Kornea tipis yang tidak memungkinkan LASIK
- Miopia rendah hingga sedang
- Pekerjaan atau aktivitas dengan risiko trauma mata
Keuntungan:
- Tidak ada komplikasi terkait flap
- Lebih aman untuk kornea tipis
- Risiko ectasia lebih rendah
Kekurangan:
- Pemulihan lebih lama (3-7 hari)
- Nyeri pasca operasi lebih signifikan
- Hasil visual akhir tercapai setelah 1-3 bulan
c. SMILE (Small Incision Lenticule Extraction)
Teknologi terbaru yang menggunakan femtosecond laser untuk membuat dan mengangkat lenticule dari dalam kornea melalui insisi kecil.
Keuntungan:
- Mata kering lebih minimal
- Lebih sedikit gangguan saraf kornea
- Stabilitas biomekanik kornea lebih baik
4. Lensa Intraokuler Fakik (Phakic IOL)
Untuk miopia sangat tinggi atau kornea yang terlalu tipis untuk laser.
Jenis:
- Anterior chamber IOL (di depan iris)
- Posterior chamber IOL (di belakang iris, di depan lensa alami) – seperti ICL (Implantable Collamer Lens)
Indikasi:
- Miopia tinggi (lebih dari -10.00 D hingga -20.00 D)
- Kornea tipis
- Kontraindikasi untuk laser
Keuntungan:
- Reversibel
- Tidak mengurangi ketebalan kornea
- Kualitas penglihatan sangat baik
Risiko:
- Memerlukan pembedahan intraokuler
- Risiko katarak (terutama pada ICL generasi lama)
- Risiko peningkatan tekanan intraokuler
- Biaya lebih tinggi
B. Kontrol Progresivitas Miopia pada Anak
Ini adalah area yang sangat penting karena progresivitas miopia pada masa anak dapat menyebabkan miopia tinggi dengan risiko komplikasi di masa depan.
1. Atropin Dosis Rendah
Mekanisme:
Atropin menghambat reseptor muskarinik di otot siliaris dan koroid, mengurangi stimulus untuk pemanjangan bola mata.
Protokol:
- Atropin 0.01% – 0.05%, 1 tetes sebelum tidur setiap malam
- Efektivitas: Dapat mengurangi progresivitas hingga 50-60%
- Efek samping minimal dibandingkan atropin dosis tinggi
Keuntungan:
- Mudah diberikan
- Efektif untuk sebagian besar anak
- Efek samping minimal (sedikit fotofobia, minimal efek pada akomodasi)
Kekurangan:
- Memerlukan kepatuhan jangka panjang
- Efek rebound jika dihentikan tiba-tiba
- Belum tersedia secara luas di semua apotek
2. Ortokeratologi (Ortho-K)
Mekanisme:
Menggunakan lensa kontak khusus yang rigid gas-permeable, dipakai saat tidur untuk membentuk ulang kornea sementara. Di siang hari, penglihatan jernih tanpa koreksi.
Efektivitas:
- Dapat mengurangi progresivitas miopia hingga 30-60%
- Memberikan penglihatan jernih di siang hari tanpa kacamata
Keuntungan:
- Reversibel
- Kebebasan dari kacamata di siang hari
- Efektif untuk kontrol miopia
Kekurangan:
- Memerlukan kedisiplinan tinggi dalam perawatan
- Biaya tinggi
- Risiko infeksi jika kebersihan tidak terjaga
- Tidak semua anak cocok (tergantung kelengkungan kornea)
3. Lensa Multifokal atau Dual-Focus
Jenis:
- Kacamata bifocal atau progressive
- Lensa kontak multifokal
- Lensa dengan Defocus Incorporated Multiple Segments (DIMS)
Mekanisme:
Menciptakan defokus miopia perifer yang mengurangi stimulus untuk pemanjangan bola mata.
Efektivitas:
- DIMS lens: Dapat mengurangi progresivitas hingga 50-60%
- Soft multifocal contact lens: Sekitar 30-50%
4. Red Light Therapy
Terapi baru yang masih dalam penelitian intensif, menggunakan paparan cahaya merah dengan panjang gelombang 650 nm selama 3 menit, 2 kali sehari.
Hasil awal:
- Studi di China menunjukkan pengurangan progresivitas hingga 50-70%
- Memerlukan penelitian lebih lanjut untuk konfirmasi keamanan jangka panjang
Pertimbangan Khusus
Miopia pada Masa Kehamilan
Miopia dapat mengalami perubahan sementara selama kehamilan akibat:
- Perubahan hormonal yang mempengaruhi kelengkungan kornea
- Retensi cairan yang mengubah ketebalan kornea
- Perubahan pada lensa
Rekomendasi:
- Hindari mengganti resep kacamata selama kehamilan
- Tunda prosedur refraktif hingga 3-6 bulan pasca melahirkan dan selesai menyusui
- Konsultasikan dengan dokter mata jika terjadi perubahan penglihatan signifikan
Miopia dan Diabetes
Perubahan kadar gula darah dapat menyebabkan perubahan refraksi sementara akibat:
- Perubahan indeks refraktif lensa
- Edema lensa
Rekomendasi:
- Stabilkan kadar gula darah sebelum pemeriksaan refraksi
- Tunggu 4-6 minggu setelah kontrol gula darah stabil sebelum mengganti kacamata
NITM (Nearwork-Induced Transient Myopia)
Miopia sementara akibat aktivitas jarak dekat yang berlebihan. Mata mengalami kelelahan akomodasi dan sementara tidak bisa kembali ke keadaan relaksasi penuh.
Gejala:
- Pandangan kabur saat jauh setelah aktivitas jarak dekat lama
- Kembali normal setelah istirahat
Manajemen:
- Istirahat teratur sesuai aturan 20-20-20
- Hindari aktivitas jarak dekat berlebihan
- Gunakan kacamata untuk aktivitas jarak dekat jika diperlukan
Mitos dan Fakta Seputar Miopia
Mitos 1: “Menggunakan kacamata membuat mata semakin minus”
Fakta: Tidak benar. Kacamata tidak menyebabkan progresivitas miopia. Progresivitas terjadi karena pertumbuhan bola mata, terutama pada anak dan remaja, terlepas dari penggunaan kacamata.
Mitos 2: “Membaca dalam cahaya redup menyebabkan miopia”
Fakta: Pencahayaan buruk menyebabkan kelelahan mata, tetapi tidak ada bukti kuat bahwa ini menyebabkan miopia permanen.
Mitos 3: “Wortel dapat menyembuhkan miopia”
Fakta: Vitamin A dalam wortel baik untuk kesehatan mata, terutama penglihatan malam, tetapi tidak dapat mengubah struktur anatomi mata yang menyebabkan miopia.
Mitos 4: “Latihan mata dapat menyembuhkan miopia”
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah bahwa latihan mata dapat mengurangi miopia yang sudah terjadi. Namun, istirahat mata teratur dapat membantu mengurangi kelelahan.
Mitos 5: “Miopia akan hilang seiring bertambahnya usia”
Fakta: Miopia biasanya stabil setelah usia 20-25 tahun, tetapi tidak hilang dengan sendirinya. Pada usia lanjut, miopia ringan bisa tertutupi oleh presbiopia, tetapi miopia tetap ada.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter mata jika mengalami:
- Kilatan cahaya (photopsia) atau peningkatan floaters mendadak
- Tirai gelap atau bayangan di lapang pandang
- Penurunan penglihatan mendadak yang tidak membaik dengan kacamata
- Mata merah disertai nyeri dan penurunan penglihatan
- Distorsi penglihatan (garis lurus tampak bengkok)
- Noda gelap di penglihatan sentral yang tidak hilang
- Nyeri mata hebat dengan mual dan muntah (kemungkinan glaukoma akut)
Ini bisa menjadi tanda komplikasi serius seperti ablasio retina, perdarahan vitreus, atau glaukoma yang memerlukan penanganan segera.
Kesimpulan
Miopia adalah kondisi yang sangat umum dan terus meningkat prevalensinya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun memiliki komponen genetik yang kuat, faktor lingkungan dan gaya hidup modern memainkan peran signifikan dalam perkembangan dan progresivitasnya.
Deteksi dini, terutama pada anak-anak, sangat penting untuk memungkinkan intervensi yang tepat waktu. Strategi pencegahan berbasis bukti, terutama meningkatkan waktu di luar ruangan dan mengatur aktivitas jarak dekat, dapat membantu mengurangi risiko atau memperlambat progresivitas.
Berbagai pilihan koreksi dan kontrol miopia kini tersedia, dari yang sederhana seperti kacamata hingga teknologi canggih seperti terapi atropin dosis rendah dan ortokeratologi. Pemilihan metode yang tepat harus disesuaikan dengan usia, derajat miopia, gaya hidup, dan kondisi kesehatan mata secara keseluruhan.
Yang terpenting, penderita miopia tinggi perlu menyadari risiko komplikasi jangka panjang dan melakukan pemeriksaan mata rutin untuk deteksi dini masalah yang mungkin timbul. Dengan penanganan yang tepat dan gaya hidup yang sehat untuk mata, kualitas hidup penderita miopia dapat tetap optimal.
Referensi Bacaan Lebih Lanjut:
- Holden BA, et al. Global Prevalence of Myopia and High Myopia and Temporal Trends from 2000 through 2050. Ophthalmology. 2016;123(5):1036-1042.
- Gifford KL, et al. IMI – Clinical Management Guidelines Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M184-M203.
- Wildsoet CF, et al. IMI – Interventions for Controlling Myopia Onset and Progression Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M106-M131.
- Flitcroft DI, et al. IMI – Defining and Classifying Myopia: A Proposed Set of Standards for Clinical and Epidemiologic Studies. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M20-M30.
- Morgan IG, et al. The epidemics of myopia: Aetiology and prevention. Prog Retin Eye Res. 2018;62:134-149.
- Wu PC, et al. Myopia Prevention and Outdoor Light Intensity in a School-Based Cluster Randomized Trial. Ophthalmology. 2018;125(8):1239-1250.
- Yam JC, et al. Low-Concentration Atropine for Myopia Progression (LAMP) Study. Ophthalmology. 2019;126(1):113-124.
- Ikatan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI). Pedoman Tatalaksana Miopia. 2023.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, selalu konsultasikan dengan dokter spesialis mata.

Tinggalkan komentar