Dimas, 4 tahun, tinggal di Malang. Ia lincah dan banyak bicara, tetapi “susu” selalu terdengar “tutu”, “kereta” menjadi “keteta”, dan “sepatu” menjadi “tepatu”. Neneknya tertawa, ayahnya berkata “nanti juga hilang sendiri”. Sementara itu gurunya di PAUD mulai bertanya-tanya, karena teman-temannya sering tidak paham apa yang ia ceritakan. (Kasus ini hanya ilustrasi.)
Situasi seperti ini sangat umum di praktik sehari-hari, dari puskesmas di Sragen sampai klinik tumbuh kembang di Makassar. Kadang memang wajar dan akan membaik seiring usia, tetapi kadang itulah tanda speech sound disorder (SSD) atau gangguan bunyi bicara yang perlu ditangani. Bagaimana membedakannya?
Apa yang dimaksud gangguan artikulasi?
Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), gangguan bunyi bicara mencakup kesulitan dalam persepsi, produksi motorik, atau representasi fonologis bunyi bicara. Dua bentuk yang paling sering disebut adalah gangguan artikulasi dan gangguan fonologis, dan keduanya sering sulit dipisahkan di ruang periksa. Panduan ASHA memakai istilah payung “SSD idiopatik” untuk keduanya, yaitu tanpa penyebab yang diketahui.
| Jenis | Yang bermasalah | Contoh pada anak |
|---|---|---|
| Gangguan artikulasi | Produksi motorik bunyi tertentu | Bunyi /s/ atau /r/ salah (cadel, pelo), bunyi dihilangkan, diganti, ditambah, atau terdistorsi |
| Gangguan fonologis | Aturan pola bunyi dalam bahasa | Semua bunyi “k” dan “s” menjadi “t” ( “kaki” menjadi “tati”), suku kata dihilangkan |
| Perbedaan dialek atau aksen | Bukan gangguan | Logat bahasa daerah yang terbawa ke bahasa Indonesia |
Poin terakhir penting bagi keluarga di Indonesia yang dwibahasa atau multibahasa. ASHA menegaskan bahwa aksen dan dialek bukan gangguan, dan penilaian harus mengacu pada sistem bahasa anak itu sendiri. Kekhawatiran serupa muncul dalam protokol tinjauan Wang dan Washington (PLoS One, 2026): anak multibahasa berisiko salah didiagnosis karena data acuan umumnya berasal dari penutur satu bahasa.

Seberapa sering terjadi?
Angkanya lebar karena definisi dan usia yang diteliti berbeda-beda. ASHA melaporkan 2,1% sampai 23% anak usia 4 sampai 6 tahun mengalami SSD. Pada usia 8 tahun, sekitar 3,6% masih memiliki gangguan yang menetap, dan 1% sampai 2% dewasa muda masih menyisakan kesalahan bunyi. Anak laki-laki terkena sekitar dua kali lebih sering daripada anak perempuan di sekolah dasar.
Gangguan ini jarang berdiri sendiri. Sekitar 40% anak dengan SSD juga memiliki gangguan bahasa, dan sekitar 8% juga gagap. Karena itu, anak yang “hanya cadel” tetap perlu dinilai kemampuan bahasanya, dan perbedaannya dengan keterlambatan bicara sebaiknya dipahami: pada keterlambatan bicara jumlah kata atau kalimat yang tertinggal, sedangkan pada gangguan bunyi bicara kata sudah banyak tetapi pengucapannya yang menyimpang.
Faktor risiko dan penyebab yang perlu dicari
ASHA mencatat faktor risiko berupa jenis kelamin laki-laki, masalah pada masa kehamilan atau persalinan (infeksi atau stres ibu, kelahiran prematur, berat lahir rendah), riwayat keluarga dengan kesulitan bicara atau bahasa, dan otitis media dengan efusi yang berlangsung lama. Tinjauan sistematik Burr dkk. (2026) menemukan 25 dari 28 studi melaporkan perbedaan perkembangan bunyi bicara pada anak lahir prematur dibanding anak cukup bulan, meski penulisnya menekankan perlunya studi longitudinal yang lebih besar.
Sebelum menyimpulkan “hanya kebiasaan”, pendengaran harus diperiksa. Telinga yang berair berulang pada anak balita di daerah dengan akses layanan terbatas dapat menyamarkan masalah bicara. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak dengan SSD cenderung memiliki persepsi bicara yang lebih lemah: dalam meta-analisis Munasinghe dkk. (2026) terhadap 277 anak, skor persepsi bicara anak SSD lebih rendah dibanding anak berkembang tipikal (Hedges g = 0,84). Artinya, sebagian anak tidak hanya salah mengucapkan, tetapi juga kesulitan membedakan bunyi yang mirip.
Kapan perlu khawatir?
Tolok ukur yang paling mudah dipakai orang tua adalah kejelasan bicara (intelligibility). ASHA mengutip laporan orang tua pada anak tanpa SSD: sekitar 50% ucapan anak dipahami pada usia 22 bulan, 75% pada usia 37 bulan, dan hampir 100% pada usia 47 bulan. Untuk pendengar yang tidak dikenal, ucapan satu kata dipahami sekitar 50% pada 31 bulan, 75% pada 49 bulan, dan 90% pada 83 bulan.
Jadi, pertimbangkan pemeriksaan bila:
- Anak berusia sekitar 4 tahun atau lebih tetapi keluarga inti sendiri masih sering tidak memahami ucapannya.
- Anak tampak frustrasi, menghindari berbicara, atau mulai diejek teman.
- Kesalahan bunyinya tidak lazim (misalnya suara keluar lewat hidung, bunyi tidak konsisten dari hari ke hari), atau ada kesulitan makan dan mengunyah.
- Ada riwayat telinga sering berair, gangguan pendengaran, kelahiran prematur, atau keluarga dengan masalah bicara.
- Anak juga tertinggal dalam kosakata, kalimat, atau mulai mengalami kesulitan belajar membaca.
Perlu diketahui, ASHA tidak memuat urutan usia penguasaan setiap konsonan, dan acuan antarbahasa berbeda. Karena itu, jangan menilai hanya dari satu daftar “umur seharusnya bisa huruf R” yang beredar di media sosial. Penilaian perlu dilakukan terapis wicara dalam konteks bahasa ibu anak.
Bagaimana penilaiannya?
Pemeriksaan lengkap mencakup contoh bicara (kata tunggal dan percakapan), pemeriksaan struktur dan gerak mulut, skrining pendengaran, penilaian kejelasan bicara, uji kemampuan membedakan bunyi, serta pemeriksaan bahasa karena gangguan penyerta sering ada. Tingkat keparahan dapat dinyatakan dengan persentase konsonan yang benar. Di Indonesia, dokter umum atau dokter anak di fasilitas pertama dapat menyaring dan memeriksa telinga, lalu merujuk ke terapis wicara, dokter spesialis THT, atau audiolog sesuai temuan.
Terapi yang didukung bukti
Tidak ada satu pendekatan tunggal. ASHA menguraikan banyak metode, misalnya pendekatan kontras fonologis, pendekatan siklus untuk anak yang sangat sulit dipahami, speech motor chaining (latihan motorik berulang), pelatihan persepsi bunyi, dan penggunaan alat bantu seperti cermin, isyarat gerak, dan umpan balik visual. ASHA juga mengingatkan agar berhati-hati menilai manfaat latihan otot mulut yang bukan latihan bicara.
Untuk anak dengan kesalahan artikulasi yang bandel, ultrasound visual biofeedback (memperlihatkan gerak lidah secara langsung di layar) tampak menjanjikan. Meta-analisis Yiu dkk. (2026) terhadap 35 studi (192 peserta) melaporkan peningkatan akurasi yang besar (d2 gabungan 1,32), tetapi dengan heterogenitas tinggi, dugaan bias publikasi, dan bukti yang didominasi penutur bahasa Inggris. Alat ini juga belum tersedia luas di Indonesia, sehingga latihan dasar dengan terapis tetap menjadi tulang punggung.
Bila gangguannya berat dan dicurigai berasal dari masalah perencanaan gerak (childhood apraxia of speech), intensitas terapi menentukan. Meta-analisis McCabe dkk. (2026) dari 25 studi menyimpulkan terapi efektif bila diberikan minimal dua kali seminggu dengan sesi sekitar 45 menit, dan makin banyak minggu terapi, makin kuat hasilnya. Sementara itu, tinjauan Garrett dkk. (2026) mengingatkan bahwa data jangka panjang untuk SSD sedang sampai berat masih sangat terbatas, sehingga prognosis individual sulit dipastikan dan keluarga perlu pemantauan berkala. Kondisi yang lebih mirip disartria (kelemahan otot bicara) membutuhkan evaluasi neurologis tersendiri.
Apa yang dapat dilakukan orang tua di rumah?
- Ulangi ucapan anak dengan benar secara santai (“Oh, kamu mau susu“), tanpa menyuruhnya mengulang atau memarahi.
- Berbicaralah dan bacakan buku setiap hari; lingkungan kaya bahasa melindungi perkembangan bicara.
- Hindari menirukan cara bicara cadel sebagai lelucon.
- Periksakan pendengaran bila telinga sering berair atau anak sering tidak menoleh saat dipanggil.
- Ikuti latihan yang diberikan terapis secara teratur; latihan singkat tetapi sering lebih bermanfaat daripada sesekali dalam waktu lama.
Penutup
Tidak semua anak cadel perlu terapi, dan tidak semua yang “nanti juga hilang” benar-benar hilang. Yang membedakan adalah kejelasan bicara sesuai usia, ada atau tidaknya masalah pendengaran dan bahasa, serta dampaknya pada anak. Bila ragu, pemeriksaan dini jauh lebih murah dan ringan daripada menunggu hingga anak masuk sekolah dasar dan mulai tertinggal membaca. Bagi Dimas, langkah pertamanya sederhana: periksa telinga, nilai bicaranya, dan mulai latihan bersama terapis wicara.
Rujukan
- ASHA. Speech Sound Disorders: Articulation and Phonology (Practice Portal).
- Wang S, Washington KN. Acoustic measures of speech sound production in multilingual children: a scoping review protocol. PLoS One. 2026. doi:10.1371/journal.pone.0361605
- Burr S, Harding S, Rudd S. Characteristics of speech sound development in preterm-born children: a scoping review. Int J Lang Commun Disord. 2026. doi:10.1111/1460-6984.70347
- Munasinghe TU, Bhat B, Terband H. Speech perception in children with speech sound disorders: a systematic review and meta-analysis. J Speech Lang Hear Res. 2026. doi:10.1044/2026_JSLHR-25-00949
- Yiu OY dkk. Effectiveness of ultrasound visual biofeedback in articulation therapy for children and adolescents with speech sound disorders. Int J Lang Commun Disord. 2026. doi:10.1111/1460-6984.70209
- McCabe P dkk. Does more speech therapy lead to better results in childhood apraxia of speech? Int J Lang Commun Disord. 2026. doi:10.1111/1460-6984.70337
- Garrett AJ, Tukel S, Morgan AT. Long-term speech outcomes in moderate-to-severe childhood speech sound disorder: a systematic review. Int J Lang Commun Disord. 2026. doi:10.1111/1460-6984.70231
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.





Tinggalkan Balasan