Di balik ledakan diagnosis selama dua dekade terakhir, ankyloglossia menyimpan kompleksitas klinis yang lebih dalam dari sekadar “frenulum pendek yang perlu digunting”. Dokter layanan primer perlu memahami kapan bertindak — dan kapan tidak.
Bayangkan seorang ibu muda yang datang ke klinik pada hari kesepuluh setelah melahirkan dengan keluhan puting lecet dan nyeri hebat saat menyusui. Bayinya tampak terus-menerus rewel setelah menyusu dan kenaikan berat badannya di bawah target. Saat dilakukan pemeriksaan mulut bayi, tampak frenulum lingualis yang pendek dan ketat — lidah tidak dapat diangkat melewati gusi bawah. Diagnosis: ankyloglossia simptomatik. Pertanyaannya: apakah langsung dilakukan frenotomi?
Tidak semudah itu. Panduan terkini dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang diterbitkan dalam Pediatrics Agustus 2024 menegaskan bahwa keputusan frenotomi memerlukan evaluasi komprehensif, selalu didahului oleh dukungan laktasi optimal, dan dilakukan dalam kerangka pendekatan tim. Dokter layanan primer yang terampil perlu menguasai bukan hanya teknik prosedurnya, tetapi seluruh konteks klinis di sekitarnya.
Apa Itu Ankyloglossia?
Ankyloglossia — istilah yang berasal dari bahasa Yunani ankylos (bengkok/ikat) dan glossa (lidah) — adalah kondisi kongenital di mana frenulum lingualis (pita jaringan ikat di bawah lidah) terlalu pendek, tebal, atau ketat, sehingga membatasi rentang gerak lidah. Ankyloglossia, yang juga dikenal sebagai tongue tie, adalah kondisi yang mengganggu pergerakan lidah akibat frenulum lingual yang restriktif, dan melibatkan berbagai spesialisasi kedokteran dan kedokteran gigi dalam evaluasi serta tata laksananya.
Prevalensi ankyloglossia bervariasi luas dalam literatur. Angka diagnosis ankyloglossia pada bayi baru lahir berkisar dari 1,7% hingga 10,7% berdasarkan tiga studi berbeda yang berfokus pada diagnosis di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Variasi yang lebar ini mencerminkan tidak adanya definisi dan kriteria diagnostik yang seragam dan terstandar secara internasional — sebuah tantangan mendasar yang mewarnai seluruh perdebatan klinis tentang kondisi ini.
Yang lebih mengkhawatirkan dari sisi klinisi adalah tren overdiagnosis yang terdokumentasi. Menurut AAP, terjadi peningkatan hampir sepuluh kali lipat dalam diagnosis ankyloglossia dan tingkat frenotomi antara 1997 dan 2012, dengan penggandaan lebih lanjut dari 2012 hingga 2014, dan tidak jelas seberapa besar hal ini merupakan peningkatan insidens nyata, perbaikan diagnostik, atau overdiagnosis.

Anatomi yang Mendasari
Frenulum lingualis adalah struktur mukosal normal yang menghubungkan permukaan bawah lidah ke dasar mulut dan regio sublingual. Dalam kondisi normal, frenulum ini cukup elastis dan memanjang untuk memungkinkan gerakan lidah yang bebas ke seluruh penjuru — angkat, ekstensi, lateralisasi, dan peristaltis saat menyusu.
Dalam ankyloglossia, frenulum terlalu pendek, ketat, atau melekat terlalu anterior (dekat ke ujung lidah), sehingga membatasi gerakan-gerakan tersebut. Saat bayi mencoba mengangkat lidah, tampak lekukan berbentuk V atau jantung pada ujung lidah — tanda yang cukup patognomonik.
Struktur yang harus dikenali dan dihindari saat frenotomi:
- Duktus submandibular (Wharton): muara saluran kelenjar saliva submandibular, terletak di kanan dan kiri frenulum di dasar mulut. Trauma pada struktur ini dapat menyebabkan obstruksi kelenjar saliva jangka panjang.
- Arteri lingual: berjalan di bawah mukosa dasar mulut, cedera dapat menyebabkan perdarahan bermakna.
- Otot genioglossus: otot instrinsik lidah, tidak boleh terincisi.
Klasifikasi
Beberapa sistem klasifikasi digunakan dalam literatur, namun tidak ada satu pun yang sepenuhnya terstandar dan diterima universal. Yang paling relevan dalam praktik klinis:
Klasifikasi berdasarkan letak perlekatan (Coryllos):
- Tipe 1: frenulum tipis, elastis, melekat dekat ujung lidah (hingga 1/3 anterior) dan ke margin gingivae
- Tipe 2: frenulum tipis, elastis, melekat 2–4 mm dari ujung lidah
- Tipe 3: frenulum tebal, kekuningan, melekat ke tengah lidah
- Tipe 4: frenulum tebal, submukosa, hampir tidak terlihat (sering disebut posterior tongue tie)
HATLFF (Hazelbaker Assessment Tool for Lingual Frenulum Function): Alat penilaian yang paling banyak digunakan, terdiri dari item penampilan (5 item) dan item fungsi (7 item). Namun perlu diketahui bahwa tidak ada sistem penilaian formal untuk ankyloglossia yang telah divalidasi sepenuhnya, dan reliabilitas interrater untuk beberapa item HATLFF masih terbatas. Studi menunjukkan bahwa kesepakatan antarpenilai cukup baik untuk item fungsi utama (lateralisasi, angkat, ekstensi lidah) dengan kappa >0,65, sementara item yang berkaitan dengan gerakan mengisap memiliki reliabilitas rendah.
Manifestasi Klinis: Dari Bayi hingga Dewasa
Ankyloglossia dapat bermanifestasi berbeda tergantung usia:
Pada neonatus dan bayi:
- Kesulitan latch — bayi tidak dapat membuka mulut lebar cukup untuk mencakup areola ibu
- Transfer ASI yang tidak efisien — bayi menyusu lama tetapi tidak kenyang
- Rewel dan gelisah setelah menyusu
- Kenaikan berat badan yang tidak adekuat
- Di sisi ibu: nyeri puting hebat, nipple trauma, mastitis berulang, penurunan produksi ASI akibat stimulasi yang tidak adekuat
Pada anak lebih besar:
- Gangguan artikulasi — khususnya bunyi yang memerlukan elevasi lidah: /t/, /d/, /l/, /n/, /r/, /s/, /z/
- Ketidakmampuan menjilat bibir atas atau menjilat es krim
- Kesulitan bermain alat musik tiup yang memerlukan gerakan lidah
- Masalah sosial: kesulitan mengeluarkan lidah, menjulurkan lidah
Pada dewasa:
- Maloklusi dan masalah ortodontik
- Resesi gingiva anteroinferior akibat tarikan frenulum
- Keluhan bicara yang mungkin persisten atau terkompensasi sebagian
Pendekatan Diagnostik yang Kritis
Pemeriksaan fisik mulut neonatus:
Semua neonatus seharusnya mendapat pemeriksaan rongga mulut yang komprehensif yang menilai fungsi sekaligus anatomi, mencakup palpasi palatum keras dan lunak, gingiva, dan area sublingual, di samping penilaian gerakan lidah, serta panjang dan elastisitas frenulum.
Langkah penilaian sederhana yang dapat dilakukan:
- Dengan jari bersih, palpasi frenulum untuk menilai ketebalan dan elastisitasnya
- Stimulasi bayi untuk membuka mulut, amati apakah lidah dapat melampaui gusi bawah
- Nilai apakah ujung lidah berbentuk normal atau berbentuk hati (jantung) saat diangkat
- Amati pola menyusu jika memungkinkan — apakah ada bunyi klik saat menyusu (tanda vakum yang tidak konsisten)?
Pertanyaan kritis yang harus dijawab sebelum mempertimbangkan frenotomi:
Ankyloglossia simptomatik didefinisikan sebagai frenulum lingualis restriktif yang menyebabkan masalah menyusu yang tidak membaik dengan dukungan laktasi. Bayi dengan ankyloglossia dan pola menyusu normal tidak memerlukan intervensi.
Ini adalah titik krusial: keberadaan ankyloglossia secara anatomis tidak otomatis menjadi indikasi frenotomi. Yang menjadi indikasi adalah ankyloglossia simptomatik yang tidak responsif terhadap intervensi non-bedah.
Diagnosis banding penyebab kesulitan menyusu:
Penting untuk menyingkirkan penyebab lain masalah menyusu sebelum mengattribusikan semua masalah pada ankyloglossia. Sebelum melakukan frenotomi pada bayi dengan kesulitan menyusu, tepat untuk mengevaluasi anak untuk sumber-sumber lain masalah menyusu dari kepala dan leher, seperti obstruksi hidung, obstruksi jalan napas, refluks laringofaring, dan anomali kraniofasial seperti celah palatum.
Penyebab lain kesulitan menyusu yang harus dipertimbangkan: teknik menyusu ibu yang kurang optimal, produksi ASI yang belum adequate pada hari-hari pertama, puting rata atau inversi puting, hipotonia pada bayi, refluks gastroesofageal, dan laktasi yang tidak tersuport dengan baik.
Tata Laksana: Hierarki Intervensi
Langkah 1: Dukungan laktasi komprehensif terlebih dahulu
Menyusui adalah topik yang kompleks dan setiap pasangan menyusui dengan rasa nyeri atau menyusu yang tidak efektif harus mendapat penilaian menyusu yang lengkap sebelum intervensi apapun ditawarkan.
Konseling laktasi yang terstruktur oleh konsultan laktasi (IBCLC atau tenaga terlatih) adalah langkah pertama yang tidak bisa dilewati. Banyak masalah menyusu yang tampak terkait ankyloglossia sebenarnya dapat diatasi dengan perbaikan teknik latch, posisi menyusu yang benar, dan strategi menyusu yang disesuaikan.
Langkah 2: Evaluasi ulang setelah dukungan laktasi
Karena banyak gejala ankyloglossia tumpang tindih dengan kesulitan menyusu lainnya, diperlukan kemitraan tim, dan apakah melepaskan frenulum lingual yang ketat pada neonatus memperbaiki menyusu tidak jelas.
Bila setelah dukungan laktasi yang adekuat (biasanya 1–2 minggu) masalah menyusu tetap bermakna — khususnya nyeri puting ibu yang parah dan kenaikan berat badan bayi yang tidak adekuat — maka frenotomi dapat dipertimbangkan.
Langkah 3: Frenotomi bila indikasi terpenuhi
Latch yang tidak efektif dan kenaikan berat badan yang buruk adalah pertimbangan utama bagi dokter yang mempertimbangkan diagnosis ankyloglossia.
Frenotomi: Teknik Prosedur
Frenotomi neonatus adalah prosedur yang relatif singkat (2–5 menit) dan dapat dilakukan di klinik. Pendekatan paling umum untuk frenotomi bayi adalah pemotongan frenulum dengan gunting (scissor clipping).
Persiapan sebelum prosedur:
Konfirmasi pemberian vitamin K — ini adalah langkah yang tidak dapat dilewati. Kontraindikasi frenotomi adalah gangguan pembekuan darah dan kegagalan mendapat vitamin K saat lahir. Dokter harus memastikan dan mendokumentasikan bahwa bayi telah menerima profilaksis vitamin K intramuskular sebelum prosedur dilakukan. Pada bayi yang lahir di rumah tanpa vitamin K atau yang orang tuanya menolak vitamin K, frenotomi tidak boleh dilakukan hingga status pembekuan dikonfirmasi.
Informed consent dari orang tua mencakup: indikasi prosedur, kemungkinan manfaat dan keterbatasannya, risiko, dan bahwa menyusu segera setelah prosedur adalah bagian dari perawatan pasca tindakan.
Pengendalian nyeri: Pada neonatus, AAP 2024 tidak merekomendasikan anestesi lokal rutin untuk frenotomi — prosedur berlangsung sangat singkat dan bayi segera menyusu setelah itu. Pemberian sukrosa oral (2 menit sebelum prosedur) dapat membantu sebagai analgesik non-farmakologis. Pita anestesi topikal (EMLA atau benzokain gel) dapat digunakan namun tidak wajib.
Langkah-langkah teknik frenotomi dengan gunting:
- Posisikan bayi dalam posisi supine, direstrain dengan lembut oleh asisten (bungkus dengan kain atau dipegang dengan dua tangan).
- Asisten memegang kepala bayi dengan stabil. Operator duduk atau berdiri dengan nyaman di depan bayi, memegang gunting steril di tangan dominan.
- Dengan jari telunjuk tangan non-dominan, angkat lidah ke arah superior — asisten dapat membantu dengan dua jari telunjuk di bawah lidah untuk mengekspos frenulum. Frenulum yang ketat akan tampak sebagai pita tegang yang membatasi elevasi lidah.
- Identifikasi frenulum secara visual dan pastikan duktus Wharton (muara di kanan-kiri frenulum) terlihat dan terhindar dari instrumen.
- Posisikan gunting steril tegak lurus terhadap frenulum, buka gunting sedalam 2 mm, posisikan di frenulum menjauhi lidah dan menjauhi duktus submandibular, lalu buat sayatan 2 mm pada bagian paling ketat dari frenulum.
- Setelah insisi, tekan bekas insisi dengan jari untuk memastikan frenulum terlepas sepenuhnya dan memeriksa perdarahan.
- Perdarahan biasanya minimal — berupa bercak kecil yang mereda dalam beberapa detik dengan tekanan lembut. Bila ada perdarahan yang lebih dari bercak, tekan dengan kasa steril selama 1–2 menit.
- Langsung berikan bayi ke ibu untuk menyusu — ini bukan hanya membantu menenangkan bayi tetapi juga memberikan umpan balik langsung apakah menyusu membaik.

Potensi komplikasi frenotomi lingual mencakup perdarahan, obstruksi jalan napas, infeksi dasar mulut, cedera pada struktur saliva, aversion oral, dan jaringan parut.
Yang Tidak Direkomendasikan: Meluruskan Mitos
Panduan AAP 2024 secara eksplisit menyatakan beberapa hal yang perlu diketahui dokter untuk menghindari overtreatment:
Ankyloglossia posterior adalah istilah yang tidak terdefinisi dengan baik, tidak ada kesepakatan dari para ahli, dan tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk melakukan intervensi bedah pada bayi. Diagnosis “posterior tongue tie” yang menjamur di media sosial sering kali tidak memiliki dasar anatomis yang kuat.
Frenotomi untuk masalah lain atau untuk mencegah masalah seperti artikulasi bicara atau apnea tidur obstruktif di masa depan tidak berbasis bukti.
Frenulum labial dan bukal adalah struktur oral normal yang tidak berkaitan dengan mekanisme menyusu dan tidak memerlukan intervensi bedah untuk memperbaiki menyusu.
Stretching pasca operasi untuk mencegah perlekatan ulang tidak direkomendasikan.
Tidak ada bukti yang mendukung laser dibandingkan metode frenotomi lainnya.
Ankyloglossia pada Anak Lebih Besar dan Dewasa
Pada anak usia >6 bulan hingga dewasa, konteks berbeda. Indikasi utama yang mungkin relevan adalah masalah bicara dan masalah mekanik-sosial. Namun perlu dipahami bahwa ankyloglossia umumnya tidak memengaruhi bicara, dan konsultasi dengan ahli patologi wicara dianjurkan sebelum frenotomi/frenuloplasty pada anak yang lebih tua dengan masalah bicara, karena terapi wicara sering kali menjadi intervensi yang lebih tepat.
Pada anak yang lebih besar, frenotomi memerlukan anestesi lokal. Beberapa anak kooperatif dan dapat menjalani prosedur di klinik; anak yang tidak kooperatif mungkin memerlukan prosedur di kamar operasi. Frenuloplasty (dengan rekonstruksi berbentuk Z-plasty) dapat dipertimbangkan untuk mencegah rekurensi pada kasus yang lebih kompleks — ini berada di luar kompetensi layanan primer dan perlu dirujuk ke spesialis THT atau bedah mulut.
Perawatan Pasca Frenotomi
Menyusu segera setelah prosedur adalah prioritas utama. Ibu perlu didampingi oleh konsultan laktasi untuk memastikan latch yang benar pasca frenotomi.
Follow-up dalam 1–2 minggu untuk menilai: apakah menyusu membaik, apakah nyeri puting ibu berkurang, dan apakah kenaikan berat badan bayi adekuat. Perlu diingatkan kepada keluarga bahwa bukti yang mendukung frenotomi terbatas; meskipun mungkin meringankan nyeri puting ibu, efikasinya yang lebih luas untuk diagnosis lain masih belum pasti, sehingga ekspektasi yang realistis harus dikomunikasikan sejak awal.
Kapan Merujuk?
Dokter layanan primer yang kompeten dapat melakukan frenotomi neonatus pada kasus ankyloglossia anterior yang klasik (tipe 1–2 Coryllos), dengan frenulum yang jelas terlihat, pada bayi yang telah mendapat vitamin K, tanpa anomali kraniofasial lain, dan dengan indikasi yang terpenuhi setelah dukungan laktasi gagal.
Rujuk ke spesialis (THT, bedah mulut, atau dokter anak konsultan) bila:
- Ankyloglossia posterior yang tidak jelas batas frenulumnya
- Bayi dengan anomali kraniofasial penyerta (celah langit-langit, retrognathia, micrognathia)
- Bayi prematur atau dengan kondisi medis penyerta yang kompleks
- Hipotonia atau gangguan neuromuskular
- Riwayat atau bukti gangguan pembekuan darah
- Tidak mendapat vitamin K dan tidak dapat dikonfirmasi statusnya
- Frenotomi pertama gagal (perlekatan ulang atau tidak ada perbaikan)
- Anak yang lebih besar yang tidak kooperatif untuk prosedur klinik
- Dewasa yang memerlukan frenuloplasty
Catatan Kritis: Konteks dan Kehati-hatian
Ankyloglossia adalah salah satu diagnosis yang rentan terhadap pengaruh media sosial dan komunitas online yang sangat aktif. Orang tua mungkin juga merasakan tekanan dari apa yang mereka pelajari di media sosial tentang ankyloglossia ketika kesulitan menyusu muncul, karena kesadarannya telah berkembang dalam komunitas online.
Dokter layanan primer perlu mengambil peran edukatif: menjelaskan bahwa tidak semua frenulum pendek perlu digunting, bahwa dukungan laktasi adalah langkah pertama yang esensial, dan bahwa keputusan frenotomi harus berdasarkan bukti klinis — bukan tekanan komunitas online atau anekdot.
Di sisi lain, overconfidence dalam menahan diri juga berbahaya. Ankyloglossia simptomatik yang tidak ditangani dapat menyebabkan kegagalan menyusu dini dengan konsekuensi gizi yang bermakna bagi bayi, serta nyeri kronis pada ibu yang berujung pada penghentian menyusu lebih awal dari yang diinginkan.
Penutup
Frenotomi adalah prosedur singkat dengan teknik yang dapat dipelajari — tetapi keputusan untuk melakukannya adalah seni klinis yang memerlukan penilaian holistik, komunikasi yang baik dengan orang tua, dan kolaborasi tim yang melibatkan konsultan laktasi, dokter anak, dan bila perlu spesialis. SKD 2026 yang memasukkan frenotomi sebagai kompetensi dokter umum adalah sinyal bahwa layanan ini perlu lebih aksesibel — tetapi aksesibilitas prosedur harus selalu berjalan beriringan dengan ketepatan indikasi.
Daftar Referensi
Thomas, J., Bunik, M., Holmes, A., Keels, M. A., Poindexter, B., Meyer, A., Gilliland, A., Section on Breastfeeding, Section on Oral Health, Council on Quality Improvement and Patient Safety, Committee on Fetus & Newborn, Section on Otolaryngology-Head and Neck Surgery. (2024). Identification and management of ankyloglossia and its effect on breastfeeding in infants: clinical report. Pediatrics, 154(2), e2024067605. https://doi.org/10.1542/peds.2024-067605
Becker, S., Brizuela, M., & Mendez, M. D. (2023). Ankyloglossia (tongue-tie). In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482295/
O’Shea, J. E., Foster, J. P., O’Donnell, C. P., Breathnach, D., Jacobs, S. E., Todd, D. A., & Davis, P. G. (2017). Frenotomy for tongue-tie in newborn infants. Cochrane Database of Systematic Reviews, (3), CD011065. https://doi.org/10.1002/14651858.CD011065.pub2
Chinnadurai, S., Francis, D. O., Epstein, R. A., et al. (2015). Treatment of ankyloglossia for reasons other than breastfeeding: a systematic review. Pediatrics, 135(6), e1467–e1474. https://doi.org/10.1542/peds.2015-0660
Walsh, J., & Links, A. (2020). Invited article: clinical consensus statement: ankyloglossia in children. Otolaryngology — Head and Neck Surgery, 162(5), 597–611. https://doi.org/10.1177/0194599820915457
Amir, L. H., James, J. P., & Donath, S. M. (2006). Reliability of the Hazelbaker assessment tool for lingual frenulum function. International Breastfeeding Journal, 1(1), 3. https://doi.org/10.1186/1746-4358-1-3
Brookes, A., & Bowley, D. M. (2014). Tongue tie: the evidence for frenotomy. Early Human Development, 90(11), 765–768. https://doi.org/10.1016/j.earlhumdev.2014.09.003
Brookes, J., & Scott, I. (2016). Office-based frenotomy for ankyloglossia and problematic breastfeeding. Canadian Family Physician, 62(7), 570–571. https://www.cfp.ca/content/62/7/570
American Academy of Pediatric Dentistry. (2022). Policy on management of the frenulum in pediatric patients. The Reference Manual of Pediatric Dentistry. AAPD.
Konsil Kesehatan Indonesia. (2026). Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1291/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter. Konsil Kesehatan Indonesia.





Tinggalkan Balasan