Ringkasan. Pedoman triase tiga warna di sebuah IGD dikonversi ke Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS) lima level agar selaras dengan modul Pelayanan IGD SATUSEHAT yang meminta kode LOINC 75910-0. Tulisan ini menjelaskan proses penyusunan, diagram alir, cara memakai alat triase interaktif, batas adaptasi lokal, dan status draf yang masih menunggu telaah sejawat.
Pukul 22.40, Sabtu malam, di IGD sebuah rumah sakit tipe C di pesisir utara Jawa. Pak Darmo, 72 tahun, diantar anaknya setelah terpeleset di kamar mandi. Ia sadar penuh, nadi 94 kali per menit, tekanan darah 132/80, saturasi 96%. Keluhannya hanya nyeri kepala ringan, skor 3 dari 10. Menurut lembar triase tiga warna, ia jelas hijau.
Perawat senior yang bertugas tetap gelisah. Pak Darmo minum warfarin sejak dua tahun lalu karena fibrilasi atrium. Trauma kepala ringan pada pengguna antikoagulan termasuk kondisi yang tampak tenang di jam pertama, tetapi dapat berubah menjadi perdarahan intrakranial beberapa jam kemudian.
Masalah kedua muncul di layar komputer. Formulir rekam medis elektronik yang terhubung ke SATUSEHAT tidak menyediakan pilihan “hijau”. Isiannya angka 1 sampai 5, ditambah satu pilihan untuk pasien meninggal saat tiba. Petugas pendaftaran harus menebak: hijau itu 4 atau 5?
Dua kegelisahan itu, klinis dan administratif, menjadi alasan saya menyusun ulang pedoman triase di IGD tempat saya bekerja. Tulisan ini mencatat prosesnya, cara memakai alat bantu yang dihasilkan, dan hal-hal yang masih harus diperdebatkan sebelum alat itu boleh dipakai untuk pasien sungguhan.
Mengapa tiga warna mulai terasa sempit
Triase merah, kuning, hijau, dan hitam lahir dari kebutuhan memilah korban bencana dengan cepat. Di IGD sehari-hari, sistem ini punya dua kelemahan yang sudah lama dikenal. Kategori merah mencampur pasien henti jantung dengan pasien nyeri dada yang masih stabil, padahal yang pertama butuh tim resusitasi dalam hitungan detik dan yang kedua butuh EKG dalam sepuluh menit. Kategori hijau mencampur pasien luka robek yang perlu dijahit dengan pasien yang datang untuk ganti balutan. Saya sudah membahas kelemahan ini lebih panjang di tulisan Triase Bukan Sekadar Warna.
Sistem lima level memisahkan kelompok-kelompok itu. CTAS menetapkan target waktu sampai pasien diperiksa dokter: segera untuk level I, paling lama 15 menit untuk level II, 30 menit untuk level III, 60 menit untuk level IV, dan 120 menit untuk level V (Bullard et al., 2008). Revisi CTAS 2016 tidak mengubah target waktu itu, tetapi menambahkan modifier frailty dan mempersempit ketentuan demam pada bayi menjadi usia 3–18 bulan (Bullard et al., 2017).
Dari sisi akreditasi, Standar Akreditasi Rumah Sakit dalam KMK Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 meminta rumah sakit menerapkan triase berbasis bukti untuk memprioritaskan pasien gawat darurat. Skala lima level yang tervalidasi lebih mudah dipertanggungjawabkan saat survei daripada kategori warna yang definisinya berbeda di setiap rumah sakit.
Yang diminta SATUSEHAT dari meja triase
Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis mewajibkan setiap fasilitas pelayanan kesehatan menyelenggarakan rekam medis elektronik dan menghubungkannya dengan platform data kesehatan nasional. Panduan teknisnya tersedia di dokumentasi Playbook SATUSEHAT Platform, yang memuat alur registrasi, orientasi, dan panduan interoperabilitas per modul pelayanan.
Untuk IGD, rujukannya adalah Panduan Interoperabilitas Pelayanan Instalasi Gawat Darurat versi 4.2. Panduan ini membagi kunjungan IGD menjadi 21 tahap, dari pendaftaran pasien sampai kondisi saat meninggalkan rumah sakit, dengan 16 jenis resource FHIR. Tahap ketiga, “Triase dan Gawat Darurat”, meminta empat data:
- tanggal dan jam masuk, dikirim sebagai
Encounter.period.startdalam format waktu UTC (jam WIB dikurangi tujuh); - sarana transportasi kedatangan, dengan kode LOINC 74286-6;
- ada atau tidaknya surat pengantar rujukan;
- kondisi pasien saat tiba, dengan kode LOINC 75910-0 yang namanya adalah Canadian triage and acuity scale.
Butir terakhir itulah intinya. Nilai yang diterima SATUSEHAT untuk kondisi pasien tiba adalah lima level CTAS ditambah satu kode untuk pasien meninggal saat tiba. Tidak ada tempat untuk warna.
| Kondisi pasien tiba | Sistem kode | Kode | Padanan tiga warna |
|---|---|---|---|
| 1 · Resusitasi | LOINC | LA6112-2 | Merah |
| 2 · Emergensi | LOINC | LA6113-0 | Merah |
| 3 · Mendesak (urgent) | LOINC | LA6114-8 | Kuning |
| 4 · Kurang mendesak | LOINC | LA6115-5 | Hijau |
| 5 · Tidak mendesak | LOINC | LA10137-0 | Hijau |
| Meninggal saat tiba (DOA) | SNOMED CT | 63238001 | Hitam |
Konsekuensinya sederhana. Rumah sakit yang masih memakai tiga warna harus menerjemahkan merah menjadi 1 atau 2, dan hijau menjadi 4 atau 5, setiap kali data dikirim. Penerjemahan di belakang meja pendaftaran seperti itu rawan salah dan tidak bisa diaudit. Lebih aman bila level CTAS ditetapkan sejak awal oleh petugas triase, di sumbernya.

Proses penyusunan: dari tabel kerja ke alat bantu
Pekerjaan ini berlangsung dalam empat tahap. Saya dibantu asisten kecerdasan buatan (Claude) untuk mengolah dokumen, menyusun format, dan menulis kode. Keputusan klinis dan pemilihan sumber tetap saya kerjakan sendiri.
- Kompilasi kriteria. Kriteria triase dan tanda pemburukan dari 16 sumber dikumpulkan dalam satu tabel menurut kelompok usia dan kondisi klinis. Sumbernya antara lain ATLS edisi 11 (2025), Fundamental Critical Care Support edisi 7, Pediatric Fundamental Critical Care Support, pedoman stroke iskemik akut AHA/ASA 2026, pedoman sindrom koroner akut ACC/AHA 2025, dan NEWS2.
- Pedoman tiga warna. Tabel itu disusun menjadi rancangan Peraturan Direktur dengan lampiran pedoman lima bab sesuai tata naskah rumah sakit, ditambah formulir ceklis triase satu halaman. Di tahap ini lahir konsep “flag hijau”: daftar kondisi yang tampak hijau tetapi berisiko memburuk dalam 24 jam.
- Konversi ke CTAS. Kriteria tiga warna dipetakan ke lima level CTAS mengikuti pedoman implementasi CTAS 2008 dan revisi 2016. Konsep flag hijau dipertahankan dengan nama baru, flag pemburukan.
- Alat bantu interaktif. Seluruh aturan dituangkan menjadi satu halaman web: kalkulator triase, tabel modifier, ambang tanda vital per usia, daftar flag pemburukan, dan referensi.
Diagram alir triase
Diagram berikut merangkum logika alat bantu. Dua pertanyaan pertama menyaring pasien yang tidak boleh menunggu: pasien meninggal saat tiba dan pasien yang memenuhi kriteria resusitasi. Pasien lainnya melewati penilaian berlapis, dan level akhir ditentukan oleh pemicu yang paling gawat.
Cara memakai alat triase interaktif
Alat bantu ini berupa satu halaman web yang bisa dibuka dari ponsel atau komputer di meja triase. Halaman langsung memuat contoh kasus Pak Darmo agar cara kerjanya terlihat sejak dibuka. Contoh itu ditandai jelas dan dapat dikosongkan dengan satu tombol.
- Isi usia dan status obstetri. Alat menempatkan pasien ke salah satu dari delapan kelompok usia: neonatus, bayi, balita, prasekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia. Ibu hamil 20 minggu ke atas atau dalam masa nifas mendapat ambang tekanan darah khusus.
- Masukkan tanda vital. Di bawah setiap kolom muncul petunjuk: normal, abnormal (memicu CTAS III), atau kritis (memicu CTAS II). Ambang nadi dan napas menyesuaikan kelompok usia. Isi juga status distres napas, hemodinamik, dan skor nyeri beserta asalnya, sentral atau perifer.
- Isi modifier orde-2 bila relevan: derajat dehidrasi, gangguan perdarahan atau penggunaan antikoagulan, mekanisme cedera risiko tinggi, dan kriteria frailty.
- Centang keluhan atau kondisi utama. Setiap pilihan diberi label level minimum yang dipicunya, misalnya nyeri dada khas iskemik (II) atau luka robek yang perlu dijahit (IV).
- Skrining flag pemburukan. Langkah ini wajib bila hasil sementara CTAS IV atau V. Daftar dikelompokkan dalam 12 sistem; kelompok yang relevan dengan usia atau status obstetri pasien diberi penanda.
Kartu hasil di sisi kanan (atau di bawah, pada layar ponsel) menampilkan level CTAS, target waktu ke dokter, interval nilai ulang, padanan tiga warna, dan area penempatan. Di bawahnya tercantum semua alasan penetapan, diurutkan dari yang paling gawat. Level akhir selalu mengikuti pemicu yang paling gawat. Petugas boleh menaikkan level berdasarkan penilaian klinis; menurunkan level di bawah hasil alat perlu dicatat alasannya.
Tombol Salin ringkasan menghasilkan teks berisi level, kelompok usia, tanda vital, alasan, dan flag yang ditemukan, siap ditempel ke catatan triase di rekam medis elektronik. Halaman tidak menyimpan data pasien apa pun; isian hilang ketika halaman ditutup.
Untuk Pak Darmo, alat menunjukkan perjalanan yang dirasakan perawat senior tadi. Nyeri kepala sentral skor 3 menghasilkan CTAS IV. Flag “trauma kepala pada pengguna antikoagulan” menaikkannya ke CTAS III, artinya dokter harus memeriksanya dalam 30 menit dan kondisinya dinilai ulang setiap 30 menit.
Mana yang CTAS, mana yang adaptasi lokal
Tidak semua aturan di alat ini berasal dari CTAS. Bagian yang diadaptasi perlu diketahui sejak awal, karena di situlah diskusi sejawat paling dibutuhkan.
| Komponen | Asal aturan | Keterangan |
|---|---|---|
| Target waktu dan interval nilai ulang | CTAS | Segera, 15, 30, 60, 120 menit |
| SpO₂, GCS, skala nyeri sentral/perifer | CTAS | SpO₂ <90% → I; <92% → II; 92–94% → III. GCS 3–9 → I; 10–13 → II |
| Demam dan kriteria SIRS | CTAS | Bayi <3 bulan dengan demam ≥38 °C → II; ketentuan 3–18 bulan dari revisi 2016 |
| Gula darah, TD tinggi, TD kehamilan, dehidrasi, gangguan perdarahan, mekanisme cedera | CTAS | Modifier orde-2 |
| Frailty | CTAS revisi 2016 | Pasien CTAS IV–V dinaikkan ke III |
| Rentang nadi dan napas per kelompok usia | Adaptasi lokal | Dari ATLS 11, FCCS 7, dan PFCCS; CTAS tidak menetapkan angka nadi dan napas untuk dewasa |
| Hipotermia <35 °C → II; TDS <110 mmHg pada lansia → III | Adaptasi lokal | Dari tabel sumber geriatri dan trauma |
| Flag pemburukan → minimal III | Adaptasi lokal | Konsep rumah sakit, bukan bagian CTAS |
Flag pemburukan: jembatan antara klinis dan administrasi
Daftar flag pemburukan memuat sekitar 60 kondisi dalam 12 sistem: respirasi, kardiovaskular, neurologi, infeksi dan sepsis, gastrointestinal, ginjal dan metabolik, hematologi dan onkologi, trauma tersembunyi, geriatri, pediatri, obstetri, serta toksikologi dan lingkungan. Contohnya demam pada pasien kemoterapi, sinkop saat aktivitas, delirium baru pada lansia, atau anak yang menolak minum.
Selain menaikkan prioritas, flag yang tercatat menjadi bahan dokumentasi bila pasien perlu diobservasi atau dirawat. Permenkes Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan menyebut lima kriteria gawat darurat, salah satunya kondisi yang memerlukan tindakan segera. Penilaian apakah seorang pasien memenuhi kriteria itu tetap menjadi kewenangan dokter penanggung jawab. Alat ini hanya memastikan dasar penilaiannya tertulis, bukan menggantikannya.
Membawa hasil triase ke SIMRS
Alat ini berdiri sendiri dan belum terhubung ke sistem informasi rumah sakit. Bila logikanya kelak dibangun di dalam SIMRS, misalnya SIMRS Khanza yang pernah saya coba pasang di ChromeOS, isian kalkulator dapat dipetakan langsung ke elemen yang diminta modul Pelayanan IGD SATUSEHAT.
| Isian alat triase | Elemen SATUSEHAT | Kode |
|---|---|---|
| Jam tiba | Encounter.period.start (UTC) | — |
| Cara datang | Observation, kategori survey | LOINC 74286-6 |
| Level CTAS akhir | Observation “Kondisi pasien tiba”, kategori survey | LOINC 75910-0, nilai LA6112-2 s.d. LA10137-0 |
| Meninggal saat tiba | Observation yang sama | SNOMED CT 63238001 |
| Nadi, napas, TD, suhu | Observation, kategori vital-signs | LOINC 8867-4, 9279-1, 8480-6/8462-4, 8310-5 |
| Tingkat kesadaran | Observation | LOINC 67775-7 (skala respons, bukan angka GCS) |
| Alasan penetapan dan flag pemburukan | Belum ada elemen khusus | Simpan sebagai catatan klinis di RME |
Dua hal kecil sering terlewat. Pertama, jam masuk dikirim dalam UTC: pasien yang tiba pukul 22.40 WIB dikirim sebagai 15:40+00:00. Kedua, modul IGD meminta tingkat kesadaran dalam skala respons (sadar, respons suara, respons nyeri, tidak respons), sedangkan CTAS memakai GCS. Rumah sakit perlu memutuskan apakah keduanya dicatat terpisah atau diturunkan satu dari yang lain.
Status: masih draf
Alat ini belum boleh dipakai untuk pasien. Banner di bagian atas halaman menyebut hal yang sama. Sebelum berlaku, draf harus melewati empat tahap:
- diskusi sejawat IGD, dokter dan perawat, terutama untuk bagian yang berlabel adaptasi lokal;
- telaah Komite Medis dari sudut pandang penyakit dalam, bedah, anak, obstetri, dan anestesi;
- penetapan oleh Direksi sebagai Peraturan Direktur;
- sosialisasi, uji coba, dan audit awal, termasuk audit undertriage dan overtriage.
Rumah sakit lain yang ingin memakai pendekatan serupa sebaiknya menempuh jalur yang sama di institusinya sendiri. Ambang yang cocok untuk satu IGD belum tentu cocok untuk IGD dengan pola pasien dan sumber daya berbeda.
Catatan Transparansi
- Penyusunan pedoman, diagram, ilustrasi, dan alat interaktif dibantu asisten kecerdasan buatan (Claude, Anthropic). Pemilihan sumber, keputusan klinis, dan penyuntingan akhir dilakukan penulis.
- Nama rumah sakit dan identitas pasien dalam ilustrasi kasus disamarkan. Pak Darmo adalah tokoh rekaan yang mewakili pola kasus nyata.
- Kode SATUSEHAT diambil dari Panduan Interoperabilitas Pelayanan IGD versi 4.2 (12 Juni 2024). Catatan rilis dokumentasi SATUSEHAT terakhir yang saya periksa adalah versi 7.23 (2 April 2026), yang mencatat beberapa revisi modul IGD. Pengembang SIMRS perlu memeriksa versi terbaru sebelum implementasi.
- Revisi CTAS 2016 adalah revisi resmi terakhir yang saya temukan. Ambang dewasa untuk SpO₂, GCS, nyeri, gula darah, dan TD mengacu pada pedoman implementasi CTAS 2008 yang tidak diubah oleh revisi 2016.
- Alat interaktif di-hosting sebagai artefak di claude.ai. Halaman tidak mengirim atau menyimpan data yang diisikan.
Bacaan terkait di legawa.com
- Triase Bukan Sekadar Warna: Mengapa Sistem Lima Level Masih Sering Gagal di IGD
- Celah di Antara Dua Triase: Menata Kebijakan untuk Pasien “Golongan Menengah”
- Memasang SIMRS Khanza di ChromeOS: Dari Instalasi sampai Pasien Simulasi Rawat Inap
- Komposisi Tim IT Rumah Sakit: Peran, Keahlian, dan Fungsi yang Sebenarnya Dibutuhkan
Referensi
- Bullard, M. J., Musgrave, E., Warren, D., Unger, B., Skeldon, T., Grierson, R., van der Linde, E., & Swain, J. (2017). Revisions to the Canadian Emergency Department Triage and Acuity Scale (CTAS) guidelines 2016. CJEM, 19(S2), S18–S27. Cambridge Core
- Bullard, M. J., Unger, B., Spence, J., Grafstein, E., & CTAS National Working Group. (2008). Revisions to the Canadian Emergency Department Triage and Acuity Scale (CTAS) adult guidelines. CJEM, 10(2), 136–142. PDF
- Warren, D. W., Jarvis, A., LeBlanc, L., Gravel, J., & CTAS National Working Group. (2008). Revisions to the Canadian Triage and Acuity Scale paediatric guidelines (PaedsCTAS). CJEM, 10(3), 224–232.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Panduan interoperabilitas pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) (Versi 4.2). SATUSEHAT Platform. https://satusehat.kemkes.go.id/platform/docs/id/interoperability/igd/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Playbook SATUSEHAT Platform dan catatan rilis versi 7. https://satusehat.kemkes.go.id/platform/docs/id/playbook/
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan.
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit.
- American College of Surgeons. (2025). Advanced Trauma Life Support (ATLS): Student course manual (11th ed.).
- Royal College of Physicians. (2017). National Early Warning Score (NEWS) 2: Standardising the assessment of acute-illness severity in the NHS. RCP.





Tinggalkan Balasan