Apa pernah Anda mendengar kata anak muda zaman sekarang, mungkin seperti, “sensi banget sih loe?” – Kadang ada orang yang membawa masalah ke dalam ranah yang lebih dalam, lebih terselubung. Kadang menimbulkan salah sangka, karena orang memproses segala input yang ditangkap sistem sensorisnya dalam ranah yang berbeda sebagai orang kebanyakan.
Orang-orang seperti ini memiliki kepekaan psikologis yang tinggi, karena ia bisa jadi memproses data-data sensori secara lebih mendalam dan menyeluruh dibandingkan populasi normal oleh karena adanya perbedaan dalam sistem saraf mereka. Ini disebut sebagai HSP (highly sensitive person) yang di masa lalu sering diduga sebagai masalah kecemasan sosial hingga ke fobia sosial.
Saya sendiri tidak mengetahui banyak HSP ini, namun dikatakan bahwa pemilik karakter HSP cenderung bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Mereka bisa melihat dan mencermati hal-hal yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang, masalah-masalah yang lebih tak kasat mata, dan jika siswa maka mereka bisa belajar dengan lebih baik melalui cara ini. Jika seorang anak didik dengan HSP tidak memberika kontribusi terlalu banyak pada sebuah diskusi bukan berarti mereka tidak memahami yang didiskusikan, dan juga tidak berarti mereka sedang malu.
Karena anak didik dengan HSP seringkali memproses sesuatu lebih baik melalui imajinasi mereka daripada mengerjakannya secara langsung, dan biasanya tidak suka dalam pengawasan karena mereka sangat peka.
Konsep HSP ini sendiri adalah hal yang baru, dan saya bertanya-tanya apakah akan mengubah paradigma pendidikan ke depannya. Karena mereka menganalisa sesuatu lebih baik dengan otak mereka daripada mengerjakan, mungkinkan konsep “practice makes perfect” tidak akan berlaku dalam dunia pembelajaran mereka?
Nah, saya tidak memiliki banyak potensi untuk memahami teori “Positive Disintegration” untuk menyelami masalah ini. Mungkin nanti bertanya saja pada yang mendalami ilmu psikologi lebih banyak.
Anak cadel atau salah mengucapkan bunyi tertentu memang sering dianggap lucu dan akan hilang sendiri. Artikel ini mengulas gangguan artikulasi dan gangguan bunyi bicara pada anak: bedanya dengan keterlambatan bicara, seberapa sering terjadi, tanda yang perlu dicermati, dan terapi yang didukung bukti.
Artikel ini membahas simulasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) pada proses penandaan lokasi operasi dan time-out di ruang operasi. Ditemukan kelemahan dalam metodologi RPN, di mana dua skenario dengan skor berbeda dapat memberikan angka RPN yang sama. Penekanan perlu diberikan pada kegagalan dengan severitas tinggi meski RPNnya rendah.
Apa satu barang milik Anda yang sangat bernilai sentimental? There is a small, chipped ceramic turtle that has sat on my desk for as long as I can remember. Its shell is a faded, unnatural green, and one of its tiny legs broke off before I even knew how to speak. I have moved house… Read more: The Kite String of Memory
Yosef datang malam-malam membawa seekor kakap merah dan kabar bahwa ia berhenti sekolah. Raka belum mau menerima kabar itu, dan bapa Yosef menantangnya ikut melaut satu malam.
Celah kritis Oracle EBS mulai diintai, Chrome dan Firefox menambal puluhan celah, dan penipu menyamar jadi helpdesk IT di Teams. Cek dulu ini.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Bukankah sensi itu juga tergantung mood ya? Kalau mood sedang buruk, biasanya saya suka melihat semuanya salah. Atau mungkin itu yang disebut egois, entahlah.
Bli Wira,
Lalu mood itu pengaruhnya dari mana? Dibalik ke kepekaan lagi? Begitu hujan, orang langsung terpengaruh "mood"-nya jadi anjlok begitu 😀 – entahlah, saya juga tidak begitu paham.
well, kl sensi positif kan bagus, bisa menambah kejelian seseorang thd sesuatu. tp kl sensi itu jadi negatif, misalnya jadinya emosional dan sensi2 dalam konteks ABG dan membuat kelabilan (masih dalam konteks ABG) – apa itu jadinya semacam mental 'something' disorder?
Chazky,
Kalau masalah ABG, saya rasa masa labil itu selalu ditemui ketika pubertas, baik pada mereka yang memiliki kepekaan lebih atau yang wajar-wajar saja. Kadang ini melibatkan sebuah proses menemukan jati dirinya di dalam masa transisi. Nah, selama tidak berdampak negatif baik bagi dirinya dan lingkungan secara bermakna, there is no "something" need to put as a concern of disorder.
Nandini,
Sensitif itu kata serapan dari bahasa asing "sensitive", kalau padanan katanya dalam bahasa Indonesia ya "peka" – CMIIW. Rasanya karena 1 dari 5 orang memiliki kepekaan yang lebih dari rata-rata mungkin ini menyebabkan banyak orang bisa tampak terlalu peka, bahkan mungkin juga diri kita sendiri.
Tinggalkan Balasan