A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pukul 10.30 pagi. Di IGD sebuah rumah sakit tipe B, ruang tunggu sudah penuh. Ada seorang bapak berusia 72 tahun yang datang dengan keluhan “sesak napas” — anaknya mendaftarkan di loket dan diminta menunggu. Lima belas menit kemudian, seorang perawat baru datang untuk melakukan triase. Saturasi oksigen 88%, tekanan darah 90/60 mmHg, napas cepat dan dangkal.

Di sebelahnya, seorang perempuan muda datang dengan luka lecet di lutut akibat terjatuh saat berolahraga, sudah diperban rapi oleh keluarganya.

Keduanya duduk di kursi yang sama, di ruang tunggu yang sama, dalam antrian yang sama. Sistem triase yang berfungsi baik seharusnya mengirim sang bapak ke zona resusitasi dalam hitungan menit. Yang sering terjadi di lapangan? Keduanya menunggu giliran dalam antrian yang sama, dan sang bapak baru diperiksa dokter 40 menit kemudian.

Triase: Lebih dari Sekadar Memilah Pasien

Secara konseptual, triase adalah proses yang dirancang untuk memastikan pasien yang paling kritis mendapat perawatan pertama — bukan pasien yang datang pertama. Prinsip ini terdengar sederhana, tetapi implementasinya membutuhkan kombinasi antara sistem yang dirancang dengan baik, tenaga yang terlatih secara memadai, dan budaya organisasi yang mendukung pengambilan keputusan cepat berdasarkan keparahan klinis.

Sistem triase lima level — seperti Emergency Severity Index (ESI), Manchester Triage System (MTS), atau Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS) — merupakan standar yang direkomendasikan oleh berbagai organisasi kedokteran gawat darurat internasional. Instrumen triase lima level terbukti superior dibandingkan sistem tiga level dalam hal validitas dan reliabilitas, dengan reliabilitas baik hingga sangat baik yang ditunjukkan untuk instrumen yang paling banyak diteliti. Di Indonesia, STARKES dan Permenkes Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan mewajibkan penggunaan sistem triase berbasis keparahan klinis di IGD seluruh rumah sakit.

Namun antara sistem yang tertulis di regulasi dan sistem yang benar-benar berjalan di lapangan, ada jurang yang sering kali sangat lebar.

Undertriage dan Overtriage: Dua Sisi Kegagalan yang Sama Berbahayanya

Kesalahan triase dibagi dalam dua kategori yang berlawanan namun sama-sama berbahaya. Undertriage adalah kondisi di mana keparahan pasien diremehkan — pasien yang seharusnya masuk kategori gawat dinilai sebagai tidak gawat, sehingga ia menunggu lebih lama dari yang seharusnya. Sebuah tinjauan terhadap praktik triase di IGD Amerika Serikat menemukan bahwa undertriage di rumah sakit terjadi hingga 34% dari kasus.

Konsekuensi undertriage bisa sangat serius. Sebuah studi kohort terhadap 5.929 pasien dengan kondisi risiko tinggi menemukan bahwa lebih dari sepertiga pasien (36,7%) mengalami undertriage. Pasien yang mengalami undertriage lebih mungkin mengalami keterlambatan untuk kondisi IGD risiko tinggi tertentu — dengan keterlambatan pemeriksaan CT scan sebesar 2,4 menit untuk pasien perdarahan subarakhnoid dan 8,9 menit untuk pasien diseksi aorta, serta keterlambatan pemberian obat sebesar 33,3 menit untuk pasien diseksi aorta dan 17,6 menit untuk perdarahan subarakhnoid. Untuk kondisi seperti diseksi aorta, di mana mortalitas meningkat 0,5–2% untuk setiap jam keterlambatan penanganan definitif, keterlambatan puluhan menit akibat undertriage bukan sekadar angka — ia adalah nyawa.

Overtriage di sisi lain adalah kebalikannya: pasien dengan kondisi yang tidak gawat dinilai lebih serius dari kenyataannya. Overtriage akan membanjiri area penanganan dengan pasien akuitas rendah yang mengonsumsi semua tempat penanganan yang tersedia, sehingga mencegah pasien dengan akuitas lebih tinggi masuk tepat waktu dan memperpanjang waktu tunggu mereka di ruang tunggu. Dengan kata lain, overtriage secara tidak langsung juga membahayakan pasien yang benar-benar gawat.

Mengapa Sistem yang Baik Bisa Gagal di Lapangan

Ada perbedaan penting yang sering diabaikan: antara memiliki sistem triase lima level dan menjalankannya dengan benar. Di banyak rumah sakit Indonesia, sistem triase sudah ada, form sudah tersedia, kategori sudah tertulis. Namun praktik yang sebenarnya sering jauh dari ideal.

Penelitian kualitatif tentang proses triase di IGD Indonesia mengidentifikasi dinamika yang kompleks. Waktu tunggu pascatriase yang lama dan kepadatan di ruang penanganan jarang terjadi di IGD tersier yang memiliki perawat dan dokter yang memadai — sebaliknya, fenomena ini lebih mungkin terjadi di IGD tingkat lebih rendah. Di sana, dokter triase sering merangkap sebagai dokter jaga IGD, sehingga ketika sedang menangani pasien kritis, tidak ada yang melakukan triase untuk pasien baru yang datang. Inilah yang menyebabkan pasien seperti sang bapak dalam ilustrasi di awal artikel ini duduk menunggu di kursi yang sama dengan pasien luka lecet.

Ada empat faktor struktural yang secara konsisten melemahkan kualitas triase di lapangan.

Pertama, rasio tenaga terhadap pasien yang tidak memadai. Triase yang efektif memerlukan perawat atau dokter yang didedikasikan khusus untuk fungsi ini — tidak merangkap penanganan pasien lain. Di banyak IGD Indonesia, terutama pada jam sibuk dan malam hari, tidak ada tenaga yang bisa didedikasikan secara eksklusif untuk triase.

Kedua, kompetensi triase yang tidak merata. Triase bukan sekadar mengisi formulir — ia memerlukan kemampuan pengkajian klinis yang cepat, kemampuan mengenali red flags kondisi mengancam jiwa, dan kemampuan pengambilan keputusan di bawah tekanan waktu. Ini adalah keterampilan yang perlu dilatih dan disertifikasi secara berkala, bukan diasumsikan dimiliki semua perawat IGD.

Ketiga, tekanan sosial dan budaya terhadap keputusan triase. Keluarga pasien yang bersikeras anggota keluarganya harus segera ditangani, pasien yang datang dengan “kenalan” staf, atau tekanan dari dokter senior yang meminta pasiennya diprioritaskan — semua ini menciptakan tekanan eksternal yang dapat mendistorsi keputusan triase yang seharusnya murni klinis.

Keempat, overcrowding yang membuat sistem triase kehilangan maknanya. Overcrowding di IGD adalah skenario yang umum terjadi di seluruh dunia — ketika pasien harus menunggu lama sebelum diperiksa dokter dan bahkan lebih lama sebelum dipindahkan ke tempat tidur rawat. Hasilnya bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan degradasi seluruh pengalaman pelayanan — kualitas perawatan terganggu, keselamatan pasien terancam, dan biaya pelayanan meningkat. Dalam kondisi IGD yang selalu penuh, bahkan pasien yang ditriase dengan benar ke kategori gawat pun mungkin tidak mendapat penanganan dalam waktu yang seharusnya karena tidak ada kapasitas yang tersedia.

Undertriage pada Pasien Lansia: Titik Buta yang Konsisten

Ada satu kelompok pasien yang secara konsisten paling rentan mengalami undertriage di seluruh dunia: pasien lansia. Ini bukan kebetulan — ia adalah konsekuensi dari cara lansia mempresentasikan kondisi akut yang sering tidak sesuai dengan gambaran “klasik” yang diasosiasikan dengan kegawatan.

Pasien lansia dengan infark miokard akut mungkin datang bukan dengan nyeri dada yang khas, melainkan dengan kelelahan, mual, atau kebingungan ringan. Pasien lansia dengan sepsis mungkin tidak demam, bahkan hipotermia. Pasien lansia dengan perdarahan intrakranial mungkin hanya tampak “kurang responsif” dari biasanya. Semua presentasi atipikal ini mudah diremehkan dalam sistem triase yang mengandalkan pengakuan pola gejala klasik. Beberapa investigasi koroner dari Australia mengilustrasikan dampak potensial dari kesalahan praktik triase yang mengakibatkan keterlambatan triase dan undertriage dalam konteks kendala lingkungan, kepadatan IGD, hambatan bahasa, dan defisit pengetahuan budaya.

Yang Dibutuhkan Lebih dari Sekadar Sistem yang Lebih Baik

Memperbaiki kualitas triase memerlukan perubahan di beberapa level sekaligus. Di level sistem, diperlukan penetapan standar waktu triase yang terukur dan diaudit — bukan hanya keberadaan sistem triase. Di level unit, diperlukan audit kasus secara berkala untuk mengidentifikasi pola undertriage dan overtriage spesifik yang terjadi di unit tersebut. Di level individu, diperlukan pelatihan triase yang terstandarisasi, berkala, dan berbasis simulasi — bukan hanya orientasi satu kali saat pertama masuk kerja.

Yang paling fundamental adalah pergeseran paradigma tentang apa tujuan triase itu. Triase bukan proses administratif untuk mengatur antrian. Ia adalah proses klinis untuk menyelamatkan nyawa — dengan cara memastikan bahwa di antara ratusan pasien yang datang ke IGD setiap hari, yang paling membutuhkan pertolongan segera tidak tenggelam dalam keramaian karena presentasinya kurang dramatis, karena ia tidak bersuara keras, atau karena ia sudah duduk tenang menunggu giliran sementara kondisinya memburuk dengan diam.


Referensi

Farrohknia, N., et al. (2011). Emergency department triage scales and their components: A systematic review of the scientific evidence. Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine, 19, 42. https://doi.org/10.1186/1757-7241-19-42

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pelayanan Kegawatdaruratan. Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.

Kuriyama, A., et al. (2017). Triage process in emergency departments: An Indonesian study. Australasian Emergency Nursing Journal, 20(3). https://www.researchgate.net/publication/307615148

Nickel, C. H., & Bingisser, R. (2020). Emergency department triage: An ethical analysis. BMC Emergency Medicine. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3199257/

Parris, J., et al. (2025). The impact of emergency triage practices on patient safety: A scoping review protocol. Journal of Emergency Nursing. https://www.jenonline.org/article/S0099-1767(24)00359-3/fulltext

Schinkel, M., et al. (2021). Modern triage in the emergency department. Deutsches Ärzteblatt International. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3021905/

Tabriz, M. D., et al. (2024). Adult triage in the emergency department: Introducing a multi-layer triage system. PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12071892/

Weiss, S. J., et al. (2025). Emergency department triage accuracy and delays in care for high-risk conditions. JAMA Network Open. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12048854/

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
  • Air yang Merenggut Nyawa: Tujuh Strategi Global Mencegah Tenggelam dan Relevansinya bagi Indonesia
    Setiap tahun, lebih dari 300.000 orang di dunia meninggal karena tenggelam, dengan anak-anak sebagai korban utama. WHO meluncurkan paket kebijakan PROTECT yang berisi tujuh strategi mencegah tenggelam. Indonesia perlu mengembangkan strategi nasional dan memperkuat pengumpulan data untuk menurunkan angka kematian terkait tenggelam di negara kepulauan ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

  1. … reposted this!

  2. … reposted this!

  3. … reposted this!

  4. … reposted this!

  5. … reposted this!

  6. … reposted this!

  7. … reposted this!

  8. … reposted this!

  9. … reposted this!

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca