Kota Tua

Sang Kala menundukkan waktu di lentik jemari cakrawala
Hendak asa bergulung bersama kemuraman
Senja tak menjawab, tak pula melirik celah harap
Hanya menukik tinggi di antara langit dan keburaman

Aku berdiri di atas tanah tanpa setapak
Bertanya mengapa angin menindihkan kepekaan yang rintih
Bahwa dunia memiliki sesuatu yang tak tampak
Baik dalam anganku yang berlari ringkih tertatih

Takdir adikuasa membawaku kemari
Dan aku masih bertanya untuk apa aku di sini

Tugu Jogja

Biarlah lembayung yang tampak gontai
Menyertai langkah dalam musim silih berganti

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

6 tanggapan untuk “Kota Tua

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: