A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kenapa pasien tidak langsung mendapatkan penanganan saat datang ke IGD rumah sakit? Mari melihat dari sisi sistem triase kegawatdaruratan?

Saat kita datang ke IGD rumah sakit, kita mungkin berharap untuk segera mendapatkan perawatan medis. Namun, terkadang kita harus menunggu lebih lama daripada yang kita inginkan, sementara pasien lain yang datang setelah kita justru lebih dulu ditangani oleh dokter. Apa sebabnya?

Photo by Oles kanebckuu on Pexels.com

Hal ini bukan berarti dokter tidak peduli dengan kondisi kita atau tidak profesional dalam bekerja. Sebaliknya, dokter sedang menerapkan sistem triase kegawatdaruratan, yaitu sistem untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka.

Sistem triase kegawatdaruratan bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di IGD rumah sakit, terutama ketika jumlah pasien melebihi kapasitas pelayanan. Dengan sistem ini, dokter dapat memberikan penanganan yang tepat dan cepat kepada pasien yang paling membutuhkannya.

Sistem triase kegawatdaruratan membagi pasien menjadi beberapa kategori warna, yaitu merah, kuning, hijau, dan hitam. Berikut adalah penjelasan singkat tentang masing-masing kategori:

  • Merah: Pasien dalam kondisi kritis yang mengancam nyawa dan memerlukan penanganan segera. Contohnya adalah pasien dengan serangan jantung, syok anafilaktik, atau trauma kepala berat.
  • Kuning: Pasien dalam kondisi stabil tetapi memerlukan penanganan secepatnya. Contohnya adalah pasien dengan patah tulang di beberapa tempat, luka bakar derajat tinggi, atau trauma kepala ringan.
  • Hijau: Pasien dalam kondisi ringan dan dapat menunggu lebih lama untuk mendapatkan penanganan. Contohnya adalah pasien dengan luka lecet, demam tinggi, atau batuk pilek.
  • Hitam: Pasien yang sudah meninggal atau tidak dapat ditolong lagi.

Dokter akan melakukan pemeriksaan singkat dan cepat kepada setiap pasien yang datang ke IGD rumah sakit untuk menentukan kategori warna mereka. Pemeriksaan ini meliputi kondisi umum, tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan), kebutuhan medis, dan kemungkinan bertahan hidup.

Setelah menentukan kategori warna pasien, dokter akan memberikan tanda khusus berupa gelang warna atau kartu triase kepada pasien. Tanda ini akan membantu dokter dan perawat lainnya untuk mengenali prioritas penanganan pasien.

Sistem triase ruang gawat darurat memastikan bahwa pasien dalam kategori merah adalah yang pertama dilihat dokter. Setelah semua pasien kritis telah dirawat, dokter kemudian akan beralih ke pasien dalam kategori kuning. Hanya setelah semua kasus yang mendesak telah diobati, pasien yang dianggap tidak mendesak akan diberikan perawatan.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa sistem triase kegawatdaruratan adalah sistem yang adil dan efisien untuk memberikan pelayanan medis yang optimal kepada pasien di IGD rumah sakit. Kita tidak perlu merasa kesal atau curiga jika kita harus menunggu lebih lama daripada pasien lain. Kita harus bersyukur bahwa kondisi kita tidak terlalu parah dan masih dapat ditangani dengan baik oleh dokter.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca