A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.

Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.

Saya sendiri tidak mengetahui banyak HSP ini, namun dikatakan bahwa pemilik karakter HSP cenderung bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Mereka bisa melihat dan mencermati hal-hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang, masalah-masalah yang lebih tak kasat mata, dan jika siswa maka mereka bisa belajar dengan lebih baik melalui cara ini. Jika seorang anak didik dengan HSP tidak memberika kontribusi terlalu banyak pada sebuah diskusi bukan berarti mereka tidak memahami yang didiskusikan, dan juga tidak berarti mereka sedang malu.

Karena anak didik dengan HSP seringkali memproses sesuatu lebih baik melalui imajinasi mereka daripada mengerjakannya secara langsung, dan biasanya tidak suka dalam pengawasan karena mereka sangat peka.

Konsep HSP ini sendiri adalah hal yang baru, dan saya bertanya-tanya apakah akan mengubah paradigma pendidikan ke depannya. Karena mereka menganalisa sesuatu lebih baik dengan otak mereka daripada mengerjakan, mungkinkan konsep “practice makes perfect” tidak akan berlaku dalam dunia pembelajaran mereka?

Nah, saya tidak memiliki banyak potensi untuk memahami teori “Positive Disintegration” untuk menyelami masalah ini. Mungkin nanti bertanya saja pada yang mendalami ilmu psikologi lebih banyak.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

17 tanggapan

  1. imadewira Avatar

    Bukankah sensi itu juga tergantung mood ya? Kalau mood sedang buruk, biasanya saya suka melihat semuanya salah. Atau mungkin itu yang disebut egois, entahlah.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Bli Wira,
      Lalu mood itu pengaruhnya dari mana? Dibalik ke kepekaan lagi? Begitu hujan, orang langsung terpengaruh "mood"-nya jadi anjlok begitu 😀 – entahlah, saya juga tidak begitu paham.

      Suka

  2. aldy~pf Avatar
    aldy~pf

    Ada kalanya sensitif, tetapi ada kalanya bebal juga 😦

    Suka

  3. eyha Avatar
    eyha

    saya juga sensitif…hehehhee…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Eyha,
      Its okay, being sensitive is nice, but balancing it with being open, wise and patient would be nicer :).

      Suka

  4. suzannita Avatar
    suzannita

    iya saya lagi sensitif nih, lagi dateng bulan nih 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mbak Suzan,
      Mana-mana saya catat tanggalnya 😆 – kalau besok konsul, biar bisa ditebak penyebab kelabilannya 😀 (kabur sebelum dilempar sepatu).

      Suka

  5. Asop Avatar

    Ehem… *batuk* apakah sama dengan 'kepekaan sosial'? 😳

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Asop,
      Saya rasa lebih pada "kepekaan personal" :).

      Suka

  6. lia Avatar
    lia

    bahasa dan pembahasan yang padat bli, salut saya.

    HSP itu sama tidak dengan istilah introvert? aduuh kayaknya jauh ya?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Lia,
      Saya tidak begitu yakin, tapi umumnya mereka dengan HSP memiliki sikap lebih tertutup (introvert).

      Suka

  7. chazky Avatar

    sensitif ada hubungannya sama kondisi hormonal?

    well, kl sensi positif kan bagus, bisa menambah kejelian seseorang thd sesuatu. tp kl sensi itu jadi negatif, misalnya jadinya emosional dan sensi2 dalam konteks ABG dan membuat kelabilan (masih dalam konteks ABG) – apa itu jadinya semacam mental 'something' disorder?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Chazky,
      Kalau masalah ABG, saya rasa masa labil itu selalu ditemui ketika pubertas, baik pada mereka yang memiliki kepekaan lebih atau yang wajar-wajar saja. Kadang ini melibatkan sebuah proses menemukan jati dirinya di dalam masa transisi. Nah, selama tidak berdampak negatif baik bagi dirinya dan lingkungan secara bermakna, there is no "something" need to put as a concern of disorder.

      Suka

  8. Nandini Avatar

    Orang bilang saya bukan sensitif, tapi terlalu peka.. beda ya sensitif dengan peka? 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Nandini,
      Sensitif itu kata serapan dari bahasa asing "sensitive", kalau padanan katanya dalam bahasa Indonesia ya "peka" – CMIIW. Rasanya karena 1 dari 5 orang memiliki kepekaan yang lebih dari rata-rata mungkin ini menyebabkan banyak orang bisa tampak terlalu peka, bahkan mungkin juga diri kita sendiri.

      Suka

  9. TuSuda Avatar
    TuSuda

    sepertinya tingkat sensitivitas sangat tergantung dari kondisi anatomis, fisiologis dan psikologis..

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Dokter Putu,
      Jangan lupa kondisi "dompet" juga berpengaruh, termasuk penanggalan, tanggal tua biasanya jadi hipersensitif :).

      Suka

Tinggalkan komentar