A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Memahami Mekanisme Terjadinya Miopia
  2. Epidemiologi: Fenomena Global yang Mengkhawatirkan
  3. Faktor Risiko: Genetik dan Lingkungan
    1. Faktor Genetik
    2. Faktor Lingkungan
  4. Klasifikasi Miopia
    1. Berdasarkan Derajat
    2. Berdasarkan Usia Onset
    3. Berdasarkan Progresivitas
  5. Gejala dan Dampak Klinis
    1. Gejala Umum
    2. Komplikasi Miopia Tinggi
  6. Pemeriksaan dan Diagnosis
    1. Pemeriksaan Standar
    2. Kapan Harus Memeriksakan Mata?
  7. Strategi Pencegahan: Pendekatan Berbasis Bukti
    1. 1. Waktu di Luar Ruangan
    2. 2. Mengatur Aktivitas Jarak Dekat
    3. 3. Ergonomi Membaca
    4. 4. Nutrisi untuk Kesehatan Mata
  8. Manajemen Miopia: Koreksi dan Kontrol
    1. A. Koreksi Miopia
      1. 1. Kacamata
      2. 2. Lensa Kontak
      3. 3. Prosedur Refraktif dengan Laser
      4. 4. Lensa Intraokuler Fakik (Phakic IOL)
    2. B. Kontrol Progresivitas Miopia pada Anak
      1. 1. Atropin Dosis Rendah
      2. 2. Ortokeratologi (Ortho-K)
      3. 3. Lensa Multifokal atau Dual-Focus
      4. 4. Red Light Therapy
  9. Pertimbangan Khusus
    1. Miopia pada Masa Kehamilan
    2. Miopia dan Diabetes
    3. NITM (Nearwork-Induced Transient Myopia)
  10. Mitos dan Fakta Seputar Miopia
  11. Kapan Harus Segera ke Dokter?
  12. Kesimpulan

Rabun jauh, atau yang dalam bahasa medis disebut miopia (myopia), kini menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling umum di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensinya terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah. Kondisi ini sering disebut sebagai “mata minus” karena koreksinya memerlukan lensa negatif atau minus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai nearsightedness.

Secara medis, miopia adalah kelainan refraksi mata yang menyebabkan bayangan objek jatuh di depan retina ketika mata dalam keadaan tidak berakomodasi. Akibatnya, penderita miopia dapat melihat objek yang dekat dengan jelas, namun mengalami kesulitan melihat objek yang jauh dengan tajam.

Memahami Mekanisme Terjadinya Miopia

Untuk memahami miopia, kita perlu mengenal cara kerja mata normal. Pada mata yang sehat, cahaya yang masuk melalui kornea dan lensa akan difokuskan tepat di retina. Namun pada mata dengan miopia, terjadi ketidaksesuaian antara kekuatan refraksi mata dengan panjang bola mata, sehingga fokus cahaya jatuh di depan retina.

Miopia

Ada dua mekanisme utama yang menyebabkan terjadinya miopia:

1. Miopia Aksial (Axial Myopia)
Ini merupakan jenis miopia yang paling umum, terjadi ketika bola mata terlalu panjang pada sumbu anteroposteriornya. Setiap pemanjangan 1 mm pada sumbu bola mata akan meningkatkan miopia sekitar 3 dioptri. Miopia aksial sering kali bersifat progresif, terutama selama masa pertumbuhan anak.

2. Miopia Refraktif (Refractive Myopia)
Terjadi ketika kornea atau lensa mata memiliki kelengkungan yang berlebihan, atau ketika indeks refraksi media okular mengalami perubahan. Miopia jenis ini dapat dijumpai pada kondisi seperti keratokonus atau perubahan indeks refraktif lensa akibat diabetes yang tidak terkontrol.

Epidemiologi: Fenomena Global yang Mengkhawatirkan

Data global menunjukkan bahwa prevalensi miopia telah mencapai proporsi epidemik. Penelitian meta-analisis terbaru memperkirakan bahwa pada tahun 2050, hampir 50% populasi dunia atau sekitar 5 miliar orang akan mengalami miopia, dan sekitar 10% di antaranya akan menderita miopia tinggi (high myopia) yang meningkatkan risiko komplikasi serius.

Di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensinya bahkan lebih tinggi. Studi di berbagai kota besar Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa sekolah menengah atas mengalami miopia dalam berbagai derajat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, namun mulai merambah ke daerah pedesaan seiring dengan perubahan gaya hidup.

Faktor Risiko: Genetik dan Lingkungan

Penelitian terkini mengungkap bahwa miopia adalah kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.

Faktor Genetik

Jika kedua orang tua menderita miopia, risiko anak mengalami miopia meningkat hingga 6-8 kali lipat dibandingkan anak dengan orang tua tanpa miopia. Penelitian genom telah mengidentifikasi lebih dari 400 lokus genetik yang terkait dengan miopia, termasuk gen PAX6, RASGRF1, dan GJD2. Namun, faktor genetik saja tidak cukup menjelaskan peningkatan prevalensi yang dramatis dalam beberapa dekade terakhir.

Faktor Lingkungan

Bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa faktor lingkungan memainkan peran yang sangat signifikan:

1. Aktivitas Di Dalam Ruangan (Near Work)
Waktu yang dihabiskan untuk aktivitas jarak dekat seperti membaca, menulis, menggunakan gawai, dan bermain game, berkorelasi positif dengan peningkatan risiko miopia. Mekanismenya diduga terkait dengan akomodasi mata yang berlebihan dan konvergensi yang terus-menerus.

2. Paparan Cahaya Alami
Ini merupakan temuan paling menarik dalam penelitian miopia beberapa tahun terakhir. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan (minimal 2 jam per hari) memiliki risiko lebih rendah mengalami miopia atau mengalami progres miopia yang lebih lambat. Cahaya alami diduga merangsang pelepasan dopamin di retina, yang berperan dalam menghambat pemanjangan bola mata.

3. Tingkat Pendidikan dan Urbanisasi
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kehidupan urban berkorelasi dengan prevalensi miopia yang lebih tinggi, kemungkinan terkait dengan peningkatan aktivitas akademik dan berkurangnya waktu di luar ruangan.

4. Status Sosial Ekonomi
Meskipun tampak paradoks, status sosial ekonomi yang lebih tinggi justru berkorelasi dengan prevalensi miopia yang lebih tinggi, diduga terkait dengan akses pendidikan yang lebih baik dan lebih banyak waktu untuk aktivitas akademik.

Klasifikasi Miopia

Pemahaman tentang klasifikasi miopia penting untuk menentukan pendekatan penanganan yang tepat.

Berdasarkan Derajat

  • Miopia Ringan: -0.50 hingga -3.00 dioptri (D)
  • Miopia Sedang: -3.25 hingga -6.00 D
  • Miopia Tinggi (High Myopia): lebih dari -6.00 D

Berdasarkan Usia Onset

  • Miopia Kongenital: Sudah ada sejak lahir, biasanya tinggi dan progresif
  • Miopia Onset Anak (Childhood Onset): Muncul antara usia 6-12 tahun
  • Miopia Onset Remaja (Teenage Onset): Muncul saat usia 13-18 tahun
  • Miopia Onset Dewasa: Muncul setelah usia 20 tahun, relatif jarang

Berdasarkan Progresivitas

  • Miopia Stasioner: Tidak mengalami perubahan dalam 1-2 tahun terakhir
  • Miopia Progresif: Mengalami peningkatan lebih dari 0.50 D per tahun
  • Miopia Degeneratif (Patologis): Miopia tinggi yang disertai perubahan degeneratif pada struktur mata

Gejala dan Dampak Klinis

Gejala Umum

Gejala utama miopia adalah kesulitan melihat objek jauh dengan jelas. Pada anak-anak, gejala ini sering kali tidak disadari atau tidak dikeluhkan secara langsung. Orang tua dan guru perlu waspada terhadap tanda-tanda berikut:

  • Sering menyipitkan mata saat melihat jauh
  • Duduk terlalu dekat dengan televisi atau layar
  • Mengeluh tidak bisa membaca tulisan di papan tulis
  • Sering mengeluh sakit kepala, terutama setelah aktivitas yang memerlukan penglihatan jauh
  • Sering menggosok-gosok mata
  • Berkedip berlebihan
  • Prestasi akademik menurun karena kesulitan melihat materi pelajaran

Pada orang dewasa, gejala tambahan bisa berupa:

  • Kelelahan mata (asthenopia) saat mengemudi, terutama malam hari
  • Kesulitan melihat rambu lalu lintas atau nomor kendaraan dari jarak jauh
  • Pandangan kabur saat beralih dari melihat dekat ke jauh

Komplikasi Miopia Tinggi

Miopia tinggi bukan sekadar masalah ketidaknyamanan visual. Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius:

1. Ablasio Retina
Pemanjangan bola mata menyebabkan penipisan dan peregangan retina, meningkatkan risiko robekan dan lepasnya retina. Risiko meningkat 10 kali lipat pada miopia tinggi.

2. Degenerasi Makula Miopia (Myopic Macular Degeneration)
Perubahan degeneratif pada makula akibat peregangan jaringan, dapat menyebabkan kehilangan penglihatan sentral permanen.

3. Glaukoma
Risiko glaukoma sudut terbuka meningkat 2-3 kali lipat pada penderita miopia tinggi.

4. Katarak
Katarak, terutama jenis nuclear dan posterior subcapsular, cenderung muncul lebih dini pada penderita miopia tinggi.

5. Neovaskularisasi Koroid
Pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina yang dapat menyebabkan perdarahan dan jaringan parut.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Deteksi dini miopia sangat penting, terutama pada anak-anak. Skrining rutin direkomendasikan dimulai sejak usia 3-4 tahun, dan dilanjutkan setiap tahun selama masa sekolah.

Pemeriksaan Standar

1. Pemeriksaan Visus

  • Kartu Snellen untuk jarak jauh (biasanya 6 meter)
  • Kartu Jaeger atau Near Vision Chart untuk jarak dekat

2. Pemeriksaan Refraksi

  • Retinoskopi: Metode objektif menggunakan retinoskop
  • Autorefraktometer: Pemeriksaan otomatis mengukur refraksi mata
  • Subjektif Refraksi: Pemeriksaan dengan trial lens untuk mendapatkan koreksi terbaik
  • Cycloplegic Refraction: Pemeriksaan refraksi dengan pupil yang didilatasi, penting pada anak untuk mendeteksi miopia sebenarnya

3. Pemeriksaan Panjang Aksial Bola Mata
Menggunakan ultrasound biometri atau optical biometry (IOL Master), penting untuk monitoring progresivitas miopia.

4. Pemeriksaan Segmen Anterior dan Posterior
Untuk mendeteksi perubahan struktural dan komplikasi.

Kapan Harus Memeriksakan Mata?

  • Skrining rutin setiap 1-2 tahun untuk anak usia sekolah
  • Segera jika anak mengeluh kesulitan melihat papan tulis
  • Jika ada riwayat keluarga dengan miopia tinggi
  • Pada penderita miopia, kontrol rutin setiap 6-12 bulan untuk monitoring progresivitas
  • Segera jika muncul gejala seperti kilatan cahaya, floaters mendadak, atau penurunan penglihatan tiba-tiba (tanda ablasio retina)

Strategi Pencegahan: Pendekatan Berbasis Bukti

Meskipun tidak ada metode yang 100% efektif mencegah miopia, terutama pada individu dengan predisposisi genetik kuat, bukti ilmiah menunjukkan beberapa strategi dapat mengurangi risiko atau memperlambat progresivitas:

1. Waktu di Luar Ruangan

Ini adalah strategi pencegahan paling efektif yang didukung bukti ilmiah kuat. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu minimal 2 jam per hari di luar ruangan memiliki risiko 30-50% lebih rendah mengalami miopia.

Rekomendasi praktis:

  • Minimal 10-14 jam per minggu aktivitas luar ruangan
  • Tidak harus aktivitas olahraga, cukup berada di luar ruangan dengan cahaya alami
  • Istirahat di luar ruangan selama jam sekolah
  • Aktivitas rekreasi keluarga di alam terbuka pada akhir pekan

2. Mengatur Aktivitas Jarak Dekat

Prinsip 20-20-20:
Setiap 20 menit aktivitas jarak dekat, istirahatkan mata dengan melihat objek yang berjarak minimal 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

Panduan penggunaan gawai untuk anak:

  • Usia 0-2 tahun: Hindari paparan layar (screen time)
  • Usia 2-5 tahun: Maksimal 1 jam per hari dengan pengawasan
  • Usia 6-18 tahun: Maksimal 2 jam per hari untuk rekreasi
  • Jarak minimal 30-40 cm dari layar
  • Pencahayaan ruangan yang memadai

3. Ergonomi Membaca

  • Jarak baca ideal 30-40 cm
  • Postur duduk yang baik dengan punggung tegak
  • Pencahayaan yang cukup (minimal 300 lux untuk membaca)
  • Hindari membaca sambil tiduran atau dalam kendaraan bergerak

4. Nutrisi untuk Kesehatan Mata

Meskipun tidak secara langsung mencegah miopia, nutrisi yang baik mendukung kesehatan mata:

  • Vitamin A (wortel, ubi jalar, sayuran hijau)
  • Omega-3 (ikan laut, kacang-kacangan)
  • Lutein dan zeaxanthin (sayuran hijau gelap, telur)
  • Vitamin C dan E (buah-buahan sitrus, kacang-kacangan)

Manajemen Miopia: Koreksi dan Kontrol

A. Koreksi Miopia

1. Kacamata

Kacamata tetap menjadi pilihan pertama yang aman dan efektif untuk koreksi miopia di semua usia.

Keuntungan:

  • Aman dan non-invasif
  • Mudah digunakan dan dirawat
  • Dapat melindungi mata dari trauma
  • Tersedia dalam berbagai desain dan fungsi (anti UV, anti blue light, photochromic)
  • Cost-effective untuk jangka panjang

Pertimbangan:

  • Gangguan lapang pandang perifer
  • Dapat mengganggu aktivitas olahraga tertentu
  • Memerlukan adaptasi pada penggunaan pertama kali
  • Memerlukan penyesuaian berkala sesuai perubahan refraksi

Tips pemilihan kacamata:

  • Pilih lensa berkualitas dengan lapisan anti-scratch dan anti-reflective
  • Frame yang nyaman dan sesuai ukuran wajah
  • Untuk anak, pilih frame yang ringan dan tahan banting
  • Pertimbangkan lensa high-index untuk miopia tinggi agar lebih tipis dan ringan

2. Lensa Kontak

Alternatif bagi mereka yang menginginkan kebebasan dari kacamata dan lapang pandang yang lebih luas.

Jenis lensa kontak:

  • Soft contact lens: Nyaman, mudah adaptasi, tersedia untuk koreksi miopia hingga tinggi
  • Rigid gas-permeable (RGP): Memberikan penglihatan lebih tajam, lebih tahan lama, cocok untuk astigmatisme tinggi
  • Extended wear: Dapat digunakan hingga 30 hari terus-menerus (tidak direkomendasikan karena risiko infeksi)
  • Daily disposable: Sekali pakai, paling higienis, ideal untuk penggunaan occasional

Perawatan dan keamanan:

  • Cuci tangan sebelum memakai atau melepas lensa
  • Jangan tidur dengan lensa kontak (kecuali jenis khusus yang disetujui)
  • Ganti larutan setiap kali penyimpanan
  • Ganti wadah lensa setiap 3 bulan
  • Jangan gunakan air keran untuk membersihkan lensa
  • Hindari berenang atau mandi dengan lensa kontak
  • Segera lepas jika mata merah atau terasa tidak nyaman

Risiko dan komplikasi:

  • Infeksi kornea (keratitis)
  • Mata kering
  • Reaksi alergi atau giant papillary conjunctivitis
  • Neovaskularisasi kornea pada penggunaan jangka panjang

3. Prosedur Refraktif dengan Laser

a. LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis)

Prosedur paling populer untuk koreksi miopia permanen.

Mekanisme:
Membuat flap pada lapisan kornea superfisial, menggunakan laser excimer untuk membentuk ulang stroma kornea, kemudian flap dikembalikan ke posisi semula.

Indikasi:

  • Usia minimal 21 tahun dengan refraksi stabil minimal 1 tahun
  • Miopia hingga -10.00 D (idealnya hingga -8.00 D)
  • Ketebalan kornea mencukupi (minimal 480-500 mikron)
  • Tidak ada penyakit mata aktif
  • Tidak sedang hamil atau menyusui

Keuntungan:

  • Pemulihan cepat (1-2 hari)
  • Nyeri minimal pasca operasi
  • Hasil yang dapat diprediksi
  • Dapat mengkoreksi miopia, hiperopia, dan astigmatisme sekaligus

Risiko dan komplikasi:

  • Mata kering (sementara atau permanen)
  • Glare atau halo di malam hari
  • Undercorrection atau overcorrection
  • Ectasia kornea (sangat jarang)
  • Komplikasi flap (sangat jarang)

b. PRK (Photorefractive Keratectomy)

Mekanisme:
Mengangkat epitel kornea, kemudian laser excimer membentuk ulang permukaan kornea.

Indikasi:

  • Kornea tipis yang tidak memungkinkan LASIK
  • Miopia rendah hingga sedang
  • Pekerjaan atau aktivitas dengan risiko trauma mata

Keuntungan:

  • Tidak ada komplikasi terkait flap
  • Lebih aman untuk kornea tipis
  • Risiko ectasia lebih rendah

Kekurangan:

  • Pemulihan lebih lama (3-7 hari)
  • Nyeri pasca operasi lebih signifikan
  • Hasil visual akhir tercapai setelah 1-3 bulan

c. SMILE (Small Incision Lenticule Extraction)

Teknologi terbaru yang menggunakan femtosecond laser untuk membuat dan mengangkat lenticule dari dalam kornea melalui insisi kecil.

Keuntungan:

  • Mata kering lebih minimal
  • Lebih sedikit gangguan saraf kornea
  • Stabilitas biomekanik kornea lebih baik

4. Lensa Intraokuler Fakik (Phakic IOL)

Untuk miopia sangat tinggi atau kornea yang terlalu tipis untuk laser.

Jenis:

  • Anterior chamber IOL (di depan iris)
  • Posterior chamber IOL (di belakang iris, di depan lensa alami) – seperti ICL (Implantable Collamer Lens)

Indikasi:

  • Miopia tinggi (lebih dari -10.00 D hingga -20.00 D)
  • Kornea tipis
  • Kontraindikasi untuk laser

Keuntungan:

  • Reversibel
  • Tidak mengurangi ketebalan kornea
  • Kualitas penglihatan sangat baik

Risiko:

  • Memerlukan pembedahan intraokuler
  • Risiko katarak (terutama pada ICL generasi lama)
  • Risiko peningkatan tekanan intraokuler
  • Biaya lebih tinggi

B. Kontrol Progresivitas Miopia pada Anak

Ini adalah area yang sangat penting karena progresivitas miopia pada masa anak dapat menyebabkan miopia tinggi dengan risiko komplikasi di masa depan.

1. Atropin Dosis Rendah

Mekanisme:
Atropin menghambat reseptor muskarinik di otot siliaris dan koroid, mengurangi stimulus untuk pemanjangan bola mata.

Protokol:

  • Atropin 0.01% – 0.05%, 1 tetes sebelum tidur setiap malam
  • Efektivitas: Dapat mengurangi progresivitas hingga 50-60%
  • Efek samping minimal dibandingkan atropin dosis tinggi

Keuntungan:

  • Mudah diberikan
  • Efektif untuk sebagian besar anak
  • Efek samping minimal (sedikit fotofobia, minimal efek pada akomodasi)

Kekurangan:

  • Memerlukan kepatuhan jangka panjang
  • Efek rebound jika dihentikan tiba-tiba
  • Belum tersedia secara luas di semua apotek

2. Ortokeratologi (Ortho-K)

Mekanisme:
Menggunakan lensa kontak khusus yang rigid gas-permeable, dipakai saat tidur untuk membentuk ulang kornea sementara. Di siang hari, penglihatan jernih tanpa koreksi.

Efektivitas:

  • Dapat mengurangi progresivitas miopia hingga 30-60%
  • Memberikan penglihatan jernih di siang hari tanpa kacamata

Keuntungan:

  • Reversibel
  • Kebebasan dari kacamata di siang hari
  • Efektif untuk kontrol miopia

Kekurangan:

  • Memerlukan kedisiplinan tinggi dalam perawatan
  • Biaya tinggi
  • Risiko infeksi jika kebersihan tidak terjaga
  • Tidak semua anak cocok (tergantung kelengkungan kornea)

3. Lensa Multifokal atau Dual-Focus

Jenis:

  • Kacamata bifocal atau progressive
  • Lensa kontak multifokal
  • Lensa dengan Defocus Incorporated Multiple Segments (DIMS)

Mekanisme:
Menciptakan defokus miopia perifer yang mengurangi stimulus untuk pemanjangan bola mata.

Efektivitas:

  • DIMS lens: Dapat mengurangi progresivitas hingga 50-60%
  • Soft multifocal contact lens: Sekitar 30-50%

4. Red Light Therapy

Terapi baru yang masih dalam penelitian intensif, menggunakan paparan cahaya merah dengan panjang gelombang 650 nm selama 3 menit, 2 kali sehari.

Hasil awal:

  • Studi di China menunjukkan pengurangan progresivitas hingga 50-70%
  • Memerlukan penelitian lebih lanjut untuk konfirmasi keamanan jangka panjang

Pertimbangan Khusus

Miopia pada Masa Kehamilan

Miopia dapat mengalami perubahan sementara selama kehamilan akibat:

  • Perubahan hormonal yang mempengaruhi kelengkungan kornea
  • Retensi cairan yang mengubah ketebalan kornea
  • Perubahan pada lensa

Rekomendasi:

  • Hindari mengganti resep kacamata selama kehamilan
  • Tunda prosedur refraktif hingga 3-6 bulan pasca melahirkan dan selesai menyusui
  • Konsultasikan dengan dokter mata jika terjadi perubahan penglihatan signifikan

Miopia dan Diabetes

Perubahan kadar gula darah dapat menyebabkan perubahan refraksi sementara akibat:

  • Perubahan indeks refraktif lensa
  • Edema lensa

Rekomendasi:

  • Stabilkan kadar gula darah sebelum pemeriksaan refraksi
  • Tunggu 4-6 minggu setelah kontrol gula darah stabil sebelum mengganti kacamata

NITM (Nearwork-Induced Transient Myopia)

Miopia sementara akibat aktivitas jarak dekat yang berlebihan. Mata mengalami kelelahan akomodasi dan sementara tidak bisa kembali ke keadaan relaksasi penuh.

Gejala:

  • Pandangan kabur saat jauh setelah aktivitas jarak dekat lama
  • Kembali normal setelah istirahat

Manajemen:

  • Istirahat teratur sesuai aturan 20-20-20
  • Hindari aktivitas jarak dekat berlebihan
  • Gunakan kacamata untuk aktivitas jarak dekat jika diperlukan

Mitos dan Fakta Seputar Miopia

Mitos 1: “Menggunakan kacamata membuat mata semakin minus”
Fakta: Tidak benar. Kacamata tidak menyebabkan progresivitas miopia. Progresivitas terjadi karena pertumbuhan bola mata, terutama pada anak dan remaja, terlepas dari penggunaan kacamata.

Mitos 2: “Membaca dalam cahaya redup menyebabkan miopia”
Fakta: Pencahayaan buruk menyebabkan kelelahan mata, tetapi tidak ada bukti kuat bahwa ini menyebabkan miopia permanen.

Mitos 3: “Wortel dapat menyembuhkan miopia”
Fakta: Vitamin A dalam wortel baik untuk kesehatan mata, terutama penglihatan malam, tetapi tidak dapat mengubah struktur anatomi mata yang menyebabkan miopia.

Mitos 4: “Latihan mata dapat menyembuhkan miopia”
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah bahwa latihan mata dapat mengurangi miopia yang sudah terjadi. Namun, istirahat mata teratur dapat membantu mengurangi kelelahan.

Mitos 5: “Miopia akan hilang seiring bertambahnya usia”
Fakta: Miopia biasanya stabil setelah usia 20-25 tahun, tetapi tidak hilang dengan sendirinya. Pada usia lanjut, miopia ringan bisa tertutupi oleh presbiopia, tetapi miopia tetap ada.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter mata jika mengalami:

  • Kilatan cahaya (photopsia) atau peningkatan floaters mendadak
  • Tirai gelap atau bayangan di lapang pandang
  • Penurunan penglihatan mendadak yang tidak membaik dengan kacamata
  • Mata merah disertai nyeri dan penurunan penglihatan
  • Distorsi penglihatan (garis lurus tampak bengkok)
  • Noda gelap di penglihatan sentral yang tidak hilang
  • Nyeri mata hebat dengan mual dan muntah (kemungkinan glaukoma akut)

Ini bisa menjadi tanda komplikasi serius seperti ablasio retina, perdarahan vitreus, atau glaukoma yang memerlukan penanganan segera.

Kesimpulan

Miopia adalah kondisi yang sangat umum dan terus meningkat prevalensinya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun memiliki komponen genetik yang kuat, faktor lingkungan dan gaya hidup modern memainkan peran signifikan dalam perkembangan dan progresivitasnya.

Deteksi dini, terutama pada anak-anak, sangat penting untuk memungkinkan intervensi yang tepat waktu. Strategi pencegahan berbasis bukti, terutama meningkatkan waktu di luar ruangan dan mengatur aktivitas jarak dekat, dapat membantu mengurangi risiko atau memperlambat progresivitas.

Berbagai pilihan koreksi dan kontrol miopia kini tersedia, dari yang sederhana seperti kacamata hingga teknologi canggih seperti terapi atropin dosis rendah dan ortokeratologi. Pemilihan metode yang tepat harus disesuaikan dengan usia, derajat miopia, gaya hidup, dan kondisi kesehatan mata secara keseluruhan.

Yang terpenting, penderita miopia tinggi perlu menyadari risiko komplikasi jangka panjang dan melakukan pemeriksaan mata rutin untuk deteksi dini masalah yang mungkin timbul. Dengan penanganan yang tepat dan gaya hidup yang sehat untuk mata, kualitas hidup penderita miopia dapat tetap optimal.


Referensi Bacaan Lebih Lanjut:

  1. Holden BA, et al. Global Prevalence of Myopia and High Myopia and Temporal Trends from 2000 through 2050. Ophthalmology. 2016;123(5):1036-1042.
  2. Gifford KL, et al. IMI – Clinical Management Guidelines Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M184-M203.
  3. Wildsoet CF, et al. IMI – Interventions for Controlling Myopia Onset and Progression Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M106-M131.
  4. Flitcroft DI, et al. IMI – Defining and Classifying Myopia: A Proposed Set of Standards for Clinical and Epidemiologic Studies. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019;60(3):M20-M30.
  5. Morgan IG, et al. The epidemics of myopia: Aetiology and prevention. Prog Retin Eye Res. 2018;62:134-149.
  6. Wu PC, et al. Myopia Prevention and Outdoor Light Intensity in a School-Based Cluster Randomized Trial. Ophthalmology. 2018;125(8):1239-1250.
  7. Yam JC, et al. Low-Concentration Atropine for Myopia Progression (LAMP) Study. Ophthalmology. 2019;126(1):113-124.
  8. Ikatan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI). Pedoman Tatalaksana Miopia. 2023.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, selalu konsultasikan dengan dokter spesialis mata.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

27 tanggapan

  1. dewi ahmad Avatar
    dewi ahmad

    saya baru2 ini priksa k optik hasilnya mta sya min 0,25 kanan kiri. sya buat kcamata min n ada antiradiasinya jg. tp br pke kcmatanya kpala sya pening d dket mata. msya mrasa takut klo pke kcmatanya. melihat pake atau tanpa kacamatanya sya merasa sma saja. apa blh sya pke skali2 sja y

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Sebenarnya itu tidak terlalu besar. Boleh tahu usia Ibu/Mbak Dewi? Jika masih dalam usia pertumbuhan ada kemungkinan miopi progresif.

      Kalau kacamata sudah pas, biasanya tidak menyebabkan pusing. Jika pusing, coba dirasakan lagi, apakah pusing muncul saat menggunakan kacamata untuk melihat dekat ataukah saat melihat jauh?

      Suka

  2. dewi ahmad Avatar
    dewi ahmad

    wah ini tulisannya uda lama ya udah bertahun

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Iya, ini tulisan lawas ?

      Suka

  3. Toto haryanto Avatar
    Toto haryanto

    assalamu`alaikum wr.wb
    saya mau tanya ka, mata saya minus 1 tapi saya jarang makai kaca mata apakah minusnya akan tambah parah ka……?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya tidak bisa memastikan itu. Semua tergantung pada aksis bola apakah masih memiliki potensi memanjang atau tidak.

      Suka

  4. Cahya Avatar

    Jika memang tidak mengganggu aktivitas dan memberikan rasa tidak nyaman, tidak apa-apa. Namun sebaiknya dikenakan untuk menghindari melemahnya daya akomodasi mata, terutama untuk penglihatan dekat.

    Suka

  5. iis septia rahmayani Avatar
    iis septia rahmayani

    oh begitu,

    Suka

  6. iis septia rahmayani Avatar
    iis septia rahmayani

    oh begitu
    kalau memakai kaca mata terus menurus,minus kita gak bertambahkan

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Iis, tidak ada hubungan antara menggunakan kacamata dan bertambahnya minus. Beberapa orang memang memiliki bakat (secara genetis) terjadi pemanjangan aksial bola mata, terutama pada masa pertumbuhan, masyarakat kita di Indonesia cukup umum membawa bakat ini – jadi mata minus cukup umum di Indonesia. Meski tidak menggunakan kacamata, jika pertumbuhan aksial masih berlangsung, maka potensi mata bertambah minus akan tetap ada. Kacamata akan membantu kita mengatasi situasi ini :).

      Suka

  7. iis septia rahmayani Avatar
    iis septia rahmayani

    kalo secara alami kayak mana?
    soalnya saya sudah bosan menggukan kacamata.
    kan mata saya minus 4 tapi saya mengunakan minus 2 itu tidak aoa apa kan?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Iis, kalau untuk terapi alternatif yang menggunakan cara alami, saya kurang tahu. Memang kacamata kurang menyamankan, namun ada kemungkinan juga karena tidak pas ukurannya. Ada efek-efek tidak nyaman biasanya dikeluhkan jika ukuran kacamata dan minus mata tidak sesuai, karena itulah memang disarankan pemeriksaan berkala untuk mengetahui hal ini.

      Suka

  8. iis septia rahmayani Avatar
    iis septia rahmayani

    saya mau tanya bagimana cara mengatasi mata minus,sehingga mata kembali normal dan tidak menggunakan kacamata lagi??/
    terimaksih

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Iis, tergantung pada jenisnya. Jika tidak ada gangguan aksial yang progresif atau masih berlangsung, dan nilai minusnya cukup tinggi – maka bisa dibantu dengan Lasik (bedah laser). Namun jika yang diharapkan adalah cara alami, hal ini tidak ada dalam medis setahu saya, namun mungkin bisa ditemukan pada terapi alternatif.

      Suka

  9. Cahya Avatar

    Mas Asop,

    Ya, kadang memang bertambah karena pertumbuhan panjang bola mata (dalam garis aksial) masih berlanjut hingga usia 20-25 tahun, maka rabun jauh masih bisa bertambah sampai usia sekian.

    Jadi setidaknya setahun sekali perlu dicek, apakah kacamatanya masih pas atau tidak, sampai setelah beberapa tahun tidak ada lagi pertambahan minus, kita akan mengatakannya aman.

    Tapi kalau minus bertambah terus sampai di atas usia tersebut, mungkin orang perlu waspada. Apalagi kalau kalau koreksinya memerlukan lensa hingga – 5 D (diopter).

    Suka

  10. Asop Avatar

    Hmmm.. saya rabun jauh, dan percaya atau tidak, sejak SMP sampai SMA, rabun jauh saya berubah-ubah. Dari pertama kali pake kacamata di kelas 2 SMP, minus saya 1 kanan-kiri sama. Sampe kelas 3 masih sama kanan-kiri, naik 1,5. Eh pas SMA, yang kiri malah jadi 0,5 dan kanan jadi 1,25. LOL ^__^

    Suka

  11. Cahya Avatar

    Pak Aldy,

    Presbiopia bukan berarti tidak bisa beraktivitas seperti biasa kan Pak. Memang sudah waktunya demikian.

    Gayatri,

    Mata minus dan rabun jauh sama saja, itu seperti sinonim. Beberapa jenis rabun jauh jika nilainya lumayan besar atau berpasangan dengan astigmatisme bisa membuat melihat dekat juga menjadi sulit.

    Suka

  12. Gayatri Eka Saputri Avatar

    kaa..salam kenal.

    jadi kalo mana minus dengan rabun jauh itu beda atau engga?? soalnya mata saya minus..

    jauh dekat musti pake kacamata minus kalo mau baca2. soalnya kalo ga dipake yang dekat pun keliatan ga jelas 🙂

    makasih..

    Suka

  13. aldy Avatar

    Terima kasih penjelasannya mas, tetapi saya pun kesulitan menerangkan yang saya alami pada saat kecelaan itu. Tetapi setelah menggunakan kacamata minus, pandangan terasa normal dan pusing berkepanjangan juga hilang.

    Jika sekarang terbalik kondisinya dan seperti penjelasan mas Cahya, berarti memang sudah selayaknya menggunakan kacamata plus. Sudah bangkotan 😦

    Suka

  14. Cahya Avatar
    Cahya

    TuSuda,

    (OOT) Iya Dok, sementara mencoba theme besutan terbaru, memang tampak lebih fresh, tapi masih banyak kekurangan dari sisi navigasinya.

    Suka

  15. Cahya Avatar

    TuSuda,

    Tentu saja Dok, kelelahan mata juga mesti dihindari :). Terima kasih untuk masukkannya.

    Suka

  16. Cahya Avatar

    Zico,

    Kalau dari gejala awal tidak akan terasa bedanya, karena sama-sama menyebabkan fokus sinar jatuh di depan retina, sehingga bayangan yang terbentuk di retina tetap kabur (tidak fokus).

    Bedanya ya dari mekanisme bentuk rabun jauh itu sendiri, satunya karena jarak ke retina terlalu jauh ke belakang dari fokus yang jatuh secara normal (aksialis), satunya lagi karena hasil refraksi – yaitu fokus yang jatuh terlalu ke depan sementara jarak sumbu aksial tetap normal (refraktif).

    Suka

  17. TuSuda Avatar
    TuSuda

    BTW, OOT, tampilan blognya tampil baru lagi ya..

    terus terang saya lebih senang melihat themes ini. 😉

    SALAM hangat dari Kendari… 8)

    Suka

  18. TuSuda Avatar
    TuSuda

    kebiasaan membaca, menonton dan menghadapai layar komputer, perlu diperhatikan untuk menyehatkan kondisi mata.

    kapan-kapan bagus juga bisa dipaparkan tentang Hipermetropia, atau Presbyopia.

    Suka

  19. Zico Alviandri Avatar
    Zico Alviandri

    Saya rabun jauh. Minus satu tiga perempat. Tapi gak tahu apa tiep aksialis atau refraktif. Bedanya apa ya?

    Suka

  20. Cahya Avatar

    Pak Aldy,

    Sejujurnya saya tidak yakin jenis kecelakaan atau trauma apa yang bisa menyebabkan orang menggunakan kacamata minus.

    Sebenarnya jika ada trauma tumpul, mungkin menyebabkan mata sesaat menjadi rabun jauh yang lumayan tinggi (transient high myopia) karena adanya pembengkakan pada badan silier dan koroid di mata, serta perubahan pada lensa kristalin mata. Tapi setahu saya kondisi ini tidak permanen, jadi pandangan jauh menjadi sangat kabur untuk sementara waktu, sampai kondisi bola mata mengalami pemulihan sendirinya.

    Tapi kalau kemudian saat pasca trauma ditemukan pada pemeriksaan Pak Aldy memang menderita myopia ringan, yang mungkin tidak terlalu disadari sebelumnya. Jadi diberikan resep kacamata minus. Tapi ini masih dugaan saya saja.

    Nah, seiring berjalannya usia, lensa mata menjadi agak kaku, sudah tidak seperti masa muda yang bisa berakomodasi dengan baik – tidak lagi memiliki kemampuan mencembungkan lensa untuk bisa melihat objek-objek dekat dengan baik.

    Kondisi ini disebut presbiopia, wajar terjadi pada mata yang sudah "berusia", sehingga untuk melihat objek-objek dekat seperti membaca diperlukan bantuan lensa positif, atau dengan kata lain diresepkan kacamata plus. Seperti halnya mata perlu bantuan lup/surya kanta untuk melihat objek dekat dengan lebih jelas.

    Tidak hanya Pak Aldy, sebagian besar populasi dunia mengalami kondisi ini. Apalagi mereka yang dulu menggunakan kacamata minus, namun jarang dipakai saat menggunakan mata untuk melihat dekat (misal membaca), karena sudah nyaman untuk melihat dekat (orang miopia lebih nyaman membaca dekat, daripada mereka yang dengan mata normal atau tanpa rabun jauh, karena tidak perlu berakomodasi), sehingga lensa tidak pernah terlatih untuk berakomodasi. Ini juga bisa mempercepat proses munculnya presbiopia.

    Suka

  21. aldy Avatar

    OOT

    Mas Cahya, tahun 1991 saya mengalami kecelakaan yang menyebabkan mata saya mengalami masalah dan pada waktu itu harus menggunakan kaca mata minus. Tetapi sudah 4 tahun terakhir ini, saya mengenakan kacamata plus.

    Mungkin mas Cahya bisa sedikit memberikan gambaran, mengapa kondisi ini bisa terbalik (dari min ke plus).

    Dokter yang merawat mengatakan bahwa sebenarnya ini hal yang biasa dan menurut beliau lumrah, walaupun tidak terjadi pada semua orang.

    Suka

Tinggalkan komentar